Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN KASUS

GENERAL ANESTESIA OTT


PADA KASUS FRAKTUR OS NASAL

Pembimbing : dr. I Dewa Gede Oka Darsana, Sp. An


LATAR BELAKANG

• menggambarkan keadaan tidak sadar


yang bersifat sementara, tujuan
anestesia untuk menghilangkan nyeri
pembedahan.

• pra anestesi
prinsip • Prognosis
• persiapan pada pada hari operasi

• premedikasi
Tahap • induksi dan pemeliharaan,
penatalaksanaan • tahap pemulihan serta perawatan
pasca anestesi
ANATOMI SALURAN
PERNAPASAN

• Rongga Hidung
a. pernafasan
b. Ephithelium olfactory
c. pembentukan suara
• Faring
 laring
fx: pernafasan dan
pencernaan
• Laring
 trakea
fx: ketegangan pita suara
mengatur suara
• Trakea
Fraktur os nasal

 Fraktur tulang hidung adalah setiap retakan atau


patah yang terjadi pada bagian tulang di organ
hidung.
Insidensi

 Di Amerika Serikat fraktur hidung merupakan fraktur


ketiga paling sering sering ditemui selain dari fraktur
klavikula dan pergelangan tangan.2
 Sekitar 39-45% dari seluruh fraktur wajah.
 Pria dua kali lebih banyak disbanding wanita. Insiden
meningkat pada umur 15-30 tahun dan dihubungkan
dengan perkelahian dan cedera akibat olahraga.
 Jatuh dari motor dan kecelakaan lalu lintas.3,5
Penyebab utama dari trauma dapat berupa :
 Cedera saat olahraga
 Akibat perkelahian
 Kecelaaan lalu lintas
 Terjatuh
 Masalah kelahiran
 Kadang dapat iatrogenik 5,6
Gejala Klinis
 Depresi atau pergeseran tulang – tulang hidung.
 Terasa lembut saat menyentuh hidung.
 Adanya pembengkakan pada hidung atau muka.
 Memar pada hidung atau di bawah kelopak mata (black
eye).
 Deformitas hidung.
 Keluarnya darah dari lubang hidung (epistaksis).
 Saat menyentuh hidung terasa krepitasi.
 Rasa nyeri dan kesulitan bernapas dari lubang hidung.
Jenis-jenis fraktur os nasal

 Fraktur hidung sederhana


 Fraktur nasal kominunitiva
 Fraktur nasal dengan fragmentasi tulang hidung ditandai dengan
batang hidung nampak rata (pesek);
 Fraktur tulang hidung terbuka
 Fraktur tulang hidung terbuka menyebabkan perubahan tempat dari
tulang hidung tersebut yang juga disertai laserasi pada kulit atau
mukoperiosteum rongga hidung
 Fraktur tulang nasoorbitoetmoid kompleks
 Jika nasal piramid rusak karena tekanan atau pukulan dengan beban
berat akan menimbulkan fraktur hebat pada tulang hidung, lakrimal,
etmoid, maksila dan frontal
Diagnosis

 Diagnosis fraktur tulang hidung dapat dilakukan


dengan inspeksi, palpasi dan pemeriksaan hidung
bagian dalam dilakukan dengan rinoskopi anterior,
 biasanya ditandai dengan pembengkakan mukosa
hidung terdapatnya bekuan dan kemungkinan ada
robekan pada mukosa septum, hematoma septum,
dislokasi atau deviasi pada septum.1
 Pemeriksaan penunjang berupa foto os nasal, foto
sinusparanasal posisi Water, kalo perlu CT Scan
Anestesi

tindakan menghilangkan
rasa nyeri/sakit secara
Hipnotik (tidur)
sentral disertai hilangnya
kesadaran dan dapat
pulih kembali (reversibel) Analgesia (bebas
dari nyeri)

Relaksasi otot
(mengurangi
ketegangan tonus
otot)
premedikasi

tahap
penatalaksanaan induksi
anestesi

pemeliharaan
Jenis Anestesi
Anestesi umum Anestesia Lokal Anestesia Regional

• intravena • dengan cara • menyuntikkan


• Inhalasi menyuntikkan obat anestesia
• imbang obat anestesia lokal pada lokasi
lokal pada serat saraf yang
daerah atau menginervasi
disekitar lokasi regio tertentu,
pembedahan yang
yang menyebabkan
menyebabkan hambatan
hambatan konduksi impuls
konduksi impuls aferen yang
aferen yang bersifat
bersifat temporer
temporer.
General Anestesi OTT

Intubasi orotrakeal  memasukkan


pipa pernafasan yang terbuat dari
portex ke dalam trakea guna
membantu pernafasan penderita atau
waktu memberikan anestesi secara
inhalasi.
ukuran pipa trakea yang digunakan pada wanita
dewasa diameter internal 7-7.5 mm dengan
panjang 24 cm. pada pria dewasa diameter
internal 7.5-9 mm dengan panjang 24cm
Pipa Orotrakea

Berfungsi mengantar gas anestesik langsung


ke dalam trakea
Laringoskop
Laringoskop ialah alat yang digunakan untuk
melihat laring secara langsung  dapat
memasukkan pipa trakea dengan baik dan
benar

Laringoskop

Bilah lurus (straight Bilah lengkung (curved


blades/ Magill/ Miller) blades/ Macintosh)
Klasifikasi Malampaati dan
Cromack
kontraindikasi Pemasangan OTT

Edema jalan napas bagian atas yang


buruk atau fraktur wajah dan leher
dapat menjadi kontraindikasi
Prosedur pemasangan OTT

Persiapan Pemasangan pipa


trakea
• STATICS
Dengan obat
pelumpuh otot non
depolarisasi  nafas
kendali
1. Pasien telah dipersiapkan sesuai pedoman dan
pemberian premedikasi (Midazolam 0.01-0.1
mg/KgBB, Ketorolac 0.5 mg/KgBB, Ondancentron 4
mg dan Ranitidine 50 mg)
2. Posisikan pasien dengan baik dan nyaman
3. Pasang alat pantau yang diperlukan
4. Siapkan alat-alat dan obat-obat resusitasi
5. Siapkan mesin anestesia dengan sistem sirkuitnya
dan gas anestesia yang dipergunakan
6. Induksi pasien dengan menggunakan fentanyl 1-2
mcg/KgBB dan propofol 2-2.5 mg/KgBB atau hipnotik
jenis lain
7. Berikan obat pelumpuh otot non depolarisasi seperti
atracurium 0.5-0.6 mg/KgBB lalu tunggu 3 menit
8. Berikan napas bantuan melalui sungkup muka dengan
oksigen 100% menggunakan fasilitas mesin anestesia
sampai fasikulasi hilang dan otot rahang relaksasi
9. Lalu pasang laringoskop sesuai ukuran dan pasang OTT
sesuai ukuran yang dibutuhkan
10. Fiksasi OTT dan hubungkan dengan sirkuit mesin
anesthesia
11. Berikan salah satu kombinasi obat inhalasi N2O : O2:
Sevofluran = 60% : 40% + 2%
12. Kendalikan napas pasien secara manual atau mekanik dengan
volume dan frekuensi napas disesuaikan dengan kebutuhan
pasien
13. Pantau tanda vital secara kontinyu dan ketat
14. Apabila operasi sudah selesai, hentikan aliran gas atau obat
anestesia inhalasi dan berikan oksigen 100% (4-8 liter/menit)
selama 2-5 menit.
15. Berikan neostigmin dan atropin (jika diperlukan)
16. Ekstubasi pipa trakea dilakukan apabila pasien sudah
bernapas spontan dan adekuat serta jalan napas (mulut,
hidung, dan pipa endotrakea) sudah bersih, jika belum bersih
lakukan suction.
Ekstubasi

 Kesadaran yang adekuat untuk mempertahankan reflex


protektif jalan napas dan reflex batuk untuk
mempertahankan jalan napas.
 Cadangan paru yang adekuat seperti: laju paru <30
kali/menit, FVC >15 ml/ka, PaO2/FiO2 >200.
 Pada pasien pasca pembedahan jalan nafas atas atau edema
jalan nafas atas. Edema jalan nafas telah minimal atau
ditandai dengan adanya kebocoran udara yang adekuat
setelah cuff pipa endotrakeal dikosongkan.
Komplikasi pemasangan OTT

Memar & oedem laring

Non specific granuloma larynx

Stenosis trakea

Trauma gigi geligi

Laserasi bibir, gusi dan laring

Aspirasi

Spasme bronkus
KASUS
Identitas
 Nama : I Wayan Artawan
 Umur : 29 Tahun
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 BeratBadan : 62 kg
 Alamat : BR Yeh Panes
 Agama : Hindu
 Diagnosis pre operasi : Fraktur os. nasal
 Jenis pembedahan : Pemasangan butterfly cast
 Jenis anestesi : General Anestesi – OTT
 Tanggal masuk : 16 Mei 2019
 Tanggal Operasi : 16 Mei 2019
 No.Rekam Medis : 286533
Anamnesis
 Keluhan utama : Nyeri pada hidung
 Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang diantar oleh keluarganya ke RSUD Bangli dalam
keadaan sadar dan mengeluh nyeri pada hidung setelah terjatuh dari
ketinggian kurang lebih 5 meter dengan posisi wajah membentur
tanah (1 jam SMRS). Nyeri dirasakan terus menerus dan tidak hilang
dengan istirahat. Dikatakan hidung sempat berdarah namun saat di
IGD sudah tidak ada perdarahan. Deviasi septum (-), bengkak (+),
luka lecet (+), perdarahan (-).
 Riwayat Penyakit dahulu : (-)
 Riwayat Penyakit keluarga : (-)
 Riwayat sosial : merokok (+), alkohol (+)
Pemeriksaan Fisik

B1 (Brain) : Compos mentis, Defisit neurologis (-)


B2 (Breath) : Vesikuler +/+ rhonki -/- wheezing -/-. RR
: 20x/menit, Malampathi : 1 , Obstruksi
jalan nafas (-),
B3 (Blood) : Tekanan Darah :110/70 mmHg, Nadi:
80x/menit, S1 S2 tunggal reguler, murmur -
B4 (Blader) : Urine Spontan
.
Pemeriksaan Fisik

B5 (Bowel) : Distensi (-), Bising usus (+) normal, nyeri


tekan (-)
B6 (Bone) : Akral hangat (+), edema (-), suhu aksila
36,50 C, leher panjang, Tiromental distance > 3 jari,
Jarak antar insisivus 3 jari, gigi goyang (-), gigi palsu (-
), mobilitas leher baik, leher tidak pendek, rahang
tidak besar.
Pemeriksaan
Penunjang

Laboratorium
 WBC : 17,5
 HGB : 15,2 g/dl
 HCT : 43,5%
 PLT : 206
 BT : 2’00”
 CT : 8’00”
Kesimpulan

 Diagnosis pre operatif : Fraktur os nasal

 Status operatif : ASA I, Mallampati I

 Jenis operasi : pemasangan butterfly cast

 Jenis anestesi : General Anastesi OTT


Penatalaksanaan

Pramedikasi:
 Sedatif : midazola 0,005 – 0,1 mg/kgBB  3 mg (IV)
 Analgetik : Ketorolac 0,5 mg/kgBB  30 mg (IV)
 Antiemetik: Ondancentron 0,05-0,1 mg/KgBB 4 mg (IV)
Ranitidin 1-2 mg/kgBB  50 mg (IV)
Induksi :
 Fentanyl 1-2 µg/KgBB  100 µcg (IV)
 Propofol 2-2,5mg/KgBB  200 mg (IV)
 Atrakurium 0,5-0,6mg/KgBB  20 mg (IV)
 Intubasi : Laringoskop
Endotracheal Tube kinking no 7,5
 Maintenence : N2O : O2 : Sevofluran : 3L : 2L : 2 vol%

 Pemantauan Selama Anestesi


Kardiovaskular : Nadi dan tekanan darah setiap 5 menit.
Respirasi : Inspeksi pernapasan & saturasi oksigen
Cairan : Monitoring input cairan
Analgetik Post Op
Paracetamol 3 x 1 gr (IV)
KESIMPULAN

Pasien laki-laki usia 29 tahun dengan berat


badan 62 kg datang dengan keluhan nyeri
pada hidung setelah terjatuh dari ketinggia
kurang lebih 5 meter dengan posisi wajah
membentur tanah dan berdasarkan hasil
pemeriksaan, didiagnosis dengan fraktur os
nasal. Pasien direncanakan tindakan
pemasangan butterfly cast.
Pemilihan tindakan anestesi pada pasien ini
adalah General Anestesi Orotrakeal Tube (GA
OTT) dengan jenis napas kendali dan hasil
pemeriksaan didapatkan status fisik ASA I.
TERIMAKASIH