Anda di halaman 1dari 30

PENETAPAN HARGA DAN PERPAJAKAN

DI APOTEK

Ainun Wulandari, M.Sc., Apt


HARGA
 Menurut Kotler dan Armstrong (2001) adalah
sejumlah uang yang dibebankan atas suatu
produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang
ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena
memiliki atau menggunakan produk atau jasa
tersebut.
 Harga memiliki peranan yang sangat penting
dalam mempengaruhi keputusan konsumen
dalam membeli produk, sehingga sangat
menentukan keberhasilan pemasaran suatu
produk.
PENETAPAN HARGA
 Mencegah harga terlalu tinggi  keterjangkauan
masyarakat.
 Mencegah harga terlalu rendah  profit bagi
apotek.

 SK Menkes No. 280 Tahun 1981 Pasal 24 


penetapan struktur harga obat dan jasa apotek
STRUKTUR HARGA OBAT
 HPP (harga pokok produksi) = Komponen harga
biaya bahan baku+biaya harga
operasional HJA 120-135
 HJP (harga jual pabrik) = PPN 10
HPP+biaya marketing+laba HNA 90
 HNA (harga netto apotek) = Biaya 10
HJP+biaya distribusi distribusi
 HJA (harga jual apotek) = HJP 80
HNA+PPN+laba apotek Biaya 30
 HET (harga eceran tertinggi) = Marketing
batas maksimum HJA Laba 10
HPP 40
HARGA OBAT GENERIK
 Peraturan : Kepmenkes NOMOR 092/MENKES/SK/II/2012
tentang harga obat generik
 HET adalah harga jual tertinggi
obat generik di apotek, rumah sakit dan fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya yang berlaku untuk
seluruh Indonesia.
 Rincian jenis obat, satuan kemasan dan HET
sebagaimana dimaksud Diktum Kesatu tercantum
dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Keputusan Menteri ini.
 Harga Netto Apotek (HNA) ditetapkan tidak lebih besar
dari 74% (tujuh puluh empat persen) HET.
Harga Netto Apotek + Pajak Pertambahan Nilai (HNA +
PPN) adalah harga jual pabrik obat dan/atau Pedagang
Besar Farmasi kepada apotek dan rumah sakit.
HARGA OBAT GENERIK
 Apotek, rumah sakit dan fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya yang melayani penyerahan obat
generik hanya dapat menjual pada harga maksimal
sama dengan HET
 Pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan
Keputusan Menteri ini dilakukan secara berjenjang
oleh Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, dan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai
dengan tugas dan fungsi masing-masing.
Sarana kesehatan menggunakan HET sebagai harga
patokan tertinggi penjualan kepada pasien
REGIONALISASI DAERAH DISTRIBUSI
 Regional I (DKI Jakarta, Jawa barat, Jawa
tengah, DIY, Bali, Lampung, Banten
 Reginal II (Sumut, Sumbar, Riau, Jambi,
Sumsel, Bengkulu, Kepri, Kep Bangka Belitung,
BTB)
 Regional III (NAD, Kalbar, Kaltim, Kalsel,
Kalteng, Sulut, Sulteng, Sulsel, Sulbar, Sul
tenggara, Gorontalo)
 Regional IV (NTT, Maluku, Maluku Utara,
Papua, Papua Barat)
KEBIJAKAN PENCANTUMAN HET
 Latar belakang :
- terdapat perbedaan harga yang sangat signifikan
antar berbagai merek obat dan perbedaannya
beragam untuk tiap item obat (rata-rata perbedaan
harga mencapai 44,25%)
- Penelitian WHO : perbandingan harga antara satu
nama dagang dengan nama dagang yang lain untuk
obat yang sama, berkisar 1:2 sampai 1:5
 Kebijakan :
- Kepmenkes No. 69/2006 tentang Pencantuman
Harga Eceran Tertinggi di Label Obat
- HET dihitung berdasarkan Harga Netto Apotik
(HNA) ditambah PPN 10% dan margin apotik sebesar
25%
YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA PENETAPAN HARGA DI
APOTEK
 Biaya pelayanan (harga produk, biaya fasilitas, gaji/upah SDM)
 Kompetisi/persaingan (memperhatikan harga di apotek pesaing dan
menganalisa kelebihan/kekurangan pelayanan yang diberikan)
 Pandangan/kesan konsumen terhadap apotek (ditentukan oleh harga
dan kualitas pelayanan)
- keajegan harga
- keajegan kualitas pelayanan
 Tujuan apotek memaksimalkan laba jangka panjang (harus
mempertahankan konsumen dengan memberikan harga yang
menarik)
 Klasifikasi harga berdasarkan jenisnya :
- obat yang permintaannya tinggi diberikan harga relatif rendah
(obat untuk penyakit kronis, analgesik, pil KB)
- obat OTC diberikan harga rendah karena adanya pesaing yang
banyak (apotek lain dan toko obat/warung) sehingga pasien sering
membandingkan
- obat-obat resep diberi harga relatif tinggi karena pasien tidak
banyak mengetahui dan ada tambahan biaya pelayanan
PENETAPAN HARGA OBAT DENGAN RESEP
 Obat resep  obat racikan maupun obat jadi,
obat keras, narkotika, psikotropika.

 HJA =
 ((HNA + PPN) x Indeks x Jumlah Obat)+E+S
PENETAPAN HARGA OBAT TANPA RESEP
 Obat tanpa resep : obat bebas, obat bebas
terbatas, alat kesehatan, dan obat-obat
fitofarmaka.

 HJA =
 ((HNA + PPN) x Indeks x Jumlah Obat)+E
CONTOH PENETAPAN HARGA DI APOTEK
Jenis komoditi Penetapan harga
Sediaan farmasi
Obat OTC (HNA+PPN) x 1,1 s.d 1,15
Obat OWA (HNA+PPN) x 1,2
Obat ethical (HNA+PPN) x 1,25
Alat kesehatan (HNA+PPN) x 1,15
Tuslah dan embalase
Service resep non racikan Rp. 500 tiap R/

Service resep racikan Rp. 1.000 tiap R/


Service pulveres/kapsul Rp. 100 tiap bungkus

Kertas pulveres-cangkang Rp. 50 per lembar/


kapsul/pot salep-botol Rp. 500 s.d 1.000

Service sediaan topikal/cairan Rp. 1.000 tiap sediaan

Embalase (plastik etiket dan tas) Rp. 200 s.d 500


PAJAK
 Pajak merupakan kontribusi wajib kepada
negara yang terutang oleh orang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besar
kemakmuran rakyat (KUP No.28 Tahun 2007).

 Wajib pajak  orang pribadi atau badan,


meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan
pemungut pajak, yang mempunyai hak dan
kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan.
WAJIB PAJAK
 Wajib pajak mempunyai kewajiban untuk
mendaftarkan diri, melakukan sendiri penghitungan
pembayaran, dan pelaporan pajak terutangnya 
NPWP. Hak wajib pajak adalah:
1. Pengangsuran pembayaran
2. Pengurangan PPH 25
3. Pengurangan PBB
4. Pembebasan Pajak
5. Pajak ditanggung pemerintah
6. Insentif perpajakan
7. Penundaan pelaporan
8. Penundaan pelaporan SPT tahunan
9. Restitusi
10. Keberatan, banding, dan peninjauan kembali.
WAJIB PAJAK  WAJIB MENDAFTARKAN DIRI 
NPWP
 Tanda pengenal atau identitas bagi setiap wajib
pajak
 Sarana dalam administrasi perpajakan

 Menjaga ketertiban dan pengawasan

 Dicantumkan dalam setiap lembar dokumen


wajib pajak.
 Wajib pajak pribadi yang wajib mendaftarkan diri untuk
memperoleh NPWP adalah:
1. Orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerja bebas;
2. Orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerja
bebas, yang memperoleh penghasilan di atas Penghasilan
Tidak Kena Pajak (PTKP) wajib mendaftarkan diri paling
lambat akhir bulan berikutnya;
3. Wanita kawin yang dikenakan pajak secara terpisah,
karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau
dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian
pemisahan penghasilan dan harta;
4. Wajib pajak orang pribadi pengusaha tertentu yang
mempunyai tempat usaha berbeda dengan tempat tinggal,
selain WP mendaftarkan diri ke KPP wilayah tempat
tinggal, juga daftar di KPP wilayah kerja.
MACAM PAJAK BERDASARKAN LEMBAGA
PENGELOLA:

1. Pajak Pusat
PPh, PPN, PPnBM, PBB, BPHTB, Bea Materai

2. Pajak Daerah
• Provinsi
 PKB, BBN, PBBM, Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan
Tanah dan Air Permukaan
• Kabupaten
 Hotel, Reklame, Restoran, Hiburan, Penerangan jalan,
Pengambilan bahan galian golongan C.
PEMBAYARAN PAJAK
1. Membayar sendiri
a. Pembayaran Angsuran Setiap Bulan (PPh pasal 25)
b. Pembayaran PPh Pasal 29 setelah akhir tahun.
2. Melalui pemotongan atau pemungutan pihak
lain
 Pemberi penghasilan
 Pemberi kerja
 Pihak lain yg ditunjuk pemerintah (PPN, PBB, bea
materai)
JENIS PAJAK PENGHASILAN

1. PPh Pasal 21 adalah ajak atas penghasilan berupa gaji,


upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain
dengan nama dan dalam bentuk apa pun sehubungan
dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang
dilakukan oleh orang pribadi subyek pajak dalam negeri.
2. PPh Pasal 22 adalah bentuk pemotongan atau
pemungutan pajak yang dilakukan satu pihak terhadap
Wajib Pajak dan berkaitan dengan kegiatan perdagangan
barang. bentuk pemotongan atau pemungutan pajak yang
dilakukan satu pihak terhadap Wajib Pajak dan berkaitan
dengan kegiatan perdagangan barang impor, ekspor.
3. PPh Pasal 23 adalah pajak yang dikenakan pada
penghasilan atas modal, penyerahan jasa, atau hadiah dan
penghargaan, selain yang telah dipotong PPh Pasal 21.
JENIS PAJAK PENGHASILAN
4. PPH pasal 26 adalahPPh yang dikenakan/dipotong atas
penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak (WP) luar negeri
selain bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia.
5. PPh Final Pasal 4 Ayat 2 bersifat final. Karena bersifat
final, maka pemotongan PPh Pasal 4 Ayat 2 tidak dapat
dikreditkan. (ex: pajak jual tanah)
6. PPh Pasal 15 menggunakan norma perhitungan pajak
khusus  bisnis oleh perusahaan pelayaran;
penerbangan internasional / penerbangan; perusahaan
asuransi asing; perusahaan pengeboran minyak; dan
perusahaan yang berinvestasi dalam bentuk bangun-
guna-serah 'build-operate-transfer', yang biasanya terkait
dengan proyek-proyek yang disediakan untuk
infrastruktur, seperti pembangunan jalan tol, kereta
bawah tanah, dan lain-lain.
SPT
1. SPT Masa  pelaporan pajak atas pembayaran
pajak bulanan
2. SPT Tahunan  pelaporan tahunan
PAJAK DI APOTEK
 PPN
 PPh 21

 PPh 25 (Angsuran)

 PPh 28 (Kelebihan)

 PPh 29 (Kekurangan)

 PBB

 Pajak Kendraan Bermotor

 Pajak Reklame
PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK
(PTKP) 2016
 PTKP TK (Tidak Kawin)
 PTKP K (Kawin)

 PTKP K/I (Kawin/digabung dg Istri)

 Istri/anak = 2.025.000

Status PTKP Status PTKP Status PTKP

TK/0 24.300.000 K/0 26.325.000 K/I/0 50.625.000

TK/1 26.325.000 K/1 28.350.000 K/I/1 52.650.000

TK/2 28.350.000 K/2 30.375.000 K/I/2 54.675.000

TK/3 30.375.000 K/3 32.400.000 K/I/3 56.700.000


TARIF PASAL 17
 PPh pegawai dan usaha perseorangan

Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

Sampai dengan Rp. 50.000.000 5%

Di atas Rp. 50.000.000 s.d. Rp.


250.000.000
15%

Di atas Rp. 250.000.000 s.d. Rp.


500.000.000
25%

Di atas Rp. 500.000.000 30%


TARIF PAJAK PENGHASILAN BADAN
 Badan Usaha yang memiliki pendapatan bruto sampai 4,8
Milyar per tahun, dikenakan tarif pajak PPh final yaitu
PPh Pasal 4 ayat 2 dengan perhitungan pajak yaitu 0,5%
dikalikan dengan seluruh pendapatan bruto dari hasil
usaha perseroan.
 Badan Usaha yang memiliki pendapatan bruto lebih besar
dari 50 Milyar per Tahun, besarnya tarif pajak
penghasilan PPh badan dikenakan tarif pajak tunggal 25%
dikalikan dengan laba bersih sebelum pajak.
 Badan Usaha yang memiliki pendapatan bruto lebih besar
dari 4,8 Milyar dan kurang dari 50 Milyar per setahun,
dikenakan 2 tarif perhitungan pajak dengan cara sebagai
berikut: tarif sebesar 12,5% untuk pajak penghasilan yang
mendapatkan fasilitas (pendapatan bruto sampai dengan
4.8 Milyar), dan tarif 25% untuk pajak penghasilan yang
tidak mendapatkan fasilitas (pendapatan bruto 4,8 – 50
Milyar).
PENGHITUNGAN PPH KARYAWAN

Gaji/Honor/Tunjangan
-
PTKP

Penghasilan Kena Pajak


X
Tarif pasal 17

Pajak Terutang
-
Kredit Pajak (bukti potong)

Pajak yang masih harus dibayar


PENGHITUNGAN PPH PERSEORANGAN
(MELAKUKAN USAHA)
Omzet/Penghasilan Bruto
-
HPP + Biaya/beban usaha

Penghasilan Neto
-
PTKP

Penghasilan Kena Pajak


X
Tarif pasal 17

Pajak Terutang
-
Kredit Pajak (bukti potong)

Pajak yang masih harus dibayar


PENGHITUNGAN PPH BADAN

Omzet/Penghasilan Bruto
x 0.5%
PENGHITUNGAN PPH BADAN

Omzet/Penghasilan Bruto
-
HPP + Biaya/beban usaha

Penghasilan Neto
X
Tarif pasal 17

Pajak Terutang
-
Kredit Pajak (bukti potong)

Pajak yang masih harus dibayar

Anda mungkin juga menyukai