Anda di halaman 1dari 72

TATA LAKSANA BAYI

dari IBU HIV


LENY KARTINA
N OV E MB ER 20 18
PENCEGAHAN
PENULARAN HIV DARI
IBU KE ANAK (PPIA)
Kasus Infeksi HIV pada Anak di
Indonesia(2010-2016)
1,200
1,030
1,000
903
795
800 759

600 547 541 ≤4 tahun


5-14 tahun
390405 406
400 358 338
316
242 208 TOTAL: 7238
200
(3.65% dari
seluruh kasus di
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 Indonesia
TOTAL 795 789 749 1075 1388 1133 1309
Kementerian Kesehatan RI, 2017
Thailand menjadi negara
Asia pertama yang
mengumumkan tidak
mempunyai kasus baru HIV
pada anak, dan mencapai
target WHO mengurangi
penularan dari 40% mjd
1,9%
Penularan HIV pada Anak
Transmisi vertikal >90%
◦ Sebagian besar infeksi HIV pada anak didapat pada periode perinatal lewat transmisi dari ibu HIV+ ke
bayinya.
◦ Epidemiologi infeksi HIV anak yang didapat pada periode perinatal berkaitan erat dengan epidemiologi
infeksi HIV pada perempuan
Transmisi horizontal
◦ Transfusi darah
◦ Jarum suntik – remaja pengguna narkoba
◦ Hubungan seks (perkosaan, dll)
Transmisi HIV dari Ibu ke
Anak

Setelah
Intrauterin Saat Persalinan
melahirkan (ASI)
5-10% 10-20%
5-20%
< 2%
ARV ibu ARV ibu ARV bayi
Pilihan persalinan aman Susu formula
Keseluruhan risiko tanpa pemberian ASI : 15-30%
Risiko dengan pemberian ASI 6 bulan : 25-35 %
JAMA 2000;283:1175–82
Risiko dengan pemberian ASI 18-24 bulan : 30-45% WHO, 2006
Waktu pemberian ARV pada ibu hamil
dan hubungannya dengan risiko infeksi

Pemberian ARV < 4 minggu untuk ibu


hamil terinfeksi HIV mempunyai risiko 5,5
kali lebih tinggi dibandingkan dengan ibu
yang mendapatkan ARV > 13 minggu

Chibwesa CJ, et al. JAIDS 2011;58:224-8.


Surat Edaran Menteri Kesehatan
No.GK/MENKES/001/I/2013
Tentang
Layanan Pencegahan Penularan HIV
dari Ibu ke Anak (PPIA)
HIV testing and counceling 
mengindentifikasi ibu hamil
dengan HIV
INDONESIA
Kementrian Kesehatan RI sejak tahun 2013 mengeluarkan Surat Edaran Menteri Kesehatan
GK/Menkes/001/I/2013 tentang : Layanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak yang
berisi: bahwa petugas medis wajib menawarkan tes HIV secara inklusif pada pemeriksaan rutin
lainnya saat pemeriksaan antenatal atau menjelang persalinan pada setiap ibu hamil.
Kunci Intervensi PMTCT/PPIA
Tes dan konseling HIV

Terapi ARV ibu hamil dan profilaksis bayi


nya

Persalinan aman

Pemberian makan pada bayi yang aman

11
Tata Laksana Bayi Lahir dari Ibu
Terinfeksi HIV
Penanganan
bayi saat Pilihan nutrisi ARV profilaksis
persalinan

Diagnosis dini
Profilaksis
bayi (Early infant Imunisasi
kotrimoksazol
diagnosis/EID)
Penanganan bayi saat
persalinan
Universal precaution
Gunakan sarung tangan saat terpapar dengan darah atau cairan tubuh
Jepit dan potong tali pusat dengan hati-hati untuk mengurangi kontaminasi percikan darah
Keringkan dan bersihkan kulit bayi dengan kain hangat untuk mengurangi kontaminasi
darah atau cairan tubuh ibu sebelum pindah ke ruang perawatan
Hindari penggunaan gastric tube yang tidak perlu untuk mencegah trauma mukosa
Berikan vitamin K dan vaksinasi rutin
Pilihan Nutrisi

ASI
Susu formula

Keuntungan vs Kerugian
Faktor Risiko Penularan HIV
melalui ASI
• Jumlah virus dalam darah (> 1000 kopi)

Ibu
dan ASI
• Jumlah CD4
• Masalah payudara

• Integritas usus
Bayi • Pilihan nutrisi
Risiko Transmisi Berdasarkan
Pilihan Nutrisi
40
35 Mixed feeding
30 ASI eksklusif
25 Susu formula

20
15
10
5
0
r s
ah
i g u a n a n a n hs h
L in
g
b ul b ul b ul o n t
o nt
m 3 6 9 m m
6 1 15 AIDS. 2001;15:379-87
Konsekuensi Pemberian ASI dari Ibu
Terinfeksi HIV
Kesehatan Ibu dan Anak
Penelitian MASHI (Afrika):
Resistensi ARV
Transmisi HIV • Mortalitas di usia 7 bulan:
anak dengan sufor > anak
dengan ASI • Bayi yang terpajan
Angka transmisi HIV • Mortalitas di usia 18 bulan:
dengan ARV saat masa
melalui ASI masih tidak ada perbedaan
RSCM: PPIA mempunyai risiko
sekitar 5-10% • Tidak ada perbedaan resistensi ARV (30-
walaupun ibu dan bermakna antara morbiditas
80%), terutama
bayi mendapatkan dan mortalitas bayi lahir dari
ibu terinfeksi HIV yang terhadap nevirapin.
profilaksis ARV.
mendapatkan formula dengan
bayi normal.
Chikhungu , et al (meta-analysis)
JAMA. 2006;296:794-805
Zeh C, et al. PLoS Med. 2011; 8: e1000430.
Nelson JA, et al. AIDS. 2015;29:2131-8.
Fogel JM, et al. Pediatr Infect Dis J. 2013; 32: 10.
Prinsip AFASS dalam Pemberian
Susu Formula

Acceptable Feasible Affordable


Bila syarat AFASS tidak terpenuhi, maka bayi dapat
diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan.

Safe Sustainable

Pentingnya konseling!!
AFASS
• Ibu & keluarga tidak mengalami hambatan dalam
Acceptable memberikan PASI. Hambatan: budaya, sosial, ketakutan
akan stigma atau diskriminasi

• Ibu & keluarga memiliki waktu, pengetahuan dan

Feasible keterampilan serta sumber daya yang cukup untuk


menyiapkan PASI dan memberikannya pada bayi sampai
12 kali dalam 24 jam

• Ibu & keluarga, didukung masyarakat jika perlu, dapat membayar

Affordable biaya pembelian, penyiapan & penggunaan PASI. Termasuk susu


formula, bahan bakar, air bersih, sabun, tanpa mengganggu
kesehatan & nutrisi seluruh keluarga
AFASS
• Ibu dan keluarga memiliki akses yang tidak terputus terhadap

Sustainable suplai seluruh komponen yang diperlukan utk PASI yang aman
selama diperlukan bayi, sedikitnya sampai usia 1 tahun atau
lebih

• Ibu dan keluarga mampu secara benar & higienis menyimpan &
menyiapkan peralatan yg bersih:
• Memiliki akses terhadap penyediaan air bersih
• Menyiapkan PASI dengan gizi cukup dan bebas mikroba

Safe • Mampu mencuci tangan dan peralatan dengan sabun dan


secara teratur mensterilkan peralatan dgn merebus
• Dapat merebus air untuk menyiapkan PASI
• Dapat menyimpan formula yang belum dipakai dalam wadah
yang bersih dan tertutup dan terlindungi dari tikus, serangga
dan binatang lain
Infant feeding practice counselling
Acceptable (Dapat diterima)
A cceptable
F easible
Feasible (Layak),
WHO criterias’ for Affordable (Terjangkau)
infant formula A ffordable Sustainable (Berkelanjutan)
S ustainable Safe (Aman)
S afe
• Perlu pendampingan konseling menyusui

• Jika mastitis : jangan langsung menyusu di putting yang luka

JANGAN MEMBERI SUSU CAMPURAN:


ASI DAN FORMULA !!!!
PROFILAKSIS ARV UNTUK
BAYI

Profilaksis profilaksis ARV untuk bayi lahir dari ibu terinfeksi HIV:
Bayi dengan susu formula: zidovudin selama 6 minggu
Bayi dengan ASI: zidovudin DAN nevirapin selama 6 minggu (dan ibu
harus mendapatkan terapi ARV)
Level of evidence 1a, recommendation A
Dosis Profilaksis
Dosis
ARV Lama
pemberian
Usia gestasi ≥35 minggu: 4 mg/kg/kali, 2 kali sehari, dapat dimulai pada
usia 6-12 jam.
Zidovudin Usia gestasi ≥30 sampai <35 minggu: 2 mg/kg/kali, setiap 12 jam, lalu 3 Lahir sampai
mg/kg/dosis setiap 12 jam pada usia 15 hari usia 6 minggu
Usia gestasi <30 minggu: 2 mg/kg/kali, setiap 12 jam, lalu 3 mg/kg/kali
setiap 12 jam setelah usia 4 minggu
Nevirapin Berat lahir 1500–2000 gram: 8 mg/dosis
(untuk bayi Berat lahir 2000-2499 gram: 10 mg/dosis Lahir sampai
dengan ASI) Berat lahir > 2500 gram: 15 mg/dosis usia 6 minggu

Waktu paling lambat pemberian ARV profilaksis adalah usia


72 jam.
Profilaksis Kotrimoksasol
• Diberikan pada semua bayi terekspos HIV (bayi lahir dari ibu HIV) dari usia 6 minggu (termasuk
atau tidak dalam program PMTCT)
• Diberikan sampai infeksi HIV sudah disingkirkan DAN ibu sudah tidak memberikan lagi ASI
• Mencegah pneumonia Pneumocystis Jirovecii dan juga efektif mencegah toxoplasmosis dan
beberapa infeksi bakteri seperti Salmonella, Haemophilus, Staphylococcus

JOINT WHO/UNAIDS/UNICEF STATEMENT ON USE OF COTRIMOXAZOLE AS


PROPHYLAXIS IN HIV EXPOSED AND HIV INFECTED CHILDREN
Profilaksis Kotrimoksasol

Dosis: 4-6 mg TMP/kg BB, 1x/hari, setiap hari


Sediaan: Sirup 40 mg (TMP) tiap 5 mL, tablet 80 mg (TMP)
dan 160 mg (TMP)
Efek samping: reaksi berat seperti Sindrom Stevens Johnson,
atau toksisitas hematologi berat  jarang pada bayi
Early Infant Diagnosis (EID)
•Diagnosis dini penting untuk memberikan inisiasi terapi ARV dini
•Inisiasi terapi ARV dini memberi prognosis klinis lebih baik
•Kendala:
–Teknik pemeriksaan
–Biaya
–Pemberian ASI  diperiksa setelah 6 minggu penghentian ASI
Waktu Pemeriksaan

18 bulan:
4-6 minggu: 4-6 bulan:
Antibodi
PCR HIV PCR HIV
HIV

HIV task force, Indonesia Pediatric Society


Diagnosis pasti infeksi:
• Dua kali uji virologi positif, usia berapa saja ATAU
• Usia >18 bulan dengan hasil uji positif atau uji serologi
positif
Diagnosis pasti tidak ada infeksi pada bayi tanpa ASI:
• Tidak ada bukti klinis ataupun laboratoris dari adanya
infeksi HIV DAN
• Dua kali hasil uji virologi negatif, keduanya dilakukan
pada usia >1 bulan dan salah satunya pada usia >4
bulan, dan tidak pernah positif ATAU
• Dua kali atau lebih hasil uji serologi HIV negatif pada usia
>6 bulan
• Jika PCR tidak bisa dilakukan, • Jika antibodi 9 bulan negatif: bayi
profilaksis kotrimoksasol tidak terinfeksi (kecuali masih ASI):
diteruskan, lakukan pemeriksaan stop kotrimoksasol

Ringkasan
antibodi pada usia 9 bulan
• Jika antibodi 9 bulan positif: ulangi
antibodi di 12-18 bulan
Bayi sehat dari Ibu HIV+
USIA 6 USIA 4-6 USIA 9 USIA 18
LAHIR
MINGGU BULAN BULAN BULAN

PROFILAKSIS ARV: PROFILAKSIS KOTRIMOKSASOL


• AZT – SF
• AZT + NVP – ASI EKS

EID (PCR DNA EID (PCR DNA ANTIBODI ANTIBODI


HIV) I HIV) II (KONFIRMASI)
• Profilaksis ARV dihentikan, berikan • Jika hasil PCR II negatif, profilaksis
profilaksis kotrimoksasol kotrimoksasol dihentikan
• Jika hasil PCR I atau II positif  terapi ARV
(3 obat), konfirmasi ulang PCR
Imunisasi
Bayi yang terpapar HIV harus mendapat imunisasi sesuai
dengan jadwal Kemkes RI atau IDAI untuk melindungi dari
berbagai penyakit
Prinsip umum: tidak memberi vaksin hidup bila sudah
terdapat gejala infeksi HIV
Perhatian khusus untuk BCG yang dapat diberikan apabila
infeksi HIV sudah dapat disingkirkan.
Jadwal PPIA
Lahir 10 hari 4 6 2 3 4 6 9 18
minggu minggu bulan bulan bulan bulan bulan bulan

Berat badan/panjang
badan
Nutrisi* SF SF SF SF SF SF SF SF-MP SF-MP SF-MP
Profilaksis ARV
Zidovudin 4 mg/kg/kali,
Tiap 12 jam**
Kotrimoksazol
4-6 mg TMP/kg/kali

Imunisasi Sesuai jadwal imunisasi Kemenkes


Perhatian khusus” BCG
Hb/Ht *dengan indikasi

PCR RNA/DNA
1 2 AB

SF: susu formula; MP: makanan padat; Hb: Hemoglobin; Ht: Hematokrit; PCR RNA/DNA : Polymerase chain reaction RNA/DNA ; AB: HIV
antibody; ARV: antiretroviral.
* : bila AFASS tidak terpenuhi, maka bayi dapat diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, tidak boleh mixed feeding.
** : dosis khusus untuk prematur
1. BAYI BIHA YANG SEHAT TETAP VAKSIN BCG
2. BAYI YANG SUDAH TERTULAR HIV, BCG DITUNDA SAMPAI
DAPAT ARV DAN CD4 NORMAL
ARV PADA ANAK
Manifestasi klinis HIV pada anak
Ada 3 kelompok respon penderita terhadap masuknya virus HIV :
1. Rapid progessor
15-25% bayi gejala muncul dalam tahun tahun pertama setelah terinfeksi
HIV, jika tidak diobati meninggal < 2 tahun
2. Slow progessor
gejala muncul kurang lebih setelah 5 tahun
3. Longterm non progessor
klinis dan imunologis tetap baik setelah lebih dari 10 tahun
KONDISI KLINIS PENDERITA
ANAK …….
Diare yang menetap
Panas yang menetap
Malnutrisi
Pembesaran kelenjar menyeluruh
Infeksi oportunistik :
◦ TB
◦ Jamur
◦ Human Herpes Virus
◦ Toxoplasma
◦ CMV
◦ Pneumonia
Diagnosis hiv pada bayi
1. Uji virologis
2. Uji serologis
3. Diagnosa presumtif
Uji virologis / Pemeriksaan Virus
1. Konfirmasi diagnosis usia < 18 bulan
2. PCR HIV RNA ( viral load) / PCR DNA (kualitatif)
3. Usia 4 – 6 minggu
4. Diulang usia 4 – 6 bulan
UJI SEROLOGIS / PEMERIKSAAN
ANTIBODI
Konfirmasi pada usia > 18 bulan
Jika positif < 18 bulan  belum tentu terinfeksi  paparan (+)
Dilakukan usia 9-12 bulan  rule out, asal ASI (-)
Positif > 18 bulan  infeksi HIV
DIAGNOSIS PRESUMTIF
Usia < 18 bulan, serologis (+), Virologi tidak dapat dilakukan

Bila ada 1 kriteria berikut Bila ada minimal 2 gejala berikut


1. PCP 1. Oral thrush
2. Menigitis kriptokokus 2. Pneumonia berat
3. Kandidiasis esophagus 3. Sepsis berat
4. Toksolasmosis 4. Kematian ibu karena HIV/
5. Malnutrisi berat yang tidak penyakit HIV lanjut pada ibu
membaik dengan tx standar 5. CD4 < 20%
TATALAKSANA HIV PADA ANAK
Tujuan Terapi

Mengendalikan
Menyembuhkan/
infeksi untuk
menghilangkan
periode jangka
infeksi
panjang

Belum dapat dicapai


Tata laksana HIV anak secara komprehensif

Kelayakan pemberian Mulai ARV:


ARV: - Monitor efek
- CD4? samping
- IO = kategori WHO? - Monitor IRIS

Monitor:
Obati IO – berapa lama? • Pertumbuhan
• Perkembangan
Persiapkan dan nilai • Psikososial
adherence • Imunisasi
Perbaikan
Diagnosis:
kesintasan &
- Definitif
kualitas
- Presumptive
hidup
Apa yang perlu disiapkan?
Memulai ART bukan kondisi emergensi

Nilai dan atasi


masalah adherence

Skrining dan obati IO


Untuk menurunkan risiko immune reconstitution inflammatory
syndrome (IRIS)
Perawatan awal sebelum memulai
ARV
•Penanganan gizi terlebih dahulu (toleransi terhadap makanan, kadar albumin untuk
transportasi obat dll.) Mengatasi masalah gizi dan Gizi Buruk se optimal mungkin .
TIDAK ADA BATAS WAKTU
•Infeksi berat : Infeksi Oportunistik yang Berat harus di atasi se maksimal mungkin
•Profilaksis OI : cotrimoksazole dan OAT / INH
•Persiapan care-givers untuk perawatan jangka panjang
• Pill burden: banyaknya jenis dan jumlah
•Adherence: jam yang tepat tiap hari harus lebih dari 95%
INFEKSI OPORTUNISTIK
CARI DAN TEMUKAN SEGERA
IO IS “ KILLER “
OBATI SEBELUM PEMBERIAN ARV UNTUK MENCEGAH IRIS
Infeksi tumpangan/oportunistik
Oral thrush

Hepatosplenomegaly

Parotid enlargement
Severe wasting
Infeksi tumpangan/oportunistik
PCP
TBC
THE IRIS / SINDROMA PULIH
IMUN
Memburuknya kondisi dari penyakit tumpangan yang ada
sebelumnya
Merupakan efek samping dari kembalinya respon imun-pathogen
setelah pemberian ARV
Terjadi pada bulan bulan pertama pengobatan ARV
Mekanisme : “unmasking” dari infeksi subklinis sebelumnya atau
reaksi paradoksal
Kapan ARV dimulai ?
US - DHHS Europe-PENTA WHO WHO 2013 WHO
2010 2009 2010 Revision
2015
Klinis B,C B,C 3,4 3,4 ALL
Kadar CD4

< 1 yr All All All ALL


1-3 yr < 25% <25%, 1-2 yr: all if CD4 not ( ≤ 2 yr
or < 1000 cells available atau CD4 ≤ 750
< 25% or < 750 cells cells/mm³
atau < 25% )
3-5 yr <25% < 20%, < 25% or < 750 cells
or < 500 cells

> 5 yr ZAMAN
< 350 cells NOW< 350
: OBATI
cells SEMUA ANAK
< 350 cells YANG TERINFEKSI
≤ 500 cells
VL-guided ConsiderBERAPAPUN
if Consider ifUSIA , KLINIS
N/A DAN CD4 NYA N/A
VL > 100,000 VL > 100,000
51
PERSIAPAN PEMBERIAN ARV
PERSIAPAN PENGASUH

1. MENGERTI PERJALANAN PENYAKIT HIV PERSIAPAN ANAK


DAN KEUNTUNGAN SERTA EFEK
SAMPING OBAT A. ANAK TAHU STATUS HIV
2. PENTINGNYA MINUM OBAT TEPAT A. MENGERTI PERJALANAN PENYAKIT
WAKTU B. MENGERTI PENTINGNYA MINUM
3. TANGGUNG JAWAB MENGAMATI OBAT
MINUM OBAT SETIAP HARI
4. TANGGUNG JAWAB PEMANTAUAN B. ANAK BELUM TAHU STATUS HIV
5. PENYIMPANAN ARV DIBERI PENJELASAN SESUAI USIA
6. TAHU CARA MENCAMPUR DAN TENTANG KEPENTINGAN DAN KEPATUHAN
MENGUKUR ARV MINUM OBAT
7. MAMPU MENYEDIAKAN ARV,
MENGANTAR KE LABORATURIUM ATAU
KE RS
LANGKAH LANGKAH TERAPI
ARV
1. Gunakan 3TC sebagai NRTI pertama
2. Pilih 1 NRTI untuk dikombinasi dengan 3TC
3. Pilih 1 NNRTI
Jenis ARV apa untuk mulai lini 1
HAART ?
AZT NVP
NRTI back bone  should consist of
2 NRTI + 1 NNRTI
3TC as first NRTI d4T 3TC
Infant < 1 year : LPV/r is better than
NVP EFV
TDF
Indonesia : LPV/r is used as second
line regimen

54
Pilihan ARV
LINI 1 LINI 2
NRTI NRTI
◦ Zidovudin ◦ Didanosin
◦ Stavudin ◦ Abacavir
◦ Lamivudin ◦ Tenofovir
◦ Emtrisitabin NNRTI -
NNRTI PI
◦ Nevirapin ◦ Lopinavir/ritonavir
◦ Efavirens
Lini 3: Darunavir + Etravirin + Raltegravir
SUDAH DISKONTINYU
Pemilihan ARV pada kondisi khusus
Penyakit lain (concomitant) Pilihan ARV
Anak atau remaja dengan ANEMIA 2 NRTI ( hindari zidovudin) + NVP
Anak < 3 tahun dg TB Tetap 2 NRTI + NVP
Atau
3 NRTI ( AZT/d4T + 3TC + ABC)

Anak > 3 tahun dg TB 2 NRTI + EFV


Atau
3 NRTI (AZT/d4T + 3TC + ABC)

Remaja dg Hepatitis B TDF + FTC/3TC + NNRTI


Pemantauan
Item 2 minggu 1 bulan 6 bulan 12 bulan 18 bulan
BB X X X X X
Efek samping X X X X X
DPL X X X X
GOT/GPT X X X
Ur/Cr* X X X
CD4 X X X
PCR RNA/VL* X X

•*Baru diusulkan untuk menjadi pemantauan rutin


•Secara Umum kunjungan konsultasi adalah 1 – 2 bulan sekali

Dipertimbangkan: BMD, Echocardiografi, profil lipid


TATALAKSANA TOKSISITAS ARV
1. Tentukan derajat toksisitas
2. Evaluasi obat yang diminum bersamaan
3. Pertimbangkan proses penyakit yang lain
4. Tatalaksana sesuai derajat toksisitas :
◦ a. Derajat 4  mengancam jiwa : hentikan ARV
◦ b. Derajat 3 : reaksi berat : ganti obat yang dimaksud, tidak
keseluruhan
◦ c. Derajat 2 : reaksi sedang : simptomatik, jika tidak ada perbaikan,
ganti 1 obat
◦ d. Derajat 1 : ringan : mengganggu tapi tidak perlu mengganti obat.
Gagal Terapi

Kegagalan virus
VL persisten > 5000 kopi RNA/ml

Kegagalan imunologi
CD4 <200 atau <10% pada anak >2 to < 5 tahun

Kegagalan klinis
Morbiditas stadium 3 atau 4
PENYEBAB KEGAGALAN TERAPI
Transmitted resistance
Virus Superinfection with DR

Doctor Patient
Experience Adherence
Attitude Genetics : Toxicogenomic
Continuing patient motivation Socioeconomic
Life-style
Drug Multi-comorbidity
Psychiatric disorder
Drug abuse
Suboptimal potency
wrong dose
Risk of toxicity
Drug-drug interaction
Single vs multiple dosing
Pilihan ARV lini selanjutnya

Lini 1 AZT/d4T+3TC+NVP/EFV ABC+3TC+NVP

Lini 2 ABC + 3TC + LPV/r AZT/d4T+3TC+ LPV/r


ddI +3TC + LPV/r
Pengobatan profilaksis INH
(PP INH) 
Isoniazid (INH): regimen terpilih pencegahan tuberkulosis pada individu yang belum pernah
terinfeksi TB.
Dapat mencegah progresivitas TB laten menjadi TB aktif
Penggunaan INH sebagai pencegahan TB pada anak: Direkomendasikan WHO untuk anak
terinfeksi HIV dengan gejala sugestif TB (gagal tumbuh, demam atau batuk lama, riwayat kontak
TB) yang setelah dilakukan evaluasi tidak didapatkan TB aktif  mencegah progresivitas TB laten
dan pada akhirnya menurunkan mortalitas dan morbiditas
Algoritma skrining TB
dan profilaksis INH pada
anak terinfeksi HIV
Tata laksana tuberkulosis pada
anak terinfeksi HIV
Fase intensif: isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol (2 bulan)
Fase lanjutan: isoniazid dan rifampisin (4 bulan)
Anak terinfeksi HIV dengan TB ekstra-paru, durasi terapi 12 bulan
Terapi TB pada anak terinfeksi HIV harus segera dimulai setelah diagnosis ditegakkan baik pada
anak yang sudah dalam terapi ARV, maupun yang belum memulai terapi ARV
◦ Terapi ARV pada anak terinfeksi HIV yang belum memulai terapi
dapat dipertimbangkan setelah 2-8 minggu OAT diberikan
Alur diagnosis
TB pada anak
TREATMENT IS PREVENTION
71
Terima Kasih