Anda di halaman 1dari 35

ORGANISASI PERANGKAT DAERAH

BERDASARKAN PP NOMOR 18 TAHUN 2016


TENTANG PERANGKAT DAERAH

KEMENTERIAN DALAM NEGERI RI


KEWENANGAN ANTAR
TINGKAT PEMERINTAHAN

PEM PUSAT PEM PROV PEM KAB/KOTA


1. Menetapkan norma, Mengatur dan Mengatur dan
standar, prosedur dan
kriteria (NSPK) Urusan mengurus mengurus
Pemerintahan yang Urusan Urusan
menjadi kewenangan
daerah;
Pemerintahan Pemerintahan
2. Melaksanakan yang lokasinya yang lokasinya
Sosialisasi, Monev, lintas Daerah dalam daerah
fasilitasi , Supervisi,
Binwas dalam Kabupaten/Kota, Kabupaten/Kota,
penyelenggaraan Urusan [Mengacu pd NSPK] [Mengacu pd NSPK]
Pemerintahan yang
menjadi kewenangan
Daerah;
3. Mengelola urusan
pemerintahan yg menjadi
kewenangan pusat; dan
4. Melaksanakan Urusan
Pemerintahan yang
bersifat strategis
nasional.
U RU S A N P E M E R I N TA H A N
(UU 23/2014)
PSL. 10
PSL. 25
ABSOLUT PSL. 11 - 24
(TIDAK DISERAHKAN) URUSAN
(6) KONKUREN PEMERINTAHAN UMUM
(32)

1. POLITIK LUAR
NEGERI WAJIB PILIHAN 1. PANCASILA, UUD45,
2. PERTAHANAN
3. KEAMANAN
(24) (8) BHINEKA TUNGGAL IKA,
KEUTUHAN NKRI.
2. PERSATUAN DAN
4. YUSTISI KESBANG
5. MONETER & 3. KERUKUNAN ANTAR
FISKAL SUKU, INTRA SUKU,
UMAT BERAGAMA, RAS
6. AGAMA 1. kelautan dan DAN GOLONGAN
PELAYAN NON- perikanan; 4. PENANGANAN KONFLIK
AN PELAYAN SOSIAL
2. pariwisata;
DASAR AN 5. KOORDINASI PELAKSANA
3. pertanian; TUGAS ANTAR INSTANSI
1. PENDIDIKAN (6) DASAR 4. kehutanan; 6. PENGEMBANGAN
2. KESEHATAN (18) 5. energi dan KEHIDUPAN DEMOKRASI
3. PU DAN PENATAAN sumber daya BERDASARKAN
RUANG mineral; PANCASILA
4. PERA DAN KAWSN 6. perdagangan; 7. PELAKSANAAN URUSAN
PEMUKIMAN 7. perindustrian; dan YG BKN KEWENANGAN
8. transmigrasi. DAERAH
5.
6.
TANTRIBUMLIMAS
SOSIAL
SPM
U R U S A N P E M E R I N TA H A N YA N G D I S E R A H K A N
(KONKUREN)

WAJIB (24) PILIHAN


(8)
berkaitan dengan
Non- pelayanan dasar
pelayanan dasar
(18)
(6)

1. tenaga kerja;
2. pemberdayaan perempuan dan
perlindungan anak;
1. kelautan dan
1. pendidikan; 3. pangan; perikanan;
2. kesehatan; 4. pertanahan:
3. pekerjaan umum dan 5. lingkungan hidup; 2. pariwisata;
6. administrasi kependudukan dan
penataan ruang; pencatatan sipil; 3. pertanian;
7. pemberdayaan masyarakat desa;
4. perumahan rakyat dan 8. pengendalian penduduk dan 4. kehutanan;
kawasan pemukiman; keluarga berencana;
5. ketentraman, 9. perhubungan; 5. energi dan
10. komunikasi dan informatika;
ketertiban umum dan 11. koperasi, usaha kecil, dan sumber daya
perlindungan 12.
menengah;
penanaman modal; mineral;
masyarakat 13.
14.
kepemudaan dan olah raga;
statistik;
6. perdagangan
6. sosial;
15.
16.
persandian;
kebudayaan;
7. perindustrian
17.
18.
perpustakaan; dan
kearsipan;
8. transmigrasi
KEMENTERIAN/LPNK BERSAMA PEMDA
MELAKUKAN PEMETAAN URUSAN PEMERINTAHAN WAJIB YG
TIDAK TERKAIT PELAYANAN DASAR DAN
URUSAN PEMERINTAHAN PILIHAN (Psl 24 )
DITETAPKAN
DENGAN PERMEN SETELAH HASIL PEMETAAN
MENDAPAT REKOMENDASI
DARI MENDAGRI

PEMETAAN URUSAN WAJIB


YANG TIDAK TERKAIT DENGAN
PELAYANAN DASAR PEMETAAN URUSAN PILIHAN

1. LAKUKAN UNTUK MENENTUKAN INTESITAS URUSAN 1. LAKUKAN UNTUK MENENTUKAN DAERAH YANG
WAJIB YANG TIDAK TERKAIT PELAYANAN DASAR. MEMPUNYAI URUSAN PILIHAN.
PEMETAAN URUSAN PEMERINTAHAN
2. BERDASARKAN JUMLAH PENDUDUK, BESARNYA 2. BERDASARKAN POTENSI, PROYEKSI PENYERAPAN
KK
APBD DAN LUAS WILAYAH. TENAGA KERJA, DAN PEMANFAATAN LAHAN

HASIL PEMETAAN :

1. DIGUNAKAN OLEH DAERAH DALAM PENATAAN KELEMBAGAAN,


PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN DALAM
PENYELENGGARAAN URUSAN YANG MENJADI KEWENANGAN
DAERAH.
2 DIGUNAKAN OLEH K/L SEBAGAI DASAR UNTUK PEMBINAAN
KEPADA DAERAH .
3. KEMENTERIAN/LPNK BERDASARKAN PEMETAAN URUSAN
PEMERINTAHAN WAJIB YG TDK BERKAITAN DGN
PELAYANAN DASAR DAN URUSAN PEMERINTAHAN
PILIHAN MELAKUKAN SINKRONISASI DAN HARMONISASI DGN
DAERAH UTK MENCAPAI TARGET PEMBANGUNAN NASIONAL.
KEDUDUKAN PERANGKAT DAERAH

1. PERANGKAT DAERAH ADALAH PEMBANTU KEPALA DAERAH


SEBAGAI KEPALA PEMERINTAHAN DAERAH OTONOM UNTUK
MELAKSANAKAN URUSAN PEMERINTAHAN TERTENTU.
2. SETWAN ADALAH PEMBANTU TUGAS DAN FUNGSI DPRD,
NAMUN JUGA PEMBANTU KEPALA DAERAH DALAM
MENGADMINISTRASIKAN PENGELOLAAN UNSUR DAN
FUNGSI MANAJEMEN DAERAH DI DEWAN.
3. JIKA DIANALAOGIKAN, PERANGKAT DAERAH ADALAH
KEMENTERIANNYA DAERAH, DAN KEPALA PERANGKAT
DAERAH ADALAH MENTERINYA KEPALA DAERAH.
LATAR BELAKANG PENATAAN PERANGKAT DAERAH
DALAM UU 23/2014DAN PP 18 TAHUN 2016

1. Selama pemberlakuan PP No 41 tahun 2007 yang menganut prinsip


perumpunan, telah banyak respon dari K/L yang memaksa setiap
daerah membentuk perangkat daerah untuk melaksanakan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangannya.
2. Perumpunan mengakibatkan banyaknya urusan yang tergabung dalam
satu OPD sehingga sulit menentukan standar kompetensi kepala OPD.
3. Level perangat daerah (eselon) yang seragam antardaerah
mengakibatkan tidak seimbangnya beban kerja. Daerah kecil
cenderung membuat organisasi yang besar juga.
4. Daerah cenderung membuat organisasi dengan kurang
memperhatikan beban urusan yang nyata ada di daerah tersebut.
5. Tidak tegas pengelompokan antarelemen organisasi, urusan bisa jadi
badan, dan penunjang bisa jadi dinas, dan kantor sebagi lemtekda
dianggap untuk menampung fungsi pemerintahan yang berskala kecil.
KONSEP DASAR PENATAAN DAERAH DALAM UU
23/2014

1. Ada pemisahan yang tegas antara fungsi pelaksana urusan


(dinas), penujang urusan (badan) dan pendukung urusan
(sekretariat) dan fungsi koordinator/middle line (sekda).
2. Tidak menyeragamkan besaran masing-masing perangkat daerah
antardaerah.
3. Setiap urusan dan setiap fungsi penunjang dibentuk 1
dinas/badan, kecuali untuk urusan atau fungsi penunjang yang
bebannya sangat kecil (tidak prioritas).
4. Menghindari terjadi pertumbuhan struktur, dan diupayakan untuk
ada efisiensi struktur dengan cara mengurangi struktur tengah
dan bawah.
5. Tidak dimungkinkan lagi untuk membentuk perangkat daerah yang
sudah menjadi bagian urusan pemerintahan.
6. Daerah diberikan ruang untuk menyesuiakan ukuran perangkat
daerahnya.
JENIS PERANGKAT DAERAH MENURUT UU
23/2014

SUPPORTING STAFF :
A. 1. SETDA
2. SET DPRD

B. OPERATING CORE :DINAS YANG MELAKSANAKAN


URUSAN PEMERINTAHAN.

C. TECHNO STRUCTURE : BADAN YANG


MEMBERIKAN DUKUNGAN TEKNIS KEPADA
SELURUH SKPD.

TECNO STRUCTURE YANG SECARA EKSPLISIT


D.
SUDAH DISEBUTKAN NOMENKLATURNYA
INSPEKTORAT DAERAH DAN SATPOL PP.
Pembentukan Perangkat Daerah dilakukan
berdasarkan asas:
1. Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah;
2. intensitas Urusan Pemerintahan dan potensi
Daerah;
3. efisiensi;
4. efektifitas;
5. pembagian habis tugas;
6. rentang kendali;
7. tata kerja yang jelas; dan
8. fleksibilitas.
JENIS PERANGKAT DAERAH PROVINSI

SEMUA PERANGKAT YANG MELAKSANAKAN


URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DISEBUT
DINAS.
Catatan :
1. BPBD akan diatur dengan Permendagri.
2. Dinas Trantibum diesbut Satpol PP.

SEMUA PERANGKAT DAERAH YANG


MEMBERIKAN DUKUNGAN TEKNIS KEPADA
SELURUH PRANGKAT DAERAH DISEBUT BADAN.
CATATAN :
DAPAT DIBENTUK BADAN LAINNYA DIATUR
DENGAN PERMENDAGRI

SELAIN DINAS DAN BADAN DIBENTUK


SEKRETARIAT DAERAH, SET DPRD DAN
INSPEKTORAT DAERAH.
JENIS PERANGKAT DAERAH KABUPATEN/KOTA

SEMUA PERANGKAT YANG MELAKSANAKAN URUSAN


PEMERINTAHAN DAERAH DISEBUT DINAS
Catatan :
1. BPBD akan diatur dengan Permendagri.
2. Dinas Trantibum diesbut Satpol PP.

SEMUA PERANGKAT DAERAH YANG MEMBERIKAN DUKUNGAN


TEKNIS KEPADA SELURUH PRANGKAT DAERAH DISEBUT
BADAN
CATATAN :
DAPAT DIBENTUK BADAN LAINNYA DIATUR DENGAN
PERMENDAGRI.

SELAIN DINAS DAN BADAN DIBENTUK


SEKRETARIAT DAERAH, SET DPRD DAN
INSPEKTORAT DAERAH.

PERANGKAT KEWILAYAHAN DISEBUT


KECAMATAN.
TIPOLOGI PERANGKAT DAERAH

DINAS DAN BADAN DIKATEGORIKAN KE DALAM TIPE A, TIPE B


DAN TIPE C.

KECAMATAN DIKATEGORIKAN KE DALAM TIPE A DAN TIPE B

SEMUA DINAS DAN BADAN DAPAT DITURUNKAN TIPENYA


MENJADI LEBIH RENDAH.

JIKA HASIL PEMETAAN MENGAKIBATKAN TERJADI


PENAMBAHAN STRUKTUR PERANGKAT DAERAH, MAKA TIPE C
DENGAN NILAI SAMPAI DENGAN 500 SEBELUM DIKALIKAN
FAKTOR GEOGRAFIS DAPAT DIGABUNG DENGAN DINAS TIPE
C, B ATAU A. JIKA DIGABUNG DENGAN DINAS TIPE C MAKA
MENJADI TIPE B DAN JIKA TIPE B MENJADI TIPE A.
PEMETAAN URUSAN DAN KELEMBAGAAN OPD

PERANGKAT DAERAH DIBENTUK BERDASARKAN PEMETAAN BEBAN


URUSAN UNTUK MENENTUKAN INTENSITAS DAN POTENSI URUSAN
PEMERINTAHAN MASING-MASING DAERAH

PEMETAAN DILAKUKAN BERDASARKAN INDIKATOR YANG :


a. DAPAT MENJADI PEMBEDA ANTARDAERAH;
b. MENGGAMBARKAN BEBAN URUSAN BERDASARKAN
KEWENANGAN;
c. DAPAT DIUKUR SECARA KUANTITAIF;
d. DATANYA TERSEDIA DAN DAPAT DIVERIFIKASI.
e. SEDERHANA, HANYA BEBAN PANGKAL YANG PEMBENTUK BEBAN
LAIN

INDIKATOR DIKELOMPOKKAN DALAM 2 VARIABEL YAITU VARIABEL


UMUM (20%) DAN VARIABEL TEKNIS (80%)

PEMETAAN DILAKUKAN OLEH PEMDA BERSAMA K/L


DIKOORDINASIKAN OLEH MENDAGRI BERDASARKAN INDIKATOR YANG
TELAH DISUSUN DALAM LAMPIRAN PP.
HASIL PEMETAAN

HASIL PEMETAAN DITETAPKAN OLEH K/L YANG MENETAPKAN SKOR


TOTAL MASING-MASING URUSAN PEMERINTAHAN.

1. UNTUK PERTAMA KALI HASIL PEMETAAN OLEH K/L PALING


LAMBAT 2 BULAN SETELAH PP DITETAPKAN.
2. DLM HAL K/L BELUM MENETAPKAN HASIL PEMETAAN, PEMDA
LANGSUNG MENETAPKAN PERDA SESUAI HASIL PEMETAAN YANG
DILAKUKAN OLEH DAERAH.

HASIL PEMETAAN DIGUNAKAN UNTUK MENENTUKAN TIPELOGI


PERANGKAT DAERAH DAN UNTUK PERENCANAAN DAN
PENGANGGARAN.

HASIL PEMETAAN DIGUNAKAN UNTUK PERENCANAAN DAN


PENGANGGARAN BERUPA MENETAPKAN TARGET
PEMBANGUNAN SETIAP URUSAN PEMERINTAHAN.
CATATAN KHUSUS PEMETAAN

 Hasil pemetaan hanya memuat total skor setiap


urusan pemerintahan (intensitas dan beban
kerja).
 Jika ada pertentangan antara K/L dan pemda,
maka kemendagri harus memediasi dengan
mengacu pada data dukung empirik.
 Jika definisi indikator kurang jelas maka
patokannya adalah :
 Data Indikator teknis tidak boleh dihitung 2
kali;
 Pilih indikator yang lebih efisien.
 Jika indikator kurang jelas definisinya, maka
perlu juga dicek dengan kewenangan dalam UU
Nomor 23 tahun 2014.
Pembentukan Perangkat

1. Pembentukan dan susunan Perangkat Daerah ditetapkan


dengan Perda.
2. Perda berlaku setelah mendapat persetujuan dari Menteri bagi
Perangkat Daerah Provinsi dan dari gubernur sebagai wakil
Pemerintah Pusat bagi Perangkat Daerah Kabupaten/Kota.
3. Persetujuan Menteri atau gubernur sebagai wakil Pemerintah
Pusat diberikan berdasarkan pemetaan Urusan Pemerintahan
Wajib dan Urusan Pemerintahan Pilihan.
4. Menteri atau gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat
menyampaikan jawaban menyetujui seluruhnya atau
menyetujui dengan perintah perbaikan Perda kepada
gubernur atau bupati/wali kota paling lambat 15 (lima belas)
Hari sejak diterimanya Perda.
Pembentukan Perangkat
5. Dalam hal Menteri atau gubernur sebagai wakil Pemerintah
Pusat menyetujui seluruhnya atas Perda, kepala Daerah
mengundangkan Perda dalam lembaran Daerah.
6. Apabila dalam waktu 15 (lima belas) Hari Menteri atau
gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat tidak memberikan
jawaban, Perda dianggap telah mendapat persetujuan.
7. Dalam hal Menteri atau gubernur sebagai wakil Pemerintah
Pusat menyetujui dengan perintah perbaikan Perda . Perda
tersebut harus disempurnakan oleh kepala Daerah bersama
DPRD sebelum diundangkan.
8. Dalam hal kepala Daerah mengundangkan Perda yang tidak
mendapat persetujuan dari Menteri bagi Perangkat Daerah
Provinsi dan dari gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat
bagi Perangkat Daerah Kabupaten/Kota atau Perda tidak
disempurnakan oleh kepala Daerah bersama DPRD, Menteri
atau gubernur yang bersangkutan membatalkan Perda
Pembentukan Perangkat Daerah

Ketentuan mengenai kedudukan,


susunan organisasi, perincian tugas
dan fungsi, serta tata kerja Perangkat
Daerah ditetapkan dengan
Peraturan Kepala Daerah
PEMBENTUKAN PERANGKAT DAERAH

1. PERANGKAT DAERAH DITETAPKAN DENGAN PERDA YANG


MEMUAT PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN (JUMLAH BIDANG
DAN SEKSI).
2. PERDA HARUS MENDAPAT PERSETUJUAN MENDAGRI UTK
PROV DAN OLEH GWP UTK KAB/KOTA
3. PERSETUJUAN MENDAGRI DAN GWP DIPERLUKAN UNTUK
MEMASTIKAN APAKAH PEMBENTUKAN PERANGKAT DAERAH
DALAM PERDA SUDAH SESUAI DENGAN HASIL PEMETAAN
BEBAN URUSAN PEMERINTAHAN.
4. PERSETUJUAN ATAU PENOLAKAN HARUS DILAKUKAN DALAM
WAKTU 15 HARI.
5. KEDUDUKAN, SUSUNAN, TUSI DAN TATA KERJA DITETAPKAN
DENGAN PERKADA.
LANJUTAN………………

 Dinas yang membidangi urusan pemerintahan wajib


terkait pelayanan dasar wajib dibentuk dinas minimal
tipe C.
 Sekda, Sekwan, Inspekorat, Bapeda, Keuangan
masing-masing menjadi perangkat minimal tipe C.
 Urusan pertanian, pekerjaan umum dan keuangan
dapat menambah 2 bidang dan dapat dibentuk 2
dinas jika skor total 950 atau lebih.
 Urusan arsip, sekwan, sandi, di provinsi dan
kab/kota serta urusan ESDM dan Kehutanan di
kab/kota tidak mendapat tambahan faktor pengali
geografis.
 Apabila skor urusan teknisnya 0, maka tidak dapat
dibentuk unit kerja.
CATATAN KHUSUS

 Perda pembentukan SOTK hanya memuat


nama perangkat daerah dan tipenya
beserta jumlah unit kerja pada masing2
perangkat daerah.
 Nomenklatur unit kerja dan tugas serta
fungsi unit kerja ditetapkan dalam perkada.
 UPT ditetapkan dengan Perkada
berdasakan Permendagri (Permendagri
sedang disusun).
BESARAN ORGANISASI SETDA

 Setda provinsi tipe A maksimal 3 asisten, 9 biro dan


27 bagian.
 Setda provinsi tipe B maksimal 3 asisten, 6 biro dan
18 bagian.
 Setda provinsi tipe C maksimal 2 asisten, 4 biro dan
12 bagian.
 Masing-masing bagian mempunyai maksimal 3
subbag.
 Setda kab/kota tipe A maksimal 3 asisten, 12 bagian
dan 36 subbagian
 Setda kab/kota tipe B maksimal 3 asisten, 9 bagian
dan 27 subbagian
 Setda kab/kota tipe C maksimal 2 asisten, 6 bagian
dan 18 subbagian
DINAS DAN BADAN

Pasal 217
Dinas dibentuk untuk melaksanakan Urusan
Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah.

Pasal 219
Badan dibentuk untuk melaksanakan fungsi
penunjang Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah.
L E M B A G A TE R TE N T U

KETENTUAN PASAL 231 UU 23/2014 :

Dalam hal ketentuan peraturan perundang-undangan


memerintahkan pembentukan lembaga tertentu di
Daerah, lembaga tersebut dijadikan bagian dari
Perangkat Daerah yang ada setelah dikonsultasikan
kepada Menteri dan menteri yang menyelenggarakan
Urusan Pemerintahan bidang pendayagunaan aparatur
negara
BESARAN ORGANISASI INSPEKTORAT DAN STWAN

 INSPEKTORAT TIPE A MASIMAL 4 INRBAN


DAN MEMBAWAHI JAFUNG.
 INSPEKTORAT TIPE B MASIMAL 3 INRBAN
DAN MEMBAWAHI JAFUNG.
 INSPEKTORAT TIPE C MASIMAL 2 INRBAN
DAN MEMBAWAHI JAFUNG.
 SETWAN TIPE A MAKSIMAL 4 BAGIAN
DENGAN 3 SUBBAG.
 SETWAN TIPE B MAKSIMAL 3 BAGIAN BAGIAN
DENGAN 3 SUBBAG.
 SETWAN TIPE C MAKSIMAL 2 BAGIAN BAGIAN
DENGAN 3 SUBBAG.
BESARAN ORGANISASI DINAS DAN BADAN

 BADAN/DINAS TIPE A MAKSIMAL 4 BIDANG,


1 SET. SET MEMBAWAHI 3 SUBBAG DAN
BIDANG MEMBAWAHI 3 SEKSI
 BADAN/DINAS TIPE B MAKSIMAL 3 BIDANG,
1 SET. SET MEMBAWAHI 2 SUBBAG DAN
BIDANG MEMBAWAHI 3 SEKSI
 BADAN/DINAS TIPE C MAKSIMAL 2 BIDANG,
1 SET. SET MEMBAWAHI 2 SUBBAG DAN
BIDANG MEMBAWAHI 3 SEKSI
NOMENKLATUR DAN DEPARTEMENTASI
PERANGKAT DAERAH

 K/L menetapkan nomenklatur perangkat daerah


berupa pengelompokan fungsi yang sejenis,
sedangkan nomenklatur jabatan ditetapkan oleh
daerah.
 Departementasi jabatan dilakukan oleh daerah
dengan menghindari terjadinya tumpang tindih tusi
dan disesuaikan dengan volume beban nyata setiap
fungsi.
 Departementasi dapat berdasarkan pendekatan
fungsi, pelanggan, wilayah atau produk.
 Sebaiknya hindari pengelompokan dengan
menggunakan lebih dari satu pendekatan pada
level yang sama.
STAF AHLI KEPALA DAERAH

 Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/kota


dapat memebentuk perangkat daerah staf ahli.
 Tugas staf ahli adalah memberikan pertimbangan
strategis kepada gub/bup/walikota dalam rangka
penetapan kebijakan strategis.
 Staf ahli dibantu oleh 1 subbag yang memebrikan
dukungan keuangan, perlengkapan, dan
administrasi.
 Staf ahli sebanyak-banyaknya 3 orang.
UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS/BADAN

 Pada badan/dinas dapat dibentuk UPT untuk


melaksanakan tugas teknis operasional atau tugas teknis
penunjang.
 UPT provinsi terdiri dari UPT tipe A dan UPT tipe B,
sedangkan UPT kab/kota tidak ada tipelogi.
 Pada urusan kesehatan ada UPT Khusus yaitu Rumah
Sakit dan Puskesmas.
 Pada Urusan pendidikan ada UPT khusus yaitu satuan
pendidikan.
 Kriteria dan tata cara pembentukan UPT diatur lebih
lanjut dengan Permendagri dengan persetujuan Menpan,
kecuali UPT Rumah sakit/puskesmas diatur dengan
perpres dan permenkes utk puskesmas dengan
persetujuan menpan dan mendagri
CABANG DINAS DAN KANTOR PENGHUBUNG

 Cabang dinas adalah unit kerja yang melaksanakan


sebagian fungsi dari seluruh unit kerja pada dinas
(miniatur dinas) pada wilayah administrasi pemerintahan
tertentu.
 Cabang dinas hanya dibentuk pada dinas provinsi yang
melaksanakan urusan ESDM, Kehutanan dan pendidikan.
 Untuk efisiensi, cabang dinas dapat mempunyai wilyah
kerja lebih dari 1 kabupaten/kota.
 Cabang dinas mendapatkan kewenangan untuk
mempermudah pemberian pelayanan kepada masyarakat.
 Untuk membantu kemudahan komunikasi dan
administrasi antara daerah dengan pusat, provinsi dapat
membentuk badan penghubung di ibu kota negara.
 Badan penghubung adalah jabatan administrator.
pendidikan, kebudayaan, pariwisata, kepemudaan dan
olahraga;
kesehatan, sosial, pemberdayaan perempuan dan
perlindungan anak, pengendalian penduduk dan keluarga
berencana, administrasi kependudukan dan pencatatan sipil
serta pemberdayaan masyarakat dan desa;
ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan
masyarakat sub urusan bencana dan kebakaran serta sub
urusan ketenteraman dan ketertiban umum.
penanaman modal, koperasi, usaha kecil dan menengah,
perindustrian, perdagangan, energi dan sumber daya mineral,
transmigrasi, dan tenaga kerja;
komunikasi dan informatika, statistik dan persandian;
perumahan dan kawasan permukiman, pekerjaan umum dan
penataan ruang, pertanahan dan perhubungan;
pangan, pertanian, kelautan dan perikanan;
lingkungan hidup dan kehutanan; dan
perpustakaan dan kearsipan.
32
Pengabungan fungsi penunjang urusan:
1. Dalam hal berdasarkan perhitungan nilai variabel suatu fungsi penunjang Urusan
Pemerintahan tidak memenuhi syarat untuk dibentuk badan Daerah
kabupaten/kota sendiri, fungsi penunjang Urusan Pemerintahan tersebut digabung
dengan badan Daerah kabupaten/kota lain.
2. Penggabungan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan dalam satu badan Daerah
kabupaten/kota didasarkan pada perumpunan fungsi penunjang Urusan
Pemerintahan dengan kriteria:
1. kedekatan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan; dan/atau
2. keterkaitan antarpenyelenggaraan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan.
3. Perumpunan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan meliputi:
1. Kepegawaian serta pendidikan dan pelatihan; dan
2. perencanaan serta penelitian dan pengembangan.
4. Penggabungan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan dilakukan paling banyak 2
(dua) fungsi penunjang Urusan Pemerintahan.
5. Tipelogi badan Daerah kabupaten/kota hasil penggabungan fungsi penunjang
Urusan Pemerintahan sesuai dengan jumlah bidang hasil penggabungan.
6. Nomenklatur badan Daerah kabupaten/kota yang mendapatkan tambahan bidang
dari fungsi penunjang Urusan Pemerintahan merupakan nomenklatur badan
Daerah kabupaten/kota dari fungsi penunjang Urusan Pemerintahan yang berdiri
sendiri sebelum penggabungan.
PENYETARAAN

Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, terhadap jabatan


PNS dilakukan penyetaraan:
• jabatan eselon Ia kepala LPNK setara dengan JPT utama;
• jabatan eselon Ia dan eselon Ib setara dengan JPT madya;
• jabatan eselon II setara dengan JPT pratama;
• jabatan eselon III setara dengan jabatan administrator;
• jabatan eselon IV setara dengan jabatan pengawas; dan
• jabatan eselon V dan fungsional umum setara dengan
jabatan pelaksana,
sampai dengan berlakunya peraturan pelaksanaan mengenai
Jabatan ASN dalam Undang Undang ini.

34
TERIMA KASIH