Anda di halaman 1dari 58

Pendahuluan

Hendrawan
hend@stei.itb.ac.id

ET3083/ET5283 Komunikasi Data Sem I 2009/2010


Blok Dasar Pembangun Jaringan
• Suatu jaringan, secara prinsip, terdiri dari node dan link (yg
menghubungkan node-node)
• Node: PC, server, special purpose hardware
– Terminologi Internet
• hosts, end-systems: PC dan server menjalankan aplikasi jaringan
• routers (switches): menyimpan dan meneruskan paket melalui
jaringan

• Link: optical fiber, coaxial cable, twisted pair copper, radio,


dll.
– Point-to-point
• Host dihubungkan secara langsung
– Multiple access (LAN, dll)
• Host menggunakan bersama (share)
media transmisi
Karakteristik Jaringan Komputer

• Secara tradisional jaringan dioptimasikan untuk


layanan spesifik
– Jaringan telepon
– television/radio broadcast network
– user terminals special purpose devices

• Jaringan komputer modern lebih umum:


– Terminal adalah general purpose PCs/workstations
– Jaringan mampu membawa segala jenis data
– Mendukung macam-macam aplikasi berbeda
Karakteristik Jaringan Komputer

• Isue:
– Bagaimana jaringan komputer menyediakan konektivitas
– Bagaimana penggunaan bersama (sharing) sumberdaya
secara efisien dicapai
– Bagaimana aplikasi “berbicara” satu dg yg lain
– Bagaimana kinerja jaringan mempengaruhi sistem

 Persyaratan direfleksikan dlm arsitektur jaringan


Membangun Jaringan Yg Lebih Besar
• Jar yg besar tdk dp dibangun hanya berbasis konektivitas point-
to-point
Menggunakan router (switch) utk interkoneksi host satu dg yg lain

Node dikoneksikan bersama melalui Jar. dikoneksikan via gateway router


switch membentuk jaringan membentuk entitas yg lebih besar
Network Edge vs Core Network pada Internet

• user dihubungkan ke core network • Tdk ada user dihubungkan


lewat access network langsung ke core network
• Link speed relatif rendah: • Link speed tinggi:
Teknologi akses: dial up (modem over SDH/SONET over fiber
twisted pair), XDSL, Cable modem • Fungsionalitas sederhana
• Mencakup fungsionalitas billing, (forward packet)
managemen traffic utk tiap access • Topologi mesh
• Topologi tree
Internet
• Terdiri dari jutaan host (end
system) dihubungkan oleh link dan
router
• Host mempertukarkan message
dg menggunakan protocol, yg
menawarkan, mis.
– Transfer handal
– Integritas urutan paket
• Router meneruskan data
– Berdasarkan service best effort
– Tdk ada jaminan thd kehilangan
atau ketepatan waktu
• “Networks of networks”
– Loosely hierarchical
– Akses Internet disediakan oleh
ISP (Internet Service Provider)
Multiplexing
• Multiplexing
– Mekanisme untuk mencapai resource sharing, yaitu, sharing link
bandwidth
• Problem:
– Bagaimana link bandwidth digunakan bersama (shared) diantara n
pengirim berbeda
• Pendekatan pertama: partisi bandwidth secara tegas utk semua
– FDM dan TDM
Frequency Division Multiplexing (FDM)

• FDM
– Teknik multiplexing paling tua
– digunakan mis. pada sistem circuit switched analog
– Porsi tetap (frequency band) dari link bandwidth dialokasikan
utk tiap kanal
• FDM multiplexer adalah lossless
– input: n 1-kanal koneksi physical
– output: 1 n-kanal koneksi physical
Time Division Multiplexing (TDM)
• TDM
– Digunakan pd sistem circuit switched digital dan sistem transmisi
digital
– Informasi dibawa pada link ditransfer dlm frame dg panjang tetap
– Porsi tetap (time slot) utk tiap frame dialokasikan utk tiap kanal
• TDM multiplexer adalah lossless
– input: n 1-kanal koneksi physical
– output: 1 n-kanal koneksi physical
Statistical Multiplexing
• FDM dan TDM tidak efisien
– Jika pengirim tdk punya data utk transmit, bandwidth yg dialokasikan
utk pengirim tdk dp digunakan oleh user lain  statistical multiplexing
• Pada statistical multiplexing
– Unit transmisi dasar disebut paket
– Physical link digunakan bersama (shared) secara TDM tetapi secara on-
demand (per tiap paket)
– Paket yg tiba bersamaan di-buffer (berebut)
– Sbg hasil, paket-paket dari sejumlah (multiple) pengirim saling
disisipkan pada output
• Ruang buffer terbatas, krnnya buffer overflow dimungkinkan (congestion)
Statistical Multiplexing
• Statistical multiplexer (biasanya) lossy
– input: n koneksi physical dg link speeds Ri (i = 1,…,n)
– output: 1 koneksi physical dg link speed C  R1+ ... + Rn
• Namun, probabilitas loss dp dikurangi dg memperbesar buffer
– Dimungkinkan utk melakukan dimensioning ukuran buffer shg
memberikan probabilita loss yg diinginkan dicapai (dibawah bbrp
asumsi mengenai trafik)
• Statistical multiplexer dan QoS (Quality of Service)
– Menentukan paket mana utk transmit dari buffer disebut scheduling
• FIFO: paket-paket dilayani berdasarkan urutan kedatangan
• Round robin: tiap koneksi (class) mempunyai antrian sendiri dan dilayani
secara siklis sesuai bobot tertentu
• Masih banyak yg lainnya…
– Dengan menggunakan mekanisme scheduling berbeda, bbrp koneksi
dp diberikan perlakukan prioritas (mis., weighted round-robin) 
QoS enabled networks
Klasifikasi Jaringan

Communication
Network

Switched Broadcast
Communication Communication
Network Network

Circuit-Switched Packet-Switched
Communication Communication
Network Network

Datagram Virtual Circuit


Network Network
Klasifikasi Jaringan

• Jaringan telekomunikasi dapat diklasifikasikan berdasarkan


bagaimana sinyal ditransmisikan dan diterima
– broadcast
– Switched

• Jaringan broadcast
– sinyal yg ditransmisikan oleh satu peralatan end-user secara
otomatis didengar oleh semua peralatan end-user lainnya
• Switched networks
– sinyal harus dirutekan melalui node jaringan atau di-switch ke
rute yg diinginkan
• Hybrid
– Tipe jaringan telekomunikasi ini merupakan gabungan dari
broadcast dan switched network
– misalnya: segment Ethernet (broadcast) dihubungkan dengan
Router
Broadcast vs Switched Networks
Klasifikasi Jaringan

• Jaringan juga dapat diklasifikasikan berdasarkan cakupan


geografisnya:

– Local Area Network (LAN) :


• dibatasi beberapa Km, kantor atau kampus
– Metropolitan Area Network (MAN)
• puluhan Km, kota
– Wide Area Network (WAN)
• ratusan - ribuan Km
– Terrestrial radio networks
– Wireless communications
– Satellite networks - internasional
Klasifikasi Jaringan Lainnya

• Centralized vs Distributed (control regime)

• Publik vs privat (kepemilikan)

• Voice, data dan video (tipe informasi)

• Analog, digital, radio, satelit (teknik transmisi)

• Mesh (mata jala), bus, ring, star, tree (topologi)

• Broadband atau narrowband (data rate dan kecepatan


respon)

• Single media (mis. Telepon) atau multimedia (mis. Broadband


ISDN)
Circuit Switching
• Circuit fisik dibangun diantara titik-titik
ujung yang berkomunikasi (lintasan/resources
‘dedicated’ selama durasi percakapan)
• Setelah dibangun sinyal data bidirectional
dapat mengalir secara kontinyu
• Transfer informasi sbg aliran kontinyu
(continuous stream)
• Kualitas lintasan ‘dedicated’ dijamin selama
durasi panggilan
• Tiga phase dalam life-cycle suatu koneksi:
– pembangunan circuit
– transfer data
– penutupan circuit
• Sebelum transfer informasi
– Delay (utk set up koneksi)  relatif besar
• Selama transfer informasi
– Tdk ada overhead
– Tdk ada delay tambahan (extra)
• Jika circuit tidak tersedia: “sinyal sibuk”
• Contoh: Jaringan telepon, ISDN
Circuit Switching
Jaringan Telepon

Tiap panggilan telp di alokasikan


64kb/s. Shg, sal trunk 2.5Gb/s dp
memuat sekitar 39.000 panggilan

Tujuan
Sumber
“Callee”
“Caller”

Central
Office Central
“C.O.” Office
“C.O.”

Trunk
Exchange
Circuit Switching

 Tiap link memp


sejumlah “circuits”
 Kadang “circuit” disebut
sbg kanal atau
saluran/line

 Suatu koneksi end-to-


end menggunakan satu
“circuit” pd tiap link

20
Circuit Switching: Resources/Circuits
(Frequency, Time dan lainnya)
 Membagi resource
link ke “circuits”
 frequency
division
multiplexing
(FDM)
 time division
multiplexing
(TDM)
 Lainnya: code
division
multiplexing
(CDM),
color/lambda
division (WDM)
21
Circuit Switching:
Multiplexing/Demultiplexing TDM

• Waktu dibagi dalam frame, dan frame dibagi dalam slot


• Posisi slot relatif di dalam frame menentukan kepercakapan
mana data tersebut dimiliki
• Perlu sinkronisasi antara pengirim dan penerima
• Jika percakapan tidak digunakan kapasitas circuit lost
Node Circuit Switching

• Node (switch) pada circuit switching


Timing Diagram dari Circuit Switching

Host A Host B
Node 1 Node 2

processing delay at Node 1


Delay propagation
dari Node A ke 1
circuit
establishment
Delay propagasi
dari B ke A

data
transmission
DATA

circuit
termination
24
Kalkulasi Delay pada Circuit Switched Networks

 Delay propagasi: delay untuk bit


pertama pergi dari sumber ke tujuan d/s

DATA
 Delay transmisi: waktu untuk
L/R

“memompa” ke link pada laju yang


tertentu

Delay propagasi: Delay transmisi:


 d = panjang link fisik  R = reserved bandwidth
 s = kec. Propagasi pd (bps)
medium (~2x105 km/sec)  L = panjang data (bits)
 Delay propagasi = d/s  Waktu utk menirim
paket ke link = L/R 25
Circuit Switching: Timing-2

Asumsi
- Jumlah Hop = M
- Delay pemrosesan per Hop = P
- Delay propagasi link = L
- Kecepatan transmisi = W bit/det
- Ukuran paket = B bit

TOTAL DELAY = total propagasi +


total transmisi + total prosesing
TOTAL DELAY = 4ML + B/W + (M-1)P
Packet Switching
A R2 B
Sumber R1 R3 Tujuan
R4

• Data dikirim dalam format deretan bit disebut paket


• Paket mempunyai struktur berikut:

– Header dan trailer memuat informasi kontrol (mis. Address tujuan,


check sum)

• Tiap paket diteruskan melalui jaringan dari node ke node


sepanjang lintasan (routing)
• Pada tiap node paket diterima, disimpan sementara dan diteruskan
ke node berikutnya (store-and-forward network)
• Kapasitas tidak dialokasikan utk paket-paket
Packet Switching : Node Switching
Packet Switching
Model Router Sederhana

“4” Link 1, ingress Choose Link 1, egress


Egress
Link 2
Link 2, ingress Choose Link 2, egress
Egress
Link 1
R1“4” Link 3
Link 3, ingress Choose Link 3, egress
Link 4 Egress

Link 4, ingress Choose Link 4, egress


Egress
Packet Switching:
Multiplexing/Demultiplexing

• Data dari sembarang percakapan dapat ditransmisikan kapan


saja
• Satu percakapan dapat menggunakan keseluruhan kapasitas
link (jika hanya sendiri)
• Bagaimana utk memberi tahu mereka saling terpisah?
– Menggunakan meta data (header) yg menunjukan data (ID,
sumber, tujuan, dll)
Packet Switching (Statistical
Multiplexing)
Paket untuk
satu output
Panjang Dropped packets
Antrian
1 Data Hdr X(t)
R X(t)
2 Data Hdr R B
Link rate < NR
R
Packet
N Data Hdr buffer Waktu

• Karena buffer “menyerap” temporer burst, maka link output


tidak perlu beroperasi pada rate NxR
• Tetapi buffer mempunyai kapasitas terbatas B, maka
kehilangan paket mungkin terjadi
Statistical Multiplexing

rate A x
A x

waktu

rate B x
B x

waktu
Statistical Multiplexing Gain
A+B
rate
2x
C < 2x A
C

waktu

STATISTICAL MULTIPLEXING GAIN = 2x/C

• Catatan: Gain dapat ditentukan untuk probabilitas loss


tertentu. Dalam contoh in x dan C dipilih sehingga tidak ada
loss
Packet Switching
A B
R2
Source R1 Destination
R3

R4

Host A TRANSP1

“Store-and-Forward” at each Router


TRANSP2
R1
PROP1

R2
TRANSP3
PROP2
TRANSP4
R3
PROP3

Host B
PROP4

Minimum end to end latency   (TRANSPi  PROPi )


i
PROP : delay propagasi
TRANSP : waktu transmisi
Delay pada Packet Switching
Delay Transmisi: Delay Propagasi:
• R= bandwidth link (bps) • d = panjang link fisik
• L= panjang paket (bit) • s = kec. propagasi pd medium
• waktu utk kirim bit ke link = (~2x108 m/sec)
L/R • delay propagasi = d/s

Catatan: s dan R kuantitas yg


sangat berbeda
transmission
A propagation

B
nodal
processing queueing
Packet Switching
Mengapa tidak kirim keseluruhan message dlm satu paket?

M/R M/R

Host A Host A
R1 R1
R2 R2

R3 R3

Host B Host B
Latency   ( PROPi  M / Ri ) Latency  M / Rmin   PROPi
i i

Memecah message kedlm paket-paket memungkinkan transmisi


parallel melalui semua link, mengurangi end to end latency. Juga
mencegah suatu link diduduki/“hogged” terlalu lam oleh satu
message.
Packet Switching
Delay Antrian / Queueing Delay

Krn egress link tidak selalu bebas jika suatu paket tiba, maka mungkin
diantrikan dlm suatu buffer. Jika network sibuk, pakket-paket mungkin
harus menunggu cukup lama

Host A TRANSP1

Q2

R1
TRANSP2
Bagaimana kita
PROP1
TRANSP3 menentukan
R2
PROP2 queueing delay?
TRANSP4
R3
PROP3

Host B
PROP4

Actual end to end latency   (TRANSPi  PROPi  Qi )


i
Antrian dan Delay Antrian

• Utk memahami performansi packet switched


network, kita dp bayangkan sbg satu serie antrian
diinterkoneksikan dg link-link
• Utk laju dan panjang link tertentu, satu-satunya
variable adalah delay antrian
Antrian dan Delay Antrian

Cross traffic
menyebabkan kongesti dan
delay antrian variabel
Antrian pada suatu Router

Model of FIFO router queue

A(t), l D(t)
m
Q(t)
A(t ) : The arrival process. The number of arrivals in interval [0, t ].
l : The average rate of new arrivals in packets/second.
D(t ) : The departure process. The number of departures in interval [0, t ].
1 : The average time to service each packet.
m
Q(t ): The number of packets in the queue at time t .
Suatu Antrian M/M/1
Model of FIFO router queue

A(t), l D(t)
m

• Jika A(t) adalah suatu Poisson process dg laju l, dan waktu


utk melayani tiap paket terdistribusi exponential dg laju µ,
maka:

1 l
Average delay, d  ; and so from Little's Result: L  l d 
m l m l
Packet Switching: Formula Little

L = l.d

Dimana:
• L = jumlah pelanggan rata-rata dalam antrian
• l = rate kedatangan pelanggan, dalam pelanggan/det.
• d = waktu rata-rata satu pelanggan menunggu dalam antrian
Packet Switching: Delay Antrian

• R= bandwidth link (bps)


• L= panjangpaket (bits)
• a= rata-rata rate kedatangan
paket (paket/sec)
traffic intensity = La/R

• La/R ~ 0: rata-rata delay antrian kecil


• La/R -> 1: delays menjadi besar
• La/R > 1: lebih banyak pekerjaan yg datang drpd yg dp
dilayani, delay rata-rata tak berhingga
Packet Switching Datagram
(Connectionless)
• Connectionless:
– Tdk ada set-up koneksi
– Tdk ada reservasi resource
• Transfer Informasi dg
menggunakan paket diskrit
– Panjang bervariasi
– Address global (dari tujuan)
• Sebelum transfer informasi
– Tdk ada delays
• Selama transfer informasi
– Overhead (byte header)
– Delay pemrosesan paket
– Delay antrian (karena paket
berkompetisi memperebutkan
shared resources)
– routers “store-and-forward”
Datagram Packet Switching: Timing-1
Datagram Packet Switching : Timing-2

Asumsi
- Jumlah Hop = M
- Delay pemrosesan per Hop = P
- Delay propagasi link = L
- Delay transmisi paket = T
- Ukuran message = N paket

TOTAL DELAY = total propagasi + total


transmisi + total store-and-forward + total
prosesing
TOTAL DELAY = ML + NT + (M-1)T + (M-1)P
Datagram Packet Switching: Routing
Virtual Circuit Packet Switching

• Hybrid dari circuit switching dan packet switching

• Data message ditransmisikan dalam bentuk paket-paket


dengan ukuran maksimum tertentu

• Semua paket-paket dari suatu aliran paket melalui lintasan


(yg sudah dibangun) yg sama

• Jaminan dalam urutan pengiriman paket

• Paket-paket dari VC yang berbeda dapat saling disisipkan

• Contoh: X.25, Frame Relay, ATM


Virtual Circuit Packet Switching: Phase

• Komunikasi dg VC packet switching berlangsung dalam 3


phase (bandingkan persamaan dan perbedaannya dg circuit
switching):
– pembangunan VC
– transfer data
– penutupan VC

• Header paket tidak perlu memuat informasi penuh dari


alamat tujuan
Virtual Circuit Packet Switching:
Timing-1
Virtual Circuit Packet Switching :
Timing-2
Asumsi
- Jumlah Hop = M
- Delay pemrosesan per Hop = P
- Delay propagasi link = L
- Delay transmisi paket = T
- Ukuran message = N paket

TOTAL DELAY = total propagasi


+ total transmisi + total store-
and-forward + total prosesing
TOTAL DELAY = 4ML + NT +
(M-1)T + 4(M-1)P
Virtual Circuit Packet Switching :
Routing
Virtual Circuit Packet Switching :
Routing

5 9 7 8

link .. vci .. link .. vci .. link .. vci .. link .. vci .. link .. vci .. link .. vci ..
link .. vci .. link .. vci .. link .. vci .. link .. vci .. link .. vci .. link .. vci ..
link .. vci .. link .. vci .. link 3 vci 9 link 5 vci 7 link .. vci .. link .. vci ..
link 1 vci 5 link 2 vci 9 link .. vci .. link .. vci .. link 1 vci 7 link 3 vci 8
link .. vci .. link .. vci .. link .. vci .. link .. vci .. link .. vci .. link .. vci ..
Circuit Switching vs. Packet Switching
circuit switching packet switching

resource partitioned not partitioned


when using use a single partition use whole link bandwidth
resource bandwidth
reservation/set need reservation no reservation
up (setup delay)
resource busy signal congestion (long delay
contention (session loss) and packet losses)
header no header per packet header
processing fast per packet processing

54
Circuit Switching vs Packet Switching
• Keuntungan paling penting dari packet switching terhadap
circuit switching: dp mengeksploit statistical multiplexing:
– penggunaan bandwidth yg efisien
– secara statistik: ratio antara peak dan average rate adalah 3:1
utk audio dan 15:1 utk trafik data

• Namun packet switching perlu menangani kongesti

• Router lebih kompleks

• Lebih sulit utk mendapatkan service jaringan yg baik (mis.


Delay dan jaminan bandwidth)

• Dalam praktek kombinasi:


– IP over SONET, IP over Frame Relay
Ukuran Performansi : Bandwidth (1)

• Bandwidth = throughput
– Jumlah bit yg dp ditransmisikan melalui jaringan dlm
suatu waktu yg diberikan
– unit: bits per second (bps), mis. 10 Mbps (MB =
megabytes = 8 Mb)
• Link bandwidth dan end-to-end bandwidth
– bandwidth dari physical link memp harga yg deterministik
mis. 155 Mbps
– link bandwidths terus menerus meningkat: link
bandwidths pd backbone
• 1980-an: 2 Mbps, 1990-an: 155 Mbps, 2000: 1 Gbps
– Bandwidth end-to-end yg diterima aplikasi tergantung pd
• Trafik lain pd jaringan (congestion)
• Batasan aplikasi (CPU speed dari komputer)
• protocol overhead
Ukuran Performansi : Latency (2)
• Latency = delay
– Berapa lama dibutuhkan message utk travel dari satu ujung (end)
ke end lainnya dari jaringan
– Diukur dlm unit waktu, mis., latency melintasi US adalah 24 ms
– RTT (round trip time): waktu yg diperlukan suatu message utk
mencapai tujuannya dan kembali ke pengirim
• Komponen: delay propagasi, delay transmisi, delay antrian
(queuing)

– Kecepatan cahaya: 2.3 x 108 m/s pd kabel, 2.0 x 108 m/s pd fiber
• Aplikasi dp dibatasi oleh bandwidth atau latency
– Telnet sessions dibatasi latency tetapi transfer FTP yg besar
dibatasi bw
Delay x Bandwidth Product
• Perkalian RTT dan bandwidth menentukan
– Jumlah informasi yg ditransmisikan user sebelum feed-back dari
tujuan dp diterima
• Pd broadband wide-area-networks (WAN) hasil perkalian ini dp
sangat besar
– Pengirim dp membuat overload penerima
– Jika pengirim tdk “mengisi penuh pipa”, utilisasi jaringan akan
rendah
• Contoh:
– Misalkan
• jarak 1500 km
• Laju (rate) transmisi C = 100 Mbps
– Propagasi delay dua arah adalah
• 2*1500/300,000 s = 0.01 s
– Maka, hasil perkalian RTT dan C adalah
• 0.01*100,000,000 bits
= 1,000,000 bits = 1 Mbit