Anda di halaman 1dari 24

PEMERINTAH KOTA TARAKAN

DINAS PERHUBUNGAN

Tarakan, 19 Juli 2018


PETA PROVINSI KALIMANTAN UTARA

Kalimantan
Utara

Kalimantan
Timur
GAMBARAN UMUM KOTA TARAKAN

LUAS WILAYAH : + 657,33 Km2

Jumlah Penduduk + 253.000 jiwa


Kepadatan Penduduk + 1008 /Km2

 Utara Berbatasan dengan Kec. Tanah


Lia Kab. Tanah Tidung dan Pesisir
Pantai Pulau Bunyu Kab. Bulungan.
 Timur Berbatasan dengan Laut
Sulawesi
 Selatan Berbatasan dengan Laut
Sulawesi
 Barat Berbatasan dengan Selat
Balingau
KOTA TARAKAN SEBAGAI SIMPUL UTAMA

GAMUM Malaysia 1. Tarakan – P.Bunyu


2. Tarakan – Nunukan
3. Tarakan – Tawau
4. Tarakan – Sei. Nyamuk
5. Tarakan – Tana Tidung
Tawau
6. Tarakan – Malinau
7. Tarakan – Bulungan
4 8. Tarakan – Kaltim
3
9. Tarakan – Sulawesi
10. Tarakan – P. Jawa
2

5 1
6
Tarakan
9

7 10
8

4
DASAR HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
3. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2000 tentang Kepelautan;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan
diperairan;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2010 tentang Perlindungan
Lingkungan Maritim
9. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahum 2012 tentang
Penyelenggaraan Angkutan Penyeberangan
10. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah
11. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 139 Tahun 2016 tentang Pedoman
Nomenklatur, Tugas dan Fungsi Organisasi Perangkat Daerah yang
5

menyelenggarakan Urusan Pemeintahan Bidang Perhubungan.


MATRIKS PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN URUSAN
PEMERINTAHAN BIDANG PERHUBUNGAN SUB URUSAN PELAYARAN
BERDASARKAN UU 23/2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
Matriks Pembagian Urusan Pemerintahan BIdang Pelayaran.docx

4
KEDUDUKAN, TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN
 Kedudukan :
1.Dinas merupakan unsur pelaksana urusan pemerintahan di bidang
perhubungan yang menjadi kewenangan daerah.
2.Dinas sebagaimana dimaksud dipimpin oleh Kepala Dinas yang
berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada walikota
melalui Sekretaris Daerah
 Tugas :

Membantu Walikota melaksanakan urusan pemerintah


di bidang Perhubungan yang menjadi kewenangan
Daerah dan tugas pembantuan yang diberikan kepada
daerah. 7
 Fungsi :
1.Perumusan kebijakan dibidang lalu lintas dan
angkutan, bidang prasarana dan keselamatan.
2.Pelaksanaan kebijakan dibidang lalu lintas dan
angkutan, bidang prasarana dan keselamatan.
3.Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan dibidang
lalu lintas dan angkutan, bidang prasarana dan
keselamatan.
4.Pelaksanaan administrasi Dinas; dan
5.Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh
Walikota terkait dengan tugas dan fungsinya
8
STRUKTUR ORGANISASI DINAS PERHUBUNGAN KOTA TARAKAN
Berdasarkan PM Nomor 139 Tahun 2016 kabupaten/kota yang bercirikan kepulauan

KEPALA DINAS

SEKRETARIAT

SUB BAGIAN PERENCANAAN SUBBAGIAN UMUM DAN


DAN PROGRAM KEUANGAN KEPEGAWAIAN

BIDANG BIDANG
LALU LINTAS DAN ANGKUTAN PRASARANA DAN KESELAMATAN

SEKSI
SEKSI
LALU LINTAS
PRASARANA

SEKSI
ANGKUTAN SEKSI
KESELAMATAN
SEKSI
PENGEMBANGAN DAN DATA
DIFINISI KONSEPSIONAL
Perhubungan adalah upaya memperpendek waktu
untuk menempuh jarak dari satu daerah ke daerah
lainnya.
Keselamatan dan Keamanan Pelayaran adalah“
Suatu Keadaan Terpenuhinya Persyaratan
Keselamatan dan Keamanan yang Menyangkut
Angkutan di Perairan, Kepelabuhanan dan
Lingkungan Maritim”

10
TERPENUHINYA PERSYARATAN ANGKUTAN DI PERAIRAN
KESELAMATAN DAN KEAMANAN
1. Kelaiklautan Kapal
2. Kenavigasian

PERLINDUNGAN LINGKUNGAN
MARITIM
Persyaratan Pencegahan dan Penanggulangan
Pencemaran dari Kegiatan : KEPELABUHANAN
1. Prosedur Pengamanan Fasilitas
1. Kepelabuhanan
Pelabuhan
2. Pengoperasian Kapal 2. Sarana dan Prasarana Pengamanan
3. Pengangkutan Limbah, B3 Pelabuhan
3. Sistem Komunikasi
4. Pembuangan Limbah
4. Personel Pengamanan
5. Penutuhan Kapal

Penyelenggaraan keselamaatan dan keamanan pelayaran dilaksankan oleh Pemerintah

11 11
Keselamatan dan Keamanan Angkutan Perairan
yaitu kondisi terpenuhinya perayaratan :

Kelaiklautan Kapal Kenavigasian

1. Keselamatan kapal 1. Sarana Bantu Navigasi Pelayaran


2. Pencegahan pencemaran dari kapal 2. Telekomunikasi Pelayaran
3. Pengawakan kapal 3. Hidrografi dan Meteorologi
4. Garis muat kapal dan pemuatan 4. Alur dan pelintasan
5. Kesejahteraan awak kapal dan 5. Pengerukan dan reklamasi
kesejahteraan penumpang 6. Pemanduan
6. Status hukum kapal 7. Penanganan kerangka kapal; dan
7. Manajemen keselamatan dan 8. Salvage dan pekerjaan bawah air
pencegahan pencemaran dari kapal
8. Manajemen keamanan kapal

6/9/2019 12
SDM /
PENGAWAKAN KAPAL
ASPEK KESELAMATAN
ANGKUTAN DI PERAIRAN SARANA /
YANG MENJADI PERHATIAN KESELAMATAN KAPALNYA

PROSEDUR
SUMBER DAYA MANUSIA / PENGAWAKAN

Setiap kapal wajib diawaki oleh Awak Kapal yang memenuhi persyaratan
kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan ketentuan nasional dan
internasional. Pasal 135 UU No. 17 Tahun 2008 ttg Pelayaran

Pengawakan kapal di dasarkan pada :


1. Ukuran gross tonnage (GT)
2. Total tenaga penggerak
3. Daerah Pelayaran

14
SARANA / KESELAMATAN KAPAL

KAPAL MEMENUHI
PERSYARATAN:
1. MATERIAL
2. KONSTRUKSI &
KESELAMATAN BANGUNAN DIBUKTIKAN
DENGAN SERTIFIKAT
KAPAL 3. PERMESINAN &
PERLISTRIKAN KESELAMATAN

4. STABILITAS & GARIS


MUAT
5. TATA SUSUNAN (LAY OUT)
6. PERLENGKAPAN & RADIO
ELEKTRONIKA
 Kapal yang dinyatakan memenuhi persyaratan keselamatan
kapal, diberi Sertifikat Keselamatan oleh Menteri
Perhubungan; Psl 126 UU No 17/2008 ttg Pelayaran

 Pemberian Sertifikat, dilakukan setelah melalui pemeriksaan


dan pengujian, meliputi: material, konstruksi, bangunan;
permesinan dan pelistrikan, stabilitas, tata susunan serta
perlengkapan (alat penolong dan radio) serta elektronika
kapal;
 Pemeriksaan dan pengujian dilaksanakan oleh Pejabat
Pemerintah yang diberi wewenang dan memiliki kompetensi;
 Pejabat pemerintah adalah pejabat pemeriksa keselamatan
kapal yang mempunyai kualifikasi dan keahlian dibidang
keselamatan yang diangkat oleh Menteri

16
PROSEDUR
Untuk membantu sistem yang mempu menanggulangi
secara cepat dan tetap setiap keadaan bahaya yang
menyangkut kapal, awak kapal, perlindungan terhadap
lingkungan, mencegah meluasnya kondisi berbahaya
serta untuk membantu Nakhoda mengatasi situasi
darurat tersebut dengan efektif.

17
PROSEDUR

Sandar dan Lepas Sandar Kapal Tanggap darurat Penangan Muatan


Di Pelabuhan dikapal

Kebakaran Tubrukan Orang jatuh kelaut Tenggelam Kandas

18
PENEGAKAN HUKUM
DI BIDANG KELAIKLAUTAN KAPAL
NO PERSYARATAN KETENTUAN PIDANA

1 NAKHODA DILARANG BERLAYAR APABILA Pasal.302


KAPALNYA TIDAK LAIKLAUT Nahkoda yang melayarkan kapalnya sedangkan yang
Ref Pasal 117 ayat (2) UU No. 17/2008 bersangkutan mengetahui bahwa kapal tersebut tidak laiklaut di
Pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling
banyak Rp. 400.000.000 (empat ratus juta rupiah)
2 KEWAJIBAN KAPAL YANG BEROPERASI Pasal.303
MEMENUHI PERSYARATAN KESELAMATAN Setiap orang yang mengoperasikan kapal tanpa memenuhi
Ref Pasal 122 UU No. 17/ 2008 persyaratan keselamatan dan keamanan pelayaran serta
perlindungan lingkungan maritim dipidana penjara paling lama
2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga
ratus juta rupiah)
3 KEWAJIBAN NAHKODA MEMBANTU Pasal 304
PELAKSANAAN PEMERIKSAAAN DAN Setiap orang yang tidak membantu pelaksanaan pemeriksaaan
PENGUJIAN KESELAMATAN KAPAL dan pengujian dipidana penjara paling lama 6 (enam) bulan
Ref Pasal 128 ayat (2) UU 17/2008 atau denda paling banyak Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah)

4 KEWAJIBAN MEMELIHARA KESELAMATAN KAPAL Pasal 305


Ref Pasal 130 ayat (1) UU No. 17/2008 Setiap orang yang tidak memelihara kapalnya sehingga tidak
memenuhi sesuai persyaratan keselamatan kapal dipidana
penjara paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak
Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah)
5 KAPAL WAJIB DILENGKAPI DENGAN PERALATAN Pasal 306 dan 307
NAVIGASI Setiap orang yang mengoperasikan kapal yang tidak memenuhi
Ref Pasal 131 ayat (1) & (2) UU No.17/2008 persyaratan perlengkapan navigasi dan/atau navigasi
elektronika kapal dipidana penajara paling lama 2 (dua) tahun
dan denda paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta
rupiah)
19
PENEGAKAN HUKUM
DI BIDANG KELAIKLAUTAN KAPAL
No PENGATURAN KETENTUAN PIDANA

6 KAPAL WAJIB DILENGKAPI DENGAN Pasal 308


PERALATAN METEOROLOGI Setiap orang yang mengoperasikan kapal tidak dilengkapi dengan
Ref Pasal 132 ayat (1) UU No.17/2008 peralatan meteorologi dipidana penjara paling lama 2 (dua) tahun
dan denda paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah)
7 AWAK KAPAL WAJIB MEMENUHI Pasal.310
PERSYARATAN KOMPETENSI Setiap orang yang mempekerjakan Awak Kapal tanpa memenuhi
(Ref Pasal 135 UU 17/2008) persyaratan kualifikasi dan kompetensi dipidana penjara paling lama
2(dua) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus
juta rupiah)
8 NAKHODA WAJIB MENDAPATKAN Pasal.311
KELELUASAAN MENGOPERASIKAN KAPAL Setiap orang yang menghalang-halangi keleluasaan Nakhoda untuk
DARI PEMILIK KAPAL melaksanakan kewajibannya sesuai dengan ketentuan peraturan
(Ref Pasal 128 ayat (4) UU 17/ 2008 perundang-undangan dipidana penjara paling lama 2 (dua) tahun
dan denda paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah)
9 SESEORANG YANG BEKERJA DI KAPAL Pasal 312
WAJIB DI SIJIL Setiap Orang yang mempekerjakan seseorang di kapal dalam
(Ref Pasal 145 UU 17/2008) jabatan apa pun tanpa disijil dan tanpa memiliki kompetensi dan
keterampilan serta dokumen pelaut yang dipersyaratkan dipidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp.
300.000.000 (tiga ratus juta rupiah)

20
PENEGAKAN HUKUM
DI BIDANG KELAIKLAUTAN KAPAL

No PENGATURAN KETENTUAN PIDANA

10 KAPAL WAJIB DIPASANG TANDA Pasal 314


PENDAFTARAN Setiap orang yang tidak memasang tanda pendaftaran pada kapal
(Ref Pasal 158 ayat (5) UU 17/2008) yang telah terdaftar dipidana penjara paling lama 6 (enam) bulan
atau denda paling banyak Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah)
11 NAKHODA WAJIB BERLAYAR DENGAN SPB Pasal.323
(Ref Pasal 219 ayat (1) UU 17/ 2008 Nakhoda yang berlayar tanpa memiliki SPB yang dikeluarkan oelh
Syahbandar dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda
paling banyak Rp. 600.000.000 ( enam ratus juta rupiah)

21
PENEGAKAN HUKUM
PERTOLONGAN DAN PELAPORAN KECELAKAAN KAPAL

1 KEWAJIBAN MELAPORKAN KECELAKAAN KAPAL Pasal.330


Ref Pasal 244 ayat (3), (4); “Nakhoda yang mengetahui adanya bahaya dan kecelakaan di kapalnya,
Pasal 247 , Pasal 248 kapal lain, atau setiap orang yang ditemukan dalam keadaan bahaya,
UU Pelayaran No.17/2008 yang tidak melakukan tindakan pencegahan dan menyebarluaskan
berita mengenai hal tersebut kepada pihak lain, tidak melaporkan
kepada Syahbandar atau Pejabat Perwakilan RI terdekat dan pejabat
pemerintah negara setempat yang berwenang apabila bahaya dan
kecelakaan terjadi di luar wilayah perairan Indonesia di Pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun” atau denda paling banyak Rp.400.000.000 (empat
ratus juta rupiah)

2 KEWAJIBAN MEMBERIKAN PERTOLONGAN DAN Pasal 331


MELAPORKAN KECELAKAAN KEPADA NAKHODA “Setiap orang yang berada di atas kapal yang mengetahui terjadi
DAN ABK kecelakaan dalam batas kemampuannya tidak memberikan pertolongan
Ref Pasal 246 dan melaporkan kecelakaan kepada Nakhoda dan/atau Anak Buah
UU Pelayaran No. 17/2008 Kapal, di Pidana penjara paling lama 1(satu) tahun” atau denda paling
banyak Rp.100.000.000 (seratus juta rupiah)

3 KEWAJIBAN KAPAL ATAU PESAWAT UDARA WAJIB Pasal 332


MEMBANTU SAR Setiap orang yang mengoperasikan kapal atau pesawat udara yang tidak
Ref Pasal 258 ayat (2) membantu usaha pencarian dan pertolongan terhadap setiap orang
UU Pelayaran No. 17 /2008 yang mengalami musibah dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun
dan denda paling banyak Rp.200.000.000 (dua ratus juta rupiah)

22
RADAR TARAKAN, MINGGU 15 JULI 2018

23
TERIMA KASIH