Anda di halaman 1dari 57

PANCASILA DALAM KONTEKS

KETATANEGARAAN RI
POSISI PANCASILA DALAM KETATANEGARAAN RI
 Pembahasan Sidang BPUPKI dan PPKI,
Pancasila sejak kelahirannya dimaksudkan
sebagai Philosofische Groundslag negara atau
Dasar Filsafat Negara RI.

 Negara dan ketatanegaraan Indonesia harus


menempatkan Pancasila sebagai asas
kerohaniannya. Artinya, jiwa, semangat, nilai-
nilai Pancasila harus menjadi inti-isi yang
menjiwai dan meliputi negara dan
ketatanegaraan
ETIMOLOGI KONSTITUSI
 Dalam bahasa Latin; cume dan statuere.

Cume merupakan sebuah preposisi yang mengandung


arti” bersama dengan…”,
sedangkan statuere, berasal dari kata sta yang
membentuk kata kerja pokok stare yang berarti berdiri.

Sehingga arti selengkapnya adalah “membuat sesuatu


agar berdiri atau mendirikan/menetapkan”.

Dengan demikian bentuk tunggal (constitutio) berarti


menetapkan sesuatu secara bersama-sama dan bentuk
jamak (constitutiones) berarti segala sesuatu yang telah
ditetapkan (Thaib, 1999: 7).
KONSTITUSI???
 Mr. Usep Ranawidjaja mengatakan

…… konstitusi merupakan salah


satu dari sumber hukum tata
negara yang formal tertulis,
hukum yang dihasilkan oleh
badan yang berwenang,
disamping undang-undang
organik, undang-undang, ...dalam
lain-lainnya. Dengan kata lain,
konstitusi sama dengan undang-
undang dasar.
KONSTITUSI SAMA DENGAN UNDANG-
UNDANG DASAR
Penyamaan pengertian konstitusi dengan UUD diakui oleh Sri
Soemantri, C. F.Strong dan James Bryce. Strong dalam Modern
Political Constitutions berpendapat konstitusi adalah kerangka
negara yang diorganisir dengan dan melalui hukum, dalam hal
mana hukum menetapkan;
 Pengaturan mengenai pendirian lembaga-lembaga yang permanen.

 Fungsi dari alat-alat kelengkapan.

 Hak-hak tertentu yang telah ditetapkan.


 Yang diperjelas olehnya bahwa konstitusi adalah suatu kumpulan asas-
asas yang menyelenggarakan;
 Kekuasaan pemerintahan
 Hak-hak dari yang diperintah.

 Hubungan antara pemerintah dan yang diperintah (menyangkut di


dalamnya masalah hak asasi manusia)
UUD TIDAK SAMA DENGAN KONSTITUSI
 E.C.S. Wade dalam bukunya Constitutional Law
mengatakan bahwa secara umum UUD adalah
suatu naskah yang memaparkan kerangka dan
tugas-tugas pokok dari badan-badan
pemerintahan suatu negara dan menentukan
cara kerja badan-badan tersebut
 Konstitusi pada dasarnya memiliki pengertian
luas, yaitu keseluruhan peraturan baik tertulis
maupun tidak tertulis yang mengatur secara
mengikat mengenai cara penyelenggaraan suatu
pemerintahan.
 Konstitusi terdiri atas UUD yang tertulis dan
yang tidak tertulis (konvensi).
FUNGSI KONSTITUSI
Di negara, konstitusi dimaksudkan untuk
menentukan batas wewenang penguasa,
menjamin hak rakyat dan mengatur
jalannya pemerintahan. Konstitusi
dalam suatu negara, memiliki fungsi
sebagai instrumen yang dapat digunakan
untuk mengontrol pemerintahan.
Konstitusi muncul dari sebuah keyakinan
akan pemerintahan yang dibatasi (limited
government) (Wheare, 2003: 11).
MATERI MUATAN KONSTITUSI
Mr. J. G. Steenbeek menggambarkan secara
lebih jelas apa yang seharusnya menjadi isi
dari konstitusi suatu negara antara lain;
 Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi
manusia dan warganegaranya.
 Ditetapkannya susunan ketatanegaraan suatu
negara yang bersifat fundamental.
 Adanya pembagian dan pembatasan tugas
ketatanegaraan yang juga bersifat
fundamental. (Thaib, 1999: 17-18).
PEMBUKAAN UUD 1945

1. Pokok pikiran I; negara persatuan,


negara yang melindungi segenap
bangsa.
2. Pokok Pikiran II; keadilan sosial
3. Pokok pikiran III; kedaulatan
rakyat
4. Pokok pikiran IV; Ketuhanan Yang
Maha Esa dan Kemanusiaan yang
adil dan beradab.
HUBUNGAN ANTARA PEMBUKAAN DENGAN
PASAL-PASAL UUD 1945
 Pembukaan UUD 1945, memenuhi persyaratan
untuk disebut sebagai Pokok Kaidah
Fundamental Negara RI;
1. Dilihat dari sejarahnya, Pembukaan ditentukan
oleh Pembentuk Negara
2. Dilihat dari isinya, berisi asas falsafah negara, asas
politik negara, tujuan negara
3. Menentapkan adanya suatu UUD negara RI
HUBUNGAN PANCASILA DAN
PEMBUKAAN UUD 1945
1. Isi Pembukaan UUD 1945 alenia IV = Dasar negara.
2. Sila-sila Pancasila dan Pokok-pokok pikiran dalam
Pembukaan UUD 1945

SILA PANCASILA Pokok Pikiran


1 I (sila 3)
2 II(sila 5)
3 III (sila 4)
4 IV (sila I dan 2)
5
HUBUNGAN PEMBUKAAN UUD 1945
DAN PROKLAMASI
 Isi Proklamasi;
1. Pernyataan kemerdekaan
2. Tindakan yang harus diselenggarakan
sehubungan dengan pernyataan kemerdekaan.

HUBUNGAN
a. Alenia pertama, kedua dan ketiga Pembukaan
UUD 1945 memberi penjelasan terhadap
dilaksanakannya Proklamasi.
b. Alenia keempat Pembukaan memberi
pertanggungjawaban terhadap
dilaksanakannya Proklamasi
UNDANG-UNDANG DASAR 1945
&
AMANDEMEN 1999, 2001 & 2002
BAB I. BENTUK DAN KEDAULATAN 4

Negara Indonesia ialah Negara


Kesatuan, yang berbentuk
Republik [Pasal 1 (1)]

Kedaulatan berada
Negara Indonesia di tangan rakyat dan
adalah negara dilaksanakan
hukum menurut Undang-
Undang Dasar
[Pasal 1 (3)***]
[Pasal 1 (2)***]
KELEMBAGAAN MENURUT UUD
1945
LEMBAGA-LEMBAGA
DALAM SISTEM
KETATANEGARAAN
REPUBLIK INDONESIA
MENURUT UUD NEGARA REPUBLIK
INDONESIA TAHUN 1945
PUSAT
UUD 1945

BPK Presiden DPR MPR DPD MA MK


kpu bank kementerian badan-badan lain KY
sentral negara
yang fungsinya
dewan berkaitan dengan
pertimbangan
kekuasaan
TNI/POLRI kehakiman

Perwakilan BPK Pemerintahan Daerah Lingkungan Peradilan


Provinsi Provinsi Umum
Gubernur
DPRD Lingkungan Peradilan
Agama
Lingkungan Peradilan
Pemerintahan Daerah Militer
Kabupaten/Kota Lingkungan Peradilan
TUN
Bupati/Walikota DPRD
DAERAH
Lembaga-lembaga Negara yang memegang kekuasaan menurut
UUD

DPR Presiden MA MK

Pasal 24 (1)***
Pasal 4 (1) Kekuasaan kehakiman
Pasal 20 (1)* Memegang merupakan kekuasaan
Memegang
kekuasaan yang merdeka untuk
kekuasaan pemerintahan menyelenggarakan
membentuk UU peradilan guna
menegakkan
hukum dan keadilan
BAB II. MAJELIS PERMUSYAWARATAN
RAKYAT

ANGGOTA ANGGOTA
DPR
dipilih
MPR DPD
dipilih
melalui Pasal 2 (1)**** melalui
pemilu pemilu

Wewenang
 Mengubah dan menetapkan Undang-Undang  Memilih Wakil Presiden dari dua calon yang
Dasar [Pasal 3 ayat (1)*** dan Pasal 37**** ]; diusulkan oleh Presiden dalam hal terjadi
 Melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden kekosongan Wakil Presiden [Pasal 8 ayat
[Pasal 3 ayat (2)***/**** ]; (2)***];

 Memberhentikan Presiden dan/atau Wakil  Memilih Presiden dan Wakil Presiden dari dua
Presiden dalam masa jabatannya menurut pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden
Undang-Undang Dasar yang diusulkan oleh partai politik atau
[Pasal 3 ayat (3)***/****]; gabungan partai politik yang pasangan calon
Presiden dan Wakil Presidennya meraih suara
terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan
umum sebelumnya sampai berakhir masa
jabatannya, jika Presiden dan Wakil Presiden
mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak
dapat melakukan kewajibannya dalam masa
jabatannya secara bersamaan [Pasal 8 ayat
BAB III. KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA
Syarat, Masa Jabatan, dan Wewenang Presiden/Wakil
Presiden
Calon Presiden dan calon Presiden dan Wakil Presiden
Wakil Presiden harus dipilih dalam satu pasangan
seorang warga negara secara langsung oleh rakyat
Indonesia sejak kelahirannya [Pasal 6A (1)***]
dan tidak pernah menerima
kewarganegaraan lain Presiden/ Presiden dan Wakil Presiden
karena kehendaknya sendiri, memegang jabatan selama
tidak pernah mengkhianati Wakil lima tahun, dan sesudahnya
negara, serta mampu secara dapat dipilih kembali dalam
rohani dan jasmani untuk Presiden jabatan yang sama, hanya
melaksanakan tugas dan untuk satu kali masa
kewajiban sebagai Presiden jabatan.
dan Wakil Presiden. [Pasal 6 (Pasal 7 *)
(1)***]
Wewenang, Kewajiban, dan Hak
Antara lain tentang:
 memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD [Pasal 4 (1)];
 berhak mengajukan RUU kepada DPR [Pasal 5 (1)*];
 menetapkan peraturan pemerintah [Pasal 5 (2)*];
 memegang teguh UUD dan menjalankan segala UU dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa [Pasal 9
(1)*];
 memegang kekuasaan yang tertinggi atas AD, AL, dan AU (Pasal 10);
 menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR [Pasal 11 (1)****];
 membuat perjanjian internasional lainnya… dengan persetujuan DPR [Pasal 11 (2)***];
 menyatakan keadaan bahaya (Pasal 12);
 mengangkat duta dan konsul [Pasal 13 (1)]. Dalam mengangkat duta, Presiden memperhatikan pertimbangan DPR [Pasal 13 (2)*];
 menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR [Pasal 13 (3)*];
 memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan MA [Pasal 14 (1)*];
 memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR [Pasal 14 (2)*];
 memberi gelar, tanda jasa, dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan UU (Pasal 15)*;
 membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden (Pasal 16)****;
 pengangkatan dan pemberhentian menteri-menteri [Pasal 17 (2)*];
 pembahasan dan pemberian persetujuan atas RUU bersama DPR [Pasal 20 (2)*] serta pengesahan RUU [Pasal 20 (4)*];
 hak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti UU dalam kegentingan yang memaksa [Pasal 22 (1)];
 pengajuan RUU APBN untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD [Pasal 23 (2)***];
 peresmian keanggotaan BPK yang dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD [Pasal 23F (1)***];
 penetapan hakim agung dari calon yang diusulkan oleh KY dan disetujui DPR [Pasal 24A (3)***];
 pengangkatan dan pemberhentian anggota KY dengan persetujuan DPR [Pasal 24B (3)***];
 pengajuan tiga orang calon hakim konstitusi dan penetapan sembilan orang anggota hakim konstitusi [Pasal 24C (3)***].
Wewenang, Kewajiban dan Hak Presiden/Wakil Presiden
Antara lain tentang:
1. memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD [Pasal 4 (1)];
2. berhak mengajukan RUU kepada DPR [Pasal 5 (1)*];
3. menetapkan peraturan pemerintah [Pasal 5 (2)*];
4. memegang teguh UUD dan menjalankan segala UU dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta
berbakti kepada Nusa dan Bangsa [Pasal 9 (1)*];
5. memegang kekuasaan yang tertinggi atas AD, AL, dan AU (Pasal 10);
6. dengan persetujuan DPR menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain
[Pasal 11 (1)****];
7. membuat perjanjian internasional lainnya dengan persetujuan DPR [Pasal 11 (2)***];
8. menyatakan keadaan bahaya (Pasal 12);
9. mengangkat duta dan konsul [Pasal 13 (1)]. Dalam mengangkat duta, Presiden memperhatikan
pertimbangan DPR [Pasal 13 (2)*];
10. menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR [Pasal 13 (3)*];
11. memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan MA [Pasal 14 (1)*];
12. memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR [Pasal 14 (2)*];
13. memberi gelar, tanda jasa, dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan UU (Pasal 15)*;
14. membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada
Presiden (Pasal 16)****;
15. pengangkatan dan pemberhentian menteri-menteri [Pasal 17 (2)*];
16. pembahasan dan pemberian persetujuan atas RUU bersama DPR [Pasal 20 (2)*] serta pengesahan
RUU [Pasal 20 (4)*];
17. hak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti UU dalam kegentingan yang memaksa
[Pasal 22 (1)];
18. pengajuan RUU APBN untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD [Pasal
23 (2)***];
19. peresmian keanggotaan BPK yang dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD [Pasal
23F (1)***];
20. penetapan hakim agung dari calon yang diusulkan oleh KY dan disetujui DPR [Pasal 24A (3)***];
21. pengangkatan dan pemberhentian anggota KY dengan persetujuan DPR [Pasal 24B (3)***];
22. pengajuan tiga orang calon hakim konstitusi dan penetapan sembilan orang anggota hakim konstitusi
[Pasal 24C (3)***].
BAB III. KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden

Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu


pasangan secara langsung oleh rakyat
[Pasal 6A (1)***]

diusulkan partai politik atau gabungan partai


politik peserta pemilu sebelum pemilu
[Pasal 6A (2) ***]

mendapatkan suara >50%


jumlah suara dalam Presiden
pemilu dengan sedikitnya
Pemilu 20% di setiap provinsi yang dan
tersebar di lebih dari 1/2 Wapres
jumlah provinsi
[Pasal 6A (3)***]

Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih

pasangan calon yang


memperoleh suara terbanyak
pertama dalam pemilu pasangan yang
Pemilu memperoleh
pasangan calon yang suara
memperoleh suara terbanyak terbanyak
kedua dalam pemilu [Pasal 6A (4)****]
BAB III. KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA
Pengusulan Pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden

Presiden
DPR MPR dan/atau Wakil
Presiden terus
Pendapat DPR bahwa DPR menjabat
wajib menyelenggarakan
Presiden dan/atau Wakil menyelenggarakan
sidang untuk memutuskan
Presiden telah melakukan sidang paripurna
usul DPR paling lambat 30
pelanggaran hukum ataupun untuk meneruskan usul DPR
hari sejak usul diterima
telah tidak lagi memenuhi usul pemberhentian tidak
syarat [Pasal 7B (2)***] kepada MPR [Pasal 7B (6)***] diterima
[Pasal 7B (5)***]
Keputusan diambil dalam
Pengajuan permintaan DPR
sidang paripurna, dihadiri
kepada MK hanya dapat
sekurang-kurangnya 3/4
dilakukan dengan dukungan
jumlah anggota, disetujui usul DPR
sekurang-kurangnya 2/3 dari
sekurang-kurangnya 2/3 diterima
jumlah anggota yang hadir
jumlah yang hadir, setelah
dalam sidang paripurna yang
Presiden dan/atau wakil Presiden
dihadiri oleh sekurang-
presiden diberi kesempatan dan/atau Wakil
kurangnya 2/3 dari jumlah
menyampaikan penjelasan Presiden
anggota [Pasal 7B (3)***] [Pasal 7B (7)***] diberhentikan

MK terbukti

wajib memeriksa, mengadili,


dan memutus paling lama 90 tidak
hari setelah permintaan terbukti
diterima
[Pasal 7B (4)***]
BAB III. KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA
Pemilihan Wakil Presiden Dalam Hal Terjadi Kekosongan Wakil Presiden
[Pasal 8 (2)***]

MPR
selambat-lambatnya
mengajukan dalam waktu 60 hari
Wapres
Presiden dua calon menyelenggarakan
terpilih
Wapres sidang MPR untuk
memilih Wapres
BAB III. KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Dalam Hal Keduanya Berhalangan
Tetap Secara Bersamaan [Pasal 8 (3)****]

Presiden
dan
Wapres
parpol atau gabungan
parpol yang pasangan
mengusulkan
calon Presiden dan
pasangan
Wapresnya meraih
calon Presiden MPR
suara terbanyak
dan Wapres selambat-lambatnya
pertama dalam pemilu
sebelumnya dalam waktu 30 hari
menyelenggarakan
parpol atau gabungan sidang MPR untuk
parpol yang pasangan memilih
mengusulkan
calon Presiden dan
pasangan
Wapresnya meraih
calon Presiden
suara terbanyak
dan Wapres
kedua dalam pemilu
sebelumnya
BAB III. KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA

DPR Presiden MA

dengan menyatakan perang, membuat perdamaian


persetujuan dan perjanjian dengan negara lain dan
internasional lainnya
[Pasal 11 (1)**** dan (2)***]

menyatakan keadaan bahaya


(Pasal 12)
dengan
pertimbangan mengangkat dan menerima Duta
[Pasal 13 (2)* dan (3)*]
dengan
memberi grasi dan rehabilitasi pertimbangan
[Pasal 14 (1)*]
dengan
pertimbangan memberi amnesti dan abolisi
[Pasal 14 (2)*]

memberi gelar, tanda jasa, dan lain-lain


tanda kehormatan yang diatur dengan
undang-undang
(Pasal 15 *)
BAB III. KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA
Kementerian Negara dan Dewan Pertimbangan

Presiden

dibantu
menteri-menteri negara Pembentukan,
membentuk suatu [Pasal 17 (1)]
dewan pertimbangan pengubahan, dan
yang bertugas yang diangkat dan pembubaran
diberhentikan oleh kementerian negara
memberikan nasihat Presiden
dan pertimbangan diatur dalam
[Pasal 17 (2)*] undang-undang
kepada Presiden
(Pasal 16) **** membidangi urusan [Pasal 17 (4) ***]
tertentu dalam
pemerintahan
[Pasal 17 (3)*]
BAB VI. PEMERINTAHAN
DAERAH
Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi
atas daerah-daerah provinsi dan daerah
provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota,
yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota
itu mempunyai pemerintahan daerah, yang
diatur dengan undang-undang
[Pasal 18 (1)**]

Gubernur, anggota
Bupati, PEMERINTAHAN DAERAH DPRD
Walikota KEPALA dipilih
DPRD
dipilih secara PEMERINTAH melalui
DAERAH pemilu
demokratis mengatur dan mengurus sendiri
[Pasal 18 (4)**] [Pasal 18 (3) **]
urusan pemerintahan menurut asas
otonomi dan tugas pembantuan [Pasal 18
(2)**]
menjalankan otonomi seluas-luasnya,
kecuali urusan pemerintahan yang oleh
UU ditentukan sebagai urusan
Pemerintah Pusat [Pasal 18 (5) **]
berhak menetapkan peraturan daerah
dan peraturan-peraturan lain untuk
melaksanakan otonomi dan
tugas pembantuan [Pasal 18 (6)**]
BAB VI. PEMERINTAHAN DAERAH
Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah

Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintahan


daerah provinsi, kabupaten, dan kota, atau antara provinsi dan
kabupaten dan kota, diatur dengan undang-undang dengan
memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah
[Pasal 18 A (1)**]

Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya


alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan
pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras
berdasarkan undang-undang
[Pasal 18 A (2)**]

Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan


daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur
dengan undang-undang
[Pasal 18 B (1)**]

Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat


hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup
dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang
[Pasal 18 B (2)**]
BAB VII. DEWAN PERWAKILAN
RAKYAT
anggota DPR
dapat
anggota DPR
dipilih melalui
DPR diberhentikan
dari jabatannya,
yang syarat-
memegang
pemilihan umum kekuasaan syarat dan tata
[Pasal 19 (1)**] membentuk UU caranya
[Pasal 20 (1)*] diatur dalam
undang-undang
(Pasal 22B**)

Fungsi, Wewenang, dan Hak


Antara lain tentang:
 memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan  pemberian pertimbangan kepada Presiden dalam
fungsi pengawasan [Pasal 20A (1)**] ; pemberian amnesti dan abolisi [Pasal 14 (2)*] ;
 mempunyai hak interpelasi, hak angket, dan hak  persetujuan atas perpu [Pasal 22 (2)] ;
menyatakan pendapat [Pasal 20A (2)**] ;
 pembahasan dan persetujuan atas RAPBN yang
 pengajuan usul pemberhentian Presiden
diajukan oleh Presiden [Pasal 23 (2) dan (3)***] ;
dan/atau Wakil Presiden [Pasal 7B (1)***] ;
 persetujuan dalam menyatakan perang,  pemilihan anggota BPK dengan memperhatikan
membuat perdamaian dan perjanjian pertimbangan DPD [Pasal 23F (1)***] ;
[Pasal 11 (1) dan (2)****] ;  persetujuan calon hakim agung yang diusulkan oleh
 pemberian pertimbangan kepada Presiden KY [Pasal 24A (3)***] ;
dalam pengangkatan duta [Pasal 13 (2)*] ;  persetujuan pengangkatan dan pemberhentian
 pemberian pertimbangan kepada Presiden dalam anggota KY [Pasal 24B (3)***] ;
menerima penempatan duta negara lain
[Pasal 13 (3)*] ;  pengajuan tiga orang calon anggota hakim
konstitusi [Pasal 24C (3)***] ;
Fungsi, Wewenang, dan Hak DPR
Antara lain tentang:  pemberian pertimbangan kepada
 memiliki fungsi legislasi, fungsi Presiden dalam pemberian
anggaran, dan fungsi pengawasan amnesti dan abolisi [Pasal 14
[Pasal 20A (1)**]; (2)*];
 mempunyai hak interpelasi, hak  persetujuan atas perppu
angket, dan hak menyatakan [Pasal 22 (2)];
pendapat [Pasal 20A (2)**];  pembahasan dan persetujuan atas
 pengajuan usul pemberhentian RAPBN yang diajukan oleh
Presiden dan/atau Wakil Presiden Presiden [Pasal 23 (2) dan (3)***];
[Pasal 7B (1)***];  pemilihan anggota BPK dengan
 persetujuan dalam menyatakan memperhatikan pertimbangan
perang, membuat perdamaian dan DPD [Pasal 23F (1)***];
perjanjian  persetujuan calon hakim agung
[Pasal 11 (1) dan (2)****]; yang diusulkan oleh KY
 pemberian pertimbangan kepada [Pasal 24A (3)***];
Presiden dalam pengangkatan  persetujuan pengangkatan dan
duta [Pasal 13 (2)*]; pemberhentian anggota KY
 pemberian pertimbangan kepada [Pasal 24B (3)***];
Presiden dalam menerima  pengajuan tiga orang calon
penempatan duta negara lain anggota hakim konstitusi
[Pasal 13 (3)*]; [Pasal 24C (3)***];
BAB VII. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
Pembentukan Undang-Undang

Dalam hal RUU


tidak disahkan
dalam waktu 30
hari, RUU tersebut
sah menjadi UU
dan wajib
mendapat diundangkan
persetujuan bersama [Pasal 20 (5)**]
DPR
RUU dibahas
memegang
oleh DPR dan
Presiden
kekuasaan mengesahkan UU
membentuk UU Presiden
berhak [Pasal 20 (4)*]
[Pasal 20 (1)*] untuk
mengajukan
mendapat
RUU
Anggota berhak persetujuan
[Pasal 5 (1)*]
mengajukan bersama
usul RUU [Pasal 20 (2)*]
tidak boleh
(Pasal 21*) tidak mendapat diajukan lagi dalam
persetujuan bersama persidangan masa
itu
[Pasal 20 (3)*]
BAB VII. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
Pembentukan UU yang terkait dengan kewenangan DPD

Dalam hal RUU


tidak disahkan
dalam waktu
30 hari, RUU
tersebut sah
menjadi UU
mendapat dan wajib
DPD DPR persetujuan bersama diundangkan
[Pasal 20 (5)**]
dapat memegang
mengajukan kekuasaan RUU dibahas
RUU yang sesuai membentuk oleh DPR dan
Presiden
dengan mengesahkan
UU Presiden untuk UU
kewenangannya berhak
[Pasal 20 (1)*] mendapat [Pasal 20 (4)*]
[Pasal 22D (1)***] mengajukan
persetujuan
ikut membahas RUU
Anggota bersama
dan [Pasal 5 (1)*]
berhak [Pasal 20 (2)*]
memberikan
pertimbangan mengajukan tidak boleh
atas RUU yang usul RUU tidak mendapat diajukan lagi
sesuai dengan (Pasal 21*) persetujuan bersama dalam
kewenangannya persidangan
[Pasal 22D (2)***] masa itu
[Pasal 20 (3)*]
BAB VIIA. DEWAN PERWAKILAN
DAERAH
Kewenangan DPD

KEWENANGAN DPD
memberi dapat
I. RUU yang berkaitan dapat ikut
pertimbanga melakukan
mengajukan membahas
dengan: n pengawasan
• Otonomi daerah ● ● ●
• Hubungan pusat dan ● ● ●
• daerah
Pembentukan dan
pemekaran serta ● ● ●
• penggabungan daerah
Pengelolaan sumber daya
alam dan sumber daya ● ● ●
ekonomi lainnya
• Perimbangan keuangan
pusat dan daerah ● ● ●
• RAPBN ● ●
• Pajak ● ●
• Pendidikan ● ●
• Agama ● ●
II. Pemilihan anggota BPK ●
BAB VII. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
Peraturan Pemerintah Sebagai Pengganti Undang-Undang (Perpu)

setuju menjadi UU

Presiden
Perpu itu
Dalam hal ihwal harus
kegentingan yang mendapat
memaksa, berhak persetujuan DPR
menetapkan DPR
Perpu [Pasal 22 (2)]
[Pasal 22 (1)]
tidak harus dicabut
setuju [Pasal 22 (3)]
BAB VIIA. DEWAN PERWAKILAN
DAERAH

Anggota DPD dipilih dari


setiap provinsi melalui pemilu Anggota DPD dapat
[Pasal 22C (1)***] diberhentikan dari

DPD
jabatannya, yang syarat-
Anggota DPD dari setiap syarat dan tata caranya
provinsi jumlahnya sama dan diatur dalam
jumlah seluruh anggota DPD
undang-undang
itu tidak lebih 1/3 jumlah
[Pasal 22D (4)***]
anggota DPR
[Pasal 22C (2)***]
BAB VIIB. PEMILIHAN UMUM

Parpol/
Perseoranga
Gabungan Partai Politik
n
Parpol

PEMILIHAN UMUM kpu


“luber jurdil” setiap lima tahun

Presiden anggota anggota anggota


dan Wapres DPR DPRD DPD
BAB IX. KEKUASAAN KEHAKIMAN
Mahkamah Agung

Calon hakim agung


Hakim agung harus diusulkan oleh
memiliki integritas Komisi Yudisial
dan kepribadian
yang tidak tercela,
adil, profesional, dan
MA kepada DPR untuk
mendapat
persetujuan dan
berpengalaman di Pasal 24A *** ditetapkan sebagai
bidang hukum hakim agung oleh
[Pasal 24A (2)***] Umum Presiden
Agama [Pasal 24A (3)***]
Militer
TUN

Kewajiban dan Wewenang


1. berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan
perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-
undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh
undang-undang [Pasal 24A (1)***];
2. mengajukan tiga orang anggota hakim konstitusi [Pasal 24C (3)***];
3. memberikan pertimbangan dalam hal Presiden memberi grasi dan
rehabilitasi [Pasal 14 (1)*].
BAB IX. KEKUASAAN KEHAKIMAN
Rekruitmen Hakim Agung [Pasal 24A (3)***]

Preside
KY calon yang
diusulkan DPR calon yang
disetujui
n

hakim
agung
BAB IX. KEKUASAAN KEHAKIMAN
Komisi Yudisial

Anggota Komisi
Yudisial harus
mempunyai Anggota Komisi
pengetahuan dan Yudisial diangkat dan
pengalaman di
bidang hukum serta KY diberhentikan oleh
Presiden dengan
memiliki integritas Pasal 24B *** persetujuan DPR
dan kepribadian yang [Pasal 24B (3)***]
tidak tercela
[Pasal 24B (2)***]

Wewenang
1. mengusulkan pengangkatan hakim agung [Pasal 24B
(1)***];
2. mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan
menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta
perilaku hakim [Pasal 24B (1)***].
BAB IX. KEKUASAAN KEHAKIMAN
Mahkamah Konstitusi

Hakim konstitusi
harus memiliki integritas mempunyai
dan kepribadian yang sembilan orang anggota
tidak tercela, adil, hakim konstitusi yang

MK
negarawan yang menguasai ditetapkan oleh Presiden,
konstitusi dan yang diajukan masing-masing
ketatanegaraan, serta tidak tiga orang oleh MA, tiga orang
merangkap sebagai pejabat oleh DPR dan tiga orang oleh
negara Presiden
[Pasal 24C (5)***] [Pasal 24C (3)***]

Wewenang dan Kewajiban


 berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap
Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara
yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus
pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil
pemilihan umum [Pasal 24C (1)***];
 wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat
mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden
menurut Undang-Undang Dasar [Pasal 24C (2)***].
BAB IX. KEKUASAAN KEHAKIMAN
Rekruitmen anggota hakim konstitusi [Pasal 24C (3)***]

MA DPR Presiden
menetapkan

mengajukan mengajukan mengajukan


9 (sembilan)
3 (tiga) orang 3 (tiga) orang 3 (tiga) orang
orang anggota
hakim hakim hakim
hakim konstitusi
konstitusi konstitusi konstitusi
BAB IXA. WILAYAH NEGARA 34

BATAS
WILAYAH
BATAS
ZEE

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara


kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-
batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang
(Pasal 25A) **
BAB X. WARGA NEGARA DAN PENDUDUK 35

warga negara
ialah orang-orang Penduduk ialah
bangsa Indonesia WARGA warga negara
asli dan orang-
orang bangsa lain NEGARA Indonesia dan
orang asing yang
yang disahkan
dengan undang-
DAN bertempat tinggal
undang sebagai PENDUDUK di Indonesia
[Pasal 26 (2)**]
warga negara
[Pasal 26 (1)]

Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan


pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu
dengan tidak ada kecualinya [Pasal 27 (1)]

Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan [Pasal 27 (2)]

Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya
pembelaan negara [Pasal 27 (3)**]

Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan


lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang (Pasal
28)
HAKIKAT HAK ASASI MANUSIA
 HAM disebut sebagai human right
 Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999:

HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada


hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk
Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahNya
yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan
dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan
setiap orang demi kehormatan serta perlindungan
harkat dan martabat manusia.
BAB XA. HAK ASASI MANUSIA 36

berkewajiban menghargai hak untuk hidup serta membentuk keluarga dan


orang dan pihak lain serta mempertahankan melanjutkan keturunan, hak anak
tunduk kepada pembatasan yang hidup dan kehidupan atas kelangsungan hidup, tumbuh,
ditetapkan UU (Pasal 28A) ** dan berkembang serta perlindungan
(Pasal 28J) ** dari kekerasan dan diskriminasi
(Pasal 28B) **

perlindungan, pemajuan, mengembangkan diri,


penegakan, dan pemenuhan mendapat pendidikan,
HAM adalah tanggung jawab memperoleh manfaat dari IPTEK,
negara, terutama pemerintah seni dan budaya, memajukan diri
(Pasal 28I) ** HAK secara kolektif
(Pasal 28C) **
hidup sejahtera lahir dan ASASI
pengakuan yang sama di
batin, memperoleh pelayanan MANUSIA hadapan hukum, hak untuk
kesehatan, mendapat
bekerja dan kesempatan yg sama
kemudahan dan perlakuan
dalam pemerintahan, berhak atas
khusus untuk memperoleh
status kewarganegaraan
kesempatan dan manfaat guna
(Pasal 28D) **
mencapai persamaan dan
keadilan
(Pasal 28H) ** kebebasan memeluk agama,
berkomunikasi, meyakini kepercayaan, memilih
perlindungan diri pribadi, memperoleh, mencari, kewarganegaraan, memilih
keluarga, kehormatan, martabat, memiliki, menyimpan, tempat tinggal, kebebasan
harta benda, dan rasa aman serta mengolah dan berserikat, berkumpul dan
untuk bebas dari penyiksaan menyampaikan informasi, berpendapat
(Pasal 28G) ** (Pasal 28F) ** (Pasal 28E) **
BAB XI. AGAMA 37

AGAMA
Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha
Esa
[Pasal 29 (1)]
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya masing-
masing dan untuk beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya itu
[Pasal 29 (2)]
BAB XII. PERTAHANAN DAN KEAMANAN NEGARA 38

Pertahanan dan Usaha pertahanan dan


Tiap-tiap warga Keamanan Negara keamanan negara
dilaksanakan melalui
negara berhak dan
sishankamrata oleh
wajib ikut serta dalam TNI (AD, AL, AU) POLRI TNI dan POLRI sebagai
usaha pertahanan dan
kekuatan utama, dan
keamanan negara
sebagai alat negara sebagai alat negara rakyat sebagai
[Pasal 30 (1)**] yang menjaga
bertugas kekuatan pendukung
mempertahankan, keamanan dan [Pasal 30 (2)**]
ketertiban
melindungi, dan masyarakat bertugas
memelihara melindungi,
keutuhan dan mengayomi,
kedaulatan negara melayani
[Pasal 30 (3)**] masyarakat, serta
menegakkan hukum
[Pasal 30 (4)**]
Susunan dan kedudukan TNI, POLRI,
hubungan kewenangan TNI dan POLRI,
syarat-syarat keikutsertaan warga negara
dalam usaha pertahanan dan keamanan
negara, serta hal-hal yang terkait dengan
pertahanan dan keamanan
diatur dengan undang-undang
[Pasal 30 (5)**]
BAB XIII. PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 39
Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikan
nasional, yang meningkatkan keimanan dan
ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur
dengan
undang-undang [Pasal 31 (3)****]
Negara memprioritaskan
Setiap warga negara anggaran pendidikan sekurang-
wajib mengikuti kurangnya 20% dari APBN dan
pendidikan dasar dan APBD untuk memenuhi
pemerintah wajib kebutuhan penyelenggaraan
membiayainya pendidikan nasional [Pasal 31
[Pasal 31 (2)****] PENDIDIKAN (4)****]
DAN
KEBUDAYAA Pemerintah memajukan ilmu
N pengetahuan dan teknologi dengan
Setiap warga menjunjung tinggi nilai-nilai
negara berhak agama dan persatuan bangsa
mendapatkan untuk kemajuan peradaban serta
pendidikan kesejahteraan umat manusia
[Pasal 31 (1)****] [Pasal 31 (5)****]

Negara memajukan kebudayaan


nasional Indonesia di tengah
peradaban dunia dengan menjamin Negara menghormati dan
kebebasan masyarakat dalam memelihara bahasa daerah sebagai
memelihara dan mengembangkan kekayaan budaya nasional
nilai-nilai budayanya [Pasal 32 (2)****]
[Pasal 32 (1)****]
BAB XIV. PEREKONOMIAN NASIONAL DAN KESEJAHTERAAN 40
SOSIAL
Bumi dan air dan kekayaan alam
Cabang-cabang produksi yang
yang terkandung di dalamnya
penting bagi negara dan
dikuasai oleh negara dan
menguasai hajat hidup orang
dipergunakan untuk sebesar-besar
banyak dikuasai oleh negara
kemakmuran rakyat
[Pasal 33 (2)]
[Pasal 33 (3)]

diselenggarakan berdasar atas


demokrasi ekonomi dengan
prinsip kebersamaan, efisiensi
disusun sebagai usaha bersama
PEREKONOMIA berkeadilan, berkelanjutan,
berdasar atas asas
N NASIONAL berwawasan lingkungan,
kekeluargaan
kemandirian, serta dengan
[Pasal 33 (1)] DAN
menjaga keseimbangan kemajuan
KESEJAHTERA dan kesatuan ekonomi nasional
AN SOSIAL [Pasal 33 (4)****]

Negara bertanggung jawab


Fakir miskin dan anak- atas penyediaan fasilitas
anak yang terlantar Negara mengembangkan sistem jaminan pelayanan kesehatan dan
dipelihara oleh negara sosial bagi seluruh rakyat dan fasilitas pelayanan umum
[Pasal 34 (1)****] memberdayakan masyarakat yang lemah yang layak
dan tidak mampu sesuai dengan martabat [Pasal 34 (3)****]
kemanusiaan
[Pasal 34 (2)****]
BAB XV. BENDERA, BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU 41
KEBANGSAAN

ATRIBUT KENEGARAAN

 Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih


(Pasal 35)
 Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia (Pasal 36)
 Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan
semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Pasal 36A) **
 Lagu Kebangsaan ialah Indonesia Raya (Pasal 36B)
**
BAB XVI. PERUBAHAN UNDANG-UNDANG
42
DASAR
Perubahan Pasal-Pasal

diajukan secara tertulis


Usul perubahan diajukan
dan ditunjukkan dengan
oleh sekurang-kurangnya
jelas bagian yang diusulkan
1/3 dari jumlah
untuk diubah beserta
anggota MPR
[Pasal 37 (1)****]
alasannya
[Pasal 37 (2)****]

MPR
sidang MPR dihadiri
oleh sekurang-
Khusus mengenai kurangnya 2/3 dari
bentuk Negara Kesatuan jumlah anggota MPR
Republik Indonesia tidak [Pasal 37 (3)****]
dapat dilakukan Putusan dilakukan
perubahan dengan persetujuan
[Pasal 37 (5)****] sekurang-kurangnya
50% + 1 anggota dari
seluruh anggota MPR
[Pasal 37 (4)****]
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA 43
NEGARA KESATUAN REPUBLIK
INDONESIA
Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik
[Pasal 1 (1)]

Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan


daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi,
kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan
undang-undang.
[ Pasal 18 (1)**]

Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang


bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang
[Pasal 18B (1)**]

Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat


beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia,
yang diatur dalam undang-undang
[Pasal 18B (2)**]

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang


berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan
dengan undang-undang.
(Pasal 25A**)

Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat


dilakukan perubahan.
[Pasal 37 (5)****]
ATURAN PERALIHAN 44

ATURAN PERALIHAN
Pasal I
Segala peraturan perundang-undangan yang ada
masih tetap berlaku selama belum diadakan yang baru
menurut Undang-Undang Dasar ini ****)

Pasal II
Semua lembaga negara yang ada masih tetap berfungsi
sepanjang untuk melaksanakan ketentuan Undang-
Undang Dasar dan belum diadakan yang baru menurut
Undang-Undang Dasar ini ****)

Pasal III
Mahkamah Konstitusi dibentuk selambat-lambatnya
pada 17 Agustus 2003 dan sebelum dibentuk segala
kewenangannya dilakukan oleh Mahkamah Agung
****)
ATURAN TAMBAHAN 45

ATURAN TAMBAHAN

Pasal I
Majelis Permusyawaratan Rakyat ditugasi untuk
melakukan peninjauan terhadap materi dan status
hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat untuk diambil putusan pada Sidang Majelis
Permusyawaratan Rakyat tahun 2003 ****)

Pasal II
Dengan ditetapkannya perubahan Undang-Undang
Dasar ini, Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 terdiri atas Pembukaan
dan pasal-pasal ****)
UU NO. 10/ 2004
1. UUD 1945
2. Undang-Undang/ Peraturan Pemerintah
Pengganti UU
3. Peraturan Pemerintah
4. Peraturan Presiden
5. Peraturan Daerah
TERIMA KASIH
SAMPUN KEPARENG MATURNUWUUUUN