Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KASUS
KARSINOMA PENIS

KELOMPOK 4
Pendahuluan
 Kanker penis terjadi kurang dari 1% kanker pada laki-laki di
United States, dengan perkiraan 1-2 kasus baru dilaporkan
per 100.000 laki-laki.
 Data di Asia bervariasi mulai dari 0,04% (Israel), 0,15% (Iran),
hingga 0,2% (Jepang). Data di indonesia yaitu pada Rumah
Sakit Hasan Sadikin Bandung pada tahun 1975-1984
didapatkan prevalensi 6%. Lalu penelitian Sastrodihardjo dkk
(2009) di Rumah Sakit Sanglah Denpasar – Bali, ada
sebanyak 72 kasus penderita kanker penis selama 12 tahun
(April 1993-Mei 2005). Beberapa penelitian menduga
karsinoma penis berkaitan dengan kebersihan individu dan
efek karsinogenik dari smegma.
Pengertian
 Kanker penis adalah kanker yang terdapat
pada kulit dan jaringan penis (Asrul Sani,
2010).
 Karsinoma penis adalah suatu karsinoma sel
skuamosa dari epitel glans penis atau kanker
ganas pada alat reproduksi pria yang
menyerang mulai dari lesi kecil dari
prepusium dan bisa menyebar sampai ke
batang penis.
Etiologi
Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab kanker
penis. Diduga penyebabnya adalah smegma (cairan berbau
yang menyerupai keju, yang terdapat di bawah kulit depan
glans penis).Terdiagnosis diabetes melitus
Beberapa hal diketahui menjadi faktor resiko penyakit ini di
antaranya :
 Usia tua
 Pria yang tak menjalani sunat
 Sirkumsisi dilakukan untuk membantu mencegah infeksi
human papilloma virus (HPV).
 Kebersihan daerah kemaluan yang tak terjaga
 Pria yang menghindari personal hygiene tubuh akan
meningkatkan risiko terkena kanker.
 Infeksi human papilloma virus biasanya tertular melalui
hubungan intim bebas
 Penggunaan produk tembakau
Stadium
 Sistem penentuan stadium dari karsinoma penis yang
paling sering digunakan adalah Union Internationale
Contre le Cancer (UICC) tumor, nodes, metastasis
(TNM) system atau yang lebih terbaru American Joint
Committee on Cancer (AJCC) TNM system.

 Selain itu, penentuan staging dalam karsinoma penis


juga bisa dengan menggunakan sistem Jackson’s.
sistem ini merupakan sistem yang orisinil dan telah
jarang digunakan. Walaupun begitu, sistem ini lebih
dikenal dan lebih mudah dipahami.
Tabel 1 Stadium karsinoma penis menurut AJCC

Stage 0 Tis N0 M0

Ta N0 M0
Stage I
T1 N0 M0

T1 N1 M0
Stage II T2 N0 M0
T2 N1 M0

T1 N2 M0
T2 N2 M0
Stage III T3 N0 M0
T3 N1 M0
T3 N2 M0

T4 Any N M0
Stage IV Any T N3 M0
Any T Any N M1
Tabel 2 Klasifikasi Jackson’s untuk karsinoma penis

Stage I (A) Terbatas pada glans penis atau prepusium

Menjalar ke bagian shaft atau carpora, belum ada


Stage II (B)
metastase

Stage III (C) Bagian shaft dengan metastase

Stage IV (D) Invasive lokal dari shaft, metastase jauh


Patofisiologi
 Kanker penis biasanya di mulai sebagai lesi kecil
pada glans atau kepala penis. Kanker penis berkisar
dari putih abu-abu tidak teratur, exophytic, massa
endofit datar dan ulserasi. Sel kanker berangsur-
angsur tumbuh secara lateral di sepanjang
permukaan penis dan bias menutupi seluruh kelenjar
serta preputium sebelum menyerang corpora dan
keseluruhan batang penis. Semakin luas lesi semakin
besar kemungkinan invasi lokal dan metastasis
nodal.
 Metastasis ke kelenjar getah bening femoral dan
inguinal adalah jalur awal untuk penyebaran kanker
penis. Oleh karena crossover kelenjar getah bening
maka sel kanker dapat menyebar secara bilateral ke
kedua kelenjar getah bening inguinalis.
Manifestasi Klinik
 Bengkak pada penis
 Nyeri
 Lesi pada penis
 Perubahan warna pada kulit penis juga dapat menjadi
tanda awalnya
 Terdapat benjolan pada lipat paha
 Hematuria
 Dysuria
 Rasa terbakar
 Perdarahan
Pemeriksaan Diagnostik
 Laboratorium
 Biopsi
 Imaging modalitas
 USG
 CT Scan
 MRI
 Tomography Emisi Positron (PET)
Penatalaksanaan
 Terapi medikamentosa
 Terapi konservatif
 Terapi laser
 Pembedahan
 Penektomi
 Kemoterapi
 Radioterapi
 Glansektomi
 Mohn micrographic surgery
Komplikasi
Infeksi
Metastasis ke organ lain
Lymphadenophaty
(pembengkakan kelenjar getah
bening)
Nekrotik
Diagnosa Keperawatan Prioritas
 NYERI AKUT (D.0077)
Data senjang
DS: mengeluh nyeri
DO: tampak meringis, bersikap protektif, gelisah, frekuensi nadi meningkat,
sulit tidur
Intervensi
 Monitor kepuasan pasien terhadap menejemen nyeri dalam interval
yang spesifik
 Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri
 Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama
nyeri akan di rasakan dan antisipasi dan ketidaknyamanan akibat
prosedur
 Kolaborasi dengan pasien, orang terdekat dan tim kesehatan lainnya
untuk memilih dan mengimplementasikan tindakan penurunan nyeri
menggunakan farmakologi dan non farmakologi sesuai kebutuhan
Diagnosa Keperawatan Prioritas
 DISFUNGSI SEKSUAL (D.0069)
Data senjang
DS: mengungkapkan aktivitas seksual berubah, mengungkapkan eksitasi
seksual berubah, merasa hubungan seksual tidak memuaskan,
mengungkapkan fungsi seksual berubah
DO: -
Intervensi
 Identifikasi perilaku seksual yang tidak dapat diterima, dalam tatanan
populasi pasien
 Atur pasien mendapatkan ruangan pribadi jika dikaji bahwa pasien
tersebut berada pada resiko tinggi melakukan perilaku seksual yang
secara sosial tidak dapat diterima
 Informasikan Pendidikan seksual untuk kesembuhan pasien
 kolaborasi rujuk dengan konsultan seksual bila perlu
Diagnosa Keperawatan Prioritas
 GANGGUAN INTEGRITAS KULIT (D.0129)
Data senjang
DS: -
DO: kerusakan jaringan atau lapisan kulit, nyeri, perdarahan, kemerahan,
hematoma
Intervensi
 Monitor tanda-tanda infeksi,kaji warna dan temperatur sekitar daerah
insisi
 Lakukan perawatan luka secara rutin
 Informasikan pada pasien untuk tidak menyentuh luka
 Kolaborasi pemberian obat anti biotik sesuai program
KASUS
 Seorang laki‐laki usia 59 tahun datang dengan
keluhan utama benjolan dan nyeri di kemaluan
sejak dua bulan lalu, pasien memiliki riwayat
operasi penektomi pada tahun 2017. Saat ini
nyeri dirasakan seperti ditusuk‐tusuk hilang
timbul sepanjang hari, nyeri skala 7 (0-10)
benjolan lebih cepat membesar dibandingkan
saat keluhan pertama kali pada tahun 2017,
benjolan terasa panas, tampak kemerahan
tampak seperti berisi air, dan sulit menahan
buang air kecil (BAK), gejala berkemih iritasi
dan perdarahan.. Pasien merokok 1‐3 bungkus
per hari sejak kelas 4 SD, sudah berhenti sejak
empat bulan lalu.
KASUS (lanjutan)
 Dari pemeriksaan fisik kesadaran komposmentis, tampak
lemas, tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 100 x/menit,
napas 20 x/menit, suhu 38,8°C, pemeriksaan genitalia
inspeksi tampak dua buah massa di korpus penis
berukuran 3x2 cm dan 2x1 cm dengan batas tidak jelas
dan warna kemerahan, gambaran exophytic, tanda
inflamasi, dari palpasi teraba massa pada corpus penis
dengan konsistensi padat kenyal, berupa dua buah
massa, terfiksir, dan nyeri tekan corpus penis. Pemeriksaan
penunjang:
 Hb = 11 g/dl, Ht = 30%, leukosit = 12.200/mm3
 Pada kasus, pasien didiagnosis karsinoma penis residif.
Farmakoterapi diberikan IVFD RL gtt XX/m, cefotaxim 3x1.
Diagnosa Keperawatan Prioritas
 Nyeri Akut (D.0077)
Data senjang
DS: Pasien mengeluh nyeri di daerah genitalia seperti
tertusuk-tusuk, hilang timbul sepanjang hari dengan skala
nyeri 7 (0-10)
DO : Tampak meringis, pasien tampak lemah
Intervensi
 Gali bersama pasien faktor-faktor yang dapat
meningkatkan nyeri dan menurunkan nyeri
 Berikan posisi pasien yang nyaman
 Ajarkan teknik relaksasi untuk menurunkan tingkat nyeri
 Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi analgetik
 Kolaborasi tindakan pembedahan
Diagnosa Keperawatan Prioritas
 Gangguan Eliminasi Urin (D.0040)
Data senjang
DS: Pasien mengatakan sulit buang air kecil, merasa tidak
tuntas dan kurang lega, pasien mengeluh perih saat
berkemih dan terdapat darah
DO : Tampak dua buah massa di korpus penis berukuran 3x2
cm dan 2x1 cm, distensi kandung kemih
Intervensi
 kaji intake dan output cairan
 kaji keluhan kandung kemih penuh
 ajarkan pola berkemih normal dan perhatikan variasi
 kolaborasikan dalam pemberian antibiotic
 kolaborasi obat diuretik
Diagnosa Keperawatan Prioritas
 Gangguan Integritas Kulit (D.0129)
Data senjang
DS: Pasien mengatakan lukanya perih
DO : tampak dua buah massa di korpus penis berukuran 3x2
cm dan 2x1 cm, warna kemerahan, terdapat lesi
Intervensi
 Observasi kerusakan kulit pada klien
 Lakukan perawatan luka dengan teknik steril
 Anjurkan klien dengan menjaga kebersihan kulit
 Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik topikal
TERIMA KASIH