Anda di halaman 1dari 18

INFUS

 Diberikan secara intravena pada keadaan


perdarahan obstetri yg mulai terjadi
gangguan hemodinamik
(T≤90 mmHg sistol, N≥100 kali/menit)
 Memakai jarum 16G, selang infus
transfusi. Bila perlu 2 jalur
 Pakai cairan kristaloid :
RL, NaCl, Ringer Asetat
KEAMANAN
Sebelum memberikan cairan infus:

– Cek segel botol/kantung cairan tidak robek


– Cek waktu kadaluwarsa
– Periksa bahwa cairan jernih dan bebas dari
partikel-partikel yg terlihat
CAIRAN PENGGANTI : Alternatif terhadap
transfusi

 Cairan pengganti efektif:


– Garam fisiologik (NaCl 0,9 N)
– Cairan garam seimbang lainnya: Ringer Laktat
 Cairan pengganti digunakan pada:
– Pada ibu dengan syok hipovol
– Ibu normovolemia dgn kehilangan cairan
terus menerus (pada pembedahan)
CAIRAN UTK PEMELIHARAAN

 Untuk mengganti cairan yg keluar melalui


kulit, paru, feses, urin; digunakan :
DEXTROSE 5%, DEXTROSE dalam NaCl
 Kebutuhan cairan pada saat demam,
memiliki suhu dan kelembaban sekitar yg
tinggi akan meningkat

(kenaikan 1O C akan memerlukan


tambahan cairan 500 ml)
TERAPI PENGGANTI INTRAVENA

 Merupakan terapi baris pertama untuk


hipovolemia

 NaCl atau RL cukup efektif pada


penggantian cairan akibat syok
pendarahan atau kehilangan cairan pada
pembedahan
1. Cairan Kristaloid

– Konsentrasi natrium sama dgn plasma


– Tidak dapat memasuki sel karena membran
sel tdk permiabel terhadap natrium
– Dapat masuk keruang ekstrasel
– Karena volume yg bertahan dalam plasma
hanya 25%, minimal diperlukan 3 kali
volume darah yg hilang
Bagaimana dgn DEXTROSE 5% ?

2. Cairan Koloid

– Mempunyai partikel lebih besar


– Sama dgn protein plasma, cenderung
bertahan dalam plasma
– Menaikkan tekanan onkotik koloid plasma
darah
– Diberikan sesuai dengn jumlah darah hilang
– Koloid mempunyai peran terbatas dalam
resusitasi
TRANSFUSI
TRANSFUSI
Indikasi transfusi :
– Perdarahan pasca persalinan dan syok
– Kehilangan darah saat operasi
– Anemia berat pada kehamilan lanjut

Penggunaan produk darah yg tdk tepat


Dapat menimbulkan :
 Komplikasi akut
 Transmisi zat infeksionis (HIV, HBV)
 Mahal
RISIKO TRANSFUSI

1. Darah Lengkap = Whole Blood = WB


Hati-hati : - Reaksi transfusi
- Infeksi HIV, HBV, hepatitis
C, sifilis, malaria
- Kontaminasi bakteri lain
2. Risiko transfusi darah
 Infeksi
 Reaksi transfusi
 Indikasi tepat selektif
UPAYA MENGURANGI RISIKO
 Seleksi donor
 Penapisan infeksi : HIV-1, HIV-2, HCV,
Hb3Ag, Sifilis
 Program menjaga mutu
 Penanganan yg baik thd proses seleksi
donor, gol. Darah, prosesing darah,
penyimpanan, transportasi
 Penggunaan darah dan produk darah
secara tepat
PRINSIP TRANSFUSI DARAH
 Transfusi hanya satu elemen
 Lebih penting mengganti cairan yg hilang
dgn kristaloid segera
 Mengembalikan kapasitas pengangkutan
O2 oleh darah
 Upaya mengurangi transfusi :
 Cairan pengganti resusitasi
 Minimalkan sampel darah
 Tehnik pembedahan dan anestesi terbaik
 AUTOTRANSFUSI jika mungkin
PEMANTAUAN PASIEN TRANSFUSI
– Pemantauan dilakukan pada tahap :
 Sebelum transfusi dimulai
 Pada saat transfusi dimulai
 15 menit setelah transfusi mulai
 Setiap 1 jam selama transfusi
 Setiap 4 jam setelah transfusi
– Periksa dan catat hal-hal berikut pada setiap saat
tahap :
 KU, suhu, N, T, RR
 Balance cairan
– Catat pula :
 Nomor darah, waktu mulai/selesai
 Volume dan jenis darah, efek samping
PENANGANAN REAKSI TRANSFUSI

Reaksi transfusi :
– Ringan : gatal, ruam kulit
– Berat : hemolisis, gagal ginjal, syok
anafilaktik
Tindakan pertama stop transfusi, ganti infus
RL atau NaCl
– Penilaian awal
– Cari bantuan medis
Reaksi minor : PROMETAZIN 10 mg oral +
observasi
PENANGANAN SYOK ANAFILAKTIK

– Tata laksana syok


– Berikan obat :
 Adrenalin 1 : 1000 (0,1 ml dlm 100 ml NaCl atau
RL) perlahan-lahan IV
 Prometakzin 10 mg IV
 Hidrokortison 1 g IV setiap 2 jam bila perlu (100
mg Hidrokortison = 2 ml/vial)
– Bronkhosposme positif : 250 mg Aminofilin
dalam 10 ml RL / NaCl IV
– Lakukan terus prosedur diatas sampai ibu
stabil
– Pantau tanda vital dan rujuk untuk perawatan
intensif (Catat produksi urine)
– Ambil contoh darah disertai beku darah dan 1
botolberisi darah vena kontra lateral yg diberi
koagulan (+ EDTA)
– Jika terdapat sepsis, buatlah kultur darah
transfusi