Anda di halaman 1dari 73

KELOMPOK 1

PSIK A 2016
DK PEMICU 2 MODUL KEPERAWATAN
KOMUNITAS DAN KELUARGA 3
KELOMPOK 1

1. Zhimhadha 11161040000005
2. Nadia Ikhwani P 11161040000011
3. Vina Ayu Wardani 11161040000018
4. Rizkiyah Ayu 11161040000025
5. Namira Safitri 11161040000031
6. Tutty Alawiyah 11161040000034
7. Fitriyani Nursyifa 11161040000081
8. Akromul Ikhsan B. 11161040000082
KASUS
STRESS
Definisi Stres

stres merupakan suatu kondisi pada individu yang


tidak menyenangkan dimana dari hal tersebut
dapat menyebabkan terjadinya tekanan fisik
maupun psikologis pada individu. Kondisi yang
dirasakan tidak menyenangkan itu disebabkan
karena adanya tuntutan-tuntutan dari lingkungan
yang dipersepsikan oleh individu sebagai sesuatu
yang melebih kemampuan nya atau sumber daya
yang dimilikinya, karena dirasa membebani dan
merupakan suatu ancaman bagi kesejahteraannya.
Stressor
Morris (1990) mengklasifikasikan stressor ke dalam lima kategori, yaitu:

1.Frustasi (Frustration) terjadi ketika kebutuhan pribadi terhalangi dan seseorang gagal
dalam mencapai tujuan yang diinginkannya. frustrasi dapat terjadi sebagai akibat dari
keterlambatan, kegagalan, kehilangan, kurangnya sumber daya, atau diskriminasi.
2.Konflik (Conflicts), jenis sumber stres yang kedua ini hadir ketika pengalaman
seseorang dihadapi oleh dua atau lebih motif secara bersamaan. Morris (1990)
mengidentifikasi empat jenis konflik yaitu,: approach-approach, avoidence-avoidence,
approach-avoidence, dan multiple approach-avoidance conflict.
3.Tekanan (Pressure), jenis dari sumber stress yang ketiga yang diakui oleh Morris,
tekanan didefinisikan sebagai stimulus yang menempatkan individu dalam posisi untuk
mempercepat, meningkatkan kinerjanya, atau mengubah perilakunya.
4.Mengidentifikasi perubahan (Changes), tipe sumber stres yang keempat ini seperti
hal nya yang ada di seluruh tahap kehidupan, tetapi tidak dianggap penuh tekanan
sampai mengganggu kehidupan seseorang baik secara positif maupun negative
5.Self-Imposed merupakan sumber stres yang berasal dalam sistem keyakinan pribadi
pada seseorang, bukan dari lingkungan. Ini akan dialami oleh seseorang ketika ada
tidaknya stres eksternal yang nyata
Menurut Sarafino (2008) sumber
datangnya stres ada tiga yaitu:
1.Diri individu
Hal ini berkaitan dengan adanya konflik. Menurut Miller dalam Sarafino (2008), pendorong
dan penarik dari konflik menghasilkan dua kecenderungan yang berkebalikan, yaitu
approach dan avoidance. Kecenderungan ini menghasilkan tipe dasar konflik (Sarafino,
2008), yaitu :
A.Approach-approach Conflict
Muncul ketika kita tertarik terhadap dua tujuan yang sama-sama baik. Contohnya, individu
yang mencoba untuk menurunkan berat badan untuk meningkatkan kesehatan maupun
untuk penampilan, namun konflik sering terjadi ketika tersedianya makanan yang lezat.
B.Avoidance-avoidance Conflict
Muncul ketika kita dihadapkan pada satu pilihan antara dua situasi yang tidak
menyenangkan. Contohnya, pasien dengan penyakit serius mungkin akan dihadapkan
dengan pilihan antara dua perlakuan yang akan mengontrol atau menyembuhkan penyakit,
namun memiliki efek samping yang sangat tidak diinginkan.
C.Approach-avoidance Conflict
Muncul ketika kita melihat kondisi yang menarik dan tidak menarik dalam satu tujuan atau
situasi. Contohnya, seseorang yang merokok dan ingin berhenti, namun mereka mungkin
terbelah antara ingin meningkatkan kesehatan dan ingin menghindari kenaikan berat badan
serta keinginan mereka untuk percaya terjadi jika mereka ingin berhenti.
Lanjutan...
2.Keluarga
Sarafino (2008) menjelaskan bahwa perilaku, kebutuhan, dan
kepribadian dari setiap anggota keluarga berdampak pada
interaksi dengan orang-orang dari anggota lain dalam keluarga
yang kadang-kadang menghasilkan stres. Menurut Sarafino
(2008) faktor dari keluarga yang cenderung memungkinkan
munculnya stres adalah hadirnya anggota baru, perceraian dan
adanya keluarga yang sakit, cacat, dan kematian

3.Komunitas dan masyarakat


Kontak dengan orang di luar keluarga menyediakan banyak
sumber stres. Misalnya, pengalaman anak di sekolah dan
persaingan. Adanya pengalaman-pengalaman seputar dengan
pekerjaan dan juga dengan lingkungan dapat menyebabkan
seseorang menjadi stres. (Sarafino, 2008)
Fase stress
• Fase 1 : stres pada tahap ini justru dapat membuat seseorang lebih
bersemangat, penglihatan lebih tajam, peningkatan energi, rasa
puas dan senang, muncul rasa gugup tapi mudah diatasi.
• Fase 2 : menunjukkan keletihan, otot tegang, gangguan
pencernaan.
• Fase 3 : menunjukkan gejala seperti tegang, sulit tidur, badan terasa
lesu dan lemas.
• Fase 4 dan 5 : pada tahap ini seseorang akan tidak mampu
menanggapi situasi dan konsentrasi menurun dan mengalami
insomnia.
• Fase 6 : gejala yang muncul detak jantung meningkat, gemetar
sehingga dapat pula mengakibatkan pingsan.Berdasarkan uraian
diatas dapat disimpulkan fase stres terbagi menjadi 6 fase yang
tingkatan gejalanya berbeda-beda di setiap tahapan.
Penggolongan stress
1.Distres (stres negatif)
•Merupakan stres yang merusak atau bersifat tidak
menyenangkan. Stres dirasakan sebagai suatu keadaan
dimana individu mengalami rasa cemas, ketakutan, khawatir
atau gelisah. Sehingga individu mengalami keadaan
psikologis yang negatif, menyakitkan dan timbul keinginan
untuk menghindarinya.
2.Eustres (stres positif)
•Eustres bersifat menyenangkan dan merupakan pengalaman
yang memuaskan, frase joy of stres untuk mengungkapkan
hal-hal yang bersifat positif yang timbul dari adanya stres.
Eustres dapat meningkatkan kesiagaan mental,
kewaspadaan, kognisi dan performansi kehidupan. Eustres
juga dapat meningkatkan motivasi individu untuk menciptakan
sesuatu, misalnya menciptakan karya seni.
Reaksi Psikologis terhadap stress
1.Kecemasan, Respon yang paling umum
merupakan tanda bahaya yang menyatakan diri
dengan suatu penghayatan yang khas, yang sukar
digambarkan adalah emosi yang tidak
menyenangkan
2.Kemarahan dan agresi adalah perasaan jengkel
sebagai respon terhadap kecemasan yang
dirasakan sebagai ancaman
3.Depresi Keadaan yang ditandai dengan
hilangnya gairah dan semangat.
Teori stress
Teori stres keluarga berasal dari karya Rueben Hill (1949), yang
melakukan penelitian tentang efek pada keluarga pemisahan perang
diinduksi dan reuni, selama perang dunia II.Berdasarkan
penelitiannya, Hill (1965) mengembangkan "ABCX" model stres
keluarga. Dalam model ini :

1."A" adalah peristiwa atau stressor yang, dengan kesulitan yang


terkait, menyebabkan perubahan dalam sistem keluarga.

2."B" mengacu pada kekuatan atau sumber daya, dukungan sosial,


kesehatan fisik, fleksibilitas keluarga, dan mekanisme koping
keluarga.

3."C" mengacu pada cara keluarga menilai keseriusan peristiwa


stressor atau arti subjektif bahwa keluarga menempel pada peristiwa
tersebut.

4.“X” mengacu pada hasil yaitu krisis.


Lanjutan..
• Menurut model stres keluarga (Artinian, 1994), kejadian
tak terduga atau tidak direncanakan biasanya dianggap
sebagai stres dan mereka memiliki potensi untuk
menjadi mengganggu keluarga. Namun, peristiwa stres
dalam keluarga, seperti penyakit serius, lebih
mengganggu daripada stres yang terjadi di luar
keluarga, seperti banjir, depresi ekonomi, atau perang.

• Selanjutnya, peristiwa ambigu, yaitu, peristiwa yang


maknanya bagi keluarga tidak jelas, lebih stres daripada
peristiwa yang dapat dengan mudah ditafsirkan.
Akhirnya, jika sebuah keluarga tidak memiliki
pengalaman sebelumnya dengan peristiwa stressor,
keluarga lebih cenderung melihat peristiwa seperti stres.
MEKANISME KOPING
DEFINISI
Koping melibatkan upaya untuk
mengelola situasi yang membebani,
memperluas usaha untuk memecahkan
masalah-masalah hidup, dan berusaha
untuk mengatasi dan menguragi stres

Menurut Lazarus dan Folkman (dalam Smet,


1994: 143) mengatakan bahwa perilaku
koping merupakan suatu proses dimana
individu mencoba mengelola jarak yang ada
antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan
yang berasal dari individu maupun tuntutan
yang berasal dari lingkungan)
Bentuk-Bentuk Strategi Koping
Lazarusdan Folkman (Gerald C. Davison, 2010: 276)
mengidentifikasikan dua bentuk strategi koping, yaitu:

A.Koping yang berfokus pada masalah (problem focused coping) mencakup


bertindak secara langsung untuk mengatasi masalah atau mencari informasi
yang relevan dengan solusi. Contohnya adalah menyusun jadwal untuk
menyelesaikan berbagai tugas dalam satu semester sehingga megurangi
tekanan pada akhir semester.

B.Koping yang berfokus pada emosi (emotion focused coping) merujuk


pada berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional
negatif terhadap stres, contohnya dengan mengalihkan perhatian dari
masalah, melakukan relaksasi, atau mencari rasa nyaman dan orang
lain.
Lanjutan..
Dari bentuk-bentuk tingkah laku dalam menghadapi stres tersebut,
Taylor mengembagkan teori koping dari Folkman dan Lazarus (Bart
Smet, 1994; 145) menjadi 8 macam indikator srtategi koping yang
tergabung dalam kedua strategi diatas, yaitu :
A.Problem focused coping, yang terdiri dari 3 macam yaitu :
1. Konfrontasi
2.Mencari dukungan sosial
3.Merencanakan pemecahan permasalahan

B.Emotional focused coping, yang terdiri dari 5 macam yaitu:


1.Kontrol diri
2. Membuat jarak
3. Penilaian kembali secara positif
4. Menerima tanggung jawab
5. Lari atau penghindaran
Macam-Macam Koping

A.Koping psikologis
Pada umumnya gejala yang ditimbulkan akibat stres
psikologis tergantung pada dua faktor, yaitu:
1.Bagaimana persepsi atau penerimaan individu terhadap
stressor
2. Keefektifan strategi koping yang digunakan oleh individu

B. Koping psiko-sosial
Merupakan reaksi psiko-sosial terhadap adanya stimulus
stres yang diterima atau dihadapi oleh klien
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU
KOPING

• Menurut Smet (dalam smet, 1994: 130) perilaku


koping dipengaruhi beberapa faktor, antara lain :
– Kondisi individu: umur, tahap kehidupan, jenis
kelamin, temperamen, pendidikan, intelegensi, suku,
kebudayaan, status ekonomi dan kondisi fisik.
– Karakteristik kepribadian: introvert-ekstrovert,
stabilitas emosi secara umum, kekebalan dan
ketahanan.
– Sosial-kognitif: dukungan sosial, dukungan yang
diterima, integrasi dalam jaringan sosial.
– Strategi dalam melakukan koping.
PROSES KOPING
1. Tahap “reaksi peringatan atau alarm” (tanggapan
terhadap bahaya)
Tanggapan ini berfungsi untuk mengerahkan sumber daya tubuh
melawan stres. Pada awal tanggapan terhadap bahaya itu, untuk sesaat
reaksi tubuh turun di bawah normal.
2. Tahap “adaptasi atau resistensi”
Gejala-gejala semula menghilang. Terjadi penyesuaian dengan
perubahan lingkungan, dan bersangkutan dengan ini terciptalah suatu
peninggian “daya tahan”.
3. Tahap “kelelahan” (exhaustion)
•Cadangan adaptasi yang tersedia dalam organisme telah terpakai
.
habis Pada tahap yang terakhir stres psikologik akan menampakkan
diri dalam bentuk sakit fisik dan sakit psikis.
Strategi Koping Disfungsional
1.Penyangkalan Masalah Keluarga
Penyangkalan adalah mekanisme pertahanan
yang digunakan oleh anggota keluarga dan keluarga
sebagai satu kesatuan.
A.Penyangkalan dan eksploitasi emosional anggota
keluarga
1). Mengambinghitamkan
tindakan ini menurunkan tingkat ketegangan
sistem keluarga dan memungkinkan keberlanjutan
homeostatis keluarga, namun mengorbankan
kesehatan emosional satu anggota keluarga-orang
yang dikambinghitamkan atau pasien yang
teridentifikasi.
2).Penggunaan Ancaman
B.Penyangkalan dilihat dari sistem keyakinan keluarga : mitos
keluarga
C.Penyangkalan dilihat dari pola komunikasi : Triangling
D.Penyangkalan dipelihara melalui penjarakan emosional :
pseudomutualitas
E.Pola dominansi/kepatuhan ekstrem: otoritarianisme

2.Perpecahan dan Kecanduan dalam Keluarga


A.Keluarga yang mengalami kecanduan
BKekerasan dalam keluarga
Fungsi Strategi Koping Stres

Folkman dan Lazarus strategi koping yang berpusat


pada emosi (emotional focused coping) berfungsi untuk
meregulasi respon emosional terhadap masalah.
Sedangkan strategi koping yang berpusat pada masalah
(problem focused coping) berfungsi untuk mengatur dan
merubah masalah penyebab stres
Strategi Koping Keluarga
Internal
1. Strategi hubungan
1).Mengandalkan kelompok keluarga
a).Membentuk struktur yang lebih besar dalam
keluarga
b).Kontrol yang lebih besar terhadap subsistem
c).Disiplin diri dalam keluarga
2. Strategi kognitif
1).Normalisasi
a).Ikut serta dalam kegiatan menjadi orang tua
b).Membatasi kontak dengan orang lain dengan keadaan serupa
c).Membuat anak tampil normal
d).Menghindari situasi-situasi yang mendatangkan rasa malu
e).Mengontrol informasi
2) Pengendalian makna masalah dengan
membingkai ulang dan penilaian pasif
a).Cenderung melihat segi positif dari kejadian yang
menimbulkan stress
b).Reframing Yaitu cara koping bersifat perseptual dari
individu dan keluarga
3).Pemecahan masalah bersama
a).Berfokus pada rutinitas dan gangguan yang diterima
dalam kehidupan keluarga
b).Digambarkan sebagai suatu situasi dimana keluarga
mendiskusikan masalah yang ada secara bersama-sama
mencari solusi, perencanaan (konsensus) tentang hal
yang perlu dilakukan
c).Koping fungsional orientasi pemecahan masalah
3.Strategi Komunikasi
1.).Terbuka dan jujur
a).Tentukan waktu bersama-sama
b).Saling mengenal
c).Membahas masalah secara bersama
d).Merancang sebuah proyek keluarga
e.).Mengembangkan ritual-ritual (keyakinan dalam keluarga)
f.).Bermain bersama-sama
g.).Bercerita hendak tidur
h).Pengungkapan tentang pekerjaan dan sekolah
i).Jangan ada jarak diantara keluarga
2).Menggunakan humor dan tawa
Sumbangan perbaikan sikap-sikap keluarga terhadap
masalah-masalah dan perawatan kesehatan
Humor
Strategi Koping Keluarga
Eksternal
1. Mencari informasi : pengetahuan dan
informasi tentang stressor
2. Memlihara hubungan aktif dengan
komunitas : organisasi, klub dan kelompok
komunitas lain
3. Mencari dukungan sosial
4. Mencari dukungan spiritual : Mentolerir
ketegangan yang kronis dan membantu
memelihara keutuhan keluarga
ADAPTASI
DEFINISI
• Adaptasi/penyesuaian diri adalah
mengubah diri sesuai dengan keadaan
lingkungan tetapi juga mengubah
lingkungan sesuai dengan keadaan
(keinginan diri). Mengubah diri sesuai
dengan keadaan lingkungan sifatnya pasif
(autoplastik).
TUJUAN
• Tujuannya agar keluarga dapat
beradaptasi ketika memasuki suatu
lingkungan baru, misalnya; keluarga,
perusahaan, Bangsa, menata atau
menanggapi lingkungannya.
MACAM-MACAM ADAPTASI
Paling tidak ada tiga macam adaptasi :
(1) adaptasi fungsional.
(2) adaptasi epi/genetik dan
(3) adaptasi budaya (Gianpiero, 2012).
HOME VISIT
DEFINISI

Home Visit adalah komponen dari pelayanan kesehatan yang


komprehensif dimana pelayanan kesehatan disediakan untuk
individu dan keluarga di tempat tinggal mereka dengan tujuan
mempromosikan, mempertahankan atau memaksimalkan level
kemandirian serta meminimalkan efek ketidakmampuan dan
kesakitan termasuk di dalamnya penyakit terminal.
TAHAPAN
• Memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan
• Observasi lingkungan berkaitan dengan keamanan perawat
• Minta keluarga menandatangani form persetujuan pelayanan keperawatan
kesehatan di rumah (untuk kunjungan pertama kali)
• Lengkapi pengkajian data dasar pasien, review program pengobatan
mencakup efek terapi dan efek samping obat yang diberikan, anjurkan
pasien atau keluarga menginformasikan masalah-masalah yang dihadapi
• Diskusikan rencana pelayanan yang telah dibuat untuk pasien dan
identifikasi kemajuan atau hal lain yang perlu ditingkatkan
• Lakukan perawatan langsung dan pendidikan kesehatan sesuai dengan
kebutuhan
• Diskusikan kebutuhan rujukan, kolaborasi dan konsultasi yang diperlukan
• Diskusikan rencana kunjungan selanjutnya dan aktifitas yang akan
dilakukan
• Dokumentasikan kegiatan/informasi yang diperoleh
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN
a. Keuntungan
Memberi kesempatan pada pelayanan individu
Keluarga lebih siap dengan pend. kesehatan pada kunjungan rumah
Informasi lebih akurat dan valid melalui observasi
Ada partisipasi keluarga
Individu/keluarga lebih menerima dan merasa nyaman karena berada di lingkungan
rumahnya
Mengurangi biaya pengobatan / perawatan klien (bila RS) Keluarga dapat difasilitasi
b. Kerugian
Butuh waktu dan biaya yg lebih banyak
Tidak efisien bagi perawat karena banyak dikunjungi
Gangguan saat interview sulit dikontrol: suara tv, anak menangis, dll.
Keluarga merasa takut terhadap kunjungan dan Klien resisten dengan persepsi otoritas
diri
Butuh tenaga tambahan & perhatian dari keluarga
KARAKTERISTIK
 sebagai bentuk pelayanan kesehatan promotif dan
preventif yang menjadi prioritas utama dengan tidak
mengabaikan upaya pengobatan, pencegahan
kecacatan yang dilakukan dalam bentuk kegiatan
komunikasi, informasi dan edukasi.
 Tatacara pelayanan tidak diselenggarakan secara
terpisah – pisah, namun dilkukan secara terpadu
(interdisiplin) dalam rangka memenuhi kebutuhan klien.
 Pendekatan penyelenggaraan pelayanan secara
menyeluruh.
KEKUATAN KELUARGA DAN
PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELUARGA
Struktur Kekuatan Keluarga dan
Pengambilan Keputusan
• Adalah kemampuan potensial/aktual dari individu
keluarga untuk mengubah prilaku anggota keluarga yang
lain. Terdapat 5 unit berbeda yang dapat dianalisis
dalam hal karakteristik kekuasaan keluarga (McDonald,
1980) :
• Kekuasaan pernikahan (pasangan orang dewasa)
• Kekuasaan orang tua
• Kekuasaaan anak
• Kekuasaan saudara kandung
• Kekuasaan kekerabatan
• Pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif
terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti
(digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah.

1.Peran Anggota Keluarga dalam Pengambilan Keputusan


• Influencer (orang yang mempengaruhi)
• Gatekeeper (penjaga pintu atau penyaring informasi)
• Decision Maker (pengambil keputusan)
• Buyer (pembeli)
• Provider (orang yang mempersiapkan)
• User (pemakai)
• Maintenancer (pemelihara)
• Organizer (pengatur)
2.Faktor
A.Internal , berasal dari dalam individu meliputi kreativitas individu,
persepsi, niali-nilai yang dimiliki individu, motivasi dan kemampuan
analisis permasalahan.
B.Eksternal, berasal dari luar individu. Memiliki rentang waktu dlm
pembuatan keputusan, informasi dan komunitas individu saat mengambil
keputusan, seperti peran pengaruh sosial maupun peran kelompok

3.Proses Pengambilan Keputusan


A.Pembuatan keputusan konsensus adalah adanya komitmen yang sama
untuk memutuskan, begitu pula dengan keputusan oleh anggota keluarga
disetujui melalui diskusi dan negosiasi.
B.Pembuatan keputusan akomodasi merupakan perasaan awal anggota
keluarga tentang suatu isu, penuh pertentangan. Dapat melalui kompromi
secara sukarela
C.Pembuatan keputusan de facto terjadi apabila sesuatu hal dibolehkan
terjadi begitu saja tanpa perencanaan
NILAI – NILAI KELUARGA
DEFINISI

Nilai keluarga merupakan suatu system, sikap


dan kepercayaan yang secara sadar atau tidak,
mempersatukan anggota keluarga dalam satu
budaya. Nilai keluarga juga merupakan suatu
pedoman bagi perkembangan norma dan
peraturan yang terdapat dalam keluarga.
Perubahan Nilai pada Keluarga
• Berkembangnya kebudayaan materi
• Tingkat penemuan dan inovasi teknologi
• Perbaikan fasilits transportasi dan
komunikasi
• Meluasnya industrialisasi
• Urbanisasi
Nilai – Nilai Keluarga
• Sebuah nilai dari keluarga dan sistem
keyakinan membentuk pola-pola tingkah
lakunya sendiri dalam menghadapi
masalah-masalah yang dihadapi oleh
keluarga. Keyakinan-keyakinan dan nilai-
nilai keluarga membentuk pandangan
yang keluarga miliki terhadap stressor dan
bagaimana mereka harus memberikan
respon terhadap stressor.
Faktor yang mempengaruhi
Sistem Nilai Keluarga
• Kelas sosial
• Budaya
• Latar belakang agama
• Tingkat alkulturasi dengan kebudayaan
yang dominan
• Tahap perkembangan
• Idiosinkrasi (keadaantidak normal / tidak
sesuai) keluarga dan pribadi

FUNGSI AFEKTIF KELUARGA
DEFINISI
• Menurut Friedman (1986), definisi fungsi
afektif keluarga adalah fungsi internal
keluarga untuk pemenuhan kebutuhan
psikosial, saling mengasah dan
memberikan cinta kasih, serta saling
menerima dan mendukung. Fungsi afektif
ini merupakan sumber kebahagiaan dalam
keluarga. Keluarga memberikan kasih
sayang dan rasa aman.
Frieadman (1986) juga mengidentifikasi
fungsi afektif keluarga yaitu:
• 1. Memberikan perlindungan psikologis.
• 2. Menciptakan rasa aman.
• 3. Mengadakan interaksi.
• 4. Mengenal identitas individu
Masalah yang Muncul untuk Fungsi Afektif
Keluarga yang Berubah
1. Gangguan proses keluarga
Yaitu keadaan dimana sebuah keluarga yang normalnya berfungsi secara efektif
mengalami disfungsi.
Contoh: Keluarga dalam keadaan stress dpt mengabaikan kebutuhan psikologis.
2. Gangguan menjadi orang tua.
Yaitu bila kemampuan dari figur pengasuhan untuk menciptakan lingkungan yang
meingkatkan pertumbuhan dan perkembangan manusia lain yang optimal menjadi
lemah.
3. Potensial gangguan menjadi orang tua.
Definisi sama seperti diatas, kecuali bahwa “potensial” ditambahkan pada menjadi
lemah.
4. Berkabung yang disfungsional.
Yaitu proses maladaptif yang terjadi bila kesedihan bertambah dalam sehingga orang
tersebut tidak berdaya dan memperlihatkan respon emosional yang berlebihan.

KOMUNIKASI KELUARGA
DEFINISI
Menurut Rae Sedwig (1985), Komunikasi
Keluarga adalah suatu pengorganisasian
yang menggunakan kata-kata, sikap tubuh
(gesture), intonasi suara, tindakan untuk
menciptakan harapan image, ungkapan
perasaan serta saling membagi pengertian

Komunikasi dalam keluarga juga dapat diartikan


sebagai kesiapan membicarakan dengan terbuka
setiap hal dalam keluarga baik yang menyenangkan
maupun yang tidak menyenangkan, juga siap
menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga
dengan pembicaraan yang dijalani dalam kesabaran
dan kejujuran serta keterbukaan.
Peran Perawat dalam Memberikan
Asuahan Perawatan Keluarga
Dalam memberikan asuhan perawatan keluarga, ada beberapa
peranan yang dapat dilakukan oleh perawat antara lain:

a. Pemberian asuhan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit


b. Pengenal atau pengamat masalah kebutuhan kesehatan keluarga
c. Koordinator pelayanan kesehatan dan keperawatan kesehatan
keluarga
d. Fasilitator, menjadikan pelayanan kesehatan itu mudah dijangkau
dan perawat mudah dapat menampung permasalahan yang dihadapi
keluarga dan membantu mencarikan jalan pemecahannya
e. Pendidikan kesehatan, perawat dapat berperan sebagai pendidik
untuk merubah perilaku keluarga dari perilaku tidak sehat menjadi
perilaku yang sehat.
Hambatan Komunikasi dalam
Keluarga
1. Kebisingan
2. Keadaan psikologis komunikan
3. Kekurangan komunikator atau komunikan
4. Kesalahan penilaian oleh komunikator
5. Keterbatasan pengetahuan komunikator atau komunikan
6. Bahasa
7. Isi pesan berlebihan
8. Bersifat satu arah
9. Faktor teknis
10. Kepentingan atau interes
11. Prasangka
12. Cara penyajian yang verbalistis
Untuk mengatasi hambatan tersebut di atas, dapat
ditanggulangi dengan cara sebagai berikut :

1. Mengecek arti dan maksud yang dikatakan


2. Meminta penjelasan lebih lanjut
3. Mengecek umpan balik atau hasil
4. Mengulang pesan yang disampaikan
5. Memperkuat dengan bahasa isyarat
6. Mengakrabkan pengirim dan penerima
7. Membuat pesan selalu singkat
8. Mengurangi banyaknya mata rantai
9. Menggunakan orientasi penerima
ASUHAN KEPERAWATAN
A.Pengkajian
1.Data dasar keluarga
a)Nama kepala keluarga : Tn. A
b) Usia : 67 tahun
C) Komposisi Keluarga :
D.genogram
e).Tipe keluarga : Tri generation ( terdiri dari
ayah,ibu, anak, cucu
f).Suku banga : latar belakang budaya
keluarga masih mempercayai pengobatan ke orang
pintar. Hubungan keluarga kurang harmonis karena
faktor ekonomi yang rendah sehingga ketiga anaknya
yang udah menikah juga ikut tinggal bersama dengan
Tn.A. Dan Tn.A mengeluh batuk karena alergi sudah
berobat ke pkm karena status keluarga dengan
ekonomi rendah jadi lanjut dengan pengobatan ke
orang pintar tetapi belum sembuh total sehingga
mengakibatkan permasalah dan keluarga kurang
harmonis.
2.Perkembangan keluarga
a).Tahap perkembangan saat ini : keluarga dengan lanjut
usia
b).Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi :
tugas perawatan kesehatan dan keluarga yang kurang
mempertahan hubungan yang harmonis
c).Riwayat keluarga inti : social ekonomi rendah
mengakibatkan anak yang sudah menikah ikut tiggal
dalam satu rumah dan kesehatan Tn.A belum terawat
dengan baik
3.Riwayat kesehatan keluarga : Tn. A mengalami batuk
karena alergi
4.Data lingkungan
a).Perkumpulan keluarga & interaksi dengan komunitas : hubungan
dengan mayarakat tidak tergambarkan dengan jelas tetapi hubungan
antar keluarga masih kurang harmonis
b).Sistem pendukung keluarga : petugas pelayanan kesehatan yang
melakukan home visit
5.Struktur keluarga
a).Pola komunikasi : emotional destruktif, karena dipengaruhi oleh
faktor social ekonomi dan kesehatan anggota keluarga
b).Struktur kekuatan keluarga : pengambilan keputusan tidak
tergambarkan dengan jelas
c).Struktur peran : peran terjalankan tetapi terdapat hambatan di
social ekonomi
d).Nilai-nilai kebudayaan : masih mempercayai pengobatan ke orang
pintar
ANALISA DATA
Lanjutan. . .
Intervensi Keperawatan