Anda di halaman 1dari 107

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR

SEMEN PADANG HOSPITAL


No : /SK/DIR/SPH/08/2016

TE NTAN G
PENETAPAN BUKU SAKU PANDUAN AKREDITASI SEMEN PADANG HOSPITAL

Menimbang :
A. Bahwa dalam rangka ketertiban dan kelancaran pelayanan Semen Padang Hospital, perlu ditata dan dilaksanakan sebagaimana
mestinya.
B. Bahwa untuk menunjang terlaksananya ketertiban dan kelancaranpelayanan Semen Padang Hospital, maka untuk panduan bagi
karyawan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing di RS, perlu menyusun buku saku panduan akreditasi Semen
Padang Hospital.
C. Bahwa buku saku Panduan Akreditasi Semen Padang Hospital telah selesai disusun dan dirumuskan.
D. Bahwa untuk pelaksanaan poin-poin tersebut di atas, perlu diatur dan ditetapkan dengan Surat Keputusan.
Mengingat :
1. Undang-undang Nomor 29 tahun 2004, tentang Praktik Kedokteran
2. Undang-undang Nomor 36 tahun 2009, tentang Kesehatan
3. Undang-undang Republik Indonesia nomor 44 tahun 2009, tentang Rumah Sakit.
4. Undang-undang Nomor 36 tahun 2014,tentang Tenaga Kesehatan
5. Undang-undang Nomor 38 tahun, tentang Keperawatan
6. Peraturan mentri Kesehatan Nomor 1173/Menkes/per/x/2004 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit
7. Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 1691/MENKES/159/I/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
M E M U T U S K A N:

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR UTAMA SEMEN PADANG HOSPITAL TENTANG PENETAPAN BUKU SAKU
PANDUAN AKREDITASI SEMEN PADANG HOSPITAL
Pertama : Buku Saku Panduan AKreditasi Semen Padang Hospital sebagaimana yang tersebut pada lampiran surat keputusan ini.
Kedua : Bagi karyawan Semen Padang Hospital dalam pelaksanaan tugas agar berpedoman dan mengacu kepada buku saku
panduan akreditasi yang dimaksud
Ketiga : Surat Keputusan ini berlaku terhitung mulai tanggal ditetapkan dan akan diperbaiki kembali sebagaimana mestinya
apabila kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapannya

Ditetapkan di Padang
Tanggal .....Oktober 2016
Semen Padang Hospital

dr. Abdi Setia Putra, MARS


Direktur Utama
BUKU SAKU PANDUAN
AKREDITASI

SEMEN PADANG HOSPITAL


VISI DAN MISI
-VISI
Menjadi Rumah Sakit umum terbaik di Sumatera Barat
-MISI
1. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi pelanggan dengan
tenaga medis yang kompeten dan didukung oleh peralatan dan teknologi
kedokteran yang handal.
2. Menunjang tanggung jawab sosial PT Semen Padang (CSR) berupa
penyedia fasilitas pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat sehingga
terwujudnya pola hidup sehat.
3. Membantu perekonomian nasional dengan berusaha mengurangi
pengeluaran devisa untuk berobat ke luar negri.
-MOTO
SEMEN PADANG HOSPITAL
STANDAR AKREDITASI
1. APK : Akses ke pelayanan dan kontinuitas ke pelayanan
2. HPK : Hak pasien dan keluarga
3. AP : Asesmen pasien
4. PP : Pelayana pasien
5. PAB : Pelayana anestesi dan bedah
6. MPO : Manajemen dan pengendalian obat
7. PPK : Pendidikan pasien dan keluarga
8. PMKP : Peningkatan Mutu dan keselamatan pasien
9. PPI : Pencegahan dan pengendalian infeksi
10.TKP : Tata kelola, kepemimpinan, dan pengaturan
11.MFK : Manajemen fasilitas dan keselamatan
12.KPS : Kualifikasi dan pendidikan staf
13.MKI : Manajemen komunikasi dan informasi
14.SKP : Sasaran keselamatan pasien
15.MDGs : Milenium Development Goals
APK
( akses ke pelayanan dan kontinuitas ke pelayanan)
SKRING PASIEN DI IGD (TRIAGE)
Routine triage :
Emergensi RS menggunakan sistem triage:
EMERGENT
URGENT
NON URGENT
IMMEDIATE NEEDS : untuk pasien infeksius, diprioritaskan untuk transfer

Disaster Triage :
Merah : EMERGENT (kebutuhan pasien segera dilihat)
Kuning : URGENT
Hijau : NON URGENT
Hitam : MENINGGAL
PEMULANGAN / DISCHARGE
DPJP mengisi resume medis/ discharge summary yang isinya:
1. Alasan admisi/MRS
2. diagnosa dan penyakit penyerta,
3. Tanda-tanda fisik dan temuan lain yang signifikan
4. Hasil Prosedur diagnostik dan/ tindakan terapetik
5. Obat-obatan selama perawatan termasuk obat saat pulang
6. Kondisi / keadaan pasien saat pulang
7. Instruksi lanjut / follow-up / Discharge Instruction
DISCHARGE INSTRUKTION/ INSTRUKSI PULANG
FOLLOW UP
Discharge Instruction :
a. waktu untuk kontrol lagi
b. kapan harus segera kembali jika terjadi keadaan emergency
c. instruksi perawat selama dirumah

 untuk memberikan informasi tertuls kepada pasien / keluarga saat pasien akan
dipulangkan dari rs terkait data dan obat untuk diminum setelah pulang
 discharge instruction harus ditulis agar pasien / keluarga mengerti informasi yang
diberikan. jangan singkatan atau istilah medis.
RESUME MEDIS RAWAT JALAN (SUMMARY LIST)
1. Setiap pasien dengan riwayat kunjungan berulang (multiple visit), multiple
problem, multiple clinic, dibuatkan resume medis rawat jalan.

2. Resume dibuat berisi informasi:


• Diagnosa kerja
• Alergi obat
• Obat yang dikonsumsi saat ini
• Prsedur paska operasi
• Paska rawat
TRANSFER INTERNAL / DALAM RS
Setiap pasien yang akan ditransfer harus diperiksa terlebih dahulu kondisinya
dengan mengisi form trasnfer pasien.

-Pasien yang akan masuk Intensive care (ICU, CVCU, NICU)


• HARUS MEMENUHI KRITERIA MASUK (physiologic based)
• HARUS MEMENUHI KRITERIA KELUAR ( physiologic based)
-Pasien masuk ruangan perawatan khusus : (high care, stroke unit/stroke corner)
• HARUS MEMENUHI KRITERIA MASUK (physiologic based)
• HARUS MEMENUHI KRITERIA KELUAR ( physiologic based)
-Pasien tidak ditranfer dari IGD ke ruanagn perawatan sebelum hasil
pemeriksaan penunjang standart minimal di ketahui hasilnya.
-setiap akan ditansfer antar ruangan (masuk / keluar), DPJP harus menuliskan
resume sementara pasien.
TRANSFER EKSTERNAL/ KE RS LAIN
 Komunikasi dan informasikan kebutuhan perawatan pasien ke rs yang akan
menerima pasien, catat siapa yang memberikan kepastian ketersediaan tempat
tidur sebelum pasien ditransfer.
 Dokter bertanggung jawab menulis form transfer eksternal serta resume medisnya.
resume medis dicopykan ke rs penerima pasien.
 kaji kebutuhan transportasi termasuk tenaga medis yang akan mendampingi
dengan mengisi form pengkajian kebutuhan transportasi.
HPK

(Hak Pasien dan Keluarga)


Hak Pasien dan Keluarga

1. Hak pasien dan keluarga


2. Privacy, confidentiality, security
3. Informed consent
4. Penelitian/ research
5. Donasi organ
HAK PASIEN ( UURS 44/2009)
1. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku dirumah
sakit.
2. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien.
3. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi.
4. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar prosedur
operasional.
5. Memperoleh layanan yang efektif dan efesiensi sehingga pasien terhindar dari
kerugian fidik dan materi.
6. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan.
7. Memilih dokter dan kelas keperawatan sesuai dengan keinginan dan peraturan
yang berlaku di rumah sakit.
8. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang
mempunyai surat izin prakter (SIP) baik di dalam maupun diluar rumah sakit.
9. Mendapat privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data
medisnya.
10.Mendapatkan informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis,
alternatif tindakan , risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis
terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan.
11.Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh
tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya.
12.Didampingi keluarga dalam keadaan kritis sesuai kebijakan RS.
13.Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianut selama hal itu
tidak menggangu pasien lain.
14.Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di
rumah sakit.
15.Mengajukan usul, saran, perbaikanatas perlakuan rumah sakit terhadap dirinya.
16. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan
kepercayaan yang dianutnya.
17.menggugat dan/ atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit diduga
memebrikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata
ataupun pidana.
18.Mengeluh pelayanan RS yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui
media cetak dan elektronik sesuai peraturan Per UU-an.
KEWAJIBAN PASIEN
1. Mematuhi ketentuan / peraturan dan tata tertib yang berlaku di rumah sakit.
2. memebrikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya
kepada dokter yang merawat.
3. Mematuhi nasehat dan petunjuk dokter atau doker gigi dan perawat dalam
pengobatannya.
4. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.
5. Menghargai hak pasien lain dan tenaga kesehatan.
6. menjaga kebersihan lingkungan dan tidak melakukan tindakan kriminal selama
dalam perawatan.
7. Memenuhi hal-hal yang disepakati.
HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN
 Penjelasan mengenai hak & kewajiban pasien dan keluarganya dilakukan oleh
petugas pendaftaran rawat jalan dan admisi rawat inap pada saat pasien mendaftar.
 Penjelasan mengenai hak dan kewajiban disampaikan dalam bahasa dan cara yang
dapat dimengerti (lisan/ tertulis).
 jika informasi tertulis/lisan tidak memungkinkan ,RS menyediakan penerjemah.
 Jika didapatkan overload pasien sehingga privasi pasien akan tertanggu, yang
menyebabkan satu ruangan diisi oleh pasien dengan kapasitas yang berlebih, maka
pasien akan diberikan penjelasan mengenai keterbatasan fasilitas RS oleh perawat
dan didokumentasikan.
CONFIDENTIALITY / KERAHASIAAN
• Akses informasi pasien medis dan non medis hanya dapat diberikan sesuai aturan
dan kebijakan RS. Kerahasian informasi meliputi M, laporan lab, waktu masuk
RS, jadwal prosedur, keuanagan dan informasi asuransi.
• Untuk menjaga kerahasian pasien :
1. Hindari bebricara tentang pasien di area publik, serta elevator, koridor rs, kantin
dll
2. Jaga RM pasien digunakn oleh orang yang tidak berwenang
3. lindungi layar komputer dan perbincangan telepon dari orang yang tidak
berwenang
4. jangan membicarakan informasi pasien kecuali dengan ijin pasien atau aturan
yang berlaku.
SECOND OPINION
(PERMINTAAN PENDAPAT AHLI LAINNYA)
Second opinion adalah hak pasien untuk mendapatkan
pertimbangan/ pendapat dari dokter lain dengan keahlian yang sama,
baik yang berasala dari Semen Padang Hospital maupun dari luar
RS.
TIDAK DILAKUKAN TINDAKAN RESISITASI
( DO NOT RESUSCITATE)
 Tidak dilakukan tindakan resusitasi (DNR) adalah saat pasien mengalami henti
fungsi jantung dan paru -paru secara tiba - tiba dan tidak dilakukan tindakan medis
apapun.
 Tindakan medis tersebut bisa berupa pemberian tekanan pada dinding thorax
untuk memacu kontraksi otot jantung atau dengan mesin defiblator ( DC Shock),
pemberian nafas buatan dari mulut ke mulut, atau mesin ventilator dan obat-
obatan yang mempengaruhi cardio- pulmo-vaskuler.
 Pada penyakit kronis dengan stadium terminal dan irreversibel berarti segala
tindakan medis yang agresif tidak membawa manfaat lagi.
INFORMED CONCENT
Informed consent dilakukan sebelum prosedur operasi atau memberikan anestesi,
prosedur invasif atau prosedur tepeutik, memebrikan produk darah, mengangkat
organ atau jarngan dari orang hidup atau sudah meninggal untuk tujuan tertentu.
Tanggung jawab dokter untuk melakukan informed consent.

Jenis informed concent:


1. IC GENERALA
2. IC BEDDAH
3. IC ANESTESI
4. IC TRANSFUSI DARAH
5. IC LAIN - LAIN

Yang berhak memeberikan persetuuan atau penolakan adalah pasien atau


keluarganya.
TANGGUNG JAWAB PERAWAT DALAM
INFORMED CONCENT
 Saksi pasien menandatangani lembar consent.
 menghubungi dokter bila pasien bimbang akan prosedur yang akan dilakukan
 Verifikasi kelengkapan informed concent sebelum prosedur dimulai.
 premendikasi tidak diberikan sebelum ada informed concent
 melengkapi ceklist preop / pre prosedur
 jangan kirim pasien OK jika infomed concent belum lengkap
 review kelengkapan form concent termasuk memastikan identikasi sisi operasi.
AP
( Asesmen Pasien)
AP ( Asesemen Pasien)
1. Asesmen pasien
Semua pasien harus dilakukan asesmen medis dan keperawatan awal yang dapat
diselesaikan dalam waktu 24 jam
1. Reases men pasien :
 Dokter setiap hari libur, kecuali kondisi pasien yang membutuhkan reasmen
segera
 Perawat setiap shift kecuali kondisi pasien membutuhkan reasesmen segera
1. Standar Pelayanan Laboratorium
2. Standar Pelayanan RadiologiSSS
PENGKAJIAN AWAL
• PENGKAJIAN AWAL TERDIRI DARI PENGKAJIAN AWAL MEDIS DAN
PENGKAJIAN AWAL KEPERAWATAN YANG HARUS DILENGKAPI
DALAM WAJTU 24 JAM .
• Pengkajian awal termasuk :
1. Alergi
2. Alasan masuk RS
3. Riwayat kesehatan
4. Hasil pemeriksaaan fisik
5. Status psikososial
6. Risiko jatuh
7. Status Fungsinal
8. Nyeri
9. Skirining gizi
10.Kebutuhn edukasi
11.Discharge planning
DISCHARGE PLANNING
Suatu pengkajian yang dilakukan untuk membuat perencanaan pemulangan
passien, yang dilakukan bersamaan dengan pengkajian awal pasien yang akan
masuk rawat inap ( terdokumentasi dalam pengkajian awal dokter di rekam
medis), yang bertujian untuk :
1. Melakukan identifikasi kebutuhan pasien saat pemulangannya dari rumah sakit.
2. memberikan waktu yang cukup untuk mempersiapkan pasien saat keluar rumah sakit
PP

(Pelayanan Pasien)
Pelayanan Pasien
1. Uniform care (keseragaman pelayanan)
seluruh pasien mendapatkan hak yang sama mendapatkan akses perawatan tidak
bergantung pada waktu tertentu dan tanpa membedakan status sosial pasien.
1. Continuity of care ( pelayanan berkesinambungan )
perawatan pasien yang terkoordinasi dan terintegrasi
• Rencana perawtan (care plan) dan prosedur yang dilakukan kepada pasien dicatat dalam
catatan terintegrasi
• Pasien dan keluarga diinformasikan mengenai hasil perawatan, termasuk jika ada hasil yang
tidak diinginkan

1. High risk patient


2. Nutrition care
3. Pain management
4. End of life care
PERAWATAN PASIEN DENGAN RISIKO TINGGI
Perawatan pasien dengan risiko 3.1Pasien dengan kegawat daruratan
tinggi meliputi: 3.2Pasien dngan pelayanan resusitasi
a. bagaimana perencanaan 3.3Pasien dengan penggunaan darah dan
perawatan termasuk perbedaan produk darah
antara dewasa dan anak 3.4Penanganan pasien lama
b. dokumen untuk komunikasi 3.5Pasien dengan comunicable disease
efektif antara tim (penyakit menular) dan imunosupresi
c. informed concent 3.6Pasien dengan dialisis
d. monitoring/ observasi pasien 3.7Pasien dengan penggunaan pengikat
e. kualifikasi/ komperensi khusus/ 3.8Pasien dengan populasi khusus (
keterampilan staf vilnerble) : bayi, anak , geriatri dll
f. ketersedian dan penggunaan alat 3.9Pasien dengan pengobatan kemoterapi.
khusus.
RESTRAINT / PENGEKANGAN
Prosedur untuk restraint
 estraint untuk pasien non-violent (tidak mencederai orang lain) misal pasien
delirium,gelisah
 Restraint untuk pasien yang violent (dapat mencederai diri sendiri atau orang
lain) misalnya pasien dengan gangguan psikatri

staf RS harus dapat :


 Memilih resrtraint berdasarkan hasil asessment
 mengenall dan merespon tanda-tnda fisik atau gangguan fisik pasien yang di
restraint
APA YANG HARUS DI MONITOR PADA PASIEN YANG DI
RESTRAINT
• Physical distress
 Gangguan respirator / anoxia
 Cedera saraf tepi atau sirkulasi inadekuat karena terlalu kencang memasang
restraint
 Kulit lecet, luka karena friksi
• Psychological distress
• Respirator status
• Skin integritas
• vital signs
• hydration, hygiene, elimination.
Prosedur
 jelaskan pasien alasan retraint.
• Periksa alat dan pastikan tidak terlalu kencang agar pasien dapat bernafas,
sirkulasi adekuat, dan mencegah friksi.
OBSERVASI PASIEN YANG DILAKUKAN RESTRAINT
Minimal setiap 2 jam dan catat
 jalan nafas( setiap 15 menit)
 keadaan kulit, ada luka/lecet
 sirkulasi darah (pada tempat/titik restraint)
 pertahankan posisi tubuh yang nyaman
 makanan dan cairan sesuai kondisi klinis dan jadwal pemberian
 mandi dan kebersihan mulut minimal setiap hari sekali
 BAB/BAK
PENGKAJIAN NYERI
1. Neonatal infant pain scale (NIPS) , Neonatal 0-2 bulan
2. FLACC Scale (face, legs, activity, cry, consolability)
3. VAS (Visual Assessment scale) Pain scale
4. Behavioural Pain Scale (BPS)
• untuk mengkaji pasien yang sedng tidak sadar, dengan ventilasi unconscius/or pasien
dengan sedasi
• untuk > 7 tahun
MANAJEMEN NYERI
1. Penilaian nyeri oleh perawat
2. Bila penilaian nyeri > 4 lapor DPJP
3. Evaluasi 2 jam kemudian
4. Bila penilaian nyeri > 4 lapor DPJP
5. Evaluasi 2 jam kemudian
6. Bila penilaian nyei < 4 evaluasi setiap shift sesuai evaluasivital sign
7. Bila evaluasi 2 jam penilaian nyeri >4 perawat konsul dokter anestesi
8. Evaluasi 2 jam kemudian bila penilaian nyeri > 4 evaluasi setiap shift sesuai
evaluasi vital sign
9. Bila Evaluasi 2 jam penilaian nyeri > 4 perawat konsul tim nyeri yang punya
kompetensi
10.Evaluasi nyeri setiap shif sesuai evaluasi

catatan : Penilaian nyeri yang dimaksud (>4) adalah untuk semua skala pengkajian
nyeri..
EDUKASI NYERI
Perawat akan memberikan edukasi pada pasien :
• bagaimana mengkomunikasikan nyeri mereka dengan menggunakan skala nyeri
yang tepat
• Rencana penatalaksanaan nyeri mereka, termasuk tujuannya
• pentingnya jadwal medikasi
• catat semua intruksi yang diberikan ke pasien dan respon edukasi pasien /
keluarga pada form yang ada.
Apa yang harus dilaporkan perawat terkait keluhan nyeri pada
pasien
perawat akan melaporkan hal-hal berikut kepada dokter dan mendokumentasikannya
dalam rekam medis:
1. nyeri yang tidak terkontrol
2. Pemberian terapi yang tidak menurunkan keluhan nyeri
3. Dampak buruk akibat pemberian obat nyeri, misal depresi pernafasan/ gangguan
pernafasan
4. nyeri yang baru dikeluhkan atau nyeri yang semakin memburuk
5. Peruban status mental, mual/muntah, retensi urin, konstipasi, gatal-gatal,
perubahan sensorik/motorik, uncontrolled pain.
Pasien dengan penggunaan darah dan produk darah
Order Transfusi darah
 darah yang sudah crossmatch hanya akan bertahan dalam 4 jam untuk pasien, bila
>24 jam, darah tersebut akan dikembalikan.

Dispensing blood product


 Bila ada darah yang tidak digunakan, segera kembalikan ke bankdarah. darah
dapat digantungkan maksimal 4 jam
Pre - administration
 verifikasi informed consent dan order darah
 Pastikan ukura karakter IV adekuat (adults : 20 gauge or large ; pediatrics ; size
depends on age / size of patient).
 Ukur vital sign (temperatur,BP,respiration ,and pulse
 Memberikan premedikasi bila diresepkan
 Verifikasi : identifikasi pasien, jenis produk, keutuhan kantong darah, form
permintaak produk darah, label produk darah (ABO dan RH compatibility untuk
RBC)
 Segera beritahu bank darah bila ada ketidak cocokan antara form permintaan
darah produk darah dan identifikasi pasien.
OBSERVASI
 Kaji dan catat tanda vital, setiap 15 menit
 Amati pasien 15 menit setelah transfusi. jika tidak ada reaksi lanjutkan
transfusi
 Amati pasien 15 menit pertama untuk : pusing, gelisah, menggigil, sesak
nafas, nyeri dada, hipotensi, nyeri, kemerahan, gatal, hipertensi, suhu
meningkat>10 c
PAB
(Pelayanan Anestesi dan Bedah)
PELAYANAN ANESTESI DAN BEDAH
Anestesi

1. informed consent : Risks, benefits and altenatives


2. Pre- anesthesia assessment
3. Pre- induction assessment
4. During anesthesia monitoring
5. Post anesthesia monitoring.
CARE PLAN ANATESI / SEDASI
Prosedur
1. Dokter anestesi melakukan asessment pra anestesi dengan mengisi form
asessment pra anestesi dan memberikan informed consent anestesi
2. Hasil temuan Asessment pra anestesi menetukan rencana pemilihan teknik
anestesi , care plan
3. monitoring durante anestesi terdokumentasi
4. monitoring pasca anestesi dengan kriteri discharg dari RR
BEDAH
1. Pemeriksaan pra bedah
2. Perencanaan pra bedah
3. Informed consent : risiko, manfaat, potensi, komplikasi
4. Dokumentasi proses pra bedah
5. Edukasi pasien dan keluarga
6. Laporan operasi (termasuk mencantumkan perkiraan jumlah pendarahan)
7. Pemantauan selama tindakan bedah
8. Tatalaksana pasca bedah
MPO
(Manajemen dan Pengelolaan obat)
ATURAN PENULISAN RESEP

Otoritas Penulisan Resep obat di Resep adalah :


Semen Padang Hospital hanya merupakan permintaan tertulis
pada dokter : dari dokter atau dokter gigi,
1. terdaftar sebagai dokter di Semen kepada apoteker untuk
Padang Hospital menyediakan dan menyerahkan
2. mempunyai surat tanda registrasi perbekalan farmasi bagi pasien.
(STR) dokter
3. mempunyai surat ijin praktek
(SIP) di Semen Padang Hospital
ATURAN PENULISAN RESEP
1. Penulisan resep harus lengkap
2. Seuruh isian dalam lembar resep pasien terisi lengkap, dapat dibaca dengan
mudah dan jelas penulisannya.
3. Apabila ditemukan resep tidak lengkap, tidak terbaca dan atau tidak jelas
maka dilakukan klarifikasi dengan dokter penulis resep baik langsung
maupun melalui telepon, hingga diperoleh kejelasan untuk dapat dilakukan
pelayanan.
4. Penulisan resep tidak boleh disigkat kecuali sesuai dengan standar
penulisan singkatan baku.
PENGGUNAAN NARKOTIKA
1. Yang berhak menulis resep adalah staf medis fungsional, dokter tamu dan dokter
PPds yang bertugas dan mempunyai surat ijin praktek (SIP) atau surat ijin
praktik kolektif (SIPK) , pada resep dicantumkan nama jelas, nomor SIP dan
indikasi penggunaannya.
2. Narkotika hanya dapat diberikan untuk indikasi :
– Persiapan pemeriksaan diagnostik.
– sedasi / relaksasi
– analgetik
3. Ruang rawat/ depo farmasi mengirim laporan mutasi dan pemakaian obat
narkotika dan psikotropika setiap bulan kepada kepala intalasi farmasi.
 Dokter menuliskan resep dengan mencantumkan indikasi penggunaan narkotika yang
diresepkan, nama jelas dan nomor surat ijin praktik (sip).
 Resep asli dilengkapi dengan foto copy KTP pasien pada resep pertama atau resep
dilengkapi dengan nama dan alamt pasien.
PERMINTAAN OBAT HERBAL
Tidak boleh order by phone :
1.obat narkotika
2.obat psikotrapika
3.obat kemoterapi
4.obat high alert

CITO ORDER by phone :


1.Mempersiapkan resep per
intruksi lisan (verbal) tidak boleh dilakukan dal
mintaan obat.
am keadaan normal , dalam jam kerja.
1.Menelepon depo farmasi
dengan spelling kebutuhan
CITO yang telah dicatat dalam
resep
1.klarifikasi jumlah kebutuhan
CITO
Permintaan secra obat melalui verbal order
1.Klarifikasi stok yang tersedia
hanya pada keadaan CITO emergency medic.
(yang dimiliki pasien) saat ini
1.Verifikasi pemberian dengan
7 (tujuh) benar.
PEMBERIAN OBAT PASIEN RAWAT INAP
Pemberian obat pada pasien rawat inap dilakukan oleh dokter dengan kriteria
• dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) pasien
• mempunyai surat tanda registrasi (STR) dokter
• mempunyai surt ijin praktek (SIP) dokter di RS
syaratperawat pemberian obat px.IRNA :
• perawat yang mempunyai surat tanda registrasi (STR) Perawat.
• selesai mengikuti masa orientasi
• untuk pemberian obat khusus seperti : kemoterapi, anestesi, dan high alert
dilakukan oleh perawat yang telah melakukan pelatihan spesialis dibidangnya
masing-masing.
pemberian obat khusus: kemoterapi dan anestesi general hanya dilakukan oleh dokter
spesialis dibidangnya masing -masing.
PEMBERIAN OBAT PASIEN RAWAT JALAN
Penyerahan obat pada pasien rawat jalan dilakukan olh tenaga yang memenuhi
kriteria yang dipersyaratkan sebagai berikut:
• apoteker yang telah mempunyai surat tanda registrasi apoteker (STRA)
• tenaga teknis kefarmasiian (TTK) yang telah mendapatkan surat tanda registrasi
tenaga teknis kefarmasian (STRTTK)
• terdaftar sebagai tenaga kefarmasian di RS
• selesai mengikuti masa orientasi.

konseling obat pasien dilakukan oleh APOTEKER.


PPK
(Pendidikan Pasien dan Keluarga)
Pendidikan Pasien dan Keluarga
1. asesmen kebutuhan edukasi setiap pasien
2. identifikasi hambatan
3. tentukan metode edukasi
4. tentukanlah topik edukasi
5. dokumentasi dalam rekam medis
6. setiap pasien dan anggota keluarga menerima edukasi untuk membantu mereka
dalam hal :
– memberikan informed consent
– pertisipasi dalam proses perawatan
– contoh edukasi : interaksi obat, interaksi obat dengan makanan, penggunaan alat medis,
nutrisi dll.
Edukasi Pasien
Pasien dan keluarga harus diadukasi tentang proses penyakitnya, rencana
perawatan dan dampak tindakan/ pengobatan yang diberikan. pasien &
keluarga harus diedukasi berdasarkan kemampuan belajar, nilai budaya,
keterampilan membaca dan bahasa.
catatan kesanggupan belajar pasien, penghalang emosi, keterbatasan fisik dan /
atau kognitif atau bahasa yang mempengaruhi pasien belajar.
– catatan semua edukasi yang sudah diterima pasien di Rs dalam rekam medik
– contoh edukasi pasien :
1. bagaimana mengkonsumsi obat dengan aman
2. bagaimana mencegah jatuh
3. interaksi obat - makanan
4. dll.
MATERI DAN TOPIK EDUKASI SESUAI
KEBUTUHAN PASIEN
• Penyakit dan diagnosa pasien
• tatalaksana
• edukasi obat
• edukasi interaksi obat dan makanan
• edukasi gizi
• edukasi rehab medik
• edukasi pengelolaan nyeri
• edukasi pemakaian alat medik

kapan diberikan edukasi?


• sejak pasien masuk di rawat
• selama dalam perawatan
• saat akan pulang.
PMKP
(Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien)
Penetapan Indikator Mutu Semen Padang Hospital
Tahun 2015
Indikator area manajerial Indikator area klinis Indikator area keselamatan
1.kekosongan stok obat very 1.pemberian aspirin dalam 24 jam pada
esensial pasien dengan infrak miokard
pasien
1.kepatuhan petugas dalam mel-
1.ketepatan waktu pengumpu 1.waktu tunggu pelayanan laboratorium
aksanakan identifikasi pasien
lan RL 5 ke kemenkes RI 2.waktu tunggu pelayanan radiologi
1.melakukan tbak saat menerima
1.penanganan insiden tertusuk 3.antibiotik profilaksis diberikan 1 jam
instruksi verbal per telepon
jarum infeksius sebelum insisi pada pasien pengganti
1.pengelolaan dan pelayanan re-
1.preventive maintenance alat sendi panggul
sep obat high alert
medik 1.penggunan kartikosteridsistematik pada
1.penerapan keselamatan operasi
1.kepuasan pasien pasien anak dengan asma yang dirawat
2.kepatuhan petugas dalam pen-
2.kepuasan staf 1.prescribing error
erapan kebersihan tangan
3.tersedianya gambaran diagn- 2.kelengkapan asesmen pra anestesi
1.prosentase kejadian pasien
osis klinis untuk 10 penyakit 3.permintaan produk darah tidak terpakai
jatuh
terbanyak dirumah sakit. 4.pengembalian RM lengkap dalam waktu
1.rasio pendapatan PNBP 24 jam
terhadap biaya operasional 1.konseling berhenti merokok pada
1.kepatuhan petugas dalam pasien dewasa perokok yang dirawat den-
memilih sampah infeksius dan gan pneumoni
non infeksius 1.penelitian dengan ethical clearance
INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
Insiden keselamtan pasien adalah tidak disengaja dan kondisi yang
mengakibatkan/ berpotensi menciderai pasien, yang dapat dicegah
insiden terdiri dari 5 jenis (permenkes 1691 th 2011)
1. kejadian sentinel
2. kejadian tidak diharapkan
3. kejadian tidak cedera
4. kejadian nyaris cedera
5. kondisi potensial cedera
kejadian sentinel (sentinel event)
suatu ktd yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius , biasanya dipakai
untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak diharapkan diterima .
1. kejadian tidak terduga dan tidak terkait dengan perjalanan penyakit pasien atau
kondisi yang mendasari penyakitnya.(contoh bunuh diri)
2. kehilangan fungsi yang yang tidak terkait dengan perjalanan penyakit pasien atau
kondisi yang mendasari penyakitnya,(contohnya pada operasi pengangkatan batu
ginjal, tidak sengaja ureter pasien terpotong, tidak dapat dikoreksi sehingga 1
ginjal tidak berfungsi).
3. salah tempat, salah prosedur, salah pasien bedah ( contoh amputansi kaki kiri tapi
yang diamputasi kaki kanan, pasien bekas secio caesarea akan melahirkan dalam
protap tidak boleh diinduksi dengan pitocin drip sehingga uterus ruptur dan
pasien meninggal, salah identifikasi pasien yang dioperasi.
4. bayi yang diculik atau bayi yang diserahkan kepada orang lain yang bukan orang
tuanya.
DEFINISI KTD DAN KTC
 KTD : Insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien. (contoh pasien DM
seharusnya diberi insulin dengan dosis tertentu, diberi insulin underdosis
sehingga terjadi hiperglikemi dan pasien yang tadinya sadar menjadi koma)
 KTC : Insiden yang sudah terpapar ke pasien, tetapi tidak timbul
cedera.(contoh pasien diberi obat yang salah dan sudah diminum tetapi
tidak terjadi reaksi apapun pada pasien)
DEFINISI KNC DAN KPC
 KNC : terjadi insiden yang belum sampai terpapar ke pasien.( contoh
pasien pasien diberi obat tetapi belum diminum/disuntik, diketahhui oleh
perawat lain bahwa obat tersebut salah, sehingga obat tersebut tidak jadi
diberikan)
 KTC : Kondisi yang sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera, tetapi
belum terjadi cedera .(contoh pasien stagnasi diIGD 40 orang, dokter IGD
2 orang dengan jumlah pasien baru 40 orang , di ICCU alat defiblator rusak
sudah dilaporkan sejak 1 minggu tapi belum ada tindakan, tensimeter tidak
pernah dikalibrasi).
pasien tidak near miss (NM)
cidera

medical eror

pasien cidera adverse event (AE)

proses of care pasien cidera adverse event


Alur pelaporan insiden keselamatan pasien ke sub komite keselamatan pasien
komite mutu dan manajemen risiko (KMMR)
INSIDEN (KNC/KTC/KTD/KEJADIAN SENTINEL)

tindakan lanjut buat laporan insiden


(dicegah/ditangani) pada akhir kerja dan
diserahkan ke instalasi

KA instalasi / unit memeriksa laporan (melakukan grading risiko)

dilihat hasil investigasi dan dilaporkan ke KMMR

KMMR menganalisis lagi hasil investigasi dan laporan insiden


untuk grade kuning / merah , KMMR akan melakukan root cause analysis (RCA)

KMMR akan membuat laporan dan rekomendasi untuk perbaikan serta


"pembelajaran" berupa: petunjuk / safety alert

hasil root cause analys (RCA), rekomendasi dan rencana kerja dilaporkan kepada
direksi

rekomendasi untuk " perbaikan dan pembelajaran " diberikan umpan balik kepada
unit kerja pelapor

KMMR akan membuat analisis dan trend kejadian di satuan kerjanya, monitoring
dan evaluasi perbaikan oleh KMMR
Analisis insiden keselamatan pasien

sentinel rca

merah &
kuning
KTD

risk grading
biru & hijau

KNC
investigasi
sederhana
Upaya diagnosa & solusi
patient involvement
communication
1. pelaporan IKp risk grading matix

6.implementasi & 2. analisis/belajar


measurement riset

KTD yan rs yang


lebih aman

5. pelatihan 3. pengembangan
seminar solusi

4. panduan pedoman
standar
penetapan 5 area prioritas (clinical pathway & PPK)
 Anak : Asma pada anak
 Paru : Pneumonia
 Syaraf : Stroke non hemoragik trombosis serebri
 Jantung : myocardinal infark acut
 Bedah : Hip arthroplasty
MFK
(Manajemen Fasilitas dan Keselamatan)
Penetapan siaga sesuai dengan tingkat siaga.
tingkat siaga ialah : tingkat kewaspadaan, pengendalian komando sesuai dengan
sifat dan tingkat kebakaran yang terjadi :
siaga I : Tingkat kebakaran sulit diatasi, melibatkan dinas kebakaran dan kepolisian
/ koramil, komando pada siaga 1 diambil alih komando dinas pemadam
kebakaran yang dibantu oleh unsur keppolisian. direksi RS selaku
komando siaga II membantu komandan dinas kebakaran dalam pengaturan
eavkuasi dan penyelamaan pasien atau petugas yang mengalami cidera.
siaga II : Tingkat kebakaran sudah membesar dan melibatkan unsur kerja lain,
komando pada siaga II dilaksanakan oleh direktur utama rs atau pejabat
setingkat dibawahnya yang mempunyai kewenangan untuk menggerakan
semua sumber daya yg ada di rs
siaga III:Tingkat lokal/setempat di satu unit kerja, komando pada siaga III
dilaksanakan oleh kepala unit kerja tempat kejadian kebakaran selaku
ketua tim pencegahan dan pengendalian kebakaran unit tersebut dengan
bekoordinasi dengan kom k3 (sub komite- supervisor
penganggulangankebakaran) selaku penanggung jawab tim balakar
SUMBER - SUMBER KEBAKARAN
listrik :
 instalasi tidak terawat/ sudah tua
 instalasi dan panel tidak memenuhi ketentuan
 pentanahan/ groundling kurang baik
 sambungan tidak sesuai / sempurna
 pembebanan berlebih
 sambaran petir
Api :
 pembakaran sampah
 las/sumber api erbuka
 kompor gas / listrik
 rokok
bengkel :
 ledakan gas
 material aus/lelah
 tekanan tidak terkontrol
Bahan Kimia:
 penyimpanan tidak sesuai ketentuan
 tekanan udara tinggi
 temperatur tinggi.
Jenis kebakaran jenis APAR
kebakaran benda padat mudah terbakar bukan logam, misal kelas A
kayu, kertas ,kain karet, plastik

kebakaran benda cair mudah menyala peralatan muatan listrik kelas B

kebakaran yang melibatkan peralatan muatan listrik kelas C

kebakaran yang melibatkan logam mudah terbakar kelas D

kebakaran pada minyak memasak kelas K


APAR (ALAT PEMADAM API RINGAN)
petunjuk penggunaan apar
1. tarik kunci pengamanan
2. arahkan ke dasar api
3. tekan gagang
4. sapukan dari sisi ke sisi
MKI
(Manajemen komunikasi dan informasi)
komunikasi DGN pasien & keluarga

MKI.2 1.call center sms center


Rumah sakit 2.leaflet & buletin
mengkonfirmasikan kepada pasien 3.pojok edukasi
dan keluarga mengenai perawatan 4.seminar awam
5.costumer care
dan pelayanan serta cara mengak
6.papan pengumuman
sesnya.

MKI. 3
komunikasi dan edukasi pasien & 1.spo media informasi
keluarga tersedia dalam format 2.sk,spo,dpjp
dan bahasa yang terdapat dimeng- 3.buku jenis pelayanan
erti. 4.sk edukasi kepada pasien & kel
5.spo edukasi kepada pasien
6.form edukasi pasien
KOMUNIKASI ANTAR TENAGA KESEHATAN DI
DALAM DAN DI LUAR RUMAH SAKIT

1.rapat koordinasi
2.laporan haian
3.morning report
MKI.4
4.ronde kusus
Komunikasi efektif di seluruh 5.komunikasi hands over
area organisasi.

MKI. 5
Pimpinan menjamin adanya
komunikasi efektif dan koordi-
nasi diantara individu dan de- 1.komite - komita
partemen yang bertanggung 2.pokja
3.tim terpadu
jawab menyediakan pelaya-
nan klinis.
KOMUNIKASI ANTAR TENAGA KESEHATAN DI
DALAM DAN DI LUAR RUMAH SAKIT

MCI.6
informasi mengenai perawatn
1.komunikasi hand over
pasien dan respon pengobatn 2.sk rekam medis (praktisi yang punya akses
dikomunikasikan diantara rm)
petugas kesehatan saat 1.rekam medis pasien
pergantian shif 2.resume medis
MCI. 7 3.form transfer pasien
rekam medis tersedia bagi 4.sk,spo dpjp
dokter untuk memfasilitasi 5.bukti pemberian informasi
6.timbang terima pasien antar shift dengan
mengenai informasi penting.
sbar
MCI. 8
informasi yang terkait pasien
berpindah bersama pasien.
SKP
(Sasaran Keselamatan Pasien)
SKP 1. ketetapan identifikasi pasien
identifikasi pasien :
 minimal 2 identitas : nama lengkap dan norm,identitas tambahan nama ibu kandung
 gelang identitas :pink untuk wanita, biru untuk pria
 pemasangan gelang identitas untuk semua pasien rawat inap dan pasien rawat jalan
yang akan dilakukan prosedur/ tindakan invasif misalnya
hemodialisa,kemoterapi,trnsfusi darah
 pemasangan gelang identitas diutamakan pada ekstremitas yang tidak terpasang
infus
 beri informasi ke pasien bahwa petugas kesehatan akan selalu menanyakan nama
dan nama kandung,sebelum tindakan/pemberian obat
nomor kamar dan tempat tidur pasien idak boleh digunakan sebagai identifikasi.
identifikasi pasien dilaksanakan pada saat :
1. sebelum melakukan prosedur / tindakan
2. sebelum pemberian obat
3. sebelum pengambilan sample darah untuk pemeriksaan labor
4. sebelum pemberian transfusi darah
5. sebelum transfer pasien.
IDENTIFIKASI PASIEN BERESIKO
 Pasien alergi : gelang resiko merah
riwayat alergi (obat-obatan,makanan) test antibiotik dengan hasil positif
 risiko jatuh : gelang risiko kuning
pasien dewasa, morse fall scale
pasien anak, humpty dumpty
 pasien yang tidak ingindilakukan resusitasi
(do not resucitate / DNR) : gelang risiko ungu
tips :
1. petugas meminta pasien untuk menyebutkan nama dan tanggal lahir
sebelum melakukan tindakan pemberian obat, contohnya :"sesuai dengan
standar keselamatan pasien rumah sakit, tolong sebutkan nama lengkap dan
nama ibu kandung bapak / ibu"
2. walaupun pasien telah memakai gelang identitas, tetap dikonfirmasi secara
verbal sebelum melakukan tindakan/ pemberian obat.
IDENTIFIKASI PASIEN PADA KONDISI
TERTENTU
1. Pasien yang tidak dapat berkomunikasi :
terpasang ventilator / usia (bayi) / pasien tidak sadar / gangguan mental :
identifikasi dilakukan dengan mencocokan identitas gelang pasien dengan
identitas pada berkas rekam medis
1. kesadaran menurun & tidak ada keluarga: gelang identitas mencantumkan :
Tn x/ NN.X tanggal, jam masuk rs dan nomor rekam medis
2. pasien jiwa
identifikasi dilakukan dengan foto
(penempelan foto pada berkas rekam medik (hubungi instalasi humas untuk
melakukan pengambilan foto sesegera mungkin).
1. tidak punya ekstremitas
(pasang di kaki atau identifikasi dilakukan dengan menempelkan gelang
identitas di baju pasien
IDENTIFIKASI PASIEN SAAT PEMBERIAN TRANSFUSI
DARAH
 Verifikasi oleh 2 dengan menggunakan check list pemberian transfusi
darah.
 2 langkah dalam pengecekan check list pemberian transfusi darah :
1. cocokan produk darah dengan instruksi dokter pada berkas rekam medis, format
permintaan darah, kantong darah dan kartu label, bila langkah pertama belum ada
kecocokan, maka perlu dilakukan verifikasi kembali.
2. cocokan roduk darah, kartu label engan identitas pasien.
SKP 2 Peningkatan komunikasi yang efektif
 komunikasi efektif,merupakan komunikasi di antara para petugas pemberi
pemberi pelayanan yang dilakukan dengan, tepat waktu , akurat,
lengkap,jelas, dan dapat dipahami oleh penerima, sehingga dapat
mengrangi kealahan dan menghasilkan perbaikan untuk keselamtan pasien.
 komunikasi efektif dapat dilakukan secara : verbal, tertulis, elektronik

catatan : permintaan obat narkotika atau kemoterapi tidak boleh verbal , tetapi
harus tertulis.
komunikasi verbal
untuk perintah verbal atau melalui telepon, staf yang menerima pesan harus
menuliskannya dan membacakannya kembali kepada pemberi pesan.
 komunikasi verbal dengan sabar
(situsion -background-assesment-recommendation)
kapan dilakukan ?
1. saat serah terima pasien.
2. saat petugas melaporkan kondisi pasien kepada DPJP (dokteer penanggung
jawab pasien )
 catat instruksi diformulir terinteraksi
 beri stempel sbar
 komunikasi verbal dengan tbak (tertulis- baca- konfirmasi)
kapan dilakukan :
1. saat petugas menerima instruksi verbal per telepon / lisan dari dpjp
2. saat petugas menerima laporan hasil tes kiritis / critical tes/ pemeriksaan cito.
3. beri stempel TBAK
4. DPJP memberikan konfirmasi dengan tanda tangan saat visite keesokan harinya.
Contoh : SERAH TERIMA PASIEN DENGAN SBAR
 Situation :
pasien tn. g , umur 40 th, saat ini mengalami gangguan pernafasan dengan RR 35
x/mnt
 Background:
pasien masuk RS 2 hari yang lalu dengan riwayat, pneumotohrax, o2 saturasi
turun dari 95% dalam 2 liter /menit menjadi 85% dengan non rebreating, pada
akulrething : suara pernafasan menurun disebelah kanan .tracheal shift,
peningkatan distress,pasien saat ini diposisikan tidur semi fowler, dan diberikan
oksigen 4 liter/ menit dengan canule.
 assesmen:
pasien nampaknya mengalami gagal nafas/ gangguan pertukaran gas
 recomendation
dokter telah dihubungi per telepon,belum terhubung,mohondihubungi kembali
untuk kemungkinan alih rawat icu untuk pemasangan ventilator
contoh : MELAPORKAN KONDISI PASIEN
DENGAN SABAR KEPADA DOKTER
 SITUASI:
TN AS,TGL UMUR 52 TAHUN, DIRAWAT DI HCU PENYAKIT
DALAM, SAAT INI MENGALAMI GANGGUAN PERNAFASAN TD
130/90,N88,RR25X/ MNTBackground:
 Background:
pasien masuk RS 2 hari yang lalu dengan riwayat, pneumotohrax, o2
saturasi turun dari 95% dalam 2 liter /menit menjadi 85% dengan non
rebreating, pada akulrething : suara pernafasan menurun disebelah kanan
.tracheal shift, peningkatan distress,pasien saat ini diposisikan tidur semi
fowler, dan diberikan oksigen 4 liter/ menit dengan canule.
 assesmen:
pasien nampaknya tidak stabil dan cenderung memburuk
 recomendation
mohon segera datang, apakah perlu tindakan intubulasi, atau trnsfer segera
ke icu
MENERIMA LAPORAN DENGAN TBAK
• Penerima laporan : tulis pesan yang disampaikan di formulir terintegrasi,
meliputi:
1. tanggal & pesan diterima
2. nama lengkappasien, umur ,no rm , diagnosa
3. gunakan simbol/ singkatn sesuai standar
4. dosis/ nilai harus spesifikasi untuk menghindari slah penafsiran
5. nama petugas pelpor /pemberi pesan
6. nama dan tanda tangan petugas penerima pesan
7. bila pasien diterima melalui telepon , pengirim pesan/dokter menandatangani pada saat
visite hari berikutnya
• baca, yaitu bacakan kembali isi pesan untuk
• konfirmasi kembali kebenaran pesan yang ditulis, dan membubuhkan stempel
konfirmasi pada formulir catatan penerima pesan.
MENERIMA LAPORAN HASIL TES KRITIS DAN NILAI
KRITIS DENGAN TBaK
• Tes kritis dilaporkan oleh petugas labor, radiologi, perawat.
• tes kritis(critical test)/ pemeriksaan cito, contoh :
1. Tes/ pemeriksaan diagnostik (x ray, ct scan, EKG)
2. tes/ pemeriksaan walaupun hasilnya normal/ abnormal harus dilaporkan segera.
• nilai/ hasil kritis (critical test result)
hasil abnormal yang harus dilaporkan segera< 1 jam ke dokter permintaan
pemerksaan/ perawat untuk dilaporkan ke dokter.
KOMUNIKASI TERTULIS
Hal - hal yang harus diperhatikan :
 penulisan intruksi harus dilakukan secara lengkap, dapat terbaca dengan
jelas agar sumber intruksi dapat dilacak bila diperlukan verifikasi.
 harus menulis nama lengkap, tanda tangan serta tanggal dan waktu/jam
 hindari penggunaan singkatan, akronim dan simbol berpotensi
menimbulkan masalah dalam penulisan instruksi dan dokumentasi medis.
 lihat buku standar singkatan Semen Padang Hospital untuk panduan
penggunaan singkatan.
JANGAN GUNAKAN SINGKATAN
singkatan sering digunakan
masalah yang
dalam singkatan rekomendasi
dapat terjadi
pendokumentasian dan
grafik. bila singkatan disalah persepsikan
digunakan maka harus U(untuk unit) dengan 0 atau 4 ditulis dengan unit
atau cc
dilakukan standarisasi
sehingga semua orang penulisan angka 0 jangan menggunakan
dibelakang koma misal 2,0 koma tidak tertulis/ angka 0 di belakang
menggunakan format dan penulisan yang tidak tidak jelas sehingga koma dan selalu
yang sama. rekomendasi dituliskan denagn angka 0 disalah persepsikan. menempatkan angka 0
di depan koma (,2) sebelum tanda koma
berikut dari joint
satu dengan lainnya
comission membinggungkan
ms
(www.jcho.org) untuk mso4
dapat dipersepsikan tuis sebagai "morfin
tidak menggunakan sebagai "morfin sulfat"
mgso4 sulfat"atau
singkatan berikut: "magnesium sulfat"
SKP 3 Peningkatan keamanan obat yang perlu
diwaspadai/ HIGH ALERT
OBAT HIGH ALERT:
obat yang memerlukan kewaspadaan tinggi`, terdaftar dalam kategori obat
beresiko tinggi, dapat menyebabkan cedera serius pada pasien jika terjadi
kesalahan dalam penggunaannya.
tips :
1. pemberian elektrolit pekat harus dengan pengenceran dan penggunaan label
khusus,
2. setiap pemberian obat menerapkan prinsip 7 benar
3. pastikan pengenceran dan pencampuran obat dilakukan oleh orang yang
berkompeten
4. pisahkan atau beri jarak penyimpanan obat engan kategori lasa
5. tidak menyimpan obat kategori kewapadaan tinggi dimeja dekat pasien
tanpa pengawasan.
6. biasaka mengeja nama obat dengan kategori obat lasa / norum (look alike
saund alike)
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
 Setiap depo farmasi, ruang rawat, poliklinik harus memiliki daftar HIGT
ALERT
 Setiap tenaga kesehatan harus mengetahui penanganan khusus untuk obat
HIGT ALERT
 Obat higt alert disimpan di tempat terpisah, akses terbatas, diberi label HIGT
ALERT
 Biasakan untuk melaksanakan pengecekan dengan 2 (dua) orang petugas yang
berbeda untuk menjamin kebenaran obat HIGT ALERT yang akan digunakan.
 Biasakan mengeja nama obat dengan kategori LASA saat memberi / menerima
instruksi.
 Tidak menyimpan obat ketegori kewaspadaan tinggi di meja dekat pasien
tanpa pengawasan.
 Seluruh obat kemoterapi, proses pencampauran dilakukan di Instalasi Farmasi
dengan menggunakan metode Aseptik Handing Cytotoxic.
PENANDAAN DAN PENYIMPANAN OBAT HIGT ALERT
Penandaan
1. penandaan obat HIGT ALERT dilakukan dengan striker " higt alert double check"
pada obat.
2. Obat kategori look alike and sound (LASA) diberikan penandaan dengan striker
LASA pada tempat penyimpanan obat. Apabila obat dikemas dalam paket untuk
kebutuhan pasien, maka diberikan tanda LASA pada kemasan primer obat.
3. Obat kemoterapi diberikan penanda striker penanda obat kemoterapi warna ungu.

Penyimpanan
1. Obat elektrolite konsentrasi tinggi (electrolit higt concentrate) hanya boleh disimpan
di instalasi (Gudang & Depo farmasi) dan disimpan dalam jumlah terbatas di IBS,
IGD, Higt Care Unit (HCU), rawat inap, unit stroke di IRI (ICU, CVCU, NICU).
2. Obat LASA ditempatkan secara terpisah antara satu sama lain, untuk menghindari
kesalahan pengambilan dan penggunaan obat.
3. Obat kemoterapi hanya boleh disimpan di Instalasi Farmasi (Gudang Farmasi dan
Depo Farmasi).
PEMBERIAN OBAT HIGH ALERT KEPADA PASIEN
1. Sebelum perawat memberikan obat high alert kepada pasien maka perawat
lain harus melakukan pemeriksaan kembali secara idependen:(prinsip 7
benar)
– kesesuaian antara obat dengan rekam medik/ intruksi dokter dan dengan kardeks
– ketetapan dengan dosis obat
– identitas pasien.
2. obat high alert infus harus dipastikan
– ketepatan kecepaan infus
– jika obat lebih dari satu, tempelkan label nama obat pada syringe pump dan setiap
ujung jalur selang
3. setiap kali pasien pindah ruang rawat, perawat pengantar menjalskan
kepada perawat penerima pasien bahwa pasien mendapatkan obat high
alert.
CEK 7 (TUJUH) BENAR OBAT PASIEN
Setiap penyerahan obat kepada pasien dilakukan verivikasi 7 (tujuh) benar
untuk mencapai medication safety
1. benar obat
2. benar waktu dan frekuensi pemberian
3. benar dosis
4. benar rute pemberian
5. benar identitas pasien, yaitu :
 kebenaran nama pasien
 kebenaran nomor ibu kandung pasien
 kebenaran nama rekam medik pasien
 kebenaran umur/tanggal lahir pasien
 kebenaran alamt rumah pasien
 atau nama DPJP
6. Benar informasi
7. Benar dokumentasi.
SKP 4. kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi
universal protokol :
tujuan :untuk mencegah salah operasi, salah operasi, salah titik,dan salah
pasien.
dilakukan pada pasien operasi / tindakan invasif:
1. penandaan (mark site)
2. proses verifikasi
3. proses time out(sign in, time out, sign out)
1. Penandaan (mark site)
penandaan daerah operasi/ tindakan invantif:
 dilakukan oleh dokter operator untuk pasien :
1. operasi elekif - dilakukan di ruang rawat inap
2. operasi cito- IGd / rawat inap
 menggunakan spidol permanen spidol- tanda" pada atau dekat daerah insisi
 organ yang mempunyai lateralisasi(memiliki 2 sisi, kanan dan kiri)
 bebrapa digit pada jari tangan atau kaki
 tulang belakang depan atau belakang pada tingkat : cervical, thoracal,
lumbal dan sacrum
2. proses pre verifikasi
pre verifikasi pra operasi adalah kegiatan verifikasi yang dilakukan oleh tim
bedah sebelum tindakan oeprasi/ invantif dilakukan.
tujuan :
1. memastikan bahwa semua dokumen, foto rontgen, hasil pemeriksaan yang
relevab tersedia ,diberi label ,dan dipampang
2. memastikan peralatan khusus/ implan tersedia
3. memverifikasi lokasi, prosedur dan pasien yang tepat

kapan dan diman ?


1. pada saat penjadwalan operasi (untuk one day care)
2. di ruangan sebelum diantar ke IBS (intalasi bedah sentral)
3. di IBS saat serah terima ke perawat IBS
3. proses time out
serangkaian tindakan untuk keselamatan pasien operasi / tindakan invasif
terdiri dari proses:
1. sign in, dilakukan sebelum induksi anestesi du ruang penerimaan atau ok,
di isi oleh perawat anestesi
2. time out, dilakukan sebelum insisi kulit di isi oleh perawat, dokter anestesi,
dan operator.
3. sign out , dilakukan sebelum pasien meninggalkan ok, di isi oleh perwat ,
dokter anestes, operator.

semua pertanyaan/ kekeliruan harus diseleseikan sebelum insisi


SKP 5 penggurangan resiko infeksi terkait pelayanan
kesehatan
hand hygiene
suatu prosedur tindakan membersihkan tangan dengan sabun antiseptik
dibawah air mengalir atau dengan menggunakan handrub berbasis alkohol
kebversihan tangan
a. hand hygiene menggunakan handrub (6 langkah)- tangan dalam keadaan
bersih
b. hand hugiene menggunakan handwash/ air dan sabun (6 langkah) - tangan
kotor.
tips : setiap langkah petugas dari risiko perjanaan darah tubuh ,ekskreta dan
selaput lendir pasien.
pemakaian APD
• menekan perpindahan mikro organisme penyebab teerdinya infeksi
• penggunaanya disesuaikan dengan tindakan yang akan dilakukan atau
transmisi penyakit
1. before patient contact
2. before aseptik task
3. after body pluid exposure risk
4. after patient contack
5. after contack with patient surroundings
Komponen Standar Kewaspadaan
1. hand hygiene
2. pemakaian APD secara teratur
3. penanganan benda tajam dengan tepat dan benar ( pembunagna tempat
sampah benda tajam ke kotak khusu / safety box)
4. dekontaminasi alat
5. penanganan limbah dan lingkunagn
6. penagnagan linen
7. penempatan pasien isolasi
8. etika batuk
9. praktek menyuntik
10.praktek pencegahan infeksi
SKP 6. PENGURANGAN RESIKO PASIEN JATUH
Pangkajian resiko jatuh menggunakan :
• skla morse untuk pasien dewasa ( >51 )
• akla humpety dumpty untuk pasien anak (>12 ) tahun

kapan dilakukan pengkajian?


1. pada saat pengkajian awal pasien dirawat
2. pengkajian dilengkapi dalam waktu 1x24 jam
3. jika ada perubahan kondisi pasien maka dilakukan penilaian ulang pada
form lanjutan
4. dalam masa perawatna yang lama, penilaian diulang pada diulang 1 kali
dalam seminggu atau sesuai kondisi pasien pada form lanjutan.
jika ada pasien risiko tinggi jatuh
1. pasangkan gelang resiko jatuh pada pasien
2. pasangkan sign risiko jatuh
3. intervensi:
– observasi bantuan yang sesuai saat ambulasi
– hindari ruangan yang kacau balau, dekatkanlah bel dan tel , biarkan pintu terbuka,
gunakan lampu malam hari
– dekatkan pasien dengan nurse station
– hand rail mudah dijangkau dan kokoh
– siapkan di jalan keluar dari tempat tidur: alat bantu jalan, komod
– lantai kamar mandi tidak boleh licin/ gunakan karpet anti slip
4. edukasi pencegahan jatuh selama dirawat kepada pasien/ keluarga dan
berikan bacaan pencegahan jatuh (dorong partisipasi keluarga dalam
keselamtan pasien, jangan tinggalkan pasien sendiri, gunakan tempat duduk
dikamar mandi saat pasien mandi)
5. pasiendikaji kembali sesuai kondisi, minimal setiap satu jam