Anda di halaman 1dari 52

Oleh :

ENDANG MA’RUF RANDY


Profesi kedokteran :  profesi luhur
 kebutuhan dasar
manusia : kesehatan
Norma Etika

Mutu Pelayanan
Norma Hukum Profesi Dokter terjamin

Norma Disiplin
Kedokteran
Disiplin kedokteran (UU PK no. 29 th. 2004 ps. 55 ayat.1) :
Aturan – aturan Penerapan keilmuan dlm
Ketentuan pelaksanaan pelayanan
yang harus diikuti oleh dokter.

terdapat pada :
- UU PK
- PP
- Permenkes
- Peraturan Konsil Kedokteran
- Ketentuan Pedoman Organisasi Profesi
- Kode Etik Profesi
- Kebiasaan Umum (Common Practice)
 Dlm 5 th terakhir, tampak jelas perubahan
paradigma sengketa medik dlm pel. Kedokt.
 Lahirnya UU PK no.29 th 2004 yg diharapkan
dapat memayungi kepentingan dokter dan
masyarakat, malah justru timbulkan masalah
tersendiri.
 Bbrp dokter gerah dgn bbrp pasal yg dianggap
tidak aspiratif.
 Yudicial riview yg pernah dilakukan thd UU tsb
terkesan tdk menyelesaikan kegelisahan para
dokter krn hanya merevisi bbrp pasal dan tetap
menyisakan pasal kriminalisasi dokter
 Difihak lain masyarakat jadi gemar menuntut
( Litigious Society ) krn keawaman masyarakat
dan salah persepsi thd nilai profesionalisme
dokter.
 Penegakan hukum dlm pel. Kedokteran masih
simpang siur, kewenangan MKDKI, MKEK, Polisi
dan jaksa serba tdk jelas, semua mengklaim
berhak menyidik, memeriksa & menyidangkan
perkara dokter.
 Akibatnya :
* Dokter yg jd masalah jd bingung sendiri
* Masyarakat lebih bingung krn tdk jelas
kemana hrs melapor kalau ada kasus
 Pasal 67, 68 UU PK sdh menyebutkan
MKDKI memeriksa dan menyidangkan
pengaduan namun bila bernuansa etika
mk dilimpahkan ke MKEK, muatan pasal
ini dianggap bermasalah dan
menimbulkan kontroversi.
 Secara logika hukum :
* Tdk ada pelanggaran disiplin tanpa
pelanggaran etika
* Sementara pelanggaran etika bisa
berdiri sendiri tanpa pelanggaran
disiplin
 IDEALNYA : MKEK sbg port the entry dari semua
pengaduan. Bila ada pelanggaran disiplin
diteruskan ke MKDKI
 Kerunyaman tsb dimanfaatkan pula oknum polisi
masuk menangani setiap kasus, padahal
kewenangan polisi hanya pada tatanan pidana
 Etika & disiplin kalau toh bernuansa hukum,
hanya menjadi perkara perdata yg tdk perlu
campur tangan polisi.
 Campur tangan polisi dlm setiap dugaan mal
praktek hrs dibatasi. Polisi tdk perlu terlibat
manakala kasus sengketa medik bernuansa etik
atau disiplin krn kalaupun diproses hukum akan
masuk ke ranah perdata.
U.U. PRAKTIK KEDOKTERAN

KOLEGIUM KKI
FK DINKES
IDI KAB/KOTA
Ps 7, ayat(1)
Penjelasan Ps 37, ayat(1)
Ps 29, ayat(3d)

Surat SURAT
IJAZAH SERTIFIKAT tanda IZIN
KOMPETENSI registrasi PRAKTEK
( STR ) ( SIP )

SERTIFIKAT REGISTRASI PRAKTIK


KOMPETENSI DOKTER KEDOKTERAN
KONSEP IDEAL PELAYANAN MEDIS
SISTEM
IDEAL : PENDIDIKAN
“Dokter yg baik”
Hanya dpt melakukan
pelayanan medik dlm
kesisteman yg baik pula

-UU NO 32 / 1992
-UU NO 29 / 2004
ETIKA &
SISTEM -UU NO 40 / 2004
HUKUM
-UU SKN

SISTEM SISTEM
PELAYANAN PEMBAYARAN
UNDANG-UNDANG
NOMOR 29 TAHUN 2004
TENTANG
PRAKTIK KEDOKTERAN

PENGATURAN PRAKTIK KEDOKTERAN


NORMA ( DLM PRAKTIK
KEDOKT )
ATURAN PENERAPAN
KEILMUAN KEDOKTERAN
(PROFESSIONAL CONDUCT)
DISIPLIN

ETIKA HUKUM
ATURAN
PENERAPAN ATURAN HUKUM
ETIKA KEDOK
(ETHICAL
CONDUCT)
ETIKA MEDIS

ADALAH ETIKA TERAPAN DAN ETIKA


NORMATIF YANG MERUPAKAN PEDOMAN
DAN RAMBU-RAMBU SISTEMATIS BAGI
PERILAKU ETIS SEORANG DOKTER/DOKTER
GIGI SECARA KHUSUS DALAM HUBUNGAN
PROFESIONAL DAN HUBUNGAN
KEMANUSIAAN DENGAN PASIEN
(HUBUNGAN DOKTER-PASIEN), AGAR IA
TIDAK MELAKUKAN HAL-HAL YANG
BERTENTANGAN DENGAN MORAL, TERKAIT
DENGAN HIDUP, KESEHATAN, DAN
KEMATIAN PASIEN.
KODE ETIK KEDOKTERAN
• KODE ETIK KEDOKTERAN ADALAH SEPERANGKAT
(TERTULIS) TENTANG ATURAN-ATURAN ETIKA
YANG MEMUAT AMAR (APA YANG DIBOLEHKAN)
DAN LARANGAN (APA YANG HARUS DIHINDARI)
SEBAGAI PEDOMAN PRAGMATIS BAGI DOKTER
DALAM MENJALANKAN PROFESINYA.
• SINGKATNYA KODE ETIK KEDOKTERAN ADALAH
BUKU (CODE BERASAL DARI BAHASA LATIN
CODEX YANG BERARTI BUKU) YANG MEMUAT
ATURAN-ATURAN ETIKA BAGI DOKTER.
NORMA ETIK
SEMUA PASAL
DARI KODEKI DAN KODEKGI
MENJADI NORMA ETIK
DOKTER DAN DOKTER GIGI
DALAM MENJALANKAN
PRAKTIK KEDOKTERANNYA.
NORMA DISIPLIN
NORMA DISIPLIN KEDOKTERAN ADALAH ATURAN-ATURAN
TENTANG PENERAPAN KEILMUAN KEDOKTERAN/
KEDOKTERAN GIGI YANG MENCAKUP :
- UU NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK
KEDOKTERAN (PASAL 37, 40, 41, 45-49, DAN 51).
- PERATURAN PEMERINTAH, PERATURAN MENTERI
KESEHATAN, PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN
INDONESIA
- KETENTUAN DAN PEDOMAN ORGANISASI KEDOKTERAN/
KEDOKTERAN GIGI, KODE ETIK KEDOKTERAN
INDONESIA,KODE ETIK KEDOKTERAN GIGI INDONESIA
- KEBIASAAN UMUM (COMMON PRACTICE) DI BIDANG
KEDOKTERAN DAN KEDOKTERAN GIGI.
NORMA DISIPLIN
KEDOKTERAN
• ATURAN / PEDOMAN
BERPRILAKU (CONDUCT)
DOKTER DALAM PENERAPAN
KEILMUAN (ASUHAN MEDIS)
PADA PASIEN
NORMA DISIPLIN
KEDOKTERAN
 RUANG LINGKUP :
1. ATURAN DALAM MELAKSANAKAN
ASUHAN MEDIS (MATERIIL)
2. ATURAN PENYELENGGARAAN
PRAKTIK KEDOKTERAN (FORMIL)
PRAKTEK KEDOKTERAN

ASUHAN MEDIS:
UKURANNYA: - WAWANCARA
- KEMAMPUAN KLINIS - PEMERIKSAAN FISIK
- PERILAKU - PROSEDUR DIAGNOSTIK
- DIAGNOSIS
- TERAPI: NASHAT, TNDKAN, OBAT
- MERUJUK
- KEGIATAN TERKAIT:
(PROFESSIONAL - REKAM MEDIS
CONDUCT) - INFORMED CONSENT, DLL
- EMERGENCY
HASIL

- HASIL BURUK
- HASIL BAIK
- KEJADIAN TDK DIHARAPKAN
- SESUAI HARAPAN
(ADVERSE EVENTS)
PEDOMAN PERILAKU
PROFESIONAL KEDOKTERAN
(PEDOMAN DISIPLIN KEDOKTERAN)
 STANDAR/ PEDOMAN PERILAKU
PROFESIONAL KEDOKTERAN (CODE OF
PROFESSIONAL MEDICAL CONDUCT)
MERUPAKAN SEPERANGKAT TTG
ATURAN PENERAPAN KEILMUAN
KEDOKTERAN YG MEMUAT APA YANG
SEHARUSNYA DILAKUKAN ATAU TIDAK
DILAKUKAN OLEH DR SBG PEDOMAN
MELAKSANAKAN ASUHAN
KEDOKTERAN (PRAKTIK
KEDOKTERAN)
PEDOMAN PERILAKU PROFESIONAL DI
INDONESIA
(CODE OF PROFESSIONAL CONDUCT)
“PENYELENGGARAAN PRAKTIK
KEDOKTERAN YG BAIK”
(GOOD MEDICAL PRACTICE)
SKKKI no 18/KKI/kep/IX/2006
1. KEMAMPUAN/ KINERJA KLINIS
(STD OF CLINICAL CARE)
2. PERILAKU DLM ASUHAN MEDIS/ KLINIS
3. MEMPERTAHANKAN PRAKTIK KEDOKT YG BAIK
4. PELATIHAN, PENILAIAN DAN PENGAJARAN
5. HUB DOKTER PASIEN
6. KERJASAMA DGN SEJAWAT
7. KEJUJURAN PROFESI
STANDAR PROFESI

 STANDAR PROFESI = STANDARD OF


CARE
KEMAMPUAN MINIMAL (KNOWLEDGE,
SKILL, ATTITUDE)YG HARUS DIKUASAI
INDIVIDU UTK LAKSANAKAN
KEGIATAN PROFESIONAL SECARA
MANDIRI (UUPK 29/2004)

KEMAMPUAN: KETERAMPILAN DAN ASUHAN BIASA


(ORDINARY)/ YANG HARUS DIGUNAKAN DOKTER
STANDAR PROFESI
 INSTRUMEN UTK MENGUKUR
TINGKAT KEMAMPUAN
(KNOWLEDGE, SKILL, ATTITUDE/
BEHAVIOR) DLM MELAKSANAKAN
ASUHAN MEDIS.
PARAMETER PEMENUHAN STD
PROFESI
1. STANDAR PELAYANAN KEDOKTERAN (ASUHAN
MEDIS)
2. STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
a. PEDOMAN KLINIS: CLINICAL PRACTICE
GUIDELINES
b. STANDAR KLINIS
A. PROTOKOL
B. PROSEDUR TEKNIS
C. PROSEDUR ADMINISTRATIF
D. “CLINICAL PATHWAYS”
E. ALGORYTHMS
F. STANDING ORDERS
3. PEDOMAN PERILAKU PROFESIONAL
PELANGGARAN DISIPLIN
KEDOKTERAN
(Professional Misconduct)
 PELANGGARAN ATURAN/ KETENTUAN
PENERAPAN KEILMUAN DLM PRAKTIK
KEDOKT, ATAU
 KEGAGALAN MEMENUHI STANDAR/
PEDOMAN PERILAKU PROFESIONAL
(CODE OF PROF.CONDUCT), ATAU
PELANGGARAN DISIPLIN
KEDOKTERAN
 PELANGGARAN NORMA DISIPLIN KEDOKTERAN
(SERIOUS PROFESSIONAL MISCONDUCT) PADA
HAKIKATNYA DAPAT DIKELOMPOKKAN DALAM :
 MELAKSANAKAN PRAKTIK KEDOKTERAN
DENGAN TIDAK KOMPETEN
 TIDAK MELAKSANAKAN TUGAS DAN
TANGGUNG JAWAB PROFESIONAL PADA
PASIEN DENGAN BAIK
 BERPERILAKU TERCELA DALAM
MELAKSANAKAN PRAKTIK KEDOKTERAN.
(KEPUTUSAN KKI NOMOR 17/KKI/KEP/VIII/2006)
BENTUK-BENTUK

PELANGGARAN DISIPLIN
KEDOKTERAN DIJABARKAN
DALAM 28 BUTIR BENTUK
PELANGGARAN

(KEPUTUSAN KKI NOMOR 17/KKI/KEP/VIII/2006).


Pelanggaran Disiplin Kedokteran
(PROFESSIONAL MISCONDUCT)
Kegagalan menyesuaikan pada
standar profesi

“failure to conform
to the standard
of care”
Cerita 1
Seorang lelaki Indonesia telah disengat
kemaluannya oleh lebah saat berdoa, lalu
dia melanjutkan berdoanya :
“Ya Tuhan, hilangkanlah sakitnya, tetapi
kekalkanlah bengkaknya.”
TUJUAN (PENEGAKAN) DISIPLIN
KEDOKTERAN
UTAMA
1. PROTEKSI PASIEN: CEGAH KEJADIAN TAK
PROFESIONAL SERUPA PD PASIEN LAIN
LAIN²
2. MENJAGA MUTU/ KINERJA PRAKTISI
KEDOKTERAN, MEMASTIKAN TIAP PRAKTISI
MENERAPKAN STANDAR PERILAKU
PROFESIONAL (STANDAR DLM PRAKTIK
KEDOKTERAN)
3. MENJAGA KEHORMATAN PROFESI
- ALTRUISME
- HUMANISME
PROTEKSI MASYARAKAT:
PENEGAKAN DISIPLIN
PRINSIP: BAD APPLE THEORY
- MENGIDENTIFIKASI DR YG BERKINERJA BURUK

- MENETAPKAN ADA TIDAKNYA PELANGGARAN


DISIPLIN KEDOKT (PERILAKU TAK PROFESIONAL)
(MENETAPKAN FITTNESS TO PRACTICE)
- MENYINGKIRKAN(REMOVE) DR BERKINERJA
BURUK DARI KELOMPOK PROFESINYA
- MENEKANKAN PD TANGGUNG JAWAB INDIVIDU

- DR BERHADAPAN DGN KELUARGA BESAR


PROFESINYA BKN DGN PASIEN
- BUKAN MENYELESAIKAN SENGKETA DR/ DRG

- BUKAN MENGADILI, TAPI MEMBINA AGAR


BERKINERJA LEBIH BAIK
DUGAAN KESALAHAN DR/ DRG

(SERIOUS) PROFESSIONAL MEDICAL MALPRACTICE


MISCONDUCT (MALAPRAKTIK)
(MALA PERILAKU PROFESIONAL)

ISTILAH DISIPLIN PROFESI ISTILAH HUKUM

PELANGGARAN DISIPLIN KEDOKTERAN PELANGGARAN HUKUM

MKDKI PENGADILAN
MKDKI
ADALAH LEMBAGA YANG BERWENANG
UNTUK:
1. MENENTUKAN ADA TIDAKNYA
KESALAHAN YANG DILAKUKAN DOKTER
DAN DOKTER GIGI DALAM PENERAPAN
DISIPLIN ILMU KEDOKTERAN DAN
KEDOKTERAN GIGI, DAN
2. MENETAPKAN SANKSI DISIPLIN

SUMBER: UUPK DAN PERKONSIL


BATAS YURISDIKSI MKDKI
 DR/ DRG TELAH TEREGISTRASI KKI
 TINDAKAN MEDIS SETELAH 6 OKTOBER
2004
 ADA HUB TERAPETIK DR/ DRG – PASIEN
 ADA DUGAAN KUAT PELANGGARAN
DISIPLIN KEDOKTERAN
MKDKI
TIDAK BERWENANG
UNTUK MELAKUKAN
PENYELESAIAN SENGKETA
ANTARA DOKTER DAN PASIEN
Cerita 2
Kisah sukses dalam waktu setahun, WARTO
dapat sekaligus mendirikan WARTEL,
WARNET dan WARTEG, tetapi WARTI hanya
butuh waktu ½ menit, dapat mendirikan
WARTO.
Pelanggaran disiplin adalah pelanggaran thd
aturan-aturan / ketentuan penerapan keilmuan.

3 KELOMPOK PELANGGARAN DISIPLIN :


 Melaksanakan praktek kedokteran
dengan tidak kompeten
 Tugas dan tanggung jawab profesional
pada pasien tidak dilaksanakan
 Berprilaku tercela, merusak martabat
dan kehormatan profesi kedokteran
Contoh-contoh bentuk pelanggaran
disiplin kedokteran
1. Melakukan praktek kedokteran dengan tidak kompeten
2. Tidak merujuk pasien kepada dokter atau dokter gigi
lain yang memiliki kompetensi sesuai
3. Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan
tertentu yang tidak memiliki kompetensi untuk
melaksanakan pekerjaan tersebut
4. Menyediakan dokter atau dokter gigi pengganti
sementara yang tidak memiliki kompetensi dan
kewenangan yang sesuai, atau tidak melakukan
pemberitahuan perihal pergantian tersebut
5. Melakukan pemeriksaan dan pengobatan berlebihan
yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasien
6. Tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis
dan memadai (adequate information) kepada
pasien atau keluarganya dalam melakukan
praktik kedokteran
7. Melakukan tindakan medik tanpa memperoleh
persetujuan dari pasien atau keluarga dekat
atau wali awau pengampunya
8. Dengan sengaja tidak membuat atau
menyimpan rekam medik, sebagaimana diatur
dalam peraturan perundang-undangan atau
etika profesi
9. Melakukan perbuatan yang bertujuan untuk
menghentikan kehamilan yang tidak sesuai
dengn ketentuan, sebagaimana diatur dalam
peraturan perundang-undangan dan etika
profesi
10. Melakukan perbuatan yang dapat mengakhiri
kehidupan pasien atas permintaan sendiri atau
keluarganya
11. Menjalankan praktik kedokteran dengan
menerapkan pengetahuan yang tidak layak
12. Melakukan penelitian tanpa ethical clearance
13. Tidak melakukan pertolongan darurat atas
dasar kemanusiaan padahal tidak
membahayakan dirinya
14. Menolak dan menghentikan tindakan
pengobatan tanpa alasan yang layak dan sah
15. Membuka rahasia kedokteran
16. Membuat keterangan medik yang tidak
didasarkan hasil pemeriksaan
17. Meresepkan atau memberikan obat
(NAPZA) yang tidak sesuai
18. Ketergantungan pada NAPZA
19. Melakukan pelecehan seksual, tindakan
intimidasi atau tindakan kekerasan
terhadap pasien di tempat praktik
20. Menggunakan gelar akademik atau
sebutan profesi yang bukan haknya
21. Menerima imbalan sebagai hasil dari
merujuk atau meminta pemeriksaan atau
memberikan resep obat / alat kesehatan
21. Mengiklankan kemampuan / pelayanan yang
dimiliki, baik lisan maupun tulisan yang
tidak benar atau menyesatkan
22. Berpraktik dengan STR / SIP dan atau
sertifikat kompetensi yang tidak sah
23. Ketidak jujuran dalam menentukan jasa
medik
24. Tidak memberikan informasi, dokumen dan
alat bukti lainnya yang diperlukan MKDKI
untuk pemeriksaan atas pengaduan dugaan
pelanggaran
ANTISIPASI BERLAKUNYA UU – PK
DI RS & RS PENDIDIKAN

1. Membantu menguruskan SIP seluruh dokter


2. Mengeluarkan surat tugas untuk dokter yg
memiliki SIP serta berhak dan bertanggung
jawab menangani pasien ( tak punya SIP tak
berhak praktik di RS )
3. Membuat daftar dokter yg berpraktek di RS dan
dipasang di IRJ
4. Pasien PPDS tanggung jawab supervisornya
on site
ANTISIPASI UU – PK PADA DIRI
DOKTER / DOKTER GIGI

Setiap dokter / dokter gigi / dokter Sp :


• Harus mempunyai SIP
• Harus mengikuti standar profesi
• Harus mengikuti standar pelayanan medik /
Protab
• Harus mentaati terhadap HBL – MBL
• Harus mentaati peraturan Komite Medik
KIAT MENGHINDARI
TUNTUTAN
• Patuhi UU – PK = STR, SIP,
Standar Profesi dan SOP
Perlindungan hukum akan
diperoleh bila bekerja sesuai
dengan standar profesi dan SOP
• Tingkatkan profesionalisme
Kompetensi dan kewenangan
Empati dan duty of core
• Tingkatkan Patient Safety
U.U PRADOK KONSIL
KEDOKTERAN
1. Pembinaan Etika Profesi
INDONESIA
Divisi Pembinaan 2. Teguran
3. Diklat

Disiplin Majelis
4. Cabut S.T.Registrasi
Kehormatan
Disiplin
Kedkteran

Etika
Praktik Profesi Majelis Etik
IDI/PDGI

Kelalaian 1. Perdata
Pelanggaran Hukum 2. Pidana

Dinkes
Kab/Kota

Pendidikan
berkelanjutan
Profesi (IDI/PDGI)
PERANAN IDI
 Menyediakan BP2A sebagai “BADAN”
advokasi
 Menyediakan advokasi
 Menyediakan “Saksi Ahli” dalam proses
pemeriksaan MKDKI
 Memberdayakan Kolegium sebagai salah
satu pelaksanaan eksekusi MKDKI
(RESCHOOLING)
PERANAN MKEK
 MENGUTAMAKAN PEMBINAAN DI
BIDANG ETIKA
- BIOETIKA (Decision making guide)
- ETIKA PROFESI (Code of Conduct)

 TETAP MEMERIKSA KASUS DUGAAN


PELANGGARAN ETIKA PROFESI DAN
MEMBERI SANKSI PEMBINAAN
 TETAP BERSIFAT PROAKTIF
 MKEK PUSAT MEMUSATKAN PERHATIAN
MEMBUAT FATWA2 DI BIDANG ETIK
PERANAN DINAS KESEHATAN
1. (PEMBERI IJIN PRAKTEK)
2. PENGAWAS PELAKSANAAN PRAKTIK
- TATA CARANYA HARUS DIBUAT
- KERJASAMA DGN ORGANISASI PROFESI
DAN PERSI
3. PENYIDIK PNS BAGI PELANGGARAN YANG DIATUR DALAM UU
PRADOK
- KOORDINASI DGN PENYIDIK POLRI
4. PENYIDIK PNS BAGI PELANGGARAN DISIPLIN & KELALAIAN
- KERJASAMA DENGAN MKDKI
5. BADAN MEDIASI / KONSILIASI
- BEKERJASAMA DENGAN FAK HUKUM ATAU BADAN HUKUM
INDEPENDEN LAINNYA
- BERTUGAS MENYELESAIKAN PERKARA TUNTUTAN GANTI RUGI
PASIEN MELALUI Alternative Dispute Resolution
6. TERAKREDITASI SEBAGAI MEDIATOR
SANKSI DISIPLIN
1. Pemberian peringatan tertulis
2. Rekomendasi pencabutan STR / SIP :
- Rekom pencabutan STR / SIP
sementara selama – lamanya 1 tahun atau
- Rekom pencabutan STR / SIP tetap atau
selamanya
3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan
di institusi kedokteran atau kedokteran gigi :
- Pendidikan formal atau
- Pelatihan dalam pengetahuan keterampilan,
magang di institusi pendidikan sekurang –
kurangnya 3 bulan dan paling lama 1 tahun
 KESIMPULAN :
1. Perlu menyatukan persepsi ttg alur
penegakan hukum bagi dokter
2. Perlu menyatukan cara pandang agar polisi
tdk mengkriminalisasi setiap permasalahan
medik.
3. Perlu merumuskan mekanisme pengaduan
shg dokter tdk dirugikan, krn hrs diperiksa
berkali-kali oleh MKEK, MKDKI, polisi &
jaksa.
4. Membekali pengetahuan medico etico legal,
shg dokter tdk menjadi bulan – bulanan
aparat hukum