Anda di halaman 1dari 28

PENGALAMAN TERBAIK (BEST PRACTICE) PENGAWAS

SEKOLAH DALAM PELAKSANAAN TUGAS

PENINGKATAN KINERJA GURU MELALUI INTENSIFIKASI SUPERVISI AKADEMIS


DI SMP NEGERI 1 SEKAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Oleh
Drs. Puguh Astoto, M.Pd.
NIP 196707071991031004
Pangkat/Gol : Pembina , IV/a
Pengawas SMP Negeri 1 SekampungLampung

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA


KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
TAHUN 2012
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada tingkat Pemerintah Kabupaten, leading sector pengendalian dan
peningkatan mutu pendidikan berada pada Dinas Pendidikan Pemuda dan
olah raga Kabupaten Lampung Timur. Pada tingkat operasional, pengendalian
dan peningkatan mutu menjadi tanggung jawab para pengawas satuan
pendidikan. Para pengawas satuan pendidikan selanjutnya melaksanakan
langkah-langkah pengawasan akademik sebagai pengejawantahan fungsi
pengendalian dan peningkatan mutu pendidikan di Lampung Timur.
Langkah-langkah pengawasan tersebut merupakan upaya membina dan
mengawasi keterlaksanaan SNP dalam setiap satuan pendidikan. Pembinaan
yang terkait langsung dengan tugas kepengawasan adalah pembinaan yang
terkait dengan standar proses. Proses menjadi standar yang sangat
penting diperhatikan karena adanya unsur pengamatan secara
empiris yang hanya dapat dilakukan oleh para pengawas. Hasil
pengamatan tersebut selanjutnya menjadi hasil evaluasi
keterlaksanan standar proses di lapangan. Intensitas kegiatan
supervisi karenanya harus berkelanjutan. Namun demikian kegiatan
supervisi akademik di SMP Negeri 1 Sekampung belum maksimal.
Banyak variabel yang diduga menjadi penyebabnya dari masih
rendahnya kualitas pendidikan. Rendahnya kualitas
pendidikan dengan salah satu indikator adanya
kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional
(UN) misalnya, tidak perlu terjadi kalau para guru
menjalankan tugasnya dengan baik. Ukuran pelaksanaan
tugas dengan baik adalah ketika pelaksanaan tugas
tersebut sesuai dengan standar proses yang diharapkan.
Dengan demikian patut diduga bahwa salah satu variabel
penyebab rendahnya kualitas pendidikan adalah rendahnya
kinerja guru. Berdasarkan hasil evaluasi kinerja guru SMP Negeri
1 Sekampung pada Tahun Pelajaran 2011/2012 menggunakan
Instrumen Penilaian Kinerja Guru (IPKG) tentang kelengkapan
dokumen pembelajaran, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan
pembelajaran.
Tabel 1 Hasil Pengamatan Kinerja Guru SMP Negeri 1 Sekampung dalam Melengkapi Perangkat
Pembelajaran Tahun Pelajaran 2011/2012

No Keadaan Kelengkapan Kriteria Persentase Keterangan

1 Kurang Kurang dari 10 komponen 40%

2 Cukup Terdapat 10 Komponen 20%

3 Lengkap Terdapat 11 Komponen 10%

4 Sangat Lengkap Terdapat 13 komponen 30%

100%
Tabel 2 Hasil Pengamatan Kinerja Guru SMP Negeri 1 Sekampung dalam Merencanakan Pembelajar
Tahun Pelajaran 2011/2012

Kriteria Penilaian
No Unsur Penilaian Sangat Jumlah
Kurang Cukup Baik
Baik
1 Merumuskan tujuan pembelajaran 14 13 10 4 41

Mengembangkan dan
2 mengorganisasikan materi, media 15 12 10 4 41
pembelajaran, dan sumber belajar

Merencanakan skenario kegiatan


3 15 12 10 4 41
pembelajaran
4 Merancang pengelolaan kelas 14 13 10 4 41
Merencanakan prosedur, jenis, dan
5 16 11 10 4 41
menyiapkan alat penilaian

Tampilan dokumen rencana


6 13 14 10 4 41
pembelajaran
Berdasarkan ketiga tabel di atas dapat dijelaskan
bahwa masih banyak guru SMP Negeri 1
Sekampung yang belum melengkapi komponen
perangkat pembelajaran. Sebagian besar guru
masih kurang tepat dalam merencanakan
pembelajaran, dan sebagian besar guru masih
banyak yang kurang menunjukkan kinerja yang
baik dalam melaksanakan pembelajaran.
B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai


berikut:

 Masih banyak guru SMP Negeri 1 Sekampung yang belum melengkapi komponen
perangkat pembelajaran;
• Sebagian besar guru masih kurang tepat dalam merencanakan pembelajaran;
• Sebagian besar guru masih banyak yang kurang menunjukan kinerja yang baik dalam
melaksanakan pembelajaran;
• Kegiatan supervisi di SMP Negeri 1 Sekampung belum maksimal.

C. Batasan Masalah

Masalah yang telah diidentifikasi di atas akan diselesaikan dengan melaksanakan


Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) Peningkatan kinerja guru melalui intensifikasi
supervisi akademik di SMP Negeri 1 Sekampung.
D. Rumusan Masalah

Masalah selanjutnya dirumuskan sebagai berikut:

• Bagaimanakah mendiskripsikan peningkatan kelengkapan komponen perangkat


pembelajaran di SMP Negeri 1 Sekampung ?;
• Bagaimanakah mendiskripsikan peningkatan kinerja guru dalam merencanakan
pembelajaran di SMP Negeri 1 Sekampung ?;
• Bagaimanakah mendiskripsikan peningkatan kinerja guru dalam melaksanakan
pembelajaran di SMP Negeri 1 Sekampung ?.

E. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan adalah sebagai berikut:

• Mendiskripsikan peningkatan kelengkapan komponen perangkat pembelajaran;


• Mendiskripsikan peningkatan kinerja guru dalam merencanakan pembelajaran;
• Mendiskripsikan peningkatan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran;
F. Manfaat Penulisan

Manfaat secara praktis yang dapat diperoleh dari penelitian tindakan ini adalah
sebagai berikut:

 Memberikan informasi kepada para pengawas lain untuk dapat meningkatkan kinerja
guru-guru pada sekolah binaannya melalui tindakan intensifikasi supervisi akademis;
 Memberikan wawasan pada semua guru mata pelajaran sehingga dapat memper-
baiki pelaksanaan standar proses di SMP Negeri 1 Sekampung;
 Memperbaiki kualitas proses pembelajaran dan kinerja para guru yang pada akhir-
nya akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa SMP Negeri 1 Sekampung.
II. KAJIAN TEORI
Kegiatan mendidik, mengajar, membimbing, melatih, dan
mengevaluasi menuntut kiner-ja yang baik dari para guru.
Kinerja merupakan suatu pencapaian persyaratan
pekerjaan tertentu yang akhirnya secara langsung dapat
tercermin dari keluaran yang dihasilkan baik kuantitas
maupun kualitasnya (Simamora, 1997: 423). Dengan
demikian kinerja memiliki pengertian (1) sesuatu yang
dicapai, (2) prestasi yang diperlihatkan, dan (3)
kemampuan bekerja. Secara umum kinerja adalah hasil
yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku.
Dengan demikian mengukur kinerja masalah yang paling
pokok adalah menentukan persyaratan-persyaratan
pekerjaan atau kriterianya.

Standar kinerja perlu dirumuskan untuk dijadikan acuan


dalam mengadakan penilaian, yaitu membandingkan apa
yang dicapai dengan apa yang diharapkan. Standar kinerja
dapat dijadikan patokan dalam mengadakan
pertanggungjawaban terhadap apa yang telah
dilaksanakan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Kinerja dipengaruhi oleh beberapa variabel yaitu: variabel
individu, psikologis, dan organisasi (Gibson et all, 1996:
52). Kinerja seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti: ability, capacity, held, incentive, environment dan
validity. Adapun ukuran kinerja menurut Mitchell (1989)
dapat dilihat dari empat hal, yaitu: 1) Quality of work –
kualitas hasil kerja; 2) Promptness –ketepatan waktu
menyelesaikan pekerjaan; 3) Initiative–prakarsa dalam
menyelesaikan pekerjaan; 4) Capability–kemampuan
menyelesaikan pekerjaan; 5) Comunication – kemampuan
membina kerjasama dengan pihak-pihak lain.
Pengukuran Kinerja

Standar kinerja atau kriteria yang yang dapat


dijadikan ukuran adalah tugas-tugas guru yang telah
ditetapkan menjadi bagian dari kompetensi
profesionalnya. Dengan membandingkan keluaran
yang dihasilkan oleh guru tersebut terhadap kriteria
kompetensi profesionalnya maka dapat diperoleh
informasi sejauhmana kinerja guru tersebut. Lebih
jauh keterampilan profesional tersebut diatur melalui
Permendiknas No. 41 tahun 2007 tentang standar
proses. Kegiatan membandingkan kriteria dengan
kondisi sebenarnya inilah yang dimaksud dengan
pengukuran kinerja.

Kelengkapan Komponen Perangkat
Pembelajaran

Terkait dengan administrasi pembelajaran, guru


berkewajiban mempersiapkan segala komponen
perangkat pembelajaran Kewajiban guru untuk
mampu menjalankan administrasi sekolah
dengan baik, sehingga administrasi sekolah tidak
hanya tertumpu pada kepala sekolah dan tata
usaha. Peran guru di sini dimaksudkan untuk
lebih memahami siswa tidak hanya dari hasil
tatap muka saja akan tetapi menyangkut segala
hal yang berkaitan dengan siswa.
Kinerja Merencanakan Pembelajaran

Tahap perencanaan dalam kegiatan pembelajaran


adalah tahap yang berhubungan dengan kemampuan
guru menguasai bahan ajar. Kemampuan guru dapat
dilihat dari cara atau proses penyusunan program
kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru,
yaitu mengembangkan silabus dan rencana
pelaksanaan pembelajaran(RPP).Unsur/komponen
yang ada dalam silabus terdiri dari: a) Identitas
Silabus; b) Stándar Kompetensi (SK); c) Kompetensi
Dasar (KD); d) Materi Pembelajaran; e) Kegiatan
Pembelajaran; f) Indikator; g) Alokasi waktu; h)
Sumber pembelajaran. Program pembelajaran jangka
waktu singkat sering dikenal dengan sitilah RPP, yang
merupakan penjabaran lebih rinci dan specifik dari
silabus, ditandai oleh adnya komponen-komponen :
a) Identitas RPP; b) SK; c) KD; d) Indikator; e)
Tujuan pembelajaran; f) Materi pembelajaran; g)
Alokasi waktu; h) Metode pembelajaran; i) Langkah-
langkah kegiatan; j) Sumber pembelajaran; k)
Penilaian.
Kinerja Melaksanakan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran di kelas adalah inti
penyelenggaraan pendidikan yang ditandai oleh
adanya kegiatan pengelolaan kelas, penggunaan
media dan sumber belajar, dan penggunaan metode
serta strategi pembelajaran. Semua tugas tersebut
merupakan tugas dan tanggung jawab guru yang
secara optimal dalam pelaksanaanya menuntut
kemampuan guru. Pelaksanaan kegiatan
pembelajaran: 1) mengelola ruang dan fasilitas
pembelajaran; 2) melaksanakan kegiatan
pembelajaran; 3) mengelola interaksi kelas; 4)
bersikap terbuka dan luwes serta membantu
mengembangkan sikap positif siswa terhadap belajar;
5) mendemonstrasikan kemampuan khusus dalam
pembelajaran mata pelajaran tertentu; 6)
melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar; 7)
keutuhan proses
B. Intensifikasi Supervisi Akademik
Supervisi

Kegiatan supervisi sebagai istilah yang digunakan


daripada istilah pengawasan atau penilikan,
pelaksanaan bukan mencari-cari kesalahan tetapi
lebih banyak mengandung unsur pembinaan agar
keadaan pekerjaan yang sedang diamati dapat
diketahui kekuranganya dan bukan semata-mata
kesalahannya untuk dapat dicari cara memperbaiki
bagian tersebut (Sahertian, 2000:16). Pada konteks
sekolah sebagai sebuah organisasi pendidikan,
supervisi merupakan bagian dari proses administrasi
dan manajemen. Kegiatan supervisi melengkapi
fungsi-fungsi administrasi sekolah sebagai fungsi
akhir, yaitu penilaian terhadap semua kegiatan dalam
mencapai tujuan (Arikunto, 2004:3-4).

Supervisi Akademik

Supervisi akademik, esensinya berkenaan dengan


tugas pengawas untuk untuk membina guru dalam
meningkatkan mutu pembelajarannya, sehingga
pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa. Glickman (1981), mendefinisikan
supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan
membantu guru mengembangkan kemampuannya
mengelola proses pembelajaran demi pencapaian
tujuan pembelajaran. Supervisi aka-demik
merupakan upaya membantu guru-guru
mengembangkan kemampuannya mencapai
tujuan pembelajaran. Dengan demikian, berarti,
esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan
menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses
pembelajaran, melainkan membantu guru
mengembangkankemampuan profesionalismenya.
Intensifikasi Supervisi Akademik

Penerapan supervisi akademik secara


langsung berhubungan mempengaruhi
perilaku guru. Melalui supervisi akademik,
pengawas mempengaruhi perilaku mengajar
guru sehingga perilakunya semakin baik
dalam mengelola PBM. Adanya perilaku
mengajar guru yang membaik akan semakin
mempengaruhi perilaku belajar murid.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
tujuan akhir supervisi akademik adalah
terbinanya perilaku belajar murid yang lebih
baik. Supervisi akademik harus dilakukan
secara berkesinambungan.
Supervisi akademik bukan tugas bersifat
sambilan yang hanya dilakukan sewaktu-waktu
jika ada kesempatan. Perlu dipahami bahwa
supervisi akademik merupakan salah satu
essential function dalam keseluruhan program
sekolah (Alfonso dkk., 1981 dan Weingartner,
1973). Apabila guru telah berhasil
mengembangkan dirinya tidaklah berarti
selesailah tugas pengawas, melainkan harus
tetap dibina secara berkesinambungan.
Pembinaan berkesinambungan diperlukan karena
setiap saat adanya perubahan kebijakan terkait
dengan pelaksanaan PBM.
III. PEMBAHASAN
A. Rancangan Tindakan

Intensifikasi supervisi akademik dilakukan dengan


tiga siklus. Sebelumnya dilakukan sosialisasi terkait
dengan teknik penyusunan perangkat pembelajaran
meliputi penyusunan: 1) analisis mata tujuan mata
pelajaran; 2) analisis SK-KD; 3) Silabus; 4) Analisis
minggu efektif; 5) Program Tahunan; 6) Program
Semester; 7) RPP; 8) Kisi-kisi Instrumen; 9)
Instrumen penilaian; 10) Analisis Hasil Evaluasi; 11)
Program Remedial dan Program Pengkayaan. Setelah
fase sosialisasi selesai dilaksanakan, maka
selanjutnya dilakukan tindakan. Secara umum setiap
teknik yang digunakan selama supervisi dilakukan
dengan lima langkah pembinaan kemampuan guru
melalui supervisi akademik, yaitu: (1) menciptakan
hubungan-hubungan yang harmonis, (2) analisis
kebutuhan, (3) mengembangkan strategi dan media,
(4) menilai, dan (5) revisi.
Kegiatan supervisi dibagi kegiatan utama: 1) pemeriksaan
kelengkapan komponen; 2) pemeriksaan kinerja guru
merencanakan pembelajaran; 3) pemeriksaan kinerja guru
melaksanakan pembelajaran.Setiap siklus terdiri dari ketiga
kegiatan utama tersebut. Pada siklus I, teknik supervisi yang
digunakan adalah teknik supervisi kelompok dengan sub
teknik pertemuan waka kurikulum dan guru. Pada siklus II,
berdasarkan hasil siklus I, dilanjutkan dengan siklus II
menggunakan teknik supervisi kelompok dan teknik supervisi
invidual. Kelompok dan individu yang dimaksud adalah para
guru yang pada saat supervisi siklus I belum mencapai
batasan kinerja yang diharapkan. Pertemuan ketiga siklus II
merupakan kegiatan pengecekan kebenaran dan kelengkapan,
pertemuan keempat merupakan upaya penekanan batas akhir
kelengkapan dan kebenaran RPP. Pada siklus III, ditekankan
dengan supervisi pelaksanaan pembelajaran dalam kelas.
Teknik yang digunakan adalah supervisi individual, sub teknik
yang digunakan adalah kunjungan kelas, observasi kelas dan
pertemuan individual. Instrumen penilaian mengguna-kan
Instrumen Penilaian Kinerja Guru (IPKG) 1 dan 2.
•Kriteria Keberhasilan
Ketercapaian peningkatan suatu kinerja perlu dibatasi dengan kriteria tertentu. Kriteria
tersebut berguna sebagai batasan yang memudahkan indentifikasi keberhasilan tindakan
yang diberikan. Kriteria keberhasilan disusun sebagai berikut:
Tabel 4 Kriteria Keberhasilan

No Komponen Target Keterangan

Kelengkapan komponen
1. Terdapat 11 Komponen 100% Lengkap
perangkat pembelajaran

2. Perencanaan Pembelajaran Terdapat kriteria baik 80% Guru

Terdapat kriteria baik


3. Pelaksanaan Pembelajaran 80% Guru
•Pembahasan Hasil
•Kelengkapan Komponen Perangkat Pembelajaran
Hasil tindakan pada siklus I, II, dan III terkait dengan kelengkapan komponen perangkat
pembelajaran ditampilkan pada tabel di bawah ini. Pada tabel tersebut empat predikat
kelengkapan komponen perangkat pembelajaran yaitu kurang, cukup, lengkap, dan
sangat lengkap. Kemudian kelompok guru dibagi menjadi tiga yaitu guru Kelas VII, VIII dan IX.
Tabel 5 Kelengkapan Komponen Perangkat Pembelajaran Siklus I, II, dan III

Siklus Guru Kurang Cukup Lengkap Sangat Jumlah Keterangan


Lengkap
I Guru Kelas VII 8 5 0 0 13
II 0 8 5 0 13
III 0 0 8 5 13
I Guru Kelas VIII 8 3 2 1 14
II 0 0 10 4 14
III 0 0 10 4 14
I Guru Kelas IX 7 3 2 2 14
II 0 1 9 4 14
III 0 0 8 6 14
•Kinerja Merencanakan Pembelajaran
Hasil pengamatan dokumen perencanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, dari
siklus I, II, dan III ditampilkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 6 Kinerja Merencanakan Pembelajaran Siklus I, II, dan III

Siklus Guru Kurang Cukup Baik Sangat Jumla Keterangan


Baik h

I Guru Kelas VII 5 4 4 0 13


II 0 8 5 0 13
III 0 1 8 4 13
I Guru Kelas VIII 6 5 3 0 14
II 0 9 5 0 14
III 0 43 9 1 14
I Guru Kelas IX 7 4 3 0 14
II 0 9 5 0 14
III 0 1 10 3 14
Hasil pengamatan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran ditampilkan pada tabel
di bawah ini.
Tabel 7 Kinerja Melaksanakan Pembelajaran Siklus I, II, dan III

SIklus Guru Kurang Cukup Baik Sang Jumlah Keterangan


at
Baik
I Guru Kelas VII 1 8 5 0 13
II 0 5 7 2 13
III 0 1 9 4 13
I Guru Kelas VIII 0 6 8 0 14
II 0 5 9 0 14
III 0 5 8 1 14
I Guru Kelas IX 0 8 4 2 14

II 0 1 12 1 14
III 0 0 7 7 14
IV. SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa intensifikasi supervisi
akademik dapat meningkatkan kinerja guru SMP Negeri 1 Sekampung pada Tahun Pelajaran
2011/2012. Pernyataan ini didasarkan pada temuan:
1. Pada siklus III jumlah predikat kurang tetap 0 orang, cukup sebanyak 6 orang, lengkap sebanyak
27 orang, dan sangat lengkap sebanyak 8 orang. Kriteria keberhasilan yang digunakan pada
kelengkapan dokumen ini adalah bahwa para guru mencapai kriteria lengkap. Dari 41 orang,
sebanyak 27 lengkap dan 8 sangat lengkap. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil
tindakan pada siklus III telah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 100%.
2. Pada siklus III jumlah predikat kurang tetap 0 orang, cukup sebanyak 6 orang, baik sebanyak 27
orang, dan sangat baik sebanyak 8 orang. Kriteria keberhasilan yang digunakan pada kinerja
merencanakan pembelajaran adalah bahwa para guru mencapai kriteria baik sebanyak 80%.
80% dari 41 adalah 33 orang. Dari 41 orang, sebanyak 27 memiliki perdikat baik dan 8 orang
sangat baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil tindakan pada siklus III telah
melebihi kriteria keberhasilan yang ditetapkan.
3. Jumlah guru dengan predikat kinerja baik dalam melaksanakan pembelajaran adalah 24 orang
dan sangat baik 12 orang, sedangkan kriteria keberhasilan yang ditentukan adalah 80% atau
guru memiliki kinerja yang baik. 80% dari 41 adalah 33 orang. Dari 41 orang, sebanyak 24 orang
memiliki perdikat baik dan 12 orang sangat baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil
tindakan pada siklus III telah melebihi kriteria keberhasilan yang ditetapkan .
Saran

Berdasarkan pernyataan simpulan atas dasar ketiga temuan di atas, maka


untuk meningkatkan kinerja guru dapat disarankan tiga hal sebagai berikut:
1. Melengkapi komponen perangkat pembelajaran harus menggunakan
tahapan sosialisasi terkait dengan teknik penyusunan perangkat
pembelajaran. Setelah fase sosialisasi diikuti dengan pemeriksaan
kelengkapan tersebut pada minggu pertama, diikuti dengan pemeriksaan
kualitas RPP, dan pada minggu kedua dilanjutkan dengan pengamatan
pelaksanaan pembelajaran dalam kelas. Langkah pemeriksaan
kelengkapan komponen perangkat, pemeriksaan kualitas RPP dan
pengamatan pelaksanaan pembelajaran dalam kelas adalah tiga langkah
utama yang dilakukan dalam secara berkelanjutan sampai tercapai kriteria
keberhasilan tindakan yang direncanakan.
2. Teknik supervisi kelompok, teknik supervisi kelompok dan teknik supervisi
invidual, teknik supervisi individual, sub teknik yang digunakan adalah
kunjungan kelas, observasi kelas dan pertemuan individual.
3. Lima langkah yang diterapkan dalam proses pembinaa kemampuan guru
melalui supervisi akademik, yaitu: (1) menciptakan hubungan-hubungan
yang harmonis, (2) analisis kebutuhan, (3) mengembangkan strategi dan
media, (4) menilai, dan (5) revisi.
DAFTAR PUSTAKA
 Alfonso, RJ., Firth, G.R., dan Neville, R.F.1981. Instructional Supervision, A
Behavior System, Boston: Allyn and Bacon, Inc.
 Arikunto, Suharsimi. 2004. Dasar-Dasar Supervisi. P.T. Rineka Cipta. Jakarta
 Gibson, James L. Ivancevich, Jhon M. Donneley, 1996. Organisasi. Perilaku,
Struktur dan Proses. Edisi VIII. Alih Bahasa Nunuk Adiani, Binarupa Aksara:
Jakarta.
 Glickman, C.D 1981. Supervision of Instruction. Boston: Allyn And Bacon Inc.
 Usman, Mohamad Uzer. 1999. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja
Rosda Karya.
 Sahertian, A. Piet. 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam
Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. P.T. Rineka Cipta. Jakarta
 Sergiovanni, T.J. 1987. The Principalship, A Reflective Practice Perspective.
Boston: Allyn and Bacon.
 Simamora, Henri. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia. STIE-YPKN:
Yogyakarta.