Anda di halaman 1dari 29

ATRESIA DUODENUM

DIAGNOSIS
 BOF :
1. Double Bubble Sign

dilatasi lambung dan duodenum

2. Tidak ada udara pada distal duodenum

USG :

Double Bubble Sign


ATRESIA ANI
PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
Dibuat foto polos menurut cara Wangensteen-Rice
atau Invertogram (5). Adapun tehnik pengambilan
fotonya adalah sebagai berikut:
 Bayi diletakkan pada posisi kepala di bawah,
sedangkan kaki di atas selama 3 -5 menit untuk
memberi kesempatan udara mencapai distal
kantong buntu rektum. Kedua tungkai difleksikan 90
derajat terhadap badan untuk menghindari
interposisi trokhanter dengan tulang inchii.
 Pada daerah anal diberi marker dari metal.
 Sentrasi foto dibuat mengarah pada trokhanter
mayor.
 Dibuat foto pada proyeksi antero-posterior dan lateral.
Pembuatan foto dilakukan 12 – 24 jam sesudah bayi
dilahirkan, sebab bila kurang dari 12 jam udara belum
sampai ke ujung distal rektum sehingga pada foto tidak
terlihat. Sedang bila lebih dri 24 jam, sudah ada tanda-
tanda obstruksi yang mempengaruhi kedudukan rektum
sehingga dapat berubah, misal menjadi letak rendah.
Sehingga hal ini dapat menyebabkan kesalahan
interpretasi.
 Bila curiga ada fistula, bisa disuntikka kontras renogram
30 lewat perineal. Ada juga yang berpendapat bila ada
fistel tidak usah dilakukan pemeriksaa foto polos karena
udara sudah keluar, sehingga tidak terlihat dalam foto.
Penilaian foto:
 Dibuat garis antara bagian bawah tulang pubis dan ujung
tulang Koksigeus (pubo-coxigeal line).
 Kemudian dibuat lagi garis melalui tulang ischii sejajar
dengan garis pubo-coxigeal (ischial line).
 Pertengahan antara pubo-coxigeal line dan ischial line adalah
level dari levator ani.
 Pada kelainan rendah (infra levator),  udara di ujung buntu
rektum telah melewati ischial line.
 Pada letak intermediet, ujung buntu rektum berada di
antara kedua garis tersebut.
 Pada kelainan tinggi (supra levator),  udara di ujung buntu
rektum belum mencapai pubo-coxigeal line, dengan jarak
yang jauh dari anal dimpel.
 Bila ada fistel dengan buli-buli dapat terlihat adanya udara
dalam buli-buli.
Radilogi
HPS
Radiography Imaging

 Dewasa ini sebagian besar kasus stenosis pilorus didiagnosis /


dikonfirmasi dengan USG, yang menunjukkan penebalan dari otot sfingter
pylorus. Penggunaan foto kontras gaster juga dapat dilakukan, dimana
terlihat penyempitan pylorus yang menyebabkan kontras tidak dapat
berlanjut ke duodenum.
Radiografi
 Radiografi abdomen mungkin menunjukkan perut berisi cairan atau udara,
menunjukkan adanya obstruksi lambung. Perut yang melebar dengan
incisura yang besar-besar (caterpillar sign), yang mewakili peningkatan
gerak peristaltik lambung pada pasien ini.

 Jika pasien baru saja muntah atau memiliki tabung nasogastrik di tempat,
perut sudah didekompresi dan temuan pada foto menjadi normal.
 Pemeriksaan saluran cerna atas merupakan pilihan yang tepat untuk
stenosis pylorus hipertrofi. Hasil yang didapatkan adalah:
 Tertundanya pengosongan lambung (jika parah, hal ini dapat mencegah barium
lewat ke pilorus).
 Filling defect pada antrum diciptakan oleh prolaps dari otot yang hipertrofik.
 Mushroom atau umbrella sign (yaitu, penebalan otot yang menonjol ke dalam
duodenum)
 Double tract sign yaitu, mukosa berlebihan dalam lumen pylorus yang sempit,
menghasilkan pemisahan kolom barium menjadi 2 saluran.
 String sign : barium melewati saluran menyempit, menciptakan satu garis yang
tipis dan memanjang
Ultrasonografi
 Pemeriksaan ultrasonography penting dalam mendiagnosis stenosis
pilorus hipertropi, karena pemeriksaan ini menghasilkan gambaran
perubahan dini yang terjadi pada HPS. Ultrasonografi memiliki sensitivitas
dan spesifisitas sekitar 100%.

 Dalam sebuah studi oleh Leaphart dkk, ultrasonografi menegaskan


stenosis pilorus hipertropi ketika ketebalan otot pilorus (MT) lebih besar
dari 4 mm dan panjang saluran pilorus (CL) lebih besar dari 15 mm.
Namun, pada bayi baru lahir untuk ketebalan otot pylorus (MT) nilai
batasnya adalah 3,5 mm.
 Teknik pemeriksaan ultrasonografi dilakukan dengan transduser 7,5 menjadi 13,5
MHz linier pada anak terlentang. Gambar melintang di epigastrium
mengidentifikasi pilorus ke kiri dari kantong empedu dan antero ke ginjal kanan
(lihat gambar di bawah). Perut yang membuncit atau distensi abdomen
menyebabkan pilorus terdorong oleh karena itu memerlukan penempatan tabung
nasogastrik untuk mendekompresi perut.

 Jika aspirasi lambung lebih dari 5 mL pada bayi yang telah tanpa asupan oral
(NPO) selama beberapa jam menunjukkan obstruksi lambung. Posisi miring
kanan posterior dan memindai dari pendekatan posterior dapat membantu untuk
meningkatkan visualisasi dari pylorus.
 Tanda-tanda HPS yang ditemukan pada pemeriksaan ultrasonografi, adalah
sebagai berikut:
 MT lebih dari 4 mm
 Target sign pada pylorus.
 Panjang saluran pilorus lebih besar dari 17 mm
 Ketebalan pylorus (serosa ke serosa) 15 mm atau lebih besar
 Kegagalan saluran untuk membuka selama minimal 15 menit scanning
 Antral nipple sign (yaitu, prolaps mukosa berlebihan ke dalam antrum, yang
menciptakan pseudomass)
 Temuan yang positif untuk sebuah pyloric stenosis hipertrofik pada
pemeriksaan ultrasonografi hampir selalu menunjukkan kondisi ini.
Pemeriksaan negatif palsu dapat terjadi pada awal penyakit atau pada
pasien muda yang MT kurang dari 3 mm.
ATRESIA ESOFAGUS
KLASIFIKASI GROSS OF BOTTON

 Tipe A: atresia esofagus tanpa fistula,


atresia esofagus murni (10%)
 Tipe B: atresia esofagus dengan TEF
proximal (<1%)
 Tipe C: atresia esofagus dengan TEF
distal (85%)
 Tipe D: atresia esofagus dengan TEF
proximal dan distal (<4%)
 Tipe E: TEF tanpa atresia esofagus
TIPE A
 Atresia esofagus tanpa fistula. Tampak
kateter pada kantong esofagus proximal.
Perhatikan tidak ada udara pada lambung
TIPE B
 Atresia esofagus dengan fistula trakea
esofagus proksimal
TIPE C
 Gambar memperlihatkan atresia
esofagus dengan fistula
trakeoesofageal distal. Selang kateter
yang berakhir di esofagus proximal dan
udara pada lambung
TIPE D

 Hubungan antara dua fistula ke


trakea dari bagian atas dan bawah
esofagus
TIPE E
 H-fistula. Abrium esofagogram
menunjukkan fistel dri anterior esofagus
menuju trakea secara anterosuperior
 Diagnosa atresia esofagus
sebelum bayi lahir dapat
ditegakkan.
 Pemeriksaan USG prenatal yaitu
polihidramnion