Anda di halaman 1dari 89

PENYAKIT MENULAR

SEKSUAL

dr. Uun Khusnul K, SpKK


GONORE

DEFINISI ETIOLOGI INSIDENSI

Gonore
merupakan infeksi
Neisseria
menular seksual Insidens teringgi
gonorrhoeae,
(IMS) yang pada kelompok
Diplococcus gram
disebabkan oleh usia 15-29tahun
(-)
Neisseria
gonorrhoeae
GEJALA KLINIS
PRIA WANITA
• Uretritis gonore • Wanita dewasa: Servisitis GO
• Masa inkubasi: 2-5 hr • Anak perempuan: vaginitis GO
• Gejala: disuria, orificium uretra • Sebagian besar asimtomatik
eksternum edematosa & • Gejala: disuri ringan, polakisuri,
eritematosus nyeri perut bagian bawah,
• Sekret uretra purulen perdarahan abnormal
• Ektropion • Keputihan warna kekuningan,
purulen/mukopurulen
KOMPLIKASI
PRIA WANITA
• Cowperitis: sakit pd perineum, • Bartolinitis: (abses bartolini) sangat
disuri nyeri, sukar berjalan, pembengkakan
• Prostatitis: nyeri pd perineum, nyeri pd labium mayus dgn tanda2 radang
saat defekasi akut & pd muara kelenjar tampak
nanah yg purulen, bila pecah
• Epididimitis: febris, kulit skrotum menimbulkan ulkus
menunjukkan tanda2 radang akut, • PID (pelvic inflammatory disease)/
nyeri sehingga sulit utk berjalan penyakit radang panggul: dpt
• orcho-epididimitis: edema asimtomatik atau simtomatik, nyeri pd
• Tysonitis, littritis: abses para uretra perut bag. Bawah, dispareunia, nyeri
• Sistitis: polakisuri, terminal saat menstruasi → KET (kehamilan
hematuri ektopiik) & sterilitas
GO EKSTRA GENITAL

Orofaringitis: (genito-oral) terdapat pd fellatio & cunillingus gejalanya spt


faringitis biasa

Proktitis GO:
• Pd laki2: homoseksual, pecahnya prostatitis, cowperitis yg pecah ke rektum
• Pd wanita: komplikasi GO perkontinuitatum
• Gejala: nyeri pd perineum, nyeri saat defekasi, kadang-kadang keluar darah

Gonoblenore: timbul pd bayi baru lahir krn ibu menderita GO, penularan
langsung sewaktu proses persalinan

Diseminata: artrhitis, meningitis, endokarditis, dermatitis


PERKEMBANGAN ORGAN KELAMIN WANITA

Masa prapuberitas: epitel vagina dlm keadaan blm berkembang


(sangat tipis) → vaginitis GO

Masa reproduktif: lapisan selaput lendir vagina mjd matang &


tebal, byk glikogen & basil Doderlein yg akan memecah glikogen
shg suasana mjd asam yg tdk memungkinkan utk tumbuhnya
kuman gonokok

Masa menopause: selaput lendir vagina mjd atrofi, kadar


glikogen menurun, basil Doderlein jg berkurang, suasana asam
mjd berkurang shg menguntungkan utk pertumbuhan kuman
gonokok → vaginitis GO

10-30% infeksi GO biasanya juga disertai oleh infeksi


Klamidia, sehingga dianjurkan untuk memberikan terapi
ganda bagi GO dan Klamidia
Sumber:
Milking dr pangkal penis diurut-urut sampai keluar duh tubuh
RT dirangsang prostat sampai keluar sekret

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Sediaan langsung: Pewarnaan Gram → Diplococcus Gram (-)


intra seluler (akut), ektra seluler (kronik), intra & ektra seluler
(kronik eksaserbasi akut)

Kultur: Thayer martin

Rx (+) oksidase : tetrafenil etilendiamin klorida  merah


lembayung

Tes fermentasi: meragikan glukosa


Anamnesis:
• Coitus
suspectus,
fellatio,
cunnilingus

DIAGNOSIS

Gejala klinis:
Px. Lab: diplo
duh purulen/
gram (-):
mukopurulen
positif
, disuria
PENATALAKSANAAN
Dewasa (tanpa Wanita hamil:
komplikasi): • Seftriakson 250 mg
• Cefixime 400 mg SD, (SD) im
atau • Cefixime 400 mg (SD) Anak-anak:
• Seftriakson 250 mg Seftriakson 125 mg
SD (im) (SD) im
• Ditambahkan Utk anak dengan BB >
• Doksisiklin 2 x 100 mg 45 kg, dosis obat
(7 hr), atau disama kan dgn dosis
• Azitromisin 1 gr (SD) dewasa

SARAN:
 Pasangan harus diobati,
 tidak berhubungan intim dulu selama terapi,
 tidak melakukan free sex,
 setia pada pasangan
NSU : NON SPESIFIK URETRITIS

DEFINISI ETIOLOGI

• Infeksi uretra yang • Chlamydia trachomatis :


penyebabnya tidak dapat 30 – 50 %
ditemukan pada • Ureaplasma urealyticum :
pemeriksaan 30 – 50 %
laboratorium sederhana, • Tidak diketahui : 20 %
dapat ditemukan pada
pria dan wanita ( pada
wanita disebut IGNS:
infeksi genital non
spesifik)
GEJALA KOMPLIKASI
KLINIS

Masa inkubasi 1 – 5 minggu Epididimitis

Sekret pada uretra : jernih  sedikit Prostatitis


keruh, sering pagi hari

Disuria Proktitis

Polakisuri Striktur uretra

Gatal Infertilitas
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Pengecatan Gram
• Diplococcus Gram (-): negatif
• Sekret uretra: Lekosit PMN ≥ 5/LPB
• Sekret serviks: lekosit PMN ≥
• Sedimen urin
• Leukosit PMN >15 dg pembesaran 400x
PENATALAKSANAAN

TERAPI LINI TERAPI PENCEGAHAN


PERTAMA ALTERNATIF • Selama
• Azitromisin 1 gr SD • Eritromisin 4 x 500 pengobatan jangan
(dosis tunggal), mg/ hr (7 hr), atau hub. sexual
atau • Ofloksasin 2 x 300 • Pengobatan
• Doksisiklin 2 x 100 mg (7 hr), atau terhadap mitra
mg/hr (7 hr) • Levofloksasin 1 x sexual
500 mg/hr (7 hr) • Tindak lanjut :
kontrol minimal 3 x
dg interval 7 hari
HERPES SIMPLEKS (HERPES GENITAL)

DEFINISI

Herpes Simplex
Infeksi akut Virus (HSV)

Khas: vesikel
Bersifat rekuren berkelompok,
dasar eritem
ETIOLOGI

HSV-1: Menyebabkan herpes labialis

HSV-2: Menyebabkan herpes genital

Dengan meningkatnya hub. Kelamin scr orogenital


maka HSV-1 maupun HSV-2 dpt ditemukan pd bentuk
labialis maupun genital
GEJALA KLINIS: Masa inkubasi: 3-7 hari

Lesi primer:
• Dpt asimtomatik
• Gejala prodromal: rasa panas (terbakar) & gatal
• Vesikel berkelompok, dasar eritem, berisi cairan jernih
• Gejala konstitusional: demam, malaise, nyeri otot, kgb
membesar & nyeri pd perabaan

Lesi rekuren
• Gejala > ringan, lesi bersifat lokal, unilateral
• Lesi vesikoulseratif & dpt menghilang dlm 5 hr
• Permulaan lesi: rasa gatal, panas & nyeri
• Riwayat pernah berulang
• Terdapat faktor pencetus

Predileksi
• Wanita: labium mayus-minus, klitoris, vagina, serviks & anus
• Laki-laki: corpus penis, glans penis & anus
• Ekstragenital: hidung, bibir, lidah, palatum, faring
Terpajan Episode klinis pertama
HSV
Faktor pencetus (trigger factor) : stress, kelelahan
atau hubungan seksual yang berlebihan → virus
reaktivasi → multiplikasi kembali

Tidak terjadi infeksi


Infeksi rekuren sama sekali
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tzank tes → sel datia berinti banyak

Biakan jaringan

Deteksi Ag : Elisa, imunoperoksidase

Deteksi Ab : Elisa

Penentuan DNA virus : PCR

Pemeriksaan Ab monoklonal dari kerokan


lesi ( mikroskop elektron indirek )
PENATALAKSANAAN

Lesi primer Infeksi rekuren


• Asiklovir 3 x 400 mg/hr (7-10 • Asiklovir 5 x 200 mg/hr (5 hr),
hr), atau atau
• Asiklovir 5 x 200 mg/hr (7-10 • Asiklovir 2 x 800 mg/hr (5 hr),
hr), atau atau
• Famsiklovir 3 x 250 mg/hr (7-10 • Asiklovir 3 x 400 mg/hr (5 hr),
hr), atau atau
• Valasiklovir 2 x 1 gr/hr (7-10 hr) • Famsiklovir 2 x 125 mg/hr (5
• Komplikasi berat: Asiklovir iv 5 hr), atau
mg/kgBB sehari 3 kali (7-10 hr) • Valasiklovir 2 x 500 mg/hr (5
hr), atau
PENATALAKSANAAN

Pengobatan non spesifik Pencegahan


• Rasa nyeri  analgetik • Kondom
• Hindari pakaian ketat • Hindari faktor pencetus
• Mengeringkan lesi, • Abstinensia seksual
mencegah infeksi sekunder :
antibiotik topikal

PROGNOSIS
 Infeksi primer dini yang segera diobati  prognosis baik
 infeksi rekuren  hanya dapat dibatasi frekuensi
kekambuhannya
TRIKOMONIASIS

 Definisi : peny. Infeksi protozoa yg disebabkan T. vaginalis,


ditularkan melalui hub. sexual dan sering traktus urogenitalis
bagian bawah, baik pada pria maupun wanita
 Gejala klinik :
- Masa tunas ( 4 – 28 hari )
- Asimtomatik
- Duh tubuh vaginal >> & berbau
- Klasik : duh tubuh kuning kehijauan, berbau tdk enak ( 10-35 % ),
berbusa, strawberry appearance (abses kecil berwarna merah
pd dinding vagina dan serviks)
- Rasa gatal dan perih pada vulva
- Dispareunia
- Perdarahan pasca coitus
 Penunjang diagnosis :
1. Pemeriksaan sediaan langsung
- (dengan NaCl 0,9%) hasil (+) 47-77%
- didapatkan trikhomonas vaginalis dengan gambaran seperti
mempunyai flagel dengan gerakan khas menghentak-
hentak

2. Biakan : kultur media Feinberg Whittington, hasil (+) 92-93%

 Pengobatan :
Lini pertama:
- Metronidazol 2 gr oral dosis tunggal, atau
- Tinidazol 2 gr dosis tunggal
Alternatif
- Metronidazol : 3 x 500 mg oral ( 7 hari )
KANDIDOSIS VULVOVAGINALIS
Def : infeksi vagina dan/atau vulva oleh kandida, khususnya Candida
albicans (81%), atau kadang-kadang C. glabrata (16%), spesies lain
(C. tropicalis, C. stellatoidea, C. pseudotropicalis, C. krusei) sangat
jarang, hanya berkisar sekitar 3%..

Faktor predisposisi :
1. Me kadar karbohidrat (pe an glikogen vagina) pd
kehamilan & pemakai pil KB
2. Pe pH
3. Lingkungan yang hangat & lembab
4. D.M.
5. Pemakai AB / kemoterapi
Gej. Klinis : masa tunas 5 – 21 hari 12
 Wanita :
-Gejala khas adalah rasa gatal/iritasi pada vulva disertai keputihan
yang tidak berbau atau berbau asam. Keputihan berwarna putih
keju atau seperti kepala susu atau krim. Pada dinding vagina pada
umumnya dijumpai gumpalan keju (cottage cheese).
- pemeriksaan klinis : vulva / vagina kemerahan, udem, fisura, kdg ²
erosi, ulserasi.
- khas : pseudomembran (+), duh tubuh mucoid atau cair dengan
butir-butir gumpalan keju.
Pria :

-eritem difus, vesikopustul mudah pecah  erosi + skuama putih di tepi


(koloret) terutama glans penis / preputium → balanitis

Laboratorium :
-KOH, atau Gram: Pseudohifa (+) & yeast cell (+)
13
Penatalaksanaan:
 Klotrimazol 100 mg tablet vagina (7 hr), atau
 Klotrimazol 2x100 mg tablet vagina (3 hr), atau
 Mikonazol 100 mg vagina supp 1x/hr (7 hr), atau
 Nistatin 100.000 unit tablet vagina 1x/hr (14 hr)
 Sistemik: - flukonazol 1 x 150 mg dosis tunggal, atau
- Itrakonazol 2 x 200 mg/hr (2 hari)
VAGINOSIS BAKTERIAL
Etiologi : Hemofilus vaginalis (Gardnerella vaginalis),
Mycoplasma hominis, Bacteroides spp.

 Gejala klinis :
 - duh tubuh vagina sedikit/ sedang
 - bau amis, lebih bau setelah senggama
 - iritasi daerah vagina & sekitarnya  gatal, rasa terbakar.
 - 20% kasus  kemerahan, udem vulva
 - 50% asimtomatik
 - duh tubuh abu – abu homogen, melekat pada dinding
vagina
 - eritem vagina & vulva.
Diagnosis BV ditegakkan berdasarkan terdapatnya 3 atau lebih dari 4
kriteria Amsel yaitu
(1) duh tubuh vagina homogen, putih atau keabu-abuan, melekat pada
dinding vagina,
(2) terdapat sel clue pada pemeriksaan mikroskopik,
(3) pH vagina > 4,5 dan
(4) sekret vagina berbau seperti ikan sebelum atau setelah
penambahan KOH 10% (tes Whiff) → fishy odor

Pemeriksaan pembantu :
- Lab : clue cell (+), (sel epitel vagina diliputi kokobasil)
- Tes amin (sekret vagina + 1 tetes KOH 10%  bau
amis)
- pH. Vagina : 4,5 – 5,5
- Biakan : agar Casman
Pengobatan :
 Metronidazol 2 x 500 mg/hr (7 hr), atau
 Metronidazol 0,75% gel, intravagina, 1x/hr (5 hr),
atau
 Klindamisin 2% krim, intravagina, 1x/hr (7 hr)
KONDILOMA AKUMINATA
Etiologi : virus papilloma humanus
Penularan : kontak langsung : autoinokulasi (kontak seksual).
Masa inkubasi 3 minggu – 8 bulan.
Manifestasi klinis :
1. Kondiloma akuminata
Pria : pd frenulum, sulkus koronarius :
papul multipel, merah muda, lembab, bersatu
menjadi massa besar.
Wanita : introitus vagina posterior, labia minora, klitoris
2. Giant Kondiloma Busche Louwenstein
kondiloma besar, lokal invasif, tidak metastasis.
3. Papulosis Bowenid : papul multipel, kecil, merah
kehitaman. Bila bergabung spt “ cobble stone
surface papule “.
Identifikasi partikel virus dengan : 16

1. Mikroskop elektron
2. Ag virus dg tehnik peroksidase
3. DNAvirus dg metode hibridasi

Penatalaksanaan :
1. Umum :
- jaga kebersihan genital untuk mencegah infeksi
sekunder.
- cari kemungkinan PMS lain
- pemeriksaan pasangan seksual
- abstinensia
2. Kemoterapi :
- Podofilin 20 –25%, seminggu 2x
- asam triklor asetat 50%
- 5 fluorourasil 1 – 5%
- Podofiloyoksin 0,5%
3. Interferon
4. Bedah skalpel
5. Bedah listrik
6. Bedah beku
7. Laser CO2
8. Imunoterapi
9. Radioterapi
SIFILIS

Tes serologi sifilis (TSS) 


presumptive diagnosis:
 TSS treponemal : bersifat spesifik
 TPHA ( 1/80 atau lebih )
 FTA - ABS
 TSS nontreponemal (reagin): Tdk
spesifik
 Wasserman
 VDRL 1/16, RPR
SIFILIS

 Tes reagin utk:


 Tes penapisan/screening tes

 Menilai efektivitas terapi

 Mendeteksi kekambuhan

 Mendeteksi reinfeksi
SIFILIS
Gambaran klinis :
 S. akuisita: S I
S II sifilis
Laten dini (<2th) dini
S rekuren
Laten lanjut (>2th) sifilis
S III lanjut

 S. kongenital: Dini/precox (< 2 thn)


Lanjut: tarda (>2 thn)
Stigmata sifilitika

 S. laten pada S. akuisita / S.kongenital


SIFILIS
 CS
+ 3 minggu
 S I : ulkus durum
2-6 mgg
ulkus durum & bubo indolen tdk
nyeri  fokus primer  sembuh sendiri
 S II : - Sindroma spt flu
- Limfadenopati generalisata
- Erupsi lokalisata/generalisata
lokalisata:mukosa (mucous patch),
kulit (kondiloma lata, S.psoriasiformis)
 S laten: gejala (-), STS (+)
 S III : - Setelah 2 - > 20 th
- Guma sifilitika
 5 bentuk neurosifilis.
 Kardiovaskuler.
SIFILIS

Ulkus durum, ulkus yg tdk nyeri pd proksimal


glans penis
SIFILIS

Lesi kulit pada S II :


 Makula eritem

 Makulo papuler
 Di mukosa : 'mucous patch'
 Papuler / folikuler / papuloskuamosa
 Alopesia 'moth eaten'
 Kondilomata lata
 Ulserasi pustuler: papulonekrotikan
 S II rekuren : lesi anuler
SIFILIS

Erupsi papuloskuamus pd punggung, hrs


dibedakan dgn psoriasis gutata /pitiriasis
rosea
SIFILIS

Kondilomata lata, papul lunak, basah, datar


merah muda pd perineum & perianal
SIFILIS

Sifilis III, tipe ulkusnoduler, asimptomatis, berkrusta


plakat dg ulserasi, tepi serpiginosa
SIFILIS
 S. kongenital :
 Dini (precox): keln spt S II akuisita:
• Anak mata melotot, kepala besar, kulit
keriput (the little old man)
• Bula pd telapak tangan & kaki (pemfigus
sifilitikus)
• Perut membesar seperti katak
hepatomegali (‘frog’s belli’)
• 1- 4 minggu meninggal
 Lanjut (tarda): trias Hutchinson
- Gigi Hutchinson
- Keratitis interstisial
- Tuli N VIII
Keln spt S III akuisita
SIFILIS

 Stigmata Sifilitika:
 Dahi menonjol
 Mandibula menonjol

 Hidung pelana

 Sabre tibia

 Periostitis  pseudoparalisis
parrot
 Maksila hipotrofi
SIFILIS

Diagnosis :
 S I: mikroskopis
 S II: Gamb. klinis
Mikroskopis (+/-)
TSS selalu reaktif
VDRL min 1/16 TPHA 1/80
 S laten: TSS reaktif, tak ada lesi
 S III: biopsi organ
TSS darah & /cairan otak
SIFILIS
Terapi :
 S I, S II dewasa: BP 2,4 ju im d.tunggal
 S I, S II anak: BP 50.000 U/kg im d.t
maks 2,4 ju
 Dewasa, S. laten dini: BP 2,4 ju im d.t
Lanjut : BP 2,4 ju im /mgg 3 mgg
 Anak: S.laten dini : BP 50.000 u/kg im d.t
maks 2,4 ju
Lanjut : BP 50.000 u/kg im/ mgg 3 mgg
 S III bukan neurosifilis: BP 2,4 ju im/mgg
3 mgg
 Neurosifilis: PG in aqua 12-24 ju / hari :2-4
ju IV / 4 jam 10-14 hari
ULKUS MOLE

 E /: Haemophilus ducreyi
streptobasil gram negatif
 Unna pappenheim: bentuk
'peniti tertutup‘bergerombol
'school of fish'
 Penularan: kontak seksual
 Inkubasi: 3 - 10 hari
ULKUS MOLE

Gambaran klinis :
 Papul ulkus yang sakit & lunak
 Batas tegas
 Bergerigi (polisiklis)
 Dasar : eksudat
 Autoinokulasi lesi berhadapan
(‘Kissing lession’)
 Adenopati inguinal unilat & sakit 
supurasi  pecah  bubo
(limfadenitis bubo)
ULKUS MOLE

 Ulkus phagadenikum  ulkus


yg berat krn inf sekunder
 Amputasi penis
 Deformitas pd ♀
 Ulkus Mixtum : ulkus mole +
ulkus T pallidum
ULKUS MOLE

Ulkus mole, ulkus yang sangat nyeri dgn


eritema & edema disekelilingnya
ULKUS MOLE

Ulkus mole, ulkus multipel, sangat nyeri pd


vulva krn otoinokulasi
ULKUS MOLE

Diagnosis :
 Dasar ulkus / aspirat bubo :

Giemsa / Wright / Unna


pappenheim
 Biopsi ulkus : 3 Zona

 Singkirkan kausa ulkus lain


ULKUS MOLE

Terapi :
 Azitromisin 1 g oral d.tunggal /

 Seftriakson 250 mg im d.t /

 Eritromisin basa 4 x 500 mg/7 hr

 Ulkus sakit sekali ?  kompres


dingin
 Aspirasi kelenjar inguinal
LGV (Lymphogranuloma
Venereum)
 E/: Chlamydia trachomatis (L1 -
L3)  bakteri obligat intraseluler
 Inkubasi : 3 - 4 mgg
 Penyakit TU menyerang sistem
limfatik
LGV (Lymphogranuloma Venereum)
Gambaran klinis :
 CS
7-10 hari
 Std I : papul tdk nyeri, ulkus berderet2 pd
penis (‘saxophone penis’) 3 - 4 hr
sembuh
1 - 4 mgg
 Std II: ♂ kel. inguinal >, unilat, sakit
kel. femoral: 'sign of groove‘ 
‘etage bubo’
♀ bg. atas  kelenjar inguinal
bg. bawah  kelenjar iliaka
profunda
♀, ♂ homo: sindr anogenital 
kelenjar
perirektal
 Std III: Sekuele [striktur, fistul,
estiomen (elefantiasis genital)]
LGV (Lymphogranuloma
Venereum)

LGV, limfadenopati pd pemb limfe femoral &


inguinal (‘sign of groove’)
LGV (Lymphogranuloma
Venereum)
Diagnosis :
 Tes kulit Frei

 Tes fiksasi komplemen

 Tes mikro imuno fluoresen

 Kultur jaringan

 Tes antibodi monoklonal -


konjugasi fluoresen
LGV (Lymphogranuloma
Venereum)
Terapi : - menyembuhkan
- cegah kerusakan jaringan
 Doksisiklin 2 x 100 mg / hr, 21 hr
 Eritromisin 4 x 500 mg / hr, 21 hr
 Sulfisoksazol 4 x 500 mg / hr, 21 hr
 Azitromisin 1 g/mgg 3 mgg
 Bubo fluktuatif : aspirasi
 Tidak boleh insisi  sikatrik 
deformitas
 Striktur rektum : dilatasi, kolostomi
GI (Granuloma Inguinale)

 E/: Donovania granulomatis


Gram negatif  di jar  kapsul
’badan Donovan’
 Inkubasi : 14 -15 hari
 Derajat penularan : rendah
GI (Granuloma Inguinale)
Gambaran klinis :
 Lokasi lesi : batang penis, labia
mayora
 Nodul eritem, tdk sakit,
granulomatus
 Lesi satelit tepi polisiklis
 Gej. sistemik ( - )
 Limfadenopati
 Destruktif  fistel
 Ulkus btk seperti sosis
GI (Granuloma Inguinale)

Varian klinis :
 Ulserovegetatif: bentuk
tersering, ulkus granulomatus
 Hipertrofik/verukus: tepi ulkus
meninggi & verukoid
 Nekrotik: destruksi ulseratif,
eksudat berbau
 Sklerotik/sikatrikal: parut di
sekeliling genital
GI (Granuloma Inguinale)

GI, tipe ulserovegetatif, jar granulasi luas,


ulserasi & skar pd perineum, skrotum & penis
GI (Granuloma Inguinale)

Diagnosis :
 Spesimen dr tepi granulomatus
 lesi yg aktif
 Wright / Giemsa :basil bipolar
dlm sel mononuklear
 Tdk ada pemeriks - serologi

- kultur
GI (Granuloma Inguinale)

Terapi :
 Tetrasiklin 4 x 500 mg/hari
± 3 mgg (s/p lesi sembuh )
 Alternatif lain :
 Trimetoprim 160 mg +
Sulfametoksazol 800 mg 2 x/hari
 Kloramfenikol 3 x 500 mg/hari
 Gentamisin 1mg/kg/hr im  2 - 4
mgg
AIDS= Acquired Immuno Defisiensi
Syndrome

Berbahaya oleh karena:


• Mematikan
• Blm ada obat / vaksin
• Gejala terlihat sesudah 5-10 tahun
• Penyebaran cepat & bersifat pandemi
Penyebab:
Retro virus bersifat limfositofatikHIV
Sifat :
• Mudah mati dlm alam bebas
• Mati pada suhu 50-60 C/ 30 menit
• Timbulkan keganasan sarkoma kaposi
Penularan:
• Kontak seksual
• Jarum suntik/ alat lainnya
• Transfusi darah / produk darah
• Bumil (HIV)  anak dlm kandungan
Yang tertular:
Dahulu: kelompok risiko tinggi, homo/bisek, WTS/
PTS, pecandu obat bius ( IVDV), penderita
talasemi, bayi dng ibu menderita HIV.
Sekarang : semua orang
Faktor-faktor yg memudahkan
infeksi AIDs di Indonesia

1. Kel. Perilaku seksual berisiko tinggi:


- prostitusi kel. PSK, pelanggan
- bukan prostitusi  pelaut, istri
pelanggan PSK, dll
2. Kualitas pelayanan kesehatan
3. Kualitas dan kuantitas penyuluhan
kesehatan atau AIDS belum menyeluruh.
4. Pemakaian kondom masih rendah
5. Kurangnya kesadaran masy & decision
maker ( pengambilan keputusan) terhadap
bahaya AIDS.
6. Tingginya angka penularan penyakit
seksual
7. Meningkatnya jumlah migrasi penduduk.
PENULARAN HIV PADA DEWASA SECARA
GLOBAL KLASIK & KUMULATIF ( AWAL TH
1992)

Cara penularan Peluang terjangkit Presentasi global

Transfusi darah >90% 4-6


Hub.seksual 0,1 – 10% 80-90

Suntikan obat bius 0,5-10% 5-10


Alat kedokteran < 0,5% <0,1
tdk steril
PERJALANAN KLINIK
2-6 bulan 1-20 bulan 26 bulan

Infeksi Antibodi (+) Klinis AIDS (+)


Antibodi (+)
(Window ( fase laten)
period)
GAMBARAN INFEKSI HIV

1. Sind. Inf. Primer akut


2. Inf. Asimtomatis
3. Limfadenitas persisten generalisata (PGL)
4. Infeksi HIV simtomatis (AIDS)
DIAGNOSIS AIDS ( WHO )

Fasilitas diagnosis terbatas:


Pada orang dewasa: 2 gejala mayor dengan
minimal 1 gejala minor dengan tidak
ditemukan penyebab lain supresi imun
tubuh
GEJALA MAYOR

1. Penurunan BB > 10%


2. Diare kronik > 1 bulan
3. Demam berkepanjangan > 1 bulan
GEJALA MINOR

1. Batuk menetap > 1 bulan


2. Pruritus / dermatitis yang luas
3. H. zoster rekuren
4. Kandidosis orofaring
5. H. simplek klinik progresif & luas
6. PGL ( virus bersifat limfotropik)
DIAGNOSIS AIDS PADA ANAK

Diduga minimal terdapat 2 gejala mayor dan 2


gejala minor dengan penyebab supresi imun
yang lain disingkirkan.
GEJALA MAYOR

1. Penurunan BB yang menyolok /


pertumbuhan abnormal
2. Diare kronik > 1 bulan
3. Demam > 1 bulan
GEJALA MINOR

1. PGL
2. Kandidosis orofaring
3. Infeksi umum yg berulang
4. Batuk 1 bulan
5. Dermatitis generalisata
6. Konfirmasi ibu terinfeksi HIV
GEJALA – GEJALA AIDS

1. Kelelahan
2. Demam panas > 38 C > 1 bulan
3. BB ↓ drastis ( > 10%)
4. Mencret > 1 bulan
5. Sesak nafas & batuk kering
6. Sariawan lama
7. Sarkoma kaposi
DIAGNOSIS LABORATORIUM

1. LANGSUNG: deteksi antigen virus 


PCR
2. TIDAK LANGSUNG: respon zat anti
spesifik  elisa, Western Blot, IFA, RIPA
Yang lazim dipakai :
1. ELISA : - sensitivitas ↑ pos. 2-3
bln setelah infeksi.
- (+)  harus dikonfirmasi
dng Western Blot
2. Western Blot : spesifisitas ↑, mahal
3. PCR
OBAT-OBATAN
1. Zidovudin (ZDV)
2. Didanosin ( DDI)
3. Dideoxycytidine ( DDC)
4. Derivat HEPT dan TIBO
5. Kombinasi :
Triple: Sanquinavir, ZDV,DDC
Double: DDC + ZDV
DDC + Saquinavir
Terima Kasih
Seorang pria, 24 tahun, datang dengan keluhan kencing
terasa sakit dan keluar cairan berwarna kekuingan dari alat
kelaminnya sejak 3 hari yang lalu. Penderita mengakui telah
berhubungan seksual dengan tunasusila. Penderita bekerja
sebagai supir truk. Pada pemeriksaan fisik tampak orifisium
uretra eksternum merah, edema dan ektropion. Tampak duh
tubuh mukopurulen. Pada pemeriksaan gram didapatkan
diplokokkus gram (-) intrasel.
Mikroorganisme penyebab kasus di atas adalah.......
A. Chlamydia trachomatis
B. Ureaplasma urealyticum
C. Neisseria gonorrhoeae
D. Haemophilus ducreyi
E. Donovania granulomatis
Seorang wanita, 25 tahun, menikah, datang dengan keluhan
keputihan yang berbau amis yang dirasakan oleh pasangan
penderita setelah bersenggama disertai rasa gatal. Penderita
sering menggunakan cairan pembilas vagina seperti yang
diiklankan di TV. Pada pemeriksaan fisik tampak vagina dan vulva
eritem, duh tubuh (+) abu-abu homogen. Tes amin (+), pH vagina
5. Pada pemeriksaan gram didapatkan clue cell > 20%.
Diagnosis yang paling tepat dari kasus diatas adalah................
A. Servisitis gonorrhoe
B. Vaginosis bakterial
C. Kandidiasis vulvovaginalis
D. Trikomoniasis vaginalis
E. Infeksi genital non spesifik
Seorang Pria, 35 tahun, datang dengan keluhan timbul bintil-bintil
seperti kutil dikelamin, semakin lama semakin banyak. Penderita
bekerja sebagai pelaut. Dari anamnesis penderita mengakui sering
bergonta ganti pasangan. Pada pemeriksaan fisik tampak papul dan
nodul verukosus pada corpus penis, sirkumskrip, diskret. Pada
pemeriksaan histopatologik didapatkan koilositosis.
Virus penyebab kasus di atas adalah.....
A. Virus herpes simpleks
B. Virus papilloma humanus
C. Pox virus
D. Human immunodeficiency virus
E. Entero virus