Anda di halaman 1dari 40

Konsep dasar fisika

Kelompok 4 udara
Afif Arfiana Azhar Fanny Setiawan
Annisa Nurul Mujahidah Nanun Tajriyaani
Chintia Wardany Putri Eri Noviana
Dewi Nurul Rahmawati Rikha Ajeng Nuraeni
Faiqotul Himmah Rizan Rayi Wandeka
DEFINISI udara

Udara merupakan campuran berbagai gas yg tidak berwarna dan tidak


berbau yang memenuhi ruang di atas bumi Udara merujuk kepada campuran gas
yang terdapat pada permukaan bumi. Udara bumi yang kering mengandungi 78%
nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uap air, karbon dioksida, dan gas-gas lain.
Kandungan elemen senyawa gas dan partikel dalam udara akan berubah-
ubah dengan ketinggian dari permukaan tanah. Demikian juga massanya, akan
berkurang seiring dengan ketinggian. Semakin dekat dengan lapisan troposfer,
maka udara semakin tipis, sehingga melewati batas gravitasi bumi, maka udara
akan hampa sama sekali.
Apabila makhluk hidup bernapas, kandungan oksigen berkurang, sementara
kandungan karbon dioksida bertambah. Ketika tumbuhan menjalani sistem
fotosintesa, oksigen kembali dibebaskan.
Di antara gas-gas yang membentuk udara adalah seperti berikut :
Komponen Formula Persen volume (%)

Nirogen N2 78,08
Oksigen O2 20,95
Argon Ar 0,934
Karbon dioksida CO2 0,0314
Neon Ne 0,00182
Helium He 0,000524
Metana CH4 0,0002
Kripton Kr 0,000114
Sifat udara

 Udara dimana-mana, tidak dapat dilihat tetapi dirasakan.


 Udara menekan kesegala arah.
 Mempunyai massa (berat).
 Bentuk, volume, dan berat jenisnya selalu berubah-ubah.
 Menempati ruang.
 Mengembang bila dipanaskan dan menyusut bila didinginkan.
 Udara yang bergerak memiliki tekanan yang lebih rendah dari pada udara
diam.
 Di tempat yang panas udara bergerak naik, diganti oleh udara yang dingin.
Parameter fisik udara

No Jenis Parameter Satuan Kadar yang dipersyaratkan


1. Suhu (oC) 18 - 30
2. Pencahayaan (Lux)Minimal 60
3. Kelembaban (% Rh) 40 - 60
4. Laju Ventilasi (m/dtk) 0,15 – 0,25
5. PM2,5 (μg/m3) 35 dalam 24 jam
6. PM10 (μg/m3) ≤ 70 dalam 24 jam
No. Parameter Waktu Pengukuran Baku Mutu Peralatan

SO2 1 Jam 900 ug/Nm3


1 (Sulfur 24 Jam 365 ug/Nm3 Spektrofotometer
Dioksida) 1 Thn 60 ug/Nm3

CO 1 Jam
30.000 ug/Nm3
2 (Karbon 24 Jam NDIR Analyzer
10.000 ug/Nm3
Monoksida) 1 Thn

1 Jam 400 ug/Nm3


3 NO2(Nitrogen Dioksida) 24 Jam 150 ug/Nm3 Spektrofotometer
1 Thn 100 ug/Nm3

O3 1 Jam 235 ug/Nm3


4 Spektrofotometer
(Oksidan) 1 Thn 50 ug/Nm3

HC
5 (Hidro 3 Jam 160 ug/Nm3 Gas Chromatogarfi
Karbon)
PM10
6 (Partikel < 24 Jam 150 ug/Nm3 Hi - Vol
10 um)
24 Jam 65 ug/Nm3 Hi – Vol
PM 2.5*
1 Jam 15 ug/Nm3 Hi - Vol
TSP 24 Jam 230 ug/Nm3
7 Hi – Vol
(Debu) 1 Jam 90 ug/Nm3
Pb(Timah 24 Jam 2 ug/Nm3 Hi – Vol
8
Hitam) 1 Jam 1 ug/Nm3 AAS
10
Ton/Km2/Bulan
Dustfall (Pemukiman)
9 30 Hari Cannister
(Debu Jatuh) 20
Ton/Km2/Bulan
(Industri)
Impinger atau
24 Jam 3 ug/Nm3
10 Total Fluorides (as F) Continous
90 Hari 0,5 ug/Nm3
Analyzer

40 ug/100
Limed Filter
11 Fluor Indeks 30 Hari cm2dari kertas
Paper
limed filter

Impinger atau
Khlorine dan Khlorine
12 24 Jam 150 ug/Nm3 Continous
Dioksida
Analyzer

1 mg SO3/100
Lead Peroxida
13 Sulphat Indeks 30 Hari cm3Dari Lead
Candle
Peroksida

Catatan :
(*) PM2.5 mulai diberlakukan tahun 2002
Nomor 10 s/d 13 Hanya berlakukan untuk daerah/kawasan Industri Kimia Dasar
Contoh : Industri Petro Kimia; Industri Pembuatan Asam Sulfat
Kandungan gas
pencemar dalam
ruang kerja, dalam
rata-rata PARAMETER KONSENTRASI MAKSIMAL
pengukuran 8 jam
sebagai berikut :
No.
(mg/m3) ppm
1. Asam Sulfida (H2S) 1 -
2. Amonia (NH3) 17 25
Karbon Monoksida
3. 29 25
(CO)
Nitrogen Dioksida
4. 5,60 3,0
(NO2)
Sulfur Dioksida
5. 5,2 2
(SO2)

Referensi :
Peraturan Pemerintah RI No 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian pencemaran udara
Sumber pencemar fisik
1. Suhu
a. Dampak
Suhu dalam ruang rumah yang terlalu rendah dapat menyebabkan
gangguan kesehatan hingga hypotermia, sedangkan suhu yang terlalu
tinggi dapat menyebabkan dehidrasi sampai dengan heat stroke.
b. Faktor risiko
Perubahan suhu udara dalam rumah dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain:
1) Penggunaan bahan bakar biomassa
2) Ventilasi yang tidak memenuhi syarat
3) Kepadatan hunian
4) Bahan dan struktur bangunan
5) Kondisi Geografis
6) Kondisi Topografi
2. Pencahayaan
a. Dampak
Nilai pencahayaan (Lux) yang terlalu rendah akan berpengaruh
terhadap proses akomodasi mata yang terlalu tinggi, sehingga akan
berakibat terhadap kerusakan retina pada mata.
Cahaya yang terlalu tinggi akan mengakibatkan kenaikan suhu pada
ruangan.
b. Faktor Risiko
Intensitas cahaya yang terlalu rendah, baik cahaya yang bersumber
dari alamiah maupun buatan.
3. Kelembaban
a. Dampak
Kelembaban yang terlalu tinggi maupun rendah dapat menyebabkan
suburnya pertumbuhan mikroorganisme.
b. Faktor risiko
Konstruksi rumah yang tidak baik seperti atap yang bocor, lantai,
dan dinding rumah yang tidak kedap air, serta kurangnya
pencahayaan baik buatan maupun alami.
4. Laju Ventilasi
a. Dampak
Pertukaran udara yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan
suburnya pertumbuhan mikroorganisme, yang mengakibatkan
gangguan terhadap kesehatan manusia.
b. Faktor Risiko
1) Kurangnya ventilasi (jumlah dan luas ventilasi tidak cukup,
sesuai persyaratan kesehatan).
2) Tidak ada pemeliharaan AC secara berkala.
5. Partikel debu diameter 2,5μ (PM2,5) dan Partikel debu diameter 10μ
(PM10)
a. Dampak
PM2,5 dan PM10 dapat menyebabkan pneumonia, gangguan sistem
pernapasan, iritasi mata, alergi, bronchitis khronis.
PM2,5 dapat masuk kedalam paru yang berakibat timbulnya emfisema
paru, asma bronchial, dan kanker paru-paru serta gangguan
kardiovaskular atau kardiovascular (KVS).
b. Faktor Risiko
Secara umum PM2,5 dan PM10 timbul dari pengaruh udara luar
(kegiatan manusia akibat pembakaran dan aktifitas industri).
Sumber dari dalam rumah antara lain dapat berasal dari perilaku
merokok, penggunaan energi masak dari bahan bakar biomasa, dan
penggunaan obat nyamuk bakar.
Peraturan tentang udara

 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran


Udara
 Keputusan MENLH Nomor KEP-13/MENLH/03/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber
Tidak Bergerak
 Keputusan MENLH Nomor KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan
 Keputusan MENLH Nomor KEP-49/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Getaran
 Keputusan MENLH Nomor KEP-50/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebauan
 Keputusan Kepala Bapedal Nomor KEP-205/BAPEDAL/07/1996 tentang Pedoman
Teknis Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak
 Keputusan MENLH Nomor KEP-45/MENLH/10/1997 tentang Indeks Standar
Pencemar Udara
 Keputusan Kepala Bapedal Nomor KEP-107/BAPEDAL/11/1997 tentang Pedoman
Teknis Perhitungan dan Pelaporan Serta Informasi Indeks Standar Pencemar Udara
 Peraturan MENLH Nomor 05 Tahun 2006 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor
Lama
 Peraturan MENLH Nomor 07 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Ketel
Uap
 Peraturan MENLH Nomor 17 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha
dan/atau Kegiatan Industri Keramik
 Peraturan MENLH Nomor 18 Tahun 2008 Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha dan/atau
Kegiatan Industri Carbon Black
 Peraturan MENLH Nomor 21 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha
dan/atau Kegiatan Pembangkit Tenaga Listrik Termal
 Peraturan MENLH Nomor 04 Tahun 2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor
Tipe Baru
 Peraturan MENLH Nomor 07 Tahun 2009 tentang Ambang Batas Kebisingan Kendaraan Bermotor Tipe
Baru
 Peraturan MENLH Nomor 13 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Bagi Usaha
dan/atau Kegiatan Minyak dan Gas Bumi
 Peraturan MENLH Nomor 12 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Pengendalian
Pencemaran Udara di Daerah
 Peraturan MENLH Nomor 35 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Halon
 Peraturan MENLH Nomor 04 Tahun 2011 tentang Standar Kompetensi dan Sertifikasi
Kompetensi Penanggung Jawab Pengendalian Pencemaran Udara
 Peraturan MENLH Nomor 07 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Emisi Sumber Tidak
Bergerak Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Industri Rayon
 Peraturan MENLH Nomor 10 Tahun 2012 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang
Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori L3
 Peraturan MENLH Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pedoman Penghitungan Beban
Emisi Kegiatan Industri Minyak dan Gas Bumi
 Peraturan MENLH Nomor 23 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan MENLH
Nomor 10 Tahun 2012 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor
Tipe Baru Kategori L3
Teknik sampling kualitas udara

Teknik sampling kualitas udara dilihat lokasi pemantauannya terbagi dalam


dua kategori yaitu teknik sampling udara emisi dan teknik sampling udara
ambien. Sampling udara emisi adalah teknik sampling udara pada sumbernya
seperti cerobong pabrik dan saluran knalpot kendaraan bermotor. Teknik
sampling kualitas udara ambien adalah sampling kualitas udara pada media
penerima polutan udara/emisi udara.
Untuk sampling kualitas udara ambien, teknik pengambilan sampel kualitas
udara ambien saat ini terbagi dalam dua kelompok besar yaitu pemantauan
kualitas udara secara aktif (konvensional) dan secara pasif. Dari sisi parameter
yang akan diukur, pemantauan kualitas udara terdiri dari pemantauan gas dan
partikulat
Teknik sampling kualitas udara dilihat lokasi pemantauannya terbagi dalam dua
kategori yaitu
1. teknik sampling udara emisi ,dan
2. teknik sampling udara ambien.

Sampling udara emisi adalah teknik sampling udara pada sumbernya seperti
cero-bong pabrik dan saluran knalpot kendaraan bermotor. Teknik sampling
kualitas udara ambien adalah sampling kualitas udara pada media penerima
polutan udara/emisi udara.
Untuk sampling kualitas udara ambien, teknik pengambilan sampel kualitas
udara ambien saat ini terbagi dalam dua kelompok besar yaitu pemantauan
kualitas udara secara aktif (konvensional) dan secara pasif.
Pemantauan parameter partikulat secara konvensional (aktif sampling)
metoda passive samplingdapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Metoda Pengujian Partikulat dari Udara Ambien secara Aktif
Partikulat atau debu adalah suatu benda padat yang tersuspensi di udara dengan
ukuran dari 0,3 µm sampai 100 µm, berdasarkan besar ukurannya partikulat
(debu) ada dua bagian besar yaitu debu dengan ukuran lebih dari 10 µm disebut
dengan debu jatuh (dust-fall) sedang debu yang ukuran partikulatnya kurang dari
10 µm disebut dengan Suspended Partikulate Matter (SPM). Debu yang ukurannya
kurang dari 10 µm ini bersifat melayang-layang di udara
Peralatan yang dipakai untuk melakukan pengukuran debu SPM (melayang-layang)
ada 4 jenis alat diantaranya :
a. HVS (High Volume Sampler)
Cara ini dikembangkan sejak tahun 1948 menggunakan filter berbentuk segi
empat seukuran kertas A4 yang mempunyai porositas 0,3 – 0,45 µm dengan
kecepatan pompa berkisar 1.000 – 1.500 lpm. Pengukuran berdasarkan metoda ini
untuk penentuan sebagai TSP (Total Suspended Partikulate). Alat ini dapat
digunakan selama 24 jam setiap pengambilan contoh udara ambien. Bentuk alat
HVS dapat dilihat pada Gambar 2 dibawah ini :
b. MVS (Middle Volume Sampler).
Cara ini menggunakan filter berbentuk lingkaran (Bulat) dengan porositas 0,3-
0,45 µm, kecepatan pompa yang dipakai untuk pengangkapan
suspensi Particulate Matter ini adalah 50 – 500 lpm.
c. LVS (Low Volume Sampler)
Cara ini menggunakan filter berbentuk lingkaran (Bulat) dengan porositas 0,3-
0,45 µm, kecepatan pompa yang dipakai untuk pengangkapan Suspensi
Partikulate Matter ini adalah 10 – 30 lpm.
d. Pengukuran PM 10 dan PM 2.5.
Pengertian PM10 dan PM 2.5 adalah partikulat atau debu dengan diameter ≤ 10
mikron dan ≤ 2.5 mikron . Untuk pengukuran partikulat dengan diameter tersebut di
atas diperlukan teknik pengumpulan impaksi, dengan metode tersebut dimung-kinkan
untuk memisahkan debu berdasarkan diameternya . Diameter yang lebih besar akan
tertahan pada stage paling atas, semakin ke bawah, maka semakin kecil diameter
yang dapat terkumpulkan permukaan stage .
Setiap Cascade Impactor terdiri dari beberapa stage, ada yang 3, 5 sampai 9
stage (plate) tergantung kepad keperluaannya. Salah jenis Cascade Impactor yang
terdiri dari 9 stage adalah Cascade Impactor buatan Graseby Andeson.
Prinsip pengukuran Kertas saring yang telah ditimbang, disimpan di mas-ing-
masing stage (plate) yang terdapat pada alat Cascade Impactor . Selanjutnya udara
dilewatkan ke dalam Cascade Impactor flow rate tertentu dan dibiarkan selama 24
jam atau lebih tergantung kepada konsentrasi debu di udara ambient . Setelah
sampling selesai, debu-debu yang terkumpul pada masing-masing stage ditimbang,
menggunakan neraca analitik .
2.1. Metode pasif
a. Sulfur dioksida (SO2)
Metode yang digunakan untuk pengujian kadar SO2 di udara memakai metode
pararosaniline-spectrofotometri. Prinsip dasar pengukuran gas SO2 dengan sinar ultra
violet adalah ber-dasarkan kemampuan molekul SO2 berinteraksi dengan cahaya pada
pan-jang gelombang 190 –230 nm, menyebabkan elektron terluar dari molekul gas SO2
akan tereksitasi pada tingkat energi yang lebih tinggi (excited state). Elektron pada
posisi tereksitasi akan kembali ke posisi ground state dengan melepaskan energi
dalam bentuk panjang gelombang tertentu . Dengan mengukur intensitas cahaya
tersebut maka dapat ditentukan kon-sentrasi gas SO2. Metode ini praktis mudah
dioperasikan, stabil dan akurat, metode ini metode yang dipakai untuk alat
pemantauan kualitas udara scara automatik dan kontinyu. Perlu diketahui bahwa
ketelitian dan keaku-ratan metode ini, sangat dipengarhui oleh sistem kalibrasi alat
tersebut . Pada gambar,- 4.5, diperlihatkan skema alat SO2 analyzer.
b. Oksida-oksida Nitrogen
Metode Griess-Saltman-Spectrofotometri, NO2 di udara direaksikan dengan
pereaksi Griess Saltman (absorbent) membentuk senyawa yang berwarna ungu.
Intensitas warna yang terjadi diukur dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 520 nm.
Prinsip dasar
Absorber untuk penangkapan NO2 adalah absorber dengan desain khusus dan
porositas frittednya berukuran 60 μm. Untuk pengukuran NO, sample gas harus
dilewatkan ke dalam oxidator terlebih dahulu ( seperti KMnO4, Cr2O3)
c. Karbonmonoksida
Pengukuran ini berdasarkan kemampuan gas CO menyerap sinar infra me-rah
pada panjang 4,6 μm . Banyaknya intensitas sinar yang diserap sebanding dengan
konsentrasi CO di udara. Analyzer ini terdiri dari sumber cahaya inframerah,
tabung sampel dan reference, detektor dan rekorder.
d. Ozon/Oksidan
Metode Neutral Buffer Potassium Iodine (NBKI) –spectrofotometri. Gas
/udara yang mengandung ozon dilewatkan dalam pereaksi kalium iodida pada
buffer pH netral (pH 6,8), membebaskan Iodium. Selanjutnya Iodium yang
dibebaskan diukur intensitasnya pada panjang gelombang 350 nm.
e. Hidrokarbon
Pengukuran secara langsung dangan Gas Chromatograf Hidrokarbon diukur
sebagai total hidrokarbon (THC) dan Non Methanic Hydrocarbon (NMHC). Metode
yang digunakan adalah kromatografi gas dengan detektor Flame Ionisasi (FID).
Hidrokarbon dari udara dibakar pada flame yang be-rasal dari gas hidrogen
membentuk ion-ion. Ion yang terbentuk pada flame akan ditangkap oleh
elektrode negatif. Banyaknya arus ion yang terbentuk menunjukkan konsentrasi
hidrokarbon.
2.2. Metode pengujian partikulat di udara
Metode analitik yang sederhana dengan waktu pengukuran yang lama sepert
titrasi atau gravimetri yang digunakan untuk mengukur kadar debu di lingkungan
tempat kerja.
Untuk pengumpulan partikulat /debu dari udara berbeda dengan pengum-
pulan gas. Yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan partikulat adalah ukuran
diameter dari partikulat tersebut.
Ukuran partikulat di dalam matrik gas /udara bervariasi dari ukuran lebih
besar dari ukuran molekul (0.0002 mikron) sampai mencapai ukuran 500 μm. Se-
tiap teknik pengumpulan mempunyai kemampuan mengumpulkan range ukuran
partikulat yang tertentu.
Teknik pengumpulan yang umum digunakan adalah :
a. Teknik pengumpulan secara impaksi
Gas atau udara yang mengandung partikulat di hisap/ditarik melalui nozzle
dengan laju aliran udara tertentu, kemudian ditumbukan ke permukaan plate ,
maka partikel dengan diameter tertentu tidak bisa mengikuti aliran gas yang
dibelokkan ( karena gaya inertia), sehingga partikel debu tersebut tertahan pada
permukaan plate . Sedangkan untuk partikel debu yang lebih kecil akan
mempunyai kemampuan mengikuti aliran gas masuk kedalam plate berikutnya,
yang selanjutnya akan terperangkap dalam plate yang berikutnya. Dengan
demikian terjadi pemisahan debu berdasarkan ukuran partikel .
b. Teknik Filtrasi
Pengumpulan partikulat/debu dengan teknik filtrasi merupakan teknik yang
paling populer. Jelose, polyurthen foam. Setiap jenis filter mempunyai
karateristik tertentu yang cocok untuk penggunaan tertentu. Filter fiber glass
merupakan filter yang paling banyak digunakan untuk pengukuran SPM
(suspended particu-late mater) atau TSP (Total Suspended Particulate, terbuat
dari mikro fiber gelas dengan porositas < 0,3 μm, yaitu mempunyai efisensi
pengumpulan partikulat dengan diameter 0,3 μm sebesar 95%. Filter ini tahan
korosif dan dapat digunakan pad temperatur 540oC. Tetapi kelemahannya, filter
ini mu-dah sobek. nis filter yang digunakan adalah filter fiber glass, cellu

Anda mungkin juga menyukai