Anda di halaman 1dari 29

By

Sri Wahyuni Awaluddin,S.Kep,Ns,MN(Hons)


Populasi Penelitian
 Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan
diteliti (Noto Atmojo, 1993).
 Dapat berupa orang, benda, gejala, atau wilayah yang
ingin diketahui oleh peneliti
 Terbagi dua:
a. Target populasi: seluruh unit populasi
b. Populasi survey: sub unit dari target populas
sub unit populasi survey : SAMPEL PENELITIAN
 Populasi Studi : kumpulan semua individu dalam
batas tertentu yang akan diukur dan diamati ciri-
cirinya
 Populasi studi ditentukan berdasarkan kriteria yang
sesuai dengan TUJUAN PENELITIAN
Kriteria penentuan populasi
1. Biaya
misalnya di luar pulau, terjangkau atau tidak
2. Praktik
populasi di luar pulau sulit di jangkau
3. Kemampuan orang dalam berpartisipasi
kondisi kesehatan subjek penelitian
4. Pertimbangan desain penelitian
desain eksperimen, memerlukan homogenitas utk
mengendalikan variabel yg mengganggu penelitian
Sampel Penelitian
 Syarat:
a. Representatif: dapat mewakili populasi yang ada.
b. Sampel harus cukup banyak: jumlahnya harus
memenuhi sehingga perlu rumus statistik.

SEMAKIN BESAR SAMPEL SEMAKIN BAIK DAN


HASIL YANG DIPEROLEH LEBIH REPRESENTATIF
(Polit & Hungler, 1993)
Kriteria Sampel
a. Kriteria Inklusi
karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi
target dan terjangkau yang akan diteliti (Nursalam & Pariani,
2001).  berdasarkan pertimbangan ilmiah
b. Kriteria Ekslusi
menghilangkan/mengeluarkan subyek yang memenuhi
kriteria inklusi dan studi krn keadaan yang bisa
mengganggu/mempengaruhi hasil penelitian, misalnya:
- penyakit yg menyertai
- subyek tidak punya tempat tinggal menetap shg sulit
dikontrol
- hambatan etis
- subyek menolak berpartisipasi
Menentukan besarnya sampel
penelitian deskriptif
 Sebenarnya jika subjek lebih dari 1000, sampel 10 -20% sudah
dipandang cukup (Polit & Hungler,1993)

 Cara lain: jika populasi < 10.000


N
n = --------
1 + N(d2)
Ket:

N = Besar populasi
n = Besar sampel
d = Tingkat kepercayaan yang diinginkan
Sampling Error
 Pengamatan yang dilakukan terhadap sebagian dari
populasi dapat mengakibatkan hasilnya tidak sama
untuk seluruh populasi.
 Kesalahan sampling : perbedaan antara hasil sampling
dengan hasil sensus yang dilakukan dengan cara,
populasi dan pewawancara/peneliti yang sama.
 Non sampling error: kesalahan pada hasil penelitian
yang bukan disebabkan (tidak berkaitan )dengan
pengambilan sampel  baik hasil dari sampling
maupun dari sensus terdapat kesalahan yang sama
Penyebab Non-sampling Error
1. Batasan unit dasar kurang tepat.
Mis: penelitian obat infark miokard, semua yang mengalami nyeri
dada diambil sebagai sampel padahal tidak semua nyeri dada
disebabkan oleh MI.
2. Jawaban responden yang salah
sering pada penelitian yg menggunakan angket, responden
takut menjawab jujur. Respons error dapat terjadi krn kurang
informasi ttg hal yang diteliti, atau responden harus
mengingat kejadian lampau, misalnyapd usia berapa mulai
merokok
3. Kesalahan pada ruang lingkup karena salah dalam penentuan
batas dan lokasi
4. Human error
5. Kesalahan dalam alat ukur
Bias
 Adalah terjadinya perbedaan antara
hasil sesungguhnya dalam populasi
dengan hasil semua sampel yang
berasal dari populasi yang tersebut
(Budiarto, 2001).
Penyebab Bias:
1. Kesalahan dalam pemilihan unit dasar, yang berbeda
dengan tujuan penelitian.
Mis: penelitian kepemilikan jamban keluarga dengan
sampel murid SD. Kesalahan dapat timbul karena
ada keluarga yang memiliki anak lebih dari satu di
SD tersebut shg memungkinkan estimasi berlebih
(bias) krn semua murid diperlakukan sbg responden
 Untuk menghindari:
1. Ambil kepala keluarga sebagai unit sampel
2. Ambil murid yg merupakan anak pertama sebagai
unit sampel
Penyebab Bias (lanjutan)
2. Penelitian terhadap ciri individu dilakukan
pengambilan sampel keluarga dan masing-masing
keluarga diambil satu anggota keluarganya sbg
responden, padahal dlm satu keluarga mungkin ada
lebih dari satu orang dewasa hasil tidak
representatif
3. Dapat pula timbul bila kita mengambil unit terdekat
sebagai pengganti non-respons, karena ciri unit
pengganti belum tentu sama dengan unit non-respons
4. Non-respons pada pengumpulan data secara angket
diangap memiliki ciri yang sama dengan ciri
responden yang mengembalikan angket
Penyebab Bias (lanjutan)
5. Bias dapat pula timbul pada pengambilan sampel
non-random
6. Spesifikasi yang kurang jelas pada unit sampel, mis
pendidikan anak antara umur 8 – 10 tahun.  tidak
dijelaskan apakah umur 10 tahun itu termasuk dalam
sampling unit dan apakah semua anak yang tinggal di
daerah itu termasuk populasi studi atau termasuk juga
anak yang kebetulan berada di daerah tersebut.
Pengambilan Sampel
Sampling dan teknik sampling
 Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi porsi
dari populasi untuk dapat mewakili populasi
(Nursalam, 2001)

 Sample adalah terdiri dari beberapa porsi yang


membentuk populasi

 Teknik sampling adalah teknik yang dipergunakan


untuk mengambil sampel dari populasi
(Arikunto,1986).
Pembagian Jenis Sampling
1. Probability sampling
yaitu teknik yang memberi kesempatan yang sama
bagi anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.
2. Non probability sampling
yaitu teknik yang tidak memberi kesempatan yang
sama bagi anggota populasi untuk dipilih menjadi
sampel
Probability sampling
 Simple random sampling

 Stratified random sampling

 Cluster sampling

 Systematic sampling
A. SIMPLE RANDOM SAMPLING
 Pengambilan sampel dilakukan secara acak .

 Dipakai jika anggota populasi dianggap homogen

 Masukkan semua nama orang yang termasuk dalam


populasi ke dalamkotak, kemudian pilih acak 30 orang
dari sejumlah populasi
B. PROPORTIONATE STRAFIED
RANDOM SAMPLING
 Teknik ini digunakan bila populasi bila anggotanya
tidak homogen dan berstrata proporsional

 Contoh:
 Suatu RS mempekerjakan perawat dengan berbagai
latar pendidikan: PK : 45, SPK: 50, AKPER: 100, NERS:
10. Jumlah sampel yang harus diambil adalah meliputi
strata pendidikan, diambil perwakilan sesuai
kebutuhan
C. DISPROPORTIONAL STRATIFIED
RANDOM SAMPLING
 Digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila
populasi berstrata tetapi kurang proporsional

 Misalnya : pegawai dari PT memiliki : 3 orang lulusan


S3, 4 orglulusan S2, 90 org lulusan S1, 800 org SMU,
700 org SMP, maka 3 org lulusan S3 dan 4 org lulusan
S2 diambil semuanya sebagai sampel, karena kedua
kelompok itu paling kecil dibandingkan kelompok S1,
SMU dan SMP
D. CLUSTER SAMPLING
 Berarti pengelompokan berdasarkan wilayah atau
lokasi populasi.
 Digunakan jika objek yang diteliti sangat luas
 Bisa dipakai dalam dua situasi,yaitu :
- jarak dan biaya
- peneliti tidak mengetahui alamat dari populasi
secara pasti
Contoh: satu kecamatan terdiri dari 28 desa,kemudian
yang diambil lokasi penelitian hanya 2 desa => teknik
sampling daerah
E. SISTEMATIS SAMPLING
 Teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari
anggota populasi yang telah diberi nomor urut

 Contoh:
ada populasi 100 orang kemudian diambil yang ganjil
saja atau genap saja (1,3,5,7,9……)
Non Probability Sampling
Tidak memberi kesempatan yang sama bagi anggota
populasi untuk dipilih menjadi sampel

 Consecutive sampling
 Accidental sampling
 Quota sampling
 Purposive sampling
 Total sampling/sampling jenuh
A. PURPOSIVE SAMPLING
 Teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu sesuai yang dikehendaki si peneliti.

 Mis: akan melakukan peneliltian tentang disiplin


perawat, makasampel yang dipilih adalah orang yang
ahli dalam bidang keperawatan saja
B. CONSECUTIVE SAMPLING
 Pemilihan sampel dengan menetapkan subyek yang
memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam
penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga
jumlah klien terpenuhi (Sastro & Ismail, 1995)
C. QUOTA SAMPLING
 Menentukan sampel dari populasi yang mempunyai
ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang
diinginkan
 Mis: akan melakukan penelitian terhadap perawat
golongan II,dan penelitian dilakukan secara
berkelompok. Setelah jml sampel ditentukan 100, dan
anggota penelitian berjumlah 5 org, maka setiap
anggota peneliti dpt memilih sampel secara bebas
sebanyak 20 org sesuai karakteristik yang ditentukan
D. INSIDENTAL SAMPLING
 Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan,
yaitu, siapa saja yang secara kebetulan bertemu
dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila
dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok
sebagai sumber data.

 Mis: jk ingin meneliti orang yang berambut putih,


sampel dicari keliling kota. Siapa saja dan kapan saja
ditemui orang berambut putih akan maka diambil
sebagai sampelnya
E. SAMPLING JENUH
 Teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi
digunakan sebagai sampel.
 Hal ini dilakukan jika jumnlah populasi relatif kecil

 Mis: meneliti klien dengan Ca Mammae di RS Toraja


F. SNOWBALL SAMPLING
 Teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya
kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-
temannya untuk dijadikan sampel, begitu seterusnya
sehingga jumlah sampel semakin banyak.