Anda di halaman 1dari 111

P RO GR AM ST UDI DI I I FARMASI

AKADEM I FA R M AS I B U M I S I L I WA N GI
JL. RANCABOLANG NO. 104 KOMPLEK MARGAHAYU RAYA KOTA BANDUNG
TELP: +62 22 87303936, EMAIL: AKFARBUMSILBDG@GMAIL.COM

ANALISIS KUANTITATIF ANORGANIK


IRMA RAHMAWATI, M.PD.
ANALISIS KUANTITATIF?

Analisa kuantitatif berkaitan dengan penetapan berapa


banyak suatu zat tertentu yang terkandung dalam suatu
sampel
PENGGUNAAN ANALISIS KUANTITATIF
PENGGUNAAN ANALISIS KUANTITATIF
PENGGUNAAN ANALISIS KUANTITATIF
Titrasi Penetralan
(Asam-basa)

Titrasi Pengendapan
(Argentometri)
ANALISIS
TITRIMETRI
Titrasi Pembentukan
Senyawa Kompleks
(Kompleksiometri)

Titrasi Reduksi –
oksidasi (Redoks)
1
DASAR-DASAR ANALISIS
TITRIMETRI
ANALISIS TITRIMETRI
Mengacu pada analisis kimia kuantitatif yang
dilakukan dengan menetapkan volume suatu
larutan yang konsentrasinya diketahui dengan
tepat, yang diperlukan untuk bereaksi secara
kuantitatif dengan larutan dari zat yang akan
ditetapkan.
o TITRASI?

o TITRAN?

o TITRAT?

o TITIK EKIVALEN?

o TITIK AKHIR?

o INDIKATOR?

Rangkaian Alat
Dasar Umum

aA + tT  Hasil
Sejumlah a molekul analit A
bereaksi dengan t molekul
reagensia T (titran).
ISTILAH - ISTILAH

Titran: Larutan yang diketahui konsentrasinya (standar),


ditempatkan di buret, titran harus bereaksi dengan target
analisis.
Titrat: Sering disebut analit, larutan sampel yang akan
ditetapkan kadarnya.
Titik ekivalen: titik dimana jumlah T (titran) secara kimiawi
sama dengan A (analit).
Titik Akhir: titik dimana terjadi perubahan warna pada
indikator yang menunjukkan titik ekivalen reaksi antara
larutan standar (titran) dengan zat yang dianalisis (analit
atau titrat).
Titrasi: proses pengukuran volume dari titran yang
dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen.
Indikator: zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik
akhir titrasi telah di capai.

PERSYARATAN REAKSI
DALAM ANALISA TITRIMETRI

 Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan


reaksi tertentu. Tidak boleh ada reaksi samping.
 Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik
ekuivalen tercapai, baik secara kimia maupun fisika.
 Harus ada indikator yang cocok untuk menentukan titik
akhir titrasi, jika reaksi tidak menunjukkan perubahan
kimia atau fisika. Indikator potensiometrik dapat
digunakan pula.
 Reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi dapat
dilakukan dalam beberapa menit.
PENGELOMPOKAN
TITRIMETRI
Berdasarkan jenis reaksi: Berdasarkan cara titrasi:
1.Titrasi Asam-basa 1.Titrasi langsung, melakukan titrasi
(netralisasi) langsung terhadap zat yang akan
2.Titrasi Oksidasi-reduksi ditetapkan.
(redoks). 2.Titrasi tidak langsung,
3.Titrasi Pengendapan. penambahan titran dalam jumlah
4.Titrasi Pembentukan berlebihan, kemudian kelebihan
kompleks titran dititrasi dengan titran lain.
TITRASI PENETRALAN
ASIDIMETRI – ALKALIMETRI
METODE TITRASI PENETRALAN
 Asidimetri : Titrasi asam- basa dimana yang bertindak
sebagai larutan standar adalah Asam kuat.

 Alkalimetri : Titrasi asam- basa dimana yang bertindak


sebagai larutan standar adalah Basa kuat.
Tabel Harga pH titik ekivalen titrasi asam basa
LARUTAN
STANDAR
Sifat Padatan NaOH :

1. HIGROSKOPIS
2. MUDAH BEREAKSI
DENGAN CO2

Jika kita melarutkan 40


gram NaOH dengan 1 L
air, apakah akan
menghasilkan larutan
NaOH tepat 1 M?
LARUTAN STANDAR
Standarisasi : Larutan standar
suatu usaha untuk adalah larutan yang
menentukan konsentrasinya
konsentrasi yang sudah diketahui.
tepat dari calon
larutan baku.
LARUTAN
STANDAR
PRIMER

LARUTAN
STANDAR

LARUTAN
STANDAR
SEKUNDER
Larutan standar primer
Larutan standar primer adalah suatu bahan yang konsentrasi
larutannya dapat langsung ditentukan dari berat bahan sangat
murni yang dilarutkan dan volume larutan yang terjadi.
 Untuk asam-basa : Na2CO3 , Na2B4O7 , K-biftalat , asam benzoat,
KIO3, H2C2O4.2H2O
 Reaksi redoks : K2Cr2O7 , KBrO3 , KIO3 , asam oksalat,As2O3, I2,
As2O3, Na2C2O4, KH(IO3)2
 Titrasi pegendapan : NaCl , KCl dan KBr, AgNO3
 Reaksi Pembentukan kompleks : Zn , Mg , Cu , Na2EDTA , NaCl,
AgNO3, NaCl, KCl
SYARAT BAHAN STANDAR PRIMER
 Sangat murni atau mudah dimurnikan.
 Harus mudah didapat dan dalam keadaan murni.
 Mudah diperiksa kemurniannya.
 Tidak higroskopis, tidak teroksidasi, tidak menyerap udara dan selama
penyimpanan tidak boleh berubah (stabil)
 Mengandung kotoran (zat lain) tidak melebihi 0,01%
 Harus mempunyai berat ekivalen yang tinggi.
 Mudah larut dalam pelarut yang sesuai
 Reaksinya stoichiometri dan berlangsung terus menerus
LARUTAN STANDAR SEKUNDER
 Larutan standar SEKUNDER adalah larutan yang konsentrasinya
ditentukan dengan cara titrasi dengan larutan standar primer 
prosesnya disebut standarisasi / pembakuan.
 Larutan standar SEKUNDER bersifat tidak stabil, mudah
terkontaminasi oleh zat lain.
 Contoh: NaOH, HCl, AgNO3, I2
LARUTAN
INDIKATOR
APA ITU INDIKATOR
ASAM BASA?
o Indikator asam basa merupakan asam organik
lemah dan basa organik lemah yang
mempunyai dua warna dalam pH larutan
yang berbeda.

TIPE ASAM
HInd + H2O ↔ H3O+ + Ind-
(warna X) (warna Y)
TIPE BASA
IndOH ↔ Ind+ + OH-
(warna X) (warna Y)
Warna X dan Warna Y harus berbeda

Kurva Titrasi Asam Kuat - Basa Kuat
PERUBAHAN WARNA PADA
FENOLFTALIEN

Perubahan warna terjadi pada pH 8,3 - 10


PERUBAHAN WARNA PADA BIRU
BROMTIMOL

Perubahan warna terjadi pada pH 6 - 7,6


PERUBAHAN WARNA PADA MERAH METIL

Perubahan warna terjadi pada pH 4,2 - 6,3


Kurva Titrasi Asam Lemah - Basa Kuat
PERHITUNGAN
PEMBAKUAN LARUTAN

V1.N1 = V2.N2
V1= volume larutan baku sekunder
N1= normalitas larutan baku sekunder
V2= volume larutan baku primer
N2= normalitas larutan baku primer

Contoh:
Pembakuan larutan HCl dihasilkan volume HCl
sebanyak 12 mL dengan larutan baku Natrium
Tetraborat 0,1 N 10 mL, Berapakah normalitas
HCl hasil pembakuan?
PERHITUNGAN
PENENTUAN KADAR

Kadar zat A =
𝑁 𝑙𝑎𝑟.𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑥 𝑉 𝑙𝑎𝑟.𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑥 𝐵𝐸 𝑧𝑎𝑡
x 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 (𝑚𝑔)

Contoh:
Penentuan kadar 100 mg tablet natrii
subcarbonas dalam 20 mL air, dengan HCl 0,1
N sebanyak 10 mL, 1 mL HCl setara dengan
8,401 mg natrii subcarbonas! Hitunglah
persentase zat tersebut!
TITRASI REDOKS
IODOMETRI - PERMANGANOMETRI
TITRASI REDOKS
Reaksi redoks secara luas digunakan dalam analisa
titrimetrik dari zat-zat anorganik maupun organik.
Titrasi reduksi oksidasi adalah titrasi penentuan suatu
oksidator oleh reduktor atau sebaliknya.
Reaksinya merupakan reaksi serah terima elektron, yaitu
elektron diberikan oleh pereduksi (proses oksidasi) dan
diterima oleh pengoksidasi (proses reduksi).
Penentuan Kadar Vit C (Asam askorbat)
Penentuan kadar sulfit dalam minuman anggur
Penentuan kadar alkohol dalam minuman
SYARAT TITRASI REDOKS
Agar dapat digunakan sebagai dasar titrasi, maka reaksi
redoks harus memenuhi persyaratan umum sebagai berikut :
 Reaksi harus cepat dan sempurna.
 Reaksi berlangsung secara stiokiometrik, yaitu terdapat
kesetaraan yang pasti antara oksidator dan reduktor.
 Titik akhir harus dapat dideteksi, misalnya dengan
bantuan indikator redoks atau secara potentiometrik
PENGERTIAN BOBOT EKIVALEN
Bobot ekivalen suatu zat pada titrasi redoks adalah bobot dalam gram
dari suatu zat yang diperlukan untuk memberikan atau bereaksi
dengan 1 mol elektron.
Contoh :
2KMnO4 + 3H2SO4→ K2SO4 + 2MnSO4 + 3H2O + 5 O2
BE KMnO4 = 1/5 mol
Dengan rincian reaksi :
MnO4- → Mn2+
MnO4- + 8H+ + 5 e-→ Mn2+ + 4H2O
BE KMnO4 = 1/5 mol
Berapa BE MnO4- pada reaksi:
MnO4-→ MnO2
Pada MnO2 bilangan oksidasi O = -4, sehingga bilangan
oksidasi dari Mn = +4. jadi dari Mn +7 menjadi Mn +4
diperlukan 3 e.
BE MnO4- = 1/3 mol
Latihan
Tentukan BE pada reaksi:
a. IO3-  I2
b. I2  I-
c. S2O32-  S4O62-
d. Cr2O72-  Cr3+
e. ClO3-  Cl-
JENIS TITRASI REDOKS
OKSIDIMETRI REDUKSIMETRI
Metode titrasi redoks dengan larutan Metode titrasi redoks dengan
baku yang bersifat sebagai oksidator. larutan baku yang bersifat sebagai
reduktor.
Titrasi yang paling umum digunakan
adalah : Titrasi yang paling umum
digunakan adalah Iodometri (I2)
• Permanganometri (KMnO4)
• Dikrometri (K2Cr2O7)
• Iodimetri (I2)
PERMANGANOMETRI
Permanganometri adalah penetapan kadar zat berdasar atas reaksi
oksidasi reduksi dengan KMnO4 mengalami reduksi.
Dalam suasana asam reaksi dapat dituliskan sebagai berikut:

MnO4- + 8 H+ + 5 e-  Mn2+ + 4 H2O


Dengan demikian berat ekivalennya seperlima
dari berat molekulnya.
PERMANGANOMETRI
Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas apa
yang dapat dioksidasi seperti Fe+, asam atau garam oksalat
yang dapat larut dan sebagainya.
Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi
secara tidak langsung dengan permanganometri seperti:
 Ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (II) yang dapat
diendapkan sebagai oksalat.
 Ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai
garam khromat.
DIKHROMETRI
Larutan baku yang digunakan adalah larutan
K2Cr2O7. Sepanjang titrasi dalam suasana asam
K2Cr2O7 mengalami reduksi.

Cr2O72- + 14H+ + 6e-  2Cr3+ + 7H2O


IODIMETRI
Iodimetri, larutan yang digunakan adalah I2 dimana pada
titrasi mengalami reduksi.
I2 + 2e-  2I- Eo = + 0,535 volt
Iodimetri merupakan titrasi langsung dengan baku iodium
terhadap senyawa dengan potensial oksidasi yang lebih
rendah.
IODIMETRI
Dalam kebanyakan titrasi langsung dengan iod (iodimetri), digunakan
suatu larutan iodium dalam kalium iodida dan karena itu spesi
reaktifnya adalah ion triiodida (I3⁻).
Untuk tepatnya semua persamaan yang melibatkan reaksi-reaksi
iodium seharusnya ditulis dengan I3⁻ dan bukan I2 ,misal :
I3⁻ + 2S2O32⁻  3I⁻ + S₄O62⁻
Reaksi diatas lebih akurat dari pada :
I2 + 2S2O32⁻  2I⁻+S₄O62⁻
Namun demi kesederhanaan untuk selanjutnya penulisan larutan
iodium dengan menggunakan I2 bukan dengan I3.
IODOMETRI PADA REDUKSIMETRI
Pada iodometri larutan baku yang digunakan adalah
larutan Natrium tiosulfat yang pada titrasinya mengalami
oksidasi.
2S2O32-  S4O62- + 2e-
Iodida merupakan oksidator yang relatif lemah.
Oksidasi potensial sistem iodium iodida ini dapat dituliskan
sebagai reaksi berikut ini :
I2 + 2e-  2 I- Eo = + 0,535 volt
IODOMETRI PADA REDUKSIMETRI
Pada Iodometri, sampel yang bersifat oksidator direduksi dengan
kalium iodida berlebih dan akan menghasilkan iodium yang
selanjutnya dititrasi dengan larutan baku tiosulfat.
Prinsip penetapannya yaitu bila zat uji (oksidator) mula-mula
direaksikan dengan ion iodida berlebih, kemudian iodium yang
terjadi dititrasi dengan larutan tiosulfat.
Reaksinya : oksidator + KI  I2
I2 + 2 Na2S2O3  2NaI + Na2S4O6
Fact File 1: Introduction to iodometric and iodimetric titrations

Third: Iodometric titration

2 Cu 2+ + 4I- → 2CuI + I2
Analyte of unknown
concentration

I2 + 2S2O32- → 2I- + S4O62-

Titrant
-standrard solutions: sodium thiosulfate
-known concentration
Common Titrant for Oxidation Reactions
Iodine (Solution of I2 + I-)
I3- is actual species used in titrations with iodine
K = 7 x 102
Either starch of Sodium Thiosulfate (Na2S2O3) are used
as indicator

I3- I3- + S2O32- I3- + Starch

Before Before At
endpoint endpoint endpoint
INDIKATOR TITRASI REDOKS
Inok + ne  Inred
Daerah perubahan warna dari suatu indikator redoks dua warna berada
pada daerah potensial tertentu.
Indikator harus mempunyai potensial standard (E0) harga E0 dari
oksidator dan reduktor.
A redox titration

Figure 4.13
SOLUTION
Latihan
Larutan KMnO4 (a) dipakai utk menentukan Mn2+Hitung %
Mn dalam sampel mineral, bila 487,4 mg sampel
membutuhkan 45,73 mL larutan KMnO4 pd TE!
TITRASI PENGENDAPAN
ARGENTOMETRI
TITRASI PENGENDAPAN
› Berdasar pada
pembentukan endapan
yang terjadi antara titran
dan titer
› Titik akhir titrasi ditandai
dengan perubahan warna
endapan
TITRASI PENGENDAPAN
Paling sering dilakukan untuk
menetapan kadar Halogen :
◦Klorida
Positively charged primary

◦Bromida NO3-
adsorption layer on colloidal
particle
-

◦Iodida H+
NO3 NO3-

NO3-

◦Sianida NO3-
Ag +
Ag +
+
Ag + NO3- H+
Ag + Electric double layer
Cl- Ag Cl- Ag + Cl- Ag +
NO3-
Colloidal Solid
Ag + Cl- Ag + Cl- Ag + Cl- Ag +
NO3- Homogeneous solution
+ (charged balanced)
Ag Cl- Ag + Cl- Ag + Cl- Ag + H+
NO3-
-
NO3- Ag + Cl Ag + Cl
-
Ag + Cl- Ag +
NO3-
H+ Ag + Ag + NO3- NO3-
Counter-ion layer of
NO3 - solution with excess anions
Ag +
-
NO3
NO3-

COMPANY NAME
METODE DALAM TITRASI
PENGENDAPAN
ARGENTOMETRI MERKUROMETRI

Titrasi pengendapan Titrasi pengendapan


dengan menggunakan dengan menggunakan
larutan standar perak larutan standar merkuri
nitrat (AgNO3) nitrat (Hg(NO3)2)
www.themegallery.com

ARGENTOMETRI
Titrasi pengendapan yang paling banyak
dipakai adalah Argentometri, karena hasil kali
kelarutan garam perak halida (pseudohalida)
sangat kecil :
Ksp AgCl = 1,82 . 10-10
Ksp AgCN = 2,2 . 10-16
Ksp AgCNS = 1,1 . 10-12
Ksp AgI = 8,3 . 10-17
Ksp AgBr = 5,0 . 10-13
Tiga cara penentuan titik akhir titrasi :
 cara Mohr - indikator CrO4-2
 cara Volhard - indikator Fe3+
 cara Fajans -Fluorescein (indikator adsorpsi)

COMPANY NAME
ARGENTOMETRI – MOHR
 Titrasi Mohr digunakan untuk menentukan kadar halida atau
pseudohalida di dalam larutan.
 Kromat (CrO42-) sebagai indikator titik akhir karena membentuk
endapan Ag2CrO4 berwarna merah saat bereaksi dengan ion
perak.
 Ksp Ag2CrO4 = 1,2 . 10-12 mol3.L-3
 Ksp AgCl = 1,82 . 10-10 mol2.L-2

www.themega
Company name
llery.com
Karl Friedrich Mohr
1879, Bonn, Germany,
Field of pharmaceutical
and
chemical research;

70
www.themegallery.com

ARGENTOMETRI - VOLHARD
Titrasi Volhard merupakan teknik titrasi balik, digunakan
jika reaksi berjalan lambat atau jika tidak ada indikator
yang tepat utk pemastian TE.
Prinsip titrasi :
Larutan perak ditambahkan berlebih ke dalam larutan
(pseudo)halida
Br- + Ag+ → AgBr (endapan)
berlebih

Setelah reaksi sempurna endapan disaring, kemudian


larutan dititrasi dengan larutan baku tiosianat
Ag+ + SCN- → AgSCN (larutan)

COMPANY NAME
METODE VOLHARD
www.themegallery.com

Soal : Larutan mengandung sejumlah tertentu KBr


dititrasi secara Volhard. Diperlukan penambahan 100
ml [AgNO3] 0,095 M berlebih, kemudian dititrasi
dengan 18,3 ml larutan KSCN 0,100 M menggunakan
indikator Fe3+. Hitung berapa konsentrasi Br- yang
terdapat dalam larutan awal.

COMPANY NAME
ARGENTOMETRI – FAJANS
Titrasi Fajans menggunakan indikator adsorpsi, yakni senyawa
organik yg teradsorpsi ke permukaan padat endapan (koloidal)
selama proses titrasi berlangsung.
Contoh : Fluoresens sebagai anion fluoresenat (hijau kuning) bereaksi dengan
Ag+ membentuk endapan merah intensif yg teradsorpsi ke permukaan
endapan koloidal krn adanya pasangan muatan ion.
FAJANS TITRATION
FAJANS TITRATION
Adsorpsi senyawa organik berwarna pada permukaan endapan
dapat menginduksi pergeseran elektronik intramolekuler yang
mengubah warna.
Gejala tsb digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi
pengendapan garam-garam perak.

www.themega
Company name
llery.com
TITRASI PEMBENTUKAN
SENYAWA KOMPLEKS
KOMPLEKSOMETRI
PENGERTIAN
Titrasi kompleksometri ialah suatu titrasi berdasarkan reaksi
pembentukan senyawa kompleks antara ion logam dengan zat
pembentuk kompleks (ligan).
Contoh : penentuan kadar logam Mn2+ dengan menggunakan ligan EDTA
sebagai zat pengompleksnya.
Logam Ligand Kompleks Logam-Ligand
Catatan: atom-atom
dari EDTA mengikat ion
logam Mn2+
Ligand yang digunakan dalam titrasi
kompleksometri.

KOMPLEKSON : I

CH2 – COOH - Asam nitrilo tri asetat


N CH2 – COOH - Trilon A.
CH2 – COOH - Sukar larut dalam air, maka
dipakai garam di-Na-nya.
- pKa1 = 1,79; pKa2 = 2,49;
pKa3 = 4,73
KOMPLEKSON : II

• Asam etilen diamin tetra asetat.


• EDTA, Trilon B, Titriplex II.
• Sukar larut dalam air, maka dipakai garam di-Na nya
• pKa1 = 2,0; pKa2 = 2,67; pKa3 = 6,16; pKa4 = 10,26.
KOMPLEKSON : III
Merupakan garam di-Na- dari EDTA.
Dibuat dari komplekson II.
KOMPLEKSON : IV
H2
C
CH2 – COOH
H2C – CH – – N
CH2 – COOH
CH2 – COOH
H2C – CH – – N
CH2 – COOH
C
H2
asam 1,2 diamino siklo hexan N–N, N–N tetra
asetat.
sukar larut dalam air, maka dipakai garam di-
Na-nya.
REAKSI YANG MENDASARI TITRASI KOMPLEKSOMETRI
Hasil reaksi:
1 ion logam dengan 1 mol. Komplekson tidak tergantung dari valensi
ion logam yang bereaksi.
Misalnya :
a) L2+ + HX= (Komplekson I) LX– + H+
L3+ + HX= LX + H+

b) L2+ + H2Y= (Komplekson III) LY2- + 2H+


L3+ + H2Y= LY– + 2H+
Reaksi Komplekson I selalu dihasilnya 1 ion H+;
Reaksi Komplekson III selalu dihasilkan 2 ion H+.
REAKSI PEMBENTUKAN KOMPLEKS AKAN BERJALAN KE
KANAN APABILA :

H+ yang dihasilkan ada yang menerima (adanya proton


akseptor).
Senyawa kompleks yang terjadi cukup stabil atau ion logam
terikat sempurna dengan molekul Komplekson.
Kesempurnaan ikatan ion logam dengan molekul
komplekson dipengaruhi oleh:
 tetapan stabilita dari senyawa kompleks.
 pH larutan
 senyawa-senyawa lain yang dapat pula bersaingan untuk
membentuk kompleks dengan ion logam
 kestabilan senyawa kompleks yang terbentuk
 Makin besar tetapan stabilitas (K-stabilita), makin stabil
senyawa kompleks yang terjadi.
Komplekson III membentuk kompleks yang lebih stabil
dari pada Komplekson I.

Penggunaan Komplekson III dalam titrasi adalah lebih


luas dari pada Komplekson I.
EDTA
Asam etilendiamintetraasetat

Rumus umum H4Y


REAKSI KESETIMBANGAN EDTA
H4Y merupakan asam tetra protik dapat berdisosiasi 4 tahap seperti berikut ini :
1. H4Y  H+ + H3Y- ; Ka1 = 1x10-2
2. H3Y-  H+ + H2Y2- ;Ka2 = 2,2X10-3
3. H2Y2-  H+ + HY3- ; Ka3 = 6,9X10-7
4. HY3-  H+ + Y4- ; Ka4 = 5,5X10-11
Sebagai pengomplek logam, biasanya yang digunakan yaitu garam Na2EDTA
(Na2H2Y), karena EDTA dalam bentuk H4Y dan NaH3Y tidak larut dalam air.
PRINSIP REAKSI
Mn+ + H2Y2- MY (n-4)+ + 2H+ atau
Mn+ + Y4- MY (n-4)+

KETETAPAN STABILITAS KOMPLEKS:


[MY](n-4)+ K semakin besar,
K= Kompleks
[Mn+] [ Y4-]
semakin stabil

KOMPLEKSOMETRI 91
Contoh :

Mg2+ + H2Y2- MgY2- + 2H+

Al3+ + H2Y2- AlY4- + 2H+

Karena dalam reaksi dibebaskan H+, maka larutan harus dibufer supaya
perubahan pH yang besar tidak terjadi selama titrasi

KOMPLEKSOMETRI 92
Contoh K stabititas kompleks EDTA-Logam
ION LOGAM K STABILITAS KOMPLEKS
Fe3+ 1,3 x 1025
Cu 2+ 6,3 x 1018
Ni2+ 4,2 x 1018
Cd2+ 2,9 x 1016
Zn2+ 3,2 x 1016
Al3+ 1,3 x 1016
Mn2+ 6,2 x 1013
Ca2+ 5,0 x108
Mg2+ 4,9 x 1018
Sr2+ 4,3 x108
Ba2+ 5,8 x107
KOMPLEKSOMETRI 93
Faktor-faktor yang membuat EDTA dapat digunakan sebagai pereaksi
titrimetrik antara lain:

1. Selalu membentuk kompleks ketika direaksikan dengan ion logam.


2. Kestabilannya dalam membentuk khelat sangat konstan sehingga reaksi
berjalan sempurna (kecuali dengan logam alkali).
3. Dapat bereaksi cepat dengan banyak jenis ion logam (telah dikembangkan
indikatornya secara khusus).
4. Mudah diperoleh bahan baku primernya dan dapat digunakan baik sebagai
bahan yang dianalisis maupun sebagai bahan untuk standarisasi.
5. Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH,misalnya Mg,
Ca, Cr, dan Ba dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA.
INDIKATOR KOMPLEKSOMETRI
Adalah zat warna yang dapat membentuk kompleks dengan ion logam
yang berwarna pada daerah pH tertentu
Misal:
◦ Eriochrom black T ( untuk p.k Mg)
◦ Calcein (untuk p.k Ca)
◦ Xylenol orange (untuk p.k Bi)
◦ Murexide (untuk p.k Ca)

KOMPLEKSOMETRI 95
SYARAT INDIKATOR
Kompleks logam-indikator harus cukup kuat agar perubahan warnanya tajam,
namun harus lebih lemah dari kompleks logam-EDTA, sehingga perubahan
warna dari kompleks logam-indikator ke kompleks logam -EDTA cepat & tajam
Reaksi perubahan warna sebelum titik akhir titrasi terjadi bila hampir semua
ion logam membentuk kompleks dengan EDTA

KOMPLEKSOMETRI 96
SYARAT INDIKATOR
 Reaksi warna spesifik
 Beda warna indikator (bebas) & warna kompleksnya harus jelas
 Sensitif terhadap ion logam (perubahan warna dekat dengan titik ekivalen
titrasi)
 Berlaku pada pH batas titrasi

KOMPLEKSOMETRI 97
Reaksi perubahan EBT pada berbagai pH:
pH pH
H2In- HIn2- In3-
Merah Biru Oranye
pH 5,3-7,3 10,5-12,5
Pada pH 7-10, indikator dalam bentuk HIn2- (biru),
dengan ion logam membentuk kompleks berwarna
merah

KOMPLEKSOMETRI 99
Titration of Mg2+ by EDTA Eriochrome Black T
Indicator

Addition of EDTA

Before Near After


Equivalence point
REAKSI:
Mg2+ + HIn2- MgIn- + H+
biru merah
Secara skematis titrasi Mg2+ dengan EDTA digambarkan sebagai berikut:
(1) Penambahan Indikator
Mg2+ + HIn2- → MgIn- + H+
Mg2+
+ HIn2-

MgInd- Mg2+
KOMPLEKSOMETRI 101
(2) Penambahan EDTA (H2Y2-):
MgIn- Mg2+

+
H2Y2-

Mg2+ + H2Y2- → MgY+ +2H+

KOMPLEKSOMETRI 102
(3) Penambhan H2Y2- pada akhir titrasi

MgIn- MgY

MgY MgY
+
H2In-
H2Y2-

MgIn- + H2Y2- MgY + HIn2- + H+

KOMPLEKSOMETRI 103
KELEMAHAN EBT
Kurang baik untuk ino Ca2+ dengan EDTA , karena kompleks Ca-EBT >Ca –
EDTA)
Titik ekivalen terjadi terlalu cepat
Agar penentuan Ca2+ dengan EDTA dapat menggunakan indikator EBT,
maka perlu ditambah sedikit Mg2+ ke dalam EDTA sebelum dilakukan
standarisasi

KOMPLEKSOMETRI 104
Pentitrasi campuran MgY2- & H2Y2-

Reaksi :
Ca2+ + MgY2- CaY2- + Mg2+
Mg2+ + HIn2- MgIn- + H+
merah
Setelah semua Ca2+ habis bereaksi, penambahanEDTA menyebabkan reaksi :
MgIn- + H2Y2- MgY2- + H+ + In2-
Biru
K stabilitas CaY2- > MgY2-

KOMPLEKSOMETRI 105
CARA TITRASI KOMPLEKSOMETRI
Titrasi langsung :
Larutan logam dibufer pada pH = 10 dgn buffer salmiak kemudian dititrasi
langsung dengan larutan baku EDTA.
Titrasi tidak langsung (titrasi kembali) :
Larutan logam, + lar. baku EDTA jumlah tertentu, dibufer pada pH
tertentu + indikator logamnya, vkemudian kelebihan lar. baku EDTA
dititrasi kembali dengan larutan baku, misalnya : ZnSO4, MgSO4 ataupun
CaCl2.
Titrasi tidak langsung ini dilakukan karena
beberapa sebab :
Untuk dapat membentuk kompleks khelat sempurna pada pH
> 6, baik dengan Komplekson maupun Indikator logam.
Pembentukan kompleks dengan komplekson (EDTA) sangat
lambat.
Untuk logam-logam yang membentuk hydroksida yang sukar
larut pada pH tinggi
Tidak didapat indikator logam yang sesuai untuk titrasi
langsung.
TITRASI SUBTITUSI (PENGUSIRAN)
Titrasi dilakukan apabila:

Pada titrasi langsung atau titrasi kembali tidak diperoleh titik


akhir titrasi yang tajam.
Ion logam yang membentuk kompleks dengan Komplekson lebih
stabil dari pada kompleks logam tertentu (larutan baku)–
Komplekson.
Misalnya :
Hg2+ + MgY= HgY= + Mg2+
sample
berlebih
Mg2+ yang dibebaskan dititrasi dgn EDTA,
Indikator EBT pada pH = 10 (buffer Salmiak); jumlah Mg2+ yang
dibebaskan adalah ekivalen dengan konsentrasi sample (Hg2+).
PEREAKSI YANG DIGUNAKAN
1. Larutan baku: ZnSO4 ; MgSO4
2. Larutan bufer pH 10 (salmiak)
88 mL NH4OH 25% + 13,5 g NH4Cl diencerkan dengan air sampai 250 mL

3. Larutan baku sekunder : Na2EDTA.2H2O (dinatrium EDTA)


4. Indikator: EBT (pengenceran 1:100 dalam NaCl kering)

KOMPLEKSOMETRI 109
PENGGUNAAN TITRASI KOMPLEKSOMETRI
Penentuan kadar Ca
dalam susu
Penentuan kadar Zn
Kesadahan air

KOMPLEKSOMETRI 110
Semoga
bermanfaat...