Anda di halaman 1dari 44

ASUHAN KEPERAWATAN

KEGAWATDARURATAN DIABETES
MELITUS DENGAN HIPOGLIKEMIA

Kelompok 1
KONSEP TEORITIS
PENGERTIAN
 Hipoglikemia merupakan salah satu kegawatan
diabetik yang mengancam, sebagai akibat dari
menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg/dl.
 Hipoglikemia adalah menurunnya kadar glukosa
darah yang menyebakan kebutuhan metabolik
yang diperlukan oleh sistem saraf tidak cukup
sehingga timbul berbagai keluhan dan gejala
klinik (Admin, 2012).
 Adapun batasan hipoglikemia adalah:
 Hipoglikemia murni : ada gejala hipoglikemi ,
glukosa darah < 60 mg/dl.
 Reaksi hipoglikemia : gejala hipoglikemi bila gula
darah turun mendadak, misalnya dari 400 mg/dl
menjadi 150 mg/dl
 Koma hipoglikemi : koma akibat gula darah < 30
mg/dl
 Hipoglikemi reaktif : gejala hipoglikemi yang terjadi
3-5 jam sesudah makan.
ETIOLOGI
 Dosis suntikan insulin  Pelepasan insulin yang
terlalu banyak berlebihan oleh pankreas
 Lupa makan atau makan  Dosis insulin atau obat
terlalu sedikit lainnya yang terlalu
 Aktivitas terlalu berat tinggi, yang diberikan
kepada penderita diabetes
 Minum alkohol tanpa untuk menurunkan kadar
disertai makan gula darahnya.
 Kesalahan waktu  Kelainan pada kelenjar
pemberian obat dan hipofisa atau kelenjar
makanan adrenal.
 Riwayat hipoglikemia  Kelainan pada
sebelumnya. penyimpanan karbohidrat
atau pembentukan
glukosa di hati.
TANDA DAN GEJALA
Fase I Fase II

gejala-gejala yang terjadi akibat


 gejala-gejala akibat 
mulai terganggunya fungsi otak,
aktivasi pusat otonom di karena itu dinamakan gejala
neurologis. Pada awalnya tubuh
hipotalamus sehingga memberikan respon terhadap
hormon epinefrin masih rendahnya kadar gula darah
dengan melepasakan epinefrin
dilepaskan. Gejala awal (adrenalin) dari kelenjar adrenal
dan beberapa ujung saraf.
ini merupakan Epinefrin merangsang pelepasan
peringatan karena saat gula dari cadangan tubuh tetapi
jugamenyebabkan gejala yang
itu pasien masih sadar menyerupai serangan kecemasan
(berkeringat, kegelisahan,
sehingga dapat di ambil gemetaran, pingsan, jantung
tindakan yang perlu berdebar-debar dan kadang rasa
lapar).
untuk mengatasi
hipoglikemia lanjut.
PATOFISIOLOGI
 Seperti sebagian besar jaringan lainnya, matabolisme otak
terutama bergantung pada glukosa untuk digunakan
sebagai bahan bakar. Saat jumlah glukosa terbatas, otak
dapat memperoleh glukosa dari penyimpanan glikogen di
astrosit, namun itu dipakai dalam beberapa menit saja.
Untuk melakukan kerja yang begitu banyak, otak sangat
tergantung pada suplai glukosa secara terus menerus dari
darah ke dalam jaringan interstitial dalam system saraf
pusat dan saraf-saraf di dalam system saraf tersebut.
 Oleh karena itu, jika jumlah glukosa yang di suplai oleh
darah menurun, maka akan mempengaruhi juga kerja
otak. Pada kebanyakan kasus, penurunan mental
seseorang telah dapat dilihat ketika gula darahnya
menurun hingga di bawah 65 mg/dl (3.6 mM). Saat kadar
glukosa darah menurun hingga di bawah 10 mg/dl (0.55
mM), sebagian besar neuron menjadi tidak berfungsi
sehingga dapat menghasilkan koma.
PATHWAY
PEMERIKASAN PENUNJANG
• Gula darah puasa
 Gula darah 2 jam post prandial
• HBA1c
 Elektrolit
 Leukosit
KOMPLIKASI
 Komplikasi dari hipoglikemia pada gangguan tingkat
kesadaran yang berubah selalu dapat menyebabkan
gangguan pernafasan, selain itu hipoglikemia juga
dpat mengakibatkan kerusakan otak akut.
Hipoglikemia berkepanjangan parah bahkan dapat
menyebabkan gangguan neuropsikologis sedang
sampai dengan gangguan neuropsikologis berat
karena efek hipoglikemia berkaitan dengan sistem
saraf pusat yang biasanya ditandai oleh perilaku dan
pola bicara yang abnormal (Jevon, 2010) dan
menurut Kedia (2011) hipoglikemia yang berlangsung
lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang
permanen, hipoglikemia juga dapat menyebabkan
koma sampai kematian
PENATALAKSANAAN
• Glukosa Oral
• Glukosa Intramuskular
• Glukosa Intravena
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
TEORITIS
PENGKAJIAN PRIMER
HIPOGLIKEMIA
A. Airway
 Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat
bernafas dengan bebas,ataukah ada secret yang
menghalangi jalan nafas. Jika ada obstruksi, lakukan :
 Chin lift/ Jaw thrust
 Suction
 Guedel Airway
 Instubasi Trakea
B. Breathing
Bila jalan nafas tidak
memadai, lakukan :
•Beri oksigen
•Posisikan semi Flower
D. Disability
C. Circulation  Menilai kesadaran pasien dengan
 Menilai sirkulasi / cepat, apakah pasien sadar, hanya
peredaran darah respon terhadap nyeri atau sama
sekali tidak sadar. Kaji pula
 Cek capillary refill
tingkat mobilisasi pasien.
 Auskultasi adanya suara Posisikan pasien posisi semi
nafas tambahan fowler, esktensikan kepala, untuk
 Segera Berikan memaksimalkan ventilasi. Segera
Bronkodilator, mukolitik. berikan Oksigen sesuai dengan
kebutuhan, atau instruksi dokter.
 Cek Frekuensi
Pernafasan
 Cek adanya tanda-tanda
Sianosis, kegelisahan
 Cek tekanan darah E. Eksposure/Environment/Event
 Penilaian ulang ABC Pemeriksaan seluruh bagian tubuh
diperlukan bila kondisi
pasien tidak stabil. terhadap adanya jejas dan
perdarahan dengan pencegahan
hipotermi. Pemeriksaan penunjang
yang telah dilakukan
Event/penyebab kejadian.
PENGKAJIAN SEKUNDER HIPOGLIKEMIA

 Keluhan utama
 Riwayat

 Data fokus
 Data Subyektif
 Data obyektif
PENGKAJIAN HEAD TO TOE
Data subyektif Data Obyektif

 Riwayat penyakit  Aktivitas / Istirahat


dahulu  Sirkulasi
 Integritas/ Ego
 Riwayat penyakit
 Eliminasi
sekarang  Nutrisi/Cairan
 Status metabolik  Neurosensori
 Nyeri/kenyamanan
 Pernapasan
 Keamanan
 Seksualitas
 Penyuluhan/pembelajaran
DIAGNOSA DAN INTEREVENSI KEPERAWATAN
ASUHAN KEPERAWATAN
KASUS
PENGKAJIAN PRIMER
PENGKAJIAN SEKUNDER
A. Keluhan Utama
Klien dalam keadaan pingsan. Alasan klien masuk
Instalasi Gawat Darurat, Keluarga mengatakan kemarin
klien bersama dengan suami bertamasya, sehingga klien
kecapekan dan keluarga juga mengatakan bahwa sejak
kemarin sore sebelum magrib sekitar jam 17.45 klien
sudah terlihat lemas dan klien tampak pucat. Keluarga
mengatakan sekitar 15 menit sebelum masuk Rumah
Sakit klien pingsan. Klien terlihat terbaring lemas, klien
tampak pucat, akral dingin, klien tampak berkeringat,
ketika bernafas terlihat retraksi dinding dada dan pola
nafas klien tampak reguler dengan Respiratory Rate (RR)
28x/menit. Keluarga mengatakan klien terakhir makan
adalah tadi malam dan hari ini klien belum sarapan. Klien
mengatakan kepala terasa pusing, pusing terasa senut-
senut dengan skala 6, klien mengatakan pusing sering
muncul, pusing terasa berat ketika klien beraktivitas. dan
ekspresi wajah klien tampak tegang dan klien tampak
memegangi kepala.
B. Riwayat Kesehatan Dahulu
Keluarga mengatakan mempunyai riwayat penyakit
diabetes mellitus sejak 6 tahun yang lalu, keluarga
juga mengatakan kalau klien sebelumnya pernah
dirawat di Rumah Sakit, kali ini merupakan ketiga
kalinya klien dirawat di Rumah Sakit, terakhir klien
dirawat di Rumah Sakit yaitu awal bulan Juni 2014
karena glukosa darah klien yang tinggi. Riwayat
penyakit keluarga, keluarga mengatakan didalam
keluarga ada yang mempunyai riwayat penyakit
diabetes mellitus yaitu dari ayah klien.
C. Pemeriksaan Head to Toe
 Kepala
 Wajah : tampak simetris, tampak lemah, rambut klien
bersih, klien mengeluh pusing dan senut-senut pada
kepala dengan skala 6. Tampak klien memegangi kepala.
Klien mengatakan pusing semakin berat jika beraktivitas.
 Mata : tampak normal simetris, tidak terdapat nyeri tekan,
konjungtiva tampak ananemis dan skelra anikterik.
 Telinga : normal, tidak ada nyeri tekan, terdapat kelainan
pendengaran.
 Mulut : mukosa bibir klien tampak kering
 Leher
 Tidak terdapat pembesaran vena jugularis, kelenjar
thyroid tampak normal tidak terdapat pembengkakan.
 Dada
 Terlihat pergerakan otot aksesoris, pernafasan 28 x/mnt
 Abdomen
 Tidak terdapat pembengkakan, nyeri tekan dan bunyi
timpani.
 Ekstremitas
 Klien tampak lemah dan lemas hanya berbaring. Tidak ada
oedem.
 Kulit
 Turgor kulit sedang, akral dingin, mukosa kering. Tidak
terdapat kelainan pada kulit.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Dilakukan pemeriksaan penunjang berupa
pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS),
dengan hasil :

Gula Darah Sewaktu (GDS) 37 mg/dl


TERAPI MEDIS
 Pemberian oksigen 3 liter/menit dengan nasal
kanul.
 melakukan pemeriksaan glukosa darah.

 melakukan pemberian cairan infus D 10% 20


tpm per IV.
 melakukan pemberian terapi D 40% 50 ml per
IV.
 ketorolac 30 mg per IV
ANALISA DATA
DIAGNOSA KEPERAWATAN
 Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
depresan pusat pernafasan (kelelahan).
 Penurunan kadar glukosa darah berhubungan
dengan penurunan produksi energi metabolik.
 Nyeri akut berhubungan dengan penurunan
suplai oksigen ke otak.
INTERVENSI KEPERAWATAN
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
SELESAI