Anda di halaman 1dari 33

ASMA BRONKIAL

Disusun oleh:
Mauliza Resky Nisa
Latar belakang
Asma merupakan penyakit gangguan inflamasi kronis saluran
pernapasan yang dihubungkan dengan hiperresponsif,
keterbatasan aliran udara yang reversible dan gejala pernapasan.

Di Amerika Serikat kunjungan pasien asma pada pasien berjenis


kelamin perempuan di bagian gawat darurat dan akhirnya
memerlukan perawatan di rumah sakit dua kali lebih banyak
dibandingkan pasien pria.

Di Australia, Kanada dan Spanyol dilaporkan bahwa kunjungan


pasien dengan asma akut dibagian gawat darurat berkisar antara
1-2%.
ANATOMI Udara mengalir dari faring menuju
laring atau kotak suara bermuara ke
dalam trakea dan membentuk bagian
antara saluran pernapasan atas dan
bawah

Bronkus utama kiri dan kanan tidak simetris.


Bronkus utama kanan lebih pendek dan lebih
lebar dibandingkan dengan bronkus utama kiri
Bronkus utama kiri lebih panjang dan lebih
sempit dibandingkan dengan bronkus utama
kanan

Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi


menjadi bronkus lobaris dan kemudian bronkus segmentalis.
Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkus yang
ukurannya semakin kecil sampai akhirnya menjadi bronkiolus
terminalis, fungsi utamanya adalah sebagai penghantar
udara ke tempat pertukaran gas paru.
Definisi

Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak
sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif
jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak
napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau dini hari.
Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi
dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan
Epidemiologi
Pada tahun 2008, diperkirakan bahwa 23,3 juta orang Amerika saat ini memiliki asma,
12.7 juta orang di Americans (4.1 juta di bawah usia 18) memiliki serangan asma.

Berdasarkan International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) didapatkan


setengah juta anak usia 6-7 tahun dan 13-14 tahun di 56 negara memiiliki riwayat serangan
berupa wheeze sebesar 6-32% dan 2-33% prevalensi tertinggi terdapat di Eropa tengah dan
barat, Amerika Latin, Africa and Asia Tenggara , dan sedikit di India, China, Eropa timur and
Unisoviet

Di Indonesia, prevalensi asma belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan 2 – 5 %5 (3-
8%2 dan 5-7%7) penduduk Indonesia menderita asma. Berdasarkan laporan Heru Sundaru
(Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM), prevalensi asma di Bandung (5,2%),
Semarang (5,5%), Denpasar (4,3%) dan Jakarta (7,5%)8. Di Palembang, pada tahun 1995
didapatkan prevalensi asma pada siswa SMP sebesar 8,7% dan siswa SMA pada tahun 1997
sebesar 8,7% dan pada tahun 2005 dilakukan evaluasi pada siswa SMP didapatkan prevalensi
asma sebesar 9,2%2. Penyakit Asma dapat mengenai segala usia dan jenis kelamin, 80-90%
gejala timbul sebelum usia 5 tahun.
Faktor Risiko
Genetik
Gender
Obesitas

Faktor Host 1. Alergen didalam ruangan (tungau,


debu rumah, kucing, alternaria/jamur)
2. Alergen di luar ruangan (alternaria,

Risk factor
tepung sari)
3. Makanan (bahan penyedap,
pengawet, pewarna makanan, kacang,
Faktor makanan laut, susu sapi, telur)
4. Obat-obatan tertentu (misalnya

Lingkungan golongan aspirin, NSAID, beta-blocker


dll)
5. Bahan yang mengiritasi (misalnya
parfum, household spray dll)
6. Ekspresi emosi berlebih
7. Asap rokok dari perokok aktif dan
pasif.
8. Polusi udara di luar dan di dalam
ruangan
9. Exercise induced asthma, mereka
yang kambuh asmanya ketika
melakukan aktivitas tertentu
Patofisiologi
Klasifikasi
TANDA DAN GEJALA

Serangan episodik
batuk Mengi sesak napas
(tanpa/putih/purulen)

rasa berat di dada Pilek Bersin

Cough Varianth Asma


PEMERIKSAAN PENUNJANG

■ Spirometri
■ PEF (Peak Expiratory Flow)
■ Skin test IgE spesifik di serum
■ Rontgen Dada
■ AGD
Spirometri

Pengukuran volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan kapasiti vital
paksa (KVP) dilakukan dengan manuver ekspirasi paksa melalui prosedur
yang standar.

Manfaat pemeriksaan spirometri dalam diagnosis asma :


- Obstruksi jalan napas diketahui dari nilai rasio VEP1/ KVP < 75% atau VEP1 <
80% nilai prediksi.
- Reversibiliti, yaitu perbaikan VEP1 > 15% secara spontan, atau setelah inhalasi
bronkodilator (uji bronkodilator), atau setelah pemberian bronkodilator oral 10-14
hari, atau setelah pemberian kortikosteroid (inhalasi/ oral) 2 minggu. Reversibiliti
ini dapat membantu diagnosis asma
- Menilai derajat berat asma
Arus Puncak Ekspirasi (APE)
Nilai APE dapat diperoleh melalui pemeriksaan spirometri atau pemeriksaan yang lebih
sederhana yaitu dengan alat peak expiratory flow meter (PEF meter). Cara pemeriksaan
variabiliti APE harian
- Diukur pagi hari untuk mendapatkan nilai terendah,
- dan malam hari untuk mendapatkan nilai tertinggi. Rata-rata APE harian dapat diperoleh
melalui 2 cara :

Bila sedang menggunakan bronkodilator, diambil variasi/


perbedaan nilai APE pagi hari sebelum bronkodilator dan
nilai APE malam hari sebelumnya sesudah bronkodilator.
Nilai > 20% dipertimbangkan sebagai asma.

APE malam - APE pagi


Variabiliti harian = -------------------------------------------- x 100 %
1/2 (APE malam + APE pagi)
Diagnosis
TATALAKSANA
MANAGEMENT OF ASTHMA (GINA 2017) UPDATE
GINA ( 2017 ) mengajukan 4 komponen tata laksana yang dibutuhkan untuk mencapai
dan mempertahankan kontrol asma :
1. Mengembangkan Kerjasama Dokter dengan Pasien
2. Mengenal dan mengurangi paparan terhadap faktor resiko
3. Evaluasi, Terapi dan Monitor Asma
4. Monitoring untuk mempertahankan kontrol asma
- Management of asthma include:
- Pharmacological – involves administration of a reliever and a preventer,
depending on patients severity, co-morbidities, allergies and compliance
- Non-pharmacological interventions – Education and developing a asthma action
plan is critical for preventing emergency admission and for controlling asthma
TATALAKSANA

■ Bina hubungan yang baik antara pasien dengan dokter


■ Identifikasi dan kurangi pemaparan faktor risiko
■ Penilaian, pengobatan, dan pemantauan keadaan kontrol asma
■ Atasi serangan asma
■ Penatalaksanaan khusus
Karakteristik Kontrol Penuh Terkontrol Sebagian Tidak Terkontrol
Gejala harian Tidak ada (≤2x/mgg) >2x/mgg ≥3
Keterbatasan Tidak ada Ada Gambaran asma
aktivitas terkontrol sebagian
ada dalam setiap
minggu

Gejala Tidak ada Ada


noktrunal/terbangun
karena asma

Kebutuhan pelega Tidak ada (≤2x/mgg) >2x/mgg


(reliever)

Fungsi paru Normal < 80 % prediksi /


(APE/VEP1) nilai terbaik

Eksaserbasi Tidak ada ≥ 1/tahun 1x/mgg


OBAT ANTI-ASMA
Pencegah (controller)
- dipakai setiap hari supaya Controller Reliever
asma terkendali.
Kortikosteroid (inhalasi, Short acting b2 agonist
- obat anti- sistemik) (SABA) : inhalasi, oral
inflamasi,bronkodilator
long acting Leukotriene modifeier Kortikosteroid sistemik
Penghilang gejala (reliever) Antikolinergik :
Long acting b2 agonist (LABA)
- obat yg dapat Ipratropium br,
merelaksasi : inhalasi, oral
oxitropium
bronkokonstriksi dan
gejala-gejala akut yang Chromolin: Sodium
menyertai. Teofilin
cromoglycate dan Nedocromil
Teofilin lepas lambat
Anti IgE
Antikolinergik: Tiotropium
PROGNOSIS

“Keadaan yang berkaitan dengan prognosis yang kurang baik antara lain asma yang
tidak terkontrol secara klinis, eksaserbasi sering terjadi dalam satu tahun terakhir,
menjalani perawatan kritis karena asma, VEP1 yang rendah, paparan terhadap
asap rokok, pengobatan dosis tinggi.”
DAFTAR PUSTAKA
Setiati S., Alwi I, dkk. Ilmu Penyakit Dalam. Bab Asma. Interna Publishing.
2014.
FitzGerald M. Batemen ED, Boulet LP, Cruz AA, Haahtela T, Levy ML, dkk.
Global Initiative for Asthma. Dalam: FitzGerald. Global Initiative
Management and Prevention Updated 2012.
FitzGerald M. Batemen ED, Boulet LP, Cruz AA, Haahtela T, Levy ML, dkk.
Global Initiative for Asthma. Dalam: FitzGerald. Global Initiative
Management and Prevention Updated 2015.
FitzGerald M. Batemen ED, Boulet LP, Cruz AA, Haahtela T, Levy ML, dkk.
Global Initiative for Asthma. Dalam: Pocket Guide for Asthma
Management and Prevention for Adults and Children Older than 5
years. 2016.