Anda di halaman 1dari 28

Referat

TRAUMA VERTEBRAE

Oleh:
Wahyu Arfina Juwita
04054821618094

Pembimbing
Dr. Kemas H.M. Sani, Sp.Rad

DEPARTEMEN RADIOLOGI
RSUP MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
Vertebrae dimulai dari cranium sampaI apex coccigeus untuk
melindungi medulla spinalis dan serabut saraf, menyokong berat
badan dan berperan dalam perubahan posisi tubuh

Trauma vertebra adalah cedera Penyebab trauma vertebra :


kecelakaan lalulintas (44%),
yang terjadi pada tulang
kecelakaan olahraga (22%),
belakang. Trauma tulang dapat
terjatuh dari ketinggian (24%),
mengenai jaringan lunak berupa
dan kecelakaan kerja. Jenis
ligamen, discus dan faset, trauma vertebra: stabil dan tak
tulang belakang dan medulla stabil, serta trauma servikal dan
spinalis torakolumbal

Diagnosis klinik trauma vertebrae :


Anamnesis, PF dan Pem.Penunjang.

Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan


pada trauma tulang belakang  pemeriksaan
konvensional, tomografi konvensional, CT scan
atau CT mielo, MRI
Anatomi Vertebrae
Vertebra cervicalis

Vertebra Thorakalis

Vertebra Lumbalis
Trauma Vertebrae
Hiperekstensi

Fleksi

Fleksi dan distraksi posterior

Pergeseran aksial (kompresi)

Rotasi-fleksi

Translasi Horizontal
Pemeriksaan Radiologis
Konvensional Pada Vertebra
Pemeriksaan radiologi konvensional
vertebra cervicalis

1 •AP
2 •Lateral
3 • RAO / LAO
Interpretasi pada pemeriksaan foto polos
vertebrae CERVIKAL
a. Adequacy : harus mencakup semua 7
vertebra dan C7-T1 junction
b. Alignment : Menilai empat garis paralel
c. Bone
d. Corpus Vertebrae
e. Discus Intervertebralis
f. Soft Tissue Space
Pemeriksaan Radiologi Konvensional
Vertebra THORACALIS dan LUMBALIS
Interpretasi foto vertebrae THORACAL dan
LUMBAL
• Alignment : pergeseran menunjukkan
adanya spondilolistesis
• Bone
Pedikel
Facet
Lamina
Processus Spinosus
Corpus Vertebrae
Discus intervertebralis
• Soft tissue: normal/ada pembengkakan
Trauma Cervical
• Klasifikasi berdasarkan mekanisme
trauma :
– Hiperfleksi
– Fleksi-rotasi
– Hiperekstensi
– Ekstensi-rotasi
– Kompresi vertikal
• Klasifkasi berdasarkan derajat kestabilan
− Stabil
− Tidak Stabil
Hiperfleksi
1. Subluksasi anterior : terjadi robekan pada
sebagian di posterior tulang leher, ligamen
longitudinal anterior. Tanda penting pada
subluksasi anterior adalah adanya angulasi ke
posterior (kifosis) lokal pada tempat kerusakan
ligamen.
Hiperfleksi
2. Bilateral interfacetal dislocation
Robekan pada ligamentum longitudinal
anterior dan kumpulan di ligamentum di
posterior tulang leher.
• Lesi tidak stabil.
• Tampak dislokasi anterior korpus vertebra.
• Terdapat bow tie atau bat wing
appearance dari overriding facet-facet
yang terkunci. Dilokasi total sendi
apofiseal.
Hiperfleksi
3. Flexion Tear drop Fracture dislocation 
Tenaga fleksi murni ditambah komponen kompresi
menyebabkan robekan pada ligamentum
longitudinale anterior dan kumpulan ligamen
psterior disertai fraktur avulsi pada bagian anterior-
inferior korpus vertebra.
• Lesi tidak stabil, tampak tulang servikal dalam
fleksi
• Fragmen tulang berbentuk segitga pada bagian
anterior inferior korpus vertebra
• Pembengkakan jaringan lunak pravertebra.
Hiperfleksi
4. Wedge fracture  Vertebra terjepit sehingga
terjadi fraktur anterosuperior dari corpus vertebra
menyebakan corpus berbentuk baji.
• Ligamen longitudinal anterior dan kumpulan
ligamentum posterior utuh sehingga lesi ini
besifat stabil
• Vertebra terjepit sehingga terjadi fraktur
anterosuperior dari corpus vertebra
menyebakan corpus berbentuk baji.
• Ligamen longitudinal anterior dan kumpulan
ligamentum posterior utuh sehingga lesi ini
besifat stabil
Hiperfleksi
5. Clay sholveler’s fracture
 Fleksi tulang leher dimana terdapa
kontraksi ligamen posterior tulang leher
mengakibatkan terjadinya fraktur oblik pada
prosesus spinosus, biasanya pada C VI –
CVII atau Thoracal
Trauma Fleksi-rotasi
Dislokasi interfacetal pada satu sisi.
Lesi stabil walaupun terjadi kerusakan
pada ligamen posterior termasuk kapsul
sendi apofiseal yang bersangkutan.
Tampak dislokasi anterior korpus
vertebra.
Vertebra yang bersangkutan dan vertebra
proksimalnya dalam posisi oblik,
sedangkan vertebra distalnya tetap pada
posisi lateral
Trauma hiperekstensi
1. Dislokasi Hiperekstensi
 Dapat terjadi fraktur pedikel, prosesus
artikularis, lamina dan prosesus spinosus.
Fraktur avulsi korpus vertebra bagian posterior-
inferior. Lesi tidak stabil karena terdapat
kerusakan pada elemen posterior tulang leher
dan ligamen yang bersangkutan
2. Hangman’s fracture
 Terjadi fraktur arkus bilateral dan dislokasi
anterior CII terhadap CIII
Trauma Ekstensi-Rotasi
Terjadinya fraktur pada prosesus
artikularis satu sisi.

Trauma Ekstensi-Rotasi
• Terjadinya fraktur ini akibat diteruskannya
tenaga trauma melalui kepala, kondilus
oksipitalis, ke tulang leher.
• Bursting Fracture dari atlas (Jefferson’s
fracture)
• Bursting fracture vertebra servikal tengah
dan bawah
Trauma Vertebrae Thorakolumbal
1. Fraktur kompresi (Wedge fractures)
 Adanya kompresi pada bagian depan corpus
vertebralis yang tertekan dan membentuk patahan
irisan. Vertebra dengan fraktur kompresi akan
menjadi lebih pendek ukurannya daripada
sebenarnya
Trauma Vertebrae Thorakolumbal
2. Fraktur remuk (Burst fractures)
Fraktur yang terjadi ketika ada penekanan
corpus vertebralis secara langsung, dan tulang
menjadi hancur.
• Fragmen tulang berpotensi masuk ke kanalis
spinalis.
• Tipe burst fracture sering terjadi pada thoraco
lumbar junction dan terjadi paralysis pada kaki dan
gangguan defekasi ataupun miksi.
• Diagnosis burst fracture ditegakkan dengan x-rays
dan CT scan untuk mengetahui letak fraktur dan
menentukan apakah fraktur tersebut merupakan
fraktur kompresi, burst fracture atau fraktur
dislokasi.
Trauma Vertebrae Thorakolumbal
3. Fraktur dislokasi
• Fraktur dislokasi terjadi ketika ada segmen
vertebra berpindah dari tempatnya karena
kompresi, rotasi atau tekanan.
Pengelupasan komponen akan terjadi dari
posterior ke anterior dengan kerusakan
parah pada ligamentum posterior, fraktur
lamina, penekanan sendi facet dan
akhirnya kompresi korpus vertebra
anterior
Trauma Vertebrae Thorakolumbal
4. Chance fractures
• Fraktur ini sering terjadi pada kecelakaan mobil
dengan kekuatan tinggi dan tiba-tiba mengerem
sehingga membuat tubuh penderita terlempar
kedepan melawan tahanan tali pengikat (seat-
belt injury). Vertebrae dalam keadaan
hiperfleksi, korpus vertebra kemungkinan dapat
hancur selanjutnya kolumna posterior dan media
akan rusak sehingga fraktur ini termasuk jenis
fraktur tidak stabil
Pemeriksaan radiologi pada vertebra
memang sangat penting untuk
mendiagnosis trauma atau kelainan
vertebrae dan berpengaruh terhadap
fungsi dan struktur medula spinalis

Pasien dengan cedera tumpul supraklavikula,


cedera kepala, penurunan kesadaran harus
dicurigai adanya cedera cervical dan pasien
jatuh dari ketinggian atau dengan mekanisme
kecelakaan high-speed deceleration harus
dicurigai ada cedera thoracolumbal.

Pemeriksaan konvensional masih merupakan


pemeriksaan utama dan pemeriksaan pertama
yang harus dilakukan. Sifat dan tingkat lesi
tulang dapat diperlihatkan dengan sinar-X,
sedangkan sifat dan tingkat lesi saraf dengan
CT atau MRI.