Anda di halaman 1dari 16

Penyelundupan Hukum dan

Persoalan Pendahuluan dalam


Hukum Perdata Internasional

Andreas P. Aritonang : 15600041


Putri Sitorus :
Novita Sihombing :
• Pendahuluan
Pembahasan mengenai Hukum Perdata Internasional dan segala
sesuatu yang berkaitandengan pembahasannya.Diantaranya adalah
defenisi, sejarah, sumber-sumber Hukum Perdata Internasional.
Pada hakekatnya setiap negara yang berdaulat, memiliki hukum
atau aturan yangkokoh dan mengikat pada seluruh perangkat yang
ada didalamnya. Seperti pada Negara KesatuanRepublik Indonesia
yang memiliki mainstream Hukum Positif untuk mengatur warga
negaranya.Salah satu hukum positif yang ada di Indonesia adalah
Hukum Perdata Internasional yangnantinya akan dibahas lebih
detail. Permasalahan mengenai keperdataan yang
mengkaitkanantara unsur-unsur internasional pada era globalisasi
saat sekarang ini cukup berkembang pesat.Kejadian yang sekaranng
banyak terjadi antar Negara ialah maslah penyeludupanhukum.
Lembaga maupun individu mempunyai peran yang sangat dominan
dimana masalahequal di muka hukum yang sering di abaikan.Pada
saat sekarang ini berbagai kasus terjadi seperti perkawinan antar
negara denagan dengan keyakinan yang berbeda, masalah
pembagian warisanyang dengan menggunakan hukum yang
berbeda. Inilah sebuah konsekwensi dari sebuahglobalisasi, tak bisa
dihindari, akan tetapi inilah sebuah kebutuhan dan merupakan sifat
dasar umat manusia. Masalah-masalah keperdataan diatas
diperlukan sebuah wadah untuk dapatmenjadi acuan dan rujukan
bertindak dan berpedoman pada hukum keperdataan.
• Latar Belakang
Dilakukannya Penyelundupan Hukum dan Persoalan Pendahuluan dalam
Hukum Perdata Internasiolan ialah bertujuan agar supaya hukum nasional
dipakai dengan mengenyampingkan hukum asing. Hukum asing
dinyatakan tidak berlaku jika dipandang sebagai penyelundupan hukum.
Kedua-keduanya hendak mempertahankan hukum nasional terhadap
kaidah-kaidah hukum asing. Perbedaan antara ketertiban umum dan
penyelundupan hukum adalah bahwa pada yang pertama kita saksikan
bahwa pada umumnya suatu hukum nasional dianggap tetap berlaku,
sedangkan dalam penyelundupan hukum kita, hukum nasional tetap
berlaku itu dan dianggap tepat pada suatu periwtiwa tertentu saja, yaitu
ada seseorang yang untuk mendapatkan berlakunya hukum asing telah
melakukan tindakan yang bersifat menghindarkan pemakaian hukum
nasional itu. Jadi hukum asing dikesampingkan karena penyelundupan
hukum, akan mengakibatkan bahwa untuk hal-hal lainnya akan selalu
boleh dipergunakan hukum asing itu. Dalam hal-hal khusus, kaidah asing
tidak akan dipergnakan karena hal ini dimungkinkan (pemakaian hukum
asing ini) oleh cara yang tidak dapat dibenarkan.
Penyelundupan hukum dan hak-hak yang diperoleh Lembaga
penyelundupan hukum dapat juga dilihat dalam hubungannya dengan
masalah “hak-hak yang diperoleh”. Bahwa penyelundupan hukum justru
bertentangan dengan hak-hak yang diperoleh. Karena pada penyelundupan
hukum kaidah-kaidah asing dikesampingkan dan hukum nasional
dipergunakan. Tetapi pada “hak-hak yang diperoleh” justru hak-hak itu
telah diperoleh menurut hukum asing diakui dan dihormati oleh hukum
nasional hakim sendiri.
• RUMUSAN MASALAH
Pengertian penyelundupan hukum adalah Pada dasar penyeludupan hukum berasal
dari kata seludup, dalam kamus besar bahasa Indonesia yang di terbitkan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, balai pustaka, 1989, kata seludup
diartikan penyelundup, menyuruk, masuk dengan sembunyi-sembunyi atau secara
gelap (tidak sah). Sedangkan penyelundupan di artikan pemasuk barang secara gelap
untuk menghindari bea masuk atau karena penyenludupan barang-barang terlarang.
Penyelundupan hukum (evasion of law) adalah suatu perbuatan yang dilakukan di
suatu negara asing dan diakui sah di negara asing itu akan dapat dibatalakan oleh
forum atau tidak diakui oleh forum bila perbuatan itu dilaksanakan di negara asing
yang bersangkutan dengan tujuan untuk menghindari diri dari aturan-aturan lex fori
yang akan melarang perbuatan itu dilaksanakan di wilayah forum.
Fungsinya adalah untuk melindungi sistem hukum yang seharusnya berlaku.
Ketertiban umum sangat sukar untuk dirumuskan, namun yang dimaksud ketertiban
umum ini adalah pembatasan berlakunya suatu kaedah asing dalam suatu negara
karena bertentangan dengan kepentingan umum atau ketertiban hukum. Faktor-
faktor yang membatasi: Waktu, tempat, falsafah kenegaraan, sistem perekonomian,
pola kebudayaan yang dianut, masyarakat yang bersangkutan. Sehingga hukum
asing yang bertentangan dengan ketertiban umum tersebut tidak dipergunakan
meskipun sebenarnya menurut peraturan HPI lex fori, kaedah hukum asing
seharusnya berlaku.
Dalam situasi seperti di atas maka lembaga ketertiban umum dapat menjadi dasar
bagi pembenaran bagi hakim untuk menyimpang dari kaidah-kaidah HPI yang
seharusnya berlaku, dan menunjuk kearah berlakunya suatu sistem hukum asing.
• Pengertian Penyeludupan Hukum
Menurut Prof.G.G.Siong penyeludupan hukum adalah mengingkari hukum dengan
tidak sewajarnya, sehingga dapat dikatakan pengingkaran hukum. Penyeludupan
hukum terjadi bilamana ada seseorang atau pihak-pihak yang mempergunakan
berlakunya hukum asing dengan cara-cara yang tidak benar, dengan maksud untuk
menghindari berlakunya hukum nasional. Akibat penyeludupan hukum asing,
adalah batal demi hukum.

• Tujuan Penyeludupan Hukum


Penyelundupan hukum adalah suatu perbuatan yang bertujuan untuk menghindari
berlakunya hukum nasional sehingga yang bersangkutan memperoleh suatu
keuntungan – keuntungan tertentu sesuai dengan keinginannya, sebab baginya
berlaku hukum asing. Akan tetapi di pihak yang lain, khususnya apabila dilihat dari
kacamata hakim yangmenangani atau menyelesaikan kasus yang berhubungan
dengan lembaga atau perbuatan hukumini, penyelundupan hukum justru
mengakibatkan berlakunya hokum nasional dan menyatakantidak berlakunya
hukum asing yang diselundupkan itu.
Penyelundupan hukum terjadi jika ada seseorang atau suatu pihak yang untuk
mendapatkan berlakunya hukum asing, telah melakukan suatu cara yang tidak
dibenarkan dengan maksud untuk menghindarkan pemakaian hukum nasional,
dengan tujuan untuk menghindarkan suatu syarat atau suatu akibat hukum tertentu
yang tidak dikehendaki, ataupun untuk mewujudkan atau menciptakan suatu akibat
hukum yang dikehendaki, dengan kata lain seseorang melakukan penyelundupan
hukum dengan tujuan agar diberlakukan hukum yang lain dari hukum yang
seharusnya digunakan.
Penyelundupan hukum ini tidak terlepas dari perspektif Hukum Perdata
Internasional (HPI), Dalam Hukum Perdata Internasional yang merupakan suatu
ajaran hukum tentang perselisihan/ hukum pertikaian, dalam hal ini karena
bertugas menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang menyangkut “konflik”
antara dua atau lebih sistem hukum.
• AKIBAT PENYELUNDUPAN HUKUM

• Mengenai akibat dari penyeludupan hukum


tidak ada kata kata sepakat.
• Tiap penyeludupan hukum
mengakibatbatkan batalnya perbuatan yang
bersangkutan.
• Perbuatan penyelundupan Hukum tetap sah,
sebab orang yang melakukan yang melakukan
penyelundupan Hukum bukan melakukan suatu
Hal yang tidak pantas.
• CONTOH DARI PENYELUNDUPAN HUKUM
Kasus Eddy Maliq Meijer lahir pada April 2007 merupakan anak dari perkawinan
campuran dari ayahnya Frederik J Meijer yang berkewarganegaraan Belanda dan
ibunya Maudy Koesnaedi yang warga Negara Indonesia juga merupakan subjek
hukum :
• KASUS MALIQ MEIJER
• KASUS EDY MALIQ MIJER
• EDI MALIQ MEIJER
• KASUS PENYELUNDUPAN HUKUM
Dalam kasus Eddy, terjadi perkawinan campuran antara ayahnya Warga Negara
Belanda dan ibunya Warga Negara Indonesia. Berdasarkan pasal 8 UU No.62 tahun
1958, seorang perempuan warga negara Indonesia yang kawin dengan seorang asing
bisa kehilangan kewarganegaraannya, apabila selama waktu satu tahun ia
menyatakan keterangan untuk itu, kecuali apabila dengan kehilangan
kewarganegaraan tersebut, ia menjadi tanpa kewarganegaraan. Apabila suami WNA
bila ingin memperoleh kewarganegaraan Indonesia maka harus memenuhi
persyaratan yang ditentukan bagi WNA biasa. Karena sulitnya mendapat ijin tinggal
di Indonesia bagi laki laki WNA sementara istri WNI tidak bisa meninggalkan
Indonesia karena berbagai factor, antara lain : faktor bahasa, budaya, keluarga besar,
pekerjaan pendidikan,dll maka banyak pasangan seperti terpaksa hidup terpisah .
Pengaturan di Indonesia Menurut UU No.62 tahun 1958 Indonesia menganut asas
kewarganegaraan tunggal, dimana kewarganegaraan anak mengikuti ayah, sesuai pasal 13
ayat (1) UU No.62 Tahun 1958 : “Anak yang belum berumur 18 tahun dan belum kawin
yang mempunyai hubungan hukum kekeluargaan dengan ayahnya sebelum ayah itu
memperoleh kewarga-negaraan Republik Indonesia, turut memperoleh kewarga-negaraan
Republik Indonesia setelah ia bertempat tinggal dan berada di Indonesia. Keterangan
tentang bertempat tinggal dan berada di Indonesia itu tidak berlaku terhadap anak-anak
yang karena ayahnya memperoleh kewarga-negaraan Republik Indonesia menjadi tanpa
kewarga-negaraan.” Dalam ketentuan UU kewarganegaraan ini, anak yang lahir dari
perkawinan campuran bisa menjadi warganegara Indonesia dan bisa menjadi warganegara
asing . Dalam kasus Eddy yang telahir dari hasil perkawinan campuran ibunya Warga
Negara Indonesia dan Ayahnya Warga Negara Belanda,
anak tersebut sejak lahirnya dianggap sebagai warga negara asing sehingga harus
dibuatkan Paspor di Kedutaan Besar Ayahnya, dan dibuatkan kartu Izin Tinggal Sementara
(KITAS) yang harus terus diperpanjang dan biaya pengurusannya tidak murah. Dalam hal
terjadi perceraian antara orang tua Eddy, akan sulit bagi Maudy sebagai ibu untuk
mengasuh anaknya, walaupun pada pasal 3 UU No.62 tahun 1958 dimungkinkan bagi
seorang ibu WNI yang bercerai untuk memohon kewarganegaraan Indonesia bagi anaknya
yang masih di bawah umur dan berada dibawah pengasuhannya, namun dalam praktek hal
ini sulit dilakukan. Masih terkait dengan kewarganegaraan anak, dalam UU No.62 Tahun
1958, hilangnya kewarganegaraan ayah juga mengakibatkan hilangnya kewarganegaraan
anak-anaknya yang memiliki hubungan hukum dengannya dan belum dewasa (belum
berusia 18 tahun atau belum menikah). Hilangnya kewarganegaraan ibu, juga
mengakibatkan kewarganegaraan anak yang belum dewasa (belum berusia 18 tahun/
belum menikah) menjadi hilang apabila anak tersebut tidak memiliki hubungan hukum
dengan ayahnya.
• Di dalam Undang-Undang kewarganegaraan yang baru memuat asas-asas
kewarganegaraan umum atau universal. Adapun asas-asas yang dianut dalam Undang-
Undang ini sebagai berikut: Asas ius sanguinis (law of the blood) adalah asas yang
menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan
negara tempat kelahiran.
a. Asas ius soli (law of the soil) adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang
berdasarkan negara tempat kelahiran, yang diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai
dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.
• b. Asas kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menentukan satu kewarganegaraan bagi
setiap orang.
c. Asas kewarganegaraan ganda terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan
ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.
Undang-Undang ini pada dasarnya tidak mengenal kewarganegaraan ganda ataupun tanpa
kewarganegaraan. Kewarganegaraan ganda yang diberikan kepada anak dalam Undang-
Undang ini merupakan suatu pengecualian. Mengenai hilangnya kewarganegaraan anak,
maka hilangnya kewarganegaraan ayah atau ibu apabila anak tersebut tidak punya
hubungan hukum dengan ayahnya tidak secara otomatis menyebabkan kewarganegaraan
anak menjadi hilang Berdasarkan UU ini Eddy yang merupakan anak yang lahir dari
perkawinan seorang wanita WNI dengan pria WNA diakui sebagai warga negara Indonesia.
Eddy akan berkewarganegaraan ganda , dan setelah dia berusia 18 tahun atau sudah kawin
maka ia harus menentukan pilihannya. Pernyataan untuk memilih tersebut harus
disampaikan paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 tahun atau setelah kawin.
Namun pemberian kewaranegaraan ini akan menimbulkan permasalahan baru di
kemudian hari atau tidak. Memiliki kewarganegaraan ganda berarti tunduk pada dua
yurisdiksi, dalam kasus ini antara Indonesia dan Belanda.
● ANALISIS. Pengaturan baru. Pengaturan status hukum anak hasil
perkawinan campuran dalam UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang
Kewarganegaraan Republik Indonesia memberi peraturan baru yang
positif karena secara garis besar Undang-undang baru ini
memperbolehkan dwi kewarganegaraan yang terbatas dalam mengatasi
persoalan-persoalan yang timbul dari perkawinan campuran.

● Permasalahannya adalah menyangkut dwi kwarganegaraan pada anak,


jika nantinya anak menganut terus dwi kewarganegaraanya maka harus
ada penyelundupan hukum jika anak tersangkut suatu kasus pada suatu
negara. Dan apakah ketika anak mendapatkan permasalahan hukum
nantinya ada perlindungan dari negara dimana ia tinggal, karena
menyangkut mengenai dwi kewarganegaraan.
• 2. PERSOALAN PENDAHULUAN DALAM HUKUM PERDATA
INTERNASIONAL

• HPI adalah keseluruhan peraturan dan keputusan hukum yang menunjukkan stelsel
hukum manakah yang berlaku atau apakah yang merupakan hukum, jika hubungan-
hubungan atau peristiwa antar warga (warga) Negara pada suatu waktu tertentu
memperlihatkan titik-titik pertalian dengan stelsel dan kaidah-kaidah hukum dari dua atau
lebih Negara yang berbeda dalam lingkungan kuasa tempat, pribadi dan soal-soal.
• Sebagai bagian dari hukum perselisihan, Hukum Perdata Internasional (HPI) pada
dasarnya merupakan perangkat di dalam sistem hukum nasional yang mengatur
hubungan-hubungan atau peristiwa-peristiwa hukum yang menunjukkan kaitan lebih dari
satu sistem hukum nasional.
• Persoalan-peesoalan HPI pada dasarnya muncul dalam perkara-perkara yang melibatkan
lebih dari satu yurisdiksi hukum dan hukum internaisonal dari yurisdiksi-yurisdiksi itu
berbeda satu sama lain, HPI juga dapat dipahami sebagai proses dan aturan-aturan yang
digunakan oleh pengadilan untuk menentukan hukum mana yang harus diberlakukan pada
perkara yang sedang dihadapi.
• Masalah persoalan pendahuluan dalam HPI dapat dirumuskan secara sederhana sebagai :
”suatu persoalan/masalah HPI dalam sebuah perkara yang harus dipecahkan dan atau
ditetapkan terlebih dahulu sebelum putusan terhadap masalah HPI yang menjadi pokok
perkara dapat ditetapkan oleh hakim.
• SYARAT DAPAT DINYATAKAN SEBAGAI PERSOALAN PENDAHULUAN DALAM
HPI
- Masalah utama berdasarkan kaidah HPI lex fori seharusnya diatur berdasarkan hukum asing
sistem hukum dari tempat dimana persoalan hukum diajukan sebagai perkara hukum yang
berlaku adalah hukum dari negara dimana pengajuan gugatan dimasukkan.
- Harus ada masalah pendahuluan atau masalah subsider yang menyangkut unsur asing
Kata subsider digunakan dalam kaitannya dengan vonis hukum kepada seseorang atau pihak
tertentu sebagai konsekuensi dari proses hukum. Kata subsider artinya ‘sebagai pengganti’ atau
‘pengganti’. Karena sebagai wujud dari bentuk vonis hukum, kata subsider dapat diartikan
pengganti dari ketetapan hukuman.
- Kesimpulan yang didapat berbeda dengan kesimpulan yang akan dicapai bila digunakan hukum
yang mengatur masalah utama.
Perkawinan “bukan gerejani” dari janda yunani.
Misalnya kita menghadapi persoalan HPI tentang warisan, menurut HPI Indonesia warisan diatur
menurut hokum nasional si pewaris. Seorang warganegara yunani telah meninggal di Indonesia
dan meninggalkan harta benda, maka persoalan warisannya harus diselesaikan menurut hokum
yunani. Ia telah menikah dengan seorang perempuan bukan yunani, perkawinan mana
dilangsungkan di luar negri yunani dan hanya di hadapan Pegawai Catatan Sipil belaka, tanpa di
gereja. Menurut hokum yunani perkawinan demikian adalah tidak sah, Kalau dipakai hokum
yunani maka sang janda tidak akan menerima apa-apa. Sebaliknya jika dipakai hokum Indonesia,
maka perkawinan tersebut adalah sah
Dalam contoh ini persoalan warisan adalah persoalan pokok, sedangkan pertanyaan mengenai
sah tidak nya perkawinan antara si pewaris junani dengan perempuan
bersangkutan adalah persoalan pendahuluan. Persoalan mengenai status sang
perempuan ini harus terlebih dahulu diselesaikan sebelum dapat diambil keputusan dalam
perkara warisan bersangkutan.
• PENYELESAIAN PERSOALAN PENDAHULUAN DALAM HUKUM PERDATA
INTERNASIONAL
• Absorption, Berdasarkan lex causae
Prinsipnya, melalui absorption lex causae yang dicari dan ditetapkan melalui penerapan kaidah HPI
untuk mengatur masalah pokok (main issue) akan digunakan juga untuk menjawab persoalan
pendahuluan. jadi, setelah lex causae untuk masalah pokok ditetapkan melalui penerapan kaidah
HPI lex fori, masalah pendahuluannya akan ditundukkan pada lex causae yang sama, cara ini
adakalanya disebut cara penyelesaian berdasarkan lex causae.
• Repartition Berdasarkan lex fori
Pada dasarnya, melalui repartition hakim harus menetapkan lex causae untuk masalah pendahuluan
secara khusus dan tidak perlu menetapkan lex causae dari masalah pokoknya terlebih dahulu.
Dengan mengabaikan hukum mana yang akan merupakan lex causae untuk menjawab masalah
pokok, hakim akan melakukan kualifikasi berdasarkan lex fori dan menggunakan kaidah-kaidah
HPI –nya yang relevan khusus untuk menetapkan lex causae dari masalah pendahuluan
(zelfstandige aanknoping), cara ini disebut penyelesaian dengan lex fori.
• Kasuistik Melihat kasus per kasus
Pendekatan Kasus demi Kasus
Ada pandangan yang berpendapat bahwa penetapan lex causae untuk masalah pendahuluan atau
incidental queation harus di;lakukan dengan pendekatan kasuistis, dengan memerhatikan sifat
dan hakikat perkara atau kebijakan dan kepentingan forum yang mengadili perkara. Menurut
Cheshire, kebanyakan putusan hakim dalam kasus-kasus incidental question diselesaikan melalui
absoption. namun, Cheshire cenderung untuk menggunakan pola pendekatan yang ke tiga (case-
by-case approach) dengan memerhatikan kelas dari jenis perkara yang sedang dihadapi.
Misalnya :Untuk perkara-perkara HPI di bidang pewarisan benda bergerak sebaiknya digunakan
absorpsi, sedangkan untuk perkara-perkara di bidang perbuatan melawan hukum atau kontrak
sebaiknya digunakan repartisi.
• CONTOH KASUS DALAM PERSOALAN HUKUM
DALAM PERDATA INTERNASIONAL
• A (paman) hendak menikah dengan B (keponakan).
Keduanya warga negara Israel (Yahudi) yang berdomisili
di Amerika Serikat. Menurut hukum AS, keduanya tidak
boleh menikah karena masih ada hubungan darah,
padahal menurut hukum Yahudi diperbolehkan. Untuk
itu mereka pindah ke Rhode Icelands dan menikah
secara Yahudi di sana. Setelah menikah di sana mereka
balik lagi ke Amerika.
Setelah 32 tahun kemudian, B meninggal dunia dan
meninggalkan Suami (A) dan 6 orang anak serta harta
warisan yang semuanya dikuasai oleh A. Anak-anak
tidak puas atas penguasaan harta warisan oleh ayahnya
dan menggugat ke Pengadilan AS bahwa Si A tidak
berhak menguasai harta warisan karena pernikahannya
merupakan Fraus Legis. Persoalan pendahuluan :
Apakah pernikahan A dan B sah ?
• KESIMPULAN
• Penyelundupan hukum dan persoalan pendahuluan
dalam hukum perdata internaisonal yang terjadi di
indonesia adalah suatu peristiwa dimana
kebanyakan terjadi pada orang asing yang
mengakibatkan suatu akibat hukum sehingga
mempunyai proes permasalahan yang berbeda yaitu
keputusan hukum yang menunjukkan stelsel hukum
manakah yang berlaku atau apakah yang
merupakan hukum, jika hubungan-hubungan atau
peristiwa antar warga (warga) Negara pada suatu
waktu tertentu memperlihatkan titik-titik pertalian
dengan stelsel dan kaidah-kaidah hukum dari dua
atau lebih Negara yang berbeda dalam lingkungan
kuasa tempat, pribadi dan kasus-kasusnya.
Terima Kasih

Beri Nilai