Anda di halaman 1dari 27

PERADABAN ISLAM

ABAD PERTENGAHAN DAN


MODERN
 Bahasan:
 Peradaban Islam masa Tiga Kerajaan Besar;
Dinasti Usmani, Dinasti Safawi dan Dinasti
Mughal.
 Persentuhan Islam dengan Barat
 Modernisasi dalam Islam
 Respon Intelektual terhadap Pemikiran
Modern dalam Islam
Latar Belakang Sejarah Turki Utsmani
• Bangsa Turki Utsmani berasal dari daerah Turkistan
• Suku Turki memeluk Islam pada tahun 22 H masa pemerintahan
Utsman bin Affan
• Setelah masuk Islam, kabilah-kabilah Turki menjadi bagian
pemerintahan Islam, kemudian mulai menjabat pos-pos penting
militer dan sipil di pemerintahan Islam.
• Utsman adalah pendiri daerah Usmaniah Turki yang di dirikan di
atas puing-puing Kesultanan Seljuk
• Utsmani merupakan dinasti Islam terbesar Abad Pertengahan,
berkuasa lebih dari enam abad.
• Wilayah kekuasaan Turki mencakup Asia Kecil, Timur Tengah,
sebagian besar Afrika Utara, sebagian wilayah Eropa Timur.
• Masa kejayaan Turkey Usmani pada masa Sultan Sulaiman al-
Qanuni, 1520-1566 M, disusun kitab Undang-Undang (Qanun)
“Multaqa al-Abhur”, menjadi dasar hukum hingga abad ke 19.
• Periode pertama tahun 1299 - 1402 M, masa
berdirinya kerajaan dan ekspansi pertama,
melakukan perluasan daerah ke Eropa,
menjadikan Adrianopel ibukota baru.
• Periode kedua, 1402 - 1566 M, upaya
restorasi kerajaan dan ekspansi terbesar
mencapai masa kejayaan Turki Usmani di
bawah kepemimpinan Sultan Sulaiman al-
Qanuni, wilayah Turki mencakup Asia Kecil,
Armenia, Irak, Syria, Hejaz di wilayah Asia;
Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika;
Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania,
Hongaria dan Rumania sampai Austria di
Eropa.
 Periode ketiga (1566-1699 M), awal kemunduran
Usmani pasca Sulaiman al-Qanuni, Usmani menghadapi
tantangan, Sultan kurang terlibat dalam administrasi
negara, peran Perdana Menteri (Ibrahim Pasya) menjadi
dominan, berakibat terjadinya konflik internal. Pasukan
Jenissari ( pasukan elite ) mengalami kekalahan di
wilayah Asia dan Eropa berdampak beberapa wilayah
lepas dari kekuasaan Turkey Utsmani.
 Periode keempat (1699-1839) masa disintegrasi
kekuasaan Usmani, banyak wilayah diambil alih
penguasa lokal.
 Periode kelima (1839-1922), ditandai dengan
kebangkitan kultural dan administrasi negara di bawah
pengaruh ide-ide Barat. Muncullah Tanzimat, gerakan
Usmani Muda dan Turki Muda untuk membebaskan
Turki Usmani dari kehancuran
Kemajuan:
A. Militer dan Pemerintahan;
◦ Terbentuknya Angkatan bersenjata (Jenissari atau
Inkisyariah) sebagai pasukan elite.
◦ Sultan dibantu oleh Shadr al-A’dzam (Perdana Menteri)
membawahi Pasya (pemimpin daerah tingkat
I/Gubernur), yang dibantu oleh al-Zanaaiq atau al-
Alawiah/Bupati).
◦ Pembaharuan dan sekularisme (abad 18 M,) dengan
berdirinya gerakan Tanzimat (organisasi); Utsmani
muda, Turki muda dan Partai Persatuan dan Kemajuan.
B. Kemerosotan:
Bidang Keagamaan; ijtihad tidak berkembang, karya-
karya Ulama lebih pada syarah (penjelasan) dan
hasyiyah (semacam catatan terhadap karya-karya
klasik). Mayoritas menganut aliran Asy’ariyah, tarekat
Bektasyi dan Tarekat Maulawi berkembang.
.
A. Bidang Pendidikan, memasukkan
pengetahuan umum dalam kurikulum
pendidikan, seperti pelajaran bahasa
Perancis, Ilmu Bumi, Ilmu Ukur, Sejarah,
Ilmu Politik. Pada tahun 1838 M. Sultan
Mahmud II mendirikan “Dar ul-Ulum-u
Hikemiye Ve-Mekteb-i Tibbiye-i Sahane”
(sekolah kedokteran dan pembedahan).
Bahasa Perancis sebagai bahasa
pengantarnya.
B. Adanya pemberdayaan Perempuan: dalam
berbagai bidang; pendidikan, lapangan
pekerjaan, terutama dalam bidang
ekonomi. Pola hubungan suami isteri
dengan prinsip keadilan dan kesetaraan
menjadi prioritas, sementara poligami
tidak populer.
 Republikanisme: Membatalkan sistem
pemerintahan khilafah dan menggantinya dgn
sistem pemerintahan yang berdasarkan atas
kedaulatan di tangan rakyat.
 Populisme: Pengakuan terhadap martabat rakyat,
pemerintahan milik rakyat, dari dan untuk rakyat
 Nasionalisme: Konsep nasionalisme dengan
kriteria budaya, bahasa dan kesatuan geografis
wilayah Turki.
 Reformisme: Modernisasi dan transformasi Turki
yang mengadopsi budaya, ilmu pengetahuan dan
teknologi Barat, tujuan menghilangkan kebodohan
 Sekulerisme: Pemisahan urusan negara dari agama
 Etatisme: intervensi negara dalam semua aspek
kehidupan untuk kemakmuran dan kesejahteraan
sosial
Safawi berasal dari gerakan tarekat didirikan
oleh Safi al-Din (1252-1334 M) beraliran Syi’ah,
kemudian berubah menjadi kekuatan politik,
dikenal dengan Dinasti Safawi pada masa Sultan
Ismail I (1501-1524 M). Puncak keemasannya
pada masa Sultan Abbas I, berkuasa dari 1588-
1628 M

Kemajuan Peradaban Safawi;


A.Militer dan Pemerintahan:
Membentuk angkatan bersenjata,
membangun hubungan diplomatik dengan
daerah sekitar, melakukan ekspansi ke
wilayah lain
B. Bidang Sosial ekonomi: menguasai jalur
perdagangan Timur dan Barat
C. Bidang Infrastruktur: pembangunan sarana
pendidikan, masjid, penginapan,
pemandian umum.
D. Bidang ilmu pengetahuan: Lahir seorang
tokoh; al-Din Syiradzi Muhammad Baqir
ibn Muhmmad Damaz (filosuf, ahli
sejarah, teolog, peneliti flora), dll
E. Bidang Seni: penghasil keramik, tekstil,
karpet, lukis. Seniman Bizhad, diangkat
sebagai kepala perpustakaan Raja Syah
Tahmasp), yang menghasilkan karya Syah
Nameh I yang memuat lebih 250 lukisan,
sebagai karya seni terbesar di Iran.
 Didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530),
cucu Timur Lenk, keturunan Jengkis Khan
 Puncak kejayaannya pada masa Sultan Jalaluddin
Akbar (1556-1605 M)

Kemajuan Peradaban:
A. Bidang Politik dan pemerintahan
 Sistem Pemerintahan meliteristik, Sultan penguasa
mutlak, pemerintah daerah dipimpin oleh Kepala
Komandan (Sipah Salar). Distrik dipimpin oleh
komandan (Fauzar)
B. Bidang ekonomi:
Sektor pertanian dan industri
C. Bidang Seni:
Seni Arsitektur, seperti masjid, istana Fatfur, Taj
Mahal di Agra, Istana dll.
Seni sastra (syair) berkembang pesat
a. Penyair terkenal adalah Malik Muhammad Jayazi,

karyanya berjudul Padmavat, karya alegoris


tentang kebajikan jiwa manusia.
b. Masa Aurangzeb, muncul sejarawan Abu Fadl
karyanya Akhbar Nama dan Aini Akhbari, tentang
sejarah..
 Adopsi dan akomodasi Islam terhadap
budaya lokal, menimbulkan keragaman
dalam peradaban Islam, yang terdiri dari:
 1.Budaya Arab, di Timur Tengah (kawasan
Jazirah Arab, Mesir, Afrika Utara). Bahasa
Arab sebagai lingua franca.
 2. Budaya Persia, di Iran dan sebagian
Asia Tengah. Bahasa Persia sebagai
medium.
 3. Budaya Turki, di Anatolia, sebagian
Asia Tengah, dan Eropa Timur. Bahasa
Turki sebagai bahasa sehari-hari.
 4. Budaya Anak Benua India; India, Pakistan
dan Bangladesh. Menggunakan bahasa
Urdu. Hindi dan Bengali sebagai bahasa
ibu.
 5. Budaya Melayu, di kawasan “Nusantara” (
Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam,
Singapura dan Patani), menggunakan
bahasa melayu.
 6. Budaya Afrika Hitam, di Mesir selatan,
Afrika Utara, Afrika Tengah, menggunakan
berbagai bahasa lokal yang mendapat
pengaruh kosakata bahasa Arab.
 Beberapa Istilah;
 Modern berarti “terbaru”, “mutakhir”, “sikap dan cara berpikir
serta bertindak sesuai dengan tuntutan zaman” yang selalu
berubah dari waktu ke waktu.
 Modernisasi berarti proses pergeseran sikap dan mentalitas
sebagai warga masyarakat untuk bisa sesuai dengan tuntutan
masa kini.
 Kata modern, modernisasi, dan modernisme berasal dari Barat.
Modernisme sebagai paham dan gerakan di Dunia Barat tidak
lepas dari gerakan Renaissance pada abad ke-14 sampai abad
ke-16 di Italia dan Perancis.
 Renaissance (Perancis) berarti “kelahiran kembali” atau
“kebangkitan kembali”. Yaitu “kelahiran kembali semangat
Yunani dan Romawi dan kebangkitan kembali belajar ilmiah”.
 Istilah Renaissance menunjukkan suatu gerakan yang merasa
dilahirkan kembali dalam keadaban dan sumber-sumber yang
murni bagi pengetahuan dan keindahan.
 Zaman Renaissance berarti zaman yang menekankan pada
kedaulatan manusia dalam berpikir, mengadakan eksplorasi,
eksperimen, mengembangkan seni, sastra, dan ilmu
pengetahuan di Eropa.
Manifestasi Renaissance:
a) Gerakan Humanisme: mencari nilai-nilai kemanusiaan
dengan menerjemahkan sumber-sumber Yunani dan
Romawi, kontras dengan tradisi skolastisisme dan otoritas
religius.
b) Penolakan tradisi Aristotelian Abad Pertengahan dan
kebangkitan Platonisme ?
c) Terbuka kepada ilmu-ilmu baru mulai terbentuk.
d) Ketidakpuasan pada kemapanan yang mengarah kepada
Reformasi Protestan.
e) Periode modern di Barat (Eropa) dimulai sejak abad ke-17
sampai sekarang, yang didominasi oleh sains.
f) Abad modern, menurut Bertrand Russel, ditandai oleh dua
hal; melemahnya otoritas gereja dan meningkatnya
otoritas sains.
g) Pada zaman modern, sektor budaya lebih dikuasai orang
awam ketimbang para pemuka agama. Negara
menggantikan gereja dalam bidang pemerintahan.
 Kontak Islam dengan Dunia Barat-Kristen dimulai
sejak awal abad ke-8 M. dan semakin intensif pada
Perang Salib selama dua abad (1095-1291).
 Ketika Islam dalam kegemilangan pada abad klasik ,
Dunia Barat-Kristen dalam “Abad Kegelapan”.
banyak pelajar Kristen belajar di Perguruan tinggi
Islam, khususnya di Andalusia (Spanyol). Juga
pengaruh interaksi peradaban dan belajar di
lembaga pendidikan Turki Usmani pada masa
kejayaannya yang menguasai sebagian besar wilayah
Eropa
 Terlepasnya wilayah-wilayah Turki Usmani di Eropa
Timur pada abad ke-18 dan keberhasilan ekspedisi
Napoleon di Mesir pada tahun 1798 menyadarkan
masyarakat Muslim bahwa mereka telah tertinggal
dari Barat (Eropa) di bidang militer dan ilmu
pengetahuan. Hal ini memicu para penguasa dan
intelektual-ulama di negeri Muslim bangkit
melakukan pembaharuan.
 Banyak istilah yang digunakan terkait dengan pembaharuan
dalam Islam, antara lain, tajdid, islah, reformasi, ashriyah,
modernisasi, revivalisasi, dan resurgensi.
 Tajdid diartikan islah dan reformasi yang berarti
menghidupkan dan membangkitkan kembali ilmu dan amal
sebagaimana yang diperintahkan al-Qur’an dan Sunnah.
 Istilah modernisasi atau ashriyah berarti menyesuaikan
kembali paham-paham lama atau adat istiadat dan institusi-
institusi lama yang tidak sesuai dengan semangat
perkembangan sains dan teknologi modern.
 Istilah revivalisasi dan resurgensi atau renaisans berarti
tegak kembali atau bangkit kembali. Revivalisasi berbeda
dengan resurgensi. Revivalisasi berarti bangkit kembali,
tetapi berorientasi ke masa lampau, sedangkan resurgensi
lebih berorientasi ke masa depan.
 Ulama-ulama besar abad ke-19 dan 20, seperti Sayyid
Ahmad Khan dan Amir Ali (India), Jamaluddin al-
Afghani, Muhammad Abduh (Mesir), dan Namik Kemal
(Turki) berpendapat hampir sama tentang strategi
pembaharuan dalam Islam, yaitu penggalakan sains
dan semangat ilmiah seperti di Barat, walaupun hanya
Namik Kemal saja yang pernah belajar di Barat (Eropa)
tahun 1867-1871dan pengaruh skularismenya kental.
 Kelima tokoh pembaharuan tersebut berpandangan:
1. Bahwa berkembangnya semangat ilmiah umat Islam
abad abad klasik hasil dari usaha memenuhi
tuntunan al-Qur’an agar manusia mengkaji alam
semesta. Pada Abad Pertengahan semangat ilmiah di
Dunia Islam telah merosot.
2. Barat menggalakkan kajian ilmiah sebagian besar
merupakan kontribusi dari Islam, mereka
memperoleh kemakmuran, tetapi kemudian
menjajah negeri-negeri Muslim.
3. Karena itu, kaum Muslim dalam mempelajari kembali
sains dari Barat yang telah berkembang, berarti
menemukan kembali masa lalu mereka dan
memenuhi kembali perintah al-Qur’an
1. Memurnikan ajaran Islam.
2. Membuka kembali pintu ijtihad.
3. Kembali kepada sumber ajaran-ajaran
Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah,
dengan melakukan pemahaman
ulang dan meninggalkan pemahaman
lama yang tidak relevan dengan
perkembangan zaman.
4. Mengembalikan citra dan harga diri
umat Islam.
5. Mengembalikan kekuatan sosial,
ekonomi dan politik umat.
 Aspek-aspek pembaharuan dalam Islam mencakup
bidang-bidang pranata sosial (institusi), teologi,
pendidikan, politik, ekonomi,dan hukum.
 Pembaharuan di Turki pada mulanya bukan pada
lapangan pemikiran, tetapi pada pranata sosial politik,
khususnya kemiliteran dan pemerintahan. Pengaruhnya
terlihat dengan berdirinya Republik Turki, dan
lenyapnya Kesultanan Turki Usmani.
 Di Mesir didirikan sekolah-sekolah umum dan
menerjemahkan buku asing serta mengirim para pelajar
ke Eropa. Pembaharuan dalam bidang hukum (fatwa)
dilakukan dengan tidak taklid lagi pada pendapat
ulama-ulama sebelumnya. Demikian pula dalam bidang
teologi, khususnya tentang paham qada dan qadar.
 Di India didirikan Universitas Islam Aligarh yang
melakukan integrasi ilmu pengetahuan umum dan
agama, dan diberikan dalam bahasa Inggris.
 Pembaharuan Islam di Indonesia banyak dipengaruhi
pembaharuan dari Mesir melalui para ulama yang
belajar di sana. Pembaharuan diimplementasikan
dalam bentuk pendirian sekolah, seperti Jami’at
Khair, dan organisasi sosial-keagamaan seperti
Muhammadiyah, NU dan sebagainya.
 Permasalahan yang banyak dibicarakan para
pembaharu Indonesia adalah masalah furu’ (cabang),
bukan ushul (pokok) seperti di Mesir. Masalah furu’,
seperti ru’yah, patung, gambar, musik, dan
sebagainya, sedangkan masalah ushul, seperti
paham qada dan qadar, pemikiran rasional, dan
hukum alam (sunnatullah) tidak banyak dibicarakan.
 Pembaharuan di tahun 1970-an banyak dilakukan
oleh kaum muda, seperti Nurcholish Madjid dengan
tesis perlunya reinterpretasi ajaran Islam, dan
Abdurrahman Wahid dengan paham pribumisasi
Islam dan pluralismenya.
 Di Indonesia masa sekarang terdapat ‘kebangkitan
keagamaan’, khususnya pada aspek tasawuf dan
syari’ah. Kebangkitan tersebut sebagai akibat dari
perkembangan sosial, ekonomi, dan politik. Adanya
modernisasi di Indonesia semakin menggairahkan
kehidupan keagamaan. Hal itu terlihat dari
peningkatan jumlah rumah ibadah, muncul
kelompok-kelompok keagamaan, peningkatan
jumlah jamaah haji dari tahun ke tahun dan
tingginya semangat pengamalan keislaman.
 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta:
UI Press, 1989
 Philip K. Hitti, History of the Arabs, London: Macmillan Press,
1970
 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajagrafindo
Persada, 2006
 Binnaz Toprak, Islam and Political Development in Turkey,
Leiden: E.J.Brill, 1981]
 Mukti Ali, Islam dan Sekularisme di Turki Usmani, Jakarta:
Djambatan, 1994
 Al-Faruqi, Ismail R dan Al-Faruqi, Lois Lamya, Atlas Budaya:
Menjelajah Khazanah dan Peradaban Gemilang. Bandung:
Mizan, 1998.
 Hasan, Muhammad Tholhah, Prospek Islam dalam Menghadapi
Tantangan Zaman, Jakarta: Lantabora Press, 2005.
 Ismail R dan Al-Faruqi, Lois Lamya, Atlas Budaya: Menjelajah
Khazanah dan Peradaban Gemilang. Bandung: Mizan, 1998.
 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1988.
 Bertrand Russel. History of Western Philosophy.
London: Routledge, 1996.
 Lorens Bagus. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia,
1996.
 Nurcholish Madjid. Khazanah Intelektual Islam.
Jakarta: Bulan Bintang, 1985.
 Fazlur Rahman. Islam dan Modernitas. Bandung:
Pustaka, 1985.
 Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah
dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
 Deliar Noer. Gerakan Modern Islam di Indonesia
1900-1942. Jakarta: LP3ES, 1984.