Anda di halaman 1dari 14

TINDAK PIDANA

KORUPSI
Kelompok 4
Apa itu korupsi?
 Latin : “Corruptio” atau “Corruptus”

 Inggris dan Prancis : “Corruption”

 Belanda “Korruptie”

 Sesungguhnya istilah korupsi memiliki arti yang sangat luas.

Korupsi berarti penyelewengan atau penggelapan


(uang negara atau perusahaan dan sebagainya) untuk
kepentingan pribadi dan orang lain.

Korupsi juga berarti busuk; rusak; suka memakai


barang atau uang yang dipercayakan kepadanya; dapat
disogok (melalui kekuasaannya untuk kepentingan pribadi).
Rekam jejak korupsi di
Indonesia
 Korupsi di Indonesia dimulai sejak era Orde Lama sekitar
tahun 1960-an bahkan sangat mungkin pada tahun-tahun
sebelumnya.

 Pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1960


yang diikuti dengan dilaksanakannya “Operasi Budhi” dan
Pembentukan Tim Pemberantasan Korupsi berdasarkan
Keputusan Presiden Nomor 228 Tahun 1967 yang dipimpin
langsung oleh Jaksa Agung, belum membawakan hasil yang
nyata.
 Pada era Orde Baru, muncul Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 dengan
“Operasi Tertib” yang dilakukan Komando Operasi Pemulihan Keamanan
dan Ketertiban (Kopkamtib).

 Selanjutnya dikeluarkan kembali Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999.

 Sejak akhir 1997 saat negara mengalami krisis politik, sosial,


kepemimpinan, dan kepercayaan yang pada akhirnya menjadi krisis
multidimensi.

 Gerakan reformasi yang menumbangkan rezim Orde Baru menuntut antara


lain ditegakkannya supermasi hukum dan pemberantasan Korupsi, Kolusi &
Nepotisme (KKN). Tuntutan tersebut akhirnya dituangkan di dalam
Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 & Undang-Undang Nomor 28
Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih & Bebas dari
KKN.
Dampak yang diakibatkan
 Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap
pembangunan.

 Mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi


kualitas pelayanan pemerintahan.

 Memberikan ancaman besar bagi warga negaranya.


Peran Pemerintah dalam
Memberantas Korupsi
KPK yang ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
untuk mengatasi, menanggulangi, dan memberantas korupsi,
merupakan komisi independen yang diharapkan mampu menjadi
“martir” bagi para pelaku tindak KKN.
Indonesia juga membuat undang-undang tentang pemberantasan
tindak pidana korupsi yaitu Undang-undang Nomor 31 Tahun
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan
mengalami perubahan yaitu Undang-undang Nomor 20 Tahun
2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Agenda KPK

 Membangun kultur yang mendukung pemberantasan


korupsi.

 Mendorong pemerintah melakukan reformasi public sector


dengan mewujudkan good governance.

 Membangun kepercayaan masyarakat.

 Mewujudkan keberhasilan penindakan terhadap pelaku


korupsi besar.

 Memacu aparat hukum lain untuk memberantas korupsi.


Upaya Memberantas Tindak
Pidana Korupsi
 Upaya pencegahan (preventif).

 Upaya penindakan (kuratif).

 Upaya edukasi masyarakat/mahasiswa.

 Upaya edukasi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).


Strategi Memberantas
Tindak Pidana Korupsi
 Strategi preventif :

Dibuat dan dilaksanakan dengan diarahkan pada hal-hal yang menjadi penyebab
timbulnya korupsi. Setiap penyebab yang terindikasi harus dibuat upaya preventifnya,
sehingga dapat meminimalkan penyebab korupsi

 Strategi deduktif:

Dibuat dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan agar apabila suatu perbuatan
korupsi terlanjur terjadi, maka perbuatan tersebut akan dapat diketahui dalam waktu
yang sesingkat-singkatnya dan seakurat-akuratnya, sehingga dapat ditindaklanjuti
dengan tepat.

 Strategi represif:

Dibuat dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan untuk memberikan sanksi hukum
yang setimpal secara cepat dan tepat kepada pihak-pihak yang terlibat dalam korupsi.
Beberapa Upaya Preventif
 Konsep “carrot and stick”

Carrot adalah pendapatan netto pegawai negeri, TNI dan Polri yang cukup untuk hidup dengan

standar sesuai pendidikan, pengetahuan, kepemimpinan, pangkat dan martabatnya, sehingga

dapat hidup layak . Sedangkan Stick adalah bila semua sudah dicukupi dan masih ada yang

berani korupsi, maka hukumannya tidak tanggung-tanggung, karena tidak ada alasan

sedikitpun untuk melakukan korupsi, bilamana perlu dijatuhi hukuman mati.

 Gerakan “Masyarakat Anti Korupsi”

Perlu adanya tekanan kuat dari masyarakat luas dengan mengefektifkan gerakan rakyat anti

korupsi. Ormas-ormas yang ada perlu bekerjasama dalam upaya memberantas korupsi.

Gerakan rakyat ini diperlukan untuk menekan pemerintah dan sekaligus memberikan dukungan

moral agar pemerintah bangkit memberantas korupsi.


 Gerakan “Pembersihan”

Menciptakan semua aparat hukum (KPK, Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan) yang

bersih, jujur, disiplin, dan bertanggungjawab serta memiliki komitmen yang tinggi dan

berani melakukan pemberantasan korupsi tanpa memandang status sosial untuk

menegakkan hukum dan keadilan.

 Gerakan “Moral”

Mensosialisasikan bahwa korupsi adalah kejahatan besar bagi kemanusiaan yang

melanggar harkat dan martabat manusia. Melalui gerakan moral diharapkan tercipta

kondisi lingkungan sosial masyarakat yang sangat menolak, menentang, dan

menghukum perbuatan korupsi dan akan menerima, mendukung, dan menghargai

perilaku anti korupsi.

 Gerakan “Pengefektifan Birokrasi”

Menyusutkan jumlah pegawai dalam pemerintahan agar didapat hasil kerja yang

optimal dengan jalan menempatkan orang yang sesuai dengan kemampuan dan

keahliannya
Upaya Edukasi Masyarakat
 Memiliki tanggung jawab guna melakukan partisipasi politik dan kontrol
sosial terkait dengan kepentingan publik.

 Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh.

 Melakukan kontrol sosial pada setiap kebijakan mulai dari


pemerintahan desa hingga ke tingkat pusat/nasional.

 Membuka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentang


penyelenggaraan pemerintahan negara dan aspek-aspek hukumnya.

 Mampu memposisikan diri sebagai subjek pembangunan dan berperan


aktif dalam setiap pengambilan keputusan untuk kepentingan
masyarakat luas.
Upaya Edukasi LSM
(Lembaga Swadaya
Masyarakat)
 Indonesia Corruption Watch (ICW)

Organisasi non-pemerintah yang mengawasi dan melaporkan kepada publik mengenai


korupsi di Indonesia dan terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki komitmen untuk
memberantas korupsi melalui usaha pemberdayaan rakyat untuk terlibat melawan
praktik korupsi. ICW lahir di Jakarta pada tanggal 21 Juni 1998 di tengah-tengah
gerakan reformasi yang menghendaki pemerintahan pasca-Soeharto yang bebas
korupsi.

 Transparency International (TI)

Organisasi internasional yang bertujuan memerangi korupsi politik dan didirikan di


Jerman sebagai organisasi nirlaba sekarang menjadi organisasi non-pemerintah yang
bergerak menuju organisasi yang demokratik. Publikasi tahunan oleh TI yang terkenal
adalah Laporan Korupsi Global.
TERIMA KASIH
Ada pertanyaan?