Anda di halaman 1dari 18

ASSALAMUALAIKUM Wr. Wb.

NAMA ANGGOTA KELOMPOK :


1) ACHIYYATUZ ZAKIYYAH K.H
2) DENTA TAMA A.P
3) LIA TRI A
4) LINTANG NURDEA A
5) MUFTIA NURITA A.P
6) NILA AULIA IRA C
7) PRAMESTI MAHANANI
8) RIRIS ARDHININTYAS
9) YULI DWI S
Prinsip dan Praktik Ekonomi Islam
Prinsip dan praktik
ekonomi islam

Penggertian Macam-macam Syirkah dan


Mu’amalah Mu’amalah Perbankan

Menelaah prinsip
dan praktik
Ekonomi Islam

Bermuamalah
sesuai aturan islam
A. PENGERTIAN MU’AMALAH

• Mu’amalah dalam kamus Bahasa Inondonesia artinya hal-hal yang termasuk urusan kemasyarakatan
(pergaulan, perdata, an sebagainya)
• Dalam fiqih Islam berarti tukar-menukar barng atau sesuatu yang memberi manfaat engan cara yang
ditempuhnya,seperti jual beli, sewa menyewa, upah mengupah,dsb.
B. MACAM-MACAM MUAMALAH

1. JUAL-BELI
– Jual beli menurut syariat agama ialah kesepakatan tukar-menukar benda untuk memiliki benda tersebut
selamanya.
– Firman Allah Swt. Berikut:
ِّ ‫ٱّلله ْٱلبَ ْي ََّع َو َحر ََّم‬
– َّ‫ٱلربَ ٰوا‬ َّ َّ‫َوأ َ َحل‬
– Artinya: “... dan Allah Swt. Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (Qs. Al-
Baqarah/2:275).
A. SYARAT-SYARAT JUAL-BELI
Penjual dan pembelinya haruslah:
1) Balliq
2) Berakal sehat
3) Atas kehendak sendiri
Uang dan barangnya haruslah:
1) Halal dan suci. (haram menjual arak dan bangkai, babi dan berhala, termasuk lemak dari bangkai tersebut).
2) Bermanfaat. (membeli barang yang tidak bermanfaat sama dengan menyiakan harta atau boros).
3) Keadaan barang dapat diserahterimakan. (contohnya menjual ikan dalam laut atau barang yang sedang
dijadikan jaminan).
4) Keadaan barang diketahui oleh penjual dan pembeli.
5) Milik sendiri, sabda Rasulullah saw “Tak sah jual-beli melainkan atas barang yang dimiliki.” (HR. Abu
Daud dan Tirmidzi).
6) Ijab Qobul:
Seperti pernyataan penjual, “Saya jual barang ini dengan harga sekian.” Pembelinya menjawab, “Baiklah saya
beli.” Dengan demikian, berarti jual-beli itu berlangsung suka sama suka.
B. KHIYAR
Adalah bebas memutuskan antara meneruskan jual-beli atau membatalkannya.
 Macam-macam Khiyar:
 Khiyar Majelis, adalah selama penjual dan pembeli masih berada ditempat berlangsungnya
transaksi atau tawar-menawar.
 Khiyar Syarat, adalah khiyar yang dijadikan syarat dalam jual-beli. Misalnya penjual mengatakan,
“Saya jual barang ini dengan harga sekian dengan syarat khiyar tiga hari.” Maksudnya penjual
memberi batas waktu kepada pembeli untuk memutuskan jadi tidaknya pembelian barang tersebut
dalam waktu tiga hari.
 Khiyar Aibi (cacat), adalah pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya jika terdapat cacat
yang dapar mengurangi kualitas atau nilai barang tersebut.
C. Riba
Adalah bunga uang atau nilai lebih atas penukaran barang. (pertukaran bahan makanan, emas, pinjam-meminjam).
Apapun bentuknya, dalam syariat Islam hukumnya haram.
Guna menghindari riba, apabila mengadakan jual-beli barang sejenis emas dengan emas atau perak dengan perak,
ditetapkan syarat:
1) Sama timbangan ukurannya
2) Dilakukan serah terima saat itu juga
3) Tunai.
4) Macam-macam riba
a. Riba Fadli, adalah pertukaran barang sejenis yang tidak sama timbangannya. Misal, cincin emas 22 karat
seberat 10gram ditukar dengan emas 22 karat 11gram.
b. Riba Qordi, adalah pinjam-meminjam dengan syarat harus memberi kelebihan saat mengembalikannya.
Misal, si A bersedia meminjami si B uang sebesar Rp. 100.000, asal si B bersedia mengembalikan sebesar
Rp. 115.000.
c. Riba Yadi, adah akad jual-beli barang sejenis dan sa timbangannya, namun penjual dan pembeli berpisah
sebelum melakukan serah terima. Seperti penjualan kacang atau ketela yang masih didalam tanah.
d. Riba Nasi'ah, adalah akad jual-beli dengan penyerahan barang beberapa waktu kemudian. Misal, membeli
buah-buahan yang masih kecil di pohonnya, kemudia diserahkan setelah besar atau setelah layak dipetik.
Atau, membeli pada dimusim kemarau, tetapi diserahkan setelah panen.
2. Utang-piutang
Utang-piutang adalah menyerahkan harta dan benda kepada seseorang dengan catatan akan dikembalikan pada
waktu kemudian.
■ Rukun utang-piutang
Rukun utang-piutang ada tiga, yaitu :
1) Yang berpiutang dan yang berutang.
2) Ada harta atau barang.
3) Lafadz kesepakatan. Misal: “saya utangkan ini kepadamu.” Yang berutang menjawab, “ya, saya utang
dulu, beberapa hari lagi (sebutkan dengan jelas) atau jika sudah punya akan saya lunasi.”
4) Dalam hal ini Allah jelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 280, yang berbunyi :
‫ون‬ َ َ ‫س َرةَّ َوأَن ت‬
ََّ ‫صدقهوَّاْ َخيْرَّ ل هك َّْم ِّإن هكنت ه َّْم ت َ ْعلَ هم‬ ‫ان ذهو ه‬
َ ‫ع ْس َرةَّ فَن َِّظ َرةَّ ِّإلَى َم ْي‬ ََّ ‫َو ِّإن َك‬

Artinya : Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia
berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
3. SEWA MENYEWA
SEWA MENYEWA DALAM FIQH ISLAM ARTINYA IMBALAN YANG HARUS DITERIMA OLEH
SESEORANG ATAS JASA YANG DIBERIKANNYA,BERUPA PENYEDIAAN TENAGA DAN
PIKIRAN,TEMPAT TINGGAL ATAU HEWAN.
• DASAR HUKUM
َِّّ ‫سل ْمت ه َّْم َما آت َ ْيت ه َّْم بِّ ْال َم ْع هر‬
.. ‫وف‬ َ ‫علَ ْي هك َّْم إِّذَا‬
َ ‫ح‬ َّ َ َ‫ضعهوا أ َ ْو ََلدَ هك َّْم ف‬
ََّ ‫ل هجنَا‬ َّْ َ ‫ن أ َ َر ْدت ه َّْم أ‬
ِّ ‫ن ت َ ْست َ ْر‬ َّْ ِّ‫ َوإ‬...
ARTINYA " ...DAN JIKA KAMU INGIN ANAKMU DISUSUKAN OLEH ORANG LAIN, MAKA TIDAK ADA DOSA
BAGIMU APABILA KAMU MEMBERIKAN PEMBAYARAN MENURUT YANG PATUT..."(Q.S AL-BAQARAH/2:233)

َ ‫ن لَ هك َّْم فَآتهو ههنَّ أ ه هج‬


"...َّ‫ور ههن‬ َ ‫ن أ َ ْر‬
ََّ ‫ض ْع‬ َّْ ِّ ‫فَإ‬..."
ARTINYA : "... KEMUDIAN JIKA MEREKA MENYUSUKAN (ANAK-ANAK)MU UNTUKMU MAKA BERIKANLAH
KEPADA MEREKA UPAHNYA..."(Q.S AT-TALAQ/65: 6)
• Syarat dan Rukun sewa menyewa
1. Harus sudah balig dan berakal sehat
2. Atas kemauan masing masing,bukan paksaan
3. Barang tersebut sepenuhnya menjadi hak orang yang menyewakan
4. Ditentukan barangnya serta keadaan dan sifat sifatnya
5. Manfaat dari barang tersebut harus diketahui oleh kedua belah pihak
6. Berapa lama memanfaatkan barang tersebut harus disebutkan dengan jelas
7. Harga sewa dan cara pembayaran ditentukan dan disepakati bersama
• Kesepakatan yang harus diketahui secara jelas antara lain
1. Jenis pekerjaan dan jam kerjanya
2. Berapa lama masa kerja
3. Berapa gaji dan bagaimana sistem pembayaran
4. Tunjangan tunjangan yang di sediakan
C. SYIRKAH
 Rukun dan syarat syirkah
1. Dua belah pihak yang berakad (‘aqidani)
2. Harus memiliki kecakapan (ahliyah) dg tasarruf (pengelolaan harta
3. Objek akad yg disebut juga ma’qud ‘alaihi mencangkup pekerjaan atau modal
4. Akad atau yg disebut sigat
 Harus tasarruf : adanya aktivitas pengelolaan
 Macam syirkah
1. Syirkah ‘inan
Masing² berkontribusi kerja dan modal. Berdasarkan dalil sunah & ijma' sahabat
2. Syirkah ‘abdan
 Hanya berkontribusi kerja (amal), tanpa kotribusi modal (amal). Kontribusi kerja : kerja pikiran atau fisik
3. Syirkah wujuh
 Kerja sama karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan, atau keahlian (wujuh) seseorang di tengah masyarakat. 2
pihak sama sama berkontribusi amal dg pihak ketiga yg berkontribusi modal (mal)
4. Syirkah mufawadah
 Menggabungkan semua jenis syirkah di atas. Keuntungan yg dibagi sesuai dg kesepatanan, sedangkan kerugian
ditanggung sesuai jenis syirkahnya.
5. Mudarabah
 Mudarabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak.
 Pihak pertama menyediakan semua modal (sahibul mal), dan pihak lainnya menjadi pengelola atau pengusaha
(mudarrib).
 Keuntungan usaha dibagi menurut kesepakatan dalam kontrak. Apabila mengalami kerugian, ditanggung oleh
pemilik modal.
 Mudarabah dibagi menjadi 2, yaitu:
 Mudarabah mutlaqah : bentuk kerja sama antara pemilik modal dan pengelola cakupannya luas, tidak dibatasi oleh
spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis.
 Mudarabah muqayyadah : usaha yang akan dijalankan dengan dibatasi oleh jenis usaha, waktu, atau tempat usaha.
6. Musaqah, Muzara'ah, dan Mukhabarah
 Musaqah : Kerja sama antara pemilik kebun dan petani. Pemilik kebun menyerahkan kepada petani agar dipelihara
dan hasil panennya nanti akan dibagi dua menurut persentase yang ditentukan pada waktu akad.
 Muzara'ah adalah Kerja sama dalam bidang pertanian antara pemilik lahan dan pertanian penggarap. Benihnya
berasal petani penggarap.
 Mukhabarah adalah kerja sama dalam bidang pertanian antara pemilik lahan dan petani penggarap. Benih
tanamannya berasal dari pemilik lahan.
D. Perbankan

 1. Pengertian Perbankan
 Bank adalah Lembaga keuangan yang bergerak dalam menghimpun
dana masyarakat dan menyalurkannya dengan menggunakan system
bunga. Hakikat dan tujuan bank ialah untuk membantu masyarakat yang
memerlukan dalam bentuk penyimpanan maupun pinjaman berupa uang
atau barang berharga lainnya.
– 2. Jenis-jenis Bank berdasarkan segi penerapan bunganya
– a. Bank Konvensional ialah bank yang fungsi utamanya menghimpun dana untuk disalurkan
kepada yang memerlukan dengan menggunakan system bunga.
– b. Bank Islam atau Bank Syari’ah ialah bank yang menjalankan operasinya menurut syariat Islam
tanpa menggunakan system bunga. Bank Syariah menggunakan beberapa cara yang bersih dari
riba :
– - Mudarabah, yaitu perjanjian bagi hasil dan sama-sama menanggung kerugian antara pemilik
modal dan pelaku usaha.
– - Musyarakah, yaitu kerja sama antara pihak bank dan pengusaha yang memiliki saham, untung
dan ruginya ditanggung bersama.
– - Wadi’ah, yaitu jasa penitipan uang, barang, deposito, maupun surat berharga.
– - Qardul hasan, yaitu pembiayaan lunak yang diberikan kepada nasabah yang memiliki deposito
dalam keadaan darurat. Nasabah hanya diwajibkan mengembalikan simpanan pokok pada saat
jatuh tempo.
– - Murabahah, yaitu suatu istilah fiqh Islam yang menggambarkan suatu jenis penjualan di mana
penjual sepakat dengan pembeli untuk menyediakan suatu produk, dengan ditambah jumlah
keuntungan tertentu di atas biaya produksi. Di sini penjual mengungkapkan biaya yang
sesungguhnya dikeluarkan dan berapa keuntungan yang hendak diambilnya.
E. Asuransi Syariah
1. Prinsip-prinsip Asuransi Syariah
Asuransi berasal dari bahasa Belanda, assurantie yang
artinya pertanggungan. Dalam bahasa Arab dikenal dengan
at-Ta'min yang berarti pertanggungan, perlindungan,
keamanan, ketenangan atau bebas dari perasaan takut. Si
penanggung (assurader) disebut mu'ammin dan tertanggung
(geasrurrerde) disebut musta'min.
Asuransi adalah salah satu upaya seorang muslim untuk
menyadari bahwa sesungguhnya setiap jiwa tidak memiliki
daya apa pun ketika menerima musibah dari Allah swt. baik
berupa kematian, kecelakaan, bencana alam maupun takdir
buruk yang lain.
Untuk menghadapinya ada beberapa cara :
1. Menanggungnya sendiri
2. Mengalihkan resiko kepihak lain
3. Mengelolanya bersama-sama
Hal ini dijelaskan dalam dalil Al-Qur'an Q.S. al-maidah ayat
2.

ِِّ ‫الثْ ِِّم َو ْالعُ ْد َو‬


َِّٰ ‫ان ِّۖ َواتَّقُوا‬
ِّ‫ّللا ِّۖ اِ َّن‬ ِ ْ ‫علَى‬ َِّ ‫علَى ْال ِب ِِّر َوالت َّ ْق ٰوى ِّۖ َو‬
َِّ ‫ل تَعَ َاونُ ْوا‬ َ ‫َوتَعَ َاونُ ْوا‬
ِِّ ‫ش ِد ْي ُِّد ْال ِعقَا‬
‫ب‬ َ ‫ّللا‬
َِّٰ
Artinya:. Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertakwalah kamu kepada Allah swt.
2. Perbedaan Asuransi Syarl ah dan Asuransi Konvensional
Dengan kata lain, telah terjadi jual-beli atas risiko kerugian yang belum pasti
terjadi. Di sinilah cacat perjanjian asuransi konvensional. Sebab akad dalam
Islam mensyaratkan adanya sesuatu yang bersifat pasti, apakah itu berbentuk
barang ataupun jasa.
pada asuransi konvensional dikenal dana hangus, di mana peserta tidak dapat
melanjulkan pembayaran premi ketika ingin mengundurkan diri sebclum masa
jatuh tempo. Dalam konsep asuransi syari'ah, mekanismenya tidak mengenal
dana hangus. Peserta yang baru masuk sekalipun, karena satu dan lain hal
ingin mengundurkan diri, dana atau premi yang sebelumnya sudah dibayarkan
dapat diambil kembali. Apabila sebagian kecil dana atau preminya sudah
diniatkan untuk dana tabarn (sumbangan), maka tidak dapat diambil lagi.
Setidaknya, ada manfaat yang bisa diambil kaum
muslimin dengan terlibat dalam asuransi syari'ah.
Manfaat yang di ambil di antaranya bisa menjadi
alternatif perlindungan yang sesuai dengan hukum Islam.
Produk ini juga bisa menjadi pilihan bagi pemeluk agama
lain yang memandang konsep syariah lebih adil. Syariah
merupakan sebuah prinsip yang bersifat universal
sehingga semua pemeluk agama dapat menggunakannya
Untuk pengaturan asuransi di Indonesia dapat
dipedomani Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 21/DSN-
MUIX/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syari ah