Anda di halaman 1dari 66

PENYAKIT PARU, GINJAL, DAN GIZI PADA

USIA LANJUT

1. CHUMAIROH RUMANI 6411416016


2. INDAH AYU SULISTIYAWATIN 6411416018
3. WIJI NUR HIDAYATI KAROMAH 6411416019
4. SINTIA APRIANTI 6411416023
PENYAKIT GINJAL PADA LANSIA
PENYAKIT GINJAL KRONIK

 Penyakit ginjal kronis adalah penurunan progresif fungsi ginjal dalam


beberapa bulan atau tahun. penyakit ginjal kronis didefinisikan sebagai
kerusakan ginjal dan/atau penurunan Glomerular Filtration Rate (GFR)
kurang dari 2 60mL/min/1,73 m selama minimal 3 bulan (Kidney Disease
02 Improving Global Outcomes, KDIGO 2012 Clinical Practice Guideline
for the Evaluation and Management).
FAKTOR RISIKO

 Australian Institute of Health and Welfare telah melakukan sistematisasi faktor risiko
kejadian penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis (ESRD) di Australia.
 (1) faktor lingkungan-sosial yang meliputi status sosial ekonomi, lingkungan fisik dan
ketersediaan lembaga pelayanan kesehatan,
 2) faktor risiko biomedik, meliputi antara lain diabetes, hipertensi, obesitas, sindroma
metabolisma, infeksi saluran kencing, batu ginjal dan batu saluran kencing,
glomerulonefritis, infeksi streptokokus dan keracunan obat;
 3) faktor risiko perilaku, meliputi antara lain merokok atau pengguna
tembakau, kurang gerak dan olah raga serta kekurangan makanan dan
 4) faktor predisposisi, meliputi antara lain umur, jenis kelamin, ras atau
etnis, riwayat keluarga dan genetik (AIHW,2005)
MANIFESTASI KLINIS

 Umum: Kelelahan, lemas, gagal tumbuh, debil (berdaya pikir rendah ).


 Kulit: Pucat, mudah-lecet, rapuh, leukonikia (kuku yang penuh dengan bercak putih ).
 Kepala dan leher: Fetor uremik, lidah kering dan berselaput.
 Mata: Fundus hipertensif, mata merah.
 Kardiovaskular: Hipertensi, kelebihan cairan, gagal jantung, perikarditis uremik,
penyakit vascular.
 Tulang: Hiperparatiroidisme, defisiensi vitamin D.
 Pernafasan: Hiperventilasi asidosis, edema paru, efusi pleura.
 Gastrointestinal: Anoreksia, nausea, gastritis, ulkus peptikum, kolitis
uremik, diare yang disebabkan oleh antibiotik.
 Kemih: Nokturia, poliuria, haus, proteinuria, penyakit ginjal yang
mendasarinya.
 Reproduksi: Penurunan libido, impotensi, amenore, infertilitas,
ginekomastia, galaktore.
 Saraf: Letargi, malaise, anoreksia, tremor, mengantuk, kebingungan, flap,
mioklonus, kejang, koma.
DIAGNOSIS

 Berdasarkan anamnesis dapat ditemukan kecenderungan diagnosis. misalnya bila


terdapat riwayat nokturia, poliuria, dan haus, disertai hipertensi, dan riwayat penyakit
ginjal, mungkin lebih dipikirkan ke arah gagal ginjal kronik.
 Tanda-tanda uremia klasik dengan kulit pucat atrofi, dengan bekas garukan tidak
terjadi seketika dan jarang ditemukan pada gagal ginjal akut.
KOMPLIKASI

 Komplikasi sistemik yang sering adalah terjadinya anemia. Dimana anemia


yang terjadi dihubungkan dengan Gagal Ginjal Kronik melalui beberapa
faktor, yaitu:
1. Pengurangan masa parenkim ginjal,
2. Eritropoetin yang rendah,
3. Kekurangan vitamin B 12 dan asam folat.
PENATALAKSANAAN

 Tentukan dan tata laksana penyebabnya.


 Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam
 Biasanya diusahakan hingga tekanan vena jugularis sedikit meningkat dan terdapat
edema betis ringan. Pada beberapa pasien, furosemid dosis besar (250-1000 mg) atau
Loop diuretik (bumetanid, asam etakrinat) diperlukan untuk mencegah kelebihan
cairan pada pasien Gagal ginjal kronik, sementara pasien lain mungkin memerlukan
suplemen natrium klorida atau natrium bikarbonat oral.
LANJUTAN..

 Pengawasan dilakukan melalui berat badan, urin, dan pencatatan


keseimbangan cairan (masukkan melebihi keluaran sekitar 500 ml). Untuk
menentukan asupan natrium, harus dilakukan pemeriksaan dari urin 24
jam dan biasanya asupan natrium 2-4 g/hari cukup untuk menjaga
keseimbangan natrium.
PENYAKIT PARU PADA LANSIA
1. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)

 Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) PPOK adalah penyakit paru kronik yang
ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progressif
nonreversibel atau reversibel parsial.
 PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan keduanya.
 Bronkitis kronik Kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak
minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut - turut, tidak
disebabkan penyakit lainnya. (PDPI 2003)
 Emfisema adalah kondisi di mana kantung udara di paru-paru secara bertahap
hancur, membuat napas lebih pendek. Emfisema adalah salah satu dari beberapa
penyakit yang secara kolektif dikenal sebagai penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
FAKTOR YANG BERPENGARUH

 Faktor yang berperan dalam peningkatan penyakit tersebut :


 • Kebiasaan merokok yang masih tinggi (laki-laki di atas 15 tahun 60-70 %)
 • Pertambahan penduduk
 • Meningkatnya usia rata-rata penduduk dari 54 tahun pada tahun 1960-an menjadi 63
tahun pada tahun 1990-an
 • Industrialisasi
 • Polusi udara terutama di kota besar, di lokasi industri, dan di pertambangan.
DIAGNOSIS

Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala, gejala ringan hingga berat. Pada
pemeriksaan fisis tidak ditemukan kelainan jelas dan tanda inflasi paru Diagnosis PPOK di tegakkan
berdasarkan :
 A. Gambaran Klinis
 a. Anamnesis
 Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan - Riwayat terpajan zat iritan
yang bermakna di tempat kerja
 Riwayat penyakit emfisema pada keluarga - Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak, mis berat
badan lahir rendah (BBLR), infeksi saluran napas berulang, lingkungan asap rokok dan polusi udara
 Batuk berulang dengan atau tanpa dahak
 Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi
 b. Pemeriksaan fisik
 PPOK dini umumnya tidak ada kelainan
 • Inspeksi - Pursed - lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu) - Barrel chest (diameter antero
- posterior dan transversal sebanding) - Penggunaan otot bantu napas - Hipertropi otot bantu napas -
Pelebaran sela iga - Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis leher dan
edema tungkai - Penampilan pink puffer atau blue bloater
 • Palpasi Pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar
 • Perkusi Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil, letak diafragma rendah, hepar
terdorong ke bawah
 • Auskultasi - suara napas vesikuler normal, atau melemah - terdapat ronki dan atau
mengi pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa - ekspirasi memanjang -
bunyi jantung terdengar jauh Pink puffer Gambaran yang khas pada emfisema,
penderita kurus, kulit kemerahan dan pernapasan pursed
 - lips breathing Adalah sikap seseorang yang bernapas dengan mulut mencucu dan
ekspirasi yang memanjang. Sikap ini terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk
mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk
mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi pada gagal napas kronik.
PENATALAKSANAAN

A. Penatalaksanaan umum PPOK


 Tujuan penatalaksanaan :
 Mengurangi gejala
 Mencegah eksaserbasi berulang
 Memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru
 Meningkatkan kualiti hidup penderita
Penatalaksanaan secara umum PPOK meliputi
1. Edukasi
2. Obat – obatan
3. Terapi oksigen
4.Ventilasi mekanik
5. Nutrisi
6. Rehabilitasi PPOK merupakan penyakit paru kronik progresif dan
nonreversibel,
Secara umum bahan edukasi yang harus diberikan adalah
 1. Pengetahuan dasar tentang PPOK
 2. Obat - obatan, manfaat dan efek sampingnya
 3. Cara pencegahan perburukan penyakit
 4. Menghindari pencetus (berhenti merokok)
 5. Penyesuaian aktivitas
 Agar edukasi dapat diterima dengan mudah dan dapat dilaksanakan
Tujuan edukasi pada pasien PPOK
 1. Mengenal perjalanan penyakit dan pengobatan
 2. Melaksanakan pengobatan yang maksimal
 3. Mencapai aktiviti optimal
 4. Meningkatkan kualitas hidup
2. PNEUMONIA

 Pneumonia adalah bentuk infeksi pernapasan akut yang menyerang paru-paru. Paru-
paru terdiri dari kantung-kantung kecil yang disebut alveoli, yang terisi udara ketika
orang sehat bernafas. Ketika seseorang menderita pneumonia, alveoli dipenuhi dengan
nanah dan cairan, yang membuat pernafasan terasa menyakitkan dan membatasi
asupan oksigen.(who 2019)
 Terdapat dua kelompok usia yang paling berat kondisinya bila terserang pneumonia.
Kelompok usia tersebut adalah anak berusia di bawah 2 tahun serta orang-orang yang
berusia di atas 65 tahun.
PENYEBAB

Pneumonia disebabkan oleh sejumlah agen infeksius, termasuk virus, bakteri, dan jamur.
Yang paling umum adalah:
 Streptococcus pneumoniae
 Haemophilus influenzae tipe b (Hib)
 virus syncytial pernapasan adalah penyebab virus pneumonia yang paling umum.
 (who, 2019)
TANDA DAN GEJALA

 Batuk, umumnya berdahak


 Demam tinggi (biasanya lebih dari 38 derajat Celsius)
 Dapat pula mengalami suhu rendah/ hipotermia (kurang dari 35 derajat Celsius)
 Sesak napas
 Susah payah bernapas sampai menggerakkan otot dada
 Berdebar-debar
 Tampak kebiruan
 Kesadaran menurun, gelisah
TRANSMISI

 Virus dan bakteri yang umumnya ditemukan di hidung atau tenggorokan, dapat
menginfeksi paru-paru jika terhirup.
 menyebar melalui tetesan yang terbawa melalui udara dari batuk atau bersin.
 pneumonia dapat menyebar melalui darah, terutama selama dan segera setelah lahir.
MENGAPA PNEUMONIA TERJADI LEBIH BERAT PADA LANSIA?

 perubahan fisiologi paru akibat penuaan sehingga mudah terjadi infeksi.


 berkurangnya refleks batuk dan penurunan imun juga mempermudah
terjadinya kondisi pneumonia yang berat.
 memiliki beberapa penyakit penyerta lain. Misalnya gagal jantung, stroke,
dan penyakit liver kronis
FAKTOR RESIKO PNEUMONIA PADA LANSIA

 kebiasaan merokok,
 mengalami imunitas yang menurun,
 serta sedang dirawat di rumah sakit.
PEMERIKSAAN PENUNJANG PNEUMONIA

 pemeriksaan rontgen dada,


 pemeriksaan dahak,
 serta pemeriksaan darah.
PENANGANAN PNEUMONIA

 bergantung dengan penyebabnya.


 Pneumonia yang disebabkan oleh bakteri (penyebab yang paling sering), membutuhkan
antibiotik untuk menghilangkan kuman.
 pengobatan pneumonia pada lansia dapat lebih kompleks jika mereka memiliki
penyakit penyerta lainnya.
PENCEGAHAN AGAR LANSIA TIDAK TERKENA PNEUMONIA.

Beberapa langkah pencegahan berikut dapat diandalkan:


 Memperoleh vaksinasi
 Cuci tangan rutin
 Jangan merokok
 Jaga sistem imun tetap kuat
PENGOBATAN PNEUMONIA PADA LANSIA

 Dokter biasanya akan memberikan antibiotik jika penyebab pneumonia ini berupa
bakteri.
 Jika lansia juga merasakan demam, dokter kadang juga akan memberikan obat
penurun panas.Kalau ternyata belum ada perubahan terhadap kondisi pasien,
sebaiknya segera memeriksakan kembali kepada dokter.
GIZI PADA LANSIA
 Perubahan status gizi pada lansia disebabkan perubahan lingkungan
maupun kondisi kesehatan. Perubahan ini akan makin nyata pada kurun
usia 70-an.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

 Faktor lingkunagn
 perubahan kondisi sosial ekonomi yang terjadi akibat memasuki masa
pensiun
 isolasi sosial berupa hidup sendiri setelah pasangannya meninggal.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

 Faktor kesehatan
 naiknya insidensi penyakit degenerasi maupun non-degenerasi yang
berakibat dengan perubahan dalam asupan makanan, perubahan dalam
absorpsi dan utilisasi zat-zat gizi di tingkat jaringan,
 beberapa kasus dapat disebabkan oleh obat-obat tertentu yang harus
diminim para lansia oleh karena penyakit yang sedang dideritanya. (RS.
Elisabeth, 2018)
GANGGUAN GIZI

 Gangguan gizi yang dapat muncul pada usia lanjut:


 gizi kurang
 gizi lebih.
 Gangguan ini dapat menyebabkan munculnya penyakit atau terjadi sebagi akibat
adanya penyakit tertentu. Oleh karena itu langkah pertama yang harus dilakukan
adalah menentukan terlebih dahulu ada tidaknya gangguan gizi, mengevaluasi faktor-
faktor yang berhubungan dengan gangguan gizi serta merencakan bagaimana gangguan
gizi tersebut dapat diperbaiki.
KEADAAN GIZI LANSIA

Terjadi kekurangan gizi pada lansia oleh karena sebab-sebab yang bersifat primer maupun sekunder.
Sebab-sebab primer
 ketidaktahuan isolasi sosial,
 hidup seorang diri,
 baru kehilangan pasangan hidup,
 gangguan fisik,
 gangguan inderra
 gangguan mental,
 kemiskinan
 iatrogenik.
 Sebab-sebab sekunder meliputi
 gangguan nafsu makan/selera,
 gangguan mengunyah,
 malabsorpsi,
 bat-obatan,
 peningkatan kebutuhan zat gizi.
LANJUTAN..

 Gangguan fisik terjadi pada lansia yang mengalami hemiparese/hemiplegia,


artritis dan ganggun mata.
 Gangguan mental terjadi pada lansia yang demensia dan mengalami
depresi.
 Kondisi iatrogenik dapat terjadi pada lansia yang mendapat diet lambung
untuk jangka waktu lama, hingga terjadi kekurangan vitamin C.
 gangguan selera, mengunyah dan malabsorbsi terjadi sebagi akibat penurunan fungsi
alat pencernaan dan pancaindera, sebagai akibat penyakit berat tertentu
 pasca operasi, iskemik dinding perut dan sensitifitas yang meningkat terhadap bahan
makanan tertentu seperti cabai, santan, lemak dan tepung yang mengandung gluten
tinggi (misalnya ketan).
 Kebutuhan yang meningkat terjadi pada lansia yang mengalami
keseimbangan nitrogen negatif dan katabolisme protein yang terjadi pada
mereka yang harus berbaring di tempat tidur untuk jangka waktu lama
dan yang mengalami panas yang tinggi.
 Kondisi kekurangan gizi pada lansia dapat terbentuk KKP (kurang kalori protein)
kronik, baik ringan sedang maupun berat.
 Keadaan ini dapat dilihat dengan mudah melalui penampilan umum, yakni adanya
kekurusan dan rendahnya BB seorang lansia dibanding dengan baku yang ada.
 Kekurangan zat gizi lain yang banyak muncul adalah defisiensi besi dalam bentuk
anemia gizi, defisiensi B1 dan B12.
 Kelebihan gizi pada lansia biasanya berhubungan dengan afluency dengan gaya hidup
pada usia sekitar 50 tahun..
 Keadaan kelebihan gizi yang dimulai pada awal usia 50 tahun-an ini akan membawa
lansia pada keadaan obesitas dan dapat pula disertai dengan munculnya berbagai
penyakit metabolisme seperti diabetes mellitus dan dislipidemia.
 Penyakit-penyakit tersebut akan memerlukan pengelolaan dietetik khusus yang
mungkin harus dijalani sepanjang usia yang masih tersisa.
PEDOMAN UMUM GIZI SEIMBANG UNTUK LANSIA

Khusus untuk Indonesia, Departemen Kesehatan telah menerbitkan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS)
(DepKes, 1995) yang berisi 13 pesan dasar gizi seimbang bagi lansia dengan dasar PUGS dan dengan
mempertimbangkan pengurangan berbagai resiko penyakit degenerasi yang dihadapi para lansia.
 Makanlah aneka ragam makanan.
 Makananlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi.
 Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi.
 Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kebutuhan energi.
 Batasi penggunaan garam dan gunakan garam beryodium.
 Makanlah makanan sumber zat besi.
 Berikan ASI saja kepada bayi sampai umur 6 bulan
 Biasakan makan pagi.
 Minumlah air yang bersih, aman, dan cukup jumlahnya.
 Lakukan aktifitas fisik dan olahraga secara teratur.
 Hindari minum-minuman beralkohol.
 Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.
 Bacalah label makanan yang dikemas.
EFFECTS OF AGE, COMORBIDITY AND ADHERENCE TO CURRENT
ANTIMICROBIAL GUIDELINES ON MORTALITY IN HOSPITALIZED ELDERLY
PATIENTS WITH COMMUNITY-ACQUIRED PNEUMONIA

 Latar belakang: informasi tentang karakteristik klinis yang memprediksi kematian pada pasien berusia ≥65 tahun di
banyak negara masih terbatas. Dampak kepatuhan terhadap pedoman antimikroba saat ini pada mortalitas pasien
lansia yang dirawat di rumah sakit dengan CAP(community-acquired pneumonia) belum pernah dinilai.

 Metode: Sebanyak 3131 pasien berusia ≥65 tahun terdaftar dari penelitian observasional multi-center, retrospektif,
yang diprakarsai oleh jaringan CAP-Cina. Faktor risiko untuk kematian disaring dengan analisis regresi logistik
multivariabel, dengan penekanan pada evaluasi usia, komorbiditas dan rejimen pengobatan antimikroba sehubungan
dengan pedoman CAP Cina saat ini.
 Hasil: Usia rata-rata populasi penelitian adalah 77,4 ± 7,4 tahun. Secara keseluruhan angka kematian di rumah sakit
dan 60 harimortalitas berturut-turut adalah 5,7% dan 7,6%; angka ini tiga kali lipat lebih tinggi pada mereka yang
berusia> 85 tahun dibandingkan pada kelompok 65-74 (masing-masing: 11,9% berbanding 3,2% untuk mortalitas di
rumah sakit dan 14,1% berbanding 4,7% untuk mortalitas 60 hari). Angka kematian secara signifikan lebih tinggi di
antara pasien dengan komorbiditas dibandingkan dengan mereka yang dinyatakan sehat. Menurut pedoman CAP
Cina 2016, 62,1% pasien (1907/3073) menerima pengobatan yang tidak patuh. Untuk pasien bangsal umum tanpa
faktor risiko infeksi Pseudomonas aeruginosa (PA) (n = 2258), 52,3% (1094/2090) diobati secara berlebihan (over-
treated),
 ditandai dengan monoterapi anti-pseudomonal β-laktam atau kombinasi dengan fluoroquinolone + β-laktam;
sedangkan 71. 4% pasien unit ICU (120/168) dirawat, tanpa cakupan bakteri atipikal. Di antara pasien dengan faktor
risiko untuk infeksi PA (n = 815), 22,9% (165/722) dari mereka di bangsal umum dan 74,2% dari mereka di ICU
(69/93) yang diobati, menggunakan rejimen tanpa aktivitas antipseudomonal. Prediktor independen untuk
mortalitas 60 hari adalah usia, status terbaring di tempat tidur jangka panjang, gagal jantung kongestif, CURB-65,
glukosa, denyut jantung, saturasi oksigen arteri (SaO2) dan kadar albumin.
 Kesimpulan: Perawatan yang berlebihan pada pasien bangsal umum dan perawatan pada pasien ICU adalah masalah
kritis. Kepatuhan dengan pedoman China akan membutuhkan perubahan mendasar dalam pola standar care
treatment. Data yang dimasukkan dalam penelitian ini dapat memfasilitasi identifikasi awal pasien dengan risiko
kematian yang meningkat. (Xiudi Han, 2018)
DAFTAR PUSTAKA

 PUSDATIN KEMENKES RI. 2017. Situasi Penyakit Ginjal Kronis.


http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/infodatin%20ginjal%202017.pdfA
 Anonym. 2019. Gagal Ginjal Kronik pada Lansia. Diakes pada 15 juni 2019. http://www.smallcrab.com/lanjut-
usia/830-gagal-ginjal-kronik-pada-lansia.html
 PDPi. 2002. Penyakit Paru Obstruktif Kronik. ‘’diagnosis dan penatalaksanaan’’.
http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-ppok/ppok.pdf
 WHO. 20019. Pneumoni. Diakes pada 15 juni 2019. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/pneumonia
 RS. Elisabeth. 2018. Gizi pada usia lanjut. Diakes pada 15 juni 2019. http://rs-elisabeth.com/artikel-kesehatan/gizi-
pada-usia-lanjut-masa-kini/
 Xiudi Han, d. (2018). Effects of age, comorbidity and adherence to current antimicrobial guidelines on mortality in
hospitalized elderly patients with community-acquired pneumonia . BMC Infectious Diseases, 18:192.