Anda di halaman 1dari 38

Konflik, Kekerasan,

dan Upaya
Penyelesaian
Materi Sosiologi Kelas XI Bab 4. (Kurikulum Revisi 2016)
KOMPETENSI DASAR

3.4 Menganalisis konflik 4.4 Memetakan konflik


sosial dan cara untuk dapat melakukan
memberikan respons resolusi konflik dan
untuk melakukan menumbuhkembangkan
resolusi konflik demi perdamaian di
terciptanya kehidupan masyarakat.
yang damai di
masyarakat
TUJUAN PEMBELAJARAN
▪ Menjelaskan pengertian konflik
▪ Menjelaskan ciri-ciri konflik
▪ Menjelaskan sebab-sebab terjadinya konflik
▪ Mengklasifikasi macam-macam konflik
▪ Mengidentifikasi cara mengelola konflik
▪ Mengidentifikasi dampak konflik
▪ Menjelaskan pengertian kekerasan
▪ Mengklasifikasi jenis-jenis kekerasan
▪ Menganalisis konflik yang berubah menjadi kekerasan
▪ Mengidentifikasi upaya menyelesaikan konflik dan kekerasan
Definisi Konflik

▪ Robert MZ Lawang
Konflik adalah perjuangan untuk
memperoleh nilai, status,dan kekuasaan.
Tujuan dari mereka yang berkonflik, tidak
Kata konflik berasal dari bahasa hanya memperoleh keuntungan, tetapi
Latin “configere” yang berarti juga untuk mengalahkan saingannya.
saling memukul. Dalam
pengertian sosiologi,konflik ▪ Soerjono Soekanto
dapat didefinisikan sebagai
suatu proses sosial ketika dua Konflik adalah suatu proses sosial ketika
orang atau kelompok berusaha individu atau kelompok manusia berusaha
menyingkirkan pihak lain untuk memenuhi tujuannya dengan jalan
dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai
menghancurkannya atau dengan ancaman atau kekerasan.
membuatnya tidak berdaya
Ciri-ciri Konflik
Sebagai suatu proses sosial, konflik atau pertikaian memiliki ciri-ciri berikut.
▪ Merupakan proses interaksi sosial yang saling bertentangan, baik secara
perseorangan/kelompok.
▪ Pertentangan berlangsung karena perbedaan pendapat tentang suatu
hal, usaha mencapai tujuan, ketidaksesuaian antara tujuan dan peluang,
tindakan-tindakan dalam memainkan peran, atau karena adanya nilai
sosial, pandangan hidup, ideologi, norma sosial yang saling berbeda atau
berlawanan
▪ Munculnya tindakan yang saling berhadap-hadapan (apabila proses
tersebut berlangsung secara sembunyi-sembunyi lebih tepat disebut
kontravensi)
▪ Interaksi ditandai usaha saling meniadakan, mengurangi, atau
menekan pihak lain agar dapat memperoleh keuntungan.
a. status/kedudukan sosial, jabatan, atau tanggung jawab
tertentu
b. pemenuhan kebutuhan fisik, seperti sandang-pangan, materi,
tunjangan-tunjangan tertentu: mobil, rumah, bonus, dll.
c. pemenuhan kebutuhan sosio-psikologis seperti: rasa aman,
kepercayaan diri, kasih-sayang, penghargaan dan aktualisasi
diri, dll.
▪ Munculnya ketidakseimbangan interaksi sosial terkait dengan
kedudukan, status sosial, pangkat, golongan, kewibawaan,
kekuasaan, harga diri, prestige, dan sebagainya
TEORI-TEORI KONFLIK
Beberapa tokoh sosiologi yang mengemukakan teori
konflik, yaitu sebagai berikut:

Teori Dahrendorf Teori Max Weber

▪ Menurut Dahrendorf, ▪ Weber mengemukakan bahwa


perubahan sosial yang berasal konflik adalah sebuah bentuk
dari dalam masyarakat tidak hubungan yang di dalamnya
selalu disebabkan oleh konflik ada tindakan yang sengaja
sosial, dan konflik tidak selalu diarahkan untuk melawan
menghasilkan revolusi. Kelas- partai. Setelah berhasil
kelas sosial juga tidak selalu melakukan serangan,
berkonflik kemudian melaksanakan
kekuasaan.
Teori Karl Marx Teori Lewis Coser

▪ Menurut Karl Marx, konflik ▪ Coser tidak hanya menekankan


akan selalu terjadi antara kaum konflik pada sisi negatif, tetapi
borjuis dan koum proletar, di juga pada sisi positif.
mana kaum proletar Menurutnya konflik bermakna
melakukan pemberontakan positif karena menimbulkan
terhadap kaum borjuis. peningkatan dalam adaptasi
hubungan sosial atau
kelompok tertentu.
Akar Masalah atau Sebab-Sebab Terjadinya Konflik

Tidak ada asap kalau tidak ada


api. Segala sesuatu yang terjadi
dalam masyarakat pasti ada
sebabnya, begitu pula konflik
sosial. Sebagaimana definisinya,
konflik terjadi karena adanya
perbedaan mendasar yang
berupa perbedaan kepentingan
atau tujuan dari pihak-pihak
yang terlibat. Pada
kenyataannya, tidak semua
konflik terjadi karena perbedaan
kepentingan. Ada begitu banyak
hal yang mampu memicu
timbulnya konflik dalam
masyarakat.
SAATNYA BERDISKUSI
Bentuklah kelompok yang terdiri dari 4 orang
anggota

Bersama kelompokmu cobalah diskusikan


kemungkinan-kemungkinan lain yang
menjadi penyebab terjadinya konflik sosial.
Temukan hal-hal apa saja yang mampu
menyulut terjadinya konflik sosial. Lakukan
pengamatan atau studi pustaka serta telaah
berita-berita media massa untuk
membantumu mengerjakan aktivitas ini.
Tulislah hasilnya dalam bentuk laporan
diskusi. Selanjutnya presentasikan di depan
kelas.
KESIMPULAN
Ada beberapa faktor yang
dapat menyebabkan terjadinya
konflik dalam masyarakat
selain perbedaan kepentingan
atau tujuan, yakni Perbedaan
ciri-ciri yang melekat pada
individu, perbedaan latar
belakang kebudayaan,
perubahan-perubahan sosial
dan kebudayaan, perbedaan
kebutuhan, perbedaan nilai,
perbedaan tujuan, langkanya
sumber-sumber pemenuhan
kebutuhan, uang, popularitas,
kedudukan sosial, dan
persaingan.
Sebagaimana diungkapkan
di depan, bahwa munculnya
konflik dikarenakan adanya
perbedaan dan keragaman.
Berkaca dari pernyataan
tersebut, Indonesia adalah
salah satu negara yang
berpotensi konflik. Lihat saja
berita-berita di media massa,
berbagai konflik terjadi di
Indonesia baik konflik
horizontal maupun vertikal.
Namun, dalam
kenyataannya ditemukan
banyak konflik dengan
bentuk dan jenis yang
beragam.
MACAM-MACAM KONFLIK

▪ Berdasarkan pihak yang terlibat


▪ Berdasarkan sifatnya
▪ Berdasarkan arah konflik
▪ Berdasarkan dampak yang timbul
▪ Berdasarkan bentuknya
▪ Berdasarkan sifat pelaku yang berkonflik
▪ Menurut Soerjono Soekanto
MACAM-MACAM KONFLIK

Berdasarkan pihak yang Berdasarkan arah/posisi


terlibat: konflik:
▪ Menurut pihak yang  Menurut arah konflik,
terlibat, berupa konflik terbagi menjadi konflik
dalam diri individu, antar vertikal, konflik horizontal,
individu, antara individu dan konflik diagonal
dengan kelompok, atau
antar kelompok
Lanjutan…

Berdasarkan bentuknya: Berdasarkan sifatnya:


▪ Menurut bentuknya, konflik ▪ Konflik dapat dibedakan
dapat dibedakan menjadi menjadi konflik konstruktif
konflik realitas didasarkan
karena rasa kecewa dan dan konflik destruktif.
konflik nonrealitas
didasarkan pada sebuah
kebutuhan yang digunakan
untuk meredakan
ketegangan, setidaknya dari
salah satu pihak yang
berkaitan
Lanjutan…

Berdasarkan dampak Berdasarkan sifat pelaku


yang timbul: yang berkonflik:
▪ Menurut dampak yang
timbul, konflik dapat ▪ Konflik terdiri atas terbuka
dibagi menjadi konflik dan konflik tertutup
fungsional (mendukung
pencapaian tujuan) dan
infungsional (merintangi
pencapaian tujuan).
Lanjutan …

Menurut Soerjono Soekanto

Soerjono Soekanto ▪ Konflik pribadi


(1989:90) berusaha
mengklasifikasikan bentuk ▪ Konflik Rasial
dan jenis-jenis konflik ▪ Konflik Antarkelas Sosial
tersebut. Menurutnya,
konflik mempunyai ▪ Konflik Politik
beberapa bentuk khusus, ▪ Konflik International
yaitu:
KASUS 1
Pada Maret 2012,
meletus
bentrokan di
Abepura, Papua.
Berawal dari
ketersinggungan
satu orang,
gesekan
membesar
menjadi
kerusuhan massal.
Akibatnya, 4
orang cedera dan
3 rumah rusak.
KASUS 2
Konflik antarwarga di Way
Panji, Lampung Selatan,
Lampung, akhir Oktober
2012. Dipicu
kesalahpahaman kabar
pelecehan terhadap
perempuan, warga Desa
Balinuraga—transmigran
asal Bali—bertikai dengan
warga Desa Agom,
kemudian merambat ke
Desa Sidoreno. Sebanyak
14 orang tewas, 6 terluka,
dan 166 rumah terbakar.
Pengelolaan Konflik
Konflik merupakan gejala sosial yang senantiasa
melekat dalam kehidupan setiap masyarakat. Dari
hanya melibatkan beberapa orang, gesekan gampang
melebar menjadi kerusuhan massal. Ketika semua
arsiran masalah tersebut bertemu, hal-hal kecil saja
sudah cukup menyulut warga marah dan bertikai. Saat
pranata sosial tidak mampu mengatasinya, meletuplah
konflik lebih besar. Sebagai gejala sosial, konflik hanya
akan hilang bersamaan dengan meredanya pihak-pihak
yang berkonflik tersebut. Pengelolaan konflik berarti
mengusahakan agar konflik berada pada level yang
optimal. Jika konflik menjadi terlalu besar dan
mengarah pada akibat yang buruk, maka konflik harus
diselesaikan.
Persoalannya, bagaimana
konflik itu bisa dimanajemen
sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan disintegrasi
sosial?
Jawaban singkatnya adalah PHDS
– Pahami konflik; Hindari sumber-
sumber konflik; Deteksi adanya
konflik, dan Selesaikan konflik
yang muncul sedini mungkin.
Nasikun (1993), mengidentifikasi pengendalian konflik melalui tiga
cara, yaitu dengan konsiliasi (conciliation), mediasi (mediation), dan
perwasitan (arbitration).
Pola penyelesaian konflik bila dipandang dari sudut menang-kalah
pada masing-masing pihak, maka ada empat bentuk pengelolaan
konflik, yaitu:
▪ Bentuk kalah-kalah (menghindari konflik)
▪ Bentuk menang-kalah (persaingan)
▪ Bentuk kalah-menang (mengakomodasi)
▪ Bentuk menang-menang (kolaborasi)
Johnson & Johnson (1991) mengajukan beberapa gaya atau strategi dasar
pengelolaan konflik, yaitu:
▪ Withdrawing (Menarik Diri)
▪ Forcing (Memaksa)
▪ Smoothing (Melunak)
▪ Compromising (Kompromi)
▪ Confronting (Konfrontasi)

Hodge dan Anthony (1991), memberikan gambaran melalui berbagai metode


resolusi (penyelesaian) konflik, sebagai berikut: Pertama, dengan metode
penggunaan paksaan. Kedua, dengan metode penghalusan (smoothing). Ketiga,
penyelesaian dengan cara demokratis.
Cribbin (1985) mengelaborasi terhadap tiga hal, yaitu mulai
yang cara yang paling tidak efektif, yang efektif dan yang
paling efektif. Menurutnya, strategi yang dipandang paling
tidak efektif, misalnya ditempuh cara: (1) dengan paksaan,
(2) dengan penundaan, (3) dengan bujukan, (4) dengan
koalisi, dan (5) dengan tawar-menawar distribusi. Strategi
yang dipandang lebih efektif dalam pengelolaan konflik
meliputi: (1) koesistensi damai, (2) dengan mediasi
(perantaraan). Sedangkan strategi yang dipandang paling
efektif, antara lain: (1) tujuan sekutu besar, (2) tawar-
menawar integrative.
EVALUASI PEMBELAJARAN

Soal yang telah di buat oleh setiap kelompok, diserahkan


kepada guru mata pelajaran
Guru akan melempar pertanyaan secara silang kepada setiap
kelompok
Setiap kelompok diberi waktu untuk mendiskusikan jawaban
selama max. 10 menit
Saat waktu dirasa cukup, guru memimpin pleno dengan
memberikan kesempatan pada setiap kelompok
menyampaikan jawabannya. Jawaban akan diperiksa
langsung oleh kelompok yang membuat soal tersebut.
Dampak Sebuah Konflik
Segi negatif suatu konflik
adalah sebagai berikut
▪ Keretakan hubungan antar individu
dan persatuan kelompok
▪ Kerusakan harta benda dan
jatuhnya korban manusia
▪ Berubahnya sikap kepribadian para
individu, baik yang mengarah pada
hal-hal positif atau negatif
▪ Munculnya dominasi kelompok
pemenang atas kelompok yang
kalah
Segi positif konflik adalah sebagai berikut
▪ Konflik dapat memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau masih belum tuntas ditelaah.

▪ Konflik memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma-norma, nilai-nilai, serta hubungan-


hubungan sosial dalam kelompok bersangkutan dengan kebutuhan individu atau kelompok

▪ Konflik meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in-group solidarity) yang sedang berkonflik
dengan kelompok lain.

▪ Konflik merupakan jalan untuk mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok

▪ Konflik dapat membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma
baru

▪ Konflik dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang
ada di dalam masyarakat

▪ Konflik memunculkan sebuah kompromi baru apabila pihak yang berkonflik berada dalam kekuatan
yang seimbang
DEFINISI KEKERASAN
Istilah kekerasan berasal dari bahasa Latin
’violentia’, yang berarati keganasan, kebengisan,
kadahsyatan, kegarangan, aniaya, dan
pemerkosaan.
Kekerasan diartikan sebagai perilaku sengaja
maupun tidak sengaja yang ditunjukan untuk
merusak orang lain, baik berupa serangan fisik,
mental, sosial, maupun ekonomi yang
melanggar HAM, bertentangan dengan nilai-
nilai dan norma-norma masyarakat sehingga
berdampak trauma psikologis bagi korban.
Perbuatan yang termasuk kategori
Kekerasan

Berdasarkan bentuknya, kekerasan dapat digolongkan menjadi


kekerasan fisik, psikologis, dan struktural.
▪ Kekerasan fisik, yaitu kekerasan nyata yang dapat dilihat,
dirasakan oleh tubuh. Wujud kekerasan fisik berupa
penghilangan kesehatan atau kemampuan normal tubuh,
sampai pada penghilangan nyawa seseorang.
Para ahli sosial ▪ Kekerasan psikologis, yaitu kekerasan yang memiliki
sasaran pada rohani atau jiwa sehingga dapat mengurangi
berusaha bahkan menghilangkan kemampuan normal jiwa.
mengklasifikasikan Kekerasan Struktural, yaitu kekerasan yang dilakukan
bentuk dan jenis oleh individu atau sekelompok orang dengan
menggunakan sistem, hukum, ekonomi, atau tata
kekerasan menjadi kebiasaan yang ada di masyarakat. Oleh karena itu,
dua macam: kekerasan ini sulit untuk dikenali.
Berdasarkan pelakunya, kekerasan dapat
digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu:
▪ Kekerasan individual, adalah kekerasan
yang dilakukan oleh individu kepada satu
atau lebih individu. Contoh: pencurian,
pemukulan, penganiayaan, dll.
▪ Kekerasan Kolektif, adalah kekerasan
yang dilakukan oleh banyak individu atau
massa. Contoh: tawuran pelajar,
bentrokan antar desa.
Faktor-faktor Pendorong Terjadinya
Tindak Kekerasan

Beberapa hal yang melandasi sebagian besar terjadinya


kekerasan di Indonesia, seperti adanya penyalahgunaan
wewenang dan kedudukan oleh para perjabat negara yang
tentunya merugikan kehidupan rakyat, lemahnya sistem hukum
yang dimiliki Indonesia, dll.
Namun selain faktor-faktor di atas, tindakan kekerasan dapat
terjadi jika ada niat dan kesempatan. Maka, tindak kekerasan
dapat dilakukan oleh siapa, tidak hanya oleh preman atau
perampok, bahkan dapat dilakukan oleh orang yang paling dekat
bahkan orang yang paling dipercaya.
Dampak dari Tindakan Kekerasan

▪ Merugikan pihak lain baik material


maupun non- mmaterial
▪ Merugikan masyarakat secara
keseluruhan
▪ Merugikan Negara
▪ Mengganggu keamanan masyarakat
▪ Mengakibat trauma kepada
masyarakat
▪ Berurusan dengan hukum
Upaya Pencegahan Tindakan Kekerasan

Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah semakin


membudayanya tindak kekerasan. Upaya-upaya tersebut
antara lain:
▪ Kampanye Anti-kekerasan
▪ Mengajak Masyarakat untuk Menyelesaikan Masalah
Sosial dengan Cara Bijak
▪ Tidak memakai perhiasan yang berlebih
▪ Jangan mudah percaya kepada orang yang baru dikenal
▪ Tidak berpenampilan terlalu mencolok
▪ Bila bepergian ada baiknya tidak sendirian
▪ Menguasai ilmu bela diri.
Upaya menyelesaikan konflik dan
kekerasan

Proses sosial yang


ditempuh oleh
masyarakat untuk
menghindari,
meredakan, atau
menyelesaikan
konflik sosial yang
terjadi disebut
akomodasi.
Macam-macam akomodasi sebagai proses untuk
mencegah, meredakan, atau menyesaikan
konflik antara lain

▪ Toleransi
▪ Toleransi merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan membiarkan orang atau kelompok lain
bertindak yang tidak sesuai dengan harapannya, atau tidak sama dengan
yang dilakukannya. Tindakan demikian tidak menimbulkan konflik.
▪ Kompromi
▪ Kompromi merupakan upaya untuk memperoleh kesepakatan di antara
dua pihak yang saling berbeda pendapat atau pihak yang berselisih
paham. Kompromi dilakukan agar perbedaan pendapat atau silang
pendapat dapat terselesaikan dengan pembuatan kesepakatan baru.
Kesepakan baru dalam kompromi adalah kesepakatan yang dianggap
saling menguntungkan kedua belah pihak atau tidak.
▪ Mediasi, Arbitrasi, dan Konsiliasi
▪ Mediasi, arbitrasi, dan konsiliasi merupakan upaya penyelesaian pertikaian
atau konflik dengan mendatangkan (oleh) pihak ketiga sebagai mediator,
arbittator, atau konsiliator. Ada perbedaan dalam pelaksanaannya,
mediator merupakan pihak ketiga yang netral dan menghubungkan
keinginan pihak-pihak yang bertikai sehingga dapat saling mengerti dan
memahami. Penyelesaian konflik oleh mediator diserahkan kembali kepada
pihak yang bertikai. Sedangkan arbitrator merupakan pihak ketiga yang
netral, tetapi bedanya dengan mediator, seorang arbitrator (berwenang)
mengambil kepututusan tentang bagaimana konflik harus diselesaiakan.
Sedangkan konsiliator melaksanakan fungsi-fungsi mediasi atau artbitrasi
tetapi merupakan pihak yang terlembagakan. Jadi konsiliasi merupakan
mediasi atau arbitrasi melalui pihak yang telah berupa lembaga, misalnya
lembaga penyelesaian masalah perburuhan.
▪ Ajudikasi
▪ Apabila kompromi, mediasi, arbitrasi, dan konsiliasi tidak berhasil,
penyelesaian konflik dapat dilakukan secara hukum. Itulah ajudikasi.
▪ Displacement
▪ Penyelesaian konflik dengan cara mengalihkan perhatian dari pihak-
pihak yang berkonflik.
▪ Segregasi
▪ Segregasi merupakan upaya mencegah atau menyesesaikan konflik
dengan cara memisahkan secara fisik pihak-pihak yang bertikai.