Anda di halaman 1dari 15

KEBIJAKAN FISKAL

KELOMPOK 4
1. FEBIOLA SUPRIYADI
2. NADIA AYU PRATIWI
3. JULIENA OLIVIA
4. YULIA CITRA
5. FITRIANI IDHAN
6. SRI WAHYUNI
7. FEBRIANTI DANING
8. AYYUB AL ANSARI
9. KHERUL
Kebijakan fiskal dalam ekonomi islam
Dalam ekonomi konvensional kebijakan fiskal
diartikan sebagai langkah pemerintah untuk
membuat perubahan-perubahan dalam sistem
pajak atau dalam pembelanjaan ( dalam konsep
makro disebut dengan government expenditure ).
Tujuan kebijakan fiskal dalam perekonomian
sekunder adalah tercapainya kesejahteraan, yang
dihidupkan tanpa memandang kebutuhan spritual
manusia. Kebijakan fiskal merupakan kebijakan
yang mempengaruhi Anggaran pendapatan dan
Belanja suatu Negara ( APBN )
A. Posisi Kebijakan Fiskal
• Kebijakan fiskal memegang peranan penting dalam sistem islam bila
dibandingkan kebijakan moneter. Adanya larangan ribah serta kewajiban
tentang pengeluaran zakat menyiratkan tentang pentingnya kedudukan
kebijakan fiskal di bandingkan kebijakan moneter. Dari berbagai macam
instrumen, pajak diterapkan atas individu (jizyah dan pajak khusu muslim),
tanah kharaj, dan ushur (cukai) atas barang impor dari negara yang
mengenakan cukai terhadap kaum muslimin, sehingga tidak memberikan
beban ekonomi yang berat bagi masyarakat.
• Kemudian dilihat dari bagaimana islam memecahkan problematika
ekonomi, maka berdasarkan kajian fakta permasalahan ekonomi secara
mendalam terungkap bahwa hakikat permasalah ekonomi terletak pada
bagaimana distribusi harta dan jasa di tengah-tengah masyarakat sehingga
titik berat pemecahan permasalahan ekonomi adalah bagaimana
menciptakan suatu mekanisme distribusi ekonomi yang adil.
B. ZISWA Sebagai Komponen Kebijakan
Fiskal Islami
• Ziswa merupakan unsur-unsur yang terkandung
dalam kebijakan fiskal. Unsur-unsur tersebut
tersebut ada yang bersifat zakat ada pula yang
bersifat sukarela seperti sedekah, infak dan
wakaf.
• Dalam konsep ekonomi islam, kebijaksanaan
fiskal bertujuan untuk mengembangkan suatu
masyarakat yang didasarkan atas distribusi
kekayaan berimbang dengan menempatkan nilai-
nilai material dan spritual pada tingkat yang
sama.
1. Zakat
Tujuan utama dari kegiata zakat berdasarkan sudut pandang
sistem ekonomi adalah menciptakan distribusi pendapatan
menjadi lebih merata. dalam sistem ekonomi konvensional,
unsur utama dari kebijakan fiskal adalah unsur-unsur yang berasal
dari berbagai jenis pajak sebagai sumber penerimaan pemerintah
dan unsur-unsur yang berkaitan dengan variabel pengeluaran
pemerintah
tidak seperti kebijakan fiskal konvensional, dimana suatu
pemerintah dapat memengaruhi kegiatan perekonomian melalui
insentif dalam pajak maupun besarnya ‘tax base’ dari suatu
kegiatan perekonomian, maka dalam sistem zakat, segala
ketentuan tentang besarnya ‘tarif’ zakat sudah ditentukan
berdasarkan petunjuk dari Rasulullah. Oleh karena itu, kebijakan
zakat berbeda dengan kebijakan perpajakan
Zakat merupakan komponen utama dalam sistem keuangan
publik sekaligus kebijakan fiskal yang utama dalam sistem ekonomi
islam. Zakat merupakan kegiatan yang bersifat wajib bagi seluruh
umat islam.
Sumber-sumber keuangan pemerintah diluar zakat dapat
ditentukan sepanjang tidak bertentangan dengen ketentuan
syariah yang ada. Sumber-sumber keuangan baru dapat dibentuk
setelah melalui proses kajian fikih, yaitu dengan
mempertimbangkan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Al-
Quran an Hadis.
Zakat sesungguhnya merupakan instrumen fiskal islami
yang sangat luar biasa potensinya. Potensi zakat ini jika digarap
dengan baik, akan menjadi sumber pendanaan yang sangat besar,
sehingga dapat menjadi kekuatan pendorong pemberdayaan
ekonomi umat dan pemerataan pendapatan. Ujung dari semua itu
akan bermuara pada meningkatnya perekonomian bangsa.
Pada zaman Rasulullah, sistem manajemen zakat yang
dilakukan oleh amil dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
• Katabah, petugas untuk mencatat para wajib zakat
• Hasabah, petugas untuk menaksir, menghitung zakat
• Jubah, petugas untuk menarik, mengambil zakat dari para
muzaki
• Kahazanah, petugas untuk menghimpun dan memelihara harta
zakat
• Qasamah, petugas untuk menyalurkan zakat kepada mustahik
Hanya ada dua tugas yang dilakukan oleh lembaga pengelola zakat
di indonesia yaitu tugas untuk menghimpun/memelihara harta
zakat dan tugas untuk menyalurkan zakat kepada mustahik.
2. Wakaf
Diantara instrumen ZISWA, untuk kasus di indonesia wakaflah
yang paling terbelakang kemajuannya. Pemahaman masyarakat
pada wakaf sendiri memang belum mendalam. Mereka hanya
memahami peruntukan tanah wakaf hanyalah untuk kegiatan
peribadatan atau paling jauh sosial. Disisi lain akhirnya timbul
anggapan, hanya orang kaya saja yang mampu memberikan
wakaf, karena umumnya hanya orang kayalah yang memiliki
tanah yang luas.
C. Kebijakan Pendapatan Ekonomi
Islam
1. Kaidah Syar’iah yang berkaitan dengan kenijakan pungutan zakat
Ajaran islam dengan rinci telah menentukan, syarat, kategori harta yang harus di
keluarkan zakatnya, lengkap dengan besaran (tarifnya). Maka dengan ketentuan yang
jelas tersebut tidak ada hal bagi pemerintah untuk mengubah tarif yang telah
ditentukan.
2. Kaidah Syar’iyah yang berkaitan dengan hasil pendapatan yang berasal dari
aset pemerintah
Pendapatan dari aset pemerintah dapat dibagi dua kategori yaitu:
• Pendapatan dari aset pemerintah secara umum,yaitu berupa interaksi pemerintah
yang dikelola pemerintah atau masyarakat
• Pendapatan dari aset yang masyaralkat ikut memanfaatkannya, yaitu sarana-
sarana umum yang sangat di butuhkan masyarakat.
3. Kaidah Syar’iyah yang berkaitan dengan kebijakan pajak
Seandainyan pemungutan pajak tersebut diperbolehkan dalam islam maka kaidahnya
harus berdasatkan pada kaidah a’dalah dan kaidah dharurrah, yaitu pungutan tersebut
berlaku untuk orang yang mampu atau kaya dan untuk pembiayaan yang betul-betul
sangat di perlukan dan pemerintah tidak memiliki sektor pemasukan lainnya.
D. Kebijakan Belanja Ekonomi Islam
Kaidah-kaidah umum yang disarankan dari Al-Quran dan hadis dalam memandu
kebijaksanaan belanja pemerintah :
1. Kebijakan atau belanja pemerintah harus senantiasa mengikuti kaidah
maslaha.
2. Menghindari masyaqqah kesulitan dan mudarat harus didahulukan
ketimbang melakukan pembenahan
3. Mudarat individu dapat dijadikan alasan demi menghindari mudarat dalam
skala umum
4. Pengorbanan individu dapat dilakukan dan kepentingan individu dapat
dikorbankan demi menghindari kerugian dan pengorbanan dalam skala
umum
5. Kaidah al-giurmu bil gunni yaitu kaidah yang menyatakan bahwa ingin
mendapatkan manfaat harus siap menanggung beban (yang ingin untung
harus siap menanggung kerugian)
6. Kaidah ma la yatimmu al waajibu alla bihi fahua wajib yaitu kaidah yang
menyatakan bahwa sesuatu hal wajib ditegakkan dan tanpa ditunjang oleh
faktor penunjang lainnya tidak dapat dibangun, maka menegakkan faktor
penunjang tersebut menjadi wajib hukumnya.
Tujuan Pembelanjaan Dalam Pemerintah
Islam
a) Pengeluaran demi memenuhi kebutuhan hajat
masyarakat
b) Pengeluaran sebagai alat redisribusi kekayaan
c) Pengeluaran yang mengarah pada semakin
bertambahnya permintaan efektif
d) Pengeluaran yang berkaitan dengan investasi dan
produksi
e) Pengeluaran yang bertujuan menekan tingkat inflasi
dan kebijakan intervensi pasar.
E. Kebijakan Fiskal Masa Rasulullah
Ketika itu negara tidak mempunyai kekayaan apapun, karena sumber
penerima negara hampir tidak ada.
Segala kegiatan rasulullah dalam awal masa pemerintahan dilakukan
berdasarkan keikhlasan sebagai begian dari kegiatan dakwah yang ada.
Umumnya para sahabat tidak meminta balasan material dari segala
kegiatan mereka dalam dakwah tesebut.
Dalam masa Rasulullah juga sudah terdapat jizyah yaitu pajak yang
dibayarkan oleh orang nonmuslim khususnya ahli kitab, untuk jaminan
perlindungan jiwa, properti, ibadah, bebas dari nilai-nilai dan tidak
wajib militer.
Tujuannya adalah kebersamaan dalam menanggung beban negara
yang bertugas memberikan perlindungan, keamanan dan tempat
tempat tinggal bagi mereka dan juga senagai dorongan kepada kaum
kafir untuk masuk islam
F. Kebijakan Fiskal Masa Sahabat
• Khalifa Abu Bakar Ash-Shidiq (51 SH-13H/573-634 M)
Langkah Abu Bakar dalam menyempurnakan islam:
1. Perhatian dalam kekurangan perhitungan zakat
2. Pengembangan pembangunan baitulmal dan penanggung jawab
baitulmal
3. Menerapkan konsep balance budgrt policy pada baitulmal
• Khalifa Umar Bin Khatab (40 SH-23 H/584-644M)
Mengelompokkan pendapatan negara menjadi 4 bagian:
1. Zakat dan Ushr (Pendistribusian untuk lokal jika berlebihan disimpan)
2. Khums dan Shadaqah (Fakir miskin dan kesejahteraan rakyat)
3. Kharaj, Fay, Jizya, Ushr, Sewa Tetap (Dana Pensiun, Dana Pinjaman)
4. Pendapatan dari semua sumber (Pekerja, pemeliharaan anak terlantar
dan dana sosial)
• Khalifa Usman Bin Affan (47 SH-35 H/577-656 M)
Kebijakan yang dilakukan Usman:
1. Pembangunan pengairan
2. Pembentukan organisasi kepolisian untuk menjaga keamanan
perdagangan
3. Pembangunan gedung pengadian, guna penegakan hukum
4. Kebijakan pembagian lahan luas milik raja persia kepada individu dan
hasilnya mengalami peningkatan bila dibandingkan pada masa Umar dari 9
juta menjadi 50 juta dirham
5. Selama enam tahun terakhir dari pemerintahan usaman situasi politik
negara sangat kacau. Kepercayaan terhadap pemerintahan usman mulai
berkurang dan puncaknya rumah Usman dikepung dan dibunuh dalam
usia 82 tahun
• Khalifa Ali Bin Abi Talib
Beberapa perubahan kebijakan yang dilakukan pada masa Ali.
1. Pendistribusian seluruh pendapatan yang ada pada baitulmal berbeda
dengan Umar yang menyisihkan untuk cadangan
2. Pengeluaran angkatan laut dihilangkan
3. Adanya kebijakan pengetatan anggaran
G. Formulasi Kebijakan Fiskal Islami di
Era Modern
Kebijakan fiskal tidak hanya menaruh perhatian pada pendapatan dan
pembelaan negara, tetapi juga pada pilihan berbagai instrumen
kebijakan perpajakan dan pola pembelanjaan negara. Cara yang
berbeda dalam menaikkan dan membelanjakan anggaran memiliki
dampak ekonomi yang berbeda.
Al-Quran dan As-Sunnah memiliki panduan-panduan pokok dalam
kebijaksanaan fiskal
1. Islam tidak menyukai pembelanjaan yang tidak terkendali. Israf
atau berlebih-lebihan dilarang secara keras baik dalam Al-Quran
maupun Sunnah. Larangan ini berlaku baik umtuk individu maupun
negara.
2. Kebijaksanaan fiskal harus mampu memenuhi sasaran dasar
sebuah tatanan sosioekonomi islami. Yaitu, terpenuhi
kesejahteraan material dan spritual.