Anda di halaman 1dari 30

DUTA 4

KONSEP RESUSITASI
JANTUNG PARU (RJP)
Definisi RJP
Resusitasi jantung paru; cardio pulmonary resuscitation (CPR)
merupakan serangkaian tindakan memberikan napas buatan dan
pijatan jantung luar pada penderita yang mengalami henti napas
dan henti jantung (American Heart Association, 2010).
Indikasi Pelaksanaan
Henti Nafas (Respiratory Arrest)

Henti Jantung (Cardiac Arrest) : Terjadi karena


hipoksemia, gangguan elektrolit, aritmia,
penekanan mekanik pada jantung

Mati Klinis

(Asfuah, 2012)
Perbedaan Mati Klinis dan Mati
Biologis
Mati Klinis
◦ Korban dinyatakan MATI KLINIS bila pada saat melakukan pemeriksaan, korban
berhenti bernapas dan jantung berhenti berdenyut.
◦ Pada beberapa keadaan penanganan yang baik masih memberikan kesempatan
kedua bagi sistem tersebut untuk berfungsi kembali (reversible).
Mati Biologis
◦ MATI BIOLOGIS berarti kematian sel, yaitu karena terganggunya pasokan oksigen
dan zat makanan ke sel-sel yang menyusun jaringan tersebut akan mati dan
jaringan tersebut akan terganggu. Mati biologis ini bersifat menetap (irreversible).
◦ Masing-masing sel dan jaringan memiliki daya tahan yang berbeda-beda
sebelum mengalami mati biologis. Pada manusia kematian biologis paling cepat
terjadi pada sel-sel otak, yaitu berkisar 4-6 menit setelah berhentinya pernafasan
dan sirkulasi.
Tanda pasti mati biologis:
◦ Rigor mortis (Kekakuan)
◦ Livor mortis (kebiruan)
◦ Pembusukan yang nyata
◦ Cedera yang tidak memungkinkan penderita hidup
Prinsip Dasar RJP
D : Danger
◦ Amankan diri.
◦ Amankan lingkungan.
◦ Amankan korban.
R : Response

Komponen Yang dikaji / dinilai

A Sadar (alert) Mata terbuka, tidak terlihat mengantuk, pasien berespon terhadap
sekeliling, sadar terhadap kejadian, dapat menjelaskan kepada
pemeriksa
V Verbal Berespon terhadap pertanyaan perawat, menjawab pertanyaan
dengan lengkap, koheren atau tidak lengkap. Beri pertanyaan
singkat dan jelas, seperti menanyakan nama.
P Pain Berespon terhadap rangsang nyeri, misalnya mengerang, bergumam,
atau berteriak.
U Unrespon Tidak berespon (diam) terhadap stimulus verbal dan nyeri
S : Shout for help

◦ Memanggil bantuan dengan cara berteriak, menelepon,


memberi tanda pertolongan dan cara lainya. Memanggil orang
disekitar lokasi kejadian dapat dilakukan untuk membantu
pertolongan atau disuruh mencari pertolongan lebih lanjut.
◦ Dalam keadaan emergency di RS, panggil teman untuk minta
bantuan, istilahnya (Kode Biru/ Blue code).
C : Circulation and
Compression

Memeriksa napas dan nadi


• Pemeriksaan napas dilakukan dengan
sapuan tangan di dada hingga perut
korban.
• Pemeriksaan nadi dilakukan jika tidak ada
hembusan nafas. Dilakukan tidak < 5 detik,
dan tidak > 10 detik pada arteri karotis
(dewasa dan anak), pada arteri brakialis
(bayi).
Kompresi Dada
• Penderita dibaringkan di tempat yang datar dan keras.
• Penolong berada di sebelah tubuh pasien.
• Tentukan lokasi kompresi di dada yaitu ½ bawah tulang sternum
(sejajar puting susu). Letakkan salah satu tangan di titik tersebut.
Tangan satunya ditumpangkan di atas tangan yang melakukan
kompresi.
• Posisi lengan lurus dengan siku terkunci, sehingga bahu ada di atas
sternum pasien.
• Menekan sternum dengan berat badan, bukan dengan kekuatan
tangan.
• Untuk dewasa, kedalaman kompresi dada 5-6 cm. Pada anak dan
bayi, kedalaman 1/3 diameter dinding anteroposterior dada atau 4 cm
pada bayi dan sekitar 5 cm pada anak.
◦ Penolong melakukan kompresi 100 – 120 x/menit tanpa interupsi.
Penolong terlatih melakukan kompresi dan ventilasi dengan
perbandingan 30 : 2. Dikatakan 1 siklus RJP = 2 menit.
◦ Berikan kesempatan dada untuk mengalami complete chest recoil.
◦ Minimal interupsi pada kompresi.
Faktor Keberhasilan Kompresi:
◦ Kedalaman kompresi
◦ Kecepatan kompresi
◦ Minimal interupsi
◦ Beri jeda untuk recoil
A : Airway

Teknik pembebasan jalan nafas:

Head tilt – chin Jaw thrust


Sniffing Position
lift manuver manuver
• Posisikan telapak tangan • Posisikan setiap tangan pada • Untuk membebaskan
pada dahi sambil sisi kanan dan kiri kepala
mendorong dahi ke korban, dengan siku
jalan nafas bayi
belakang. bersandar pada permukaan dengan memberi
• Pada waktu bersamaan, tempat korban telentang bantalan pada
ujung jari tangan yang lain • Pegang sudut rahang bawah punggung bayi.
mengangkat dagu. dan angkat dengan kedua
tangan akan mendorong
rahang ke depan.
Head tilt –
Jaw thrust
chin lift
manuver
manuver
B : Breathing

Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan bantuan nafas :


◦ Setelah 30 kali kompresi, diberikan 2 kali nafas bantuan dengan interval 5 detik.
◦ Perhatikan ekspansi dada, berikan nafas kedua setelah ekspirasi selesai.
◦ Perhatikan posisi mask. Mask harus mengkover keseluruhan mulut dan hidung korban
sehingga tidak ada celah udara keluar.
◦ Jika nafas bantuan diberikan melalui mouth to mouth, maka bibir penolong
mengkover dengan baik mulut korban , dan hidung korban dijepit menggunakan
tangan.
Jenis Pemberian Nafas Buatan

1. Pernafasan bantuan mulut ke mulut


◦ Pertahankan head tilt – chin lift
◦ Jepit hidung dengan ibu jari dan telunjuk serta tangan lain
mempertahankan posisi kepada mendongak
◦ Buka sedikit mulut korban
◦ Pada saat akan membuang nafas, tempelkan rapat bibir
penolong melingkari mulut pasien, kemudian tiupkan lambat,
setiap tiupan 1 detik dan pastikan dada terangkat
◦ Tetap pertahankan posisi kepala, lepaskan mulut penolong dari
mulut korban, lihat apakah dada korban turun waktu ekshalasi.
2. Pernafasan bantuan dari mulut ke sungkup
◦ Letakkan korban pada posisi terlentang.
◦ Letakkan sungkup pada muka korban dan
dipegang dengan kedua ibu jari.
◦ Lakukan head tilt – chin lift, tekan sungkup ke
muka korban agar rapat. Kemudian tiup
melalui lubang sungkup sampai dada
terangkat.
◦ Hentikan tiupan dan amati turunnya dada.
3. Pernafasan dengan kantung nafas buatan (Bag Valve Mask / BVM)
Volume dari kantung nafas ini 1600 ml. Caranya dengan menempatkan tangan
untuk membuka jalan nafas dan meletakkan sungkup menutupi muka dengan
teknik E – C clamp, yaitu ibu jari dan jari telunjuk penolong membentuk huruf
“C” dan mempertahankan sungkup di muka pasien. Jari-jari ketiga, empat dan
lima membantuk huruf “E” dengan meletakkannya di bawah rahang bawah
untuk mengangkat dagu dan rahang bawah.
◦ Bagging 1 penolong : dengan langkah spt di slide sebelumnya, tangan yang lainnya
memompa kantung napas sembari melihat ekspansi dada.
◦ Bagging 2 penolong : satu penolong pada posisi di atas kepala pasien menggunakan
ibu jari dan telunjuk tangan kiri dan kanan untuk mencegah kebocoran disekitar
sungkup dan mulut, jari lainnya mengangkat rahang bawah dengan mendongakkan
kepala sembari melihat pergerakan dada. Penolong kedia secara perlahan (1 detik)
memompa kantung sampai dada terangkat.
D : Defibrilation

◦ Dilkukan fibrilasi pada saat terjadi irama VT/VF, disritmia atau aritmia jantung.
◦ Tujuan : Untuk memperbaiki konduksi kelistrikan jantung.
◦ Energi: 360 J pada defibrilator monofasik atau 200 J pada defibrilator difasik. Pada
anak, energi kejut listrik diberikan dengan dosis 2 – 4 J/kg, dapat diulang dengan dosis
4 – 10 J/kg, dan tidak melebihi energi yang berikan pada penderita dewasa.
◦ Penggunaan defibrilator untuk tindakan kejut listrik tidak diindikasikan pada penderita
asistol atau pulseless electrical activity (PEA).
Tahapan Penggunaan Automated External Defibrilator

◦ Hidupkan alat, beberapa alat menggunakan tombol “on”.


◦ Tempelkan lembar elektroda segera ke kulit dada pasien. Pastikan menempel lembar
elektroda sesuai dengan usia/ukuran. Lembar 1 diletakkan di bawah tulang belikat
kanan, lembar kedua di dada kiri samping bagian bawah. Bersihkan dulu dada yang
basah.
◦ Pastikan untuk menghubungkan pad elektroda dengan kabel ke alat. Penolong
katakan “monitor siap!”. Hentikan kompresi.
◦ Analisa irama jantung. Biasanya membutuhkan waktu 5 – 15 detik. Jika terdapat VT/VF,
akan ada indikasi dari alat untuk melakukan shock.
◦ Pastikan tidak ada seorangpun yang menyentuh pasien. Katakan “Clear!”, tekan
tombol Shock. Setelah pemberian shock, katakan “shock telah selesai!”.
◦ Lanjutkan pemberian RJP selama 2 menit atau 5 siklus.
◦ Setelah 2 menit, alat AED akan menganalisa irama kembali. Jika VT/VF menetap, alat
akan mendeteksinya dan menginstruksi untuk shock kembali.
◦ Jika teraba nadi, maka lakukan recovery position untuk mencegah aspirasi
pneumonia.
◦ Defibrilasi dihentikan jika: sudah teraba nadi (jika belum ada pernafasan, maka beri
nafas buatan), tidak ada nafas dan nadi, muncul kematian biologis, terdapat dilatasi
pupil yang menandakan kerusakan otak irreversible.
Algoritme
Bantuan
Hidup Dasar
Dewasa
(AHA, 2015)
Algoritme
Henti Jantung
(AHA, 2015)
Kualitas RJP
• Kompresi yang keras (min 5 cm) dan cepat (100-120x/menit) dan pastikan recoil dada
sempurna.
• Minimalkan interupsi pada kompresi.
• Hindari ventilasi berlebihan.
• Kompresi dilakukan bergiliran setiap 2 menit, atau lebih cepat bila timbul lelah.
• Jika tidak terdapat alat jalan napas tingkat lanjut, rasio kompresi : ventilasi = 30 : 2.
• Kapnografi kuantitatif : jika PETCO2 < 10 mmHg, coba perbaiki kualitas RJP.
• Tekanan intra-arteri: jika tekanan fase relaksasi (diastolik) < 20 mmHg, coba perbaiki
kualitas RJP.
Dosis Defibrilasi
• Bifasik : Dosis sesuai rekomendasi pembuat defibrilator (misalnya dosis inisial 120-200J); jika dosis
inisial tidak diketahui, gunakan dosis maksimum yang tersedia.
• Monofasik : 360 J.
Terapi Obat
• Dosis Epinefrin IV/IO : 1 mg tiap 3 – 5 menit
• Dosis Amiodaron IV/IO : Dosis pertama 300 mg bolus, dosis kedua 150 mg.
Alat jalan napas tingkat lanjut
• Intubasi endotrakea atau jalan napas supraglotis.
• Kapnografi gelombang atau kapnometri untuk memastikan dan memonitor penembatan pipa
endotrakeal.
• Jika alat jalan napas lanjut sudah terpasang, berikan napas setiap 6 detik (10 napas/menit)
dengan kompresi dada kotinyu.
Kembalinya sirkulasi spontan (return of spontaneous circulation/ROSC)
• Terdeteksinya nadi dan tekanan darah
• PETCO2 secara mendadak dan menetap meningkat (biasanya ≥ 40 mmHg)
• Gelombang tekanan arteri spontan pada monitor intra-arterial
Penyebab-penyebab reversibel
• Hipovolemia
• Hipoxia
• Hydrogen ion (asidosis)
• Hypo/hiperkalemia
• Hypothermia
• Tension pneumothorax
• Temponade, cardiac
• Toxins
• Thrombosis, pulmonary
• Thrombosis, coronary
Perbedaan RJP pada Dewasa,
Anak, dan Bayi
Rekomendasi
Komponen
Dewasa Anak Bayi
Urutan RJP CAB
Tidak sadarkan diri
Pengenalan Awal
Tidak teraba nadi dalam 10 detik
30 : 2 (1 atau 2 30 : 2 (1 penolong)
Kompresi (Circulation)
penolong) 15 : 2 (2 penolong)
Berikan 2 kali napas buatan dengan posisi jalan napas terbuka setelah
Airway & Breathing 30 kompresi (bila terpasang alat bantu jalan napas berikan napas
setiap 6 – 8 detik / 8-10x/menit).
Kesimpulan
Hal yang harus diperhatikan
Sirkulasi : Periksa Nadi Nadi Carotis Brachialis atau Femoralis
Titik kompresi dada Diantara puting susu pertengahan Dibawah garis puting
bawah sternum susu
Metode kompresi
Menggunakan
Menggunakan 1
tumit tangan (2 Menggunakan 2 jari
Tekan dengan keras dan tangan
tangan)
cepat
Kedalaman kompresi ± 1/3 sampai ½ dada
2 inci (5 cm)
(1,5 inchi / 4 cm)
Jumlah tempo kompresi
Sekurang-kurangnya 100x/menit
(compression rate)
Airway (jalan napas) Head tilt chin lift  korban non trauma
Jaw thrust  korban trauma / curiga fraktur cervikal
Daftar Pustaka
◦ Asfuah, Siti. 2012. Buku Saku Klinis untuk Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta :
Nuha Mediaka.

◦ PERKI. 2016. Buku Ajar Bantuan Hidup Jantung Dasar. Jakarta : PP PERKI.
TERIMA KASIH