Anda di halaman 1dari 22

LAPJAG INTERNA

“Dengue Fever”
Adityo Mulyono
H3A018003
IDENTITAS PASIEN
• Nama : Ny. LI
• Umur : 37 tahun
• Bangsal : Asoka
ANAMNESIS
Pasien mengeluh panas naik turun sejak minggu
siang. Panas dirasakan tinggi saat malam hari.
Pasien mengeluh mual dan muntah sebanyak 2
kali berupa air dengan sedikit makanan. Selain
itu pasien mengeluh nyeri ulu hati, pusing, dan
badan lemas. Nafsu makan turun. Mimisan dan
gusi berdarah disangkal. BAK dan BAB tidak ada
keluhan.
RIWAYAT
• Penyakit dahulu : Maag (+)
• Penyakit keluarga : disangkal
• Alergi obat/makanan : disangkal
• Sosial Ekonomi : kesan cukup
PEMERIKSAAN FISIK
• KU : tampak sakit sedang, composmentis
• TD : 130/90
• HR : 99x/menit
• RR : 20x/menit
• Suhu : 36,8 derajat C
• SpO2 : 99%
• Kepala : dbn
• Mata : Ca -/-
• Telinga : dbn
• Hidung : dbn
• Tenggorokan : dbn
• Thorax : dbn
• Abdomen : Nyeri tekan regio epigastrium (+)
• Ekstremitas : dbn
Hasil Lab 8/5/19
• Leukosit 2.900
• Trombosit 73.000
• Serologi Imun S. Typhi H 1/80
DIAGNOSIS KERJA
• Febris H4
• Dengue Fever
TATALAKSANA
• Infus RL 20 tpm
• Inj. Ondansentron 2x1 amp
• Inj. Omeprazole 2x1 amp
• P.O Paracetamol tab 500 mg prn
DENGUE FEVER
DEFINISI
Demam dengue adalah infeksi akut yang dibawa
nyamuk yang disebabkan oleh virus dengue. Ini
ditemukan di wilayah tropis dan sub tropis di
seluruh dunia. Singkatnya, demam dengue
adalah [penyakit endemis di banyak negara di
Asia Tenggara. Virus dengue memiliki empat
jenis serotipe, yang setiap jenis itu dapat
menyebabkan demam dengue dan dengue berat
(lebih dikenal sebagai demam haemorrhagic
dengue)
ETIOLOGI
• Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh
virus dengue, yang termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga
Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm
terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul
4x106 (Suhendro, 2006).
• Terdapat paling tidak 4 tipe serotipe virus dengue, yaitu DEN-1,
DEN-2, DEN-
• dan DEN-4 yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue
atau demam berdarah dengue. Keempat serotipe ditemukan di
Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotipe terbanyak.
• Sebagai tambahan, terdapat 3 virus yang ditulari oleh artropoda
(arbovirus) lainnya yang menyebabkan penyakit mirip dengue
(Halstead, 2007).
PATOFISIOLOGI
Infeksi dengue heterolog sekunder

Replikasi virus Respons antibodi

Kompleks antigen virus-antibodi

Agregasi Aktivasi Aktivasi


Pengeluar
trombosit an faktor kaskade komplemen
III koagulasi

Eliminasi trombosit Reaksi


trombosit oleh Aktivasi anafilaksis
sistem faktor
retikuloendotel Konsumtifitas Hageman
(RES) faktor-faktor Peningkatan
pembekuan permeabilitas
Kinin vaskular
Ketidakseimbangan
fungsi trombosit Penurunan
jumlah faktor
pembekuan Syok
Trombositopenia

Gambar 2.1. Hipotesis secondary heterologous infection (Suhendro, 2006).


MANIFETASI KLINIS
• Demam Dengue
Periode inkubasi adalah 1-7 hari. Manifestasi klinis bervariasi dan dipengaruhi usia
pasien. Pada bayi dan anak-anak, penyakit ini dapat tidak terbedakan atau
dikarakteristikkan sebagai demam selama 1-5 hari, peradangan faring, rinitis, dan
batuk ringan.
Kebanyakan remaja dan orang dewasa yang terinfeksi mengalami demam secara
mendadak, dengan suhu meningkat cepat hingga 39,4-41,1oC, biasanya disertai
nyeri frontal atau retro-orbital, khususnya ketika mata ditekan. Kadang-kadang
nyeri punggung hebat mendahului demam. Suatu ruam transien dapat terlihat
selama 24-48 jam pertama demam. Denyut nadi dapat relatif melambat sesuai
derajat demam. Mialgia dan artalgia segera terjadi setelah demam.
Dari hari kedua sampai hari keenam demam, mual dan muntah terjadi, dan
limfadenopati generalisata, hiperestesia atau hiperalgesia kutan, gangguan
pengecapan, dan anoreksia dapat berkembang. Sekitar 1-2 hari kemudian, ruam
makulopapular terlihat, terutama di telapak kaki dan telapak tangan, kemudian
menghilang selama 1-5 hari. Kemudian ruam kedua terlihat, suhu tubuh, yang
sebelumnya sudah menurun ke normal, sedikit meningkat dan
mendemonstrasikan karakteristik pola suhu bifasik.
• Demam Berdarah Dengue
Pembedaan antara demam demam dengue dan demam berdarah dengue sulit pada
awal perjalanan penyakit. Fase pertama yang relatif lebih ringan berupa demam,
malaise, mual-muntah, sakit kepala, anoreksia, dan batuk berlanjut selama 2-5 hari
diikuti oleh deteriorasi dan pemburukan klinis. Pada fase kedua ini, pasien umumnya
pilek, ekstremitas basah oleh berkeringat, badan hangat, wajah kemerah-merahan,
diaforesis, kelelahan, iritabilitas, dan nyeri epigastrik.
Sering dijumpai petekie menyebar di kening dan ekstremitas, ekimosis spontan, dan
memar serta pendarahan dapat dengan mudah terjadi di lokasi pungsi vena. Ruam
makular atau makulopapular dapat terlihat. Respirasi cepat dan melelahkan. Denyut
nadi lemah dan cepat, suara jantung melemah. Hati dapat membesar 4-6 dan biasanya
keras dan sulit digerakkan.
Sekitar 20-30% kasus demam berdarah dengue berkomplikasi syok (sindrom syok
dengue). Kurang dari 10% pasien mengalami ekimosis hebat atau perdarahan
gastrointestinal, biasanya sesudah periode syok yang tidak diobati. Setelah krisis 24-36
jam, pemulihan terjadi dengan cepat pada anak yang diobati. Temperatur dapat
kembali normal sebelum atau selama syok. Bradikardia dan ektrasistol ventrikular
umumnya terjadi saat pemulihan (Halstead, 2007).
DIAGNOSIS
• Demam Dengue
Ditegakkan bila terdapat dua atau lebih
manifestasi klinis (nyeri kepala, nyeri retro-
orbital, mialgia/artralgia, ruam kulit, manifestasi
perdarahan, leukopenia) ditambah pemeriksaan
serologis dengue positif; atau ditemukan pasien
demam dengue/ demam berdarah dengue yang
sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang
sama.
• Demam Berdarah Dengue
Berdasarkan kriteria WHO 1999 diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal di
bawah ini terpenuhi.
Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari, biasanya bifasik.
• Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut:
o Uji bendung positif.
o Petekie, ekimosis, atau purpura.
o Perdarahan mukosa (tersering epitaksis atau perdarahan gusi), atau
perdarahan di tempat lain.
o Hematemesis atau melena.
• Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/µl).
• Terdapat minimal satu dari tanda-tanda kebocoran plasma sebagai
berikut:
– Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan
jenis kelamin.
– Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan
dengan nilai hematokrit sebelumnya.
– Tanda kebocoran plasma seperti efusi pleura, asites atau hipoproteinemia.
DD/DBD Derajat Gejala Laboratorium
DD Demam disertai 2 atau leukopenia,
lebih tanda: sakit kepala, trombositopenia,
nyeri retro-orbital, tidak ada bukti
mialgia, artralgia kebocoran plasma
DBD I gejala di atas ditambah trombositopenia
uji bendung positif <100.000,Ht Serologi
meningkat ≥20% dengue
DBD II gejala di atas ditambah trombositopenia positif
perdarahan spontan <100.000,Ht
meningkat ≥20%
DBD III Gejala di atas ditambah trombositopenia
kegagalan sirkulasi (kulit <100.000,Ht
dingin dan lembab serta meningkat ≥20%
gelisah)
DBD IV Syok berat disertai trombositopenia
dengan tekanan darah <100.000,Ht
dan nadi tidak terukur. meningkat ≥20%
(Suhendro, 2006).
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Laboratorium
• Radiologi
PENATALAKSANAAN
Setiap pasien tersangka demam dengue atau DBD sebaiknya dirawat di
tempat terpisah dengan pasien penyakit lain, sebaiknya pada kamar
yang bebas nyamuk (berkelambu). Penatalaksanaan pada demam
dengue atau DBD tanpa penyulit adalah:
1. Tirah baring.
2. Pemberian cairan.
3. Bila belum ada nafsu makan dianjurkan untuk minum banyak 1,5-
2 liter dalam 24 jam (susu, air dengan gula/sirup, atau air tawar
ditambah dengan garam saja).
4. Medikamentosa yang bersifat simtomatis.
5. Untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres kepala, ketiak atau
inguinal. Antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminofen,
eukinin atau dipiron. Hindari pemakaian asetosal karena bahaya
perdarahan.
6. Antibiotik diberikan bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.
KOMPLIKASI
Infeksi primer pada demam dengue dan penyakit mirip
dengue biasanya ringan dan dapat sembuh sendirinya.
Kehilangan cairan dan elektrolit, hiperpireksia, dan kejang
demam adalah komplikasi paling sering pada bayi dan anak-
anak. Epistaksis, petekie, dan lesi purpura tidak umum tetapi
dapat terjadi pada derajat manapun. Keluarnya darah dari
epistaksis, muntah atau keluar dari rektum, dapat memberi
kesan keliru perdarahan gastrointestinal. Pada dewasa dan
mungkin pada anak-anak, keadaan yang mendasari dapat
berakibat pada perdarahan signifikan. Kejang dapat terjadi
saat temperatur tinggi, khususnya pada demam chikungunya.
Lebih jarang lagi, setela fase febril, astenia berkepanjangan,
depresi mental, bradikardia, dan ekstrasistol ventrikular dapat
terjadi.
PROGNOSIS
• Ad sanam : dubia ad bonam
• Ad vitam : dubua ad bonam
• Ad fungsionam : dubia ad bonam