Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN JAGA

DISPEPSIA
FENI WAHYU SAFITRI
H3A018006
IDENTITAS
• Nama : Ny. R
• Jenis kelamin : Perempuan
• Tanggal lahir : 25 November 1956
• Umur : 62 tahun
• Alamat : Pringapus, Kab Semarang
• Pekerjaan : Petani
• Agama : Islam
• Status perkawinan : Menikah
• Tanggal masuk : 23 Mei 2019
ANAMNESIS

KELUHAN UTAMA

•Nyeri perut
RPS
Perempuan usia 62 tahun datang ke IGD RSUD Ambarawa dengan keluhan nyeri
perut atas yang tidak membaik sejak 1 minggu SMRS

Nyeri perut terasa seperti diremas-remas, kadang terasa perih dan panas

Nyeri perut menjalar sampai ke ulu hati, nyeri tidak tembus ke punggung.

Keluhan nyeri perut dirasakan memberat jika telat makan, keluhan berkurang saat
pasien istirahat.

Pasien juga merasa perut terasa keras dan penuh. Saat makan sedikit langsung
terasa begah. Kadang sampai mual dan muntah.

Pasien terkadang muntah setelah makan, muntahan berisi makanan, tidak


berdarah, tidak berwarna hitam seperti aspal.

Pasien mengaku belum minum obat apapun sebelumnya. BAB dan BAK tidak ada
keluhan.
RPD

Pasien tidak pernah mengalami hal yang sama


sebelumnya. Tidak mempunyai riwayat penyakit
ginjal maupun infeksi saluran kemih.

Pasien menyangkal adanya riwayat penyakit


sendi dan asam urat, darah tinggi, penyakit
jantung, riwayat operasi sebelumnya disangkal,
kencing manis dan asma juga disangkal.
RPK

Pada keluarga pasien tidak ada riwayat


hipertensi, tidak ada riwayat diabetes
mellitus, asma, sakit maag, keganasan,
pada keluarga disangkal. Tidak ada
yang mengalami riwayat serupa
dengan pasien
KEBIASAAN

Pasien tidak merokok, tidak


mengkonsumsi alkohol, tidak pernah
berolahraga, pasien memilik kebiasaan
pola makan yang tidak teratur, riwayat
konsumsi jamu-jamuan atau obat-
obatan warung disangkal.
PF
• KU/kes: Tampak sakit/CM • Auskultasi : S1 dan S2 normal
reguler, Murmur (-), Gallop (-)
• TD: 110 /80 mmHg, N: 77, RR: 21, S: 36
• Paru
• Kepala : Normosefali, rambut hitam,
distribusi merata, tidak mudah dicabut, • Inspeksi : Pergerakkan dada simetris pada
jejas ( - ), nyeri tekan perikranial ( - ) statis dan dinamis Palpasi : Vocal
fremitus kanan dan kiri sama
• Mata : Konjungtiva anemis - / -, sklera
ikterik - / -, ptosis - / -, lagoftalmus - / -, pupil • Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru
bulat isokor, diameter 3mm/3mm,
refleks cahaya langsung + / +, refleks cahaya • Auskultasi : Suara nafas vesikuler + / +,
tidak langsung + / +/, mata cekung - / - ronkhi - / -, wheezing - /
• Telinga : Normotia + / +, perdarahan - / - • Abdomen
• Hidung : Deviasi septum - / -, perdarahan - • Inspeksi : Datar
/ -, nafas cuping hidung -/- • Palpasi : Nyeri tekan epigastrium dan
• Mulut : Bibir sianosis ( - ), lidah kotor ( - ), umbilikal (+), hepar dan lien tidak teraba
stomatitis (-) membesar,
• Leher : Bentuk simetris, trakea lurus di • Perkusi : Timpani
tengah, tidak teraba pembesaran KGB dan • Auskultasi : Bising usus ( + ) normal
tiroid
• Jantung • Ekstremitas
• Inspeksi :Ictus cordis tampak di ICS V 2 jari • Superior : Akral hangat + /+
medial linea midklavikularisinistra • Inferior : Akral hangat + / +, CRT < 2 detik
• Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V 2 jari
medial linea midklavikularis sinistra
PEMERIKSAAN PENUNJANG (9/5/19)
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai
Normal
Lekosit 8.04 10^3/ul 3,8-10,6
Eritrosit 4.58 10^6/ul 4,4-5,9
Hemoglobin 14.0 g/dL 13,2-5,9
Hematokrit 41.2 % 40-52
MCV 88.9 fL 80-100
MCH 30.8 Pg 26-34
MCHC 34.1 g/dL 32-36
Trombosit 267 10^3 150-440
RDW 12.8 % 11,5-14,5
MPV 5.08 L Mikro m3 7-11
Diffcount
Eosinofil absolut 0.417 10^3/ul 0,045-0,44
Basofil absolut 0.005 10^3/ul 0-0,2
Netrofil absolut 4.32 10^3/ul 1,8-8
Limfosit absolut 2.66 10^3/ul 0,9-5,2
Monosit absolut 0.563 10^3/ul 0,16-1
Eosinofil 5.18 H % 2-4
Basofil 0.4 % 0-1
Netrofil 67.0 % 50-70
Limfosit 33 % 25-40
Monosit 6 % 2-8
Kimia Klinik
Glukosa sewaktu 98 mg/dL 76-108

SGPT 13 U/L 0-35


SGPT 17 U/L 0-35
Ureum 18.7 mg/dL 10,0-50,0

Kreatinin 1.10 H mg/dL 0,45-0,75

Cholestrol 213 mmol/L <200

Trigliserida 185 H mmol/L 70-140


DIAGNOSIS AWAL
• Dispepsia
DIAGNOSIS BANDING
• Gastritis
• Ulkus peptikum
• GERD
Initial Plan Terapi
• Medikamentosa
IVFD RL 20 tpm
Inj Ranitidin 1 amp
Inj Ondansentron 1 amp

Initial Plan Monitor


• Pengawasan tanda-tanda vital

Initial Plan Edukasi


• Memberitahukan kepada pasien dan keluarga mengenai
penjelasan penyakit pasien
• Menjelaskan pasien dan keluarga tentang pemeriksaan –
pemeriksaan yang akan dilakuakan guna menunjang
diagnosis dan terapi yang akan diberikan.
PEMBAHASAN
Pada pasien, terdapat Kriteria Roma III
gejala nyeri adalah suatu penyakit
epigastrium, kadang dengan satu atau lebih
terasa perih dan gejala yang
Dispepsia merupakan berhubungan dengan
panas, perut terasa
rasa tidak nyaman gangguan di
keras dan penuh, saat
yang berasal dari gastroduodenal:
makan sedikit
daerah abdomen • Nyeri epigastrium
langsung terasa begah
bagian atas. • Rasa terbakar di
mual, muntah, maka epigastrium
pada pasien • Rasa penuh atau tidak
memenuhi kriteria nyaman setelah makan
diagnosis dispepsia. • Rasa cepat kenyang
Pasien mengeluh nyeri perut
terasa seperti diremas-remas
Dispepsia terbagi atas dua
Pasien tidak muntah
subklasifikasi, yakni dispepsia
berdarah, tidak muntah
organik dan
berwarna hitam seperti
dispepsia fungsional, jika
aspal. Tidak BAB hitam.
kemungkinan penyakit
Pasien mengaku tidak
organik telah berhasil
meminum obat apapun
dieksklusi.
sebelumnya ataupun tidak
minum obat-obatan warung.
Keluhan nyeri perut
dirasakan memberat jika Dispepsia fungsional
Faktor-faktor lainnya yang
telat makan, Pasien, Patofisiologi ulkus disebabkan oleh beberapa
dapat berperan adalah
berespon ketika diberikan peptikum yang disebabkan faktor utama, antara lain
genetik, gaya hidup,
antisekretorik asam oleh Hp dan obat-obatan gangguan motilitas
lingkungan, diet dan
lambung, hal ini anti-inflamasi non-steroid gastroduodenal, infeksi
riwayat infeksi
memungkinkan (OAINS) telah banyak Hp, asam lambung,
gastrointestinal
patofisiologi yang terjadi diketahui. hipersensitivitas viseral,
sebelumnya.
pada pasien adalah dan faktor psikologis.
peranan asam lambung
Peranan gangguan motilitas gastroduodenal

• Gangguan motilitas gastroduodenal terdiri dari penurunan


kapasitas lambung dalam menerima makanan (impaired
gastric accommodation), inkoordinasi antroduodenal, dan
perlambatan pengosongan lambung.

Peranan hipersensitivitas visceral

• Hipersensitivitas viseral berperan penting dalam


patofisiologi dispepsia fungsional, terutama peningkatan
sensitivitas saraf sensorik perifer dan sentral terhadap
rangsangan reseptor kimiawi dan reseptor mekanik
intraluminal lambung bagian proksimal. Hal ini dapat
menimbulkan atau memperberat gejala dispepsia.
Peranan faktor psikososial

• Gangguan psikososial merupakan salah satu faktor


pencetus yang berperan dalam dispepsia fungsional.
Derajat beratnya gangguan psikososial sejalan dengan
tingkat keparahan dispepsia. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa depresi dan ansietas berperan
pada terjadinya dispepsia fungsional.

Peranan asam lambung

• Asam lambung dapat berperan dalam timbulnya


keluhan dispepsia fungsional. Hal ini didasari pada
efektivitas terapi anti-sekretorik asam dari beberapa
penelitian pasien dispepsia fungsional. Data penelitian
mengenai sekresi asam lambung masih kurang, dan
laporan di Asia masih kontroversial
Peranan infeksi Hp

• Prevalensi infeksi Hp pasien


dispepsia fungsional bervariasi
dari 39% sampai 87%. Hubungan
infeksi Hp dengan ganggguan
motilitas tidak konsisten namun
eradikasi Hp memperbaiki gejala-
gejala dispepsia fungsional.
Evaluasi tanda bahaya harus selalu menjadi
bagian dari evaluasi pasien-pasien yang datang
dengan keluhan dispepsia. Tanda bahaya pada
dispepsia yaitu:
•Penurunan berat badan (unintended)
Pada pasien tidak terdapat kriteria tanda •Disfagia progresif
bahaya, maka pasien tidak terdapat indikasi •Muntah rekuren atau persisten
untuk dilakukannya endoskopi. •Perdarahan saluran cerna
•Anemia
•Demam
•Massa daerah abdomen bagian atas
•Riwayat keluarga kanker lambung