Anda di halaman 1dari 23

AKUNTANSI TRANSAKSI ISTISHNA

DAN ISTISHNA PARALEL


DEFINISi

 Istishna’ : akad jual beli dalam bentuk pesanan


pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan
persyaratan tertentu yang disepakati antara
pemesan dan penjual.

 Istishna’ Paralel
Suatu akad istishna’ antara pemesan dan penjual, kemudian untuk
memenuhi kewajibannya kepada pemesan, penjual memerlikan pihak
lain sebagai produsen.

 Pembayaran Tangguh
Pembayaran yang dilakukan tidak pada saat barang diserahkan
kepada pembeli tetapi pembayaran dilakukan dalam bentuk
angsuran atau sekaligus pada waktu tertentu.
Ketentuan Syar’i Transaksi Istishna’ Dan
Istishna’ Paralel

Ketentuan syar’i transaksi istishna’ diatur dalam fatwa


DSN no 06/DSN-MUI/IV/2000 tentang jual beli istishna’
yang berisi peraturan tentang ketentuan pembayaran, dan
ketentuan barang.
Rukun Transaksi Istishna’

1. Produsen/pembuat barang dan penyedia


bahan baku.
2. Pemesan/Pembeli barang.
3. Proyek/Usaha barang/jasa yang dipesan.
4. Harga.
5. Shighat/Ijab Qabul
Cakupan Standar Akuntansi
Istishna’paralel ’

Akuntansi istishna’ diatur dalam Pernyataan


Standar Keuangan ( PSAK ) no 104 tentang
istishna’. Terkait dengan pengakuan dan
pengukuran transaksi, standar ini mengatur
tentang penyatuan dan segmentasi akad,
pendapatan istishna’ dan istishna’ paralel,
istishna’ dengan pembayaran tangguh, biaya
perolehan istishna’, penyelesaian awal pengakuan
taksiran rugi, perubahan pesanan dan tagihan.
Kasus
Transaksi Istishna Pertama

Untuk mengembangkan klinik ibu dan anak yang dikelolanya,


dr. Ursila berencana menambah satu unit bangunan seluas 100
m2 khusus untuk rawat inap. Untuk kebutuhan itu, dr. Ursila
menghubungi Bank Berkah Syariah untuk menyediakan
bangunan baru sesuai dengan spesifikasi yang diinginkannya.
Pada tanggal 10 Februari 20XA ditandatanganilah akad
transaksi istishna’ pengadaan bangunan untuk rawat inap.
Adapun kesepakatan antara dr. Ursila dengan Bank Berkah
Syariah adalah sebagai berikut:
Nama barang : Bangunan Rawat Inap
Harga Bangunan : Rp 150.000.000
Lama penyelesaian : 5 bulan (paling lambat tanggal 10 Juli)
Mekanisme penagihan : 5 kali sebesar Rp 30.000.000 mulai 10
Maret
Mekanisme Pembayaran : 3 hari stelah tanggal penagihan
Transaksi Istishna’ Kedua

Untuk membuat bangunan sesuai dengan keinginan dr. Ursila, pada


tanggal 12 Februari 20XA, Bank Berkah Syariah memesan kepada
kontraktor PT. Thariq Konstruksi dengan kesepakatan sebagai
berikut:

Harga Bangunan : Rp 130.000.000


Lama penyelesaian : 4 bulan 15 hari (paling lambat tgl 25
Juni)
Mekanisme penagihan : tiga termin pada saat penyelesaian
20%, 50% dan 100%.
Mekanisme pembayaran : dibayar tunai sebesar tagihan dari
kontraktor.
Transaksi biaya prakad ( Bank sebagai penjual )

Pada tanggal 5 Februari 20XA, untuk keperluan survey dan


pembuatan desain bangunan yang akan dijadikan acuan
spesifkasi barang, bank Berkah syariah telah mengeluarkan kas
hingga Rp 2.000.000. jurnal untuk mengakui transaksi ini
adalah sbb :

Tanggal Rekening Debit Kredit

5/2/XA Beban pra-akad yang ditangguhkan 2.000.000

Kas 2.000.000
Penandatanganan Akad Dengan Pembeli
(Bank Sebagai Penjual)

Misalkan kasus dr. Ursila dengan bank berkah syariah


diatas, transaksi istishna’ jadi disepakati pada tanggal 10
Februari, maka jurnal pengakuan beban pra-akad menjadi
biaya istishna’ adalah sebagai berikut:
Tanggal Rekening Debit Kredit
( Rp ) ( Rp )
10/2/XA Biaya istishna’ 2.000.000

Beban pra-akad yg ditangguhkan 2.000.000


Pembuatan akad istishna’ paralel dengan pembuat
barang (Bank Sebagai Pembeli)

Berdasarkan PSAK no 104 paragraf 29 disebutkan bahwa


biaya perolehan istishna’ paralel terdiri dari :
o Biaya perolehan barang pesanan sebesar tagihan
produsen atau kontraktor kepada entitas
o Biaya tidak langsung, yaitu biaya overhead termasuk
biaya akad dan praakad; dan
o Semua biaya akibat produsen atau kontraktor tidak
dapat memenuhi kewajibannya , jika ada
D. Penerimaan dan pembayaran tagihan kepada penjual
(pembuat ) barang istishna’
Dalam kasus 11.1, disebutkan bahwa mekanisme
pembayaran dilakukan dalam tiga termin yaitu pada saat
penyelesaian 20%, 50% dan 100%. Misalkan dalam
perjalanannya, realisasi tagihan ketiga termin tersebut
ditunjukkan dalam tabel berikut:
No. Tingkat Tanggal Tanggal Tanggal Jumlah
Termin penyelesaian penagihan penagihan Pembayaran Pembayaran
kontraktor kontraktor
I 20% 1 April 26.000.0000 8 April 26.000.0000

II 50% 15 Mei 39.000.0000 22 Mei 39.000.0000

III 100% 25 Juni 65.000.0000 2 Juli 65.000.0000


Lanjutan ………

Misalkan pada tanggal 1 April, PT. Thariq Konstruksi


menyelesaikan 20% pembangunan dan menagih pembayaran
termin pertama sebesar Rp 26.000.000 (20% x Rp
130.000.000) kepada Bank Berkah Syariah. Jurnal
pengakuan penagihan pembayaran oleh pembuat barang
adalah sebagai berikut:

Tanggal Rekening Debit Kredit


( Rp ) ( Rp )
1/4/XA Aset istishna dalam penyelesaian 26.000.0000
Utang Istishna 26.000.000
Lanjutan ………

Misalkan tagihan kedua diterima pada tanggal 15 Mei Rp 39.000.000


dan diikuti dengan pembayaran oleh bank pada tanggal 22 Mei 20XA.
Jurnal untuk transaksi tersebut adalah sebagai berikut:

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)


15/5/XA Db. Aset istishna dalam 39.000.000
penyelesaian
Kr. Utang Istishna’ 39.000.000*
*(50%-20%) x Rp
130.000.000 = Rp
39.000.000

22/5/XA Db. Utang Istishna’ 39.000.000


Kr.Kas/rekening 39.000.000
nasabah pemasok
Lanjutan ………

Misalkan tagihan ketiga diterima tanggal 25 Juni 20XA Rp.


65.000.000 dan dibayarkan pada tanggal 2 Juli 20XA. Jurnal untuk
transaksi tersebut adalah sebagai berikut:
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
25/6/XA Db. Aset istishna dalam 65.000.000
penyelesaian
Kr. Utang istishna’ 65.000.000*
*(100%-50%) x Rp 130.000.000 =
Rp 65.000.000

2/7/XA Db. Utang istishna’ 65.000.000


Kr. Kas/rekening nasabah 65.000.000
pemasok
Pengakuan Pendapatan Istishna’

Berdasarkan PSAK no 104 Paragraf 18 disebutkan bahwa


jika metode presentase penyelesaian digunakan, maka :
o Bagian nilai akad yang sebanding dengan pekerjaan yang
telah diselesaikan dalam periode tersebut, diakui sebagai
pendapatan istishna’ pada periode yang bersangkutan.
o Bagian margin keuntungan istishna’ yang diakui selama
periode pelaporan ditambahkan kepada aset istishna
dalam penyelesaian ; dan
o Pada akhir periode harga pokok istishna diakui sebesar
biaya istishna yang telah dikeluarkan sampai dengan
periode tesebut
Pengakuan Pendapatan Istishna’

 Pendapatan istishna diukur sebesar bagian nilai akad yang sebanding


dengan pekerjaan yang telah diselesaikan dalam periode tersebut
Pendapatan istishna = persentase penyelesaian x nilai akad penjualan
Maka pada tanggal 10 April saat penyelesaian 20%, diakui pendapatan
sebesar Rp 30.000.000 (20% x Rp 150.000.000).

 Harga pokok istishna’ diakui sebesar persentase penyelesaian aset


istishna’.
Harga pokok istishna’= persentase penyelesaian x nilai akad pembelian
= 20% x Rp 130.000.000
= Rp 26.000.000
Pengakuan Pendapatan Istishna’

Keuntungan istishna’ yang dimaksud adalah bagian margin


keuntungan istishna’ yang diakui selama periode pelaporan
yang ditambahkan kepada aset istishna’ dalam penyelesaian.
Keuntungan istishna’ = persentase penyelesaian x margin keuntungan
= 20% x (Rp 150.000.000 – Rp 130.000.000)
= 20% x Rp 20.000.000
= Rp 4.000.000
Dalam jurnal penyesuaian yang dibuat, pengakuan keuntungan
istishna’ dilakukan dengan mendebit asset istishna’ dalam
penyelesaian sebesar Rp 4.000.000.
Secara keseluruhan, jurnal yang terkait dengan transaksi
pengakuan pendapatan saat penyelesaian 20%, 50% dan
100% adalah sebagai berikut.
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

10/4/XA Db. Aset istishna’ dalam penyelesaian 4.000.000


Db. Harga pokok istishna’ 26.000.000
Kr. Pendapatan istishna’ 30.000.000*

15/5/XA Db. Aset istishna’ dalam penyelesaian 6.000.000


Db. Harga pokok istishna’ 39.000.000
Kr. Pendapatan istishna’ 45.000.000

25/6/XA Db. Aset istishna’ dalam penyelesaian 10.000.000


Db. Harga pokok istishna’ 65.000.000
Kr. Pendapatan istishna’ 75.000.000
Penagihan Piutang Istishna’ pada Pembeli

Misalkan dalam kasus di atas, penagihan oleh bank kepada


pembeli akhir dilakukan dalam 5 termin dalam jumlah yang
sama yaitu Rp 30.000.000, setiap tanggal 10 mulai bulan
April. Maka jurnal untuk mengakui setiap kali penagihan
piutang istishna’ kepada pembeli dan penerimaan
pembayaran dari pembeli tersebut adalah sebagai berikut.

Tanggal Rekening Debit ( Rp ) Kedit ( Rp )


10/04/XA Db. Piutang istishna’ 30.000.000
Kr. Termin Istishna’ 30.000.000
* Rp 150.000.000/ 5 termin = Rp
30.000.000 per termin
Penerimaan Pembayaran Piutang Istishna’ dari Pembeli

Pembayaran piutang istishna’ oleh nasabah dilakukan setelah


menerima tagihan istishna dari bank. Oleh karena termin
istishna’ merupakan pos lawan dari piutang istishna’, maka pada
waktu pembayaran piutang, bank sebagai penjual perlu menutup
termin istishna’.
Misalkan dalam kasus di atas, pembayaran oleh nasabah
pembeli dilakukan 3 hari setelah menerima tagihan dari bank
sebagai penjual Rp. 30.000.000 yang seharusnya dibayar pada
10 Aprtil 20XA. Maka jurnal untuk mengakui setiap
penerimaan pembayaran dari pembeli tersebut adalah sebagai
berikut
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
13/04/X Kas/rekening nasabah pembeli istishna 30.000.000
A
Piutang Istishna’ 30.000.000
Saat barang pesanan diserahkan pada nasabah

Menurut PAPSI 2013 (h. 4.19), pada saat barang pesanan


telah diserahkan kepada nasabah, bank melakukan jurnal
balik atas rekening aktiva istishna dalam penyelesaian
dan termin istishna. Untuk kasus 11.1, misalkan barang
pesanan diserahkan pada tanggal 13/8/XA, maka jurnal
pada saat penyerahan barang tersebut adalah sebagai
berikut:

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

13/8/XA Termin Istishna’ 150.000.000


Aset istishna’ dalam 150.000.000
penyelesaian
Sekian
Terima Kasih
Wassalamu’alaikum wr wb