Anda di halaman 1dari 15

Kelompok 1:

1. Amelia Heryadi (165108129)


2. Mesih Maharani (165108048)
3. Rizka Melia (165108077)

AK PAGI B – SEMESTER 6
Pengertian Penyeragaman atau
Harmonisasi dalam Standar Akuntansi

Harmonisasi atau penyeragaman merupakan proses
untuk meningkatkan kompatibilitas (kesesuaian) praktik
akuntansi dengan menentukan batasan-batasan seberapa
besar praktik-praktik tersebut dapat beragam. Harmonisasi
akuntansi mencakup harmonisasi :

 Standar akuntansi (yang berkaitan dengan pengukuran


dan pengungkapan);
 Pengungkapan yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan
publik terkait dengan penawaran surat berharga dan
pencatatan pada bursa efek;
 Standar audit Survei Harmonisasi Internasional.
4 Hal Pokok yang Diatur
dalam Standar Akuntansi

Definisi elemen laporan keuangan atau
informasi lain yang berkaitan.
Pengukuran dan penilaian.
Pengakuan
Penyajian dan pengungkapan laporan
keuangan
Hambatan dalam Penyeragaman
Standar Akuntansi

 Hambatan semantika, hambatan semantika ini ditemukan dalam
kosa kata dan istilah yang mempunyai arti berbeda.
Sebagai contoh:
 Cost dan Expense yang masing-masing artinya ialah biaya dan
beban.
 Earnings, profits, gains atau income yang artinya sama-sama laba
atau keuntungan.
 Hambatan sistem lingkungan, sistem lingkungan yang berbeda antar
negara-negara ini merupakan sumber kesulitan penyeragaman
standar akuntansi nasional ke standar akuntansi internasional.
Faktor-faktor penghambat yang bersumber dari sistem lingkungan
diantaranya ialah: hukum, politik, sosial budaya, pendidikan dan
kepercayaan agama.
Faktor Penghambat yang Bersumber dari
Sistem Lingkungan

 Hukum, hukum yang berlaku mempunyai pengaruh
langsung pada akuntansi negara yang bersangkutan.
Misalnya: pada likuidasi bank di Indonesia,
pemerintah ikut campur tangan melindungi para
deposan dari kerugian atas deposito mereka.
 Politik, pada ekonomi terpusat tidak ada ekuitas
bisnis yang dimiliki swasta semua dikuasai negara.
Terdapat hubungan yang erat antara kestabilan
politik dan kestabilan ekonomi. Terjadinya
ketidakstabilan politik merupakan penghalang
investasi di suatu negara.
 Sosial budaya, rasio utang yang tinggi pada bank di Jepang
tidak dianggap sebagai tanda bahaya karena perusahaan
merasa malu jika tidak dapat membayar utangnya.


Sedangkan di Indonesia, ketika terjadi krisis moneter,
pemerintah memberi bantuan dana yang jumlahnya
triliunan rupiah, akan tetapi kredit ini semua macet.

 Pendidikan, pengguna informasi yang terdidik dengan


baik dapat memahami informasi akuntansi yang mutakhir,
juga akuntan pada suatu negara dengan standar
pendidikan yang tinggi, umumnya terlatih baik dan
mempunyai kompetensi dan keahlian yang baik. Namun,
untuk meningkatkan mutu pendidikan merupakan
pekerjaan yang memakan waktu dan biaya.

 Keyakinan agama, di sejumlah negara, bunga uang
tidak dibenarkan, sehingga memerlukan penyajian
informasi akuntansi yang khusus kepada
masyarakat bisnis dunia.
Usaha Penyeragaman dalam
Standar Akuntansi

Dengan kemajuan dan kecanggihan TI pasar modal jutaan
atau bahkan miliaran investasi, dapat dengan mudah masuk ke
lantai pasar modal di seluruh penjuru dunia. Pergerakan mereka tak
bisa dihalangi teritori negara. Perkembangan yang mengglobal
seperti ini dengan sendirinya menuntut adanya satu standar
akuntansi yang dibutuhkan baik oleh pasar modal atau lembaga
yang memiliki agency problem.
Selain itu juga, agar memudahkan para investor asing
menanamkan modalnya di perusahaan multi nasional, IASB atau
Badan Standar Akuntansi Internasional yang merupakan lembaga
independen untuk menyusun standar akuntansi merencanakan
untuk membuat suatu penyeragaman standar akuntansi yang bisa
diterima dan berkualitas tinggi juga dapat dipahami dan
dibandingkan tanpa terhalangi oleh teritori negara
Tahun 2001 IASB bersama tiga organisasi utama
lainnya: Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi
Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi


Internasional (IFAC) menyusun sebuah standar akuntansi
internasional yang dinamakan IFRS. IFRS ini sebagian besar
standarnya merupakan bagian dari IAS (International
Accounting Standards) yang dikeluarkan oleh IASC tahun
1973. IASB mengadopsi seluruh IAS dan melanjutkan
pengembangan standar yang dilakukan

IASB sendiri bertujuan untuk merumuskan dan


menerbitkan standar akuntansi untuk penyajian laporan
keuangan dan mendorong penggunaannya di seluruh dunia,
juga memperbaiki dan mnegharmonisasikan standar
akuntansi serta prosedur yang berhubungan dengan
penyajian laporan keuangan.
IFRS saat ini sudah banyak diadopsi oleh berbagai
negara di dunia. Beberapa negara secara sukarela
mengadopsi IFRS ini dengan tujuan menyeragamkan
standar akuntansinya dengan standar akuntansi


internasional. Begitu juga dengan Indonesia.

Memang, hingga saat ini IFRS belum menjadi one


global accounting standard. Namun standar ini telah
digunakan oleh lebih dari 150-an negara, termasuk Jepang,
China, Kanada dan 27 negara Uni Eropa. Sedikitnya, 85 dari
negara-negara tersebut telah mewajibkan laporan keuangan
mereka menggunakan IFRS untuk semua perusahaan
domestik atau perusahaan yang tercatat (listed). Bagi
Perusahaan yang go international atau yang memiliki partner
dari Uni Eropa, Australia, Russia dan beberapa negara di
Timur Tengah memang tidak ada pilihan lain selain
menerapkan IFRS.
Tahap Perkembangan
Konvergensi SAK ke IFRS

IAI membentuk Komite Prinsip – Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI)
1973-1984 untuk membuat standar standar akuntansi.

Komite PAI melakukan revisi secara mendasar. Akhir tahun 1994 komite
1984-1994 melakukan revisi besar yang isinya sebagian besar harmonis dengan IAS.

Adanya perubahan kiblat dari US GAAP ke IFRS. IAI melakukan revisi


1994-2004 besar untuk menerapkan standar – standar akuntansi baru.

Melakukan konvergensi IFRS tahap 1 dan proses revisi sudah dilakukan 6


2006-2008 kali. Target 2008 konvergensi penuh ke IFRS, tapi hal tsb tidaklah mudah.

IAI menargetkan kembali konvergensi penuh ke IFRS selesai tahun 2012.


2008 DSAK-IAI melakukan program kerja tersebut sampai akhir 2011.

Per 1 Januari 2012 Indonesia mulai menerapkan IFRS. Dan akan di update
2012 secara terus-menerus seiring adanya perubahan pada IFRS.
Alasan Perlunya Penyeragaman
Standar Akuntansi

Manusia tidak bisa menolak arus globalisasi terus menerus
hal ini dilakukan agar negara dapat disetarakan dalam
kegiatan perekonomian internasional, dan dalam pembuatan
laporan keuangan yang dapat diakui secara internasional.
Secara tidak langsung negara pun tidak mau ketinggalan
dalam bersaing oleh karena itu hal yang harus dilakukan
adalah harus segera mengejar target konvergensi IFRS
tersebut. Indonesia perlu mengadopsi standar akuntansi
international untuk memudahkan perusahaan asing yang
akan menjual saham dinegara ini atau sebaliknya.
Bapepam sendiri menjelaskan kerugian-kerugian jika
perusahaan tidak menerapkan IFRS. kerugian tersebut
berkaitan dengan pasar modal yang masuk ke


Indonesia, maupun perusahaan Indonesia yang listing
di bursa efek di Negara lain. Perusahaan Asing akan
kesulitan untuk menterjemahkan laporan keuangannya
dulu sesuai standar nasional kita sebaliknya
perusahaan Indonesia yang listing di Negara lain, juga
cukup kesulitan untuk membadingkan laporan
keuangan sesuai standar di Negara tersebut. Hal ini
akan menghambat perekonomian dunia, dan aliran
modal akan berkurang dan tidak mengglobal.
Alasan Standar Akuntansi Perlu Direvisi


Setiap saat selalu ada penemuan-penemuan baru,
perkembangan baru yang diciptakan untuk memudahkan aktivitas
manusia, sains, teknologi, dan juga bisnis. Dulu sebelum era
globalisasi tidak mengenal transaksi online, seiring perkembangan
jaman, setiap saat manusia bisa bertransaksi secara online baik
melalui komputer, smartphone dan media lainnya. Ini adalah salah
satu contoh sederhana dari sebuah perkembangan jaman.

Seiring itu pula, diperlukan perlakuan-perlakuan baru dari


sisi akuntansi terhadap berbagai bentuk perkembangan transaksi
dan pola bisnis. SAK maupun IFRS sebagai acuan dan rujukan
para pelaku akuntansi di tuntut untuk mengikuti perkembangan
yang ada, entah di revisi atau menambah aturan baru. Jika tidak di
ubah, SAK maupun IFRS hanya akan menjadi aturan usang yg
tidak sesuai dengan perkembangan jaman.
Kesimpulan

Untuk melakukan sebuah harmonisasi standar akuntansi
tidaklah mudah. Terdapat hambatan-hambatan dalam melakukan
penyeragaman standar akuntansi internasional diantaranya ialah
hambatan semantika dan hambatan sistem lingkungan yang
terdiri atas beberapa faktor yaitu, faktor hukum, politik, sosial
budaya, pendidikan dan keyakinan agama.

IASB melakukan upaya penyeragaman standar akuntansi


dengan membuat standar akuntansi internasional bernama IFRS
yang sebagian besar diadopsi dari IAS yang bisa diterima dan
berkualitas tinggi juga dapat dipahami dan dibandingkan tanpa
terhalang teritori negara.

Anda mungkin juga menyukai