Anda di halaman 1dari 10

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK

PROFILAKSIS BEDAH

PROGRAM PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIMIKROBA


(PPRA) RSKD IBU DAN ANAK PERTIWI PROV.SUL-SEL
PANDUAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS
BEDAH RSKD IBU DAN ANAK PERTIWI PROV.SUL-SEL
BERLANDASKAN PADA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 2406/MENKES/PER/XII/2011
TENTANG PEDOMAN UMUM PENGGUNAAN ANTIBIOTIK
PRINSIP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS
BEDAH
 Antibiotik Profilaksis Bedah adalah penggunaan antibiotik sebelum (30–60 menit
sebelum insisi pertama), selama, dan paling lama 24 jam pasca operasi pada kasus
yang secara klinis tidak memperlihatkan tanda infeksi dengan tujuan mencegah
terjadinya infeksi luka daerah operasi.

 Tujuan pemberian antibiotika profilaksis pada kasus pembedahan:


 Menurunkan dan mencegah kejadian Infeksi Daerah Operasi (IDO).
 Menurunkan mordibitas dan mortalitas pasca operasi.
 Menghambat munculnya flora normal resisten antibiotika.
 Meminimalkan biaya pelayanan kesehatan.

 Indikasi penggunaan antibiotika profilaksis ditentukan berdasarkan kelas operasi,


yaitu Operasi Bersih dan Bersih Kontaminasi.
INDIKASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASEIN OPERASI MENURUT KRITERIA MAYHALL

KELAS OPERASI DEFINISI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK


Operasi Bersih Operasi bersih adalah operasi yang dilakukan pada Kelas operasi bersih terencana umumnya tidak
daerah/ kulit yang pada kondisi prabedah tanpa memerlukan antibiotik profilaksis kecuali pada beberapa
peradangan dan tidak membuka traktur respiratorius, jenis operasi ,misalnya mata, jantung, dan sendi.
traktus gastrointestinal, orofaring, traktus urinarius atau
traktus bilier ataupun operasi terencana dengan
penutupan kulit primer atau tanpa penggunaan drain
tertutup.
Operasi Bersih- Operasi yang dilakukan pada traktus Pemberian antibiotika profilaksis pada kelas operasi bersih
kontaminasi (digestivus,bilier,urinarius,respiratorius, reproduksi kontaminasi perlu dipertimbangkan manfaat dan risikonya
kecuali ovarium) atau operasi tanpa disertai kontaminasi karena bukti ilmiah mengenai efektivitas antibiotik
yang nyata profilaksis belum ditemukan.
Operasi Operasi yang membuka saluran cerna, saluran empedu, Kelas operasi kontaminasi memerlukan antibiotik terapi
Kontaminasi saluran kemih, saluran napas sampai orofaring, saluran (bukan profilaksis).
reproduksi kecuali ovarium atau operasi yang tanpa
pencemaran nyata (Gross Spillage)
Operasi Kotor Adalah operasi pada perforasi saluran cerna, saluran Kelas operasi kotor rmemerlukan antibiotik terapi.
urogenital atau saluran napas yang terinfeksi ataupun
operasi yang melibatkan daerah yang purulent (inflamasi
bakterial). Dapat pula operasi pada luka terbuka lebih dari
4 jam setelah kejadian atau terdapat jaringan non vital
yang luas atau nyata kotor.
Rekomendasi Antibiotik Pada Profilakis Bedah Obstetric Gynecology

Prosedur Bedah Indikasi Antibiotik Profilaksis


Abdominal hysterectomy Recommended
Vaginal hysterectomy Recommended
Caesarean section Highly recommended
Assisted delivery/Spontaneus delivery Not recommended
Perineal tear Recommended for third/ fourth degree perineal tear
Manual removal of the placenta Should be considered
Induced abortion Highly recommended
Evacuation of incomplete miscarriage Not recommended
Intrauterine contraceptive device insertion (IUD) Not recommended
PRINSIP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS BEDAH
 Dasar pemilihan jenis antibiotika untuk tujuan profilaksis:
 Sesuaidengan sensitivitas dan pola bakteri patogen terbanyak pada kasus
bersangkutan (EMPIRIS).
 Spektrum sempit untuk mengurangi risiko resistensi bakteri.
 Toksisitas rendah.
 Tidak menimbulkan reaksi merugikan terhadap pemberian obat anestesi.
 Bersifat bakterisidal.
Gunakan Cephalosporin generasi I-II untuk profilaksis bedah. Pada
 Harga terjangkau. kasus tertentu yang dicurigai melibatkan bakteri anaerob dapat di
tambahkan metronidazol

Tidak dianjurkan menggunakan Cephalosporin generasi III-IV, golongan


Carbapenem, dan golongan Quinolone untuk profilaksis bedah
PRINSIP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS BEDAH

 Rute pemberian
Antibiotika profilaksis diberikan secara intravena.
Untuk menghindari risiko yang tidak diharapkan dianjurkan pemberian antibiotika
intravena drip.
 Waktu pemberian
Antibiotika profilaksis diberikan ≤ 30 – makismal 60 menit sebelum insisi kulit.
 Dosis pemberian
Untuk menjamin kadar puncak yang tinggi serta dapat berdifusi dalam jaringan
dengan baik, maka diperlukan antibiotika dengan dosis yang cukup tinggi. Pada
jaringan target operasi kadar antibiotika harus mencapai kadar hambat minimal 2 kali
kadar terapi.
 Lama pemberian
Durasi pemberian adalah dosis tunggal. Dosis ulangan dapat diberikan atas indikasi
perdarahan lebih dari 1500 ml atau operasi berlangsung lebih dari 3 jam
Alur Indikasi Penggunaan Antibiotik
Pengendalian lama pemberian antibiotik dilakukan dengan menerapkan automatic stop
order sesuai dengan indikasi pemberian antibiotik yaitu profilaksis, terapi empirik, atau
terapi definitif.

 Stiker Automatic Stop Order di pantau oleh


Apoteker (Farmasi) perhari.
 Peringatan disampaikan 24-48 jam sebelum
tanggal penghentian pemakaian antibiotik.
 Stiker ditempatkan pada Lembar Catatan
Perkembangan Pasien Terpadu (CPPT) atau
Lembar Integrasi yang terdapat instruksi
pemberian antibiotik oleh Dokter
penganggung Jawab Pasien (DPJP) yang ada di
rekam medis
Pencatatan penggunaan antibiotik
CONTOH PENULISAN

CEFAZOLIN 16/5/19
10.00 1X
2 gr/24 jam/IV
1 hari/Single dose

TTD petugas yg memberikan TTD DPJP TTD Apoteker yang


antibiotik atau petugas memantau Rekam Pemberian
penanggung jawab pasien Antibiotik