Anda di halaman 1dari 13

STUDI KASUS

EVIDENCE BASED MEDICINE


(EBM)
FAKULTAS FARMASI
IIK BHAKTI WIYATA KEDIRI
Evidence based medicine
(EBM)
Evidence based medicine (EBM) adalah proses yang
digunakan secara sistematik untuk melakukan evaluasi,
menemukan, menelaah atau me-review, dan
memanfaatkan hasil-hasil studi sebagai dasar dari
pengambilan keputusan klinik.

Menurut Sackett et al. (2000), Evidence-based medicine


(EBM) adalah suatu pendekatan medik yang didasarkan
pada bukti-bukti ilmiah terkini untuk kepentingan
pelayanan kesehatan penderita.

dalam praktek, EBM memadukan antara kemampuan dan


pengalaman klinik dengan bukti-bukti ilmiah terkini yang
paling dapat dipercaya.

salah satu syarat utama untuk memfasilitasi pengambilan


keputusan klinik yang evidence-based adalah dengan
menyediakan bukti-bukti ilmiah yang relevan dengan
masalah klinik yang dihadapi, serta diutamakan yang
berupa hasil meta-analisis, review sistematik, dan
randomized double blind controlled clinical trial (RCT).
Syarat utama pengambil
keputusan klinik yang evidence
based adalah :

Menyediakan bukti-bukti ilmiah yang


relevan dengan masalah klinik yang
dihadapi, serta diutamakan yang
berupa hasil meta-analisis, review
sistematik, dan randomized double
blind controlled clinical trial (RCT).

Evidence based medicine dapat


dipraktekkan pada berbagai situasi,
khususnya jika timbul keraguan dalam
diagnosis, terapi, dan penatalaksanaan
pasien.
Langkah Evidence-Based
Medicine (A5) :
1 2 3 4 5

Asking Acquiring Appraising Applying Assessing


Langkah-langkah
Evidence Based Medicine
Memformulasikan pertanyaan ilmiah yang berkaitan
dengan masalah penyakit yang diderita pasien

Penulusuran informasi ilmiah (evidence) yang


berkaitan dengan masalah yang dihadapi

Penelaahan terhadap bukti-bukti ilmiah yang ada

Menerapkan hasil penelaahan bukti-bukti ilmiah ke


dalam praktek pengambilan keputusan

Melakukan evaluasi terhadap efikasi dan efektivitas


intervensi
Langkah Evidence-Based Medicine
Contoh penerapan kasus dengan metode EBM

1. Langkah 1 : Merumuskan Pertanyaan Klinis


Foreground question –nya adalah
“Apakah benar Albothyl cairan obat luar konsentrat memiliki efek samping yang berbahaya ?”
Patient atau Problem (P) : Efek samping yang seperti apa ketika pasien menggunakan Albothyl
cairan obat luar konsentrat ?
Intervention (I) : Dapatkan diketahui pasien pengguna Albothyl mengalami efek samping yang
berbahaya?
Comparison (C) : Seberapa beratkah efek samping dari Albothyl dengan obat lain yang sejenis
pada pasien ?
Outcome (O) : Seberapa besar tindakan yang sudah dilakukan dalam menentukan proses
beredarnya Albothyl ?
2. Langkah 2 : Mencari Bukti
Pendekatan berbasis bukti sangat mengandalkan riset, yaitu data yang dikumpulkan secara
sistematis dan dianalisis dengan kuat setelah perencanaan riset.
Penerapan pada kasus :
Pre-market dengan uji klinik dengan pasien tertentu, Post-market adanya kajian dari BPOM
selama Albothyl beredar dan melakuan evaluasi selama obat beredar.
Melakukan analisa adanya 36 kasus kemudian dan memilih sumber bukti mencari dari
pubmed melalui google, mencari data hasil analisa kandungan dari Albothyl dan mencari pada
artikel jurnal sebagai pendukung.
3. Langkah 3 : Menilai Kritis Bukti
Penilaian kritis kualitas bukti dari artikel riset meliputi penilaian tentang validitas
(validity), kepentingan (importance), dan kemampuan penerapan (applicability) bukti-
bukti klinis tentang etiologi, diagnosis, terapi, prognosis, pencegahan, kerugian, yang
akan digunakan untuk pelayanan medis individu pasien, disingkat “VIA”.
Penerapan kasus :
V : Metode sampel : a randomized control trial
Uji sample dengan proses pre tes dan pos tes terhadap Albothyl dengan jumlah
tertentu
I : Melakukan uji klinik dan melakukan analisa post tes BPOM, ahli farmakologi
universitas, klinisi, panitia penilai obat jadi, berkolaborasi untuk melakukan intervensi
sebagai penentu resiko dan probabilitas dari Albothyl
A : Berdasarkan penelitian, dapat dikatakan Albothyl memiliki efek samping yang
berbahaya
4. Langkah 4 : Menerapkan Bukti
Penerapan bukti intervensi perlu mempertimbangkan kelayakan (feasibility) penerapan
bukti di lingkungan praktik klinis.
Tindakan dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :
a. Membekukan ijin edar dengan menerbitkan surat keputusan dari BPOM
b. Menghentikan dan meminta untuk tidak memproduksi
c. Menarik dari peredaran dan memusnakan
d. Pada masyarakat awam meminta untuk menghentikan
e. Memberikan edukasi tentang edukasi tentang efek samping jangka pendek
sehingga tidak perlu terlalu cemas
5. Langkah 5 : Menerapkan Kinerja Penerapan EBM
a. Menerbitkan no ijin dan menarik
b. Memonitor agar tidak terjadi peredaran
c. Memberikan dan menerapkan KEI informasi yang baik dan secara intens dari
berbagai kalangan termasuk ahli farmasi dan apoteker
d. Masyarakat dan konsumen diminta untuk tenang dengan menjadi masyarakat
cerdas, melakukan update informasi di website BPOM dengan vitur “ceklik”,
hubungi Hallo BPOM
Studi Kasus
Langkah-langkah yang
harus dilakukan

Tentukan latar belakang masalah

Telaah masalah cari sumber informasi,


tentukan langkah-langkah sbg ahli farmasi
dan menerapkan metode Evidence Based
Medicine (EBM)

Rancangan evaluasi dan metode intervensi,


dengan menyebutkan kelebihan serta
kelemahan dari metode tersebut
Make a Plan

1 2 3 4 5

Mencari
Merumuskan sumber- Mengevaluasi
pertanyaan Menilai Menerapkan
sumber kinerja
klinis informasi, atau Kritis Bukti Bukti penerapan EBM
mencari bukti
THANK YOU
Retnaning Safitri M.Psi.,Psikolog