Anda di halaman 1dari 18

EVIDENCE BASED

PEMBERIAN PELAYANAN
PERAWATAN PADA KELOMPOK
VULNERABLE
AGRI A. AMALIA - ANNITA OLO – FEMYTA E. WIDIANSARI – INDAH B. TIWERY –
JUNI PURNAMASARI – MERI ANGGRYNI
Background
• Indonesia merupakan negara kepulauan. Secara letak geografis, Indonesia
merupakan negara yang rawan untuk terjadinya bencana alam. Maka tak heran,
hampir sepanjang tahun kita sering mendengar kejadian bencana alam.
• Berbagai bencana yang terjadi, banyak korban jiwa penduduk, menyebabkan
hancur sebagian besar infrastruktur, permukiman, bangunan pendidikan,
kesehatan, keamanan, sosial, dan ekonomi, serta bangunan-bangunan pemerintah.

Menurut Hadi & Buana (2017):


Setiap kejadian bencana, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan, menjadi korban dan paling
menderita daripada orang dewasa. Sebagai akibatnya mereka mengalami trauma fisik dan psikis yang
salah satunya karena kehilangan orang tua dan keluarganya; selain itu, keterbatasan pemenuhan
kebutuhan dasarnya seperti pangan, mengakibatkan mereka mengalami kekurangan gizi; pelayanan
kesehatan, sanitasi, dan air bersih di tempat penampungan (pengungsian) yang terbatas
mengakibatkan mereka mudah terserang berbagai macam penyakit; akses terhadap pendidikan dan
perolehan informasi.
Bencana?

• Bencana adalah peristiwa atau rangkaian


peristiwa yang disebabkan oleh alam, manusia
dan atau keduanya yang mengakibatkan
korban manusia, kerugian harta benda,
kerusakan sarana dan prasarana, lingkungan,
utilitas umum, hilangnya sumber-sumber
kehidupan, serta hilangnya akses terhadap
sumber kehidupan (Hadi & Faizal, 2017) .
• Pengertian Bencana Menurut Undang undang
Nomor 24 Tahun 2007.
Kelompok Rentan
Menurut UU No. 24 tahun 2007, pasal 55, ayat 2 kelompok rentan dalam situasi
bencana:
• individu atau kelompok yang terdampak lebih berat diakibatkan adanya
kekurangan dan kelemahan yang dimilikinya yang pada saat bencana terjadi
menjadi beresiko lebih besar, meliputi: bayi, balita, dan anak-anak; ibu yang
sedang mengandung / menyusui; penyandang cacat (disabilitas); dan orang
lanjut usia.
• Kelompok masyarakat yang rentan adalah orang lanjut usia, anak-anak, fakir
miskin, wanita hamil, dan penyandang cacat.
Menurut Human Rights Reference yang dikutip oleh Iskandar Husein disebutkan bahwa yang
tergolong ke dalam kelompok rentan adalah:

1. Refugees (pengungsi).
2. Internally Displaced Persons (IDPs) adalah orang-orang yang terlantar/
pengungsi.
3. National Minorities (kelompok minoritas).
4. Migrant Workers (pekerja migrant).
5. Indigenous Peoples (orang pribumi/ penduduk asli dari tempat
pemukimannya)
6. Children (anak).
7. Women (Perempuan)
Kelompok Rentan: Anak

“Children are
Fisiologis anak
more vulnerable
yang berbeda dari Psikososial anak: tidak
than adults in
orang dewasa: dapat membedakan
emergency Stress mental akibat
resiko kehilangan situasi emergency,
situations. Take bencana menjadi lebih
panas, dehidrasi, lebih suka berteriak,
steps to protect berat pada anak: anak
mudah cedera, menangis,memerlukan
children”…(CDC, merasa kurang kendali,
infeksi, (CDC, orang dewasa saat
2017) tidak mengerti dengan
2017) situasi emergency situasi, memiliki
(CDC, 2017) pengalaman yang sedikit
tentang koping pada
situasi yang sulit
Reaksi Anak Terhadap Bencana

Reaksi umum terhadap distress yang akan dihadapi


terus menerus oleh sebagian besar anak.

Anak yang langsung terkena bencana dapat sering kali


sedih, perilaku terkait kejadian jika anak teringat bencana,

akan teringat kembali jika mereka melihat atau


mendengar sesuatu yang mengingatkan thd bencana
Pemberian pelayananan pada kelompok vulnerable: Anak
Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
mengamanatkan dalam beberapa pasal, sebagai berikut:
a. Pasal 59, pemerintah dan lembaga negara lainnya, berkewajiban dan
bertanggungjawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak
dalam situasi darurat.
b. Pasal 60 dinyatakan antara lain, anak dalam situasi darurat adalah anak
korban bencana alam.
c. Pasal 62 dinyatakan perlindungan khusus tersebut dilaksanakan antara lain
melalui: Pemenuhan kebutuhan dasar dan Pemenuhan kebutuhan khusus.
Untuk mengurangi dampak bencana pada individu dari kelompok rentan :
anak, petugas-petugas yang terlibat dalam perencanaan dan penanganan
bencana perlu (Morrow, 1999 & Daily, 2010)

1. Mempersiapkan peralatan-peralatan kesehatan sesuai dengan kebutuhan


anak, contohnya ventililator untuk anak.
2. Melakukan pemetaan kelompok-kelompok rentan
3. Merencanakan intervensi-intervensi untuk mengatasi hambatan informasi
dan komunikasi.
4. Menyediakan transportasi dan rumah penampungan yang dapat diakses.
5. Menyediakan pusat bencana yang dapat diakses.
Pelayanan Keperawatan:

PRA SAAT POST


BENCANA BENCANA BENCANA
Adapun tindakan-tindakan spesifik untuk kelompok rentan : anak akan diuraikan
pada pembahasan berikut (Enarson, 2000; Federal Emergency Management Agency
(FEMA), 2010; Klynman et al., 2007; Powers & Daily, 2010; Veenema 2007):

Pra bencana
a. Memberikan pendidikan kesehatan dan melibatkan anak-anak dalam latihan
kesiagsiagaan bencana misalnya dalam simulasi bencana kebakaran atau
gempa bumi
b. Mempersiapkan fasilitas kesehatan yang khusus untuk bayi dan anak pada
saat bencana
c. Perlunya diadakan pelatihan-pelatihan penanganan bencana bagi petugas
kesehatan khusus untuk menangani kelompok-kelompok berisiko
Saat bencana

a. Mengintegrasikan pertimbangan pediatric dalam sistem triase standar yang


digunakan saat bencana.
b. Lakukan pertolongan kegawatdaruratan kepada bayi dan anak sesuai dengan
tingkat kegawatan dan kebutuhannya dengan mempertimbangkan aspek
tumbuh kembangnya, misalnya menggunakan alat dan bahan khusus untuk
anak dan tidak disamakan dengan orang dewasa
c. Selama proses evakuasi, transportasi, sheltering dan dalam pemberian
pelayanan fasilitas kesehatan, hindari memisahkan anak dari orang tua,
keluarga atau wali mereka
Pasca bencana
a. Usahakan kegiatan rutin sehari-hari dapat dilakukan sesegera mungkin
contohnya waktu makan dan personal hygiene teratur, tidur, bermain dan
sekolah
b. Monitor status nutrisi anak dengan pengukuran antropometri
c. Dukung dan berikan semangat kepada orang tua
d. Dukung ibu-ibu menyusui dengan dukungan adekuat, cairan dan emosional
e. Minta bantuan dari ahli kesehatan anak yang mungkin ada di lokasi evakuasi
sebagai voluntir untuk mencegah, mengidentifikasi,mengurangi resiko
kejadian depresi pada anak pasca bencana.
f. Identifikasi anak yang kehilangan orang tua dan sediakan penjaga yang
terpercaya serta lingkunganyang aman untuk mereka.
Evidence based practice (EBP)
D:\TUGAS SMT 2\DISMEN VURNARABLE\EBP VURNARABLE.docx
Kesimpulan

• Ketika terjadi bencana yang paling banyak menjadi korban ialah : bayi, balita, dan
anak-anak; ibu yang sedang mengandung / menyusui; penyandang cacat
(disabilitas); dan orang lanjut usia. Kelompok ini biasa disebut kelompok rentan.
Kelompok rentan adalah individu atau kelompok yang terdampak lebih berat
diakibatkan adanya kekurangan dan kelemahan yang dimilikinya yang pada saat
bencana terjadi menjadi beresiko lebih besar. Kerentanan adalah suatu keadaan
atau kondisi lingkungan dari suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah
atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bencana.
• Manajemen bencana dibagi menjadi 3 tahap : tahap pra bencana, bencana dan
pasca bencana. Tahap prabencana, tindakan yang dilakukan adalah pencegahan,
mitigasi (pemetaan). Tahap bencana, tindakan yang dilakukan adalah tanggap
darurat. Sedangkan tahap pasca bencana, tindakan yang dilakukan adalah
pemulihan, perbaikan dan penataan kembali serta mitigasi.
Reference
Binns, C. W., Lee, M. K., Tang, L., Yu, C., Hokama, T., & Lee, A. (2012). Ethical issues in infant feeding after disasters. Asia-Pacific Journal of Public
Health, 24(4), 672–680.
Hidaayah, N. (2014). Tanggap Bencana, Solusi Penanggulangan Krisis Pada Anak. Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol 7, No12, Pebruari 2014., hal 69-72
Hadi, U & Faizal, C. B. (2017). Pedoman Standar Layanan Kesiapan Keluarga Hadapi Bencana. Jakarta: Deputi Bidang Perlindungan Anak
Indriasari, F., N (2016). Pengaruh Pemberian Metode Simulasi Siaga Bencana Gempa Bumi Terhadap Kesiapsiagaan Anak Di Yogyakarta. Journal
Keperawatan Soedirman. Vol 11, No 3, November 2016.
Imas Maspupatun.(2017). Keefektifan play therapy untuk penanganan stress pasca trauma bencana alam. In Ifdil & Krishnawati Naniek (Eds.),
International Conference: 1st ASEAN School Counselor Conference on Inovation and Creativity in Counseling(pp.100-
109).Yogyakarta:IBKSPublishing.
Irman & hadiarni (2012). Model Konseling Trauma Pasca Gempa Melalui Terapi Permainan Kelompok Terhadap Siswa Madrasah Ibtidaiyah Dan
Madrasah Tsanawiyah Di Kota Padang. Prosiding International Seminar & Workshop Post Traumatic Counseling” tanggal 6 - 7 Juni 2012 di STAIN
Batusangkar
Madyawati, Zubadi dan Yudi. ( 2016) The Development Of Multiple Intelligence Based Play Therapy Media For Children After The Disaster In
Central Java. The 4th University Research Coloquium. ISSN 2407-9189
Mukhadiono, M., Subagyo, W., & Wahyudi, W. (2018). Pemulihan PTSD dengan Play Therapy pada Anak-anak Korban Bencana Tanah Longsor di
Kabupaten Banjarnegara. Jurnal Keperawatan Soedirman, 11(1), 62-68.
Nilamadab,K. (2009). Psychological Impact of Disasters on Children: Review of Assessment and Interventions Nilamadhab Kar Wolverhampton,
United Kingdom. World J Pediatr 2009; 5 (10); 5-11.
Rahman. A .(2018). Analisa Kebutuhan Program Trauma Healing Untuk Anak-Anak Pasca Bencana Banjir Di Kecamatan Sungai Pua Tahun 2018 :
Implementasi Manajemen Bencana
Sarinin. D.S & Tololiu. T. A. (2017). Effectiveness Of Cognitive Behavior Therapy In Comparison To CBT-Plus Play Therapy Among Children With
Post-Traumatic Stress Disorder In Manado, Indonesia. International Journal of Research in Medical Sciences. pISSN 2320-6071-eISSN 2320-6012.
Sholihat, I & Nasrullah, D., D. (2017). Konseling pada anak korban bencana alam: play therapy perspektif. In Ifdil, I., Bolo Rangka,I., & Adiputra, S.
(Eds.), Seminar & Workshop Nasional Bimbingan dan Konseling: Jambore Konseling 3 (pp. 119–125). Pontianak: Ikatan Konselor Indonesia (IKI)
Soelistyowati E., dkk., (2017). Influence Of Disaster Preparedness Education On SDN Pacet 1 Students Preparedness Against Disaster At Mojokerto.
Proceeding Surabaya International Health Conference
Tessa J, et.al., (2018). Evaliation and Gab Analysis of Pediatric Disaster Preparednes Resources. Disaster Med Public Healt Preparedness
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002
Undang undang Nomor 24 Tahun 2007