Anda di halaman 1dari 16

M A T E R I 3

PUEBI
PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA
INDONESIA
DASAR-DASAR PENULISAN ILMIAH

BAHASA INDONESIA
DOSEN PENGAMPU: LINDA S. WULANDARI, M.HUM.
PERUBAHAN EYD MENJADI EBI
• Perubahan EYD menjadi EBI  2015 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia.
• Alasan adanya perubahan  bahasa bersifat dinamis.
• Perubahan bahasa dapat terjadi pada tataran fonologi, morfologi, sintaksis,
semantis, maupun leksikon.
• Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia, maka
diputuskan hasil-hasil sebagai berikut.
1. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dipergunakan bagi instansi
pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penggunaan Bahasa Indonesia secara
baik dan benar.
2. Pada saat peraturan menteri ini berlaku, maka Peraturan Menteri Pendidikan No
46 Tahun 2009 tentang Pedoman Ejaan Umum Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan dicabut dan sudah dinyatakan tidak berlaku.
• Meskipun terjadi penggantian nama, tidak ada perbedaan mendasar antara EYD
dengan PUEBI. Perbedaan PUEBI dan EYD yang ditemukan dalam antara lain
sebagai berikut.
1. Penambahan huruf vokal diftong. Di peraturan EYD hanya terdapat tiga
huruf diftong, yaitu ai, au, dan oi. Di PUEBI, huruf diftong ditambah satu yaitu ei,
misalnya pada kata survei dan geiser.
2. Dalam penggunaan huruf kapital, pada peraturan EYD tidak ditentukan
bahwa huruf kapital digunakan untuk menulis unsur julukan. Dalam PUEBI, unsur
julukan diatur dengan penulisan awal menggunakan huruf kapital.
3. Dalam penggunaan huruf tebal, dalam peraturan EYD, fungsi huruf tebal
ada tiga, yaitu (1) menuliskan judul buku, bab, dan semacamnya, (2)
mengkhususkan huruf, dan (3) menulis lema atau sublema dalam kamus. Dalam
EBI, fungsi ketiga dihapus.
1. PENULISAN HURUF KAPITAL
a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.
Misalnya:
Apa maksudnya?
Dia membaca buku.
b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan.
Misalnya:
Amir Hamzah
Wage Rudolf Supratman
Jenderal Kancil
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang merupakan nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
mesin diesel
5 ampere
10 volt
Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang bermakna anak dari, seperti bin, binti, boru,
dan van.
c. Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
“Besok pagi,” kata dia, “kita akan pulang.”
d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Islam Alquran
Allah Tuhan
Allah menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.
e. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang,
termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.
Misalnya:
Sultan Hasanuddin
Haji Agus Salim
Agung Permana, Sarjana Hukum
f. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan
yang dipakai sebagai sapaan.
Misalnya:
Selamat datang, Yang Mulia.
Selamat pagi, Dokter.
Silakan duduk, Prof.
g. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai
pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Profesor Supomo
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Gubernur Jawa Barat
h. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
Saya menggunakan bahasa Indonesia.
bahasa Inggris
suku Jawa
bangsa Indonesia
tidak dipakai pada nama bangsa, suku, dan bahasa yang ditulis pada bentuk kata turunan, misalnya,
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan
i. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari besar atau hari raya.
Misalnya:
tahun Hijriah tarikh Masehi
bulan Agustus bulan Maulid
hari Jumat hari Galungan
hari Lebaran hari Natal
j. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah.
Misalnya:
Konferensi Asia Afrika
Perang Dunia II
k. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
Jakarta
Pulau Miangas
Bukit Barisan
Tidak dipakai pada
jeruk bali (Citrus maxima) petai cina (Leucaena glauca)
gula jawa (gula merah) kunci inggris
l. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna) dalam negara, lembaga,
badan, organisasi, atau dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.
Misalnya:
Republik Indonesia
Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
m. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam judul
buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan,
yang, dan untuk, yang tidak terketik pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
n. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, atau sapaan.
Misalnya:
S.H. sarjana hukum
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat
S.S. Sarjana sastra
o. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, adik,
dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacauan.
Misalnya:
“Kapan Bapak berangkat?”tanya Hasan.
Dendi bertanya,”Itu apa, Bu?”
3. Huruf Miring
a. Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama surat kabar yang
dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Saya sudah membaca buku Salah Asuhan karangan Abdoel Moeis.
Majalah Poedjangga Baroe menggelorakan semangat kebangsaan.
b. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau
kelompok kata dalam kalimat.
Misalnya:
Huruf terakhir kata abad adalah d.
dia tidak diantar, tetapi mengantar.
c. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
Upacara peusijeuk (tepung tawar) menarik perhatian wisatawan asing yang
berkunjung ke Aceh.
Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia Mangostana.
4. Huruf Tebal
a. Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring.
Misalnya:
Huruf dh, seperti pada kata Ramadhan, tidak terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan.
Kata et daklam ungkapan ora et labora berarti = dan’.
b. Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan bagian-bagian karangan, seperti judul buku, bab, atau
subbab.
Misalnya:
1.1 Latar Belakang dan Masalah
1.1.1 Latar Belakang
1.1.2 Masalah
1.2 Tujuan
5. Singkatan dan Akronim
a. Singkatan Tanpa Tanda Titik
Contah: BUMN BPKP DPR
PGRI LBH DKI
Contoh yang menggunakan gabungan huruf dan angka:
BP7 Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila
P3AD Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat
b. Singkat dengan Tanda Titik
Contoh: Salah Betul
a/n; an; A.N. a.n. (atas nama)
d/a; da d.a. (dengan alamat)
c. Singkata Ukuran
Contoh: 0,5 kg 50 m 10 ml
10 km 10 mm 50 m2
6. Tanda Baca
A.Tanda Titik (.)

a) Penomoran Bagian Karangan b) Penulisan Judul dan Subjudul


Contoh: Salah Contoh: Salah
A. Program Usaha.
1. Tahap Persiapan Program. Sukses Usaha lewat Waralaba.
1.1. Penerimaan Warga Belajar. Sukses Sarjana UI ’80: Kumpulan Biografi.
1.2. Penerimaan Penyelenggara. Etos Kerja Guru.
Contoh: Benar Contoh: Benar
A. Program Usaha Usaha Lewat Waralaba
1. Tahap Persiapan Program
1.1 Penerimaan Warga Belajar Sarjana UI ’80: Kumpulan Biografi
1.2 Penerimaan Penyelenggara Etos Kerja Guru
b. Tanda Koma (,)
a. Gelar Akademik
Contoh:
Nama diri dan Gelar Nama diri dan Singkatan Unsurnya
Bayu Maharani, S.S. Bayu Maharani S.S. (Suri Suroto)
R.M. Pratama, M.M. R.M. Pratama M.M. (Mahadi Muhtar)
b. Kalimat Majemuk
Contoh:
Anak Kalimat Mendahului Induk Kalimat
(1) Setelah masalah penyaluran dana dikaji, koperasi akan menyalurkan dana untuk Kelompok Belajar Usaha
Mandiri.
(2) Agar masyarakat mendapatkan gambaran tentang gizinya, Depkes melakukan penelitian berbagai makanan
kecil yang dijual di pasar.
Anak Kalimat Mengikuti Induk Kalimat
(1) Koperasi akan menyalurkan dana untuk Kelompok Belajar Usaha Mandiri setelah masalah penyaluran dana
dikaji
(2) Depkes melakukan peneleitian berbagai makanan kecil yang dijual di pasar agar masyarakat mendapatkan
gambaran tentang gizinya.
c. Tanda Titik Koma (;)
Contoh:
Di rumah Ibu mengeluh tentang harga beras; di kantor Ayah marah-marah karena pekerjaanya bertambah; di kelas aku bingung karena belum
mengerjakan pekerjaan rumah.
Contoh:
Syarat-syarat menjadi seorang guru adalah
a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. berkewarganegaraan Indonesia; dan
c. berijazah pendidikan guru.
d. Tanda Titik Dua (:)
Contoh:
(1) Faktor yang menaikkan produksi ikan, adalah sebagai berikut:
a. benih ikan yang baik,
b. air yang tidak kotor, dan
c. pakan yang bermutu tinggi.
e. Tanda Hubung (-)
Contoh:
(1) a) Merakit soal adalah menyusun soal-soal hingga siap diujikan.
(2) a) Chairil Anwar adalah penyair tahun 1950-an.
b) Dewasa ini rakyat se-Indonesia dapat merasakan suasana demokrasi.
f. Tanda Pisah (--)
a. Mengapit Keterangan
(1) Berita tentang pembuangan bayi—alangkah sadisnya!—di tempat sampah menimbulkan kemarahan kaum ibu.
b. Bermakna sampai dengan
(2) Kami terjebak kemacetan di Cianjur ketika menempuh perjalanan Jakarta—Bandung minggu lalu.
g. Tanda Elipsis (...)
Penanda ada bagian yang dihilangkan.
(3) Pengawasan yang ketat...akan mendukung kelancaran dan ketepatan pelaksanaan pembangunan.....
h. Tanda kurung ((...))
(4) Permintaan alat tulis (yang diperlukan) dapat diajukan hari ini, seperti (1) pensil, (2) buku tulis, dan (3) pena.
i. Tanda kurung siku ([...])
(5) Harga kebutuhan pokok (seperti beras dan gula [lokal dan impor]) diramalkan akan naik.
j. Tanda petik (“...”)
1. Pengapit petikan langsung; 2. pengapit judul karangan artikel, makalah dalam buku, majalah, atau surat kabar yang
dipakai dalam kalimat; dan 3. pengapit kata yang mempunyai arti khusus.
(6) Kata Andin, “Saya akan hadir di pestanya.”
(7) Dia sudah membaca artikel “Kampus Impianku: PNJ” di majalah itu.
k. Tanda petik tunggal (‘...’)
(8) Saya sudah download ‘unduh’ file ‘berkas’ PDF itu dari e-library.
l. Tanda garis miring
1. Pengganti kata “atau” atau “tiap”
m. Tanda Penyingkat (‘)
(9) Dia pergi ke Bandung’kan?
(10) Ir. Mahendra lahir pada tahun ‘70-an.
‘lah (telah) ‘tuk (untuk) ‘kan (akan/bukan)

LATIHAN PENYUNTINGAN PARAGRAF


• Awal mula alat hitung barang kali di mulai dengan sempoa atau abakus yang di jalankan secara manual. Alat ini , -konon , berasal dari asia
(cina) lebih dari 5000 tahun yang lalu-, dengan pelbagai versinya di pakai secara luas di berbagai belahan dunia seperti yunani kuno, mesir
kuno, juga Romawi, rusia, jepang, serta india dan cina. “Sempoa” paling tua agaknya semacam papan tempat Babilonia menaburkan pasir
diatasnya untuk bisa melacak huruf untuk menulis. Sampai akhir abad ke-XVII sempoa masih banyak di pakai di Eropa. Bahkan di kawasan
Asia seperti cina dan Jepang serta Timur Tengah alat ini masih di pakai sampai sekarang.

• Awal mula alat hitung barang kali di mulai dengan sempoa atau abakus yang di jalankan secara manual. Alat ini , -konon, berasal dari asia
(cina) lebih dari 5000 tahun yang lalu-, dengan pelbagai versinya di pakai secara luas di berbagai belahan dunia seperti yunani kuno, mesir
kuno, juga Romawi, rusia, jepang, serta india dan cina. “Sempoa” paling tua agaknya semacam papan tempat Babilonia menaburkan pasir
diatasnya untuk bisa melacak huruf untuk menulis. Sampai akhir abad ke-XVII sempoa masih banyak di pakai di Eropa. Bahkan di
kawasan Asia seperti cina dan Jepang serta Timur Tengah alat ini masih di pakai sampai sekarang.