Anda di halaman 1dari 18

Asfiksia Neonatorum

Di Susun oleh Kelompok I :

Ahmad Harun P07120118376R


Abdul Muin P07120118377R
Abul Chair P07120118378R
Adenan P07120118379R
Agus Dianto P07120118380R
Arys Purnomo P07120118381R
Asrofi P07120118382R
Bambang Gunawan P07120118383R
Darminto P07120118384R
Edikhas P07120118385R
Pengertian

Asfiksia neonatorum adalah keadan bayi


baru lahir yang tidak dapat bernapas
secara spontan dengan ditandai adanya
hipoksemia (penurunan pao2), hiperkarbia
(peningkatan paco2), dan asidosis
(penurunan PH)
Etiologi

Proses terjadinya asfiksia neonatorum ini dapat terjadi pada masa kehamilan,
persalinan atau segera setelah bayi lahir.

1. Asfiksia dalam kehamilan


- Penyakit infeksi akut
- Penyakit infeksi kronik
- Keracunan oleh obat-obat bius
- Uraemia dan toksemia gravidarum
- Anemia berat
- Cacat bawaan
- Trauma
Etiologi

2. Asfiksia dalam persalinan


- Kekurangan O2
- Partus lama (CPD, rigid serviks dan atonia/ insersi uteri)
- Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus
mengganggu sirkulasi darah ke uri
- Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta.
- Prolaps fenikuli tali pusat akan tertekan antara kepaladan panggul.
- Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya.
- Perdarahan banyak : plasenta previa dan solutio plasenta.
- Kalau plasenta sudah tua : postmaturitas (serotinus), disfungsi uteri.
- Paralisis pusat pernafasan
- Trauma dari luar seperti oleh tindakan forceps
- Trauma dari dalam : akibat obat bius
Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala asfiksia dapat muncul mulai dari saat kehamilan hingga
kelahiran bayi.

1. Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari
100x/mnt, halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
- Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia
- Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia
- Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat
Tanda dan Gejala

2. Pada bayi setelah lahir


- Bayi pucat dan kebiru-biruan
- Usaha bernafas minimal atau tidak ada
- Hipoksia
- Asidosis metabolik atau respiratori
- Perubahan fungsi jantung
- Kegagalan sistem multiorgan
- Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala
neurologik, kejang, nistagmus (gerakan ritmik tanpa kontrol pada mata
yang terdiri dari tremor kecil yang cepat ke satu arah dan yang lebih
besar, lebih lambat, berulang-ulang ke arah yang berlawanan) dan
menangis kurang baik/tidak baik
Patofisiologi

Janin yang kekurangan O2 sedangkan kadar CO2-nya bertambah,


akan menyebabkan muncul rangsangan terhadap nervus vagus
sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika kekurangan
O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi
lagi. Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ
menjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan
mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian
terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus
tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak
berkembang.
Patofisiologi

Asfiksia neonatorum diklasifikasikan sebagai berikut :


1. Asfiksia Ringan ( vigorus baby)
Skor APGAR 7-10, bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan i
istimewa.
2. Asfiksia sedang ( mild moderate asphyksia)
Skor APGAR 4-6, pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung
lebih dari 100/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek
iritabilitas tidak ada.
3. Asfiksia Berat
Skor APGAR 0-3, pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung
kurang dari 100x/menit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-
kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada.
Patofisiologi
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosisa


asfiksia pada bayi baru lahir menurut Prawirohardjo (2005), yaitu :
1. Denyut jantung janin
2. Mekonium dalam air ketuban
3. Pemeriksaan darah janin
4. Laboratorium
5. Tes combs langsung pada daerah tali pusat
Penatalaksanaan
Tindakan untuk mengatasi
asfiksia neonatorum disebut
resusitasi bayi baru lahir yang
bertujuan untuk
mempertahankan kelangsungan
hidup bayi dan membatasi gejala
sisa yang mungkin muncul.
Asuhan Keperawatan
Asuhan Keperawatan
Asuhan Keperawatan
Asuhan Keperawatan
Asuhan Keperawatan
Asuhan Keperawatan
Asuhan Keperawatan