Anda di halaman 1dari 34

Pemeriksaan Serologi

Terhadap Virus Influenza

Oleh Kelompok 9 :
Dilla Sinansari
Dhea Friyunisa Ananda
Regita Aulia Rosalna
Monafia Syah
Anisa Bela Amalia
Syadiah Rindi Astari
Saskia Ratna Ayu
Ade Sri Lestari
Beta Lutfi Ayu N
Alicka Putri Mauly
Yosetri Meilintina
 Influenza merupakan salah satu penyakit yang paling sering ditemui dan
sangat mudah menular melalui udara. Penyakit influenza merupakan
penyakit pada saluran nafas bagian atas yang disebabkan oleh infeksi virus
influenza. Sama seperti infeksi virus pada umumnya, influenza berlangsung
sekitar 2-7 hari dan akan sembuh seiring dengan meningkatnya sistem imun
seseorang. Penyakit ini ditemukan di seluruh negara dan terutama terjadi
pada musim dingin di negara 4 musim dan sepanjang tahun di negara tropis.
Meskipun sudah pernah menderita influenza, seseorang tetap beresiko
untuk menderita penyakit ini di kemudian hari.

 Manifestasi klinis penyakit influenza sangat beragam, mulai dari gejala yang
ringan sampai dengan gagal nafas. Pada pasien yang menderita penyakit
kronis, influenza dapat berlangsung lebih lama, berlanjut pada komplikasi
(terutama infeksi dan peradangan saluran nafas bagian bawah, seperti
pneumonia), dan bahkan berakibat fatal. Manifestasi serius penyakit
influenza juga sering terjadi pada anak-anak berusia kurang dari 6 bulan dan
lanjut usia (lansia), wanita hamil, dan penderita imunosupresi. Patofisiologi
influenza dimulai dari inhalasi droplet virus influenza, diikuti replikasi virus
dan kemudian infeksi virus menyebabkan inflamasi pada saluran pernafasan.
 Virus influenza masuk melalui inhalasi dari droplet yang infeksius, aerosol
partikel mikro, maupun inokulasi langsung lewat sentuhan tangan dari
penderita.Virus kemudian mengikat reseptor asam sialat yang terdapat pada
sel epitel jalan napas, khususnya di trakea dan bronkus. Kemudian, replikasi
virus mencapai puncaknya dalam 48 jam pasca infeksi dan jumlah virus
berhubungan langsung dengan derajat keparahan penyakit. Pada kasus yang
berat, terdapat perluasan infeksi virus mencapai bagian paru-paru distal yang
sesuai dengan karakteristik pneumonitis interstisial. Kerusakan pada alveoli
yang disertai pembentukan membran hialin menyebabkan perdarahan dan
eksudat keluar dari kapiler alveolar menuju lumen yang kemudian
mengakibatkan gangguan pertukaran gas dan disfungsi napas berat.

 Respon imun tubuh terhadap virus influenza mencakup peningkatan sitokin


proinflamasi seperti IL-6 dan IFN-α oleh sel yang terinfeksi. Peningkatan
sitokin memuncak pada 48 hari kedua pascainfeksi dan sesuai dengan berat
gejala yang dialami pasien. Antibodi serum (IgM, IgG, dan IgA) terhadap
hemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA) baru muncul setelah satu
minggu pascainfeksi dan belum berperan dalam proteksi terhadap penyakit
akut, namun dapat memberikan imunitas dan proteksi terhadap reinfeksi
oleh tipe virus yang sama hingga beberapa tahun.
Rapid
Diagnosis

4
pemeriksaan
Netralisasi serologi Aglutinasi
terhadap
virus

Uji
Hambat
A. Uji Rapid Diagnosis
 Tes diagnostik cepat (RDT) adalah tes diagnostik medis yang cepat dan mudah dilakukan.
RDT cocok untuk penyaringan medis awal atau darurat dan untuk digunakan di fasilitas medis
dengan sumber daya terbatas. Mereka juga memungkinkan pengujian di tempat perawatan di
layanan primer untuk hal-hal yang sebelumnya hanya tes laboratorium dapat mengukur.
Mereka memberikan hasil di hari yang sama dalam dua jam, biasanya dalam waktu sekitar 20
menit.
 Uni Eropa menetapkan bahwa tes cepat berarti perangkat medis in vitro-diagnostik kualitatif
atau semi-kuantitatif, digunakan secara tunggal atau dalam seri kecil, yang melibatkan
prosedur non-otomatis dan telah dirancang untuk memberikan hasil yang cepat.
 Beberapa contoh RDT tercantum di bawah ini:
- Tes antibodi cepat
- Tes HIV cepat
- Reagin plasma cepat
- Tes antigen cepat
- Tes diagnostik influenza cepat
- Tes deteksi antigen malaria
- Tes radang cepat
- Tes urease cepat
Prinsip Rapid Diagnosis
Certes influenza Avian flu berdasarkan pada prinsip
kualitatif immunokromatografi Assay untuk mendeteksi
tipe virus flu burung dari sampel unggas yaitu dari
swab trachea unggas. Jika sampel (+) Ag diluent akan
bereaksi dengan konjugat warna merah (anti-influenza
A monoklonal protein). Jika sampel (-) tidak ditemukan
Ag A mungkin disebabkan konsistensi yang lebih rendah
dari batas deteksi, dan tidak akan bereaksi
dengan konjugat berwarna merah namun bereaksi
dengan konjugat hijau
Alat dan Bahan
Alat :
 Strip test
 Tabung reaksi
 Rak tabung
Bahan :
 Sampel feses unggas yang telah dibuat
suspensi
Cara Kerja
1. Dibuka kemasan strip test
2. Masukkan sampel feses ke dalam tabung
reaksi, letakkan di rak tabung
3. Dicelupkan strip test kedalam sampel
hingga tanda garis batas (max), tunggu
hingga 1 menit lalu angkat
4. Diamkan, kemudian baca hasil kurang dari
10 menit
Skema Kerja

Di buka strip Diangkat striptest,


test dari Di celupkan strip test Baca hasil kurang
wadahnya ke dalam sampel dari 10 menit
selama 1 menit
Interpretasi Hasil

 Hijau : kontrol
 Merah : Sampel

(+) (-) Invalid


 NEGATIF : Hanya garis HIJAU yang muncul di jendela hasil disitus yang
ditandai dengan huruf C (garis kontrol).
 POSITIF : Selain garis kontrol garis HIJAU, garis MERAH juga di Tempat
yang ditandai dengan huruf T (jalur tes) dijendela hasil
 INVALID : tidak adanya garis HIJAU ATAU MERAH pada jendela hasil
atau hanya muncul garis MERAH saja di daerah test
Hasil Pengamatan

Hanya terbentuk garis


berwarna (hijau) pada
area C (kontrol)
Hasil : Negatif (-)
B. Uji Hemaglutinasi
 Uji hemaglutinasi (HA) digunakan untuk
mengukur kuantitas titer virus/antigen.Virus yang
bisa dilakukan uji HA hanya untuk virus yang
dapat mengaglutinasi sel darah merah (RBC)
seperti virus Newcastle Disease, Avian Influenza,
dan virus Egg Drop Syndrome, baik virus yang
masih hidup ataupun yang sudah diinaktifasi (mati).
Untuk virus yang masih hidup pengujian HA harus
dilakukan didalam Biosafety Cabinet (BSC) supaya
tidak terpaparnya lingkungan baik area
laboratorium maupun lingkungan luar
laboratorium.
Prinsip uji Hemaglutinasi
Prinsip uji HA adalah terjadinya ikatan antara virus/antigen dengan
sel darah merah yang ditandai dengan adanya aglutinasi (butiran
seperti pasir). Pembentukan aglutinasi ini disebabkan karena adanya
ikatan virus/antigen dengan sel darah merah. Titer virus/antigen
dapat diketahui dengan melihat adanya aglutinasi di dasar lubang
microplate (seperti butiran pasir berwarna merah). Pengenceran
tertinggi terjadi pada lubang akhir yang masih memberikan
aglutinasi, misal terjadinya aglutinasi sampai lubang ke-8, maka titer
virus/antigen tersebut adalah og 28 atau 256 UHA. Untuk
hemaglutinasi yang memberikan hasil negatif (tidak adanya
virus/antigen) dapat diamati apabila microplate dimiringkan 45
derajat sel darah merah (RBC) akan turun, seperti tetesan air mata.

Reaksi Uji HA : Ag + eritrosit HA


Alat dan Bahan
Alat :
 Tabung reaksi (10 buah)
 Rak tabung
 Pipet ukur 1ml
 Bulp pipet
 Inkubator

Bahan :
 Cairan allantois dari hasil isolasi telur berembrio
 NaCl Fisiologis 0,85%
 Suspensi eritrosit 0,5% (darah vena dan EDTA)
Cara Kerja
A. Cara pembuatan suspensi eritrosit 0,5%
1. Diambil darah vena (golongan O) sebanyak 3ml, dimasukkan kedalam tabung sentrifuge yang
sudah diisi EDTA sebanyak 30 µl. Kemudian di sentrifuge dengan kecepatan 2500 rpm
selama 5 menit
2. Kemudian buang supernatan, dicuci dengan NaCl fisiologis sesuai volume awal darah
3. Kemudian sentrifuge kembali dengan kecepatan 2500 rpm selama 5 menit, buang
supernatan, tambahkan NaCl fisiologis 3kali dari volume awal
4. Kemudian sentrifuge kembali dengan kecepatan 2500 rpm selama 5 menit. Lihat supernatan,
bila sudah jernih maka proses pencucian bisa dihentikan. Supernatan dibuang, maka
didapatkan suspensi eritrosit 100%. Diencerkan suspensi eritrosit menjadi 10%, kemudian
0,5%, dengan perhitungan :

V1 x%1 = V2 x %2
V1 X100 = 200 X 10
V1 = 20 ml (darah) + diaddkan
dengan 180 ml NaCl fisiologis
5. Dibuat suspensi eritrosit 0,5% dari 100% sebanyak 200ml, dengan perhitungan sbb :
V1 x%1 = V2 x %2
V1 X10 = 200 X 0,5
V1 = 10 ml (darah) + diaddkan
dengan 190 ml NaCl fisiologis
B. Pengujian HA (Hemaglutinasi)
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibuat pengenceran, sebagai berikut :
- Dipipet NaCl fisiologis 0,85% sebanyak 0,3 µl pada tabung 1, 0,2 µl pada tabung
2-9, dan 0,4 µl pada tabung 10
- Ditambahkan cairan allantois sebanyak 0,1 µl pada tabung 1, lalu dihomogenkan
dengan cara sedot buang menggunakan pipet ukur. Kemudian dipindahkan 0,2 µl
ke tabung 2
- Ulangi langkah diatas pada tabung 3-9, kemudian pada tabung ke-9 dibuang 0,2µl
- Ditambahkan NaCl Fisiologis 0,85% pada tabung Kontrol Eritrosit (KE) atau pada
tabung ke-10 sebanyak 0,4 µl sebagai kontrol negatif
- Ditambahkan NaCl fisiologis 0,85% sebanyak 0,2 µl pada tabung 1-9
- Ditambahkan suspensi eritrosit 0,5% sebanyak 0,4 µl pad seluruh tabung (tabung
1-10)
- Dihomogenkan masing-masing tabung secara perlahan

3. Inkubasi dengan inkubator pada suhu 37oC selama 40-60 menit

4. Kemudian baca hasilnya


Interpretasi Hasil

(+) : terjadi (-) : terjadi endapan


hemaglutinasi hemaglutinasi
C. Uji Hambat Hemaglutinasi
 Uji Hemagglutination Inhibition (HI) adalah
merupakan metode uji serologi untuk mengetahui
kadar/titer antibody yang terkandung dalam
serum pada unggas yang sudah divaksin atau
akibat dari paparan virus lapangan. Serum
diperoleh dari darah unggas yang keluar beberapa
saat setelah pengambilan, selanjutnya serum di
inaktifasi pada suhu 56°C selama 30 menit.
 Keberadaan antibody dalam jumlah tertentu
memperlihatkan effektivitas dari vaksin dalam
memproteksi unggas tersebut dari suatu penyakit
 Proses hemaglutinasi ini terjadi akibat aktivitas
hemaglutinin yang terdapat pada amplop virus
tersebut. Aktivitas hemagglutinasi berlangsung
maksimal selama satu jam karena dipengaruhi oleh
kerja enzim neuraminidase yang merusak ikatan pada
reseptor eritrosit dengan hemagglutinin dari virus.
 Pengamatan nilai titer antibody dari serum sampel
berdasarkan hasil pengenceran tertinggi (paling encer)
yang masih sanggup menghambat aglutinasi (RBC)
oleh antigen.
 Titer antibody setiap unggas akan bervariasi karena
dipengaruhi oleh beberapa kondisi seperti jumlah
virus yang menginfeksi, kesehatan ayam dan perbedaan
waktu infeksi (Purnamawati dan Sudarnika, 2008).
 Prinsip uji HI adalah menghambat terjadinya
agglutinasi sel darah merah (RBC) oleh virus
akibat terikatnya virus tersebut dengan antibody
spesifik. Oleh karena itu uji HI hanya bisa
digunakan untuk virus yang mengagglutinasi RBC
(syukron et al., 2013) seperti Newcastle Disease,
Avian Influenza dan Egg Drop Syndrome.

 Reaksi : Ag + Abspesifik + eritrosit HI


Alat dan Bahan
Alat :
 Tabung reaksi (10 buah)
 Rak tabung
 Pipet ukur 1ml
 Bulp pipet
 Inkubator

Bahan :
 Serum I dan II
 Antigen 4 UHA (dibuat dari 1 UHA)
 NaCl Fisiologis 0,85%
 Suspensi eritrosit 0,5% (darah vena dan EDTA)
Cara Kerja
A. Cara pembuatan suspensi eritrosit 0,5%
1. Diambil darah vena (golongan O) sebanyak 3ml, dimasukkan kedalam tabung sentrifuge
yang sudah diisi EDTA sebanyak 30 µl. Kemudian di sentrifuge dengan kecepatan 2500
rpm selama 5 menit
2. Kemudian buang supernatan, dicuci dengan NaCl fisiologis sesuai volume awal darah
3. Kemudian sentrifuge kembali dengan kecepatan 2500 rpm selama 5 menit, buang
supernatan, tambahkan NaCl fisiologis 3kali dari volume awal
4. Kemudian sentrifuge kembali dengan kecepatan 2500 rpm selama 5 menit. Lihat
supernatan, bila sudah jernih maka proses pencucian bisa dihentikan. Supernatan dibuang,
maka didapatkan suspensi eritrosit 100%. Diencerkan suspensi eritrosit menjadi 10%,
kemudian 0,5%, dengan perhitungan :
V1 x%1 = V2 x %2
V1 X100 = 200 X 10
V1 = 20 ml (darah) + diaddkandengan 180 ml NaClfisiologis

5. Dibuat suspensi eritrosit 0,5% dari 100% sebanyak 200ml, dengan perhitungan sbb :
V1 x%1 = V2 x %2
V1 X10 = 200 X 0,5
V1 = 10 ml (darah) + diaddkandengan 190 ml NaClfisiologis
B. Cara Membuat Antigen 4 HAU :
1. Sebelum penambahan antigen padauji HI, antigen tersebut dilakukan uji HA untuk mengetahui titer
awal dari antigen tersebut
2. Lakukan ujiHA (caramengukur titer HA)
3. Setelahdiketahui titer awaldari antigen (missal titernya log 29 atau 512) kemudianuntukmendapatkan
4HAU, antigen diencerkandenganlarutan NaCl fisiologis
Cara Perhitungan :
1. Jika titer antigen 512, maka untuk dijadikan 4 HAU adalah : 512/4 = 128 (128 kali)
2. Untuk menjadikan 4 HAU adalah 1 bagian antigen diencerkan dengan 27 bagian larutan NaCl
fisiologis (1ml antigen + 127 ml NaCl fisiologis)
3. Untuk memastikan titer antigen 4 HAU, antigen yang telah diencerkan kemudian dilakukan uji HA
kembali

Pada uji HA sebelumnya, didapat titer pengenceran antigen adalah 1/128. Jadi :
 1 unit HA = 1/128
 4 unit HA = 4 x 1/128 = 1/32
 Kemudian buat antigen 4 UHA sebanyak 4ml :
 4 ml = 4 x 1/32 = 0,125 ml = 0,1 ml
 Sehingga, yang harus dibuat adalah :
0,1 ml antigen + diencerkan dengan 3,9 ml NaCl fisiologis
C.Titrasi sepasang serum dengan tes HI
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dilakukan langkah seperti pada tabel sebagai berikut :
3. Kemudian baca hasilnya
Interpretasi Hasil :

(+) terjadi (-) tidak terjadi


hemagglutinas hemagglutinasi
D. Uji Netralisasi
 Uji netralisasi virus digunakan megukur titer antibodi secara
kuantitatif dan identifikasi virus yang tidak diketahui, dengan
menggunakan antisera yang sudah diketahui. Uji netralisasi terdiri dua
tahap. Tahap pertama adalah virus dengan titer tertentu direaksikan
dengan serum pada beberapa titer tertentu pada tabung uji.
Campuran virus dan serum diinkubasikan bersama pada suhu tertentu
untuk jangka waktu tertentu. Tahap kedua, dilakukan pembiakan virus-
virus yang tidak ternetralisasi ke sistem indikator (media biakan)
media penumbuh virus diinkubasikan dan diamati sehingga dapat
diketahui adanya netralisasi yang ditandai dengan tidak tumbuhnya
virus pada sistem indikator. Oleh karenanya diperlukan sistem
indikator baik berupa hewan coba maupun telur tertunas serta biakan
jaringan yang bersifat Spesific Pathogen Free (SPF) (Soejoedono &
Murtini 2009).
 Uji netralisasi metode β dilakukan dengan mengencerkan serum yang diuji secara
seri dan dicampurkan dengan virus standar titer tertentu. Keuntungan teknik ini
penggunaan serumnya relatif sedikit, dapat digunakan untuk menguji virus dengan
titer yang rendah dan menggambarkan secara signifikan perbedaan netralisasi
antibodi antara serum kondisi akut ataupun baru sembuh penyakit tertentu.
Penghitungan indek netralisasi metode β dengan menghitung respon quantal, titik
akhir 50% dari netralisasi dihitung menggunakan metode Reed-Muench. Indek
netralisasi mdihitung dari titik terakhir. Metode α, pengenceran virus secara seri
dicampur dengan serum standar titer tertentu (ideal, serum tidak diencerkan).
Campuran serum dengan virus diinkubasi dan virus diencerkan kemudian diperiksa
sisa virusnya. Penghitungan sisa virus yang diperiksa dengan respon quantal, titik
akhir dari masing-masing serum dapat dihitung menggunakan metode Reed -
Muench (Hichner 1975).
 Uji netralisasi serum merupakan uji identifikasi antigen dan antibodi dengan melihat
kemampuan netralisasi antibodi (Ab) terhadap antigen (Ag). Uji netralisasi virus
lebih sensitif untuk mendeteksi antibodi spesifik H5 dan terutama lebih spesifik
pada antibodi dalam mendeteksi virus influenza sampai tingkat strain (Okuno et al.
1990).
 Namun, tidak terdapat protokol standar mendeteksi penetralisasi antibodi yang ada,
karena korelasi kekebalan terhadap perlindungan tubuh tidak dapat ditentukan
secara pasti.Vaksin yang menghasilkan titer antibodi, belum tentu mampu
menetralisasi virus lapang. Hal tersebut seharusnya ditangani bagian dari strategi
untuk mengembangkan vaksin yang cocok terhadap AI (Stephenson et al. 2005).
Antibodi, meskipun memiliki titer antibodi yang tinggi menjadi tidak bermanfaat
apabila tidak mampu menetralisasi antigen (virus) (Esfandiari et al. 2008).
Konsep Uji Netralisasi
1. Kemampuan netralisasi maternal antibodi yang terkandung dalam kuning
telur ayam terhadap virus AI isolat lapang dan menentukan titer antibodi asal
induk protektif terhadap infeksi virus AI diketahui dengan uji netralisasi yang
didesain melalui beberapa tahapan :
2. Pemeliharaan ayam petelur umur 22 minggu, pengambilan serum darah
sebelum dilakukan vaksinasi AI (VS,VC,VV,VM dan kontrol).
3. Vaksinasi dengan vaksin VS,VC,VV dan VM, dua minggu kemudian ayam dari
masing-masing kelompok diambil serumnya.
4. Deteksi menggunakan Uji HI pada serum ayam setelah 7 hari divaksin.
Antigen yang digunakan isolat Nagrak (2009) dan Lawang (2010).
Penggunaan kedua antigen tersebut berdasar adanya wabah didaerah Nagrak
tahun 2009 dan Lawang tahun 2010 pada beberapa breeding farm, yang telah
divaksinasi AI tetapi tetap terinfeksi virus AI.
5. Koleksi telur.
6. Pemisahan kuning telur dengan putih telur.
7. Pengujian HI pada kuning telur.
8. Pengujian SNT dari kuning telur dengan titer HI tinggi.
Alat dan Bahan
Alat-alat :
 Tabung reaksi
 Pipet ukur
 Tabung mikro EID50
 Inkubator
 Gunting bengkok
 Spuit 1 ml
 Rak tabung
 Pipet tetes
Bahan-bahan :
 Vaksin AI ( VS, VC, VV, VM dan kontrol )
 Virus isolat lapang titer 106 – 103
 Telur ayam berembrio
 PBS Antibiotik
 Kuning Te;ur
Langkah Kerja Uji Serum Netralisasi
Kemampuan antibodi yang terdapat dalam kuning telur untuk menetralkan virus AI diuji dengan uji
serum netralisasi. Uji serum netralisasi dilakukan terhadap kuning telur dari masing-masing kelompok
dengan virus isolat lapang (A/chicken/Nagrak/2009 dan A/chicken/Lawang/2010). Titer virus yang
digunakan 106 sampai dengan 103 EID50. Uji serum netralisasi ini menggunakan telur ayam berembrio
bebas antibodi AI H5 (spesific antibody negative) umur 10 hari. Uji serum netralisasi menggunakan
metode α dan dihitung dengan metode Reed-Muench. Pada uji ini virus diencerkan sedangkan titer
antibodi tetap. Rancangan uji serum netralisasi disajikan pada Tabel 2. Uji netralisasi dilakukan dengan
cara sebagai berikut :
1. Virus isolat lapang yang akan diuji dititrasi terlebih dahulu dengan uji titrasi pada telur ayam berembrio
(titrasi EID50).
2. Virus yang telah diketahui titernya diencerkan secara desimal menggunakan PBS antibiotik, sehingga
titernya mencapai 106, 105, 104 dan 103EID50.
3. Virus yang telah diencerkan dimasukan ke tabung mikro (microtube) masing-masing 0,5 ml. Tabung yang
telah berisi suspensi virus ditambahkan kuning telur yang akan diuji dengan perbandingan 1:1 (0,5 ml virus;
0,5 kuning telur) (Soejoedono et al. 2011).
4. Campuran virus dengan kuning telur diinkubasikan pada suhu 370C selama 30 menit atau suhu kamar 40
menit.
5. Masing-masing campuran diinokulasikan ke telur ayam berembrio melalui ruang alantois. Dosis inokulasi 0,2
ml/butir dan tiap pengenceran disuntikan pada tiga butir telur.
6. Telur yang telah diinokulasi diinkubasi selama 4 hari pada suhu 37oC.
7. Selama masa inkubasi diamati adanya kematian, setelah 4 hari embrio dalam telur dimatikan dengan
menyimpan pada suhu 40C semalam.
8. Selanjutnya masing-masing telur dipanen cairan allantoisnya dan diamati adanya pertumbuhan virus.
Kesimpulan
 Influenza merupakan salah satu penyakit yang paling sering ditemui dan
sangat mudah menular melalui udara.Virus influenza masuk melalui inhalasi
dari droplet yang infeksius, aerosol partikel mikro, maupun inokulasi
langsung lewat sentuhan tangan dari penderita.Virus kemudian mengikat
reseptor asam sialat yang terdapat pada sel epitel jalan napas, khususnya di
trakea dan bronkus. Kemudian, replikasi virus mencapai puncaknya dalam 48
jam pasca infeksi dan jumlah virus berhubungan langsung dengan derajat
keparahan penyakit.

 Respon imun tubuh terhadap virus influenza mencakup peningkatan sitokin


proinflamasi seperti IL-6 dan IFN-α oleh sel yang terinfeksi. Peningkatan
sitokin memuncak pada 48 hari kedua pascainfeksi dan sesuai dengan berat
gejala yang dialami pasien. Antibodi serum (IgM, IgG, dan IgA) terhadap
hemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA) baru muncul setelah satu
minggu pascainfeksi dan belum berperan dalam proteksi terhadap penyakit
akut, namun dapat memberikan imunitas dan proteksi terhadap reinfeksi
oleh tipe virus yang sama hingga beberapa tahun.
TERIMAKASIH