Anda di halaman 1dari 67

HARI WALUYO, S.KM., M.

Sc
Definisi
 Higiene industri adalah ilmu tentang
antisipasi, rekognisi/pengenalan,
evaluasi dan pengendalian kondisi
tempat kerja yang dapat menyebabkan
tenaga kerja mengalami kecelakaan
kerja dan atau penyakit akibat kerja.
Occupational Safety and Health
Administration (OSHA) (1998)
 Bahaya biologi dapat didefinisikan
sebagai debu organik yang berasal dari
sumber-sumber biologi yang berbeda
seperti virus, bakteri, jamur, protein dari
binatang atau bahan-bahan dari
tumbuhan seperti produk serat alam
yang terdegradasi.
 Bahaya Biologis ( Biohazard)
Agen infeksius atau produk agen infeksius
yang dapat mengganggu kesehatan manusia
( CDC Amerika 2009 )
 Agen Biologis: - mikroorganisme
- kultur sel/endoparasit manusia
Klasifikasi Bahaya Biologis
1. Agen infeksius kemampuan untuk dapat
Menyebabkan penyakit akibat kerja: ukuran,
fisiologis & morfologinya:
Virus : Hepatitis, Rabies, HIV dll
Bakteri : antrax, Bruselosis, leptospirosis dl
Jamur : kandidiasis, Dermatofitosis dll
Protozoa : Malaria, Tripanosomiasis dll
Cacing : N.americanus, A. duodenale
2. Tanaman dan produk tanaman
Kontak dg tanaman menyebabkan keracunan
yang tidak bersifat racun (non infectious
poisoning), reaksi alergi
Misal :
 Bagassosis pada pekerja pabrik gula.
 Penyakit paru pada pekerja budidaya jamur
 Green Tobacco Sickness (GTS) adalah
penyakit yang dapat disebabkan oleh
penyerapan nikotin melalui kulit saat pekerja
memanen daun tembakau yang basah.
3. Hewan dan produk hewan
Infeksi yang ditularkan melalui vektor
penyakit secara langsung dari hewan.
Misal:
 Leptospirosis, brucellosis dan anthrax
 Rabies
 Disengat atau digigit hewan/Binatang : ular,
lipan, tawon, kalajengking dll
Cara penularan
1. Transmisi langsung dari manusia ke
manusia
Pekerja yg resti terinfeksi dr org lain
( terpapar darah atau cairan tubuh)
 Tenaga medis
 Paramedis
 Penjaga Tahanan
 PSK
2. Transmisi tidak langsung
a. Kontak permukaan ( tanah )
agen infeksius dpt hidup pd permukaan
tanah utk bbrp periode waktu.
mis : rhinovirus, cacing tambang
b. Food borne/waterborne disease
Infeksi tjd akibat kontaminasi makanan dgn
agen penyebab penyakit ( pengolahan
makanan yg tidak higienis & air utk
memasak yg terkontaminasi)
Mis: Pekerja catering, tenaga medis,
paramedis
c. Droplet/airborne contamination
Infeksi melalui paparan droplet atau aerosol
dapat berasal dari manusia atau lingkungan.
Mis : Penularan TBC atau influenza
d. Vector borne disease
Vektor sbg organisme pembawa bibit penyakit
Misalnya : nyamuk malaria, alpha virus
flavivirus (seperti (demam dengue/DHF)
BAKTERI
CONTOH PENYAKIT Sumber penularan Tenaga kerja
berisiko
Bacilus anthracis Anthrax Kuku binatang Pertanian dan
kehewanan
Brucella sius Brucellosis Babi Pekerja RPH,
peternak babi,
pemburu babi
Leptospira spp. Leptospirosis Urin tikus Pekerja sanitarian,
pekerja pembuangan
limbah
Legionella spp Penyakit System air panas, Pekerja kantor,
Legionnaires tower pendinginan pekerja pengolahan
air, system limbah
pendingin udara
VIRUS
CONTOH PENYAKIT Sumber penularan Tenaga kerja
berisiko
Ross River Ross River fever nyamuk yang Pekerja di luar
virus membawa virus ruangan
Hepatitis B Hepatitis B Darah & cairan tubuh Pekerja RS, Lab.,
polisi, paramedik dan
PSK
Henipavirus Hendra virus Kelelawar dan kuda Dokter hewan,
yang terinfeksi pekerja
peternakan kuda
Parapoxvirus Orf (Lesi pada kulit, Kontak langsung Pekerja pertanian,
potensial erythema kulit dengan sapi/ peternakan dan
multiformis lembu yg terinfeksi dokter hewan
Jalan Masuk
1. a. Kulit utuh : antrax, bruselosis, leptospirosis
b. Kulit rusak : Rabies, tetanus, hepatitis
c. kulit maserasi : infeksi jamur
2. a. Gigitan serangga : malaria, riketsiosis ( kutu,
tungau dan caplak )
b. Gigitan lalat tsetse : Tripanosomiasis
3. Inhalasi: debu tercemar, spora
4. Melalui mulut : hepatitis A, diare, poliomylitis.
Dampak bahaya biologis & pekerjaan
1. Jenis pekerjaan :
a. Luar Ruangan
 pekerjaan pengolahan sampah/air limbah
me↗ risiko terpapar bakteri
 pekerja sektor kehutanan, tukang kebun
resiko tjd sengatan/gigitan hewan dan
penyakit yg ditularkan melalui vector.
b. Berhubungan dg Hewan
• bersentuhan langsung dengan binatang
/produk binatang dan berisiko terkena
gangguan kesehatan
mis : (RPH), peternakan, pembersihan
kandang burung, petugas kepabeanan
c. Berhubungan dg darah & cairan tubuh
petugas kesehatan, petugas autopsy dan
pemeliharaan jenazah, petugas rumah
tahanan, atlet dan penjaja seks komersial
(PSK).
2. Lokasi dan lingkungan kerja
Mrpk faktor predisposisi utk tjd penularan
penyakit melalui vektor (seperti rabies dan
malaria) dimana penyakit ini bersifat endemik
pada beberapa daerah tertentu.
Kondisi lingk.berbahaya (gigitan binatang
berbahaya seperti buaya dan ular berbisa).
Pekerjaan yg terpapar bahaya biologis
1. Petani
2. Peternak /Pemotong hewan
3. Insinyur
4. Medis dan Para Medis
5. Analis Kesehatan
6. Dokter hewan
Daerah Pertanian
a) Tetanus ( Clostridium tetani)
 Kaku otot yang dimulai pada rahang dan leher
 C. tetani menghasilkan dua buah eksotoksin,
yaitu tetanolysin dan tetanospasmin (racun yang
menyerang bagian sistem saraf).
 Bentuk spora, dpt hidup di dalam tanah smp
berbulan 2, dlm kotoran hewan dan menyebabkan
tetanus ketika masuk ke dalam luka kulit.
 Pencegahan : vaksinasi DPT
b. Leptospirosis
- Penyebab: bakteri leptospira,
disebarkan mll urine /darah hewan.
- Tdp pd tempat2 yg ada binatang
pengerat seperti tikus, mis: lumbung
padi, gudang,dll
- Leptospira bertahan dlm ginjal hewan
shg bakteri akan dikeluarkan lewat air
kencingnya .
- Dpt ditularkan melalui air (water borne
disease)
- Hujan deras membantu penyebaran
penyakit ini, terutama di daerah banjir
c) Cacingan
Terutama pekerja yang berhubungan
langsung dengan tanah
d) Byssinosis atau Asma terutama para petani
kapas
e) Keracunan Mycotoxin
Racun yang dihasilkan oleh metabolisme
jamur ( Aspergillus flavus dan Aspergillus
parasiticus ) mengkontaminasi hasil pertanian
seperti kacang tanah, jagung, gandum,
kedelai, ubi jalar, dll. Racunnya bersifat
karsinogen terhadap hati.
Daerah Peternakan
( mengolah kulit hewan & produk – produknya)

a) Anthrax , disebabkan bakteri batang gram


(+), berspora Bacillus anthraxis
pekerja terpajan: menangani binatang &
produk hewan
cara penularan: infeksi kulit, inhalasi
spora dan infeksi saluran cerna
b) Brucellosis
 Penyebab: bakteri batang gram (-) :
a. Brucella abortus (ternak sapi)
b. Brucella mellitensis ( domba & kambing)
c. Brucella suis ( ternak babi )
Pemajanan : rumah potong, dokter hewan,
peternak
Penularan: ingesti, kontak langsung dg kulit
luka terbuka
Di lingkungan berdebu
(Pertambangan atau pabrik)
M.O yang mungkin ditemukan adalah bakteri
penyebab penyakit saluran napas, seperti :
a) Tuberculosis disebabkan bakteri batang
tahan asam, Mycobacterium tuberculosis
cara penularan: inhalasi
b) Bronkitis
c) Infeksi saluran pernapasan lainnya seperti
Pneumonia.
d. Cacing tambang ( Hook Worm)
Pemajanan: Pertambangan, Pertanian
Cara penularan: lewat larva yg
menembus kulit utuh telapak kaki
Jenis : Necator americanus dan
Ancylostoma duodenale
i

 Faktor yg mempengaruhi kehidupan di luar hospes:


 Suhu kelembaban
 Keadaan tanah sinar matahari
 Zat kimia
 Cara penularan / lingkaran hidup:
 Hospes difinitif: manusia
 Habitat: usus halus
 Vektor / hospes antara: --
 Bentuk infektif: larva filariform
 Cara infeksi: menembus kulit antara jari kaki
 Patogenesis:
 Gigi mengkaitkan diri / melukai mucosa usus: perdarahan kronis
 Gejala klinis: anemia, lemah badan, kulit seperti jerami

28
i

29
i

 Diagnosis penderita:
 Memeriksa faeces: telur (N. americanus = A. duodenale)
 Memeriksa faeces Harada mori: larva
 Diagnosis lingkungan
 Memeriksa tanah: telur, larva (metode Berman)
 Memeriksa sayuran, buah-buahan: telur
 Pengobatan:
 Combantrin (pirantel pamoat)
 Sulfas ferosus (Fe) utk mengobati anemianya
 Pencegahan:
 Mengobati sumber infeksi
 Pengobatan masal periodik
 Memperbaiki lingkungan
 Memakai alas kaki

30
Ancylostoma
Perkantoran
 Legionnaire disease
 Salah satu pneumonia yg disebabkan
Legionella pneumophila
 Bakteri berflagelata, gram (-) aerobik
 penyakit yang berhubungan dengan
sistem pendingin
 Tempat yang paling rentan terkena
serangan bakteri Legionella adalah
bangunan yang memakai sistem sirkulasi
air pendingin dan air pemanas.
 Legionella bisa tumbuh subur di tempat-
tempat yang mengandung air
Perkebunan
 Resiko terkena penyakit kaki gajah /
elephantiasis krn arthropoda borne
disease :
 Wuchereria bancrofti nyamuk Culek
 Brugia malayi, larva nyamuk mansoni/
Anopheles
Wuchereria bancrofti
(arthropoda borne disease)

Daerah penyebaran / faktor resiko:


 Tropis, sub-tropis
 Perkotaan, perdesaan
 Keadaan lingkungan jelek sbg sarang nyamuk
Culex
 Sosial ekonomi rendah kemungkinan kontak dg
nyamuk sangat besar
 Tidur tidak memakai kelambu
 Nyamuk Culex mudah masuk kedalam rumah
 Malam hari suka keladang
 Banyak genangan air kotor

34
Morfologi
(dewasa, mikrofilaria dan larva)

Dewasa:
 Seperti benang
 Hidup dlm saluran limfe hospes
 Jantan: 5 cm, betina: 10 cm
Mikrofilaria:
 Dalam darah jari pada saat tertentu (malam hari)
Larva:
 Dalam nyamuk Culex yang berperan sebagai vektor
biologis

35
Stadium dewasa Wuchereria bancrofti

36
Mikrofilaria Wuchereria bancrofti

Ciri-ciri:
 Mempunyai selubung
 Ruang kepala: panjang = lebar
 Inti merata
 Ujung posterior tidak ditemukan
inti
 Kadang-kadang ditemukan dlm
urin
 Periodik nokturnal: ditemukan
dlm darah ujung jari, malam
hari

37
Lingkaran hidup:

Hospes difinitif:
 Manusia
Hospes antara:
 Nyamuk Culex
Habitat:
 Sistem limfe
Bentuk infektif:
 Larva stad III
Cara infeksi:
 Gigitan nyamuk

38
.

39
Vektor Wuchereria bancrofti

40
Breeding places nyamuk Culex fatigans

41
.

Gejala klinis:
 Menimbulkan penyakit kaki gajah / elephantiasis
 Stad dewasa menyumbat saluran limfe:
 Kaki & alat genital membengkak
Diagnosis penderita:
 Pemeriksaan darah ujung jari pd malam hari
Diagnosis lingkungan:
 Memeriksa larva dalam nyamuk
Pengobatan:
 Dietilkarbamasin (DEK): efektif pd stadium awal
Pencegahan:
 Mengobati sumber infeksi
 Memperbaiki lingkungan / menghilangkan sarang
nyamuk
 Menghindarkan diri dari gigitan nyamuk

42
Gejala klinis

43
Brugia malayi
(arthropoda borne disease)

Daerah penyebaran / faktor resiko:


 Tropis / sub-tropis
 Keadaan lingkungan jelek
 Daerah pedesaan berawa-rawa
 Banyak nyamuk Mansonia / Anopheles
 Keadaan sosial ekonomi rendah:
 Pekerjaan berladang
 Mencari kayu dihutan
 Sering tidur diluar rumah

44
Morfologi
(dewasa, mikrofilaria, larva)

Stadium dewasa:
 Bentuknya hampir sama dg
Wuchereria bancrofti
Mikrofilaria:
 Mempunyai selubung
 Ruang kepala: p = 2x lebar
 Intinya mengelompok
 Ujung post. ditemukan 2 inti terpisah
 Ditemukan dlm darah ujung jari:
 Malam hari
Larva:
 Nyamuk Mansonia / Anopheles

45
Lingkaran hidup

Hospes difinitif:
 Manusia / kera (zoonosis)
Hospes antara:
 Nyamuk Mansonia rawa-rawa
 Nyamuk Anopheles persawahan
Habitat:
 Sistem limfe
Bentuk infektif: larva stadium III
Cara infeksi:
 Gigitan nyamuk yang mengendung larva stad III

46
.

47
Hospes antara Brugia malayi: nyamuk Mansonia
(nyamuk hutan)

48
Hospes antara Brugia malayi
nyamuk Mansonia

49
Breeding site Mansonia ditepi hutan

50
Nyamuk Anopheles

51
Hospes antara Brugia malayi
nyamuk Anopheles

52
Breeding site / resting place nyamuk Anopheles

53
.

Gejala klinis:
 Menimbulkan penyakit elephantiasis / kaki gajah
 Stad dewasa menymbat saluran limfe inguinal
 Kaki di bawah lutut membengkak
Diagnosis penderita:
 Pemeriksaan darah ujung jari pd waktu malam
Diagnosis lingkungan:
 Memeriksa larva dalam nyamuk
Pengobatan (efektif pd stadium awal):
 Dietilkarbamasin (DEK)
Pencegahan:
 Mengobati sumber infeksi (manusia dan kera)
 Memperbaiki lingkungan (sarang nyamuk dihilangkan)
 Tidak kontak dg nyamuk

54
Gejala klinis

55
Laboratorium
Bbrp agen yang dapat menginfeksi pekerja di
laboratorium antara lain:
 Brucella spp.,
 Coxiella burnetii,
 Hepatitis B virus (HBV),
 Salmonella typhi,
 Francisella tularensis,
 Mycobacterium tuberculosis,
 Blastomyces dermatitidis,
 Venezuelan equine encephalitis virus,
 Chlamydia psittaci, dan
 Coccidioides immitis (US Department of Health,
2009)
Pengelompokan mikroorganisme berdasarkan risiko infeksi (WHO)

Kel.Risiko Menurut World Health Organization Jenis Mikroorganisme


(WHO)
1 Tidak ada atau rendahnya risiko agen Escherichia coli K12,
terhadap individu dan komunitas Lactobacillus sp.,
M.O tidak menyebabkan penyakit pada Asporogenic bacillus,
manusia dan hewan Adenovirus-associated virus
(AAV), Boculoviruses,
Herpes
virus saimiri
2 Risiko thd individu sedang, thd Escherichia coli,
komunitas rendah. Suatu pencegahan Neisseria meningitides,
yg dpt menyebabkan penyakit pd Treponema pallidium,
manusia & hewan tetapi bukan bahaya Cryptoccoccus
yang serius bagi staf laboratorium, neoformus, Ascaris sp.,
komunitas, stok pangan, dan Leishmania sp,
lingkungan. Adenovirus, Hepatitis A,
Paparan di laboratorium dapat B, C, D, dan E.
menyebabkan infeksi yang serius tetapi
tindakan pencegahan dan pengobatan
tersedia dengan risiko infeksi terbatas
Pengelompokan mikroorganisme berdasarkan risiko infeksi (WHO)

Kel.Risik Menurut World Health Organization Jenis Mikroorganisme


o (WHO)
3 Risiko terhadap individu tinggi dan pada Brucella sp., Coxiella
komunitas rendah. burnetii,
Patogen menyebabkan penyakit Mycobacterium
serius pada manusia dan hewan. tuberculosis,
Penyakit tidak menular antar Coccodiodes immitis,
individu. Hanta virus, Monkey
Tindakan pencegahan dan pengobatan pox.
telah tersedia.
4 Risiko terhadap individu tinggi dan pada Lassa virus, Machupo
komunitas tinggi. virus, Ebola virus,
Patogen menyebabkan penyakit Marburg virus, Herpes
serius pada manusia dan hewan. virus simiae,
Dapat tertular antar individu. Hemorrhagic fever
Tindakan pencegahan dan pengobatan virus.
tidak tersedia.
Peralatan untuk mengelola agen biologis

Fasilitas Biosafety Cabinet (BSC) yang ada pada


laboratorium.
Penggunaan jenis BSC Disesuaikan dengan tingkat risiko
Mikroorganisme (Tabel ).
Perlengkapan keamanan diri untuk bekerja di
laboratorium BSL 3.
Kontrol terhadap bahaya biologi
1. Kontrol teknis (melengkapi peralatan laboratorium yg tidak
menimbulkan bahaya para pekerjanya).
2. Tindakan pencegahan menyeluruh (universal precaution)
memakai Jas lab, Sarung tangan, Peralatan proteksi pernafasan,
Pelindung mata dan wajah misalnya goggles, face shields, dan
safety glasses).
3. Praktek kerumahtanggaan, yang baik dapat meminimalisir risiko
pajanan bahan-bahan biohazard : menjaga laboratorium tetap
bersih dan rapi, meminimalkan menyimpan bahan bahan yang
tidak berkaitan dengan pekerjaan.
4. Membuat prosedur pembuangan limbah
5. Pelabellan, kontainer bahan-bahan biohazard harus dilabel
(Identifikasi produk, Nama organisme, Simbol biohazard
dan Referensi dari lembaran data keselamatan bahan).
6. Praktek kerja yang aman
 Memakai alat pelindung perseorangan yang tepat.
 Jangan makan, minum, merokok, menyimpan makanan
dan minuman, lensa kontak di laboratorium.
 Ikat ke belakang rambut dan ikat rambut yang panjang
sehingga tidak berpotensi menimbulkan gangguan.
 Jangan berhubungan langsung pipet dengan mulut,
gunakan peralatan pipet secara mekanik. Ambil
pelanpelan untuk menghindari menghasilkan aerosols.
Cuci tangan sesering Minimalisasi risiko
mungkin setelah kejadian tersuntik Minimalisasi Laporkan semua
kontak bahan secara tidak produksi atau Kejadian
sengaja, batasi
berbahaya, darah
penggunaan jarum, pajanan tumpahan,
atau cairan yang Aerosol yang kecelakaan dan
alat semprot, objek
Pajanan yang
mungkin benda tajam bisa saja
mengandung kuman berpotensi
lainnya. Jangan mengandung Menimbulkan
patogen setelah Menggunakan
melepaskan sarung kembali jarum bahan Masalah
tangan, sebelum bekas. Sebaiknya biohazard kesehatan
meninggalkan lab, dihancurkan dulu dan keselamatan
dengan peralatan Pada pengawasan
dan setiap kali
penghancur jarum
kontak langsung Laboratorium
dan selanjutnya
dengan bahanbahan baru di buang ke
yang telah kontainer limbah.
terkontaminasi.
4. Hewan, bahaya yang paling mungkin
dari hewan di laboratorium adalah
gigitannya, transmisi penyakit, dan
reaksi alergi.
Standar yang digunakan untuk
mengurangi risiko pekerjaan yang
berhubungan dengan hewan di
laboratorium:
 Gunakan peralatan dan teknik yang tepat
dalam penanganan hewan coba
laboratorium.
 Gunakan prosedur kerja dan metode
penanganan untuk mengontrol
penyebaran aerosol.
 Jaga tempat hewan dan area penanganan
tetap bersih dan higienis
 Gunakan sarung tangan, jas lab, dan
pakaian pelindung lainnya serta
peralatan untuk meminimalisasi kontak
dengan produk hewan misalnya
rambut, bulu, kemarahan hewan, air liur
dan urin.
 Kesehatan hewan harus dimonitor oleh
personil yang berkualifikasi, hewan
sakit dan terinfeksi harus dikarantina.
 Para pekerja harus dididik tentang
alergi yang berhubungan dengan
hewan dan cara menghindarinya. Bagi
pekerja yang sensitif terhadap hewan
atau ada reaksi alergi seharusnya
diberikan perhatian medis dan
konseling.
Hirarki pengendalian biohazard di tempat kerja

Teknik Jenis Tindakan


Pengendalian • Vaksinisasi ( Tetanus, BCG, Rabies )
teknis/Bioteknis • Pemberian obat ( malaria)
• Perbaikan sistem ventilasi
• Penggunaan alat automatis
Pengendalian secara • Kebijakan dan prosedur kerja yang aman
administratif • Prosedur pengendalian infeksi secara umum dan
prosedur kerja yang aman
• Program imunisasi
• Program Pelatihan K3
• Prosedur karantina dan isolasi
Alat pelindung diri • Sepatu Boot : Pertambangan. Selokan, lapangan
•Sarung tangan
• Pakaian pelindung
• Pelindung mata
• Pelindung pernafasan
Thank

You