Anda di halaman 1dari 109

MATERI THT-KL

dr. Erick Sebastian


Serumen Props
 Khas
 Penurunan pendengaran mendadak,
 Riwayat suka membersihkan telinga dengan cotton
bud, berenang
 Tanpa nyeri
 Otoskopi : massa keras berwarna coklat kekuningan
(serumen props)

 Diagnosis melihat serumen dengan otoskop


TERAPI
Benda Asing Telinga
Keyword PF : Otoskopi dan tes penala

S : Rasa penuh pada DD : Serumen Props


telinga, Komplikasi : OE dan trauma
pendengaran
berkurang, telinga Tatalaksana
terasa nyeri, sekret Non medikamentosa
Ekstrasi benda asing:
yang berbau, lebih a. Benda mati (sesuaikan
sering terjadi pada pengait dengan bentuk
anak < 5 tahun bendanya)
b. Benda hidup dengan
meneteskan pantokain,
O : Benda asing (+) xylokain lalu keluarkan
(mati atau hidup) dengan pengait.
Benda Asing hidung
Keyword PF : Rhinoskopi anterior
S : Hidung tersumbat,
onset tiba-tiba, Komplikasi : rinolit, epistaksis,
obstruksi
umumnya unilateral,
rinore, nyeri, Tatalaksana
Non medikamentosa
biasanya pada anak Ekstrasi benda asing:
< 5 tahun a. Benda mati (sesuaikan
pengait dengan bentuk
bendanya)
O : Benda asing (+) b. Benda hidup dengan
(mati atau hidup) meneteskan pantokain,
c. xylokain lalu keluarkan
dengan pengait.
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
Pemilihan alat

 Massa permukaan kasar (kapas,


serangga, serumen) : Pinset/forceps

 Massabulat dan licin (kacang, peluru


mainan) : hook

 Massa pipih (kancing baju) : suction


Otitis Eksterna (OE)
Gejala
 Nyeri tekan tragus merupakan tanda
patognomonik OE.
 Telinga terasa penuh (OE difusa)
OE – Klasifikasi
 OE Sirkumskripta
 1/3 luar
 Etio: S.aureus & S.albus
 Gejala: nyeri saat menekan perikondrium atau membuka mulut,
membran timpani dapat dinilai membran timpani intak,
furunkel
 Th : drainase abses + antibiotik (neomysin, polimiksin B,
basitrasin)

 OE Difus
 2/3 dalam
 Etio: Pseudomonas aeruginosa
 Gejala: nyeri tekan tragus, liang telinga sempit akibat edema,
membran timpani sulit di nilai sekret bau
 Th : tampon antibiotik
OE Maligna

 Etio: P.aeruginosa

 Infeksi difus liang telinga dan struktur lain di


sekitarnya

 Sering pada orang tua dengan sakit DM

 Gejala: rasa gatal yang diikuti nyeri, sekret banyak,


pembengkakan liang telinga, paralisis fasial (jika
N.VII terkena)

 Th : tampon antibiotik + prednison


Fistula Pre Auricular
 Kelainan herediter berupa Keyword : peradangan
muara kecil berbentuk
bulat atau lonjong, atau abses di dekat
berukuran seujung pensil tragus
 Lokasi biasanya di depan
tragus Tatalaksana :
medikamentosa dan
 Berhubungan dengan
N.fasialis dan kelenjar operasi (jika adanya
parotis kekambuhan)
 Staphylococcus
epidermidis (31%),
Staphylococcus aureus
(31%)
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
Otomikosis
Otitis eksterna yang disebabkan oleh infeksi
jamur
Manifestasi klinis
• Pruritus berat, telinga terasa penuh
• Eksudat putih seperti kapas (Candida) atau
hitam (Aspergillus)
• Pemeriksaan KOH 10%  ditemukan
pseudohifa
Tata laksana
• Bersihkan telinga
• Klotrimazole 1% drop (membran timpani harus
intak)
• Analgesik oral
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
Herpes Zoster Oticus
Merupakan infeksi herpes zoster virus yang
mengenai telinga baik luar, tengah,
maupun dalam. Apabila terdapat gejala
paralisis nervus fasialis maka dinamakan
sindrom Ramsay Hunt

UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017


Herpes Zoster Oticus
Manifestasi klinis : Tatalaksana :
a. Nyeri hebat a. Antiviral (asiklovir)
b. Rasa terbakar atau dewasa : 5x 800 mg
panas di sekitar selama 7 hari
telinga, wajah,
bahkan mulut Anak-anak : 20
c. Vertigo, nausea mg/kgBB, 4 kali sehari
d. Penurunan
selama 5 hari
pendengaran, tinnitus b. Analgetik
e. Didapatkan vesikel
dan eritem di sekitar
telinga
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
PERIKONDRITIS

bisa sebagai komplikasi otitis eksterna atau


akibat trauma.

Manifestasi klinis
 Aurikula bengkak, nyeri, hiperemis
 Aurikula tampak seperti kembang kol
(cauliflower)
 Nyeri saat aurikula ditekuk

Tata laksana Fluorokuinolon PO


Hematoma aurikular

Disebabkan trauma tumpul pada daun telinga

Pada pinna ditemukan edema, fluktuasi, dan


ekimosis

Jika terjadi infeksi bisa menjadi perikondritis.

Tx/:incision & drainage/needle aspiration


pressure bandage
A C

B
Otitis Media

Akut
Otitis Media Efusi
(Air Bubble (+))
Infeksi (-)

Kronik
Glue Ear
Oklusi tuba
Akut
< 3 bulan
Infeksi (+) Otitis Media
Kronik
> 3 bulan
Otitis Media Akut (OMA)
Gejala :
 Diawali riwayat batuk pilek
 Nyeri telinga
 Telinga terasa penuh
 Demam
 Pada perforasi terdapat sekret keluar dari
telinga
Tuba Eustachius

• Fungsi tuba Eustachius :


– Menjaga keseimbangan tekanan udara di
dalam telinga dan menyesuaikannya dengan
tekanan udara dg dunia luar.
– Mengalirkan sedikit lendir yang dihasilkan
sel-sel yang melapisi telinga tengah ke
bagian belakang hidung.
– sawar kuman yang mungkin akan masuk ke
dalam telinga tengah.
• Infeksi saluran napas atas yang sering terjadi terutama
pada penderita anak-anak.
• Gangguan faktor pertahanan tubuh : seperti silia dari
mukosa tuba Eustachius, enzim, dan antibodi.
• Tersumbatnya Tuba Eustachius.
• Usia penderita :
– Bayi dan anak lebih mudah menderita otitis media
supuratif akut (OMA) karena letak tuba Eustachius yang
lebih pendek, lebih lebar dan lebih horisontal.
Otitis Media Akut (OMA)
Manifestasi klinis, tergantung stadium
 Oklusi: retraksi membran timpani, MT suram
 Hiperemis: MT hiperemis dan edema
 Supurasi: Telinga bulging, sangat nyeri, nadi
dan suhu meningkat
 Perforasi: Ruptur MT, nadi dan suhu menurun,
nyeri reda
 Resolusi: MT menutup, sekret hilang.
Kegagalan stadium resolusi menyebabkan
OMSK.
Tata laksana

Oklusi: antibiotik + Dekongestan (Efedrin HCl 0,5%)

Hiperemis: antibiotik + dekongestan + analgetik

Supurasi: antibiotik + miringotomi

Perforasi: antibiotik + obat cuci telinga + pipa grommet

Resolusi: antibiotik

Setelah miringotomi atau perforasi lakukan cuci telinga


dengan H2O2 3% selama 3-5 hari.

Antibiotik lini-1: Amoxicillin 80-90 mg/kg/hari PO dibagi 2x/hari


selama 10 hari
Otitis Media Efusi
Otitis Media Supuratif Kronis
(OMSK)
 OMA yang menetap >6 minggu disebut
OMSK yang ditandai oleh keluar cairan
dari telinga hilang timbul dan MT perforasi

 Penunjang : CT-Scan atau MRI jika curiga


komplikasi (mastoiditis, meningitis, abses
otak, labirinitis)
Tata laksana
 Antibiotik oral
 Ear toilet
 Kauter kimia (nitrat perak) untuk jaringan
granulasi
 Bedah jika ada kolesteatoma (maligna)

MIRINGITIS BULOSA
 Peradangan pada membran timpani
 Ditemukan vesikel-vesikel berisi nanah di MT
OMSK – Klasifikasi
 OMSK Tipe
Aman/Benigna/Mukosa
 Peradangan hanya di
mukosa
 Perforasi sentral
 Kolesteatoma (-) 
komplikasi jarang terjadi
 Th/ AB + ear toilet +
miringoplasti
 OMSK Tipe
Bahaya/Maligna/Tulang
 Peradangan meluas hingga
ke tulang
 Perforasi marginal atau atik
 Kolesteatoma (+)  sering
terjadi komplikasi
 Th/ mastoidektomi +
timpanoplasti
MASTOIDITIS
Barotrauma

UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017

Anatomi Tuba Eustachius


Barotrauma
Tuba eustachius terdiri dari 2 bagian :
 Bagian tulang terdapat pada bagian
belakang dan pendek (1/3 bagian).
 Bagian tulang rawan terdapat pada
bagian depan dan panjang (2/3 bagian).

Pada pertemuan antara bagian osseus dan


bagian kartilago mengalami penyempitan
yang disebut ismus
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
Barotrauma

UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017


Barotrauma

Barotrauma pada telinga Tatalaksana :


merupakan perubahan 1. Menelan atau
tekanan pada telinga mengunyah
bagian tengah yang 2. Mengunyah
diakibatkan fungsi tuba permen karet
eustachius yang 3. Manuver Valsava
terganggu 4. Untuk kasus
persiten,maka
indikasi farmakologi
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
Presbiakusis
 Keyword
 Usia tua
 Tuli sensorieural,
 cocktail party deafness (sulit mendengar di
tempat ramai)

Therapy : Alat bantu dengar


Tuli Sensorineural Akibat Bising
(NIHL)
• Kerusakan bagian organ Corti : membran, stereosilia, sel rambut,
• Klinis:
– pendengaran terganggu biasanya bilateral
– Telinga berdenging
– Riwayat terpajan bising dalam jangka waktu lama
– Bising > 85 dB >8 jam perhari atau 40 jam perminggu
– Pada gangguan pendengaran cukup berat, sukar menangkap percakapan
– Uji Penala : R: +, W : tak ada lateralisasi, atau lateralisasi ke sisi yg lebih baik
(tuli sensorineural)
– Audiogram : tuli sensorineural, penurunan pada frek 3000- 6000Hz, terdapat
takik pd frek 4000Hz (“Kahart Notch”)
– Audiometri tutur : gangguan diskriminasi wicara
Otosklerosis
• Otosklerosis
– Spongiosis tulang stapes (tersering)  rigid  tidak bisa
menghantarkan suara ke labirin
– Otosklerosis terkait faktor genetik, ¼-2/3 pasien memiliki saudara
dengan kelainan serupa.
– Rasio perempuan: laki-laki 2:1.
– Ketulian mulai timbul pada usia 10-30 tahun dan bersifat progresif.

• Gejala:
– Tuli bilateral progresif, tetapi asimetrik
– Tinnitus
– Paracusis Willisii: mendengar lebih baik pada ruangan ramai

• Terapi: stapedectomy atau stapedomy; diganti dengan prosthesis.


TIMPANOSKLEROSIS

Disebabkan oleh kalsifikasi jaringan di telinga


tengah.
Penyebabnya tidak jelas, tapi faktor risiko
mencakup: otitis media kronik, tabung
timpanostomi, aterosklerosis

Gejala dan Tanda


Gangguan pendengaran; kadang tak bergejala
PF: bercak putih seperti kapur di telinga tengah atau
membrane temporal (schwarte sign)
TES RINNE
Untuk mengetahui adanya tuli konduksi

Prinsip
Membandingkan AC (air conduction) dan BC (bone conduction) di satu
telinga

Cara
 Garpu tala yang sedang bergetar ditempelkan di tulang mastoid
pasien
 Pasien diminta memberi sinyal apabila suara tidak lagi terdengar
 Ketika pasien memberi sinyal, garpu tala segera ditempatkan 1-2 cm
di depan lubang telinga
 Pasien diminta memberitahu dokter apakah ia bisa mendengar suara
garpu tala lagi

Hasil :
Rinne positif : Normal/ Sensorineural
Rinne negatif : Tuli konduktif
TES WEBER
Prinsip
Membandingkan BC atara telinga kiri dan telinga kanan

Cara
Garpu tala yang sedang bergetar ditempelkan di tempat-tempat
yang berjarak sama ke telinga kiri ataupun telinga kanan, dan
dilapisi kulit tipis yang berkontak dengan tulang di bawahnya,
yaitu:
 Di tengah dahi
 Di tengah kulit antara bibir atas dan hidung
 Di atas kepala
 Pasien kemudian diminta melaporkan di telinga mana suara
terdengar lebih keras

Hasil

Normal : Tidak ada lateralisasi


Konduktif : Lateralisasi ke arah telinga yang sakit
Sensorineural : Lateralisasi ke arah telinga yang sehat
TES SCHWABACH
Prinsip
Membandingkan BC pasien dengan pemeriksa (asumsi BC
pemeriksa normal)

Cara
 Pangkal garpu tala yang sedang bergetar ditempelkan ke
prosesus mastoid pasien
 Ketika pasien memberi sinyal bahwa suara tidak lagi
terdengar, pangkal garpu tala segera dipindahkan ke
prosesus mastoid pemeriksa
 Pemeriksaan diulang dengan cara menempelkan garpu
tala ke prosesus mastoid pemeriksa terlebih dahulu, baru
ke pasien

Hasil :
Normal : tanpa pemanjangan atau pemendekan
Konduktif : Swabach memanjang
Sensorineural : Swabach memendek
Interpretasi audiogram

Normal: Tuli konduktif:


 AC dan BC dalam bila terdapat air bone
range 0-25 dB gap, yaitu selisih
 AC dan BC minimal 10 dB antara
berimpitan AC dan BC (AC < BC)

Tuli sensorineural:
Tuli campuran:
 AC dan BC > 25 dB
 AC dan BC > 25 dB
 AC dan BC
berimpitan  Terdapat air bone
gap
Rinitis Alergik
Inflamasi mukosa hidung  Berdasarkan WHO 2011
yang disebabkan oleh Initiative ARIA :
a. Intermitten ( <4
reaksi alergi. hari/minggu atau < 4
minggu)
Riwayat atopi keluarga
b. Persisten ( > 4
hari/minggu dan/atau
PF : Concha edema, livid
> 4 minggu)
(pucat) ditandai dengan
allergic crease, allergic  Berdasarkan tingkatan :
shinner, allergic salute, Ringan dan
Adenoidal face Sedang berat (gg. tidur,
gg. Aktivitas harian)
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
Tanda Alergi
 Allergic shiners  Allergic salute
Dark circles under The way that many
the eyes are due to children use the
swelling and palm of their hand to
discoloration from rub and raise the tip
congestion of their nose to
relieve nasal itching
and congestion
 Allergic crease  Dennie morgan
 A line across the lines
bridge of the nose  Crease-like
usually the result of wrinkles that form
allergic salute under the lower
eyelid folds
(double skin folds)
 Mouth breathing
 Akibat kongesti nasal  Allergic
(adenoidal)
 disertai dengan face (long face
development of a high, syndrome)
arched palate, an
 Akibat pembesaran
elevated upper lip, and
adenoid 
an overbite
menyebabkan ‘tired
and droopy
appearance’
 Terapi :

Antihistamin
Dekongestan
Rinitis Medikamentosa

 Rhinitis
medikamentosa  Mekanisme penurunan
adalah rhinitis non- sensivitas reseptor alfa
alergi yang adrenergik di
disebabkan oleh pembuluh darah yang
penggunaan lama menyebabkan
vasokonstriktor topikal. vasokonstriksi hilang
sehingga merusak
struktur mukosa hidung

UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017


Petunjuk diagnostik : Penatalaksanaan :
a. Tidak dipengaruhi 1. Non medikamentosa :
musim ataupun hentikan secara
keadaan luar / dalam tappering off
ruangan (tidak
adanya pajanan dekongestan topikal
yang signifikan)
b. R/ penggunaan 2. Medikamentosa :
dekongestan topikal Kortikosteroid
yang berlebihan dan
dalam waktu yang
lama
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
Rhinitis vasomotor
DESKRIPSI
BATASAN
Keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya infeksi,
alergi, eosinofilia, hormonal atau pajanan obat

ETIOLOGI Belum diketahui; Dicetuskan oleh rangsang non-spesifik


asap, bau, alkohol, suhu, makanan, kelembaban, kelelahan,
emosi/stres
Anamnesis:Hidung tersumbat bergantian kiri dan kanan,
tergantung posisi pasien disertai sekret yang mukoid atau
DIAGNOSIS serosa yang dicetuskan oleh rangsangan non spesifik
Rinoskopi anterior: Edema mukosa hidung, konka merah gelap
atau merah tua dengan permukaan konka dapat licin atau
berbenjol (hipertrofi) disertai sedikit sekret mukoid
Penunjang: Eosinofilia ringan, tes alergi hasil(-)
1. Menghindari stimulus
TATALAKSANA 2. Simptomatis: dekongestan oral, kortikosteroid topikal, anti
kolinergik topikal, kauterisasi konka, cuci hidung
3.Operasi (bedah-beku, elektrokauter, atau konkotomi)
4.Neurektomi nervus vidianus bila cara lain tidak berhasil
RINITIS AKUT

 Sekret jernih atau mukopurulen, ada gejala ISPA


 Sembuh sendiri dalam seminggu
 PF : concha edema, hiperemis
 Tx: dekongestan (antihistamin kurang efektif),
lain-lain suportif

RINITIS KRONIK
 Rinitis berulang di atas empat minggu
Rhinitis Ozaena/Atrofikans
Etio : Klesiella ozaena atau stafilokokus,

Klinis :
• Sekret hijau kental
• hidung bau (Foetor ex nasal)
• Hidung tersumbat,
• hiposmia, /anosmia total
• sefalgia.

Pemeriksaan Rinoskopi :
atrofi konka media & inferior (Rongga hidung lapang), sekret
& krusta hijau.

Terapi : Antibiotik
DIAGNOSIS CLINICAL FINDINGS
Riwayat atopi. Gejala: bersin, gatal, rinorea, kongesti. Tanda: mukosa
RINITIS ALERGI
edema, basah, pucat atau livid, sekret banyak.
Gejala: hidung tersumbar dipengaruhi posisi, rinorea, bersin. Pemicu:
RINITIS
asap/rokok, pedas, dingin, perubahan suhu, lelah, stres. Tanda: mukosa
VASOMOTOR
edema, konka hipertrofi merah gelap.
Hipertrofi konka inferior karena inflamasi kronis yang disebabkan oleh
infeksi bakteri, atau dapat juga akrena rinitis alergi & vasomotor. Gejala:
RINITIS HIPERTROFI
hidung tersumbat, mulut kering, sakit kepala. Sekret banyak &
mukopurulen.
Disebabkan Klesiella ozaena atau stafilokok, streptokok, P. Aeruginosa pada
RINITIS ATROFI / pasien ekonomi/higiene kurang. Sekret hijau kental, napas bau, hidung
OZAENA tersumbat, hiposmia, sefalgia. Rinoskopi: atrofi konka media & inferior,
sekret & krusta hijau.
Hidung tersumbat yang memburuk terkait penggunaan vasokonstriktor
RINITIS
topikal. Perubahan: vasodilatasi, stroma edema,hipersekresi mukus.
MEDIKAMENTOSA
Rinoskopi: edema/hipertrofi konka dengan sekret hidung yang berlebihan.

Rhinitis akut: umumnya disebabkan oleh rhinovirus, sekret srosa,


RINITIS AKUT
demam, sakit kepala, mukosa bengkak dan merah.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
SINUSITIS
Rhinosinusitis
Diagnosis Clinical Findings
Rinosinusitis 2/lebih gejala: obstruksi nasal/rhinorea ditambah nyeri wajah atau
akut hiposmia/anosmia.
• Nyeri pipi: sinusitis maksilaris
• Nyeri retroorbital: sinusitis etmoidalis
• Nyeri dahi atau kepala: sinusitis frontalis
Akut bila gejala sampai 4 minggu, lebih dari 3 minggu sampai 3 bulan
disebut subakut.
Sinusitis kronik Kronik: > 3 bulan. Gejala tidak spesifik, dapat hanya ada 1 atau 2 dari
gejala berikut: sakit kepala kronik, postnasal drip, batuk kronik,
gangguan tenggorok, gangguan telinga akibat sumbatan tuba,
sinobronkitis, pada anak gastroenteritis akibat mukopus yang tertelan.
Sinusitis Dasar sinus maksila adalah prosesus alveolaris, dan hanya terpisahkan
dentogen oleh tulang tipis. Infeksi gigi rahang atas mudah menyebar secara
langsung ke sinus, atau melalui pembuluh darah dan limfe.
Sinusitis jamur Faktor risiko:pemakaian antibiotik, kortikosteroid, imunosupresan, dan
radioterapi.Ciri: sinusitis unilateral, sulit sembuh dengan antibiotik,
terdapat gambaran kerusakan tulang dinding sinus, atau bila ada
membran berwarna putih keabuan pada irigasi antrum.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


• Normal sinonasal mucociliary clearance is predicated on
(1) ostial patency, (2) ciliary function, and (3) mucus
consistency. Impairment of any of these factors at the
osteomeatal complex may result in mucus stasis, which
under the proper conditions induces bacterial growth.
Rhinosinusitis
• Sebagian besar sinusitis akut, terjadi sekunder karena:
 common cold;
 influenza;
 measles, whooping cough, etc.

• Pada 10% kasus infeksi berasal dari gigi:


 Abses apikal,
 Cabut gigi.

• Organisme penyebab umumnya: Streptococcus pneumoniae,


Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis. Pada infeksi gigi,
bakteri anaerob dapat ditemukan.
Sinus trans-illumination test
TRANSILLUMINATION TEST
• Dim the room lights.

• Place the lighted otoscope


directly on the infraorbital rim (bone
just below the eye).

• Ask the patient to open their


mouth and look for light
glowing through the mucosa
of the upper mouth.

Principle: In the setting of inflammation,


the maxillary sinus becomes fluid
filled and will not allow this
transillumination.
Sinus trans-illumination test
• Performed in a dark room. High-intensity light source
placed inside patient’s mouth or against the cheek (for
maxillary sinus) & under medial aspect of supra-orbital
ridge (for frontal sinus).

• Trans-illumination normal = no sinusitis

• Trans-illumination absent = sinus filled with pus

• Trans-illumination dull = equivocal result


Rhinosinusitis
• Pemeriksaan penunjang rhinosinusitis:
– Foto polos: posisi waters, caldwell, lateral 
menilai sinus-sinus besar (maksila & frontal).
Kelainan yang tampak: perselubungan, air fluid level,
penebalan mukosa.
– CT scan sinus paranasal: mampu menilai anatomi
hidung & sinus, adanya penyakit dalam hidung &
sinus, serta perluasannya  gold standard.
Karena mahal, hanya dikerjakan untuk penunjang
sinusitis kronik yang tidak membaik atau pra-operasi
untuk panduan operator.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
Waters Caldwell

https://id.pinterest.com/yamahafreddy/skull-sinuses-facial-bones/ imageradiology.blogspot.co.id/2012/09/x-ray-pns-position-occipito-frontal.html
Rhinosinusitis
• Terapi rhinosinusitis
– Tujuan:
• Mempercepat penyembuhan
• Mencegah komplikasi
• Mencegah perubahan menjadi kronik
– Prinsip:
• Membuka sumbatan di kompleks osteomeatal (KOM) → drainasi &
ventilasi pulih
– Farmakologi (lihat slide berikutnya)
– Operasi (Functional Endoscopic Sinus Surgery)
• untuk sinusitis kronik yang tidak membaik, sinusitis disertai kista
atau kelainan ireversibel, polip ekstensif, komplikasi (kelainan
orbita, intrakranial, osteomielitis, kelainan paru), sinusitis jamur.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


Cara Irigasi Nasal
Buffered normal saline nasal irrigation
The benefits
• Saline (saltwater) washes the mucus and
irritants from your nose.
• The sinus passages are moisturized.
• Studies have also shown that a nasal irrigation
improves cell function (the cells that move the
mucus work better)
Cara Irigasi Nasal
The Recipe
• Use a one-quart glass jar that is thoroughly cleansed.
• You may use a large medical syringe (30 cc), water pick with an irrigation
tip (preferred method), squeeze bottle, or Neti pot. Do not use a baby
bulb syringe. The syringe or pick should be sterilized frequently or
replaced every two to three weeks to avoid contamination and infection.
• Fill with water that has been distilled, previously boiled, or otherwise
sterilized. Plain tap water is not recommended, because it is not
necessarily sterile.
• Add 1 to 1½ heaping teaspoons of pickling/canning salt. Do not use table
salt, because it contains a large number of additives.
• Add 1 teaspoon of baking soda (pure bicarbonate).
• Mix ingredients together, and store at room temperature. Discard after
one week.
• You may also make up a solution from premixed packets that are
commercially prepared specifically for nasal irrigation.
Cara Irigasi Nasal
Instruction
• Irrigate your nose with saline one to two times per day.
• If you have been told to use nasal medication, you should always use your
saline solution first. The nasal medication is much more effective when
sprayed onto clean nasal membranes, and the spray will reach deeper into
the nose.
• Pour the amount of fluid you plan to use into a clean bowl. Do not put your
used syringe back into the storage container, because it contaminates your
solution.
• You may warm the solution slightly in the microwave, but be sure that the
solution is not hot.
• Bend over the sink (some people do this in the shower) and squirt the
solution into each side of your nose, aiming the stream toward the back of
your head, not the top of your head. The solution should flow into one
nostril and out of the other, but it will not harm you if you swallow a little.
• Some people experience a little burning sensation the first few times they
use buffered saline solution, but this usually goes away after they adapt to
it.
Epistaksis
Merupakan gejala dari suatu kelainan yang
berupa perdarahan yang mengalir keluar dari
hidung yang berasal dari rongga hidung atau
nasofaring.

Klasifikasi
a. Epistaksis anterior : berasal dari pleksus
kiesselbach, a. Etmoidalis anterior, dapat
berhenti spontan.
b. Epistaksis posterior : berasal dari a.
Sfenopalatina, a. Etmoidalis posterior, lebih
sering karena kardiovaskular, dan jarang
berhenti spontan UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
Faringitis
• Definisi
– Inflamasi pada faring akibat
infeksi
– Etiologi tersering adalah
Group A Streptococcus dan
infeksi virus
– Often co-exists with tonsillitis
Faringitis Akut
• Etiologi
– Viral >90%
• Rhinovirus – common cold
• Coronavirus – common cold
• Adenovirus – pharyngoconjunctival fever;acute
respiratory illness
• Parainfluenza virus – common cold; croup
• Coxsackievirus - herpangina
• EBV – infectious mononucleosis
• HIV
Faringitis Akut
• Etiologi
– Bacterial
• Group A beta-hemolytic streptococci (S. pyogenes)*
– most common bacterial cause of pharyngitis
– accounts for 15-30% of cases in children and 5-10% in
adults.
• Mycoplasma pneumoniae
• Arcanobacterium haemolyticum
• Neisseria gonorrhea
• Chlamydia pneumoniae
Faringitis

• Anamnesis
– Classic symptoms → Fever, throat pain, dysphagia
VIRAL → Most likely concurrent URI symptoms of
rhinorrhea, cough, hoarseness, conjunctivitis &
ulcerative lesions
STREP → Look for associated headache, and/or
abdominal pain
Fever and throat pain are usually acute in onset
Faringitis
• Pemeriksaan Fisik
– Virus
EBV – White exudate covering erythematous pharynx
and tonsils, cervical adenopathy,
Subacute/chronic symptoms (fatigue/myalgias)
 transmitted via infected saliva

Adenovirus/Coxsackie – vesicles/ulcerative lesions


present on pharynx or posterior soft palate
Also look for conjunctivitis
Faringitis
• Pemeriksaan fisik
– Bacterial
GAS – look for whitish exudate covering pharynx and tonsils
– tender anterior cervical adenopathy
– palatal/uvular petechiae
– scarlatiniform rash covering torso and upper arms
Spread via respiratory particle droplets – NO school
attendance until 24 hours after initiation of appropriate
antibiotic therapy
– Absence of viral symptoms (rhinorrhea, cough,
hoarseness)
Faringitis
Laboratory Diagnosis:
Group A Streptococcus

Grams stained wound smear showing gram- Colony morphology


positive cocci in chains with numerous Transparent, smooth, and well-
“polys” defined zone of complete or b-
hemolysis
Terapi
 Virus: simptomatik
 Bakterial (Streptococcus)
 Golongan Penicilin
 Golongan makrolid
 Golongan cephalosporin
Treatment of streptococcal pharyngitis
Tonsilitis

Tonsilitis Akut
peradangan pada tonsil dengan detritus (+)

Tonsilitis Kronik
peradangan pada tonsil dengan kripta melebar (+)

Tonsilitis Folikuler
tonsilitis akut dengan bercak-bercak detritus yang menyerupai
bintik-bintik

Tonsilitis difteri
pseudomembran putih keabuan yang jika diangkat akan
mudah berdarah
Tonsilitis Akut Tonsilitis Kronik

Etiologi EBV atau streptococcus β Streptococcus β hemolitikus,


hemolitikus dengan risk factor: perokok berat,
Tonsilitis – Akut vs. Kronik higien mulut, makanan tertentu,
pengaruh cuaca, kelelahan fisik,
pengoabtan tonsilitis akut yang
anadekuat
Gejala nyeri tenggorokan, odinofagia, Mengganjal ditenggorokan, rasa
demam, lesu, nyeri sendi, otalgia kering, napas berbau
PF Tonsil bengkak, hiperemis, detritus Tonsil membesar, permukaan
(leukosit PMN): folikel/lakuna, tidak rata, kriptus melebar, kripti
membran semu, KGB yang terisi detritus
Submandibula teraba, nyeri tekan
(+)
Terapi Viral: istirahat, minum cukup, Menjaga higien mulut,
analgetik or antivirus jika berat. tonsilektomi jika: infeksi berulang,
Bakteri: penisilin, eritromisin, gejala sumbatan, curiga
antipiretik dan obat kumur. neoplasma
TONSILEKTOMI
Indikasi Absolut Indikasi Relatif
a) Pembengkakan tonsil yang a) Terjadi 3 episode
menyebabkan obstruksi atau lebih infeksi
tonsil per tahun
saluran napas, disfagia dengan terapi
berat, gangguan tidur dan antibiotik adekuat
komplikasi kardiopulmoner b) Halitosis akibat
b) Abses peritonsil yang tidak
tonsilitis kronik yang
tidak membaik
membaik dengan dengan pemberian
pengobatan medis dan terapi medis
drainase c) Tonsilitis kronik atau
c) Tonsilitis yang menimbulkan
berulang pada karier
streptokokus yang
kejang demam tidak membaik
d) Tonsilitis yang dengan pemberian
membutuhkan biopsi untuk antibiotik β-laktamase
resisten
menentukan patologi
anatomi
Abses Peritonsil (Abses Quincy)
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017
Audiologic Testing in Pediatric
• Behavioral observation audiometry
– Behavioral reflex audiometry: to observe reflex
evoked by sound → eye widening, grimacing,
auropalpebral reflex, moro reflex, cessation reflex.
– Behavioral response audiometry (5-6 month) → to
evoke spesific response: moving head toward sound.
• Brainstem evoked response audiometry:
– BERA is a series of scalp-recorded electrical potentials
generated in the auditory nerve and brainstem during the
first 10 to 20 ms after the onset of a transient stimulus.
– Can be used in infant, children, adults, & comatose patient.

 Play audiometry (2-5 year)


– a kid is trained to do spesific task (games) when
hearing sound stimulus.
• Tympanometry:
– To assess middle air condition by placing probe
tone in ear canal to sense the pressure based on
the sound energy reflected from middle ear.
• Otoacoustic emission:
– objective, noninvasive, and rapid measures used
to determine cochlear outer hair cell function.
– Evoked OAE are acoustic signals generated by the
cochlea in response to auditory stimulation.
• Pure tone audiometry:
– The audiogram is a graph that depicts threshold as a
function of frequency. Threshold is defined as the softest
intensity level that a pure tone (single frequency) can be
detected 50% of the time.
Polip Hidung
 Gejala klinis :
hidung tersumbat
rinore ( dari jernih sampai purulen )
nyeri pada hidung
hiposmia / anosmia
sakit kepala
 Pemeriksaan fisik
rhinoskopi anterior -> massa berwarna pucat,
berasal dari meatus dan mudah digerakkan
 Tampon adrenalin :

Polip kadang perlu dibedakan dengan


konka nasi inferior, yakni dengan cara
memasukan kapas yang dibasahi dengan
larutan efedrin 1% (vasokonstriktor), konka
nasi yang berisi banyak pembuluh darah
akan mengecil, sedangkan polip tidak
mengecil.
 Stadium 1 -> polip masih batas di meatus
medius
 Stadium 2 -> polip sudah keluar dari
meatus medius, tampak di rongga hidung
tapi belum memenuhi rongga hidung
 Stadium 3 -> polip yang masif
 Pemeriksaan penunjang :
 Naso-endoskopi,
 Foto waters, Schedel AP dan lateral, Caldwell

• Tatalaksana :
o Kortikosteroid : Fluticasone, budesonide,
mometason
o Antileukotriene
o Definitif : polipektomi, Endoscopic Sinus Surgery.
Angiofibroma Nasofaring
Juvenille
 Definisi : Tumor jinak pembuluh darah nasofaring.
 Gejala :
 Hidung tersumbat progresif
 Epistaksis berulang
 Terjadi pada remaja (Juvenille)
 Pada rhinoskopi : massa abu-abu hingga merah
muda dan rapuh.

• Diagnosis : CT scan dan arterigrafi

• Terapi : Operasi atau radioterapi


UKMPPD FKUNMAL BATCH 4 2017