Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

F25.0 GANGGUAN SKIZOAFEKTIF TIPE MANIK

Oleh :
Catur Mulyaningsih Sudiarso
013040040

Pembimbing :
dr. Idawati Waromi, Sp.KJ.
DATA EPIDEMIOLOGI
 No. Catatan Medik : 0002922
 Nama : Tn. OP
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Umur : 35 tahun
 Pendidikan : SMA
 Status Pernikahan : Belum menikah
 Suku/Bangsa : Serui / Indonesia
 Agama : Kristen Protestan
 Pekerjaan : Tidak Bekerja
 Alamat : Dok IX Kali, Jayapura
 Ruang Perawatan : Ruang Infeksius
 Tanggal MRSJ : 19 April 2019
 Yang Mengantar : Kakak kandung pasien
 Alamat : Dok IX Kali, Jayapura
 Pemberi Informasi : Esali Pairi (Kakak Kandung Pasien)
LAPORAN PSIKIATRIK

Keluhan Utama
Heteroanamnesis : Pasien melempar
batu ke daerah sekitar tempat tinggal.
Riwayat Penyakit Sekarang

 Pasien datang ke IGD RSJD Abepura diantar oleh keluarga dan 2


anggota Polisi dengan keluhan sering mengamuk. Kakak pasien
mengatakan pasien sering marah-marah, berteriak-teriak, menyanyi,
dan melepaskan pakaiannya.

 Pasien awalnya mengalami perubahan tingkah laku semenjak


berpisah dengan pasangannya pada tahun 2017. Sejak saat itu
pasien menjadi sering marah-marah tanpa sebab dan sering
mengatakan bahwa pasien belum membayar hutangnya ke
pasangannya sebesar Rp. 50.000. Pasien juga mengatakan bahwa
pasangannya sering melintasi depan rumahnya dengan kendaraan
bermotor. Padahal itu bukan pasangannya.
Riwayat Penyakit Sekarang

 Kakak pasien mengaku bahwa pasien pernah dirawat di RSJD Abepura pada
bulan April 2018. Pada saat itu, pasien juga diantar oleh anggota kepolisian,
dikarenakan pasien mengamuk dan menghancurkan kaca rumah tetangganya
(GAF Scale : 70-61). Setelah dirawat selama 3 minggu dan mendapatkan
pengobatan, pasien diijinkan untuk pulang (GAF Scale : 80-71).

 Namun, selama 4 bulan terakhir pasien tidak pernah datang kontrol ke Poliklinik
RSJD Abepura, sehingga pasien tidak pernah melanjutkan pengobatan lagi.
Semenjak saat itu, gejala yang dialami pasien tahun lalu timbul kembali, seperti
marah-marah tanpa sebab, berteriak-teriak, menyanyi, bahkan mengamuk dan
membuang barang-barang dirumah .
Riwayat Penyakit Sekarang

 Kakak pasien bercerita bahwa pasien mengatakan bahwa Ia diperintah untuk


menikah dengan Ibu Irfan “istri Presiden” Dok IX. Pasien juga sering mengatakan
bahwa Ia tidak memiliki uang dan tidak mampu untuk membayar hutangnya.

 Kakak kandung pasien mengatakan bahwa 2 hari SMRS pasien berkeliaran


membawa kawat panjang dan ingin menusuk istri tetangganya dengan kawat
panjang itu, namun korban berhasil menghindar. Pasien juga menjadi lebih
sering marah-marah dan mengancam keluarga dengan melempar batu ke
daerah sekitar dan kendaraan yang sedang melintasi daerah sekitar rumah.
Puncaknya, 1 hari SMRS pasien melempar batu ke sebuah warung makan dan
toko di seberang jalan rumah pasien, sehingga pasien dilaporkan oleh pemilik
toko ke kepolisian agar pasien dapat diamankan (GAF Scale : 60-51)
Riwayat Penyakit Dahulu

Gangguan Medis
Gangguan Psikiatrik
Umum
• Pasien sebelumnya • Pasien pernah mengalami
pernah mengalami hal riwayat trauma kepala,
seperti ini. yaitu dipukul dengan
• Pasien pernah dirawat balok. Riwayat hipertensi
di RSJD Abepura tahun disangkal, riwayat jantung
2018. disangkal, riwayat DM
• Setelah pulang, pasien disangkal.
tidak pernah kontrol di
Poliklinik RSJD
Abepura.
Riwayat Penyakit Keluarga

Pasien adalah anak ke 6 dari 7 bersaudara.


Di dalam keluarga ada yang sakit seperti pasien, yaitu kakak
kandung (anak ke-5).
 Keluarga pasien mengatakan pasien
belum pernah menggunakan ganja
atau zat-zat lain.
Riwayat
 Riwayat merokok (+), sehari 1 atau
Penggunaan dua batang rokok.
Zat
 Riwayat alkohol (+), keluarga tidak
tahu kapan terakhir pasien minum
alkohol.
Riwayat Kehidupan Pribadi

Riwayat Prenatal dan


Perinatal
Saat mengandung ibu
pasien tidak mengalami Masa kanak-kanak awal ( 0
sakit, tidak ada riwayat sampai usia 3 tahun)
penggunaan obat-obatan,
Tumbuh kembang pasien
merokok dan mengonsumsi
sama dengan teman- teman
alkohol. Pasien lahir cukup
sebayanya.
bulan, spontan, dan
langsung menangis,
ditolong bidan, tidak ada
cacat bawaan.
Riwayat Kehidupan Pribadi

 Masa kanak-kanak pertengahan (usia 3 –


11 tahun)
 Tumbuh kembang pasien sama dengan
teman- teman sebayanya.

 Masa kanak-kanak akhir (pubertas sampai


remaja)
Pasien bersekolah di Jayapura dan
tidak pernah berpindah sekolah.
Riwayat Kehidupan Pribadi
 Masa Dewasa
 Riwayat pekerjaan
 Pasien tidak bekerja.
 Riwayat pernikahan
 Pasien belum menikah
 Agama
 Pasien beragama Kristen Protestan, pasien sering beribadah pada hari
minggu di gereja.
 Aktivitas sosial
 Pasien sebelum sakit berinteraksi baik dengan lingkungan sekitar.
Namun setelah sakit, pasien tidak berinteraksi baik dengan lingkungan
sekitar.
 Riwayat Hukum
 Pasien belum pernah bermasalah dengan hukum dan tidak ada
riwayat tindak kejahatan.
STATUS GENERALIS

Tanda-tanda vital
Kepala / Leher : Rambut hitam keriting,
KU : Gelisah
Kesadaran : Compos Mentis Konjungtiva Anemis (+/+),
Vital sign: Sclera Ikterik (-/-),
Tekanan Darah : 110/70 mmHg Pembesaran KGB (-).
Nadi : 88 x/mnt Thorax :
Suhu : 36,5 C
Inspeksi : Simetris, Ikut Gerak Napas,
Respirasi : 20 x/mnt
Retraksi (-)
Palapasi : Vocal Fremitus Dextra =
Sinistra
Perkusi : Paru-paru: Sonor; Jantung:
Pekak
Auskultasi : Suara Nafas Vesikuler,
rhonki (- /-), wheezing (-/-), BJ I-II
reguler.
 Abdomen :
 Inspeksi : tampak datar,
 Palapasi : Nyeri tekan (-), H/L tidak teraba
 Perkusi : Pekak
 Auskultasi : Bising usus (+) Normal
 Ekstremitas : Tibia Sinistra : Ulkus (+), pus (+), Edem (+), Nyeri (+)

Status Neurologis
1. Refleks Fisiologis : BPR (+/+), TPR (+/+), KPR (+/+), APRR (+/+)
2. Refleks Patologis : Babinsky (-/-), Schaefer (-/-), Chaddok (-/-),
Oppenheim (-/-), Gonda (-/-), Gordon (-/-)
STATUS PSIKIATRIKUS
STATUS PSIKIATRIKUS
Formulasi Diagnosis

AKSIS I F.25.0
• Dari heteroanamnesa
dan pemeriksaan Gangguan
psikiatrik didapatkan
gejala pasien sering Skizoafektif
marah-marah, berteriak-
teriak, dan menyanyi,
tipe manik
buka baju dan pakaian.
• Pasien juga memiliki
halusinasi visual.
• Gejala ini sudah
berulang kali terjadi jika
Aksis II :
F60.3 Gangguan kepribadian emosional tak
stabil

Aksis III.
Penyakit kulit dan jaringan subkutan, L00-L99
Aksis IV
Masalah berkaitan dengan lingkungan social
Masalah dengan “primary support group”
(keluarga).
Aksis V
GAF 40-31 (disabilitas berat dalam fungsi.)
DIAGNOSIS BANDING

 Skizofrenia
 Gangguan Waham
Terapi

Terapi Oral
Farmakologi: Haloperidol 5 mg tab/8 jam
Trihexyphenidyl 2 mg/12 jam
Terapi Injeksi:
Merlopam 2 mg (0-0-1/2)
Haloperidol 5 Depakote 500 mg/12 jam
mg/12 jam (IM) Eritromisin 500 mg tab/12 jam
Diazepam 10 Paracetamol 500 mg tab/8 jam
mg/12 jam (IM) Asam mefenamat 500 mg/8 jam
Gentamycin Zalf
Prognosis

 Ad vitam : dubia at bonam


 Ad fungsionam : dubia at bonam
 Ad sanationam : dubia at bonam
Pembahasan
Pedoman diagnostik
Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manik yang
tunggal maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode
skizoafektif tipe manik.
Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang
tak begitu menonjol dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang
memuncak.
Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu, atau lebih baik
lagi hasil
Dari dua,heteroanamnesa
gejala skizofrenia
danyang
hasil khas.
pemeriksaan status psikiatri, gejala dan tanda
yang dialami pasien serta onset dan perjalanan penyakit pada saat ini memenuhi
kriteria diagnostik F.25.0 Gangguan Skizoafektif Tipe Manik berdasarkan Pedoman
Penggolongan dan Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGJ III), dimana pada pasien ini
mengalami kegelisahan yang memuncak, berteriak-teriak, menyanyi, marah-marah,
jalan sendiri tanpa tujuan, adanya halusinasi visual, arus pikiran flight of ideas, dan
afek yang meningkat.
Pembahasan
 Pada pasien ini dilakukan perawatan di Rumah Sakit ( rawat inap ).
Indikasi utama untuk perawatan di Rumah Sakit adalah untuk tujuan
diagnostik, menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena sering
jalan keluar rumah tanpa pamit dan tanpa tujuan, merasa gelisah, suka
berteriak-teriak, menyanyi, memarahi orang tanpa sebab. Perawatan
di Rumah Sakit ini menurunkan stress pada pasien dan membantu
pasien menyusun aktivitas harian pasien.

Perawatan antipsikotik, yaitu :


Triheksifenidil
Haloperidol
Lorazepam
1.Terapi psikososial
Terhadap penderita :
 Memberikan edukasi terhadap penderita agar memahami gangguannya
lebih lanjut , cara pengobatan, efek samping yang dapat muncul,
pentingnya kepatuhan dan keteraturan minum obat.
 Dukungan untuk meningkatkan rasa percaya diri individu, memberikan
dukungan kepada penderita agar penderita tidak merasa putus asa.
Terhadap keluarga :
 Menyampaikan informasi kepada keluarga mengenai sakit yang dialami
pasien dan pengobatannya sehingga keluarga dapat memahami dan
menerima kondisi penderita untuk minum obat dan kontrol secara teratur
dan pentingnya peran keluarga dalam mendampingi pasien.
Farmakoterapi
Triheksifenidil
Indikasi
Parkinsonisme, gangguan ekstrapiramidal karena obat (kecuali tardive dyskinesia).
Peringatan
Penyakit kardiovaskular, hati, atau ginjal, hindari pemutusan obat mendadak, lansia.
Kontraindikasi
Retensi urin, glaucoma, dan obstruksi saluran cerna.
Efek samping
Mulut kering, gangguan saluran cerna, pusing, penglihatan kabur; lebih jarang: retensi
urin, takikardia, hipersensitivitas, gugup; dosis tinggi pada pasien yang peka : bingung,
eksitasi, gangguan jiwa.
Dosis
1 mg/hari, dinaikkan bertahap.Dosis pemeliharaan 5-15 mg/hari, terbagi dalam 3-4 kali
pemberian.Lansia : dosis di batas bawah dari kisaran dosis. Sediaan
Tablet: 2 mg, 5 mg.
Farmakoterapi
Haloperidol (lodomer)
Indikasi
Psikosis
Kontraindikasi
Wanita hamil
Efek samping
Reaksi ekstrapiramidal, depresi, hipotensi,
Dosis
Psikosis : 2 mg dalam 1-2 dosis terbagi pada hari pertama, kemudian 4 mg dalam 1-2 dosis terbagi pada
hari kedua. Dosis lazim 4-6 mg per hari. Dosis diatas 10 mg per hari jika manfaatnya lebih besar daripada
resikonya (maksimum 16 mg perhari). Lansia (atau gangguan fungsi hati atau ginjal) dosis awal 500 mcg
dua kali sehari dinaikkan bertahap sebesar 500 mcg hingga mencapai 1-2 mg, dua kali sehari. Anak-anak
dibawah 15 tahun tidak direkomendasikan.
Mania : dosis awal 2 mg, satu kali sehari, naikan dosis jika perlu secara bertahap sebanyak 1 mg perhari.
Dosis lazim 1-6 mg per hari; lansia (atau pada gangguan fungsi hati atau ginjal) dosis awal 50 mcg 2 kali
sehari, naikkan dosis bertahap sebesar 500 mcg dua kali sehaari hingga mencapai 1-2 mg dua kali sehari.
Sediaan
Tablet 0,5mg dan 1,5 mg, ampul 5mg/ml.
Farmakoterapi
Lorazepam (Merlopam)
Indikasi
Pengobatan jangka pendek gejala ansietas atau ansietas yang berhubungan dengan gejala depresi.
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap benzodiazepine
Efek samping
Sedasi diikuti pusing, lemah, lesu, disorientasi, depresi, mual, sakit kepala & gangguan tidur, agitasi, gejala
dermatologi, penglihatan kabur, penurunan TD.
Dosis
Dosis lazim 2-6 mg/hari dalam dosis terbagi
Dosis bervariasi 1-10 mg
Ansietas awal 2-3 mg/hari terbagi dalam 2-3 dosis
Insomnia yang berhubungan dengan ansietas atau stress sementara 2-4 mg dosis tunggal sebelum tidur
Usia lanjut & pasien kondisi lemah, awal 1-2 mg/hari dalam dosis terbagi
Insomnia karena ansietas atau stress ringan 1-2 mg dosis tunggal menjelang tidur.
Sediaan
Tab 0,5-2 mg