Anda di halaman 1dari 38

PENGELOLAAN PERALATAN

KESEHATAN YANG AMAN DAN


BERMUTU
Wahyudi Ifani, ST, M.Si
Kepala BPFK Medan

DISAMPAIKAN PADA PERTEMUAN MENINGKATKAN MUTU PENERAPAN STANDAR DI


BIDANG SARANA DAN PERALATAN MEDIK
DINAS KESEHATAN PROPINSI SUMATERA UTARA
MEDAN, 24 JUNI 2019
Sumber: www.ecri.org
Peraturan Perundangan
 UU No. 44 / 2009 tentang Rumah Sakit
 Permenkes No.54 /2015 tentang Pengujian dan
Kalibrasi Alat Kesehatan
 Permenkes No. 530 /2007 tentang Struktur
Organisasi BPFK
 Permenkes No. 64 /2015 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Kesehatan
 Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir
Nomor 8/2011 tentang Keselamatan Radiasi dalam
Penggunaan Pesawat Sinar-X Radiologi Diagnostik
dan Intervension.
 Peraturan Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor
2/2018 tentang Uji Kesesuaian Pesawat Sinar-x
Radiologi Diagnostik dan Intervensional
UU Pasal Yang Bersangkutan
No. 44 Tahun Pasal 7
2009
Tentang 1) Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan,
RUMAH SAKIT prasarana, sumber daya manusia, kefarmasian, dan peralatan.

Pasal 15
1. Persyaratan peralatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1)
meliputi peralatan medis dan nonmedis harus memenuhi standar
pelayanan, persyaratan mutu, keamanan, keselamatan dan laik pakai.
2. (2) Peralatan medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diuji dan
dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan
dan/atau institusi pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang.
Pasal 16
1) Persyaratan peralatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1)
meliputi peralatan medis dan nonmedis harus memenuhi standar
pelayanan, persyaratan mutu, keamanan, keselamatan dan laik pakai.
2) Peralatan medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diuji dan
dikalibrasi secara berkala oleh Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan
dan/atau institusi pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang.
3) Peralatan yang menggunakan sinar pengion harus memenuhi
ketentuan dan harus diawasi oleh lembaga yang berwenang.
4) Penggunaan peralatan medis dan nonmedis di Rumah Sakit harus
dilakukan sesuai dengan indikasi medis pasien
5) Pengoperasian dan pemeliharaan peralatan Rumah Sakit harus dilakukan
oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya.
PROGRAM INDONESIA SEHAT

Jaminan Kesehatan
Paradigma Sehat Penguatan Yankes Nasional
Program
Program Program
• Pengarusutamaan • Benefit
kesehatan dlm • Peningkatan Akses
• Sistem pembiayaan: asuransi
pembangunan • Peningkatan Mutu – azas gotong royong
• Prom prev sbg pilar • Regionalisasi Rujukan • Kendali Mutu & Kendali Biaya
utama upaya kesehatan • Sasaran: PBI dan Non PBI
• Pemberdayaan Indikator
masyarakat
• Jml Kecamatan yg memiliki
minimal 1 Puskesmas yg Tanda
Indikator tersertifikasi akreditasi kepesertaan
• Kota Sehat • Jml Kab/Kota yg memiliki KIS – Kartu BPJS
• Kecamatan Sehat minimal 1 RSUD yg Indikator:
terakreditasi
Total coverage

6
PENGUATAN PELAYANAN
KESEHATAN

PROGRAM
PENINGKATAN
PROGRAM
AKSES
PENINGKATAN
• SARANA
MUTU
PRASARANA
• AKREDITASI RS
• KOMPETENSI
• AKREDITASI
SDM
PKM
• ALAT
KESEHATAN

Terwujudnya Akses
Pelayanan Kesehatan Dasar
dan Rujukan yang berkualitas
Bagi Masyarakat 7
Beban Kerja BPFK Medan di 7 ProPinsi

Total RS* Total Puskesmas**


RS dan
Puskesmas di
Wilayah Kerja 485 1819

Puskesmas
Rumah Sakit

NAD Sumut Bengkulu Riau Kepri Sumbar Jambi

*http://sirs.yankes.kemkes.go.id/rsonline/data_list.php
**http://www.bankdata.depkes.go.id/puskesmas/
Manajemen Fasilitas dan Keselamatan
(MFK)
8 FOKUS :
1. KEPEMIMPINAN DAN PERENCANAAN (1-3)
2. KESELAMATAN DAN KEAMANAN (4)
3. BAHAN-BAHAN BERBAHAYA (5)
4. KESIAPAN MENGHADAPI BENCANA (6)
5. PENANGANAN KEBAKARAN (7)
6. PERALATAN MEDIS (8)
7. SISTEM UTILITAS (9-10)
8. PENDIDIKAN STAF (11)
TUGAS BALAI PENGAMANAN
FASILITAS KESEHATAN:

PERMNEKSES NO.530 TAHUN 2007


FUNGSI-FUNGSI BPFK SESUAI PMK NO.530 TAHUN 2007:

1) Pengujian dan kalibrasi alat kesehatan


2) Pengujian dan kalibrasi sarana dan prasarana kesehatan.
3) Pengamanan dan pengukuran paparan radiasi
4) Penyelenggaraan monitoring dosis radiasi personal
5) Pengukuran luaran radiasi terapi
6) Pengendalian mutu dan pengembangan teknologi Pengamanan fasilitas
kesehatan.
7) Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi Pengujian, kalibrasi, proteksi
radiasi, sarana dan prasarana kesehatan.
8) Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan.
9) Pelaksanaan bimbingan teknis di bidang pengamanan fasilitas kesehatan.
10) Pelaksanaan ketatausahaan.
SIKLUS MANAJEMEN PERALATAN KESEHATAN
PEMELIHARAAN (MAINTENANCE):
Pemeliharaan peralatan medis dapat dibagi
menjadi dua kategori utama yaitu:
1. Inspeksi dan pemeliharaan preventif
(IPM).
2. Pemeliharaan korektif / Corrective
Maintenance (CM)
IPM mencakup semua kegiatan yang dijadwalkan
untuk memastikan fungsi peralatan dan mencegah
kerusakan atau kegagalan. Inspeksi adalah
kegiatan terjadwal yang diperlukan untuk
memastikan peralatan medis berfungsi dengan
benar. Ini mencakup pemeriksaan kinerja dan
keselamatan.
 Pemeliharaan preventif (PP) adalah kegiatan pemeliharaan
yang dilakukan secara terjadwal, untuk memperpanjang
umur peralatan dan mencegah kegagalan (yaitu dengan
kalibrasi, penggantian bagian, pelumasan, pembersihan, dll).
 Pemeliharaan Korektif (CM) meruapakan kegiatan perbaikan
terhadap peralatan dengan tujuan mengembalikan fungsi
peralatan sesuai dengan kondisi awalnya. Ciri dari kegiatan
CM adalah biasanya tidak terjadwal, berdasarkan permintaan
dari pengguna peralatan atau dari personel yang melakukan
kegiatan performing maintenance.
POTENSI DAN HIDUP PERALATAN DENGAN/TANPA
PEMELIHARAAN
Jadwal pemeliharaan peralatan kesehatan yang sistematis
menjamin peralatan tersebut aman digunakan dan memperoleh
pemanfaatan maksimal dengan biaya yang wajar. Keuntungan
lain adalah meminimalkan risiko klinis dan fisik.
Setiap peralatan kesehatan mempunyai klasifikasi risiko
berdasarkan:
Fungsi peralatan kesehatan : penghantar energi, pemantau
pasien, atau peralatan untuk kenyamanan pasien.
Risiko fisik
Preventif pemeliharaan
Riwayat insiden

Masing-masing peralatan kesehatan mempunyai bobot pada


kategori fungsi, risiko fisik dan kebutuhan pemeliharaan.
SERI PANDUAN WHO TERKAIT MANAJEMEN PERALATAN
KESEHATAN
Kelompok berdasarkan Fungsi
Peralatan Kesehatan (FUNGSI)
Kelompok berdasarkan Risiko Fisik dan Penggunaan Klinis (RISIKO)
Kelompok berdasarkan Persyaratan Pemeliharaan (PEMELIHARAAN)
Kelompok berdasarkan Insiden Peralatan Kesehatan
(INSIDEN)
Dari 4 kelompok di atas ditentukan/dihitung pemeliharaan preventif yang
didasarkan pada EM (Equipment Management) :

EM = FUNGSI + RISIKO + PEMELIHARAAN + INSIDEN

Frekuensi Inspeksi :
A = Annual (Dilakukan 1 tahun sekali)
S = Semi-annual (Dilakukan 6 bulan sekali)
T = Three-yearly (Dilakukan 4 bulan sekali)

Nilai EM < 12 diinspeksi sesuai keperluan


Nilai EM 12 -14 dijadwalkan diinspeksi setidaknya setiap setahun sekali.
Nilai EM 15 – 19 dijadwalkan diinspeksi setidaknya setiap enam bulan
sekali.
Nilai EM ≥ 20 dijadwalkan diinspeksi setidaknya setiap empat bulan sekali.
Contoh perhitungan Equipment Management (EM):
PEMELIHARAAN KOREKTIF (CM)

Pemeliharaan korektif ini dapat dicapai pada berbagai tingkatan:

• a. Tingkat komponen, troubleshooting tingkat komponen dan


perbaikan mengisolasi kegagalan sampai ke komponen tunggal yang
diganti. Dalam peralatan elektrik , peralatan mekanik, dan untuk
komponen pasif dari peralatan elektronik (seperti resistor atau
kapasitor dalam suatu rangkaian elektronik, atau sekering) ini sering
pendekatan perbaikan yang paling efektif.
• b. Tingkat Modul (board level), untuk peralatan elektronik, adalah umum
untuk mengisolasi kegagalan untuk sebuah modul tertentu dan untuk
mengganti seluruh modul dari pada komponen elektronik yang diberikan.

• c. Tingkat peralatan atau sistem. Dalam beberapa kasus bahkan papan-


tingkat pemecahan masalah dan perbaikan terlalu sulit atau memakan
waktu. Dalam kasus seperti itu lebih efektif jika mengganti seluruh
peralatan atau sub sistem tersebut.
Maksimum Biaya Pemeliharaan
• Perhitungan Batas Maksimum Biaya Pemeliharaan
(Maximum Maintenance Expenditure Limit = MMEL)
adalah suatu cara untuk menghitung biaya yang masih
dapat diterima untuk memperbaiki atau memelihara
suatu peralatan medis di rumah sakit.
• MMEL membutuhkan beberapa data sebagai dasar
perhitungan batas maksimum biaya pemeliharaan,
yaitu usia teknis dan harga pengganti dan MEL
Factor.
MEL FACTOR (menurut American Hospital Association)

PERALATAN MEL FACTOR


Furniture Rumah Sakit 80%
Peralatan listrik dasar 80%
Peralatan mekanik dasar 80%
Peralatan Listrik mekanik 80%
dasar
Peralatan Khusus 90%
RUMUS :

MMEL = (MEL Faktor)


x (Persentase Usia Manfaat)
x (Harga Pengganti)
ANALISA PERHITUNGAN :

Usia pakai = 9480 jam


Usia teknis = 16064 jam
Sisa usia teknis = Usia teknis – Usia pakai
= 16064 jam – 9480 jam
Sisa usia teknis = 5584 jam
Persentase usia manfaat = Sisa usia teknis x 100%
Usia teknis
Persentase usia manfaat = 5584/16064 x 100%
= 41%
CONTOH PERHITUNGAN :

•Sebuah alat Defibrillator yang mulai


digunakan sejak tahun 2003 dengan Usia
Teknis adalah 8 tahun atau 16.064 Jam,
mengalami kerusakan pada tahun 2008
dengan usia pakai adalah 5 tahun atau 9.480
Jam. Hitunglah biaya maksimum perbaikan
alat Defibrilator tersebut, jika harga
pengganti dengan spesifikasi yang sama
adalah Rp. 78.000.000,-
• MMEL = (MEL Faktor) x (Persentasi Usia Manfaat) x (Harga
Pengganti)
• MMEL = 90 % x 41 % x Rp. 78.000.000,- = Rp. 28.782.000,-

Berarti jika biaya perbaikan alat defibrilator


tersebut lebih besar dari Rp. 28.782.000,
maka alat defibrilator tersebut secara
ekonomi tidak layak untuk diperbaiki dan lebih
tepat jika diganti dengan Alat Defibrilator yang
baru.
Contoh label inspeksi
DAFTAR PUSTAKA :

1. Kementerian Kesehatan RI, 2014, Pedoman Pengelolaan Peralatan


Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Dirjen Bina Upaya
Kesehatan, Jakarta

2. World Health Organization , 2011, Medical Device Technical Series,


Medical Equipment Maintenance Programme Overview, Department
of Essential Health Technologies, Switzerland.

3. Caroline Temple-Bird, 1999, Healthcare Technology Management


Consultant, How to Organize the Maintenance of your Healthcare
Technology, Ziken International Consultant Ltd, Lewes, UK.