Anda di halaman 1dari 35

KASUS KEGAWATDARURATAN PADA WISATA

AIR

“TENGGELAM, TERPELESET DI PINGGIR KOLAM GIGITAN


SERANGGA AIR”
DEFINISI TENGGELAM
 DEFINISI TENGGELAM MENGACU PADA
‘ADANYA CAIRAN YANG MASUK HINGGA
MENUTUPI LUBANG HIDUNG DAN MULUT’,
SEHINGGA TIDAK TERBATAS PADA KASUS
TENGGELAM DI KOLAM RENANG, ATAU
PERAIRAN SEPERTI SUNGAI, LAUT, DAN DANAU
SAJA, TETAPI JUGA PADA KONDISI
TERBENAMNYA TUBUH DALAM SELOKAN ATAU
KUBANGAN DIMANA BAGIAN WAJAH BERADA DI
BAWAH PERMUKAAN AIR (PUTRA, 2014).
ETIOLOGI TENGGELAM

 TIDAK BISA BERENANG


 KELELAHAN DAN KEHABISAN TENAGA

 TERGANGGUNYA KEMAMPUAN FISIK AKIBAT


PENGARUH OBAT-OBATAN
 KETIDAKMAMPUAN AKIBAT HIPOTERMIA, SYOK,
ATAU CEDERA
 KETIDAKMAMPUAN AKIBAT PENYAKIT AKUT
KETIKA BERENANG
MANIFESTASI KLINIS KORBAN TENGGELAM

 FREKUENSI PERNAFASAN BERKISAR DARI PERNAPASAN


YANG CEPAT DAN DANGKAL SAMPAI APNEU.
 CIANOSIS
 PENINGKATAN EDEMA PARU
 KOLAPS SIRKULASI
 HIPOKSEMIA
 ASIDOSIS
 TIMBULNYA HIPERKAPNIA
 LUNGLAI
 POSTUR TUBUH DESEREBRASI ATAU DEKORTIKASI
 KOMA DENGAN CEDERA OTAK YANG IRREVERSIBLE
KLASIFIKASI TENGGELAM

1. BERDASARKAN KONDISI KEJADIAN


a. TENGGELAM
b. HAMPIR TENGGELAM
2. BERDASARKAN KONDISI PARU – PARU
KORBAN
a. TYPICAL DRAWNING
b. ATYPICAL DRAWNING
PATOFISIOLOGI

 HIPOKSIA MERUPAKAN HAL UTAMA YANG TERJADI


SETELAH SEORANG INDIVIDU TENGGELAM. KEADAAN
TERHAMBATNYA JALAN NAFAS AKIBAT TENGGELAM
MENYEBABKAN ADANYA GASPING DAN KEMUDIAN
ASPIRASI, DAN DIIKUTI DENGAN HENTI NAFAS (APNEA)
VOLUNTER DAN LARINGOSPASME. HIPOKSEMIA DAN
ASIDOSIS YANG PERSISTEN DAPAT MENYEBABKAN
KORBAN BERESIKO TERHADAP HENTI JANTUNG DAN
KERUSAKA SISTENM SARAF PUSAT. LARINGOSPASME
MENYEBABKAN KEADAAN PARU YANG KERING, NAMUN
KARENA ASPIKSIA MEMBUAT RELAKSI OTOT POLOS, AIR
DAPAT MASUK KE DALAM PARU DAN MENYEBABKAN
EDEMA PARU.
 ASPIRASI AIR YANG MASUK KEDALAM PARU DAPAT
MENYEBABKAN VAGOTONIA, VASOKONTRIKSI PARU, DAN
HIPERTENSI. AIR SEGAR DAPAT MENEMBUS MEMBRAN
ALVEOLUS DAN MENGGANGU STABILITAS ALVEOLUS
DENGAN MENGHAMBAT KERJA SURFAKTAN. SELAIN ITU, AIR
SEGAR DAN HIPOKSEMI DAPAT MENYEBABKAN LISIS
ERITROSIT DAN HIPERKALEMIA. SEDANGKAN, AIR GARAM
DAPAT MENGHILANGKAN SURFAKTAN, DAN MENGHASILKAN
CAIRAN EKSUDAT YANG KAYA PROTEIN DI ALVEOLUS,
INTERTITIAL PARU, DAN MEMBRAN BASAL ALVEOLAR
SEHINGGA MENJADI KERAS DAN SULIT MENGEMBANG. AIR
GARAM JUGA DAPAT MENYEBABKAN PENURUNAN VOLUME
DARAH DAN PENINGKATAN KONSENTASI ELEKTROLIT
SERUM.
PATHWAY
PEMERIKSAAN PENUNJANG

 LABORATORIUM
 BGA + OKSIMETRI, METHEMOGLOBINEMIA DAN
CARBOXYHEMOGLOBINEMIA CBC
PROTHROMBIN TIME, PARTIAL THROMBOPLASTIN TIME,
FIBRINOGEN, D-DIMER, FIBRIN
 SERUM ELEKTROLIT, GLUKOSA, LAKTAT, FACTOR KOAGULASI
 LIVER ENZYMES
 ASPARTATE AMINOTRANSFERASE DAN ALANINE
MINOTRANSFERASE,
 RENAL FUNCTION TESTS (BUN, CREATININE)
 URINALISIS
PENATALAKSANAAN KORBAN TENGGELAM

DALAM RAOOF (2008), PENATALAKSANAAN


PASIEN DENGAN NEAR DROWNING UMUMNYA
TERBAGI MENJADI TIGA FASE
1. PERAWATAN PRE HOSPITAL
2. PERAWATAN DI UNIT GAWAT DARURAT
3. PERAWATAN RAWAT INAP
1. PERAWATAN PRE HOSPITAL

PADA FASE INI, PENATALAKSANAAN DIFOKUSKAN PADA AIRWAY (A),


BREATHING (B), DAN CIRCULATION (C).
PASIEN HARUS DIPINDAHKAN DARI AIR SECEPATNYA, NAMUN
MENYELAMATKAN PERNAFASAN DAPAT DIMULAI WALAU KORBAN
MASIH BERADA DI AIR. CARA MEMINDAHKAN PASIEN HARUS BENAR
DENGAN MEMINIMALKAN GERAKAN PADA LEHER PASIEN UNTUK
MENGHINDARI TERJADINYA CEDERA MEDULA SPINAL. KETIKA PASIEN
TELAH BERADA DI PERMUKAAN YANG DATAR, SEGERA DILAKUKAN
CPR KETIKA NADI TIDAK TERABA
PENANGANAN UTAMA UNTUK KORBAN TENGGELAM ADALAH
PEMBERIAN NAFAS BUATAN UNTUK MENGURANGI HIPOKSEMIA.
MELAKUKAN PERNAPASAN BUATAN DARI MULUT KE HIDUNG LEBIH
DISARANKAN KARENA SULIT UNTUK MENUTUP HIDUNG KORBAN
SAAT PEMBERIAN NAPAS MULUT KE MULUT. PEMBERIAN NAPAS
BUATAN DIANJURKAN HINGGA 10-15 KALI SEKITAR 1 MENIT.
KOMPRESI DADA DIINDIKASIKAN PADA KORBAN YANG TIDAK SADAR
DAN TIDAK BERNAPAS DENGAN NORMAL, KARENA KEBANYAKAN
KORBAN TENGGELAM MENGALAMI HENTI JANTUNG AKIBAT HIPOKSIA
2. PERAWATAN DI UNIT GAWAT DARURAT

 KETIKA PASIEN SUDAH DIPINDAH KE UNIT GAWAT


DARURAT, HARUS DILAKUKAN PENGKAJIAN ULANG
SECARA HATI-HATI UNTUK MENGETAHUI ADANYA
TANDA-TANDA TRAUMA SEPERTI TRAUMA SPINAL,
TRAUMA DADA, ATAU TRAUMA ABDOMEN.
PENGKAJIAN STATUS NEUROLOGI TERMASUK
REFLEK BATANG OTAK DAN GCS DIPERLUKAN
UNTUK MEMASTIKAN PROGNOSIS PASIEN.
 PAKAIAN YANG BASAH HARUS DILEPAS, PASIEN
DENGAN HIPOTERMIA HARUS DIHANGATKAN
DENGAN MENGGUNAKAN BERBAGAI CARA.
SEPERTI SELIMUT HANGAT, BANTALAN PEMANAS,
MANDI AIR HANGAT, TEKNIK FORCED WARM AIR
3. PERAWATAN RAWAT INAP

TUJUAN DARI PENATALAKSANAAN DI RUMAH


SAKIT IALAH UNTUK MENCEGAH CEDERA
NEUROLOGI SEKUNDER, ISKEMIA YANG
MENETAP, HIPOKSEMIA, EDEMA SEREBRAL,
ASIDOSIS, DAN ABNORMALITAS ELEKTROLIT.
PASIEN DENGAN HIPOTERMIA DIPERLUKAN
RESUSITASI SAMPAI SUHU MENCAPAI 32 ATAU
35OC. PASIEN DENGAN HIPOTENSI DILAKUKAN
RESUSITASI CAIRAN DAN DIBERIKAN OBAT
INOTROPIK BILA PERLU
 SECARA SINGKAT, PENANGANAN KORBAN TENGGELAM DAPAT
DILAKUKAN DENGAN CARA ANTARA LAIN :

 PINDAHKAN PENDERITA SECEPAT MUNGKIN DARI AIR DENGAN CARA


TERAMAN
 BILA ADA KECURIGAAN CEDERA SPINAL, PERTAHANKAN POSISI KEPALA,
LEHER DAN TULANG PUNGGUNG DALAM SATU GARIS LURUS.
PERTIMBANGKAN UNTUK MENGGUNAKAN PAPAN SPINAL DALAM AIR,
ATAU BILA TIDAK MEMUNGKINKAN PASANGLAH SEBELUM MENAIKAN
PENDERITA KE DARAT
 BUKA JALAN NAFAS PENDERITA, PERIKSA NAFAS. BILA TIDAK ADA MAKA
UPAYAKAN UNTUK MEMBERIKAN NAFAS AWAL SECEPAT MUNGKIN DAN
BERIKAN BANTUAN NAFAS SEPANJANG PERJALANAN
 UPAYAKAN WAJAH PENDERITA MENGHADAP KE ATAS
 SAMPAI DI DARAT ATAU PERAHU LAKUKAN PENILAIAN DINI DAN RJP BILA
PERLU
 BERIKAN OKSIGEN BILA ADA SESUAI PROTOKOL.
 JAGALAH KEHANGATAN TUBUH PENDERITA, GANTI PAKAIAN BASAH DAN
SELIMUTI
 LAKUKAN PEMERIKSAAN FISIK, RAWAT CEDERA YANG ADA
 SEGERA BAWA KE FASILITAS KESEHATAN.
KOMPLIKASI TENGGELAM

 HIPOKSIA ATAU ISKEMIK INJURI CEREBRAL


 ARDS (ACUTE RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME)
 KERUSAKAN PULOMAL SEKUNDER AKIBAT RESPIRASI
 CARDIAK ARREST
 ANOKSIA
 SHOCK
 MYOGLUBINURIA
 INSUFISIENSI GINJAL
 INFEKSI SISTEMIK DAN INTRAVASKULER KOAGULASI
JUGA DAPAT TERJADI SELAMA 72 JAM PERTAMA
SETELAH RESUSITASI.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA KORBAN TENGGELAM

 PENGKAJIAN PRIMER
A : AIRWAY (JALAN NAFAS)
KAJI ADANYA SUMBATAN JALAN NAFAS TOTAL ATAUPUN SEBAGIAN DAN GANGGUAN SERVIKAL,
DISTRESS PERNAFASAN, ATAU ADA TIDAKNYA SECRET.

B : BREATHING (POLA NAFAS)


KAJI ADA TIDAKNYA PERNAFASAN, ADEKUATNYA PERNAFASAN, FREKUENSI NAFAS,
PERGERAKAN DINDING DADA, DAN SUARA PERNAFASAN.

C : CIRCULATION
KAJI ADA TIDAKNYA DENYUT NADI, CRT, KEMUNGKINAN SYOK, ADANYA PERDARAHAN
EKSTERNAL, KEKUATAN DAN KECEPATAN NADI, WARNA DAN KELEMBABAN KULIT, TANDA –
TANDA PERDARAHAN EKSTERNAL, SERTA TANDA – TANDA JEJAS ATAU TRAUMA.

D : DISABILITY
KAJI KONDISI NEUROMUSCULAR PASIEN, TINGKAT KESADARAN (GCS), KEADAAN
EKSTREMITAS, KEMAMPUAN MOTORIK DAN SENSORIK.

E : EXPOSURE
KAJI SUHU TUBUH PASIEN SERTA ADA TIDAKNYA JEJAS ATAUPUN TRAUMA
2. PENGKAJIAN SEKUNDER
 IDENTITAS KLIEN
MELIPUTI : NAMA, UMUR, JENIS KELAMIN, AGAMA,
SUKU BANGSA, ALAMAT, TANGGAL MASUK RUMAH
SAKIT, NOMOR REGISTER, TANGGAL PENGKAJIAN DAN
DIAGNOSA MEDIS.
 KELUHAN UTAMA
 RIWAYAT KEJADIAN
 PEMERIKSAAN FISIK
LAKUKAN PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE DENGAN
MENGGUNAKAN TEKNIK IAPP
DIAGNOSA KEPERAWATAN

 RISIKO KETIDAKEFEKTIFAK PERFUSI JARINGAN


OTAK
 GANGGUAN PERTUKARAN GAS

 KETIDAKEFEKTIFAN BERSIHAN JALAN NAFAS

 POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF

 PENURUNAN CURAH JANTUNG

 HIPOTERMIA
INTERVENSI KEPERAWATAN
DEFINISI TERPELESET
 TERPELESET MERUPAKAN KEJADIAN YANG
TERJADI SAAT TUBUH TIDAK SEIMBANG AKIBAT
LANTAI BASAH ATAU LICIN. SETELAH BERENANG
BIASANYA PENGUNJUNG / WISATAWAN BERSANTAI
DI PINGGIRAN KOLAM RENANG, TETAPI APABILA
TIDAK HATI-HATI BISA TERJADI TERPELESET DI
PINGGIRAN KOLAM RENANG. AKIBAT DARI
KEJADIAN ITU BISA MENGAKIBATKAN CEDERA
FISIK SEPERTI MEMAR, LUKA-LUKA, KRAM,
HINGGA CEDERA KEPALA
ETIOLOGI TERPELESET

 PRODUK BASAH YANG TERDAPAT DI LANTAI


PINGGIR KOLAM
 PRODUK KERING YANG MENYEBABKAN LANTAI
PINGGIR KOLAM LICIN
 BAHAN LANTAI YANG TERLALU LICIN

 CAIRAN YANG SUDAH MEMBEKU

 ALAS KAKI YANG TIDAK MEMILIKI PERMUKAAN


LUAS UNTUK BERGESEKAN DENGAN LANTAI
MANIFESTASI KLINIS

 NYERI KONSTAN DAN TUMPUL SERTA BERTAMBAH


BERAT YANG MENJALAR KE ARAH LATERAL DAN
BERGERAK (FLEKSI) ATAU BILA ADA KOMPRESI DADA.
 KELEMAHAN : KHUSUNYA PADA OTOT YANG LETAKNYA
PROKSIMAL DARI TUNGKAI DALAM POLA UPPER
MOTOR NEURON (NEURON MOTORIK ATAS),
 SENSORI MENURUN / PARESTESIA : ASENDEN SAMPAI
ATAU TEPAT DIBAWAH DERMATOM SETINGGI
PERSARAFAN YANG MENGALAMI KOMPRESI
 ATAKSIA : HILANGNYA PROPIOSEPSI ( KOLUMNA
POSTERIOR )
 PARESTESI DISTAL EKSTREMITAS DAN AREFLEKSIA
 MOTORIK : KERUSAKAN UMN YANG MENGENAI KEDUA
KAKI (PARESTESIA SPASTIK) ATAU JIKA PARAH TERKENA
KEEMPAT ANGGOTA GERAK (TETRAPARESIS SPASTIK).
 SENSORIK : SENSASI KUTANEUS DI BAWAH LESI
TERGANGGU
 OTONOM
 GANGGUAN KANDUNG KEMIH : URGENSI DAN
FREKUENSI BERKEMIH, RETENSI URIN,
INKONTINENSIA DAN KONTIPASI: GEJALA DARI
DISFUNGSI OTONOM.
PATHWAY
PEMERIKSAAN PENUNJANG

 SINAR X SPINAL
 CT SCAN

 MRI

 FOTO RONGENT THORAK

 AGD
PENATALAKSANAAN MEDIS
 TIGA FOKUS UTAMA PENANGANAN AWAL PASIEN
TERPLESET DAN KEMUNGKINAN MENGALAMI CEDERA
MEDULA SPINALIS YAITU :
1. MEMPERTAHANKAN USAHA BERNAFAS,
2. MENCEGAH SYOK DAN
3. IMOBILISASI LEHER (NECK COLLAR DAN LONG SPINE
BOARD).
 SELAIN ITU, FOKUS SELANJUTNYA ADALAH
MEMPERTAHANKAN TEKANAN DARAH DAN
PERNAPASAN, STABILISASI LEHER, MENCEGAH
KOMPLIKASI (RETENSI URIN ATAU ALVI, KOMPLIKASI
KARDIOVASKULER ATAU RESPIRATORIK, DAN
TROMBOSIS VENA-VENA PROFUNDA).
TERAPI UTAMA :
 FARMAKOLOGI : METILPREDNISOLON 30 MG / KG BOLUS SELAMA 15
MENIT, LALU 45 MENIT SETELAH PEMBERIAN BOLUS PERTAMA, LANJUTKAN
DENGAN INFUS 5,4 MG/KG/JAM SELAMA 23 JAM.
IMOBILISASI :
 PEMAKAIAN KOLLAR LEHER, BANTAL PASIR ATAU KANTUNG IV UNTUK
MEMPERTAHANKAN AGAR LEHER STABIL, DAN MENGGUNAKAN PAPAN
PUNGGUNG BILA MEMINDAHKAN PASIEN
 TRAKSI SKELETAL UNTUK FRAKTUR SERVIKAL, YANG MELIPUTI
PENGGUNAAN CRUTCHFIELD, VINKE, ATAU TONG GARDNER – WELLSBRACE
PADA TENGKORAK
 TIRAH BARING TOTAL DAN PAKAIAN BRACE HALO UNTUK PASIEN DENGAN
FRAKTUR SERVIKAL RINGAN.
BEDAH :
UNTUK MENGELUARKAN FRAGMEN TULANG, BENDA ASING, REPARASI
HERNIA DISKUS ATAU FRAKTUR VERTEBRATA YANG MUNGKIN MENEKAN
MEDULA SPINALIS; JUGA DIPERLUKAN UNTUK MENSTABILISASI
VERTEBRATA UNTUK MENCEGAH NYERI KRONIS.
KOMPLIKASI

 GAGAR OTAK
 PATAH TULANG

 PENDARAHAN BAGIAN DALAM TUBUH

 SYARAF TERJEPIT

 KEMATIAN
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian Primer
 Airway
Pastikan kepatenan jalan napas dan kebersihannya
segera. Partikel-partikel benda asing seperti darah,
muntahan, permen karet, gigi palsu, atau tulang.
Obstruksi juga dapat disebabkan oleh lidah atau edema
karena trauma jaringan. Jika pasien tidak sadar, selalu
dicurigai adanya fraktur spinal servikal dan jangan
melakukan hiperekstensi leher sampai spinal dipastikan
tidak ada kerusakan. Gunakan chin lift dan jaws thrust
secara manual untuk membuka jalan napas.
 Breathing
Kaji irama, kedalaman dan keteraturan
pernapasan dan observasi untuk ekspansi
bilateral dada. Auskultasi bunyi napas dan
catat adanya krekels, wheezing atau tidak
adanya bunyi napas. Jika pernapasan tidak
adekuat atau tidak ada dukungan pernapasan
pasien dengan suatu alat oksigenasi yang
sesuai.
 Circulation
Tentukan status sirkulasi dengan mengkaji nadi,
dan catat irama dan ritmenya dan mengkaji warna
kulit. Jika nadi karotis tidak teraba, lakukan
kompresi dada tertutup. Kaji tekanan darah. Jika
pasien hipotensi, segera pasang jalur intravena
dengan jarum besar (16-18). Mulai penggantian
volume per protokol. Cairan kristaloid seimbang
(0,9 % salin normal atau ringer’s lactate) biasanya
di gunakan. Kaji adanya bukti perdarahan dan
kontrol perdarahan dengan penekanan langsung.
 Disability
Pengkajian yang cepat pada status neurologis
pasien diperlukan pada saat pasien tiba di
ruang UGD. Pemeriksaan meliputi tingkat
kesadaran pasien dan status neurologisnya.
Pemeriksaan dilakukan dengan mengkaji GCS
(Glasgow Coma Scale) pasien, ukuran dan
reaksi pupil, dan tanda lateralizing.
 Exposure
Kaji suhu tubuh pasien serta ada tidaknya jejas
ataupun trauma
DIAGNOSA KEPERAWATAN

 Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak


 Gangguan pertukaran gas

 Ketidakefektifan pola napas

 Risiko Perdarahan

 Nyeri akut
INTERVENSI