Anda di halaman 1dari 14

Penyakit Kronis

Materi 12
Penyakit Kronis
• Reaksi pertama dan cara mengatasinya
• Penyesuaian diri terhadap penyakit kronis
• Intervensi psikososial
Reaksi Pertama
“Saya merasa seperti saya dipukul perutnya oleh
palu”
• Pasien menggambarkan reaksi pertama
belajar bahwa mereka mempunyai penyakit
yang mengancam kehidupan.
Pertanyaan tanpa ada jawaban dalam
pikirannya:
• Apakah diagnosis benar?
• Apa yang dapat saya kerjakan?
• Akankah saya menjadi tak cakap, buruk rupa,
atau sakit?
• Akankah saya mati?
• Bagaimana konsekuensi yang akan terjadi?
• Apa yang akan terjadi pada keluarga saya?
• Apakah saya mendapatkan asuransi medis dan
kehidupan?
• Penyakit kronis biasanya seseorang mengalami
suatu shock besar.
• Pertanyaan-pertanyaan diatas tadi sering
merupakan reaksi pertama yang dialami
seseorang ketika dokter menceriterakan
diagnosisnya.
Urutan Reaksi Seseorang:
• Shock, Suatu respon darurat, ditandai oleh 3 ciri,
yt mena’jubkan atau membingungkan; cara at
model otomatis; dan perasaan melepaskan dr
situasi, dimana saat terjadi kejadian perasaan
lebih sbg pengamat drpd sbg partisipan.
• Shock terjadi secara singkat at kontinu selama
seminggu, terjadi bbrp taraf dalam pengalaman
situasi krisis, dan kebanyakan terjadi pd
pengucapan ketika datang tiba-tiba.
Reaksi selanjutnya
• Encounter (perjumpaan, yaitu memberanikan diri
mengarahkan pada keterbukaan, kejujuran,
ekspresi emosional dan kepekaan terhadap
perasaan orang lain), yt suatu fase yang ditandai
oleh disorganisasi berpikir dan perasaan hilang,
dukacita, tidak berdaya, putus asa, dan menjadi
dibebani realitas.
• Retreat (mundur), suatu fase seseorang
cenderung menggunakan strategi menghindar,
spt mengingkari drpd menghadapi problem
kesehatan at implikasinya. Kemudian kenyataan
mulai terganggu: simptom membekas at menjadi
jelek, diagnosis tambahan menguatkan sesuatu
yang original, dan secara nyata menginformasikan
bahwa perlu dibuat penyesuaian.
Reaksi selanjutnya - lanjutan
• Semua orang bereaksi spt uraian diatas, tetapi bbrp
menjadi cool, lumpuh dg anxiety at histeris.
• Meski banyak orang secara ekstrim merasa tidak
berdaya dan terbebani shock, ttp yang lain tidak.
• Orang dg strategi menghindar, mrk mengontrol
respon emosional menghadapi stres, karena percaya
mrk dapat melakukan sesuatu utk merubah situasi.
Ttp kegunaan cara ini terbatas.
• Mrk mbutuhkan tindakan utk meningkatkan
pemulihannya, mengurangi problem kesehatan, dan
menyesuaikan gaya hidup dan relasi sosialnya.
Faktor yang Mempengaruhi dan Cara
Mengatasinya
• Orang sehat cenderung sangat memperhatikan kesehatannya,
namun ketika sakit serius, aktivitas setiap hari terpisah.
• Kondisi temporer at kronis, fase pertama coping sama. Berbeda, pd
problem kesehatan kronis biasa pasien dilengkapi keluarganya
membuat penyesuaian perilaku, sosial dan emosional.
• Ketika seseor belajar bhw mrk mempunyai penyakit kronis serius,
secara cepat diagnosis merubah cara mrk memandang kehidupan.
Rencana hari depan berubah. Pikiran mrk berubah. Rencana yang
dirancang dahulu punah setelah diagnosis.
• Teory Crisis menguraikan bhw faktor yg mempengaruhi seseor
menyesuaikan diri selama krisis tergantung pd Proses Coping yg
meliputi 3 hal:
– Illness-related factors
– Background dan personal factors
– Physical and social environmental factors
Illness RF Backgr & Person F Physic & Soc Env F
! ! !
Proses Coping
!
Cog App  Adaptive Tasks  Coping Skills
   ` 
!
Outcome of Crisis
Coping Strategies for Chronic Health
Problems (Moos, 1982)
• Denying or minimizing the seriousness of the situation
• Seeking information about the health problem and
treatment procedures
• Learning to provide one’s own medical care such as self
administering insulin shots.
• Setting concrete, limited goals such as in exercising or
social gathering
• Recruiting instrumental and emosional support from
family, friend, and practitioners by expressing needs
and feelings – mengerahkan
• Considering possible future events and stressful
circumstances
• Gaining a manageable perspective on the health
problem and its treatment by finding a long term
purpose or meaning for the experience.
Types of Adjustment Problems in
Chronic Illness
• Physical – being unable to cope with disability or pain
• Vocational – having difficulty revising educational and
career plans or finding a new jobs.
• Self Concept – being unable to accept one’s changed
body image, self esteem, and level of achievement or
competence
• Social – having difficulty with losting enjoyable
activities or finding new ones and coping with changed
relationships with family, friends, and sexual partners.
• Emotional – experiencing high levels of denial, anxiety,
or depression.
• Compliance – failing to adhere to the rehabilitation
regimen – gagal taat
Intervensi Psikososial
• Program intervensi utk membantu seseor dg penyakit
kronis mencakup tim profesional interdisiplin – dokter,
perawat, psikolog, terapis fisik & keperjaan, vocational
konselor, pekerja sosial, dan terapis rekreasi – bekerja
bersama menghadapi keseluruhan tujuan rehabilitasi
(Bleiberg, Ciulla, & Katz, 1991).
• Psikolog berkontribusi pada proses ini dg membantu setiap
klien mengatasi implikasi psikososial dr kondisi medisnya
dan menggunakan prinsip behavioral dan cognitive untuk
meningkatkan partisipasi dan mentaati program
rehabilitasi.
• Kita mempertimbangkan beberapa pendekatan psikososial
yang banyak digunakan secara individual atau kelompok
untuk berbagai penyakit.
Pendekatan psikososial
• Educational, Social Support, and Behavioral
Methods
• Relaxation and Biofeedback
• Cognitive Methods
• Insight and Family Therapy