Anda di halaman 1dari 29

LEMBAGA KEUANGAN

MIKRO (LKM)
2
Latar Belakang UU. No. 1 Tahun 2013:
Lembaga Keuangan Mikro (LKM)

 Pasal 16 Ayat (1) UU No 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan jo. UU No 10 Tahun 1998
Setiap pihak yang melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, wajib
terlebih dahulu memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum atau BPR dari Pimpinan Bank Indonesia, kecuali
apabila kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dimaksud diatur dengan Undang-Undang tersendiri.
 Pasal 58, UU No 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan jo. UU No 10 Tahun 1998
Lembaga Dana Kredit Pedesaan (Bank Desa, Lumbung Desa, Bank Pasar, Bank Pegawai, Lumbung Pitih Nagari,
dan/atau lembaga-lembaga lainnya yang dipersamakan dengan itu) diberikan status sebagai Bank Perkreditan
Rakyat berdasarkan Undang-undang ini dengan memenuhi persyaratan tata cara yang ditetapkan dengan
Peraturan Pemerintah.
 Pasal 19, Peraturan Pemerintah No.71 Tahun 1992 tentang BPR
Lembaga-lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 yang belum memperoleh izin usaha sebagai BPR
wajib mengajukan izin usaha selambat-lambatnya tanggal 30 Oktober 1997. Sampai dengan batas waktu
tersebut, masih banyak LKM yang belum memenuhi syarat untuk dikukuhkan sebagai BPR, bahkan banyak yang
tidak ingin dikukuhkan sebagai BPR seperti LPD Bali.
 Dalam rangka memberikan landasan hukum yang kuat atas operasionalisasi LKM, Pemerintah
dan DPR-RI pada tanggal 11 Desember 2012 sepakat RUU LKM disahkan menjadi Undang-
Lembaga Keuangan Mikro (LKM)

 LKM adalah lembaga keuangan yang khusus didirikan


untuk memberikan jasa pengembangan usaha dan
pemberdayaan masyarakat, baik melalui pinjaman atau
pembiayaan dalam usaha skala mikro kepada anggota
dan masyarakat, pengelolaan simpanan, maupun
pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha yang
tidak semata-mata mencari keuntungan. (Pasal 1 UU No.
1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro)
Pendirian Lembaga Keuangan Mikro

Pendirian LKM paling sedikit harus memenuhi persyaratan (Pasal 4


UU No. 1 Tahun 2013):
a. Bentuk badan hukum;
b. Permodalan;
c. Mendapatkan izin usaha.
Bentuk badan hukum sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 huruf a
adalah (Pasal 5):
a. Koperasi; atau
b. Perseroan Terbatas
5
Badan Hukum LKM

• Jika badan hukumnya Perseroan Terbatas (PT), sahamnya


paling sedikit 60% dimiliki oleh Pemda Kabupaten/kota atau
Badan Usaha Milik Desa/kelurahan.
• Implikasi: bagi perorangan/kelompok perorangan yang ingin
mendirikan LKM tidak punya pilihan bentuk badan hukum,
kecuali Koperasi
• Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) yang dimiliki
perorangan/kelompok perorangan pilihan badan hukumnya
hanya koperasi.
Kepemilikan Lembaga Keuangan Mikro

LKM hanya dapat dimiliki (Pasal 8):


a. Warga negara Indonesia;
b. Badan usaha milik desa/kelurahan;
c. Pemerintah daerah Kabupaten/Kota;
dan/atau
d. Koperasi.
Kegiatan Usaha

 Pasal 12: Penyaluran Pinjaman atau Pembiayaan


dan pengelolaan simpanan dilaksanakan secara
konvensional atau berdasarkan prinsip syariah.
 Pasal 13: untuk melakukan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah, LKM wajib
membentuk dewan pengawas syariah.
Cakupan Wilayah Usaha

 Pasal 16: cakupan wilayah usaha LKM berada dalam


satu wilayah desa/kelurahan, kecamatan, atau
kabupaten/kota.
 Pasal 27: LKM wajib bertransformasi menjadi bank
jika melakukan kegiatan usaha melebihi 1 (satu)
wilayah kabupaten/kota tempat kedudukan LKM;
atau telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan
dalam Peraturan OJK.
Ketentuan Pidana

 Pasal 34: Setiap orang yang menjalankan usaha


LKM tanpa izin, dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3
(tiga) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp
50 juta dan paling banyak Rp 1 miliar.
Struktur Pengaturan dan
Pengawasan Pola Lama
Bank Kemenkop
Kemenkeu
Indonesia & UKM

Bank Pasar LK Bukan


BPR/BPRS KSP KJKS/UJKS
Umum Modal Bank

BMT dilahirkan oleh swadaya


BMT masyarakat sendiri untuk
mengatasi persoalan keuangan
yang berbasis kepercayaan (trust
Swadaya based) dan kekerabatan yang
Masyarakat terbukti mampu berkembang
secara mandiri.
Struktur Pengaturan dan Pengawasan Pola
Baru Berdasarkan UU No. 1/2013
Pengawasan &
Regulator Perijinan
Bank Kementrian Kemendagri,
Indonesia Keuangan Kementrian OJK
UKM

Pasar Modal LK Lainnya Perbankan

* Perusahaan efek * Dana Pensiun * Bank Umum/Syariah


* Reksa dana * Perusahaan asuransi * Bank Persero/BUMN
* Perusahaan investasi
* Bursa Efek * Perusahaan * Bank Swasta Nasional
Pembiayaan * Bank Asing
* Badan arbitrase Efek
* Lbg Kliring & * Modal Ventura * Bank Campuran
Penjaminan * Perusahaan * Bank Pemerintah Daerah
* Lbg penyimpanan & Penjaminan * Bank Perkreditan Rakyat/Syariah
penyelesaian * Koperasi Simpan
Pinjam

BMT Berbadan Hukum KSP Syariah


Bagaimana Jika Badan
Hukumnya Koperasi?

UU No. 17 Tahun 2012 tentang


Perkoperasian
LKM Berbadan Hukum Koperasi
UU No. 17 Tahun 2012 Tentang
Perkoperasian

• Hanya dikenal empat jenis koperasi: konsumen, produsen,


simpan pinjam dan jasa.
• Koperasi Serba Usaha (KSU) sudah tidak diperbolehkan lagi.
Bagi KSU yang masih memiliki unit simpan pinjam, diberi waktu
3 tahun agar unit simpan pinjamnya dapat berdiri sendiri
menjadi Koperasi Simpan Pinjam.
• Implikasi: LKM-LKM dan BMT mendirikan Koperasi Simpan
Pinjam dengan menganut Prinsip Syariah. Perlu disiapkan DPS
karena menjadi kewajiban bagi LKS untuk memiliki DPS.
Permodalan

Modal Koperasi Pasal substansial

Modal koperasi : - Setoran pokok disetor


1 - Setoran pokok 1 penuh dengan bukti
- Sertifikat Modal Koperasi penyetoran yang sah (ps
(SMK) 67)
- Setiap anggota harus
membeli SMK (ps 68)
2 Modal lainnya : - SMK tidak memiliki hak
- Hibah suara (ps 69)
- Modal penyertaan - SMK dikeluarkan atas
- Modal pinjaman dari: nama (ps 69)
• Anggota - SMK dapat dialihkan dan
• Koperasi lain atau dijual (ps 70,73)
• Bank dan LK - Nilai SMK dapat berubah
• Penerbitan obligasi/surat sesuai pertumbuhan
utang koperasi (ps 71)
• Pemerintah dan Pemda
Keterkaitan BMT dengan Beberapa UU
UU Pengelolaan UU Perkoperasian UU Lembaga UU Otoritas Jasa
Zakat Keuangan Mikro Keuangan
Terkait dengan Jenis Koperasi: Sebagai salah satu BMT sebagai salah
fungsi BMT sebagai Koperasi Produsen, lembaga keuangan satu LKM harus
rumah harta (baitul Konsumen, Simpan mikro, harus memiliki ijin
maal): mengelola Pinjam dan Jasa. berbadan hukum operasional dari
zakat, infaq, dan Prinsip syariah tidak Koperasi atau PT. OJK.
shadaqah. mengenal Simpan
Pinjam tetapi
Pembiayaan.
BMT: prinsip bagi
hasil, jual beli,
ijarah, qard.
Selisih Hasil Usaha
(Keuntungan atau Kerugian Usaha)

Surplus Hasil Usaha


Penggunaan Surplus Hasil Usaha (ps 78)
Laba bersih hasil kegiatan usaha > Anggota sesuai dengan transaksi usahanya
1 koperasi selama 1 tahun berjalan  Anggota sebanding dengan SMK miliknya
 Bonus kepada Pengawas, Pengurus,
karyawan
Defisit Hasil Usaha
Defisit hasil usaha dapat ditutupi oleh dana
cadangan. Bila dana cadangan tidak cukup
Kerugian bersih hasil usaha (ps 79, 80)
2 koperasi selama 1 tahun
berjalan  Dibebankan pada anggaran tahun berikutnya
 Khusus Koperasi Simpan Pinjam , anggota
wajib menyetor tambahan SMK
Dana Cadangan
Dana cadangan minimal 20% dari nilai SMK
Kumpulan dari penyisihan hasil (ps 81)
3 Surplus Usaha
Jenis dan Usaha
1. Bentuk koperasi terbagi menjadi 4 yaitu Koperasi Konsumen, Produsen, Jasa, dan
Simpan Pinjam. Tidak ada bentuk Koperasi Serba Usaha (KSU).
2. Koperasi menjalankan usaha sesuai bentuk usaha dalam Anggaran Dasar
3. Koperasi dapat melakukan kemitraan dengan pelaku usaha lain.
4. Koperasi dapat menjalankan usaha atas dasar prinsip Ekonomi Syariah

Konsumen Produsen Jasa Simpan Pinjam


1 Menyelenggarak 2 Menyelenggarak 3 Menyelenggarak 4 Menjalankan
an kegiatan an kegiatan an kegiatan usaha simpan
usaha pelayanan usaha pelayanan usaha pelayanan pinjam sebagai
di bidang di bidang jasa non-simpan satu-satunya
penyediaan pengadaan pinjam yang usaha yang
barang. sarana produksi diperlukan melayani
dan pemasaran oleh Anggota Anggota
Contoh: toko produksi yang dan non-
sembako, dihasilkan Anggota..
minimarket, Anggota kepada
supplier, Anggota dan Contoh: jasa
distributor obat, non-Anggota rental
dll Contoh: transportasi,
produsen roti, perbaikan AC,
furniture, bengkel,, dll
Your own footer kerajinan, dll Your Logo
Lembaga Keuangan Mikro Syariah
Lembaga Keuangan Syariah

Lembaga keuangan syariah (LKS) adalah


lembaga yang dalam aktifitasnya, baik
penghimpunan dana maupun dalam rangka
penyaluran dananya memberikan dan
mengenakan imbalan atau dasar prinsip
syariah yaitu jual beli dan bagi hasil
Lembaga Keuangan Mikro Syariah
Prinsip Syariah

Lembaga keuangan syari’ah dengan sistem bagi hasil


dirancang untuk terbinanya kebersamaan dalam
menanggung resiko usaha dan berbagi hasil usaha antara
pemilik modal (rabul mal) yang menyimpan uangnya di
lembaga, lembaga selaku pengelola dana (mudharib),
dan masyarakat yang membutuhkan dana yang bisa
berstatus peminjam dana atau pengelolaan usaha.
Prinsip Syariah

Untuk menyesuaikan dengan aturan-aturan dan norma-norma


Islam yang harus diterapkan dalam perilaku investasi lembaga
keuangan syari’ah dalam menjalankan kegiatan usahanya antara
lain:
1. Prinsip Operasional Lembaga Keuangan Syari’ah
2. Prinsip-Prinsip Pembiayaan yang dianut Lembaga Keuangan
Syari’ah
3. Bentuk-bentuk lembaga keuangan syari’ah
1. Prinsip Operasional Lembaga
Keuangan Syari’ah

Terdiri dari:
1. Prinsip At Ta’awun, yaitu saling membantu dan saling
bekerja sama di antara anggota masyarakat untuk
kebaikan. (QS. Al-Maidah ayat 2)

2. Prinsip menghindari Al- Iktinaz, yaitu menahan uang


(dana) dan membiarkannya menganggur dan tidak
berputar dalam transaksi yang bermanfaat bagi
masyarakat umum. (QS. An Nisa’ ayat 29)
2. Prinsip-Prinsip Pembiayaan yang
dianut Lembaga Keuangan Syari’ah

1. Tidak ada transaksi keuangan berbasis bunga


(riba).
2. Pelarangan produksi barang dan jasa yang
bertentangan dengan sistem nilai Islam (haram).
3. Penghindaran aktifitas ekonomi yang melibatkan
maysir (judi) dan gharar (ketidakpastian).
3. Bentuk Lembaga Keuangan Syari’ah

1. Lembaga Pengelola Zakat (BAZ dan LAZ)  UU


No.23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat
2. Lembaga Pengelola Wakaf  UU No.41 Tahun 2004
tentang Wakaf
3. BMT/UJKS
Perbedaan Antara Konsep Keuangan Mikro
Konvensional Dan Keuangan Mikro Islam
Perbedaan Antara Konsep Keuangan Mikro
Konvensional Dan Keuangan Mikro Islam
Terimakasih