Anda di halaman 1dari 23

FLUOROSCOPY

Trisna Budiwati, M.Si


menghasilkan gambar proyeksi dan pemeriksaan
Fluoroskopi x-ray secara “real time” dengan resolusi yang
tinggi

Sistem imaging  Angiografi

Guidance untuk intervensional  Angiografi


Kuno Modern

Image intensifier disambungkan ke sistem video


Dokter radiolog melihat sintilasi yang
digital atau panel detektor digital yang datar
samar dari layar fluoresen yang tebal
sebagai penerima gambar.
Perkembangan
Fluoroskopi

Diameter FOV pada fluoroscopy


dengan Image Intensifer-based
berkembang dari 15 cm 40 cm.
Kamera TV analog berkembang
ke high resolution, low noise, Pada Flat panel detector-based
CCD (charge-couple device) berkembang ke FOV rectangular yang
digital lebih lebar, dengan resolusi spasial
tinggi, kualitas gambar meningkat
Perkembangan fluoroskopi:
• filtrasi berkas sinar ↑
• efisiensi detektor fosfor ↑ LOW DOSE
• Akuisisi frame rates lebih rendah
• Pertahanan kualitas gambar digital
• REAL TIME  bisa dihasilkan dengan frame rate 30 frame per second
(FPS) yang bisa menyebabkan gambaran gerakan langsung dan
berlanjut.
• Pada sistem digital fluoroskopi  menggunakan pulsa berkas sinar-x
yang tersambung dengan digital image acquisition, sehingga bisa
membuat frame 3-30 FPS
• Semakin rendah frame rate maka dosis semakin ↓↓
• Digital fluoroskopi bisa mencatat sekuen gambar digital secara real
time dan bisa diputar kembali (lewat arsip dalam PACS)
• Sekuen fluoroskopi yang tidak terekam  biasa digunakan saat
memasukkan kateter dalam prosedur angiografi.
• Sekuen gambar yang direkam  untuk melihat perjalanan Media
Kontrasyang diinjeksikan ke dalam kateter, menggunakan high frame
rate pulse.
KOMPONEN
FLUOROSKOPI

1. X-RAY TUBE
2. FILTER, biasanya terbuat dari Tembaga. Jika
dikombinasikan dengan kV rendah maka dosis lebih
rendah namun tetap high resolusi. Bisa ditambahkan
filter additional bentuk wedge.
3. COLLIMATOR, diafragmanya bulat (pada II-based
system) dan persegi (pada flat panel system).
Digerakkana secara motoric. Luas berkas sinar-x
menyesuaikan dengan FFD jika FOV berubah.
4. KAP METER
5. GRID
6. IMAGE INTENSIFIER
7. SENSOR ABC
8. CCD
9. CAMERA ELECTRONIC
CONTOH APLIKASI
FLUOROSCOPY

1. Gastrointestinal atau genitourinary system  x-ray tube dibawah


meja pemeriksaan
2. Remote fluoroscopy
3. Interventional vascular
4. Cardiology dan interventional electrophysiology
5. Mobile C-arm (untuk bedah)
Sistem Detektor pada
Fluoroscopy

• Image Intensifier dan karakteristik uniknya


• Input Screen
• Electron Optics
• Output Phospor
• Optical Coupling to Video Camera
• Video Camera
• Flat Panel Based Digital Fluoroscopic
Image Intensifier
• 4 Komponen pokok pada fluoroscopy generasi II:
a) Vacuum housing  menjaga tidak ada udara dan aliran elektron yang
tidak diinginkan
b) Lapisan dalam  melindungi dan mengubah berkas sinar-x yang
diserap menjadi cahaya (dalam hal ini tahapan dimulai dengan
melepaskan elektron)
c) Sistem optic elektron  mempercepat dan memfokuskan elektron
yang dikeluarkan oleh lapisan dalam ke lapisan luar
d) Output fosfor  mengubah elektron yang dipercepat menjadi
gambaran cahaya tampak
e) Grid  kadang dipasang berdekatan dengan lapisan dalam dari
vacuum housing
• Sinar-x menabrak input
Skema Kerja fospor  menghasilkan
Image Intensifier cahaya  membuat
fotokatoda mengeluarkan
elektron, yang dikeluarkan ke
dalam lensa elektronik
• Lensa elektronik terdiri atas
katoda, anoda, dan 3
elektroda fokus tambahan
(G1, G2, dan G3).
• Elektron kuat menabrak
output fosfor 
mengeluarkan cahaya 
tampil sebagai gambar
dalam sistem kamera digital.
Input scrren pada Image Intensifier terdiri atas 4 lapisan:
• vacuum window  tipis (1 mm) , terbuat dari aluminium, menjaga udara keluar
dari image intensifier, kelengkungannya didesain untuk menahan dorongan
udara.
• Support layer  menyangga input fosfor dan lapisan fotokatoda, terbuat dari
0.5 mm aluminium, merupakan komponen pertama dalam lensa elektronik,
kelengkungannya didesain untuk menfikuskan gerakan elektron.
• Input fosfor  mengubah energy sinar-x menjadi cahaya tampak, tersusun atas
Kristal Cesium Iodida (CsI)
• Fotokatoda  yang memancarkan elektron ketika terkena cahaya tampak.
Efisiensi konversinya 10-20%, sekitar 400 elektron akan dihasilkan jika sinar-x
yang diserap bereenergi 60 keV.
• Sinar-x yang datang melewati grid,
dan vacuum support window, serta
lapisan support input fosfor.

• Sinar-x diserap oleh Cesium Iodida


(CsI) pada input fosfor 
menghasilkan cahaya tampak (hijau)
yang diteruskan ke sepanjang kristal
CsI hingga fotokatoda, yang kemudian
mengeluarkan elektron ke dalam
ruang hampa dalam image intensifier,
Electron Optic
• Sinar-x diubah menjadi cahaya yang kemudian mengeluarkan elektron dari input screen ke
Image intensifier.
• Elektron dipercepat oleh medan listrik yang besar, yang dihasilkan dari tegangan tinggi Antara
katoda dan anoda.
• Elektron dipusatkan oleh beberapa elektroda dalam rantai electron optic.
• Energi kinetik tiap elektron meningkat  menghasilkan electronic gain (ikatan elektron).
• Pola pengeluaran elektron pada fotokatoda dipertahankan oleh output fosfor, meskipun
diperkecil.
• Permukaan melengkung dari input screen, sangat penting untuk memfokuskan.
• Elektroda G1, G2, G3 membentuk medan magnet, yang memfokuskan elektron secara tepat
ke lapisn luar, dimana elektron kuat menabrak output fosfor dan mengeluakan cahaya
tampak.
• Permukaan Input fosfor melengkung
• Permukaan Output fosfor datar
• Ini menyebabkan terjadinya pincushion distortion.
Output Fosfor
• Tersusun atas Zinc Cadmium Sulfida dicampur dengan Silver (ZnCdS:
Ag), yang memancarkan spectrum cahaya hijau.
• Anodanya sangat tipis, yaitu 0,2 mm Aluminium pada sisi vakum
output fosfor, yang mengkonduksi secara listrik membawa elektron
saat elektron mentransferkan energinya ke fosfor.
Optical Coupling to the Video Camera

• Light-sensitive camera terhubung secara optik dengan layar output Image Intensifier dan digunakan
untuk menampilkan gambar ke video monitor  dilihat oleh operator.

• Lensa yang digunakan dalam sistem fluoroskopi  fokus memancarkan cahaya, pada fosfor output ke
focal plane pada kamera video

• Biasanya lensanya memiliki bukaan (aparture) yang kecil diantara lensa tunggal.

• Ukuran bukaan lensa tergantung pada banyaknya cahaya yang melewati sistem lensa.

• Bilangan “f “dihitung untuk menentukan berapa banyak cahaya yang melewati lensa. Semakin kecil
diameter, semakin rendah jumlah cahaya yang masuk.
• Pengaturan pada aperture lensa, pada fluoroskopi –Image intensifier
based- dapat mengubah penguatan sistem (gain system).

• Menurunkan gain system  Bilangan f meningkat  laju paparan


meningkat  noise gambar ↓  dosis pasien meningkat.

• Meningkatkan gain system  laju paparan menurun  dosis


menurun  tapi kualitas gambar juga menurun
Kamera Video
A  pada kamera TV, berkas elektron tersapu pada TV target. TV target
merupakan fotokonduktor. Area yang mendapat banyak berkas cahaya
maka berkas elektron yang melewati TV target semakin banyak, dan
mencapai signal plate, menghasilkan peningkatan sinyal video.
B  Sinyal video merupakan tegangan berbanding dengan gelombang
waktu, yang terhubung dengan kabel ke kamera video dan monitor
video. Sinkronisasi pulsa secara horisontal menyebabkan berkas
elektron pada monitor.
C  di dalam monitor video, berkas elektron discanning dalam mode raster,
kemudian dimodulasi oleh sinyal video. Semakin banyak berkas, makin
terang cahaya yang dihasilkan dalam suatu area
D  fosfor monitor, scanning raster pada monitor dilakukan dalam
sinkronisaasi scanning tv target.
Karakteristik Unik pada Image Intensifier
PINCUSHION DISTORTION
• Pincushion distortion  hasil memproyeksikan gambar menggunakan
input fosfor yang berbentuk lengkung ke output fosfor yang datar.
• Pincushion distortion memperburuk gambar dengan meregangkan
dimensi fisik di pinggiran gambar.
• Sehingga, agar lebih akurat, letakkan anatomi yang akan dilihat pada
bagian pertengahan FOV (Field of View).
BRIGHTNESS GAIN (Tingkat Kecerahan)
Terdiri darI:
1. Minification Gain
Tingkat kecerahan dari minification yang dihasilkan oleh pengurangan ukuran
gambar. Jumlah tingkat kecerahan tergantung pada daerah relatif dari input
dan output screen. Karena ukuran dari intensifier itu biasanya ditandai dengan
diameter efektifnya (FOV), maka akan lebih mudah untuk mendapatkan
minifikasi dalam hal diameter.

d1 yaitu diameter layar input dan d0 adalah diameter layar output.


2. Fluks Gain

Fluks gain meningkatkan kecerahan gambar fluoroscopy dengan faktor sekitar


50. Untuk setiap foton cahaya dari layar input  50 foton cahaya yang
dipancarkan oleh layar output. Dalam hal yang sederhana, anda mungkin
berpikir satu foton cahaya dari layar input sebagai penolakan satu elektron dari
fotokatoda tersebut. Elektron dipercepat ke ujung tabung, sehingga
mendapatkan energi yang cukup untuk menghasilkan 50 foton cahaya pada
layar output. Jumlah tingkat kecerahan dari image intensifier adalah hasil dari
minifikasi dikali dengan fluks gain:

Brightness gain = minification gain x fluks gain