Anda di halaman 1dari 16

EPIDEMIOLOGI

KARIES
KELOMPOK 1:
A.Eva Zalzabilah Alifia
Adhila Fauziah
Afifah Evi Safrianti
Ahmad Ibrahim
Annisa Reski
Arinda Aulia Nabilla
Arny Rahayu Marwan
Aryono Burhan
Asma Ul-Khusna Syamsuddin AB
Cania
DEFINISI KARIES
• Karies dentis sebenarnya berasal dari bahasa latin, berarti “lubang gigi” dan
ditandai oleh rusaknya email dan dentin yang progresif yang disebabkan
oleh keaktifan metabolisme plak bakteri. Proses karis mulai dari permukaan
gigi dan terus berpenetrasi makin ke dalam, ketika mencapai dentin
perkembangannya makin cepat sehingga menyebabkan email menggaung.

• Karies gigi adalah proses penghancuran atau pelunakan dari email maupun
dentin. Proses penghancuran tersebut berlangsung lebih cepat pada bagian
dentin daripada email. Proses tersebut berlangsung terus sampai jaringan
dibawahnya, dan ini adalah awal pembentukan “lubang” pada gigi. Jaringan
keras gigi adalah sesuatu yang bersifat relatif.
DEFINISI EPIDEMIOLOGI
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari keadaan kesehatan
dan penyakit suatu kelompok masyarakat (populasi),bukan pada
individu.Ahli epidemiologi menyatakan frekuensi dan keparahan
masalah kesehatan dengan menghubungkan pada faktor
umum,jenis kelamin,geografi,suku bangsa,keadaan
ekonomi,nutrisi dan dietnya. Masalah dilihat secara menyeluruh
yang akan menjabarkan besarnya persoalan
tersebut,mempelajari penyebabnya,dan memperhitungkan
ketepatan strategi pencegahan dan penatalaksanaannya.
PREVALENSI KARIES
Prevalensi adalah bagian dari suatu keadaan pada kurun waktu tertentu.
Sedangkan insidens adalah peningkatan atau penurunan jumlah kasus baru
yang terjadi pada suatu kelompok masyarakat pada suatu kurun waktu
tertentu..

Menurut data WHO (World Health Organization).terjadi peningkatan


prevalensi karies gigi pada kelompok umur 12 tahun, yakni sebesar 13,7%
dari 28,9% pada tahun 2010 naik menjadi 42,6% pada tahun 2016.

Menurut data Riskesdas (2016), terjadi peningkatan prevalensi karies gigi di


Indonesia, yakni penderita karies gigi aktif meningkat sebesar 9,8%dari
43,4% pada tahun 2010 menjadi 53,2% pada tahun 2016, sedangkan
penderita pengalaman karies meningkat 5,1% dari 67,2% pada tahun 2010
naik menjadi 72,3% pada tahun 2016.
PROPORSI KARIES BERDASARKAN KELOMPOK USIA DI INDONESIA TAHUN 2010
DAN 2016

35

31,9
29,6
30,5

31,1

29,1
28,9

28,5

28,3
30

26,6
25,2

24,3
25
21,6

21,5

22,1
20,6

19,2
% 20
15 2010
10,4

10 2016
6,9

5
1,1
1,1

Penjelasan: Dari data diatas kita dapat menyimpulkan bahwa rata-rata terjadi
peningkatan proporsi karies dari tahun 2010 ke 2016,
Peningkatan paling besar terjadi pada kelompok usia 5-9 tahun yaitu sebesar 7,3%
dari 21,6% di tahun 2010 naik menjadi 28,9% di tahun 2016.
PROPORSI KARIES BERDASARKAN JENIS KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2010 DAN 2016

27,1
30

24,8

24,3
22,5
25
20
% 15
2010
10 2016
5
0
Laki-laki perempuan
PROPORSI KARIES BERDASARKAN WILAYAH TINGGAL DI INDONESIA TAHUN 2010 DAN 2016

28
25,9
26
24,4

26
24
21,9

kota
% 22 desa
20
18
2010 2016
Penjelasan tentang proporsi karies berdasarkan jenis kelamin:
Dari data tersebut dapat kita simpulkan bahwa terjadi peningkatan
proporsi karies dari tahun 2010 ke 2016.peningkatan terbesar terjadi pada
perempuan sebesar 2,9% sedangkan laki- laki sebesar 2,4%

Penjelasan tentang proporsi karies berdasarkan wilayah


Dari data tersebut dapat kita simpulkan bahwa terjadi peningkatan
proporsi karies dari tahun 2010 ke 2016 pada wilayah perkotaan sebesar
2,5% sedangkan wilayah pedesaan mengalami penurunan sebesar 0,1 %
namun wilayah pedesaan tetap memegang persentase terbesar terhadap
proporsi karies dibandingkan wilayah kota.
10
15
20
25
30
35
40

0
5
25,3
Sulsel 36,2
29,2
kalsel 36,1
31,7
sulteng 35,6
24,5
sulbar 32,2
23,6
yogyakarta 32,1
29,8
TAHUN 2010 DAN 2016

sulut 31,2
30,5
aceh 30,5

gorontalo 33,1
30,1
23
jakarta 29,1

27,5
sultra 28,6
20,3
jatim 28,6
25,3
jabar 27,2
25,3
ntt 26,9

24
maluku 26,9
25,8
ntb 25,4
24
malut 26,9

25,8
PROPORSI MASALAH KARIES BERDASARKAN PROVINSI DI INDONESIA

jateng 25,4
2016
2010
0
5
10
20
25

15
30
23,6
kalteng 24,3
21,6
kaltim 24,1

22,6
bali 23,7
LANJUTAN

22,6
banten 23,1
19
kepri 23,1
19,4
babel 23

21,6
sumbar 22,2
23,7
papua… 20,6
20,1
kalbar 20,6
17
sumsel 19,5

16,7
sumut 19,4
19,7
papua 18,6
24,7
bengkulu 18,4
25,1
jambi 16,8
22,8
riau 16,2

lampung 18,1
15,3
2016
2010
Penjelasan:
Dari data tentang proporsi masalah karies berdasarkan provinsi dapat kita
simpulkan bahwa provinsi Sulawesi selatan memiliki persentase terbesar yaitu
36,2% di tahun 2016 dan 25,3% di tahun 2010 ini berarti dalam rentan waktu 6
tahun provinsi Sulawesi Selatan mengalami peningkatan persentase sebesar
10,5% tertinggi dari semua provinsi di Indonesia.
Sedangkan provinsi Jambi mengalami penurunan persentase terbesar yaitu
8,2% dari 25,1% di tahun 2010 menjadi 16,8% di tahun 2016
Faktor-faktor yang mempengaruhi

1. Jenis kelamin
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Milhahn – Turkehem, Pada laki-laki
terdapat karies pada M1 Kanan sebanyak 74,5% dan M1 Kiri sebanyak 77,6%.
Sedangkan pada perempuan terdapat karies pada M1 Kanan sebanyak 81,5% dan
M1 Kiri sebanyak 82,3%. Dari hasil ini dapat kita ketahui bahwa persentase karies
gigi pada perempuan adalah lebih tinggi dibanding dengan laki-laki. Prosentase
karies molar kiri lebih tinggi dibanding dengan molar kanan, karena faktor
pengunyahan dan pembersihan dari masing-masing bagian gigi.

2. Kurangnya kesadaran dan Edukasi masyarakat tentang kesehatan Gigi


Berdasarkan penelitian kesehatan dasar tahun 2007 diketahui bahwa di Indonesia sebanyak
91,1 % orang menggosok gigi setiap hari namun hanya 7,3 % dari keseluruhan yang mengikuti
petunjuk untuk menggosok gigi pada pagi hari dan malam hari sebelum tidur. Karena itu,
sebanyak 72,1 % penduduk Indonesia memiliki permasalahan gigi berlubang, sedangkan 46,5
%di antaranya tidak merawat gigi berlubang. keluhan sakit gigi telah mengganggu 13 persen
penduduk per bulan atau sebanyak 2.620.000 penduduk perbulan.
3. Sosial Ekonomi
Karies di jumpai lebih rendah pada kelompok sosial ekonomi rendah dan
sebaliknya.hal ini dikaitkan dengan lebih besarnya minat hidup sehat pada
kelompok sosial ekonomi tinggi menurut tirthann kar (2002) ada dua faktor sosial
ekonomi yaitu pekerjaan dan pendidikan.
4. Sumber air
Kualitas sumber air juga mempengaruhi tingginya prevalensi karies di suatu
daerah.Air yang mengandung Unsur-unsur kimia yang berbahaya dapat menunjang
terjadinya karies contohnya Catmium, Platina dan Selenium. Catmium adalah logam
yang dapat menyebabkan keadaan melunaknya tulang yang umumnya di akibatkan
kurangnya vitamin b yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan daya
keseimbangan kandungan kalsium dalam tubuh.
5. Umur
Hasil studi menunjukkan bahwa lesi karies dimulai lebih sering pada umur yang
spesifik.hal ini berlaku terutama sekali pada umur anak-anak namun juga pada
orang dewasa.Berdasarkan data prevalensi karies tahun 2016 kelompok usia 45-54
tahun merupakan penderita karies tertinggi dibanding kelompok usia lainnya.
6. Penggunaan Flor
Menurut Rugg-Gunn(2000) menyatakan bahwa penggunaan flour sangat
efektif untuk menurunkan prevalensi karies,walaupun menggunakan flour
tidak merupakan satu-satunya cara mencegah gigi berlubang .Demikian halnya
penelitian yang dilakukan Dr.Trendly Dean dilaporkan bahwa ada hubungan
timbal balik antara konsentrasi flour dalam air minum dengan prevalensi
karies.

7. Pola Makan
Setiap kali seseorang mengkomsumsi makanan dan minuman yang
mengandung karbohidrat,maka beberapa bakteri penyebab karies di rongga
mulut akan mulai memproduksi asam sehingga pH saliva menurun dan terjadi
demineralisasi yang berlangsung selama 20-30 menit.

8. Merokok
Nicotine yang dihasilkan oleh tembakau dalam rokok dapat menekankan aliran
saliva,yang menyebabkan aktivitas karies meningkatkan.dalam hal ini karies
ditemukan lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok
Berdasarkan data dari The Tobacco Atlas 2015, sebanyak 66% pria di indonesia
merokok.Dengan kata lain, dua dari tiga laki-laki usia di atas 15 tahun di
Indonesia adalah perokok.Jawa barat adalah provinsi dengan persentase
perokok paling tinggi di Indonesia yaitu 32,7%.
UPAYA PENANGGULANGAN KARIES

1. Promosi kesehatan gigi


Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut merupakan salah
satu penyebab tingginya prevalensi karies di Indonesia. Promosi kesehatan gigi
perlu dilakukan untuk merubah perilaku sehingga dapat menurunkan angka
penderita penyakit gigi dan mulut. Promosi kesehatan gigi dapat dilakukan
beberapa cara antara lain metode promosi individual maupun kelompok.
Contohnya melalui penyuluhan,spanduk,tatap muka,ceramah,poster dan iklan
layanan masyarakat.

2. Pemerataan penyebaran tenaga kesehatan gigi


Tenaga kesehatan gigi merupakan ujung tombak dalam memberikan edukasi
serta pelayanan kesehatan gigi bagi masyarakat Indonesia. Namun,
penyebarannya masih belum merata di seluruh Indonesia. saat ini 66% dokter
gigi berada di pulau Jawa, sisanya menyebar di luar Jawa. Ini
mengakibatkan jumlah dokter gigi di beberapa provinsi masih belum cukup.
terdapat sekitar 23 Provinsi di Indonesia yang masih kekurangan dokter gigi.
Mengacu data Kemenkes, baru 60% total puskesmas atau 7.158 puskesmas di
Indonesia yang memiliki dokter gigi.
3. Flouridasi Air
Fluoridasi air adalah penambahan secara terkontrol fluorida ke dalam
penyediaan air publik untuk mengurangi kerusakan gigi. Air terfluoridasi
mengandung fluorida pada tingkat yang efektif untuk mencegah gigi
berlubang; hal ini dapat terjadi secara alami atau dengan menambahkan
fluorida.

4.Program Sealant di Sekolah


Dental sealant adalah lapisan tipis yang dilukis pada gigi untuk melindungi
mereka dari gigi berlubang. Salah satu cara untuk memberikan sealant kepada
lebih banyak anak adalah dengan meningkatkan akses mereka ke program
sealant berbasis sekolah (SBSPs).
Penelitian menunjukkan bahwa sealant gigi untuk melindungi gigi belakang
dapat mencegah hingga 80 % gigi berlubang pada anak usia sekolah. Mereka
cepat, mudah, dan tidak menyakitkan untuk diterapkan.
SBSP sangat penting untuk anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah
karena anak-anak seperti itu cenderung jarang menerima perawatan gigi.
Program-program ini menargetkan sekolah-sekolah dengan persentase yang
tinggi dari anak-anak yang memenuhi syarat untuk program makanan gratis
atau biaya-murah. Akibatnya, SBSPs menyediakan sealant untuk anak-anak
yang berisiko lebih tinggi untuk gigi berlubang dan kurang mungkin untuk
menerima perawatan pencegahan.
Daftar pustaka
• Tekno kompas,2009,kesadaran masyarakat tentang kesehatan gigi di indonesia masih
kurang, https://tekno.kompas.com/read/2009/0
9/13/06301788/kesadaran.masyarakat.akan.kesehatan.gigi.masih.kurang (diakses 9
maret 2019)
• Wiworo haryani,2011,promosi kesehatan gigi meningkatkan status kesehatan gigi
mahasiswa,
http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/59/1/Promosikesgi_jurtekkes_sep15.pdf (diakses 9
maret 2019)
• depkes,2013,Info kesehatan gigi dan mulut,
http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/infodatin
-gilut, (diakses 9 maret 2019)
• Scribd,2017,epidemiologi karies,
https://www.scribd.com/doc/99003395/Epidemiologi-Karies (diakses 8 maret 2019)
• Joko susanto,2016,school sealant programs,
https://id.thehealthylifestyleexpo.com/school-dental-sealant-programs-prevent-
cavities-33423 (diakses 8 maret 2019)
• Kemenkes,2013,Pusat data dan informasi kementrian kesehatan RI,
https://www.depkes.go.id/download.php?file.com (diakses 10 maret 2019)