Anda di halaman 1dari 15

PPDGJ-III Blok F60.

6
Gangguan Kepribadian Avoidant

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Agus Haerani (030.12.007)


Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Nadira Prishanti (030.13.134)
Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor Pinka Nurashri S (030.13.152)
Periode 23 Juli-26 Agustus 2018
Reiner Mukti (030.13.164)
Klasifikasi Gangguan Kepribadian dan
Perilaku Masa Dewasa PPDGJ-III
F60 : Gangguan kepribadian khas
F61 : Gangguan kepribadian campuran dan lainnya
F62 : Perubahan kepribadian yg berlangsung lama yg tdk diakibatkan oleh kerusakan/ penyakit otak
F63 : Gangguan kebiasaan dan impuls
F64 : Gangguan identitas dan jenis kelamin
F65 : Gangguan preferensi seksual
F66 : Gangguan psikologis dan perilaku yg berhubungan dgn perkembangan dan orientasi seksual
F68 : Gangguan kepribadian dan perilaku dewasa lainnya
F69 : Gangguan kepribadian dan perilaku YTT
Gangguan Kepribadian Khas
PPDGJ-III
F60.0 Gangguan Kepribadian Paranoid
F60.1 Gangguan Kepribadian Skizoid
F60.2 Gangguan Kepribadian Dissosial
F60.3 Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil
F60.4 Gangguan Kepribadian Histrionik
F60.5 Gangguan Kepribadian Anankastik
F60.6 Gangguan Kepribadian Cemas (Menghindar)
F60.7 Gangguan Kepribadian Dependen
F60.8 Gangguan Kepribadian Khas Lainnya
F60.9 Gangguan Kepribadian YTT
Klasifikasi gangguan kepribadian
DSM-IV
• Paranoid
Sering dianggap orang
A • Skizoid
• Skizotipal
aneh dan eksentrik

• Antisosial
• Borderline Tampak dramatik,
B • Narsisistik
emosional, tidak
menentu
• Histrionik

• Avoidant
C • Obsesif Kompulsif
• Depedent
Tampak cemas dan
takut
Gangguan Kepribadian Avoidant

Menunjukkan sensitivitas yang ekstrim terhadap penolakan, dapat


menyebabkan penarikan sosial dalam kehidupannya.

Meskipun pemalu, mereka tidak asosial dan menunjukkan hasrat yang


besar untuk membangun persahabatan, tetapi butuh jaminan
diterima tanpa dikritik.

Digambarkan sebagai kelompok yang memiliki inferiority complex.


EPIDEMIOLOGI

2-5 % dalam populasi klinis

Balita yang dikelompokkan memiliki sifat pemalu


mungkin lebih rentan mengalami gangguan
DIAGNOSIS

Dalam wawancara klinis, aspek yang paling mencolok dari pasien


adalah kecemasan tentang berbicara dengan pewawancara.

Sifat gugup dan tegang menghilang dengan persepsi mereka


tentang apakah seorang pewawancara mulai menyukai mereka.

Rentan terhadap komentar dan saran, dan dapat menganggap


klarifikasi atau interpretasi sebagai kritik.
GEJALA KLINIS
Hipersensitivitas terhadap penolakan oleh orang lain adalah sifat klinis sentral gangguan kepribadian avoidant,
dan sifat pribadi utama pasien adalah penakut.

Kelompok ini menginginkan kehangatan dan keamanan dari sebuah persahabatan, tetapi membenarkan sifat
menghindar mereka dari sebuah hubungan karena takut akan penolakan.

Ketika berbicara cenderung mengungkapkan ketidakpastian, kurangnya kepercayaan diri, dan dapat berbicara
dengan cara yang tidak menonjolkan diri.

Memiliki kewaspadaan tinggi atas penolakan, cenderung takut untuk berbicara di depan umum atau meminta
pertolongan dari orang lain.

Cenderung salah menafsirkan komentar-komentar sebagai penghinaan.

Penolakan permintaan apa pun menyebabkan penarikan diri dari orang lain dan merasa terluka.
KRITERIA DIAGNOSTIK DSM IV

Pola pervasif hambatan sosial, perasaan tidak cakap dan kepekaan


berlebihan terhadap penilaian negatif dimulai pada masa dewasa
awal dan tampak dalam berbagai konteks seperti yang ditunjukkan
oleh empat (atau lebih) berikut:
• (1).menghindari aktivitas pekerjaan yang memerlukan kontak interpersonal yang
bermakna, karena takut akan kritik, celaan atau penolakan
• (2).tidak mau terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan disenangi
• (3).menunjukkan keterbatasan dalam hubungan intim karena rasa takut
dipermalukan atau ditertawakan
• (4).preokupasi dengan sedang dikritik atau ditolak dalam situasi sosial
Lanjutan

(5).terhambat dalam situasi interpersonal yang baru karena


perasaan tidak adekuat

(6).memandang diri sendiri sebagai janggal secara sosial, tidak


menarik secara pribadi atau lebih rendah dari orang lain

(7).tidak biasanya enggan untuk mengambil resiko pribadi atau


melakukan aktivitas baru karena dapat membuktikan penghinaan
KRITERIA DIAGNOSTIK PPDGJ-III

Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:


• Perasaan takut dan tegang yang menetap dan pervasive;
• Merasa dirinya tak mampu, tidak menarik, atau lebih rendah dari orang lain;
• Preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan penolakan dalam situasi sosial;
• Keengganan untuk terlibat dengan orang kecuali merasa yakin akan disukai;
• Pembatasan dalam gaya hidup karena alasan keamanan fisik;
• Menghindari aktivitas sosial atau pekerjaan yang banyak melibatkan kontak
interpersonal karena takut dikritik, tidak didukung atau ditolak

Untuk menentukan diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.


DIAGNOSIS BANDING

Skizoid -> pasien gangg.kepr.avoidance tetap memiliki minat sosial

Borderline & Histrionik -> pasien avoidance tidak menuntut, tidak mudah
marah

Dependen -> secara klinis dianggap serupa dengan avoidance, hanya saja
pasien gangg.kepr.dependen dianggap memiliki ketakutan yang lebih tinggi
akan penelantaran atau tidak dicintai
PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS
Banyak pasien mampu untuk berfungsi, asalkan mereka berada dalam lingkungan yang
dianggap aman

Beberapa menikah dan memiliki keluarga

Namun jika support system gagal, kelompok ini cenderung menjadi depresi, cemas dan marah

Umum ditemukan Phobic Avoidance

Beberapa pasien juga memiliki riwayat fobia sosial atau berkembang menjadi fobia sosial
dalam perjalanan penyakitnya
Tatalaksana
Psikoterapi
• Untuk psikoterapeutik tergantung pada solidasi kepercayaan dengan pasien
• Mendorong pasien untuk berinteraksi ke dunia luar untuk mengambil apa
yang dianggap sebagai risiko besar penghinaan, penolakan, dan kegagalan
• Terapi kelompok
• Assertiveness training

Farmakoterapi
• Beta-adrenergik receptor antagonist
• Serotonergik
TERIMA KASIH