Anda di halaman 1dari 32

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF

KRONIK ( PPOK )
Ester Marcelia Anastasia
Pembimbing : dr.Mayorita Ponggawa Hutabarat Sp.PD
PENDAHULUAN

• adalah penyakit paru kronik


yang ditandai dengan hambatan
aliran udara di saluran napas
yang tidak sepenuhnya
DEFINISI reversibel, bersifat progresif dan
berhubungan dengan respon
inflamasi paru terhadap partikel
atau gas yang beracun/
PPOK berbahaya, disertai efek
ekstraparu yang berkontribusi
terhadap derajat berat penyakit
Keterbatasan saluran napas tersebut biasanya
progresif dan berhubungan dengan respons
inflamasi dikarenakan bahan yang merugikan
atau gas beracun

PPOK merupakan penyakit yang dapat dicegah


dan diobati, disertai dengan gejala ekstra paru
yang dapat mempengaruhi derajat PPOK
tersebut.
Epidemiologi :

Di Amerika, jumlah kasus PPOK yang


terdapat di instalasi gawat darurat telah
mencapai angka 1,5 juta, 726.000 yang
memerlukan perawatan di rumah sakit
serta 119.000 meninggal selama tahun
2000.
Indonesia, sebagai negara dengan jumlah
perokok yang tertinggi, dipastikan memiliki
prevalensi PPOK yang tinggi pula.

Penelitian saat ini menunjukan bahwa


Indonesia menjadi salah satu produsen dan
konsumen rokok tembakau tertinggi kelima
di dunia setelah Cina, AS, Jepang dan Rusia.
FAKTOR RESIKO

 Rokok
 Predisposisi Genetik
 Polutan di Tempat Pekerjaan
 Polutan Sebagai Hasil Sampingan Bahan
Bakar
 Tumbuh kembang paru
 Sosial ekonomi
 Infeksi saluran napas bawah berulang.
PATOGENESIS PPOK
PARTIKEL DAN GAS BERACUN

FFFaktor penjamu

Inflamasi paru

Antioksidan Antiprotease

Stress oksidatif Protease

Mekanisme perbaikan

Patologi PPOK
PERUBAHAN PATOLOGI PADA PPOK
KLASIFIKASI PPOK

PPOK diklasifikasikan berdasarkan gabungan


antara gejala klinis pasien, derajat keparahan
berdasarkan spirometri, kuesioner mMRC dan
CAT, serta terjadinya eksaserbasi dalam
setahun.
KLASIFIKASI PPOK
DIAGNOSIS PPOK

Untuk menegakkan suatu PPOK, maka harus


melakukan pemeriksaan spirometri. Sebelum
melakukan pemeriksaan spirometri, diperlukan
anamnesa dan pemeriksaan fisik.
Pada Pemeriksaan fisik didapatkan :
 Bentuk dada barrel chest
 Penggunaan otot bantu napas
 Pelebaran sela iga
 Hipertrofi otot bantu napas
 Fremitus melemah
 Hipersonor
 Suara napas vesikuler melemah atau normal
 Ekspirasi memanjang
 Mengi5
SPIROMETRI

Merupakan tes paling penting untuk diagnosa


dan menentukan derajat PPOK. Pemeriksaan
ini menggunakan alat spirometer, untuk
mengukur kapasitas fungsi (ventilasi) paru
TUJUAN SPIROMETRI

Tujuan dari pemeriksaaan ini yaitu untuk


mengukur volume paru secara stastik dan
dinamis dan menilai perubahan atau gangguan
faal paru.
Pada PPOK, rasio jumlah udara yang
dapat dikeluarkan secara paksa setelah
inspirasi maksimal (FVC/forced vital
capacity) dengan jumlah vlume udara
ekspirasi paksa yang dikeluarkan dalam 1
detik (FEV1/ forced expiratory volume in
1second) adalah <0.7.

nilai prediksi dari pemeriksaan spirometri


tergantung umur, jenis kelamin, tinggi
badan dan ras
Derajat keparahan PPOK berdasarkaN
spirometri :

*Keterangan : Nilai prediksi (FEV1/FVC <0.7)


Kuisioner mMRC (modified
British Medical Research
Council)
Kuesioner ini digunakan untuk mengukur derajat
sesak dengan aktivitas yang masih dapat dilakukan
pada pasien dengan PPOK. Selain itu, dapat
mengukur status kesehatan dan memprediksi
resiko mortalitas pasien PPOK.
CAT (COPD Assessment Test )

merupakan suatu kuesioner, dimana terdapat 8


point pertanyaan yang dapat mengukur status
kesehatan dan perburukan dari PPOK.
DIAGNOSA BANDING

ASTHMA BRONKHIEKSITAS TUBERCULOSIS

SOPT (Sindrom
Panbronkiolitis
CHF Obstruksi Pasca
difussa
Tuberkulosa)
PENATALAKSANAAN PPOK

Langkah awal yang penting dilakukan untuk


pencegahan dan pengobatan PPOK yaitu
mengetahui dan mengurangi faktor resiko
untuk terjadinya PPOK
Tujuan terapi :

 Mengurangi gejala (meringankan


gejala, memperbaiki toleransi kerja,
memperbaiki status kesehatan)

 Mengurangi resiko (mencegah


progresivitas penyakit, mencegah dan
mengobati eksaserbasi, mengurangi
mortalitas)
TERAPI LAINNYA
Oksigen.

Oksigen jangka panjang (<15jam/hari) pada PPOK


dengan gagal nafas kronik terbukti dapat
meningkatkan survival. Indikasi pemberian oksigen
yaitu :
 PaO2 < 55 mmHg atau SaO2 < 88% dengan atau
tanpa hiperkapnia
 PaO2 antara 22-60 mmHg atau SaO2 89% tetapi
ada hipertensi pulmonal, edema perifer yang
dicurigai karena CHF atau polisitemia (Ht > 55%)
KOMPLIKASI

Komplikasi dari penyakit PPOK yaitu :

 Gagal nafas
 Infeksi berulang
 PPOK eksaserbasi akut
 Defisiensi gizi
 Hipertensi pulmonal
 Pneumothoraks
KESIMPULAN

 Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)


adalah penyakit paru kronik yang ditandai
dengan hambatan aliran udara di saluran
napas yang tidak sepenuhnya reversibel,
bersifat progresif dan berhubungan dengan
respon inflamasi paru terhadap partikel atau
gas yang beracun/ berbahaya, disertai efek
ekstraparu yang berkontribusi terhadap
derajat berat penyakit.
 Asap rokok merupakan satu – satunya
penyebab terpenting, jauh lebih penting dari
faktor penyebab lainnya. Faktor risiko
genetik yang paling sering dijumpai adalah
defisiensi alfa-1 antitripsin, yang merupakan
inhibitor sirkulasi utama dari protease serin.
 Berdasarkan Global Initiative for Chronic
Obstructive Lung Disease (GOLD), dibagi
atas 4 derajat yaitu, derajat 1 (COPD ringan),
derajat 2(COPD sedang), derajat 3 (COPD
berat), derajat 4 (COPD sangat berat).
 Penderita COPD akan datang ke dokter dan
mengeluhkan sesak nafas, batuk – batuk
kronis, sputum yang produktif, faktor resiko
(+). Sedangkan COPD ringan dapat tanpa
keluhan atau gejala. Dan baku emas untuk
menegakkan diagnosis COPD adalah uji
spirometri. Prognosis COPD tergantung dari
stage/ derajat, penyakit paru komorbid dan
penyakit komorbid lain.